Author Archives: kenterate

About kenterate

Ibu rumah tangga, penulis, penerjemah, yang hobi ngobrol nggak penting.

Tentang Semangat Kartini: Jangan Mundur Lagi

Hari Kartini sudah lewat, tapi semangatnya nggak pernah kedaluwarsa saya rasa. Jadi bolehkan saya tetap nulis tentang Kartini? (Sebenarnya ini sih karena angot-angotan nulis, jadi telat deh postingnya).

 

Anyway, mengapa sih Kartini jadi pahlawan dan hari lahirnya selalu diperingati? Mengapa pahlawan perempuannya lainnya tidak seistimewa itu? Padahal apa sih jasa Kartini? Cuma bukak sekolahan saja gitu lho.

 

Kalau Anda baca tulisan Kartini, mungkin Anda bakal paham bahwa pikiran-pikiran Kartinilah yang membuatnya pantas jadi pahlawan. Udah baca? Saya udah, meski belum semua dan itu pun sudah bikin saya terpesona padanya.

 

Ah, pikiran-pikiran kayak gitu aja lho, biasa aja lah. Well, untuk zamannya, ide-ide Kartini itu benar-benar luar biasa, beyond… beyond apa ya? Pokoknya melampaui zamannya lah. Bahkan melampaui zaman sekarang. Dan nggak cuma soal perempuan lho yang ia tulis, tapi juga soal budaya, agama, dan kebangsaan.

 

Coba wis bandingkan dengan era tahun 2000 sekarang ini. Udah abad segini, konsep kesetaraan gender aja masih banyak dapat tentangan. Masih dikritik dan masih dituduh macam-macam; melawan kodratlah, meningkatkan angka perceraianlah, membuat perempuan sok kuasa, dan sebagainya.

 

Lebih parah dari itu, di zaman yang udah maju, enak kepenak kayak gini, kok masih ada aja yang pengin menyeret kita mundur. Mundurnya nggak tanggung-tanggung! Berabad-abad. Coba bayangkan apa gak nangis tuh Kartini dan pejuang-pejuang perempuan lainnya kalau lihat gerakan absurd zaman sekarang. Setelah mereka berkeringat dan berdarah-darah memperjuangkan hak dan kesejahteraan perempuan, eh, kini ada gerakan ngajak perempuan kawin muda. Gabruk. *jedotin dahi ke tembok. Tak perlu saya jelaskan dampak negatif kawin muda (marai emosi). Gugel-en dhewe.

 

Apa Kita (Perempuan yang) Lebih Baik?

Saya sungguh bersyukur tinggal di Indonesia yang merdeka (dan terlebih di Jogja) yang relatif membebaskan perempuan. Tapi saya cemas membaca celotehan yang wira-wiri di internet. Soal perempuan yang harus ‘tunduk’ pada suami (alih-alih menjadi mitra sejajar), soal perempuan pekerja yang lagi-lagi dibenturkan dengan kemuliaan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, soal nikah muda yang konon dibuntel begitu indahnya padahal realitasnya nggak sesederhana itu, soal perempuan yang selalu disudutkan tiap ada perkosaan atau pelecehan atau kekerasan rumah tangga, soal perempuan yang kembali di dorong untuk ‘kembali’ ke rumah (tenang, Bunda, mau tetap dapat penghasilan meski ngendon di rumah? Ayo jadi downline saya! *eh)

 

Tiap hari saya ke pasar dan menemui Bu Painem penjual tahu tempe dan jelas-jelas membantu saya memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Ada pula Mbok Warti yang subuh-subuh sudah kulakan kelapa, ngangkut ke pasar, dan memarutnya agar ibu-ibu manja seperti saya bisa masak dengan mudah. Ada pula Bu Waginah, Bu Sarinem, dan ibu-ibu lain yang mengenakan kebaya serta kain (serius, masih ada penjual di pasar kampung saya yang pakai pakaian seperti itu, lengkap dengan sanggul dan stagennya), nyengklak bis atau nggenjot pit, sambil memanggul segambreng-gambreng barang dagangan. Sungguh, apa jadinya saya tanpa mereka, hiks. Dan sungguh saya siapa to saya ini dibanding mereka? (ah, elo, jangan banding-bandingin, lah).

 

Di balik setiap bungkus tempe, setiap bulir beras, setiap potong ayam, saya yakin ada tangan-tangan perempuan yang terlibat. Perempuan-perempuan kuat yang kemungkinan besar (besar sekali) nggak ngerti apa kuwi emansipasi, gak tahu ada mom-war di facebook, nggak mudeng kalau sekarang ada gerakan agar perempuan kembali ke rumah, manut manis sama suami, dan ikhlas dipoligami.

 

Ya ampun, apa iya perempuan yang di rumah (kayak saya) itu lebih baik daripada Bu Risma, si walikota Surabaya, yang turun tangan saat banjir melanda, lebih baik daripada Bu Veronica Tan yang bikin taman terbuka hijau, atau dari Dokter Mujazzanah, dokter kandungan yang menolong sekian ibu-ibu hamil dan melahirkan. Apa kita ini lebih hebat dari pada Bu Sri Mulyani dan Bu Susi Pudjiastuti yang duduk di kabinet dan jelas-jelas mengurusi negeri ini? Apa kita lebih mulia dari Mbah Supinah yang ngarit, nandur, matun serta memanen padi di sawah?Atau lebih unggul dari Mbak Sri yang jadi karyawan laundry? Lha kita ini kan bisa kepenak facebook-an syantik kan karena ada perempuan-perempuan kuat dan mau berjibaku kayak mereka.

 

Berkubang

Gimana saya ndak geleng-geleng to kalau kita masih mempermasalahkan perempuan yang ngangkang naik motor (atau bolehkah perempuan naik motor). Apa nggak judeg saya baca berita tentang peraturan yang melarang perempuan kerja malam (lah kerja jadi perawat shift sore je, apa yen sampeyan dirawat di rumah sakit, sebaiknya perawat dan dokter perempuannya pulang setelah jam lima sore?). Tambah ngenes lagi kalau baca poster yang nyinyirin perempuan bekerja (alamak!).  Sampai urusan paling kecil pun diriuhkan, misalnya apakah perempuan boleh ngrebonding rambut. Kok kober men. Sementara perempuan di belahan dunia lain itu udah ada yang jadi astronot! Ada yang jadi insinyur. Programmer komputer. Penemu. Peneliti. Ilmuwan teknologi nano (eh, ini di Indonesia juga ada lho ilmuwan perempuan teknologi nano, bangga betul saya). Dan omong-omong hasil karya mereka membuat kita jadi punya internet, jadi bisa pakai baju tanpa harus njahit dulu, jadi bisa belanja lewat ponsel (yang konon menyelamatkan perempuan karena nggak perlu keluar rumah karena rumah adalah sebaiknya-baiknya tempat bagi mereka *tsaaaah, kerasa nggak sih ironinya.)

 

Nggak usah ngotot semua bisa dilakukan oleh pria semata-mata. Ora isa. Ora cukup. Apa maneh yen wong lanange mung sibuk adu jago,  nggabur dara,udat-udut lan…. (isi sendiri).

 

Dan yang pasti kebanyakan keperluan perempuan itu hanya bisa dimengerti oleh perempuan.  Jadi perempuan harus terlibat. Titik. Dunia ini, termasuk pendidikan bagi anak-anak, akan lebih seimbang bila dipelihara oleh laki-laki dan perempuan sebagai mitra setara.

 

Toilet di ruang publik itu butuh cantolan buat nyantolin tas. Siapa yang mengerti itu? Perempuan. Lha kalau yang ngurusin toilet cuma laki-laki, cantolan itu mungkin nggak ada. Wong laki-laki nggak bawa tas. Kenapa perempuan bawa tas? Karena perempuan momong anak, jadi ia harus bawa bekal segambreng. Kenapa perempuan momong anak? Karena (semoga) ini adalah pembagian tugas dan kerja sama secara adil, setara, dan kerelaan di dua belah pihak. Lah siapa suruh momong anak di luar rumah sehingga kita butuh toilet perempuan yang ada cantolan tasnya? Ealah, apa kamu mau anakmu 24 jam di rumah sadja? Suwe-suwe kok absurd men eyel-eyelan ini.

 

Itu baru soal toilet ya. Mari kita pikirkan kepentingan yang lebih besar. Pendidikan. Transportasi. Kesehatan. Perdamaian dunia. Kalau perempuan nggak cawe-cawe yo amburadul donya iki. Percaya ta.

 

Yuk, kita sudah sampai sejauh ini. Alhamdulillah perempuan sudah bisa mengenyam pendidikan tinggi. Syukur perempuan sudah bisa memilih pemimpin dan bahkan jadi pemimpin. Syukur perempuan sudah (dan masih bebas) bertani di sawah serta membuka sekolah. Saya berharap ini kita tak berjalan mundur. Saya harap semangat Kartini membawa kita maju dan terus maju. Syukur-syukur perempuan Indonesia bisa menyumbang lebih banyak terhadap peradaban dunia.  Eh, ya sapa reti, sekretaris jenderal PBB perempuan pertama berasal dari Indonesia. Haibat ta?

Yuk, Ajak si Kecil Membaca (Tanpa Waswas)

Beberapa minggu yang lalu terjadi kehebohan terkait buku anak yang konon muatannya dianggap tak sesuai. Buku itu sudah ditarik dan yang bersangkutan juga sudah melakukan klarifikasi dan rasanya tak perlu diperpanjang lagi. Saya tak akan mengomentari buku tersebut karena saya bahkan tidak membacanya, tapi kasus ini menyadarkan saya betapa gampangnya kita kebakaran jenggot karena buku yang bisa jadi tak lebih lebih parah dampaknya daripada konten-konten media sosial  dan televisi (dan mungkin saja lho yang heboh soal buku itu santai-santai saja anaknya nonton sinetron atau main game yang jelas-jelas ditujukan untuk orang dewasa).

 

Anyway, buku anak yang kontennya nggak sesuai itu banyak, entah dari segi diksi, logika cerita, atau tema. Aha! Makin panik nggak tuh. Tapi santai saja lah, banyak hal yang berbahaya untuk anak kita, tapi kita punya saringan dan perlindungan, kan?

 

Ambil contoh cerita Sleeping Beauty. Apalah hikmah yang bisa diambil dari cerita putri yang jatuh tertidur bertahun-tahun dan terbangun setelah dicium pangeran (tampan tentunya), lalu mak jegagik jatuh cinta pada pangeran yang sudah kurang ajar menciumnya sewaktu ia tidur? (Eh, by the way, kenapa pula mantra-mantra penyihir yang mengikat putri-putri cantik ini nyaris selalu hanya bisa luruh bila ada pangeran tampan, yak?)

 

Ambil contoh lain; Buku cerita yang jelas-jelas mencantumkan label Seri Folklore untuk Anak (judul sengaja tak saya cantumkan) yang punya cerita begini: Si tokoh punya kebun limau yang dijaganya dengan cermat. Lalu suatu hari seekor musing mencuri SEBUTIR limau dari kebunnya. Si tokoh menangkap di musang dan mengancam akan MEMBUNUHNYA. Si musang minta dibebaskan dan berjanji akan menjadikan si tokoh seorang raja. Si tokoh setuju. Dengan kecerdikannya (kelicikan dan tipu daya menurut saya), si Musang berhasil menjadikan si tokoh raja. Begitu membaca itu yang terbayang dalam benak saya, gyaduh, ini orang kehilangan sebuah limau aja udah main ancam bunuh.

 

Sunting dan Sunting

Waktu saya kecil –mungkin sekitar enam tahun– ada serial cerita silat karya Kho Ping Ho yang terbit secara bersambung di harian Kedaulatan Rakyat. Judulnya Seruling Pusaka Kemala. Wow, itu cerita seru banget sampai-sampai masih terkenang hingga sekarang. Han Lin si tokoh utama memenuhi imajinasi romantis saya tentang laki-laki ideal: pangeran yang diculik, sengsara, terbuang, tapi tetap saja dong baik hati dan cerdas plus pinter silat! Shian Hwa Shian Li menjadi perempuan sempurna dalam benak saya, cantik, lembut, berambut panjang, pintar mengobati (dia seorang tabib) dan pinter silat juga! Dahsyat kan, sampai sekarang saya masih ingat tokoh utamanya. Nama penjahatnya saya juga masih ingat. Jalan ceritanya? Secara garis besar juga masih ingat.

 

Tiap malam Bapak menceritakan kisah Han Lin yang terbit pada hari itu (kami langganan koran itu) dan ia dengan tekun mengklipingnya. Saat remaja saya membaca kliping itu dan olala, terrnyata ada adegan perkosaannya! Tidak sih, itu tidak membuat saya gimana-gimana. Tapi saya bertanya-tanya, bagaimana dulu Bapak saya melewati bagian ini tanpa merusak alur cerita.

 

Jadi dear parents, tak perlu risau bila Anda menemui konten buku cerita anak yang menyimpang dari nilai-nilai Anda. Tinggal sunting saja. Atau bila Anda sudah kadung berpendapat seluruh isi buku itu tak layak, ya tinggal singkirkan saja. Tapi ini bisa Anda lakukan hanya bila Anda ikut membaca apa yang dibaca oleh anak Anda dan rajin mencari referensi-referensi buku bermutu.

 

(Catatan: ini tak berlaku untuk metode Read-Aloud di mana Anda harus membacakan semua kata sama persis dengan buku yang salah satu tujuannya adalah mengajar anak membaca. Untuk Read-Aloud silakan pilih buku yang sepenuhnya aman.)

 

Kalau pun Anda merasa ada konten buku yang benar-benar tak pantas untuk sebagian besar umat manusia, silakan lapor ke penerbit, penulis, atau dinas terkait tapi tak perlu heboh karena penulis bisa salah, kriteria penerbit bisa berbeda, dan pendapat orang atas sebuah buku juga bisa beragam.

 

Dampingi

Saat anak Anda belum bisa membaca tentunya Anda membacakan buku untuknya (eh, iya, kan?). Saat ia belajar membaca, Anda mendampinginya. Saat ia sudah bisa membaca dengan lancar Anda yang membelikan buku-buku untuknya dan Anda tahu buku apa yang dibacanya. Jadi sebenarnya kendali selalu berada di tangan orang tua. Dampingi anak saat membaca buku seperti halnya Anda mendampingi anak saat nonton TV dan Youtube (eh, Anda mendampingi anak Anda saat nonton youtube, kan?)

 

Tidak semua buku cocok untuk semua orang. Buku yang pantas dan oke-oke saja menurut keluarga A, belum tentu cocok untuk keluarga B. Mengapa? Karena keluarga A menganut nilai yang berbeda dari keluarga B. Tiap anak juga punya punya karakter yang berbeda. Anak C misalnya begitu mudah meniru apa yang dilihat dan didengarnya sehingga ortunya harus ekstra waspada bila dalam buku ada adegan menendang (bahkan bila untuk alasan yang bisa diterima). Sementara untuk anak D yang lebih kontemplatif dan tidak reaktif, buku yang sama tidak akan berpengaruh signifikan.

 

Buku serial Kumbang karya Enid Blyton saya nilai sebagai buku yang bagus untuk anak saya. Tapi apa saya bacakan mentah-mentah pada anak saya? Ya nggaklah. Kata-kata seperti “dasar kamu bodoh,” saya hilangkan atau saya ganti yang lain, misalnya, “Ah, itu tidak baik.” Suatu saat anak saya akan membaca buku itu sendiri, tapi saat itu saya yakin dia sudah cukup mengerti bahwa kata-kata semacam itu tidak pantas.

 

Kadang pula kalimat atau adegan yang ‘tidak baik’ tetap saya bacakan tapi saya iringi dengan pertanyaan, “Bagus tidak kata-kata semacam itu?” Anak saya tahu bahwa selain bertanya, ibunya tengah menyiratkan bahwa kata-kata tertentu tak baik diucapkan.

 

Sebenarnya saking otomatisnya saya menyunting, titik koma yang salah pun saya betulkan dalam pembacaan saya haha. Jadi jangan heran kalau ceritanya jadi lebih bagus saat saya bacakan (apaan sih, nih?)

 

So ibuk-ibuk, bapak-bapak yang budiman, tak perlu resah dengan segala macam buku yang beredar asal Anda juga proaktif MEMBACA. Dan kalau ini Anda lakukan saat anak Anda masih kecil, seharusnya saat anak Anda berusia sekitar 12 tahun, dia sudah tahu bacaan mana yang baik, mana yang tidak. Dan andai ia menemukan bacaan yang kurang baik, dia bisa menghadapinya dengan kritis.

 

Ayo membaca tanpa rasa takut.

 

 

Balada Hoax

Suatu hari kira-kira lima belas tahun lalu saya membaca e-mail yang disertai gambar-gambar (yang dimaksudkan) sebagai lintah dalam perut manusia. Konon lintah itu berasal dari kangkung yang kemudian masuk ke dalam perut, lalu menggerogoti si korban dari dalam hingga si korban meninggal! Percaya deh, gambar-gambar kangkung, lintah, dan perut ini memang tampak sangat nyata dan bikin merinding. Meski nggak masuk akal, saya sempat jiper juga. Apakah saya stop makan kangkung? Ya nggak, lah. Saya gitu loh! Kalau ngadepin sayur enak, suka lupa ini itu.

 

Lama sesudahnya, saya mendengar istilah ‘hoax’.  Desas-desus kangkung yang tersebar lewat e-mail berantai tadi (zaman itu facebook belum populer) adalah salah satunya. Kabar lainnya adalah bulan yang bakal kelihatan guede banget pada  pada suatu hari di bulan Augustus. Tiap bulan Agustus e-mail yang sama persis beredar, cuma diganti tahunnya doang. Kabar lainnya adalah pembalut yang bikin kanker, pasta gigi yang merusak kesehatan, hingga coca cola yang konon bisa melenyapkan gigi dalam semalam, atau   bisa meledak bila dicampur dengan permen mentos . Sampai kalang kabut lho Public Relation-nya Coca Cola menepis berita  bohong itu.

 

Lalu, kira-kira sepuluh tahun kemudian, tetangga saya dengan sangat yakin berkata, “Hih, aku sekarang nggak mau makan kangkung. Aku lihat gambar di handphone si Anu. Lintahnya kluget-kluget dalam perut. Hih, pokoknya mengerikan sekali!”

 

Bengong saya seketika. Ingatan saya melayang pada gambar-gambar kangkung dan lintah, yang ternyata tidak seperti berita koran yang basi dalam sehari, bisa bertahan selama sepuluh tahun!

 

Saya bengong untuk kedua kalinya ketika beberapa tahun kemudian seorang ibu-ibu sepuh yang buka internet saja bilang begini, “Kalau makan kangkung dibersihkan yang benar, dimasak yang benar. Kata Bu itu, ada orang yang mati gara-gara makan kangkung, terus ada lintah di perutnya. Mungkin lintahnya sembunyi di batang kangkung  dan akhirnya si lintah beranak-pinak di perut. Ada gambarnya katanya.”

 

Terpana. Bengong. Terpana.

 

Hoax di Masa Kecil

Waktu TK, saya ingat, anak-anak tercekam ketakutan karena ada kabar, ada ‘mobil duyung’ penculik bocah. Mobil ini berwana merah dan bergambar gunting. Si bocah yang diculik matanya akan dicungkil dan dibuat cendol untuk sesaji! Uedyan bener fantasi orang-orang waktu itu. Cendol mata!

 

Bertahun-tahun kemudian ada pula isu dhemit kolor ijo. Ada pula isu pocong berkeliaran dan epek-epek (telapak tangan) minta duit. Heran juga saya, duitnya buat apa coba. Tapi, yeah orang dulu mah isunya gitu-gitu aja.

 

Menyangkut makanan, ada isu bakso dari daging celeng, mi ayam dicampur daging tikus, hingga bakso yang kuahnya direnangi cacing yang hanya bisa dilihat oleh mata yang ‘punya kelebihan’. Konon cacing itu sarana pesugihan.  Ada pula isu air limbah pabrik yang bisa menyembuhkan hingga orang-orang ramai nyemplung di sana (limbah! gosh!). Belum lagi isu dukun sakti dan masih banyak lagi. Jadi hoax jelas bukan hal yang baru.

 

Yang baru adalah: hoax kini justru berkembang lebih subur dalam masyarakat yang mestinya lebih pinter! Aneh, kan? Ada lho yang percaya bumi itu datar! Dan nggak cuma satu dua. Ada tuh komunitasnya. Ada juga yang percaya uang bisa digandakan tanpa melewati mesin cetak. Duh. Selain lebih masih masif, ragamnya juga luar biasa. Apa aja ada hoaxnya; capres yahudi (yahudi! Di Indonesia!), batu yang bisa melayang, foto-foto korban perang yang ternyata potongan adegan film, sampai percakapan WA palsu.  Yang nggak masuk akal adalah: yang percaya banyak. Yang share lebih banyak. Yang nge-like: banyak banget! Yang komen “Amiin” juga banyak. Lah kenapa nggak nge-like kalau diiming-imingi masuk surga. Siapa nggak mau masuk surga hanya dengan ngetik “Amin”. Kalau pun itu nggak benar, kan ya nggak rugi-rugi amat, cuma ngetik lima huruf ini.

 

Yang  mengerikan adalah betapa cepatnya hoax-hoax itu beredar. Dulu isu hantu kolor ijo paling-paling beredar di sekitar Jawa saja. Itu pun seporadis banget. Isu mobil duyung mungkin lebih sempit lagi. Isu beredar dari mulut ke mulut dan biasanya dari orang yang saling kenal. Lah, sekarang? Isu dari Turki pun bisa nyampai pelosok Ciamis dalam hitungan detik.

 

Beneran ada lho seorang warga desa yang nggak milih Jokowi dengan alasan dia Yahudi! Padahal ia nggak pernah buka internet. Yahudi itu apa dia juga nggak ngerti. Seumur-umur dia belum pernah melihat orang Yahudi. Dan Jokowi Yahudi? Sebentar, mungkin perlu KTP bapak satu ini diunggah di medsos. Atau gini deh, saya yakin kalau kita ngecek ke pemkot Solo atau Pemda DKI, banyak pegawai yang bisa bersaksi dia sering sholat di lingkungan kantornya. Well, sungguh lho, rasanya lebih mudah diterima andai alasan untuk tidak memilih Jokowi adalah dia terlalu kurus atau kurang ganteng.  Setidaknya itulah pendapat yang bisa jadi didapat dari melihat foto-fotonya.  Tapi kalau ada warga yang menentukan pilihannya berdasar berita bohong, duh… speechless lagi saya.

 

Hoax-hoax memang mirip sampah pembawa bencana, bikin dua sahabat akrab bisa gontok-gontokkan, dua orang tak kenal saling benci sampai ubun-ubun –padahal kenal saja tidak–, keluarga rukun bisa terpecah belah. Padahal klarifikasi dan pengecekan bisa dilakukan dengan mudah. Tapi ya gimana mau ngecek, wong dibaca saja tidak. Asal gambar menarik, share. Kalau ditanya, “Kok kamu nyebarin berita bohong kayak gini, sih?” Jawabannya: aku cuma nge-share kok. Lhadalah!

 

Saya sendiri tak bisa berbuat banyak untuk mencegah hoax, tapi setidaknya, saya nggak mau ikut nyebar. Saya berusaha cek dan ricek berita sebelum mempercayainya. Dan terakhir, tak perlu lah saya ikut gontok-gontokan karena beda pendapat, apalagi beda pendapatnya gara-gara hoax!

Kekerasan di Kampus: Mengapa, oh, Mengapa?

Belum habis rasa syok mendengar Amirulloh Adityas Putra (18) tewas di tangan para seniornya di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Marunda, Jakarta Utara pada 10 Januari lalu, sepuluh hari kemudian (hanya sepuluh hari berselang!) syok  saya berlipat-lipat mendengar dua (lalu akhirnya tiga) mahasiwa UII tewas setelah mengikuti the Great Camping, semacam pendidikan dasar, Mapala UII Yogyakarta. Diduga kuat karena dianiaya seniornya.

 

Sedih tak terkira. Nggrantes campur geram. Saya tak mengenal para korban, tapi saya sangat berduka. Sebagai seorang ibu, perasaan saya sangat rentan terhadap tragedi anak-anak seperti ini. Saya tak bisa membayangkan betapa hancurnya ibu dan ayah para korban itu. Anak dikandung, dirawat, disayang-sayang, hingga disekolahkan yang bisa jadi dengan uang yang dikumpulkan susah payah, meninggal dengan cara tragis seperti itu. Membayangkan saja tak kuat! Oh, Tuhan, hati saya menangis berdoa. Lindungi anak-anak saya. Lindungi semua anak di muka bumi ini.

 

Kok bisa?

Habis nalar saya mencari penjelasan mengapa semua ini terjadi. Kalau Anda membaca tulisan ini dengan harapan menemukan penyebab tragedi ini, saya beri tahu sejak awal, Anda tidak akan mendapatkannya. Saya sama putus asanya dengan Anda. Saya sungguh ingin mendapatkan penjelasan atas ini semua. Tolong. Ada yang bisa menjelaskan?

 

UII kalau-kalau Anda belum tahu adalah kepanjangan Universitas Islam Indonesia. Jadi ada afiliasi dengan agama di sini. PT swasta ini juga cukup mahal. Artinya yang masuk ke sana kebanyakan menengah ke atas. Di sini pun teori-teori yang mengatakan bahwa kekerasan itu biasanya terjadi dalam masyarakat yang tidak agamis dan dari golongan kelas bawah sudah mental semua.

 

Dan harap dicatat, kekerasan serupa pernah terjadi di banyak sekali PT tinggi; yang negeri atau swasta. Yang berafiliasi dengan agama atau yang tidak. Yang ecek-ecek atau yang elit. Yang militeristik, semi miliristik, atau sipil total! Di sini logika juga sudah habis.

 

Sebenarnya fakta bahwa kekerasan terjadi di perguruan tinggi alias lingkungan akademis langsung membuat otak saya buntu! Kok bisa! Sekolah itu kan kumpulannya orang pinter to? Orang terdidik, kan? Lah kok bisa ada kejadian kayak gini?

 

Makin tragis lagi kejadian seperti ini sering menimpa anak-anak mapala (mahasiswa pecinta alam). Nalar saya yang tadinya buntu kini jadi mampet. Macet. Buntet. Dalam bayangan saya, pecinta alam itu, pohon aja dielus-elus.

 

Anyway, mungkin ini hanya perkara salah penamaan saja. Mungkin sebaiknya kata ‘pecinta alam’ diganti ‘kemping’, ‘hiking’, ‘caving’ atau apalah. Dan nggak pakai pukul-memukul, tentu saja.

 

Penafikan: Saya paham tidak semua mapala punya tradisi minus. Saya paham UII sebagai PT pasti juga anti kekerasan dan sama berdukanya dengan kita semua (kenyataan manajemen mereka mengakui terjadi  kekerasan saja sudah membuat salut). Saya juga paham, seringkali hal-hal seperti ini adalah ulah oknum.  Saya kenal beberapa pehobi pendakian gunung yang lembut hati dan sungguh-sungguh mencintai alam. Itulah yang benar menurut saya, semakin kita mampu ‘menaklukan’ alam, semakin takluk juga diri kita pada alam.

 

Mengapa, mengapa, mengapa?

Gunung itu ‘ganas’ lho. Sungai itu ‘kejam’. Gua itu penuh ‘bahaya’. Jadi harus ada pelatihan intens yang membuat kita tangguh kalau kita mau mendaki gunung atau menyusur gua. KATANYA.

 

Mahasiswa teknik (Geologi, Geodesi, Geografi, dll) itu harus kuat lho, soalnya harus turun ke lapangan, ke tambang, ke gunung kapur, dan sebagainya. Jadi mereka perlu latihan yang membentuk mental dan fisik baja. KATANYA.

 

Saya tak meragukan itu. Tapi saya juga tak ragu: itu semua bisa dilakukan tanpa penganiayaan. Kalau ada yang menyebutkan alasan ‘harus tangguh’ membenarkan penggojlogan saya pengin teriak: Gosh, pusat pelatihan kebugaran banyak kaleee!!! Panggil tuh instruktur professional. Panggil pendaki gunung senior yang tahu semua pengetahuan pendakian. Mereka tahu makanan yang harus diasup, olah fisik yang harus dilakukan, plus kriteria-kriteria yang harus dicapai sebelum seseorang boleh mendaki gunung. Jangan lupa, cari pendamping, guide, dan personel P3K yang memadai bila harus latihan di lapangan karena memang alam bisa ‘ganas’.

 

Tapi mungkin, ini bukan soal itu

Pada suatu sore, saya sekeluarga sedang melakukan perjalanan naik kereta. Di depan kami duduk seorang bapak setengah baya yang segera saja terlibat obrolan seru dengan kami. Salah satu topik pembicaraan kami adalah perploncoan.

 

“Saya nggak setuju bila perploncoan dihapus,” kata si bapak yang lulusan PTN unggulan, “Perploncoan itu benar-benar membuat kami solid. Solidaritas kami sangat tinggi,” lanjutnya mengenang teman-teman seangkatannya. “Kami dekat satu sama lain. Kalau ada yang butuh bantuan, langsung set set set semua sigap membantu.”

 

Saya cuma manggut-manggut.

 

“Ada satu anak yang menolak ikut plonco waktu itu. Dia menyesal kayaknya, karena akhirnya ia dikucilkan.”

 

Sungguh saya pengin njempalik. Jadi anak itu dikucilkan karena dia punya pendapat yang berbeda soal perploncoan? Karena dia pengecut? Karena dia tak mau menderita bersama teman-temannya? Karena dia menolak pakai topi koran, tas kantong gandum, merangkak di tanah dan berendam di selokan bau?

 

Speechless.

 

Mungkin ini juga bukan perkara itu. Mungkin ini karena ada anak yang biasa dikerasi oleh orang tuanya. Atau ada remaja yang tak pernah didengar pendapatnya, tak pernah dianggap ada, hingga mencari eksistensi dengan cara apa pun. Mungkin ini soal relasi kuasa yang memang mudah dieksploitasi. Mungkin ini hanya peniruan dari ‘orang-orang di atas’ yang kerap menggunakan kekerasan untuk menakuti-nakuti, membuat patuh, dan meraih kekuasaan. Mungkin ini salah film dan internet. Mungkin karena kita tak peduli. Taruhan, tragedi ini akan berlalu lalu terulang lagi. Bisa jadi ini karena kita juga permisif pada kekerasan. Kita masih kagum pada ‘kekuatan’ dan ‘kekuasaan’, kita masih percaya laki-laki tak boleh menangis; hanya pengecut yang mengadu, kamu harus bisa menahan pukulan kalau mau kuat. Atau ini semua bermula dari…. mbuhlah, saya sudah buntu, tak tahu lagi awal ujung dan pangkal benang yang sudah kusut ini.

Lima Belas Tahun, Sepuluh Tilpun Genggam

Saya berkenalan dengan gawai bernama hape pada tahun 2000an. Saya ingat betul tilpun genggam (hape) pertama saya: Siemen M35. Hape tersebut dibeli oleh ibu saya dari temannya. Yup, itu hape bekas. Harganya 850 ribu. Yup, itu harga bekasnya. Mahal? Banget. Rada ajaib juga hape ini, makin ke sini kok makin murah harganya. Sebagai gambaran untuk adik-adik generasi Y (atau Z-embuhlah), hape Siemen saya itu termasuk top. Siemen sendiri adalah merk paling kondang saat itu ( Apa kabar yak, Siemen sekarang?). Dan hape paling top serta mihil bingit itu layarnya masih monokrom (satu warna gitu adik, adik), bunyinya masih monofonik (cuma bisa bunyi tit, tit, tit, gitu aja lho). Keypad-nya? Satu tombol tiga huruf… bukan qwerty. Layarnya sebesar kotak korek api batang dan bisa disentuh. Maksud saya bisa disentuh saja. Dia tidak punya keahlian lain selain mengirim SMS dan telepon dan dibuat ngulek sambel mungkin.

 

Anyway, dulu agar punya nada panggil unik, kita bisa ‘menyusun nada’ sendiri lewat hape semacam ini. Ada buku khusus untuk merancang nada-nada serupa lagu tertentu misalnya. Misalnya Ibu Kita Kartini, itu kan nadanya do re mi fa sol mi do, dst.. nah Anda bisa merangkai nada tersebut dengan memasukkannya lewat keypad, misalnya untuk nada do, Anda harus memencet huruf ‘A’ dan seterusnya. Rumit tapi asyik. Saya ingat, saya membuat nada ‘Indonesia Raya’ sebagai penanda SMS masuk, dan hasilnya tiap ada SMS masuk, teman-teman saya menoleh bingung lalu mengangkat tangan ke dahi, hormat grak!

 

Bagaimana dengan SIM Card? Percaya nggak jeng, SIM Card itu mahaaallll! Sekitar seratus ribuan kalau nggak salah. SIM Card dengan nomor cantik harganya jutaan cuy, lebih mahal dari hapenya! Saya tidak perlu beli SIM Card karena dapat lungsuran dari tetangga. Saya masih ingat nomornya 081748182 (saiki wis gosong).

 

Pulsanya? Mahal juga. Nggak ada cuy, namanya isi pulsa 5 ribu. Paling dikit 25 ribu! Tarif sekali SMS 350 rupiah. Mbodolke dompet pokoke. Nggak cuma mbodholke dompet, memboroskan BBM juga. Lha gimana, untuk beli pulsa kami harus ke konter khusus. Karena saya pakai XL saya harus ke kantor XL di Jalan Mangkubumi, ambil nomor antrian lalu nunggu. Hanya buat beli pulsa! Perlahan konter penjual pulsa makin banyak, tapi jelas belum ada di Warung Bu Darmi pojokan situ. Next, mulai ada voucher, yang harus digosok lapisan peraknya sebelum nomor rahasia duabelas (atau enambelas?) digitnya keluar. Kayak anak kecil nggosok kartu undian Chiki pokoknya.

 

Nelpon Dua Detik

Kalau SMS aja mahal, nelpon apalagi. Nyekek tarifnya. Jadi, missedcall gratis menjadi pilihan. Misalnya Anda kirim SMS ‘nanti malam jadi ketemuan?’, jawabannya pakai missedcall, yang berarti ‘ya’. Nah, untung bicara, ada siasat khas Indonesia (dan Asia saya pikir), yaitu strategi dua detik. Argo telpun baru berjalan setelah detik ketiga. Itu artinya kalau Anda ngomong dua detik, pulsa Anda tak terpotong.

 

Begitu telepon diangkat, Anda cukup bilang, ‘Hai’. Matikan. Telpon lagi. ‘Pinjam duit dong.’ Matikan lagi. ‘Lima puluh ribu’. Matikan. Gratis! Lebih murah dari SMS. Memang perlu ketrampilan tingkat tinggi karena sekali keblablasan pulsa terpotong.

 

Sayang, para operator lebih cerdik. Mereka langsung mengubah taktik. Argo jalan begitu tombol ‘answer’ dipencet. Para konsumen kalah dalam hitungan sepersekian detik.

 

Saya pernah sewot gara-gara pulsa saya berkurang banyak secara misterius. Usut punya usut ternyata gara-gara ‘dua detikan’ itu tadi. Kok ya curang operator ini, nggak woro-woro kalau mereka sudah mengubah kebijakan.

 

Saya dan Si Gawai

Selama kurang lebih lima belas tahun, total saya pernah berganti hape sembilan kali. Edan juga kalau saya pikir-pikir lagi. Berarti saya ganti hape nggak sampai dua tahun sekali. Padahal saya nggak termasuk gadget freak, dan tidak mudah terpesona ingar bingar teknologi.

 

Hape kedua saya kembali bermerk Siemen, dan lagi-lagi hape bekas. Kelasnya juga lebih rendah; C 35. Downgrade. Tapi saya beli dengan uang saya sendiri  hasil kerja sambilan (saya masih kuliah waktu itu, bangga dong). Lalu saya berpindah ke lain hati saat si C 35 mulai sering ngedrop. Kali ini pilihan saya adalah Sony Ericsson sebesar dua kotak korek api. Mini banget. Saya ganti lagi setelah saya sadar hape itu menyakitkan mata dan jari saya. Tapi yang keren, hape ini meski masih ‘hitam putih’, sudah punya gambar, contohnya gambar gurita buat dipasang sebagai caller ID. Gambar guritanya ya hitam doang gitu.

 

Next saya beli Nokia yang tengah naik daun. Nokia sejuta umat. N 310 (nggak yakin namanya itu), tapi pokoknya bentuknya kotak tebal dan performanya yahud. Hape ini sudah berwarna meski spektrumnya terbatas, biru pudar, kuning samar, merah nggak jelas.

 

Ketika saya sudah kerja dan bergaji jutaan, tiba-tiba Nokia itu keliatan jadul banget meski bos-bos saya saya masih pakai hape semacam itu juga. Masalahnya yang  kemudian trend adalah hape berkamera dan bisa muter lagu. Saya balik ke Sony Ericsson lagi, yang punya kamera meski pixelnya sangat rendah dan diperbesar dua kali aja udah pecah. Tapi keren sekali rasanya, bisa punya wallpaper hasil jepretan sendiri meski rada buram.

 

Hape berikutnya yang saya miliki sangat fenomenal. Fenomenal harganya. Empat juta cing! Itu pada tahun 2008-an (saya masih kaya wakakaka). Itu hape Nokia seri E, qwerty dan sudah termasuk smartphone pada zamannya –meski layarnya tetap masih belum touch screen–. Coba deh, dengan uang segitu hape secanggih apa yang bisa saya dapatkan. By the way, itu hape keren banget emang. Set, set, set, cepet dan bisa menampung ribuan nomor. Waktu ganti hape selanjutnya, saya baru sadar saya punya dua ribuan nomor sampai penjual hapenya takjub. “Itu nomor siapa aja mbak?”

 

Saya ingat betul salah satu alasan saya beli hape ini adalah agar saya bisa menulis di mana saja. Saya sengaja mencari hape dengan fitur semacam Ms. Office. Saya pun berkonsultasi dengan IT specialist di kantor, hape apa yang tepat. Si IT specialist menjawab, “Agar bisa nulis? Mengapa kamu nggak nulis pake kertas dan bolpen saja?” Saya ternganga. Dan ternyata dia benar. Beberapa tahun saya menggunakan hape itu, hanya sekitar lima halaman saja yang saya tulis di gawai itu.

 

Nokia ini berakhir saat dia mulai susah menerima panggilan. Entah, salah apanya, tapi saya rasa saya memang cari-cari alasan buat ganti yang baru. Saya tukar tambah dengan Nokia Asha yang baru (yang ternyata kependekan dari ‘putus asa’ saking lemotnya). Dari hape empat juta, saya beralih ke hape 800 ribuan. Downgrade habis. Saya nombok sekitar 300 ribu karena Nokia saya sebelumnya dihargai 500 ribuan. Mau gimana lagi. Saya sudah nggak kerja lagi waktu itu.

 

Smart Phone, but not Smart Me

Nokia Asha bikin saya putus asya lagi saat ia tak bisa lagi buat motret sekitar dua tahun kemudian. Begitu ‘njepret’ eh langsung mati. Kameranya memang nggak oke-oke banget sih, wong kalau saya transfer ke laptop, tanpa diperbesar pun gambarnya nggak tajam. Tapi masih okelah buat sekadar mencatat dokumentasi. Tapi kalau mati setelah njepret nah itu jadi masalah kan. Padahal saya juga nggak punya kamera –kamera digital saya sudah tewas lebih dulu–

 

Lalu saya beralih ke Samsung smartphone (serinya saya lupa). Sayang yang smart hape-nya doang, pemiliknya nggak. Hape seharga sekitar 1,8 juta ini karena  kekudetan dan kekeuhan saya untuk tidak terlalu intim dengan gawai cuma saya manfaatkan buat SMS, telepon dan paling pol motret dan mutar musik. Baru setahun kemudian saya pakai buat facebook-an karena setelah itu saat itu saya melahirkan anak kedua dan nggak bisa sering-sering buka laptop. Itu sudah cukup memuaskan.

 

Tapi eh ternyata manusia memang tak pernah puas. Hape Samsung pintar itu ternyata cuma memuat satu SIM! Awalnya ini tidak jadi masalah dan nggak saya pertimbangkan amat karena toh saya butuhnya cuma SMS, telepon, dan facebook-an. Tapi anak saya lalu mulai suka nonton youtube. Dan… maknyak, tagihan pulsa membengkak. Kebetulan operator yang saya pakai termasuk mahal tarifnya. Mau ganti operator kok ya sayang nomornya. Itupun masih oke. Yang bikin nyesek, kalau kuota inetnya habis dia main nyedot kuota telepon. Pernah kejadian pulsa sekitar 50.000 nyaris habis dalam beberapa menit. Nyesek deh pokoknya.

 

Pas banget kebetulan suami butuh smartphone karena dia… nggak punya smartphone. Hebat nggak tahun 2016 masih pakai hape yang layarnya nggak bereaksi apa-apa ketika disentuh? Anak saya yang usianya baru lima tahun sampai nanya, “Kok hapenya ayah itu bukan layar sentuh to?”

 

Dan hebatnya lagi, setelah saya ingat-ingat dalam kurun waktu yang sama panjang (lima belas tahun) suami saya hanya berganti hape tiga kali! Tiga kali sodara-sodara, sementara saya sudah ganti hape sembilan kali… sebenarnya sepuluh kali, wong barusan saya akhirnya ganti hape lagi.

 

Hape pertama suami, saya ingat betul, dia beli karena saya desak-desak. Hape kedua merupakan kado dari saya. Hape ketiga dia beli juga karena saya ojok-ojoki (mosok hapenya nggak qwerty, kata saya waktu itu).  Untuk kesederhanaan dan kesahajaan saya angkat topi betul pada suami saya.

 

Anyway, saya jadi mikir, kok bisa saya yang gaptek dan sebenarnya nggak banyak-banyak duit amat, ganti hape kayak ganti celana.  Lah gimana dengan mereka yang tiap ada hape baru panas dingin badannya?

 

Hape saya yang terbaru adalah Vivo versi murah. Kenapa saya beli itu? Karena budget saya terbatas dan saya bingung apa yang harus saya beli dengan duit segitu. Saya tanyalah si penjual di konter  hape dan dia menyarankan saya untuk beli Vivo. Aneh to, beli hape pasrah sama pilihan pramuniaganya? Terbujuk,  akhirnya saya beli hape ini meski beneran saya belum pernah dengar merk itu sebelumnya! Nah sekarang saya kayak Agnes Monica, si brand ambassador Vivo (saya juga baru tahu itu di konter hape). Minimal merk hape kami sama, meski saya yakin serinya beda jauh.

UN Dihapus: Mungkinkah Kita Belajar Tanpa Nilai dan Ujian?

Wacana moratorium Ujian Nasional telah digulirkan oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Reaksinya beragam. Mayoritas siswa menyambut dengan bersorak gembira, meski baru wacana, sementara segelintir siswa yang mencandu ‘prestasi dan kompetisi’ mungkin jadi rada galau. Pro kontra klasik bermunculan tentu saja. Banyak guru yang menyambut positif, namun tak sedikit pula yang menolak, seperti yang terekam dalam potongan artikel Kompas Senin, 28 November 2017.

 

Guru SMA Negeri 1 Kota Ambon Maluku, Pio Ngaljaratan menyesalkan apabila UN Benar-benar dihapuskan. Wacana penghapusan UN sudah menjadi berita gembira di kalangan siswa beberapa hari terakhir. “Dikhawatirkan euphoria ini membuat mereka tidak tekun lagi belajar karena yakin pasti diluluskan oleh sekolah,” Ujar Pio.

Pio mengingatkan UN sudah menjadi standar untuk mengukur kualitas pendidikan di sekolah dan daerah. “Bagaimana guru bisa mengukur kemampuan siswa menyerap pelajaran sekaligus menilai kemampuan guru dalam mengajar. UN merupakan alat ukur yang tepat,” katanya.

 

Klasik kan? Kalau tidak ada UN, bagaimana siswa akan giat belajar? Kalau tidak ada UN bagaimana kita bisa mengukur kemampuan siswa atau kemampuan sekolah?

 

Sekolah tanpa nilai?

Dalam sebuah obrolan santai tentang sistem pendidikan yang ideal, seorang teman melontarkan pendapatnya, “Sekolah yang ideal itu adalah sekolah yang tidak menerapkan ‘nilai’. Andai tak ada nilai sebagian besar permasalahan pendidikan bakal lenyap.” Permasalahan yang dimaksud adalah praktek suap, menyontek, mengatrol nilai, les tambahan, hingga stress di kalangan siswa.

 

Tapi mungkinkah kita belajar bila tak diiming-imingi nilai atau ditakut-takuti ujian? Bisa. Sangat bisa. Dulu ‘sekolah’ itu tidak menerapkan nilai. Para filosof Yunani semacam Plato dan Aristoteles ‘bersekolah’ dengan cara berdialog, berdiskusi dengan gurunya. Ada nilainya? Nggaklah. Robert Boyle fisiwakan/kimiawan penemu hukum Boyle itu pernah mutung di sekolah karena tidak cocok dengan kepala sekolahnya. Ia belajar dari seorang tutor sambil keliling Eropa. Sepanjang perjalanan mereka berdialog dan dari situlah ia belajar. Ada nilainya? Saya yakin tidak. Sampai kini pun masih banyak padepokan, kursus, dan pesantren yang tidak memberi nilai dan sertifikat. Muridnya ada? Banyak.

 

Dulu saya dan teman-teman belajar ngaji (baca al-qur’an) di langgar kampung memakai ‘turutan’ (semacam buku panduan membaca tulisan Arab). Tradional sekali. Ada nilainya? Tidak. Ada tingkatannya? Tidak. Pokoknya bisa halaman satu, lanjut halaman dua. Begitu seterusnya. Rata-rata memang begitulah cara belajar ngaji anak-anak zaman dulu. Baru pada generasi adik saya, ada ngaji yang sistematis. Pakai ‘Iqro’ berjilid-jilid. Para rapor dan wisuda.

 

Secara instingtif manusia selalu ingin belajar. Pada detik pertama seorang bayi mengisap udara dunia, saat itulah ia mulai belajar. Ia belajar menangis, merangkak, berjalan, bicara, makan, dan seterusnya bahkan bila kita tidak menyuruhnya. Selanjutnya seorang anak mulai menentukan apa yang ingin ia pelajari; naik sepeda, bernyanyi, melukis dan lain hal yang menarik minatnya. Jangan bayangkan ini selalu di kelas formal. Mau kita sekolahkan atau tidak, mereka akan selalu belajar.

 

Anak saya Ang (5 tahun) bersama beberapa temannya belajar renang bersama-sama. Kami memanggil guru dan berenang seminggu sekali. Tak ada nilai, tak ada target, tak ada perlombaan. Tapi Ang dan teman-temannya semangat belajar. Ada kalanya mereka malas-malasan, tapi mereka terus melaju. Kedua anak saya, Ang dan adiknya Ung (1,5 tahun) belajar di rumah (homeschooling). Guru utamanya adalah ayah ibunya. Tidak ada nilai yang kami berikan untuk mereka. Toh Ang dan Ung tetap belajar. Ang kini belajar bahasa Inggris, matematika, menulis, agama, dan geografi dengan caranya sendiri. Misalnya sebelum tidur ia minta ‘belajar globe’. Inilah saatnya kami membacakan nama-nama negara, samudera, dan pulau yang tertera di globe untuknya.

 

Saya telah menyaksikan perempuan dan laki-laki belajar agama, merajut, memasak, hingga nyetir mobil tanpa ijazah. Ada pula anak-anak yang belajar main biola, sepak bola, menari, sampai  bahasa asing juga tanpa iming-iming nilai. Bisa? Ternyata bisa. Mereka bahkan belajar sepak bola sambil tertawa.

 

Kok bisa ya? Manusia belajar karena dua hal: karena butuh atau karena suka. Paulo Freire memberi ilustrasi menarik: beri gadis SMA pelajaran mengasuh bayi. Kemungkinan besar ia nggak bakal tertarik. Tapi andai setelah lulus SMA ia bekerja, lalu setahun kemudian menikah, dan hamil, tanpa disuruh-suruh pun dia akan tanya sana-sini soal merawat anak.

 

Saya dulu suka dengan bahasa Inggris. Jadi tanpa disuruh guru, I went extra miles. Saya menerjemahkan buku cerita berbahasa Inggris atas keinginan saya sendiri. Saya mendengarkan program bahasa Inggris di radio dan menulis surat ke sana. Saya menyaksikan hal serupa pada teman-teman saya di bidang yang mereka sukai. Ada yang belajar basket sampai sore –meski orang tua yang melihatnya mengatakan mereka main, bukan belajar–. Ada yang dengan sukahati ikut klub ilmiah, sementara yang lain mengerjakan soal-soal matematika untuk mengisi waktu luang kayak itu TTS saja.

 

Jadi kunci agar anak mau belajar adalah: sediakan pengetahuan sesuai kebutuhan mereka atau buatlah agar belajar menyenangkan.

 

Mengukur standar

Tapi kalau tak ada ujian bagaimana kita bisa mengukur pencapaian siswa? Atau pencapaian guru? Atau pencapaian sekolah? Bagaimana kita bisa menentukan standar kompetensi yang harus dikuasai siswa?

 

Lah, memangnya kita helm yang harus pakai standar SNI? Tak perlu lagi lah diulang bahwa manusia itu makhluk yang unik dan kompleks. Biar topi sampai sepatu (bahkan tali sepatunya) diseragamkan, isi otak nggak mungkin sama, kan? Jadi mau digembleng dengan cara yang sama, dengan waktu yang sama, dikasih hukuman dan hadiah yang sama, hasilnya nggak bakal sama! Lalu, mengapa harus repot menentukan standar?

 

Teman saya yang pernah tinggal di Inggris bercerita, saat anaknya sekolah di sana, satu tes terdiri dari beberapa soal dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Fungsinya? Agar guru tahu kemampuan siswa. Si guru dan siswa akan ‘mundur’ bila memang si siswa belum mencapai tahapan pengetahuan tertentu. Misalnya, soal-soal perkalian dibuat dari yang sederhana hingga rumit. Nah, kalau ketahuan si siswa belum bisa mengerjakan yang  rumit, si guru akan ‘mengundurkan’ si siswa ke tingkat perkalian tak begitu rumit hingga ia memahaminya. Di sini Indonesia saya lihat tidak begitu. Tes berfungsi untuk mendorong agar anak bisa mengerjakan tes! Kalau hasil tesnya buruk, boro-boro si guru mau mundur, yang ada si guru sibuk cari cara biar si siswa mampu mencapai ‘standar’ yang diterapkan sekolah. Entah dengan les tambahan atau…. dikasih sontekan.

 

Jadi ya, tes memang bisa dipakai mengukur pencapaian siswa, tapi ingat, tes bukan satu-satunya alat di sini. Saya ingat waktu saya jadi guru dulu. Dalam tiga atau empat kali pertemuan, tanpa tes pun saya sudah tahu kemampuan siswa saya. Si A belum hapal kosakata dalam daftar, tapi sudah paham aturan grammar. Minggu lalu si B belum bisa menulis, sekarang sudah. Si C sudah memahami konsep tenses dan sebagainya.

 

Sebagai guru bagi anak-anak saya, saya tentu  sangat hapal dengan ‘kelakuan’ dua siswa saya dan tahu betul pencapaian mereka; abjad apa saja yang sudah dihapal Ang (‘u’ dan ‘i’); suara hewan apa saja yang sudah bisa ditirukan oleh Ung (anjing, kucing, cicak, burung, ayam, sapi).

 

Lah, muridmu kan cuma dua! Gimana dengan guru SD yang muridnya sekelas 30? Tetap tahu, yakin saya. Wong mereka ngajar tiap hari. Tanya saja pada guru kelas anak Anda yang masih SD, siapa siswa yang paling jago lari, yang paling berani maju ke depan, yang suka matematika dan seterusnya. Mereka pasti tahu. Kalau nggak tahu, saya sarankan Anda minta ganti guru.

 

Okelah kalau Anda ngotot tes tetap perlu untuk mengukur pencapaian siswa. Pertanyaannya kalau sudah tahu pencapaiannya terus gimana? Apa siswa yang belum bisa boleh ‘mundur’ dan yang sudah bisa boleh ‘melaju?’ Apa kalau tahu diketahui di sekolah tertentu, siswanya ‘ketinggalan’ terus gurunya mengubah metode mengajar? Apa fasilitas sekolah akan diperbaiki? Semoga saja. Tapi bisa jadi justru siswanya disuruh ikut les atau jam sekolah diperpanjang.

 

Kalau Tak Ada UN

Kalau UN tak ada, terus gimana dong cara SMP menyeleksi calon siswanya –kalau yang daftar banyak banget misalnya-? Bisa berdasar umur, yang diterima yang lebih tua. Atau pakai domisili. Yang domisilinya lebih dekat, berpeluang lebih untuk diterima. Masih kurang adil? Diundi. Apa pun itulah. Intinya banyak cara.

 

Tapi kalau gitu caranya, kemampuan mereka bakal beragam dong. Ada yang ‘pinter’, dan ada yang ‘nggak pinter’. Lah, memang itu tujuannya. Selama ini sekolah beroperasi berdasarkan ‘kasta’. Sekolah-sekolah favorit sudah pasti mendapatkan murid-murid terbaik. SMP favorit menjadi tempat berkumpulnya para juara dari berbagai SD. SMA favorit menyaring juara-juara dari tiap SMP. Sekolah favorit nomor dua, menyaring juara-juara dua. Yang nggak favorit? Menyaring angin. Udah Alhamdulillah kalau dapat siswa.

 

Sekolah-sekolah favorit ini menepuk bangga setiap kali mereka menghasilkan nilai UN tertinggi. Yang kalau dipikir-pikir sama sekali bukan prestasi. Ya iyalah, wong yang masuk memang para ‘juara’. Gurunya merem pun, anak-anak ini sudah belajar sendiri. Siswanya nongkrong di sekolah sampai sore. Sambung dengan les. Kalau gurunya absen, mereka buka laptop dan mengerjakan soal online untuk mengisi waktu –macam ngisi TTS tadi–.

 

Sebagian besar siswa sekolah favorit berasal dari keluarga berekonomi mapan dan biasanya harmonis, serta peduli pada pendidikan. Tidak semua tentu saja, tapi rata-rata begitulah. Sebaliknya, siswa melarat yang memang sejak awal minim fasilitas belajar bakal krenggosan untuk mencapai standar masuk ke sekolah favorit. Dus, dia masuk sekolah ‘ecek-ecek’ yang sebagian besar memang berisi siswa serupa; menggembol rokok di saku, hobi nongkrong di warung sebelah dan merencanakan tawuran selanjutnya. Begitulah, anak-anak keluarga melarat bakal berkubang dalam ‘kebodohan’ dan ‘kemelaratan’ yang sama. Pendidikan gagal menjalankan fungsinya sebagai ‘tangga’ untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik.

 

Tapi susah kan mengajar anak-anak yang kemampuannya beragam. Jelas. Tapi, mosok sekolah penginnya gampang dan enak melulu.  Kadang saya pikir sekolah itu urik (curang), maunya ngajar anak-anak yang udah pinter. Yang pinter-pinter dijadikan satu biar pinter bersama. Yang ‘bodo-bodo’ juga dijadikan satu, biar… ‘bodo’ bersama. Tidak cuma pengelompokan intelektual, sekolah juga melakukan pengelompokan agama (dipertajam lagi hingga aliran agama), etnis, hingga ekonomi. Jadi nggak usah gumun kalau toleransi jadi barang mahal.

 

Tapi sungguh lho, susah ngajar kalau latar belakangnya macem-macem gitu. Mungkin. Tapi itulah fungsi sekolah. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua bangsa. Saya yakin, ada caranya kalau kita mau, misalnya yang bisa ngajarin yang belum bisa. Yang kelas tiga ngajarin yang kelas satu, dan seterusnya. Yang lebih penting kita hargai kelebihan tiap anak dan kita terima kekurangannya. Tak perlu memaksa. “Nduk, sudah nggak usah ngoyo kamu belajar matematikanya kalau memang nggak minat. Fokus saja latihan badminton, kamu kan jago main badminton.” Kalau si anak katakanlah ‘bodoh di segala bidang’ –yang saya yakin nggak mungkin— tetaplah rangkul ia, “Nggak usah sedih Le, kalau kamu nggak mudeng pelajaran ini. Yang penting kamu jadi anak baik.” Atau, “Terima kasih kamu sudah datang ke sekolah dan bukannya nongkrong-nongkrong sama geng motor.”

 

Saatnya Kembali

Sebetulnya apa sih arti angka 36 sebagai nilai UN SMP? Apa itu berarti si anak pinter banget karena nilai rata-ratanya 9 –dengan asumsi yang diujikan empat mata pelajaran–? Tapi bisa jadi lho anak pinter itu tidak keterima di SMA favorit. Apa pasal? Karena tahun itu yang nilainya 39 banyak banget. Yang 40 juga ada. UN-nya kegampangan katanya.

 

Apa artinya kalau nilai UN si Joko 36 dan nilai UN  si Johan 30? Apa berarti Joko lebih pandai? Belum tentu. Joko UN-nya tahun ini. Johan UN-nya tahun kemarin. Joko UN di Jakarta, Johan di NTT. Joko ke sekolah naik mobil, Joko harus jalan dua hari menuju tempat ujian. Joko sehat walafiat pas UN, Johan lagi sakit perut. Joko dapat bocoran, Johan tidak. Banyak sekali faktor yang terlibat. Apalagi pelaksanaan ujian kita harus diakui tidak sepenuhnya jujur.

 

Dan apa artinya nilai UN bahasa Indonesia 9? Bahwa kemampuan anak berbahasa Indonesia sangat mlithis dan dijamin bisa jadi editor kelak? Apakah berarti si anak hapal periodesasi sastra Indonesia? Atau si anak sudah baca banyak sekali karya sastra? Atau dia bisa ngarang cerpen? Atau apa? Sekali lagi, ternyata nilai bisa jadi hanya sekadar angka dalam sebuah sistem yang belum matang seperti.

 

Kita belum membicarakan biaya UN yang selangit (yang bisa nambahi gaji guru honorer). Kecurangan yang aduh duh… membuat menangis bila diceritakan (apa nggak nangis dengar guru yang nyuruh siswanya nyontek?), belum lagi stress masal tahunan yang melanda siswa dan orangtua siswa?

 

Jadi mari rehat sebentar. Saya pikir moratorium UN ini –kalau memang jadi dilaksanakan—adalah saat yang tepat untuk mengembalikan semangat belajar pada nilainya yang hakiki: memuliakan manusia, memuliakan kehidupan. Inilah saatnya sekolah melepaskan beban dan target, lalu kembali mendidik dengan empati, kesabaran dan penghormatan pada proses. Ini juga peluang untuk memperlakukan semua bidang keahlian dengan setara. Tak ada lagi mata pelajaran ‘unggulan’ karena mata pelajaran itu di-UN-kan. Olahraga bisa mendapat porsi yang sama dengan matematika. Bahasa Inggris bisa sama pentingnya dengan bahasa daerah. Utopis banget. Mungkin memang begitu kedengarannya. Apalagi sekian dasawara pikiran kita dibentuk bahwa kita belajar demi nilai, ujian, dan kelulusan. Tapi sungguh, saya pikir ini tidak mustahil. Dan inilah saatnya kita kembali belajar dengan gembira.

 

Hukuman atau Konsekuensi?

Waktu saya remaja, saya hobi banget nonton Nanny 911. Saya belum menikah waktu itu. Apalagi punya anak. Tapi saya bertekad, kalau kelak punya anak saya bakal terapkan semua ajaran nanny-nanny yang ‘galak tapi manis’ itu. Keren banget nggak sih ngasih bintang-bintang setiap kali anak menghabiskan makanannya? Lalu nanti bisa ditukar ‘hadiah’? Macam kita belanja di Carrefour. Setelah ngumpulin sekian stamp, kita bisa dapat panci.

Yang juga keren adalah ngasih ‘time out’ bila ada anak yang bandel. Dengan kombinasi bintang dan ‘time out’ itu,  keluarga yang kacau abis bisa jadi keluarga idaman dalam waktu satu jam!

Tentu saja setelah saya punya anak ceritanya tak semanis serial TV. Boro-boro ngasih bintang atau stempel sekali pun, mandi pun kadang tak sempat. Dan stempelnya, mana stempelnya, perasaan tadi kutaruh meja deh. Heiii, ya ampun, itu stempel, jangan dijilatin!

Time out? Hedew, saya jamin, para nanny itu juga bakal langsung resign bila disuruh ngasih time-out pada anak saya. Soalnya, anak saya nggak ngerti arti frasa ‘duduk di kursi itu semenit, oke?’ meski dia sudah hapal semua nama karakter film Cars.

 

Konsekuensi

Konsekuensi sebagai pengganti hukuman saya dengar pertama kali dalam sebuah seminar parenting. Keren nih, batin saya waktu itu. Konsekuensi itu beda dari hukuman. Konsekuensi itu logis dan demokratis. Logis karena konsekuensi harus berhubungan ‘sebab-akibat’ dengan ‘kesalahan’. Ini akan membuat anak belajar tanggung jawab. Kalau anak numpahin susu, konsekuensinya ya membersihkan tumpahan itu. Kalau anak memukul temannya, dia harus minta maaf dan mungkin nggak main dengan si teman dalam waktu tertentu. Kalau anak terlambat setengah jam masuk sekolah, dia harus tinggal setengah jam lebih lama.

Konsekuensi juga demokratis karena harus disepakati terlebih dulu serta melalui tahap-tahap sesuai perkembangan anak. Misalnya, untuk anak lima tahun: “Sepakat ya, kalau main harus diberesi. Kalau nggak diberesi, mainannya disimpen Mama selama dua hari.” Untuk anak SMP: “Sepakat ya, uang sakumu akan dipotong bila pulsamu habis karena kebanyakan nge-game.”

Keren banget, kan. Anak dilibatkan, dimanusiakan. Saya langsung terpesona pada teori parenting yang satu ini (yeah, saya memang gampang terpesona). Tapi tidak lama. Karena saya langsung menyadari ternyata ada banyak ‘kesalahan’ yang tak punya konsekuensi logis. Apa konsekuensi untuk meneriakkan kata kotor? Untuk memukul adik? Untuk merokok?

Mungkin ada saja konsekuensinya kalau kita cukup kreatif dan gigih mencarinya (ingat kaca kuncinya: kreatif dan gigih). Misalnya untuk si Kakak yang memukul adiknya, kita bisa menyuruh si kakak untuk tidak bermain dengan adiknya sementara waktu (dengan segala komplikasinya. Entah si kakak yang kegirangan atau si adik yang tetap saja ngintilin kakaknya meski barusan dipukul).  Serius, saya udah nyerah duluan. Di mata saya ‘konsekuensi’ sama ribetnya dengan ngumpulin stamp ala Carrefour untuk ditukar dengan panci. Pertama kita harus rajin ke Carrefour, lalu rajin nempelin stamp, lalu mengingat-ingat di mana menyimpannya. Dan bila itu semua sudah kita lakukan, marilah berdoa persediaan panci masih ada!

 

Sinonim

Saya membaca buku Alfie Kohn yang berjudul ‘Unconditional Parenting’. Buku ini menekankan pada penerimaan terhadap anak tanpa syarat –termasuk ‘kesalahan-kesalahan’ mereka (yang sebenarnya bukan kesalahan), tanpa hadiah dan hukuman. Bagaimana dengan konsekuensi? Kohn bilang ini hanya perkara semantik. Konsekuensi adalah sinonim dari hukuman. Kok bisa?

 

Saya sudah lupa-lupa ingat penjelasan buku ini, jadi maaf saja bila uraian di bawah ini tercampur baur dengan opini saya sendiri. Ingat, ini opini. (Disclaimer duluan deh).

 

Yang pertama, marilah kita ingat, bahwa sebagian besar ‘kesalahan’ anak bukanlah kesalahan. Suruh anak-anak balita berhenti melompat-lompat di kasur. Good luck. Itu sama saja dengan menyuruh ikan berhenti berenang. Anak-anak punya dorongan alamiah dalam tumbuh kembangnya. Yang kita sebut ‘nakal’ atau ‘salah’ atau ‘tidak baik’ atau ‘tidak sopan’ seringkali adalah tindakan yang sangat alamiah dan di luar kendali mereka. Mengapa anak-anak tidak bisa berjalan?  Mereka selalu dan selalu berlari, bahkan saat makanan yang mereka tuju tidak ke mana-mana. Mengapa mereka suka berebut? Mengapa mereka berisik? Mengapa mereka malas mandi? Mengapa mereka selalu mendebat? Ada insting-insting alami yang merupakan bagian tumbuh kembang mereka yang harus ada. Kita tentu tak mau anak kita ‘manis dan manut’ saat ditawari narkoba. Kita juga tak mau anak kita malas bergerak dan kegemukan. Kita ingin anak kita kuat dalam mempertahankan prinsip dan haknya segigih ia merebut mainan dari adiknya? (Bukan berarti ‘berebut itu baik, tapi hedew… masak saya harus nulis disclaimer lagi?).

 

Lanjut. Yang kedua, yang kita anggap demokratis sebenarnya nggak demokratis-demokratis amat. “Dik, kamu boleh main lego. Tapi nanti dibereskan. Kalau nggak dibereskan, nanti Mama simpan legonya selama dua hari. Oke?” Apa yang bisa dikatakan anak selain ‘oke, Ma.’ Mau gimana dia pengin banget main lego itu. Dia dalam posisi tak berdaya karena keinginan alamiahnya.

 

Ketiga, anak tetap merasa dihukum. Seorang murid yang terlambat tiga puluh menit dan diminta pulang lebih lambat tiga puluh menit bisa jadi tetap merasa minder dan terhina. Ini berbeda dengan karyawan yang bisa dengan lapang dan pulang lambat karena paginya datang terlambat. Anak-anak sekali lagi tidak berdaya. Keterlambatan anak SD katakanlah, sebagian besar di luar kuasanya. Bangun kesiangan –ortunya juga–. Atau karena dia sudah mules duluan membayangkan jam olahraga yang diampu oleh guru galak. Penalaran yang belum sempurna menjadikan tidak mudah bagi dia menghubungkan antara keterlambatan dan harus tinggal di sekolah lebih lama.

 

Yang keempat, sama dengan prinsip hadiah dan hukuman, konsekuensi menekankan pada prilaku, tak peduli pada motivasi di balik perbuatan itu. Kita ingin anak berperilaku manis. Titik. Anak mengerjakan PR karena tidak ingin dia diberi PR tambahan, bukan karena ia sadar PR itu adalah bagian belajar yang akan membuatnya lebih cerdas. Untuk sesaat ini memang efektif, tapi begitu ‘konsekuensi’ mengendur, perilaku manisnya akan mengendur juga.

 

Terakhir, dan ini yang paling utama bagi saya: ribet. Anak nggak mau beresin mainan, mainan disimpan. So, dia cari mainan lain. Nggak diberesin lagi. Simpan lagi. Lama-lama mainannya habis. Jadi dia main ke tetangga. Lalu emaknya dagdigdug karena tahu si tetangga yang suka ngomong kasar. Lalu tergopoh-gopohlah si emak jemput dia. Anaknya nggak mau pulang. Soalnya di rumah nggak ada mainan. Mumet kan?

 

Lebih ribet lagi karena konsekuensi harus ditegakkan dengan konsekuen. Kalau kita sudah sepakat bahwa sepeda akan disita bila anak tidak mengembalikan sepeda itu ke tempatnya, ya kita harus benar-benar melakukannya. Tak peduli bila anak merengek atau menangis. Tak peduli kalau hari ini ada ‘lomba peluit sepeda’.  Pokoknya tidak mengenal grasi, amnesti, dan obolisi. Kenapa? Soalnya sekali kita longgar, anak bakal merengek lagi esoknya. Lalu jadi kebiasaan deh. Tangisan, amarah anak, tawar menawar, penegakan aturan, dan seterusnya ini bisa jadi sangat melelahkan, menguras waktu, dan emosi.

 

 

Lawan kata hitam adalah Oranye

Terus gimana dong. Kalau tiap kali anak berbuat salah kita biarkan, nanti dia jadi liar, manja, dan nggak tahu aturan.

 

Ehm. Kadang kita sangat hitam-putih. Kalau nggak hitam ya berarti putih. Kalau anak bertingkah baik, kita harus memuji (hadiah), kalau anak bertingkah laku buruk kita harus memberi konsekuensi (hukuman).

 

Masak sih nggak ada alternatif lain? Tidak hitam, kan bisa berarti oranye.  Atau ungu. Kalau anak tidak mengerjakan PR, bisa jadi sebab kelalaiannya (sakit perut) sudah menjadi kesusahan tersendiri baginya. Mari dimaafkan, sebagaimana kita memaafkan pacar kita yang datang telat karena bannya bocor. Bisa jadi kesalahan itu sudah membuat perasaan tak enak yang menjadi ‘hukuman’ dari dalam dirinya. Atau bisa jadi sekolah/ortu yang keliru karena memberinya terlalu banyak tugas.

 

Tapi nanti dia enak-enak aja melanggar aturan!

 

Ehm. Ada banyak cara untuk mendidik anak agar bertanggung jawab. Kakak belum mengerjakan PR? (Yuk, kerjakan. Ibu temani). Kamu berlari-larian, menyenggol gelas, dan menumpahkan susu? Oh, tidak apa-apa. Ini bisa beres dengan lap. Akan ibu tunjukkan caranya. Kamu memukul temanmu? Mengapa? Oh, dia merebut temanmu? Temanmu salah. Tapi kamu bisa meminta kembali mainanmu baik-baik. Ya, ibu tahu kamu marah. Mari, ibu ajari mengambil napas panjang saat kamu marah. Kamu mengambil mainan ini? Tanpa izin? Wah, nak itu namanya mencuri. Oh, ibu punya dongeng tentang tikus si pencuri. Kamu mau dengar?

 

Welas Asih

Dalam mendidik anak, kita perlu selalu ingat bahwa mereka anak-anak. Mereka tak memiliki wawasan sebagaimana orang dewasa.  Mereka tak punya kesabaran dan pengendalian diri yang sama. Untuk mencapai ‘keadaban’, butuh proses yang panjang dan diulang-ulang. Dan terutama contoh yang baik. Bila Anda sudah seratus kali menyuruh anak untuk membuang sampah ke tempatnya, tapi si anak lagi-lagi ‘lupa’ melakukannya, mungkin Anda butuh mengulang perintah Anda untuk ke-seratus kali. Pun bila anak-anak melakukan ‘kesalahan’ yang memang benar-benar kesalahan, inilah waktunya untuk berwelas asih, berlapang dada, dan menerimanya dengan sepenuh hati. (Sekali lagi, bukan berarti Anda mendukung tindak kejahatan, dan bukan berarti Anda tidak melakukan apa-apa).

 

Kita juga harus menggali apa penyebab di balik tindakan anak. Seringkali anak berbuat salah karena memang tidak tahu atau tidak mampu. Bisa jadi karena aturannya terlalu berat atau karena orang dewasa tidak memberi contoh yang benar. Dalam kasus anak tidak mengerjakan PR, bisa jadi si anak sudah sangat bosan dan capek dengan pelajaran di sekolah.

 

“Aku tetap khawatir, kelak anakku tidak bisa menerima konsekuensi  dan tidak bertanggung jawab  bila ia sudah dewasa.” Percayalah, sepanjang waktu anak-anak belajar mengenai konsekuensi. Ia mengerti bahwa ia akan jatuh bila berjalan serampangan dan jatuh itu sakit –maka penting bagi orang tua untuk tidak menyalahkan batu atau tanah yang tidak rata–. Ia tahu, telur di penggorengan akan gosong bila tidak diangkat tepat pada waktunya. Ia tahu temannya akan marah bila ia merebut mainannya dan bisa-bisa si teman tidak mau bermain dengannya lagi dan seterusnya. Dengan semua pelajaran ini, kemungkinan besar ia bisa berlapang dada saat gajinya dipotong karena datang terlambat.

 

Bayangkan, begitu tiba di kantor, Anda menyadari dokumen penting yang harus Anda bawa ketinggalan! Padahal dokumen itu dibutuhkan dalam meeting satu jam lagi. Yang paling logis saat itu adalah menghubungi suami dan berkata, “Tolong, antarkan dokumenku ke kantor.” Bagaimana bila suami berkata, “Tanggung konsekuensinya, dong! Kan seharusnya sudah disiapkan sejak semalam.” Pasti kita pengin ‘nggiles’ suami, kan? Begitu pula bila anak telepon dari sekolah, sambil mimbik-mimbik karena PR-nya ketinggalan. Padahal sudah jutaan kali Anda mengingatkan, “Persiapkan semua yang dibutuhkan pada malam hari. Jangan lupa bikin daftar apa yang harus dibawa.” Rasanya tanpa perlu kita tambahi ‘konsekuensi menghadapi kemarahan guru’, si anak sudah belajar bahwa kecerobohannya merepotkan ibu.

 

“Tapi itu kan beda!” Bedanya di mana? Yang saya lihat di sini, bedanya adalah karena kita punya kuasa, kita jadi bia meliak-liukkan peraturan, sementara karena masih kecil, si anak tak berdaya.

 

“Tapi nanti jadi kebiasaan dia buat ceroboh, ketinggalan ini-itu.”

Yeah, seperti kita juga bakal ingin mengulang ketinggalan dompet, handphone, dan dokumen, bukan?

 

Poin terakhir di sini adalah, bila meminta anak konsekuen, orangtuanya harus konsekuen. Ini juga yang membuat saya tak bisa menerapkan pendidikan ala konsekuensi di rumah. Kalau konsekuen, seharusnya saya lari dua kilo meter sehabis makan sepotong donat. Tapi hadddduuhhhh…. donat itu enak sekali dan lari? Aduuuh, sayang sekali… saya punya kerjaan yang lebih penting.

 

*Artikel yang sama, saya unggah di Kompasiana.