Author Archives: kenterate

About kenterate

Ibu rumah tangga, penulis, penerjemah, yang hobi ngobrol nggak penting.

UN Dihapus: Mungkinkah Kita Belajar Tanpa Nilai dan Ujian?

Wacana moratorium Ujian Nasional telah digulirkan oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Reaksinya beragam. Mayoritas siswa menyambut dengan bersorak gembira, meski baru wacana, sementara segelintir siswa yang mencandu ‘prestasi dan kompetisi’ mungkin jadi rada galau. Pro kontra klasik bermunculan tentu saja. Banyak guru yang menyambut positif, namun tak sedikit pula yang menolak, seperti yang terekam dalam potongan artikel Kompas Senin, 28 November 2017.

 

Guru SMA Negeri 1 Kota Ambon Maluku, Pio Ngaljaratan menyesalkan apabila UN Benar-benar dihapuskan. Wacana penghapusan UN sudah menjadi berita gembira di kalangan siswa beberapa hari terakhir. “Dikhawatirkan euphoria ini membuat mereka tidak tekun lagi belajar karena yakin pasti diluluskan oleh sekolah,” Ujar Pio.

Pio mengingatkan UN sudah menjadi standar untuk mengukur kualitas pendidikan di sekolah dan daerah. “Bagaimana guru bisa mengukur kemampuan siswa menyerap pelajaran sekaligus menilai kemampuan guru dalam mengajar. UN merupakan alat ukur yang tepat,” katanya.

 

Klasik kan? Kalau tidak ada UN, bagaimana siswa akan giat belajar? Kalau tidak ada UN bagaimana kita bisa mengukur kemampuan siswa atau kemampuan sekolah?

 

Sekolah tanpa nilai?

Dalam sebuah obrolan santai tentang sistem pendidikan yang ideal, seorang teman melontarkan pendapatnya, “Sekolah yang ideal itu adalah sekolah yang tidak menerapkan ‘nilai’. Andai tak ada nilai sebagian besar permasalahan pendidikan bakal lenyap.” Permasalahan yang dimaksud adalah praktek suap, menyontek, mengatrol nilai, les tambahan, hingga stress di kalangan siswa.

 

Tapi mungkinkah kita belajar bila tak diiming-imingi nilai atau ditakut-takuti ujian? Bisa. Sangat bisa. Dulu ‘sekolah’ itu tidak menerapkan nilai. Para filosof Yunani semacam Plato dan Aristoteles ‘bersekolah’ dengan cara berdialog, berdiskusi dengan gurunya. Ada nilainya? Nggaklah. Robert Boyle fisiwakan/kimiawan penemu hukum Boyle itu pernah mutung di sekolah karena tidak cocok dengan kepala sekolahnya. Ia belajar dari seorang tutor sambil keliling Eropa. Sepanjang perjalanan mereka berdialog dan dari situlah ia belajar. Ada nilainya? Saya yakin tidak. Sampai kini pun masih banyak padepokan, kursus, dan pesantren yang tidak memberi nilai dan sertifikat. Muridnya ada? Banyak.

 

Dulu saya dan teman-teman belajar ngaji (baca al-qur’an) di langgar kampung memakai ‘turutan’ (semacam buku panduan membaca tulisan Arab). Tradional sekali. Ada nilainya? Tidak. Ada tingkatannya? Tidak. Pokoknya bisa halaman satu, lanjut halaman dua. Begitu seterusnya. Rata-rata memang begitulah cara belajar ngaji anak-anak zaman dulu. Baru pada generasi adik saya, ada ngaji yang sistematis. Pakai ‘Iqro’ berjilid-jilid. Para rapor dan wisuda.

 

Secara instingtif manusia selalu ingin belajar. Pada detik pertama seorang bayi mengisap udara dunia, saat itulah ia mulai belajar. Ia belajar menangis, merangkak, berjalan, bicara, makan, dan seterusnya bahkan bila kita tidak menyuruhnya. Selanjutnya seorang anak mulai menentukan apa yang ingin ia pelajari; naik sepeda, bernyanyi, melukis dan lain hal yang menarik minatnya. Jangan bayangkan ini selalu di kelas formal. Mau kita sekolahkan atau tidak, mereka akan selalu belajar.

 

Anak saya Ang (5 tahun) bersama beberapa temannya belajar renang bersama-sama. Kami memanggil guru dan berenang seminggu sekali. Tak ada nilai, tak ada target, tak ada perlombaan. Tapi Ang dan teman-temannya semangat belajar. Ada kalanya mereka malas-malasan, tapi mereka terus melaju. Kedua anak saya, Ang dan adiknya Ung (1,5 tahun) belajar di rumah (homeschooling). Guru utamanya adalah ayah ibunya. Tidak ada nilai yang kami berikan untuk mereka. Toh Ang dan Ung tetap belajar. Ang kini belajar bahasa Inggris, matematika, menulis, agama, dan geografi dengan caranya sendiri. Misalnya sebelum tidur ia minta ‘belajar globe’. Inilah saatnya kami membacakan nama-nama negara, samudera, dan pulau yang tertera di globe untuknya.

 

Saya telah menyaksikan perempuan dan laki-laki belajar agama, merajut, memasak, hingga nyetir mobil tanpa ijazah. Ada pula anak-anak yang belajar main biola, sepak bola, menari, sampai  bahasa asing juga tanpa iming-iming nilai. Bisa? Ternyata bisa. Mereka bahkan belajar sepak bola sambil tertawa.

 

Kok bisa ya? Manusia belajar karena dua hal: karena butuh atau karena suka. Paulo Freire memberi ilustrasi menarik: beri gadis SMA pelajaran mengasuh bayi. Kemungkinan besar ia nggak bakal tertarik. Tapi andai setelah lulus SMA ia bekerja, lalu setahun kemudian menikah, dan hamil, tanpa disuruh-suruh pun dia akan tanya sana-sini soal merawat anak.

 

Saya dulu suka dengan bahasa Inggris. Jadi tanpa disuruh guru, I went extra miles. Saya menerjemahkan buku cerita berbahasa Inggris atas keinginan saya sendiri. Saya mendengarkan program bahasa Inggris di radio dan menulis surat ke sana. Saya menyaksikan hal serupa pada teman-teman saya di bidang yang mereka sukai. Ada yang belajar basket sampai sore –meski orang tua yang melihatnya mengatakan mereka main, bukan belajar–. Ada yang dengan sukahati ikut klub ilmiah, sementara yang lain mengerjakan soal-soal matematika untuk mengisi waktu luang kayak itu TTS saja.

 

Jadi kunci agar anak mau belajar adalah: sediakan pengetahuan sesuai kebutuhan mereka atau buatlah agar belajar menyenangkan.

 

Mengukur standar

Tapi kalau tak ada ujian bagaimana kita bisa mengukur pencapaian siswa? Atau pencapaian guru? Atau pencapaian sekolah? Bagaimana kita bisa menentukan standar kompetensi yang harus dikuasai siswa?

 

Lah, memangnya kita helm yang harus pakai standar SNI? Tak perlu lagi lah diulang bahwa manusia itu makhluk yang unik dan kompleks. Biar topi sampai sepatu (bahkan tali sepatunya) diseragamkan, isi otak nggak mungkin sama, kan? Jadi mau digembleng dengan cara yang sama, dengan waktu yang sama, dikasih hukuman dan hadiah yang sama, hasilnya nggak bakal sama! Lalu, mengapa harus repot menentukan standar?

 

Teman saya yang pernah tinggal di Inggris bercerita, saat anaknya sekolah di sana, satu tes terdiri dari beberapa soal dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Fungsinya? Agar guru tahu kemampuan siswa. Si guru dan siswa akan ‘mundur’ bila memang si siswa belum mencapai tahapan pengetahuan tertentu. Misalnya, soal-soal perkalian dibuat dari yang sederhana hingga rumit. Nah, kalau ketahuan si siswa belum bisa mengerjakan yang  rumit, si guru akan ‘mengundurkan’ si siswa ke tingkat perkalian tak begitu rumit hingga ia memahaminya. Di sini Indonesia saya lihat tidak begitu. Tes berfungsi untuk mendorong agar anak bisa mengerjakan tes! Kalau hasil tesnya buruk, boro-boro si guru mau mundur, yang ada si guru sibuk cari cara biar si siswa mampu mencapai ‘standar’ yang diterapkan sekolah. Entah dengan les tambahan atau…. dikasih sontekan.

 

Jadi ya, tes memang bisa dipakai mengukur pencapaian siswa, tapi ingat, tes bukan satu-satunya alat di sini. Saya ingat waktu saya jadi guru dulu. Dalam tiga atau empat kali pertemuan, tanpa tes pun saya sudah tahu kemampuan siswa saya. Si A belum hapal kosakata dalam daftar, tapi sudah paham aturan grammar. Minggu lalu si B belum bisa menulis, sekarang sudah. Si C sudah memahami konsep tenses dan sebagainya.

 

Sebagai guru bagi anak-anak saya, saya tentu  sangat hapal dengan ‘kelakuan’ dua siswa saya dan tahu betul pencapaian mereka; abjad apa saja yang sudah dihapal Ang (‘u’ dan ‘i’); suara hewan apa saja yang sudah bisa ditirukan oleh Ung (anjing, kucing, cicak, burung, ayam, sapi).

 

Lah, muridmu kan cuma dua! Gimana dengan guru SD yang muridnya sekelas 30? Tetap tahu, yakin saya. Wong mereka ngajar tiap hari. Tanya saja pada guru kelas anak Anda yang masih SD, siapa siswa yang paling jago lari, yang paling berani maju ke depan, yang suka matematika dan seterusnya. Mereka pasti tahu. Kalau nggak tahu, saya sarankan Anda minta ganti guru.

 

Okelah kalau Anda ngotot tes tetap perlu untuk mengukur pencapaian siswa. Pertanyaannya kalau sudah tahu pencapaiannya terus gimana? Apa siswa yang belum bisa boleh ‘mundur’ dan yang sudah bisa boleh ‘melaju?’ Apa kalau tahu diketahui di sekolah tertentu, siswanya ‘ketinggalan’ terus gurunya mengubah metode mengajar? Apa fasilitas sekolah akan diperbaiki? Semoga saja. Tapi bisa jadi justru siswanya disuruh ikut les atau jam sekolah diperpanjang.

 

Kalau Tak Ada UN

Kalau UN tak ada, terus gimana dong cara SMP menyeleksi calon siswanya –kalau yang daftar banyak banget misalnya-? Bisa berdasar umur, yang diterima yang lebih tua. Atau pakai domisili. Yang domisilinya lebih dekat, berpeluang lebih untuk diterima. Masih kurang adil? Diundi. Apa pun itulah. Intinya banyak cara.

 

Tapi kalau gitu caranya, kemampuan mereka bakal beragam dong. Ada yang ‘pinter’, dan ada yang ‘nggak pinter’. Lah, memang itu tujuannya. Selama ini sekolah beroperasi berdasarkan ‘kasta’. Sekolah-sekolah favorit sudah pasti mendapatkan murid-murid terbaik. SMP favorit menjadi tempat berkumpulnya para juara dari berbagai SD. SMA favorit menyaring juara-juara dari tiap SMP. Sekolah favorit nomor dua, menyaring juara-juara dua. Yang nggak favorit? Menyaring angin. Udah Alhamdulillah kalau dapat siswa.

 

Sekolah-sekolah favorit ini menepuk bangga setiap kali mereka menghasilkan nilai UN tertinggi. Yang kalau dipikir-pikir sama sekali bukan prestasi. Ya iyalah, wong yang masuk memang para ‘juara’. Gurunya merem pun, anak-anak ini sudah belajar sendiri. Siswanya nongkrong di sekolah sampai sore. Sambung dengan les. Kalau gurunya absen, mereka buka laptop dan mengerjakan soal online untuk mengisi waktu –macam ngisi TTS tadi–.

 

Sebagian besar siswa sekolah favorit berasal dari keluarga berekonomi mapan dan biasanya harmonis, serta peduli pada pendidikan. Tidak semua tentu saja, tapi rata-rata begitulah. Sebaliknya, siswa melarat yang memang sejak awal minim fasilitas belajar bakal krenggosan untuk mencapai standar masuk ke sekolah favorit. Dus, dia masuk sekolah ‘ecek-ecek’ yang sebagian besar memang berisi siswa serupa; menggembol rokok di saku, hobi nongkrong di warung sebelah dan merencanakan tawuran selanjutnya. Begitulah, anak-anak keluarga melarat bakal berkubang dalam ‘kebodohan’ dan ‘kemelaratan’ yang sama. Pendidikan gagal menjalankan fungsinya sebagai ‘tangga’ untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik.

 

Tapi susah kan mengajar anak-anak yang kemampuannya beragam. Jelas. Tapi, mosok sekolah penginnya gampang dan enak melulu.  Kadang saya pikir sekolah itu urik (curang), maunya ngajar anak-anak yang udah pinter. Yang pinter-pinter dijadikan satu biar pinter bersama. Yang ‘bodo-bodo’ juga dijadikan satu, biar… ‘bodo’ bersama. Tidak cuma pengelompokan intelektual, sekolah juga melakukan pengelompokan agama (dipertajam lagi hingga aliran agama), etnis, hingga ekonomi. Jadi nggak usah gumun kalau toleransi jadi barang mahal.

 

Tapi sungguh lho, susah ngajar kalau latar belakangnya macem-macem gitu. Mungkin. Tapi itulah fungsi sekolah. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua bangsa. Saya yakin, ada caranya kalau kita mau, misalnya yang bisa ngajarin yang belum bisa. Yang kelas tiga ngajarin yang kelas satu, dan seterusnya. Yang lebih penting kita hargai kelebihan tiap anak dan kita terima kekurangannya. Tak perlu memaksa. “Nduk, sudah nggak usah ngoyo kamu belajar matematikanya kalau memang nggak minat. Fokus saja latihan badminton, kamu kan jago main badminton.” Kalau si anak katakanlah ‘bodoh di segala bidang’ –yang saya yakin nggak mungkin— tetaplah rangkul ia, “Nggak usah sedih Le, kalau kamu nggak mudeng pelajaran ini. Yang penting kamu jadi anak baik.” Atau, “Terima kasih kamu sudah datang ke sekolah dan bukannya nongkrong-nongkrong sama geng motor.”

 

Saatnya Kembali

Sebetulnya apa sih arti angka 36 sebagai nilai UN SMP? Apa itu berarti si anak pinter banget karena nilai rata-ratanya 9 –dengan asumsi yang diujikan empat mata pelajaran–? Tapi bisa jadi lho anak pinter itu tidak keterima di SMA favorit. Apa pasal? Karena tahun itu yang nilainya 39 banyak banget. Yang 40 juga ada. UN-nya kegampangan katanya.

 

Apa artinya kalau nilai UN si Joko 36 dan nilai UN  si Johan 30? Apa berarti Joko lebih pandai? Belum tentu. Joko UN-nya tahun ini. Johan UN-nya tahun kemarin. Joko UN di Jakarta, Johan di NTT. Joko ke sekolah naik mobil, Joko harus jalan dua hari menuju tempat ujian. Joko sehat walafiat pas UN, Johan lagi sakit perut. Joko dapat bocoran, Johan tidak. Banyak sekali faktor yang terlibat. Apalagi pelaksanaan ujian kita harus diakui tidak sepenuhnya jujur.

 

Dan apa artinya nilai UN bahasa Indonesia 9? Bahwa kemampuan anak berbahasa Indonesia sangat mlithis dan dijamin bisa jadi editor kelak? Apakah berarti si anak hapal periodesasi sastra Indonesia? Atau si anak sudah baca banyak sekali karya sastra? Atau dia bisa ngarang cerpen? Atau apa? Sekali lagi, ternyata nilai bisa jadi hanya sekadar angka dalam sebuah sistem yang belum matang seperti.

 

Kita belum membicarakan biaya UN yang selangit (yang bisa nambahi gaji guru honorer). Kecurangan yang aduh duh… membuat menangis bila diceritakan (apa nggak nangis dengar guru yang nyuruh siswanya nyontek?), belum lagi stress masal tahunan yang melanda siswa dan orangtua siswa?

 

Jadi mari rehat sebentar. Saya pikir moratorium UN ini –kalau memang jadi dilaksanakan—adalah saat yang tepat untuk mengembalikan semangat belajar pada nilainya yang hakiki: memuliakan manusia, memuliakan kehidupan. Inilah saatnya sekolah melepaskan beban dan target, lalu kembali mendidik dengan empati, kesabaran dan penghormatan pada proses. Ini juga peluang untuk memperlakukan semua bidang keahlian dengan setara. Tak ada lagi mata pelajaran ‘unggulan’ karena mata pelajaran itu di-UN-kan. Olahraga bisa mendapat porsi yang sama dengan matematika. Bahasa Inggris bisa sama pentingnya dengan bahasa daerah. Utopis banget. Mungkin memang begitu kedengarannya. Apalagi sekian dasawara pikiran kita dibentuk bahwa kita belajar demi nilai, ujian, dan kelulusan. Tapi sungguh, saya pikir ini tidak mustahil. Dan inilah saatnya kita kembali belajar dengan gembira.

 

Hukuman atau Konsekuensi?

Waktu saya remaja, saya hobi banget nonton Nanny 911. Saya belum menikah waktu itu. Apalagi punya anak. Tapi saya bertekad, kalau kelak punya anak saya bakal terapkan semua ajaran nanny-nanny yang ‘galak tapi manis’ itu. Keren banget nggak sih ngasih bintang-bintang setiap kali anak menghabiskan makanannya? Lalu nanti bisa ditukar ‘hadiah’? Macam kita belanja di Carrefour. Setelah ngumpulin sekian stamp, kita bisa dapat panci.

Yang juga keren adalah ngasih ‘time out’ bila ada anak yang bandel. Dengan kombinasi bintang dan ‘time out’ itu,  keluarga yang kacau abis bisa jadi keluarga idaman dalam waktu satu jam!

Tentu saja setelah saya punya anak ceritanya tak semanis serial TV. Boro-boro ngasih bintang atau stempel sekali pun, mandi pun kadang tak sempat. Dan stempelnya, mana stempelnya, perasaan tadi kutaruh meja deh. Heiii, ya ampun, itu stempel, jangan dijilatin!

Time out? Hedew, saya jamin, para nanny itu juga bakal langsung resign bila disuruh ngasih time-out pada anak saya. Soalnya, anak saya nggak ngerti arti frasa ‘duduk di kursi itu semenit, oke?’ meski dia sudah hapal semua nama karakter film Cars.

 

Konsekuensi

Konsekuensi sebagai pengganti hukuman saya dengar pertama kali dalam sebuah seminar parenting. Keren nih, batin saya waktu itu. Konsekuensi itu beda dari hukuman. Konsekuensi itu logis dan demokratis. Logis karena konsekuensi harus berhubungan ‘sebab-akibat’ dengan ‘kesalahan’. Ini akan membuat anak belajar tanggung jawab. Kalau anak numpahin susu, konsekuensinya ya membersihkan tumpahan itu. Kalau anak memukul temannya, dia harus minta maaf dan mungkin nggak main dengan si teman dalam waktu tertentu. Kalau anak terlambat setengah jam masuk sekolah, dia harus tinggal setengah jam lebih lama.

Konsekuensi juga demokratis karena harus disepakati terlebih dulu serta melalui tahap-tahap sesuai perkembangan anak. Misalnya, untuk anak lima tahun: “Sepakat ya, kalau main harus diberesi. Kalau nggak diberesi, mainannya disimpen Mama selama dua hari.” Untuk anak SMP: “Sepakat ya, uang sakumu akan dipotong bila pulsamu habis karena kebanyakan nge-game.”

Keren banget, kan. Anak dilibatkan, dimanusiakan. Saya langsung terpesona pada teori parenting yang satu ini (yeah, saya memang gampang terpesona). Tapi tidak lama. Karena saya langsung menyadari ternyata ada banyak ‘kesalahan’ yang tak punya konsekuensi logis. Apa konsekuensi untuk meneriakkan kata kotor? Untuk memukul adik? Untuk merokok?

Mungkin ada saja konsekuensinya kalau kita cukup kreatif dan gigih mencarinya (ingat kaca kuncinya: kreatif dan gigih). Misalnya untuk si Kakak yang memukul adiknya, kita bisa menyuruh si kakak untuk tidak bermain dengan adiknya sementara waktu (dengan segala komplikasinya. Entah si kakak yang kegirangan atau si adik yang tetap saja ngintilin kakaknya meski barusan dipukul).  Serius, saya udah nyerah duluan. Di mata saya ‘konsekuensi’ sama ribetnya dengan ngumpulin stamp ala Carrefour untuk ditukar dengan panci. Pertama kita harus rajin ke Carrefour, lalu rajin nempelin stamp, lalu mengingat-ingat di mana menyimpannya. Dan bila itu semua sudah kita lakukan, marilah berdoa persediaan panci masih ada!

 

Sinonim

Saya membaca buku Alfie Kohn yang berjudul ‘Unconditional Parenting’. Buku ini menekankan pada penerimaan terhadap anak tanpa syarat –termasuk ‘kesalahan-kesalahan’ mereka (yang sebenarnya bukan kesalahan), tanpa hadiah dan hukuman. Bagaimana dengan konsekuensi? Kohn bilang ini hanya perkara semantik. Konsekuensi adalah sinonim dari hukuman. Kok bisa?

 

Saya sudah lupa-lupa ingat penjelasan buku ini, jadi maaf saja bila uraian di bawah ini tercampur baur dengan opini saya sendiri. Ingat, ini opini. (Disclaimer duluan deh).

 

Yang pertama, marilah kita ingat, bahwa sebagian besar ‘kesalahan’ anak bukanlah kesalahan. Suruh anak-anak balita berhenti melompat-lompat di kasur. Good luck. Itu sama saja dengan menyuruh ikan berhenti berenang. Anak-anak punya dorongan alamiah dalam tumbuh kembangnya. Yang kita sebut ‘nakal’ atau ‘salah’ atau ‘tidak baik’ atau ‘tidak sopan’ seringkali adalah tindakan yang sangat alamiah dan di luar kendali mereka. Mengapa anak-anak tidak bisa berjalan?  Mereka selalu dan selalu berlari, bahkan saat makanan yang mereka tuju tidak ke mana-mana. Mengapa mereka suka berebut? Mengapa mereka berisik? Mengapa mereka malas mandi? Mengapa mereka selalu mendebat? Ada insting-insting alami yang merupakan bagian tumbuh kembang mereka yang harus ada. Kita tentu tak mau anak kita ‘manis dan manut’ saat ditawari narkoba. Kita juga tak mau anak kita malas bergerak dan kegemukan. Kita ingin anak kita kuat dalam mempertahankan prinsip dan haknya segigih ia merebut mainan dari adiknya? (Bukan berarti ‘berebut itu baik, tapi hedew… masak saya harus nulis disclaimer lagi?).

 

Lanjut. Yang kedua, yang kita anggap demokratis sebenarnya nggak demokratis-demokratis amat. “Dik, kamu boleh main lego. Tapi nanti dibereskan. Kalau nggak dibereskan, nanti Mama simpan legonya selama dua hari. Oke?” Apa yang bisa dikatakan anak selain ‘oke, Ma.’ Mau gimana dia pengin banget main lego itu. Dia dalam posisi tak berdaya karena keinginan alamiahnya.

 

Ketiga, anak tetap merasa dihukum. Seorang murid yang terlambat tiga puluh menit dan diminta pulang lebih lambat tiga puluh menit bisa jadi tetap merasa minder dan terhina. Ini berbeda dengan karyawan yang bisa dengan lapang dan pulang lambat karena paginya datang terlambat. Anak-anak sekali lagi tidak berdaya. Keterlambatan anak SD katakanlah, sebagian besar di luar kuasanya. Bangun kesiangan –ortunya juga–. Atau karena dia sudah mules duluan membayangkan jam olahraga yang diampu oleh guru galak. Penalaran yang belum sempurna menjadikan tidak mudah bagi dia menghubungkan antara keterlambatan dan harus tinggal di sekolah lebih lama.

 

Yang keempat, sama dengan prinsip hadiah dan hukuman, konsekuensi menekankan pada prilaku, tak peduli pada motivasi di balik perbuatan itu. Kita ingin anak berperilaku manis. Titik. Anak mengerjakan PR karena tidak ingin dia diberi PR tambahan, bukan karena ia sadar PR itu adalah bagian belajar yang akan membuatnya lebih cerdas. Untuk sesaat ini memang efektif, tapi begitu ‘konsekuensi’ mengendur, perilaku manisnya akan mengendur juga.

 

Terakhir, dan ini yang paling utama bagi saya: ribet. Anak nggak mau beresin mainan, mainan disimpan. So, dia cari mainan lain. Nggak diberesin lagi. Simpan lagi. Lama-lama mainannya habis. Jadi dia main ke tetangga. Lalu emaknya dagdigdug karena tahu si tetangga yang suka ngomong kasar. Lalu tergopoh-gopohlah si emak jemput dia. Anaknya nggak mau pulang. Soalnya di rumah nggak ada mainan. Mumet kan?

 

Lebih ribet lagi karena konsekuensi harus ditegakkan dengan konsekuen. Kalau kita sudah sepakat bahwa sepeda akan disita bila anak tidak mengembalikan sepeda itu ke tempatnya, ya kita harus benar-benar melakukannya. Tak peduli bila anak merengek atau menangis. Tak peduli kalau hari ini ada ‘lomba peluit sepeda’.  Pokoknya tidak mengenal grasi, amnesti, dan obolisi. Kenapa? Soalnya sekali kita longgar, anak bakal merengek lagi esoknya. Lalu jadi kebiasaan deh. Tangisan, amarah anak, tawar menawar, penegakan aturan, dan seterusnya ini bisa jadi sangat melelahkan, menguras waktu, dan emosi.

 

 

Lawan kata hitam adalah Oranye

Terus gimana dong. Kalau tiap kali anak berbuat salah kita biarkan, nanti dia jadi liar, manja, dan nggak tahu aturan.

 

Ehm. Kadang kita sangat hitam-putih. Kalau nggak hitam ya berarti putih. Kalau anak bertingkah baik, kita harus memuji (hadiah), kalau anak bertingkah laku buruk kita harus memberi konsekuensi (hukuman).

 

Masak sih nggak ada alternatif lain? Tidak hitam, kan bisa berarti oranye.  Atau ungu. Kalau anak tidak mengerjakan PR, bisa jadi sebab kelalaiannya (sakit perut) sudah menjadi kesusahan tersendiri baginya. Mari dimaafkan, sebagaimana kita memaafkan pacar kita yang datang telat karena bannya bocor. Bisa jadi kesalahan itu sudah membuat perasaan tak enak yang menjadi ‘hukuman’ dari dalam dirinya. Atau bisa jadi sekolah/ortu yang keliru karena memberinya terlalu banyak tugas.

 

Tapi nanti dia enak-enak aja melanggar aturan!

 

Ehm. Ada banyak cara untuk mendidik anak agar bertanggung jawab. Kakak belum mengerjakan PR? (Yuk, kerjakan. Ibu temani). Kamu berlari-larian, menyenggol gelas, dan menumpahkan susu? Oh, tidak apa-apa. Ini bisa beres dengan lap. Akan ibu tunjukkan caranya. Kamu memukul temanmu? Mengapa? Oh, dia merebut temanmu? Temanmu salah. Tapi kamu bisa meminta kembali mainanmu baik-baik. Ya, ibu tahu kamu marah. Mari, ibu ajari mengambil napas panjang saat kamu marah. Kamu mengambil mainan ini? Tanpa izin? Wah, nak itu namanya mencuri. Oh, ibu punya dongeng tentang tikus si pencuri. Kamu mau dengar?

 

Welas Asih

Dalam mendidik anak, kita perlu selalu ingat bahwa mereka anak-anak. Mereka tak memiliki wawasan sebagaimana orang dewasa.  Mereka tak punya kesabaran dan pengendalian diri yang sama. Untuk mencapai ‘keadaban’, butuh proses yang panjang dan diulang-ulang. Dan terutama contoh yang baik. Bila Anda sudah seratus kali menyuruh anak untuk membuang sampah ke tempatnya, tapi si anak lagi-lagi ‘lupa’ melakukannya, mungkin Anda butuh mengulang perintah Anda untuk ke-seratus kali. Pun bila anak-anak melakukan ‘kesalahan’ yang memang benar-benar kesalahan, inilah waktunya untuk berwelas asih, berlapang dada, dan menerimanya dengan sepenuh hati. (Sekali lagi, bukan berarti Anda mendukung tindak kejahatan, dan bukan berarti Anda tidak melakukan apa-apa).

 

Kita juga harus menggali apa penyebab di balik tindakan anak. Seringkali anak berbuat salah karena memang tidak tahu atau tidak mampu. Bisa jadi karena aturannya terlalu berat atau karena orang dewasa tidak memberi contoh yang benar. Dalam kasus anak tidak mengerjakan PR, bisa jadi si anak sudah sangat bosan dan capek dengan pelajaran di sekolah.

 

“Aku tetap khawatir, kelak anakku tidak bisa menerima konsekuensi  dan tidak bertanggung jawab  bila ia sudah dewasa.” Percayalah, sepanjang waktu anak-anak belajar mengenai konsekuensi. Ia mengerti bahwa ia akan jatuh bila berjalan serampangan dan jatuh itu sakit –maka penting bagi orang tua untuk tidak menyalahkan batu atau tanah yang tidak rata–. Ia tahu, telur di penggorengan akan gosong bila tidak diangkat tepat pada waktunya. Ia tahu temannya akan marah bila ia merebut mainannya dan bisa-bisa si teman tidak mau bermain dengannya lagi dan seterusnya. Dengan semua pelajaran ini, kemungkinan besar ia bisa berlapang dada saat gajinya dipotong karena datang terlambat.

 

Bayangkan, begitu tiba di kantor, Anda menyadari dokumen penting yang harus Anda bawa ketinggalan! Padahal dokumen itu dibutuhkan dalam meeting satu jam lagi. Yang paling logis saat itu adalah menghubungi suami dan berkata, “Tolong, antarkan dokumenku ke kantor.” Bagaimana bila suami berkata, “Tanggung konsekuensinya, dong! Kan seharusnya sudah disiapkan sejak semalam.” Pasti kita pengin ‘nggiles’ suami, kan? Begitu pula bila anak telepon dari sekolah, sambil mimbik-mimbik karena PR-nya ketinggalan. Padahal sudah jutaan kali Anda mengingatkan, “Persiapkan semua yang dibutuhkan pada malam hari. Jangan lupa bikin daftar apa yang harus dibawa.” Rasanya tanpa perlu kita tambahi ‘konsekuensi menghadapi kemarahan guru’, si anak sudah belajar bahwa kecerobohannya merepotkan ibu.

 

“Tapi itu kan beda!” Bedanya di mana? Yang saya lihat di sini, bedanya adalah karena kita punya kuasa, kita jadi bia meliak-liukkan peraturan, sementara karena masih kecil, si anak tak berdaya.

 

“Tapi nanti jadi kebiasaan dia buat ceroboh, ketinggalan ini-itu.”

Yeah, seperti kita juga bakal ingin mengulang ketinggalan dompet, handphone, dan dokumen, bukan?

 

Poin terakhir di sini adalah, bila meminta anak konsekuen, orangtuanya harus konsekuen. Ini juga yang membuat saya tak bisa menerapkan pendidikan ala konsekuensi di rumah. Kalau konsekuen, seharusnya saya lari dua kilo meter sehabis makan sepotong donat. Tapi hadddduuhhhh…. donat itu enak sekali dan lari? Aduuuh, sayang sekali… saya punya kerjaan yang lebih penting.

 

*Artikel yang sama, saya unggah di Kompasiana.

 

 

Dan Ia pun Hadir dengan Lembut

Anak ke dua! Wow. Rasanya seperti mimpi. Saya dan Anto sepakat untuk menambah momongan lagi setelah Angger, anak pertama kami, berusia dua tahun. Harapan saya diiringi dengan kepasrahan. Pasrah dan ikhlas karena Angger sendiri pun sudah merupakan keajaiban dan anugerah tak terkira. Angger lahir setelah usia pernikahan kami menginjak enam tahun. Sesi terapi selama setahun (medis, meditasi, kecambah, air kelapa muda, sebutkan saja) membuat emosi saya naik turun. Jadi betapa bersyukurnya saya ketika usaha dan doa kami berbuah manis.
Soal adiknya Angger, saya menjalaninya dengan santai. Suami juga ikhlas, menyadari bahwa ini adalah hak prerogatif-Nya. Namun, rezeki datang dengan mudah. Begitu Angger tiga tahun dan saya sapih sebulan, saya mengandung.

Kahamilan berjalan mulus tanpa kesulitan berarti. Oke, saya sempat menderita flek yang mengharuskan saya bed rest dua hari. Saya juga sempat batuk selama sebulan saat kandungan berusia 28 minggu. Aduhai sekali rasanya. Kombinasi antara batuk dan hamil tua itu sama sekali tidak direkomendasikan, deh–, tapi horeee, saya berhasil melaluinya tanpa obat-obatan. Punggung pegal datang dan pergi. Kadang menetap lumayan lama. Pernah suatu ketika saya benar-benar kesulitan turun dari motor karena begitu kaki bergerak, punggung menjerit. Lalu suatu saat, gangguan itu hilang sendiri.

Ah, berarti kehamilannya nggak lancar dong? Mungkin. Tapi saya merasa lancar-lancar saja. Saya tidak mengalami kenaikan berat badan berlebih –tetap naik, tapi tidak berlebih–, tidak mengalami kaki bengkak, tidak ngidam aneh-aneh, tidak sesak napas, tetap doyan makan, nggak muntah-muntah, dan seterusnya.
Setiap rasa tidak nyaman datang, entah itu dalam bentuk punggung pegal atau kaki kram, saya menganggapnya sebagai proses alamiah. Semua itu adalah keniscayaan untuk mendapatkan hadiah yang indah. Iyalah, untuk mendapatkan sesuatu yang kita dambakan, kadang kita mesti ‘berkorban’ kan?

Jadi, alih-alih mengeluh, saya mengubah mindset. Tiap kali punggung pegal, saya berusaha tersenyum, mengingat bahwa saya merasakan ini karena ada makhluk indah dalam tubuh saya, melakukan senam ringan, atau meminta suami memijit. Punggung saya masih sakit, tapi perasaan saya tidak sakit.

Gentle Birth

Saya berkenalan dengan gentle birth –persalinan yang lembut– saat mengandung Angger. Saya menyukai konsep itu, namun belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsipnya. Ngiler banget nggak sih mendengar kisah melahirkan normal tanpa rasa sakit, tanpa dijahit, diiringi musik, di dalam kolam air yang hangat, didampingi orang-orang terkasih, di tempat yang nyaman, tanpa bentakan dokter, tanpa jeritan ibu, dan tanpa paniknya ayah? Tapi, perlu digarisbawahi bahwa gentle birth ini bukan soal normal atau ceasar, melahirkan di air atau di ‘darat’, dengan bantuan bidan atau dokter atau malah tidak dibantu sama sekali. Ini soal konsep melahirkan dengan memberdayakan diri sendiri, dengan kelembutan dan welas asih, dengan seluruh kesadaran dan pengetahuan. Pun harus disertai keikhlasan, misalnya si ibu sangat ingin melahirkan normal, namun akhirnya harus dioperasi, ya sudah, harus ikhlas.

Singkatnya saya belajar soal gentle birth ini. Memang syarat untuk bisa melahirkan dengan nyaman adalah belajar!
Saya lalu tahu bahwa kita perlu mempersiapkan dan memberdayakan diri. Bagaimana mau melahirkan dengan nyaman kalau otot-otot yang akan kita gunakan untuk melahirkan kaku? Bagaimana mau melahirkan dengan nyaman kalau kita sudah takut dengan proses situ sendiri? Kalau kita punya trauma? Dan sebagainya.
So, yang pertama adalah menata pikiran. Berpikir positif, misalnya ‘saya mampu, tubuh saya kuat, bayi saya mengerti’.

Yang kedua adalah menata fisik. Di kehamilan ini saya mengikuti kelas prenatal yoga. Di Jogja, prenatal yoga ini ada di Balance Yoga, Demangan, diasuh oleh Bidan Yesie Aprillia dari Bidan Kita. Tidak seperti senam hamil di klinik-klinik, prenatal yoga ini beneran bikin ngos-ngosan dan keringetan. Jangankan yang hamil, yang nggak hamil pun bisa ngos-ngoskan kok kalau ikut yoga ini. Bayangin deh, menyeimbangkan diri dengan satu kaki dan perut rata aja kadang susah ya, apalagi dengan perut gendut. Tapi dampaknya bagus sekali, tubuh terasa lentur dan bugar.

Saya cuma ikut empat atau lima kali. Memang disarankan ikut beberapa kali saja sampai lancar dan praktik sendiri di rumah, minimal seminggu tiga kali (kalau mau bebas dari jahitan). Yang justru penting ya praktik sendiri itu. Tapi berhubung saya malas bin banyak alasan, saya nyaris nggak pernah praktik di rumah.

Untuk kegiatan sehari-hari saya sengaja mendorong diri untuk aktif secara fisik. Kegiatan jalan-jalan pagi yang dulu bisa saya lakukan rutin saat hamil anak pertama, kini sangat susah dilakukan di kehamilan kedua. Waktu pagi yang merupakan satu-satunya waktu bebas saya sebelum Angger bangun, terpaksa saya gunakan untuk bekerja, nulis novel atau menerjemahkan (ya, iyalah, saya butuh tabungan bila anak saya lahir nanti dan tak bisa kerja sama sekali). Solusinya saya mendorong diri saya untuk banyak bergerak saat melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya sering-sering jongkok-berdiri, misalnya saat ambil mainan atau saat memetik bayam di kebun.

Di kehamilan ini saya juga tetap ‘ndil-ndilan’. Saya ikut kemping dua kali (kemping keluarga yang nyantai memang bareng komunitas homeschooling), juga jadi pembicara tiga tiga event. Rejeki saya deh, saya jarang jadi pembicara, tapi pas perutnya maju, kok ya dapat undangan melulu.
Persiapan Kelahiran

Hingga usia kehamilan delapan bulan, saya dan suami masih belum yakin hendak melahirkan di mana. Salah satu alternatif kuat kami adalah di Bidan Kita, Klaten bersama bidan Yesie. Tapi belum-belum saya sudah njiper karena jauh. Klaten itu kira-kira 90 menit dari rumah saya. Pun ada si kakak yang tidak bisa saya tinggal lama-lama. Dia belum pernah saya tinggal agak lama. Andai kami ke Klaten, si kakak juga harus kami ajak. Itu artinya mungkin kami harus mengajak bala bantuan lain. Homebirth juga bukan pilihan karena untuk homebirth ini perlu persiapan yang matang –tidak sekadar menyiapkan tempat dan tetek bengeknya, tapi juga membangun chemistry dengan penolong persalinan–

Untuk melahirkan dengan nyaman di Bidan Kita, kami disarankan untuk ikut diklat selama tiga kali. Hehe, melahirkan aja ada diklatnya ya. Sayang disayang kesempatan buat diklat itu tak pernah datang. Pernah kami sudah janjian dan sudah dalam perjalanan –sudah mencapai setengah perjalanan—eh tiba-tiba Bu Yesie-nya ada keperluan mendadak. Ya sudah, kami putar balik. Yang melegakan adalah asisten bidan yang menelepon saya untuk membatalkan janji berkata, “Tenang saja Ibu, bila jodohnya lahir di sini, pasti lahir di sini kok.”
Yup. Benar sekali. Saya bawa santai saja. Bayi sudah punya takdirnya sendiri-sendiri. Ada bayi yang sudah direncanakan lahir di rumah sakit, eh ternyata lahir dalam mobil. Ada bayi yang katanya harus dilahirkan dengan operasi, eh lahir normal di rumah.

Alternatif kedua adalah rumah sakit. Nah, jadi lain perkara nih karena sekarang kami jadi peserta BPJS. Dulu pas melairkan si kakak sistemnya masih Askes, jadi melahirkan di rumah sakit pemerintah mana pun gratis. Sekarang lain. Untuk kelahiran normal, kami harus melahirkan di fasilitas kesehatan (faskes) pertama kalau ingin bebas biaya. Dalam kasus kami itu berarti bidan atau puskesmas. Puskesmas kecamatan kami kebetulan tidak punya fasilitas melahirkan. Suami sih oke-oke saja saya mau melahirkan di mana. “Yang penting kamu nyaman,” katanya. Itu sungguh suatu dukungan yang menyenangkan. Tapi dasar saya emak-emak, ya saya pilih yang murah dong. Rugi amat sudah iuran tiap bulan, eh tetap harus bayar. Sakitnya juga tetap sama kok. Memangnya kalau bayar mahal terus kontraksinya nggak terasa gitu? Lagian lumayan toh, uangnya bisa beli kambing aqiqah (nah, emak-emak lagi nih).

Sekadar catatan kriteria nyaman ini beda-beda lho buat tiap pasangan. Ada yang nyaman itu berarti rumah sakit besar karena alatnya lebih komplet, dokternya banyak. Ada yang nyaman itu berarti klinik bidan yang kecil karena punya trauma terhadap rumah sakit atau karena menganggap klinik yang kecil itu lebih sehat –nggak campur dengan pasien dengan segala macam penyakit–. Ada yang berpendapat nyaman itu mewah, kalau bisa sih, rumah sakit langganan selebritis. Silakan saja.

Demikianlah, takdir sudah digariskan. Di dekat rumah kami –dekat sekali—ada bidan yang menerima BPJS. Dia bidan yang kondang betul di kampung kami hingga ke kampung tetangga. Lucunya adalah, saat saya membangun rumah dan bahkan belum punya anak, saya membayangkan akan melahirkan di sana, lalu pulang jalan kaki sambil menggendong bayi. Saya bakal tersenyum lebar, mengenakan gaun desainer yang indah, lalu melambaikan pada wartawan (oke, itu keinginanan saya setelah melihat Kate Middleton keluar dari Lindo Wing). Tapi serius, dalam benak saya, pernah tergambar saya pulang jalan kaki sambil menggendong bayi dari klinik bidan itu.
Kami menemui bidan itu (yang ternyata tetap cantik dan modis meski usianya sudah lewat lima puluh, dan entah bagaimana ini membuat saya percaya padanya. Bidan cantik itu… gimana ya… tampak lebih kompeten gitu). Saya kagum karena dia ternyata memahami prinsip gentle birth. Tiga permintaan saya yang utama ia kabulkan. Satu, saya ingin bayi saya menjalani IMD dan ASI ekslusif. Dua, saya ingin rawat gabung. Tiga, saya menginginkan Lotus Birth (tali pusat tidak diklem atau dipotong). Semua dikabulkan. Plok-plok-plok.
So, tugas suami tinggal mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk administrasi BJPS. Tolong ya ibu-ibu yang ingin melahirkan dengan BPJS, cermati betul prosedurnya. Tanya-tanya dulu bila perlu.

The D-Day

HPL 28 Februari sudah lewat. Padahal saya pengin bener anak saya lahir Februari. Soalnya Anto ultah bulan Februari. Nah, nah, saya sudah mengatur-ngatur bayi saya. Lewat seminggu pun, yang terasa hanya kontraksi-kontraksi semu saja. Saya berusaha menyabar-nyabarkan diri. Angger pun dulu juga ‘telat’ lahirnya (telat dari HPL maksudnya, mana ada sih bayi lahir telat?). Haduh, kedua anak saya ini kok betah berlama-lama di dalam perut.

Pernah suatu saat rasa tak sabar menyerang, saya membuka-buka google, mencari tahu mengapa ada bayi yang betah betul dalam kandungan. Ada sebuah kalimat yang menenangkan, “Bayi itu pasti lahir kok, tak ada kemungkinan lain. Pasti.” Kalimatnya tak sama persis, tapi intinya gitu. Saya langsung ‘nyes’ dan tenang. Benar juga, kehamilan yang terasa panjang ini pasti akan berakhir juga.
Saya berpikir positif semua makhluk punya ‘timing’nya sendiri. Saya ajak bayi saya bicara, “Sayang, lahirlah bila sudah siap. Ibu tunggu. Kita bekerja sama ya. Lahirlah dengan selembut mungkin dengan santai, mudah, dan lancar.” Saya ulang-ulang kalimat itu. Saya juga berdoa. Bersujud lebih sering dan lebih lama. Memohon kelahiran yang mudah.

Pagi Selasa 10 Maret tiba. Sepuluh hari pasca HPL. Pagi yang biasa. Saya memanen bayam di kebun, membawanya ke pasar dan menjualnya ke pedagang pasar (ini memang kegiatan rutin saya waktu itu). Saya belanja, mengasuh Angger, dan sebagainya. Seperti biasa. Bedanya adalah kontraksi terasa makin kuat dan sering. Saya sampai tak bisa tidur siang. Saya sampai minum teh panas di siang hari demi menenangkan diri. Tiap kali kontraksi menyerang saya menarik dan mengembuskan napas panjang seperti yang sudah saya pelajari dalam teknik gentle birth. Toh saya tetap tak yakin apakah si bayi mau lahir. Maklum saking seringnya kontraksi semu, saya jadi sering berpikir, “Ah, paling nanti juga ilang lagi”.

Saya duduk dan bergoyang-goyang di atas gym ball (birthing ball) yang sudah kami beli beberapa minggu sebelumnya. Lumayan, rasa nyeri mereda tanpa kehebohan yang berarti. Karena rileks sangat penting dalam proses persalinan yang lembut, relaksasi sangat dianjurkan. Bagi sebagian orang relaksasi bisa berarti meditasi, menyanyi, menari, atau pergi ke spa. Serius nih, ada yang sebelum melahirkan justru menari bareng suami –memang pasangan penari, sih–.

Bagi saya relaksasi berarti… yak, baca novel (gimana lagi, memang kerjaannya nulis novel). Kontraksi menyerang, tarik napas dalam-dalam, duduk dan goyang di atas gym ball, sambil baca Sophie Kinsella! Beneran nih. Di dalam tas melahirkan saya ada novel juga. Nggak ada di panduan kehamilan mana pun buat bawa novel saat melahirkan. Biasanya sih yang harus dibawa itu ya popok, daster, dan sebagainya. Paling pol music player. Tapi saya bawa novel. Memang terpakai kok. Beberapa jam setelah melahirkan saya sudah kembali… membaca novel. Tamat pula dalam sehari. Waktu melahirkan Angger saya membawa bukunya Agustinus Wibowo. Kali ini saya membawa bukunya Okky Madasari.

Jam tiga sore, kontraksi makin rapat. Saya ingat pesan bidan Yesie untuk tersenyum pada saat-saat demikian. Kalau yang atas tersenyum, yang bawah juga tersenyum, katanya. Susah memang tersenyum di saat perut terasa nyeri, tapi bisa. Ini memberi energi positif dan membuat saya ingat hal-hal menyenangkan, ‘Aku akan segera bertemu kekasih yang saya rindukan. Kehamilan ini akan segera berakhir. Bye-bye perut besar. Bye-bye punggung pegal. Aku akan kembali gesit lagi.’ Dan sebagainya.

Saya SMS Anto, minta dia pulang awal. Padahal niatnya saya akan tunggu dia pulang sesuai jam kantornya. Sambil nunggu dia pulang, saya mandi dan sholat ashar. Mandi sebelum melahirkan juga disarankan. Biar kita segar, bersih, dan cantik saat ketemu pujaan hati yang sudah dinanti-nanti.
Jam empat Anto sampai rumah. Siap-siap sebentar, langsung deh kami cabut. Tas melahirkan yang sudah saya siapkan tidak kami bawa karena saya pikir ah, andai ini sudah saatnya, paling juga belum bukaan penuh. Siapa tahu masih disuruh pulang lagi. Jujur saja, meski ya, ada rasa nyeri, nyerinya tidak begitu hebat dan masih bisa saya tahan.

Tak lupa kami mengajak Angger. Ia selalu kami libatkan dalam setiap pemeriksaan dan tentu saja kami tak ingin ia melewatkan momen yang paling penting.

Kami naik motor boncengan menuju bidan yang hanya makan waktu tak lebih dari semenit. Sampai sana langsung disuruh masuk dan periksa. Ternyata sudah bukaan enam. Tak sampai setengah jam kemudian, kekasih yang saya tunggu-tunggu itu hadir ke bumi hanya dengan dua kali dorongan. Bu bidan dan asistennya sampai belum kelar melakukan persiapannya.

Salah tahu teknik gentle birth yang saya pelajari adalah mengenali isyarat tubuh. Jangan memaksa. Saat ingin mengejan, ya mengejan saja. Saat dorongan untuk mengejan hilang, jangan dipaksa. Di sinilah bidan, dokter, atau pembantu persalinan seharusnya memang hanya bersifat mendampingi, bukan mengatur-atur. Ibulah yang harus memandu dirinya sendiri, menentukan posisi tubuhnya serta menentukan kapan mendorong. Kenapa? Karena hanya ibu yang bisa merasakan isyarat dari dalam tubuhnya.
Untuk posisi, kebetulan saya nyaman-nyaman saja berbaring. Tapi tidak harus selalu begitu. Bisa saja sambil jongkok, berdiri, duduk, atau nungging. Ini bukan tuntutan logika, tapi insting tubuh tadi.
Selamat Datang, Sayang

Namanya takdir. Akhirnya kelahiran Unggul (ya, namanya Unggul dan itu nama pemberian kakaknya) tidak didampingi bidan yang sejak awal kami ajak rembugan. Ia sedang pergi. Unggul dibantu oleh bidan pengganti. Ya, tidak apa-apa. Bagi saya setiap bayi punya waktu, jalan, dan cerita sendiri-sendiri. Akhirnya tali pusatnya diklem juga karena si bidan tak yakin dengan metode lotus birth. Tapi syukurlah, kami bisa meminta penundaan. Tali pusatnya diklem kira-kira satu jam pasca kelahiran. Kami pastikan tali itu sudah tak berdenyut lagi. Saya menyentuhnya untuk memastikan si tali sudah tak berdenyut lagi. Oh, my, baru kali ini saya menyentuh tali pusat! Tali yang sudah sangat berjasa bagi kami berdua. Yang jadi penghubung kami selama ini, membuat kami tak terpisahkan selama sembilan bulan lebih.
Saya langsung menerapkan IMD (inisiasi menyusu dini). Unggul diadzani oleh Ayahnya, lalu selama satu jam dibiarkan kontak skin-to-skin di dada saya. Sentuhan pertama. Syukurlah, ia tak buru-buru ditimbang atau dimandikan, jadi saya bisa berlama-lama mendekapnya.

Kalau diingat-ingat, sebenarnya banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kami dalam kelahiran ini. Saya tetap memerlukan jahitan –yak ‘memanen’ kemalasan saya. Kamar persalinannya yah…. lebih mirip dapur dengan dua bed yang usianya mungkin sudah melebihi usia saya. Dua bed itu hanya dipisahkan oleh tirai tipis. Kami bilang mirip dapur karena ada ‘bak cuci’ dilapisi keramik kotak-kotak kecil yang mirip dengan dapur-dapur orang awam era 90-an. Instalasi pipa airnya ‘pating crantel’ di tembok. Tirainya entah sudah berapa lama tak dicuci. Untung itu mempengaruhi mood saya sekali. Bayi saya lahir sehat, selamat. Saya juga sehat selamat. Itu sudah cukup. Yang lain tak jadi soal.

Sialnya, empat kamar perawatan yang tersedia penuh semua. Jadi kami terpaksa menginap di ruang bersalin. Jadilah kami uyel-uyelan berempat semalam. Angger tak mau pulang. Bed yang keterlaluan kecilnya itu kami gunakan buat berdua. Sementara Anto terpaksa menyeret dua kursi dari luar untuk disambung jadi tempat tidur. Kadang, ia juga berusaha tidur di musholla. Unggul tdur di boks bayi di samping saya.

Sebenarnya saya tak tidur malam itu. Terlalu girang bayi saya sudah lahir. Anto tidur-bangun-tidur-bangun karena kursinya nggak nyaman. Angger tidur larut sekali karena terlalu asyik mainan tiang infus. Kayaknya dia sama sekali tak keberatan menginap di ‘dapur’. Ah, itu semua bisa jadi cerita.

Sebelumnya, Angger sempat ikut saya ke ruang persalinan sebelum adiknya lahir. Namun, kemudian saya memintanya keluar. “Tunggu ibu di luar ya.” Ajaib, Angger yang biasanya tidak mau lepas dari ibunya dan butuh waktu agak lama untuk menyesuaikan diri dengan orang asing, sore itu nyaman-nyaman saja duduk nonton TV di ruang tunggu ditemani salah seorang siswa kebidanan magang. Sampai tertidur pula! Inilah alasan saya juga mengapa memilih melahirkan di klinik bidan. Saya ingin mengajak Angger. Kalau saya melahirkan di rumah sakit besar, wah, mana mungkin dia bisa ikut masuk?

Anyway, saya meminta pulang malam itu juga sebenarnya. Namun karena prosedurnya mengharuskan pasien diobervasi selama minimal 24 jam, mereka tidak mengizinkan. “Takut ada apa-apa, Bu,” katanya. “Rumah saya dekat, Mbak, kalau ada apa-apa saya balik ke sini, deh.” Eh, tetap nggak boleh. Ya sudah. Tapi saya membatin, kalau bed sebelah nanti dipakai buat melahirkan, saya bakal langsung pulang. Untung nggak ada pasien.
Siangnya sudah ada kamar kosong yang saya tempati. Saya pun pindah ke sana. Kesibukan saya selain mengurus bayi, tentu saja baca novel dan… update facebook-lah. Emak-emak zaman sekarang gitu lho. Makan di warung aja update facebook kok, melahirkan nggak.

Sore itu, rintik gerimis menemani kami mendekap si kecil dalam buntalan pulang ke rumah. Romantis sekali. Saya merasa hidup saya begitu diberkahi, begitu lengkap dan sempurna.

Doa dan Harapan

Sesuai tradisi Jawa kami membagikan brokohan kepada para tetangga. Wadah takir berisi dawet, telur, secuil gula jawa,secuil kelapa, dan bunga-bungaan. Mestinya itu menyimbolkan sesuatu, tapi saya tak tahu apa. Yang jelas itu pengumuman bahwa sudah ada jiwa baru dalam keluarga kami.
Masyarakat Jawa (Asia pada umumnya) sudah sejak lama menempatkan plasenta ini di tempat yang tinggi. Ini karena plasenta begitu berjasa pada bayi dan ibu. Dialah yang menyaring segala sari makanan serta memisahkan racunnya. Dalam doa orang Jawa untuk bayi yang baru lahir, ari-ari ini selalu disebut bersama air ketuban; kakang kawah (kakak ketuban) dan adik ari-ari (adik plasenta). Semata karena merekalah teman dan pelindung bayi selama dalam kandungan. Sudah tahu kan betapa bahayanya bila plasenta dan ketuban ini bermasalah? Misal plasenta menutup jalan lahir, tali plasenta lepas, atau ketuban rembes.

Untuk itulah saat berkomunikasi dengan janin, kita juga disarankan berkomunikasi dengan plasenta dan ketuban. “Bayiku, mari bekerja sama. Tumbuhlah dengan tenang dan sehat. Ari-ari, tolong bantu kakakmu. Melekatlah dengan baik. Air ketuban tolong jaga adikmu.” Terserah kalimat apa yang Anda gunakan. Yang penting kita menyadari bahwa semua hal di alam ini, termasuk semua organ dalam tubuh kita sangat berjasa.
Sesuai budaya Jawa, ari-ari dimasukkan dalam kendil kecil dari tanah liat. Kendil konon menyerupai rahim ibu. Kemudian, kendil dan ari-ari tadi ditanam di sisi kiri pintu depan (karena anak kami laki-laki, maka tempatnya adalah sisi kiri pintu). Bersama ari-ari tadi, dikuburkan pula segala macam uba rampe sebagai simbol doa dan harapan bagi si kecil. Contohnya, benang dan jarum agar si kecil cukup sandang pangannya. Biji-bijian (beras, jagung, kacang) agar si kecil sejahtera. Alat tulis agar si kecil kelak cendekia.
Setiap senja, dian dinyalakan di atas tanah tempat ari-ari dipendam. Saat menyalakan dian itu, orang tua diharapkan untuk berdoa dan berterima kasih kepada ari-ari. Doa untuk ari-ari Unggul spesial dibuatkan oleh ayah saya (alias kakeknya).

Setiap subuh dian dipadamkan lalu dinyalakan lagi saat maghrib tiba selama empat puluh hari. Bagi saya ini pengingat untuk senantiasa sadar atas kuasa-Nya dan bersyukur atas nikmat-Nya. Kesadaran kita tidak hidup sendiri. Ada semesta yang membantu kita dengan sangat luar biasa, termasuk keajaiban-Nya dalam kehamilan, kelahiran, dan kehidupan.

Zaman dulu bisa jadi dian ini dinyalakan agar ari-ari tak diganggu binatang. Tapi bisa jadi punya fungsi lain, simbol lain. Siapa tahu? Yang saya tahu, nenek moyang kita selalu punya kebijaksanaan nan luhur, Kini dian ini bisa diganti lampu. Lebih praktis, tapi bagi kami kurang romantis.
Seperti dian itu, lahir satu lagi jiwa yang akan menerangi hidup kami dan aduhai betapa berlipat-lipatnya cinta yang ia tambahkan, kebahagiaan yang kami rasakan. Tak ada kata lain selain, Matur Nuwun. Terima kasih.
Catatan: Dua blog saya http://www.kompasiana.com/kenterate dan https://kenterate.wordpress.com/ bisa memuat artikel yang sama.

Pindahan (Semacam Racauan Nggak Penting)

Saya barusan pindah rumah. Akhirnya! Setelah sekian tahun mendamba. Rumah yang saya tempati kali ini adalah rumah baru tapi lama. Saya bilang baru karena ya baru saya tempati sekarang dan belum pernah ditempati siapa pun sebelumnya. Saya bilang lama karena sudah dibangun sejak tujuh tahun yang lalu.

Rasanya begitu nyaman dan damai. Ayem, meski rumah kami belum jadi sepenuhnya. Sebagian lantainya bahkan masih berupa semen kasar berselimut tanah. Tapi seperti kata Godbless ini adalah… rumah kitaaaa sendiri (yak ketahuan saya generasi 90an). Berdiam di rumah yang sama sejak kecil, saya tak menyadari betapa vitalnya hal satu ini bagi sebagian besar manusia. Sebagian saya bilang, karena sebagian yang lain merasa nyaman tanpa memiliki rumah berbentuk fisik. Nah kebetulan saya bukan tipe seperti itu.

Saya dididik untuk menjadi anak rumahan. Saya dididik untuk tinggal di rumah dan menemukan kebahagiaan di dalamnya. Bercengkerama, makan bersama, membuat kue, hingga berkumpul dengan teman dan tetangga di. Meski pernah tinggal di luar Jogja untuk waktu yang agak lama, saya tak pernah menyebut tempat-tempat itu sebagai rumah. Rumah saya ya… rumah yang itu.

Jadi ketika akhirnya saya punya rumah sendiri, wow, rasanya kayak menyelesaikan suatu PR yang sangat besar. Malah, rasanya seperti melewati satu tahapan hidup!  Apalagi rumah ini memiliki fitur yang lebih baik dari rumah lama (tentunya); lingkungan yang lebih baik, tenang, dan bersih, jalan yang lebih lebar (di kampung lama kami bahkan harus menuntun motor dan mobil nggak bisa masuk) dan atmosfir yang lebih kreatif.

Jatuh Bangun

Kami membangun rumah ini ‘sendiri’ alias tidak memakai jasa developer dan begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan, bahkan pelajaran dari kesalahan. Kesalahan yang juga banyak. Awalnya kami merasa kecewa, jengkel, atau menyesal saat kami sadari ada yang salah di sana sini. Kesal rasanya melihat floor-drain yang salah pasang. Tapi lama-lama kami menyadari kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kami beradaptasi dan bahkan bilang, “Oke, yang ini untuk pengingat, besok kita harus lebih berhati-hati.” Anto yang perfeksionis bahkan mulai semeleh. Dan saya sangat takjub dibuatnya. Dia tak lagi menuntut semuanya simetris, eksak, dan sempurna. Dia bahkan bisa bilang, “Ketidaksempurnaan itu indah.”

Kami juga belajar untuk tumbuh, untuk beradaptasi, untuk menggali ide-ide baru. Ada saja ide yang terbersit dan membuat kami menyimpang dari blue print. Kalau lebih bagus kenapa tidak?

Untuk hal ini kami berhutang pada desainer kami Mas Cahyo. Dia banyak membuka mata kami, bahkan mengubah pola pikir kami. Anto yang dulunya kaku menjadi lebih kompromis. Saya yang dulunya ngejar ‘modern’, kini lebih arif pada nilai-nilai tradisional. Kami yang dulunya saklek jadi lebih fleksibel. Saya pernah dengar,  “Kalau ingin menguji ketangguhan perkawinan, bangunlah rumah bersama-sama!” Oke, teori itu tentu masih perlu dibuktikan, tapi mari kita amini untuk saat ini.

Salah satu kalimat Mas Desainer yang saya ingat adalah, “Simetris itu alat bukan tujuan.” Sementara yang diingat Anto adalah, “Bukan pohon yang mengganggu rumah, tapi rumah yang menganggu pohon.” Dahsyat dah.

Tak terbilang tentunya berapa panjang diskusi kami. Beberapa di antaranya diiringi perdebatan dan tampang cemberut. Ada cemas dan capai menyelip, tapi kami sudah tak ingat lagi. Begitu pindah, yang kami rasakan hanya “Good job, yuk terus bekerja.”

Pindahan

Saya dulu selalu iri melihat teman-teman saya yang sering pindah rumah. Kalau pindahnya karena tugas (anak diplomat misalnya), masih wajar buat bikin iri. Tapi saya bahkan iri bila teman saya pindah karena kontrakannya sudah habis! Saya bayangkan pindah itu pasti seru. Tinggal dan melihat lingkungan baru! Wow!  Saya belum pernah mengalaminya.

Dari lahir jebrot sampai usia segini saya tinggal di rumah yang sama. Membosankan. Begitu pindah (meski hanya sekilo jauhnya), saya sangat excited, meski rasa iri kanak-kanak saya sudah pupus. Sudah lama saya menyadari teman-teman saya para ‘kontraktor’ itu pasti merasa tidak nyaman. Ortu mereka tak pernah tenang dan kadang mereka pindah ke lingkungan yang lebih buruk.

Itu tak terbayang di masa kanak-kanak saya. Sama halnya saya selalu iri pada teman yang punya rumah bertingkat atau punya loteng. Keren banget kan bisa lihat bumi dari tempat yang lebih tinggi. Rumah saya yang datar meleter itu terlihat sangat membosankan. Saya nggak pernah mikir mereka terpaksa buat rumah bertingkat kerena nggak punya lahan.

Ada rasa sakit saat kita harus meninggalkan apa-apa yang biasa kita punya. Tetangga yang sudah kompak dan bahkan dengan santainya bisa kita mintai bumbu dapur. Pasar yang sudah sangat saya kenal sampai bau-baunya dan rumah… ya rumah dengan segala kenangan. Anto sampai nangis waktu packing. “Ingat Ibuk,” katanya. Lah, padahal itu rumah saya, itu ibu saya, yang nangis malah Anto. Saya pilih nyingkir. Takut ikut nangis lebih keras.

Angger juga sempat menolak pindah meski sudah kami beri pengertian sejak lama dan perlahan-lahan hingga akhirnya dia yang ngejar-ngejar buat pindah.

Dan pindahan itu ternyata ribet masya ampun. Mulai dari packing, ngangkut, sampai… kehilangan barang. Capeknya seminggu baru hilang.

Tapi saat saya mengeluh tetangga saya bilang, “Mending Mbak ini pindah ke rumah sendiri, lah kalau pindah ke rumah kontrakan?”

Iya juga ya. Satu keuntungan lagi, rumah saya yang lama ditempati adik saya. Jadi barang ketinggalan bukan masalah. Saya masih wira-wiri rumah lama-rumah baru. Syukurlah, kini saya punya kenangan dua kenangan atas ‘rumah’. 

Mengapa Homescholing (2)

Ketika saya berniat mendidik Angger secara mandiri di rumah (homeschooling), ada kegalauan terbersit, “Bagaimana kalau anak saya tidak belajar sebanyak anak yang lain?”

Tapi beberapa hari terakhir kegalauan ini sirna saat melihat Angger dengan asyik mengamati kecebong di kebun. Bukankah dia sedang belajar?

Ternyata kuncinya adalah mindset kita atas definisi belajar. Belajar tidak harus duduk di dalam kelas, mencatat, dan mendengarkan guru. Belajar bisa di mana saja, kapan saja, bersama siapa saja.

Rugi banget bila Angger tidak sempat melihat metamorfosis katak sementara ada katak bermetamorfosis di belakang rumah. Bisa saja momen langka ini terlewat karena waktunya habis untuk sekolah. Ibunya belanja di pagi hari saat pasar sedang full dagangan dan sayuran masih segar. Ayahnya memperbaiki pagar di pagi hari sebelum berangkat kerja. Apakah mungkin dia ikut belanja dan memperbaiki pagar bila dia dihebohkan dengan persiapan sekolah?

Rugi sekali bila Angger tidak sempat belajar menanam papaya dari ayahnya yang petani papaya. Rugi banget bila Angger tidak belajar menulis dari ibunya yang penulis.

Ayah, ibu, keluarga dekat beserta masing-masing keahliannya adalah sumber utama(first hand resource) yang sayang bila dilewatkan.

Itulah mengapa saya mengajari Angger berbahasa Jawa –proses yang masih berjalan dan kacau balau banget–. Saya pikir rugi banget jika Angger tidak belajar bahasa Jawa sementara kebisaan itu begitu dekat dengannya. Saya adalah sumber belajar ‘nyaris sempurna’ untuk percakapan bahasa Jawa karena saya penutur asli. Itu artinya dia bisa belajar kosa kata sampai logat-logatnya.

Saya tidak bilang Angger tidak bisa belajar bahasa Inggris dari saya. Bukan. Dia tetap bisa belajar dari saya, cuma karena saya bukan native speaker tentu masih banyak belang blentongnya. Grammar mungkin salah, logat apalagi, pasti lewat. Jadi saya pikir akan lebih menguntungkan bagi Angger untuk belajar bahasa Jawa. Mumpung ada guru penutur asli, gratis pula.

Semoga selalu diberkahi, semoga diberi jalan lancar. Amin. 

Cukup Itu Cukup

Saya baru saja beli hape baru. Alasannya (yang dibuat-buat) hape lama saya entah kenapa mati melulu kalau dipakai motret padahal fitur kamera itu penting bagi saya. Buat dokumentasi. Saya kan penulis, jadi butuh dong merekam hal-hal menarik yang saya temui di jalan. Siapa tahu bisa jadi bahan tulisan.Meski yah saya akui galeri saya lebih banyak berisi foto-foto selfie saya bareng Angger.

Di saat yang sama baterai kamera saya juga bermasalah. Jadi ya sudahlah, daripada saya servis kamera plus servis hape, saya beli hape baru.

“Mending beli hape baru yang kameranya bagus, Mbak, jadi kalau ke mana-mana kamu hanya perlu nyangking satu gadget. Tak perlu bawa hape plus kamera.” kata adik saya Sutimbul. Sungguh, seumur-umur itulah kalimat paling bijaksana yang terucap darinya.

Yang Dibutuhkan

Saya langsung mencari hape dengan kategori seperti ini:

  1. Bisa buat SMS
  2. Bisa buat telepon
  3. Kameranya lumayan bagus

Di mal hape, tentu lain lagi kategori yang disodorkan oleh penjualnya. “Mending ini Mbak, sudah bisa buat BBM, wichat, line, macem-macem, game-nya juga banyak. Musik-nya oke.”

Saya terpana, “Oh, betapa kerennya!” Tapi hanya sedetik. Saya panggil kesadaran saya kembali.

“Tidak saya tidak butuh semua itu, saya hanya butuh hape yang kameranya lumayan.”

Ganti penjualnya yang bengong. Mungkin dia mbatin, “Yailah mbak, kalau nggak butuh chatting dan nge-game itu hape buat apa? Ngulek sambel?”

Adik saya Fitri yang mengantar saya malam itu bilang, “Ini bisa buat line Mbak, kan lumayan bisa hemat pulsa.”

“Kamu kan tahu aku tidak pernah pakai line-line-an kayak begitu.”

“Ya buat konek dengan keluarga kita aja, biar ngirit SMS. Kan lumayan kalau aku pas belanja, lihat barang bagus, aku bisa potret terus kirim ke kamu dan nanya ‘kamu mau ini nggak Mbak’.”

Ha! Jenius sekali kan? Aduuuuuh, manisnya. Kalau tidak punya line mungkin saya akan kehilangan kesempatan punya sepatu bagus.

Saya menimbang-nimbang sejenak. Iya ya, bukankah itu akan praktis sekali? Saya mendadak galau. Iman goyah. Mendadak saya jadi merasa butuh. Kenapa yang dulu cukup-cukup saja kini terasa kurang? Dulu saya tidak punya telepon sama sekali. Dan saya baik-baik saja. Lalu saya punya hape, tapi tidak punya kamera. Dan saya baik-baik saja. Kini saya punya hape dan punya kamera dan TIDAK baik-baik saja. Saya pengin punya hape yang bisa buat apa saja itu.

Enough is enough

Kapan cukup itu cukup? Orang Jawa bilang wong ki cukup yen wis mlebu cungkup alias cukup bila sudah masuk liang lahat. Selama manusia masih hidup ya nggak bakal cukup.

Masalahnya capek banget nggak sih ngejar cukup yang ternyata nggak pernah cukup itu?

Semua agama mengajarkan puasa karena itu salah satu sarana kita belajar untuk menahan diri dari segala serbuan keinginan yang kita terjemahkan sebagai kebutuhan. Ternyata kita cukup kok makan sehari dua kali alih-alih tiga kali. Ternyata cukup juga hidup kita tanpa rokok. Ternyata cukup hidup kita tanpa berhubungan seksual dan seterusnya.

Yang ada dan tersedia pun kita tolak. Alasannya: cukup.

Saya ingin belajar dari itu semua. Saya ingin bisa mengatakan cukup meski batin saya menjerit ‘kurang-kurang-kurang’.

Masalahnya bahaya sekali kalau kita tidak bisa bilang ‘cukup. Dan cukup itu berarti cukup.’

Soal perut saja. Pernah Anda makan sampai kekenyangan? Saya yakin pernah. Ini jadi sumber penyakit, kita semua tahu. Tapi entah bagaimana susah bagi kita untuk bilang cukup meski perut kita sudah menjerit-jerit, “Cukup, woe, cukup. Ya ampun kami sudah nggak muat, sudah nggak kuat buat menggiling, kenapa masih terus dimasukin?”

Sudah punya rumah, sudah punya mobil, sudah punya istri, eh yak ok masih kurang. Iyalah, rumah yang ini kurang bagus. Iyalah mobilnya cuma satu, kan ribet kalau ibu butuh ke sana, ayah butuh ke sini, anak butuh ke situ. Ya sudah, akhirnya nambah mobil dan nambah rumah, lalu nambah istri. Lah kalau duitnya kurang… ya korupsi. Gampang.

Kalau dilihat dari segi ini sebenarnya kita nggak jauh beda ya dari para koruptor. Sama-sama tak bisa mengekang rasa kurang. Hape kurang keren, beli yang baru –seperti saya–. Eh, yang baru kurang lebar, beli hape yang gedenya  saingan sama telapak tangan dah. (Saya hampir ketawa lihat hape yang lebarnya ya ampun, Mak, dikantongin aja susah! Padahal dulu produsen hape berlomba-lomba bikin hape mini. Juaranya Sony yang bisa bikin hape sekecil korek api kalau dilipet. Sekarang hape berlomba gede-gedean ngalahin tivi).

Di mal hape itu si penjual juga bilang, “Baterainya hemat kok, cuma butuh di-charge sehari dua kali.”

Gubrak! Dulu hape hemat itu dicharge sehari dalam tiga hari! Tapi memang nggak konek sama internet. Nggak ada facebook. Sekarang kalau nggak konek sama facebook ya KURANG dong. Karena hapenya smart, orangnya juga harus smart. Jadilah kita bikin powerbank.

Kata adik saya, “Mbak, kalau kamu mulai bawa powerbank, besok kamu bakal bawa genset.”

Oh. Sungguh itu kata paling bijak kedua dari adik saya. Adik saya itu… saking anti powerbank hapenya nggak bisa dihubungi karena baterainya sering nge-drop. Tapi kok ya…. nggak apa-apa. Paling-paling dia terbebas dari ‘perintah’ saya untuk beli ini itu dalam perjalanan pulang dari kantornya.

Begitulah sekali kita bilang ‘iya’ pada nafsu, nafsu ini makin kurangajar, makin menjadi-jadi. Sekali beli hape, ya teruuuuusss aja selalu butuh hape yang baru. Kayak candu.

Sekali nurutin nafsu makan sampai kekenyangan, kok ya ndilalah usus kayak makin lebar, lambung makin besar dan lidah makin manja. Kalau nggak enak, muntir sudah itu lidah.

Masih Kurang

Nafsu itu memang nggak ada batasnya. Saya sudah punya semua hal yang saya anggap elementer dalam hidup saya: makan, pakaian, rumah, kendaraan, laptop, hape. Seharusnya mudah bagi saya untuk beranjak ke hal lain dalam hidup ini: bikin perusahaan yang bisa menyerap tenaga kerja, beramal, atau kuliah lagi biar pinter.

Tapi kok ya sudah sekali. Karena ternyata yang seharusnya ‘cukup’ itu masih kurang. Rumah masih setengah jadi, kendaraan udah lawas banget, dan oh, saya kan belum pernah piknik sekeluarga ke Bali. Masih kuraaaang banget deh pokoknya dan entah kapan cukupnya.

Sudahlah, tiba-tiba kok saya jadi ngenes sendiri.

Salah Fokus

Betapa mudahnya kita kehilangan fokus. Betapa mudahnya kita berpaling dari pokok pembicaraan ke pembicaraan remeh temeh yang mengaburkan inti.

Ketika menteri pendidikan dimintai komentar soal surat terbuka mengenai (kritik) UN yang ditulis anak SMA, ia berkata ia tak yakin surat ini dibuat oleh anak SMA, “”Dari tulisannya, logika menulis, pilihan kata, sepertinya mustahil itu ditulis oleh pelajar SMA,” kata Pak Menteri seperti yang dikutip di laman ini.

Lha kok aneh, batin saya, menteri pendidikan kok nggak yakin dengan anak didiknya. Apa dia justru senang (dan yakin) anak didiknya nggak mampu menulis dengan baik? Lah, kalau memang begitu, sudah seharusnya dia mengubah metode pendidikan dong.

Si anak didik itu maju kena, mundur kena. Pinter nggak dipercaya, bego disalahin.

Okelah kalau memang surat itu TIDAK dibuat oleh anak SMA beneran, yang penting kan isinya. Isinya benar atau tidak. Saya jadi berpikir semua pejabat di negeri ini parno. Jadi kalau ada yang mengkritik dan menyerang, bukan kritikannya yang dicermati, tapi apa akibat kritik itu bagi karir mereka. Mereka sibuk menerka-nerka apa modus kritik itu? Mereka merasa semua kritik dibuat oleh lawan untuk menjegal kursi mereka.

Oke, saya sudah hilang fokus di sini. Intinya: mudah sekali bagi kita, bahkan seorang menteri, untuk meleset dari fokus. Memperhatikan hal yang remeh dan nggak penting dan di saat yang sama, justru melupakan inti, esensi.

Contoh-contoh kecil

Di Youtube saya menemukan video klip kelompok musik yang memainkan piano dan cello dengan indahnya. Aduh, indahnya kebangeten deh. Dan komentar yang tersua di bawahnya adalah: (Si pemain music) is gay.

Lah, terus ngapain kalau dia gay –dengan asumsi komentar itu benar–?

Ada pula video yang memperlihatkan seorang anak kecil main harpa. Bagus banget. Eh, komentarnya: make up-nya ketebelan. Ya ampun, ada anak kecil bisa main harpa, yang diperhatikan kok make-up-nya> Udah gitu ada juga yang nanggapin pula, “Lah, memangnya apa yang kamu harapkan? Dia makin harpa dengan jins belel kayak gembel?”

Saya jagonya salah fokus tentu saja. Ketika membaca artikel soal tidak perlunya anak belajar calistung di usia dini yang justru saya perhatikan adalah ejaannya, bukan isinya. Kalau ditanya mengapa anak tidak boleh belajar calistung di usia dini, saya tidak bisa menjelaskan ulang. Jelas karena yang saya pikirkan adalah, “Ya ampun ini orang, dia dulu belajar calistung di mana yak, ejaannya berantakan bener. Bikin pusing yang baca.”

Ada artikel lain tentang kisah seorang pemuda yang marah pada ibunya yang sudah jompo gara-gara si ibu mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali. Si ibu sedih dan menangis, “Kenapa kamu marah? Dulu waktu kecil kamu menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali  dan ibu tak pernah bosan menjawabnya.”

Lah, kuwi jenenge ngundat-undat. Mengungkit-ungkit! Saya tahu maksud artikel itu baik. Hormatilah orangtuamu karena dia sudah mengasuhmu dengan susah payah waktu kecil. Tapi kan sebagai orangtua kita harus ikhlas, ya kan? Kalau nggak ikhlas menjawab pertanyaan anak berkali-kali ya nggak usah punya anak. Beres to? Dan kok bisa ibu itu punya anak nggak sabaran kayak gitu? Gimana cara mendidiknya?

Itu komentar sinis saya. Iya, iya, saya tahu bukan intinya. Tapi kok ya….

Cerita lain: Ada orang bertanya-tanya, “Kenapa sih pohon beringin yang gede buahnya kecil, sementara pohon semangka yang kecil buahnya malah besar.”

Terus ‘ting’, si orang kejatuhan buah beringin. Dia lalu memuji Alloh yang Maha Pintar dalam menciptakan semua makhluknya. Coba kalau buah pohon beringin itu sebesar semangka. Repot kan?

Tunggu, dia belum pernah liat pohon duren ya? Itu komentar saya, yang lagi-lagi salah fokus.

Sakit

Padahal salah fokus bisa nyakitin banget lho. Contohnya, Anda udah masak semur dengan sempurna. Bumbunya pas, dagingnya empuk, dan penyajiannya juga cantik. Pas pasangan Anda pulang dan makan tuh semur, dia berkomentar, “Itu wadah semurnya kenapa retak dikit kayak gitu?”

Sakit banget nggak tuh?

Nyakitin banget kalau seorang anak pulang membawa nilai sepuluh untuk matematikanya dan si ibu berkata, “Kenapa kertasmu kotor kayak gini, pasti tanganmu berkeringat waktu ngerjain soalnya. Lain kali jangan lupa bawa tisu.”

Dan karena si ortu udah biasa salah fokus, udah biasa memperhatikan hal-hal yang nggak penting dan mengabaikan hal penting, si anak juga akan begitu. Dan kelak bila suatu saat dia jadi menteri atau presiden dia akan berkomentar, “Metode apa yang dipakai untuk menghitung angka kemiskinan itu? Kok bisa kemisikinan dikatakan naik, wong GDP-nya aja meningkat kok!” saat ditanya wartawan tentang kemiskinan. Atau lebih parah, dia akan berkomentar, “Angka itu beda dengan jumlah lho. Yang Anda tanyakan angka atau jumlah? Saya kok nggak yakin Anda wartawan. Bilang siapa yang menyuruh Anda ke mari?”