Author Archives: kenterate

About kenterate

Ibu rumah tangga, penulis, penerjemah, yang hobi ngobrol nggak penting.

Ketika Kenyamanan Korban Perkosaan (Masih) Dipertanyakan

Kapan itu saya dikirimi kliping berita yang membuat saya serta merta pengin mengasah golok. Begini potongan beritanya:

 

Mawar (siswi SMK) digerayangi oleh guru honorer bernama Bahtiar saat pelajaran di ruang laboratorium beberapa waktu lalu.

Menanggapi kasus tersebut, pengamat seksologi Universitas Gadjah Mada, Prof Anu PhD (nama samaran, pen) berpendapat, pihak kepolisian tidak boleh asal menjerat pelaku dengan undang-undang pidana. Tapi harus menelaah terlebih dahulu motif pelaku dan korbannya.

“Tidak bisa kemudian langsung menyalahkan pelaku hanya berdasarkan laporan korban. Bisa ditelusuri lebih mendalam. Apakah mereka berdusa sama-sama suka atau ada perasaan. Kalau memang ada perasaan cinta tindakan tersebut belum bisa dikatakan kriminal,” ujar Guru Besar Fakultas Psikologi UGM itu kemarin (5/9).

                Menurut Anu yang menjadi permasalahan hanyalah pada status sosia keduanya. Baik guru maupun siswi yang bersangkutan. Padahal tidak menutup kemungkinan keduanya memang menjalin kasih di sekolah.

                “Wajar saja kalau ada ketertarikan sang guru pada siswinya. Remaja di usia tersebut memang sudah dianggap matang untuk menjadlin hubungan orang dewasa,” katanya.

                “Pihak berwajib juga dapat menanyakan pada korban. Laporan yang disampaikan karena ada desakan norma atau tidak. Atau ada indikasi dia terdesak dengan status pelaku yang sudah beristri sehingga  memilih untuk melaporkan,” jelas Anu.

                Sebagaimana informasi pihak kepolisian, korban melaporkan tindakan tak senonoh yang dilakukan pelaku dua bulan sejak kejadian. Hal itu menguatkan analisis Anu kemungkinan adanya perasaan suka sama suka antara korban dan pelaku. Apabila si korban merasa tindakan pelaku merupakan perlakuan yang salah seharusnya melaporkan sejak awal dia mengalami pelecehan.

                “Simpel saja, kalau memang tidak suka perempuan harus berani menolak. Jangan mau tidak mau.

 

Gimana? Anda pengin ngunyah cangkul? Serius, begitu baca ini, perasaan saya bercampur aduk, antara sedih, jengkel, dan pengin nonjok.

 

Bila ada kasus perkosaan, kata beliau, jangan cuma tanyakan motif pelaku. Tanyakan pula motif korban. Astaghfirullah! Motif korban! Apabila Anda kemalingan, Prof, saya harap polisi juga menanyakan motif Anda sebagai korban. Apa motif Anda jadi korban pencurian? Jangan-jangan cuma pengin femes. Jangan-jangan Anda suka dimalingi.  Suka sama suka dengan malingnya gitu.

 

Ish, kan perkosaan beda sama pencurian. Jangan dibandingkan dong. Yup, memang betul. Kita tidak bisa menyamakan perkosaan dengan kejahatan biasa lainnya. Perkosaan (termasuk pelecehan dan pencabulan) adalah sebuat kejahatan yang kompleks dan tidak bisa dipisahkan dari stigma sosial yang juga sama rumitnya. Tetapi justru karena stigma sosial itu, tak banyak korban perkosaan yang melapor pada polisi.

 

Lebih parah lagi, korban dan pelaku sering ‘memilih’ jalan damai dengan MENIKAH. Itu dianggap sebagai tanggung jawab si pelaku. Istighfar dua kali. Dulu pernah ada berita yang menceritakan pelaku perkosaan bersedia bertanggung jawab dengan menikahi korbannya. Banyak komentar yang memuji si pelaku, membuat saya pengin ngruwes laptop.

 

Wedyan kik! Penak banget dong si pelaku. Kalau dia ingin menikahi si X, tapi si X nggak mau, perkosa saja, terus nikahi. Setelah itu dia bakal sah  ‘memperkosa’ si korban sepanjang hidupnya. Sudah jadi istrinya gitu lho. Ah, Mbak ini, nggak bisa lah disebut perkosaan kalau antar suami-istri. Ehm, sebenarnya bisa. Sangat bisa. Jadi bisa bayangin kan, betapa horornya hidup si korban yang ‘terpaksa’ menikahi seorang penjahat yang telah menyakitinya dan membuatnya trauma. Lagipula, apa jadinya pernikahan yang dibangun dengan landasan kejahatan semacam itu?

 

Stigma Sosial

Di Indonesia sungguh tak mudah bagi korban perkosaan untuk melapor. Mau ngaku nggak perawan aja susah setengah mati. Belum tentu lho korban tahu cara melapor. Di kantor polisi, dia juga harus berhadapan dengan prosedur yang belum tentu dia mengerti. Apalagi polisi tentu saja bukan orang yang dia kenal. Ketika seseorang barusan dilecehkan secara seksual, sungguh tidak mudah mengaku bahkan pada orang dekatnya. Apalagi mengaku pada orang asing, yang belum tentu simpatik pula.

 

Sudah susah-susah melapor, di persidangan, dia harus bersaksi, mengurai kembali kengerian perkosaan yang pasti ingin ia lupakan seumur hidup. Kadang kala ia harus bertemu dengan si pelaku lagi. Astaga, tak terbayangkan sakitnya.

 

Polisi dan hakim juga sering kali tak punya empati. Bukan rahasia lagi bila pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan tolol macam, “Mbak ikutan goyang nggak?” “Kok bisa diperkosa berkali-kali kalau nggak suka?” “Kamu menikmati nggak?”  “Kamu pakai baju apa?” “Kamu mabuk nggak?” Seolah baju itu berkorelasi dengan perkosaan. Seolah kalau kamu mabuk maka kamu boleh diperkosa. Terkadang pertanyaan itu dilemparkan sambil tertawa, dengan nada bercanda atau melecehkan. Gosh.

 

Lapor segera, emang bisa?

Lucky, novel memoir karya Alice Seabold menceritakan kisah penulisnya sebagai korban perkosaan. Ia diperkosa dan dihajar saat ia pulang dari kampus pada suatu senja. Yang paling saya ingat dari novel itu adalah bagaimana ia segera pergi ke klinik untuk memeriksakan diri dan melaporkan kejahatan yang menimpanya. Sudah jelas, peristiwa  itu tidak terjadi di Indonesia.

 

Di Indonesia, menjadi korban perkosaan seakan sama hinanya dan sama bersalahnya dengan pelaku kejahatan (dan kadang justru pelakunya dianggap tak bersalah karena alasan si korban memang memancing-mancing.) Apa yang bakal terjadi bila seluruh dunia tahu bahwa dia sudah ‘kotor’? Meski mbuhlah, di mana kotornya. Ada cerita korban perkosaan yang justru dibully oleh teman-temannya setelah mengaku.

 

Ancaman dan manipulasi juga bisa jadi alasan korban tidak melapor. “Kalau kamu lapor, akan kubunuh kamu.” Atau, “Kalau kamu lapor akan kucemarkan namamu,” sudah menjadi senjata yang efektif. Apalagi bila si korban tahu persis keluarganya pun akan malu berat—plus marah padanya– bila tahu ia sudah diperkosa.

 

Manipulasi juga membuat korban tidak tahu bahwa ia telah menjadi korban. “Kita begini kan karena saling sayang.” Itu bisa menjadi kalimat manis yang membuat korban lengah. Bisa juga kalimat ini, “Kalau kamu mau, nanti kubelikan hape, lho.”

 

Yang paling parah, seringkali korban nggak tahu kalau dia sudah dilecehkan atau malah diperkosa! Ini terutama terjadi pada anak-anak. Serius nih.

 

Waktu SD, saya pernah digrepe-grepe di angkot. Penumpang sebelah mengelus-ngelus paha saya (untung saya pakai celana jeans, jadi dia tidak menyentuh kulit saya). Saya bingung sekali, ini orang ngapain. Saya tidak merasa sakit atau malu atau marah, saya hanya BINGUNG! Serius. Saya sama sekali belum tahu soal nafsu seksual. Nah, bisa bayangkan bila ada anak-anak jadi korban perkosaan. Kadang mereka sadar setelah mereka remaja atau dewasa. Bertahun-tahun kemudian. Terus, disuruh lapor gitu?

 

Makin mbulet kalau pelakunya orang dekat. Paman sendiri atau lebih parah, bapaknya sendiri. (Ini benar-benar terjadi).

 

Seringkali pula pelakunya adalah orang yang berkuasa; guru, pejabat, pemuka agama, sutradara kondang (udah dengar kan skandal Harvey Weinstein?), atau dosen pembimbing skripsi. Masih ingat kasus perkosaan mahasiswa oleh seniman terkenal? Dan bagaimana ia tak berani buka suara bertahun-tahun lamanya? Saya memaklumi karena… lah gimana, masa depan si korban ada di tangan si pelaku yang membimbing tugas akhirnya. Senimannya masih bebas bergentayangan by the way, tanpa rasa malu.

 

Melapor, andai pun bisa, kadang juga tak menghasilkan apa-apa. Apalagi bila si korban tidak mengenal pelaku sama sekali. Ia diperkosa di jalanan misalnya. Njuk piye? Pun andai pelaku ketahuan, kadang juga tak ada hukuman. Seorang dosen universitas ternama dilaporkan atas perbuatan melecehkan mahasiswinya. Si pelaku terbukti bersalah… dan dia bebas-bebas saja. Masih berkeliaran di kampus. Tak ada penjara, tak ada pemecetan. Dan si korban masih berpeluang ketemu pelaku di kampus. Njuk piye?

 

Ini masih ditambah potensi masyarakat mencela si korban. “Salahnya sendiri gampangan.” Atau “Situ sih, mau-mau aja disuruh datang ke kantornya sendirian.” Dan kalau ada cowok mendekati  si korban, serta merta dia dikasih peringatan, “Cewek yang kamu dekatin itu sudah nggak ting-ting lho.”

 

Tinggal nolak, emang bisa?

Profesor yang saya kutip tadi menyatakan perempuan harus dengan tegas MENOLAK bila tidak mau jadi korban perkosaan. Grrrkkkhhhhhh. Kali ini saya nggak cuma bertanduk, tapi juga bertaring, bercakar, dan menyemburkan api.

 

Pak, kalau Anda jadi korban perampokan, harap dengan tegas katakan pada si perampok, “Jangan! Saya NGGAK MAU dirampok. Pokoknya NGGAK MAU.” Dengan begitu saya yakin si perampok bakal balik badan dan nggak jadi merampok Anda.

 

Perjalanan masih panjang

Belum selesai saya menulis ini, beredar wawancara Kapolri Tito Karnavian oleh BBC Indonesia tentang kejahatan seksual. Begini petikan beritanya:

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyatakan dalam kasus pemerkosaan, terkadang polisi harus bertanya kepada korban, apakah merasa baik-baik saja setelah diperkosa dan apakah selama pemerkosaan merasa nyaman.

“Pertanyaaan seperti itu yang biasanya ditanyakan oleh penyidik sewaktu dalam pemeriksaan, untuk memastikan, apakah benar korban diperkosa atau hanya mengaku diperkosa, untuk alasan tertentu,” jelas Tito.

Dalam percakapan dengan BBC Indonesia, Jenderal Tito mengatakan bahwa Indonesia saat ini ada di persimpangan jalan, sebagai negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan, membuat terkadang polisi dihadapkan pada dilema antara menegakkan hukum dengan menjaga ketertiban sosial.

Gubrak! Aduh, saya doakan anak/istri/saudara  orang-orang yang berpikir untuk bertanya, “Apakah kamu nyaman saat diperkosa?”  tidak pernah diperkosa. Moga-moga mereka juga nggak pernah diperkosa.

Ish, dia laki-laki, mana mungkin diperkosalah. Oh, jangan salah, laki-laki juga bisa diperkosa. Dan andai beneran mereka jadi korban mudah-mudahan nggak ada nanyain apakah mereka nyaman selama atau sesudah peristiwa itu.

Nek nyaman ki njuk ngapa? Segelintir korban dimanipulasi sedemikian rupa hingga mereka merasa nyaman (terutama anak-anak), tapi mereka tetap korban.

Yap, jalan masih panjang. Bila orang-orang yang berkedudukan tinggi saja masih mikir bahwa diperkosa bisa enak, duh, mungkin masih butuh berapa dekade lagi sebelum kita bisa memperlakukan korban dengan adil.

“Eh, gimana kalau si korban memang mancing-mancing, menjebak si pelaku?”

Saya ingat kutipan yang saya baca entah di mana. Perkosaan tidak pernah jadi kejahatan yang tidak disengaja.  Jadi, kalau ada perempuan atau laki-laki yang mancing-mancing Anda untuk jadi pelaku, Anda selalu bisa menolaknya.

 

Advertisements

Plot Hole; Lubang-Lubang Kisah yang Harus Kita Hindari

Sudah lama (pakai banget) saya nggak nulis soal penulisan. Nah, berhubung semalam saya barusan menonton pertunjukan drama remaja yang alurnya ‘euh’ banget, saya jadi tergelitik buat nulis lagi. Pertunjukan drama itu sendiri bagus, dan bukan itu fokus saya di sini, melainkan pengaluran ceritanya. Meski teknis penyajian drama beda dengan teknik penyajian novel, urusan plot pada dasarnya tetap sama. Oke, mari kita bahas plot drama tanpa judul yang sudah saya sebut-sebut itu.

 

Begini alur ceritanya:

Seorang cewek bernama Ica (sebut saja begitu karena saya lupa namanya) bertemu dengan seorang pengamen bernama Doni. Singkat cerita mereka saling jatuh cinta. Nyaris tiap hari mereka bertemu di perempatan tempat Doni mengamen. Doni menyanyi dan Ica menunjukkan buku yang selalu ditentengnya (buku harian? Tidak jelas di sini). Hari-hari mereka begitu indah.

 

Suatu hari Doni berkelahi dengan geng berandalan. Ica begitu kecewa melihat perkelahian itu dan menyangka Doni adalah pemuda begajulan. Ia pun pergi meninggalkan Doni. Ia sempat sekali berkencan dengan laki-laki lain. Tapi ia tak bahagia. Ia berkubang dalam nelangsa. Doni begitu juga, ia mencari Ica ke mana-mana. Tak berhasil menemukan kekasih hati, ia sengsara dan sering membuka-buka buku Ica yang kebetulan terbawa olehnya.

 

Tak kuat menanggung rindu, Ica akhirnya kembali ke tempat mereka biasa bertemu. Tak berapa lama waktu kemudian, Doni ke sana juga. Begitu bersua, mereka berpelukan bahagia lalu menari bersama. Di tengah-tengah tarian, Ica pingsan. Doni kalut, mencari bantuan, tapi tak didapatnya. Lalu ia membongkar tas Ica untuk mencari nomor kontak yang bisa dihubungi. Di luar dugaan, ia justru menemukan surat yang ditujukan untuknya. Doni pun membacanya di depan tubuh Ica yang terbaring kaku. Isinya seperti ini, “Dear Doni, bila kamu membaca surat ini, berarti aku telah pergi ke tempat yang jauh. “ Selanjutnya lewat surat itu Ica berterima kasih pada Doni atas hari-hari indah yang mereka lalui bersama. Ica tak punya kerabat satu pun hingga sangat senang mendapat teman seperti Doni. Ica juga menyatakan ia sudah tak kuat lagi menanggung sakit kanker yang ia derita selama ini. Tamat.

 

Lubang-lubang alur

Sudah tahu ya di mana lubang cerita di atas? Banyak lho, walau pun sepintas cerita ini runtut. Sebenarnya cerita ‘romantis kronis’ yang melibatkan penyakit mematikan adalah gejala normal di kalangan penulis remaja. Kesengsaraan (patah hati, musibah, penyakit) punya daya pikat sendiri bagi remaja. Tetapi hanya terbatas pada sisi romantismenya saja, tidak mempertimbangkan sisi praktis atau logisnya. Ngaku deh saya dulu juga begitu. Adegan cowok berlari menembus hujan demi mengejar cewek terasa begitu dramatis walau dalam kenyataannya tidak realistis. Begitu pula adegan kecelakaan di mana ada cowok sekarat yang membisikkan kalimat, “I love you,” pada cewek pujaannya yang memeluknya dengan tabah. Pada kecelakaan di dunia nyata, kebanyakan sih si korban pingsan atau sibuk mengaduh dan pasangannya gemetaran ngeri (atau ikut pingsan).

 

Dalam cerita di atas plot hole pertama adalah Ica begitu saja membenci Doni hanya karena Doni berkelahi dengan geng berandalan. Dia tidak bertanya mengapa Doni berkelahi. Plot hole kedua, kok bisa Ica menyangka Doni anak berandalan juga hanya karena dia berkelahi dengan anak berandalan? Alasan perkelahian itu sendiri tidak jelas.

 

Plot hole berikutnya adalah Doni yang tak tahu ke mana mencari Ica saat perempuan itu menghilang. Masak berteman lama tapi nggak tahu apa-apa soal temannya; di mana rumahnya atau  di mana tempat kerjanya. Memang tidak terlihat hape dalam cerita ini, jadi bisa saja cerita mengambil setting tahun 60an, jadi it’s okelah nggak berusaha mengontak lewat hape, but setidaknya dia tahulah di mana Ica tinggal. Di situ digambarkan Doni membaca-baca buku Ica, tapi apa isinya juga nggak punya peran dalam kisah itu selain benda kenangan.

 

Next, tentu saja kematian Ica yang mendadak padahal dia sakit kanker. Masih sempat menari pula sebelum mati. Halooo, sudah pernah melihat orang dengan kanker? Yang jelas bila sudah sampai tingkat parah, bangkit dari tempat tidur pun nyaris tak mungkin. Meskipun kanker ada yang menjalar dengan cepat, bila kita berteman dengan pengidap kanker mestinya kita tahu dong dari gejala fisik mereka. Lah, ini kagak.

 

Yang terakhir, kok bisa temannya sekarat Doni malah tenggelam membaca surat? Bukannya histeris atau minimal bawa dia ke rumah sakit. Cari ojek online kek bila nggak ada yang mau nolongin atau becak bila memang setting-nya zaman old. Percaya deh, di situasi krisis seperti itu, otak kita bakal mampet dan nggak mampu baca apa pun.

 

Tanyakan dan tanyakan lagi pada diri sendiri

Nggak usah muluk-muluk riset atau tanya ahli, dokter spesialis dalam kasus di atas, untuk membuat plot  yang masuk akal. Yang pertama dan utama adalah bertanya pada diri sendiri dan membayangkan situasi, “Kalau aku sakit, apa yang akan kulakukan?” atau “Kalau temanku sakit berat, apa yang akan terjadi padanya?”  Apa yang akan kurasakan kalau temanku menghilang? Apa akan kulakukan? Akankah aku mencarinya? Ke mana?

 

Bagus memang kalau disertai riset menyangkut kasus tersebut, tapi jika tidak kita seharusnya tetap bisa pakai logika paling sederhana.

 

Selamat menulis.

 

 

Para Pembenci

Suatu hari saya melihat video di youtube yang menampilkan Dylan Marron, seorang penulis, penampil, dan pembuat video terkenal. Saat itu saya tidak tahu dia terkenal. Sebetulnya saya bahkan belum pernah mendengar namanya. Tautan yang berada di wall facebook saya itu saya klik karena saya tertarik melihat judulnya, “Conversation with People Who Hate Me.” (https://www.youtube.com/watch?v=ls2mTKcBjrI) Jadi si Dylan ini sengaja bercakap-cakap dengan orang yang membencinya. Sebagai seleb Dylan tentu saja punya banyak pembenci. Percayalah, ketenaran dan kebencian itu berjalan seiring.

 

Anyway video itu memberikan jawaban keheranan plus mengkonfirmasi dugaan saya mengapa pada saat ini banyak sekali kebencian, terutama di medsos. Mengapa orang-orang rela menghabiskan energi dan waktu untuk membenci, bahkan pada seseorang tidak mereka kenal sama sekali? Orang-orang saling memaki di medsos seolah mereka benar-benar barusan senggolan motor di jalan. Seriously. Saya bertanya-tanya andai orang-orang yang bertengkar itu kebetulan ketemu di warung kopi, lalu ngobrol tanpa mengetahui identitas dunia maya masing-masing, apakah mereka juga akan saling membenci? Bisa jadi tidak. Bisa jadi mereka justru tertawa bareng dan saling menawari rokok.

 

Pembenci Seleb

Britney Spears punya ratusan hater. Di medsos tentu saja. Saya nggak tahu kalau di dunia nyata. Bisa jadi para hater ini malah jingkrak-jingkrak dan minta selfie kalau ketemu beneran dengan si seleb cantik ini. Kalau pun mereka tetap membencinya, saya sangsi mereka bakal meneriakkan kata-kata kasar di depannya seperti yang mereka lakukan di media sosial. Takut ditangkap satpamlah!

 

Memang, para hater ini nggak setengah-setengah –setidaknya di dunia maya–, mereka sampai bikin akun atau thread khusus untuk meluapkan kebencian mereka pada Britney. Luang banget ya. Saya jangankan bikin akun baru, wong akun yang ada aja jarang saya kasih posting. Yang mengikuti dan mengomentari akun kebencian itu  juga sama luangnya, saya rasa.  Sempat gitu lho ngomentari kelakuan artes. Apa pun bisa jadi bahan celaan; lagunya, kisah cintanya, sampai bajunya yang terlalu seksi, yang saya pikir tetap dicela bahkan andai ia pakai hijab.

 

Saya penasaran, kalau mereka benci kok ya sempet-sempetnya memperhatikan baju seleb yang mereka benci. Kalau saya tidak suka lagu dangdut (tidak suka lho, bukan benci), yang saya lakukan simpel saja: nggak ngapa-ngapain. Saya tidak menyetel acara dangdut di TV. Kalau pas nonton TV dan kebetulan acara dangdut ditayangkan, saya tinggal pindah saluran atau matikan TV. Jadi kalau ditanyain gimana acaranya, saya nggak bakal bisa jawab, wong saya nggak nonton. Jadi kalau kamu nggak suka sama mbak Britney misalnya, hal yang logis adalah: nggak usah nonton acaranya atau ndengerin musiknya. Gampang banget. Toh Britney bukan tetanggamu dan kamu nggak bakal ketemu dia di arisan ibu-ibu RT.

 

Sama seperti pembenci presiden, pembenci ulama, pembenci entah siapa di dunia maya, saya yakin sebagian besar para pembenci seleb itu belum pernah ketemu si seleb. Mereka tidak tahu si seleb, apalagi kenal. Saya yakin si seleb tidak pernah ngutang sama mereka, tidak pernah nyamber jemuran, apalagi gebetan mereka. Intinya si seleb tidak pernah berbuat sesuatu yang jahat pada mereka, tapi tetap aja mereka benci. Alasannya bisa sangat tidak masuk akal: habis dia lenjeh sih. Lah, tahu lenjeh dari mana? Kalau memang beneran lenjeh, terus ngapain? Tuh, teman lo lenjeh, kok elo nggak benci dia? “Ya bedalah. Dia kan teman. Tiap hari ketemu. Biar lenjeh, dia baik kok, suka nraktir gue.” Oh. Alasan bisa dicari, sampai-sampai para pembenci Jokowi punya alasan yang absurd sekali: dia Yahudi. Ya ampyun, spicles saya.

 

Antonim Cinta Bukanlah Benci

Saya ingat menyaksikan Rhenald Khasali di sebuah talkshow. Dia mengisahkan masa kecilnya yang unik, di antaranya saat ia menjawab pertanyaan guru SD-nya, “Apa lawan kata cinta?” Rhenald menjawab, “Tidak cinta,” bukan benci. Bisa jadi dia disalahkan atas jawaban tersebut, tapi sungguh lho menurut saya dia benar. Dia menjelaskan, kalau saya tidak cinta dia bukan berarti saya benci dia.

 

Saya merasakan hal seperti itu. Antara benci dan cinta ada spektrum yang sangat luas dan rumit. Saya tidak suka pada musik dangdut, bukan berarti saya membencinya. Bahkan kalau ada acara joget dangdut, saya kadang ikutan (ngaku deh). Saya tidak suka pada Bu A, bukan berarti sama membencinya. Begitu pula bila saya suka sama Jokowi, bukan berarti otomatis saya benci Prabowo dan SBY. Tidak. Saya tidak membenci mereka.

 

Entahlah, saya lumayan sibuk hingga tak sempat membenci apa-apa, siapa-siapa. Jangankan membenci Opick atau Caesar, membenci orang yang ngemplang, ndak bayar utang saja saya tak bisa. Serius. Saya kesal pada si pengutang. Kesal lho, bukan benci.  Kesal bukan karena utang saya nggak dibayar, tapi karena saya ditipu. Dulu ngakunya kepepet buat bayar ini itu… tapi ternyata, oh ternyata.

 

Toh seiring waktu kekesalan saya memudar. Kenapa? Karena di kebanyakan waktu saya terlalu bahagia untuk merasa kesal. Gimana bisa kesal saat saya melihat tingkah anak-anak saya yang lucu. Di lain waktu saya tenggelam dalam tulisan saya hingga tak sempat memikirkan hal lain. Di kesempatan lain, saya  ngobrol nggak mutu tapi seru bersama sahabat-sahabat saya. Lah kok kober mengingat-ingat kekesalan saya pada orang lain. Saya juga tak membenci si pengutang karena nyatanya, kalau ketemu saya bahkan tak sanggup mengata-ngatainya, menuding-nudingnya, atau melemparinya dengan telur busuk (ke mana pula mencari telur busuk, see, kan, membenci itu butuh energi banyak sekali). Ada banyak sisi lain dari si pengutang yang membuat saya tak bisa membencinya begitu saja, hanya karena satu masalah utang.

 

Mengapa Membenci

Lalu kan saya jadi mikir bagaimana seseorang bisa membenci sebegitu rupa? Dari video Dylan tadi saya mengerti bahwa orang bisa membenci karena banyak alasan yang bisa jadi nggak ada hubungannya dengan orang yang dia benci itu.

 

Ada seseorang yang mengaku dia mengirimkan hateful messages pada beberapa orang tenar sekaligus. Jadi, dia memilih target kebenciannya dengan acak saja. Ada pembenci yang bilang dia di-bully di sekolah (dan tentunya jadi penuh amarah dan kebencian, meski bukan pada Dylan). Beberapa orang membenci Dylan karena tidak suka pada apa yang dia katakana dan pemikiran-pemikirannya. Tapi yang paling menarik, deberapa di antaranya berkata mereka tak benci lagi pada Dylan setelah percakapan itu. Satu kali percakapan singkat dan blas, tak ada kebencian. Mereka bahkan tertawa-tawa dalam percakapan itu.

 

Ungkapan bilang, kalau kamu cuma punya cabai, kamu cuma bisa bikin sambel alias pedes melulu hidupmu. Kalau kamu tak punya kebahagiaan atau cinta kasih, mana mungkinlah kamu ngasih hal-hal manis itu.

 

Beberapa orang memang punya tragedi hidup yang baik. Mungkin mereka pernah dilecehkan dan tak sanggup mengungkapkannya. Seorang anak mungkin tumbuh dalam keluarga pemarah dan tiap kali dia kesal, dia memaki-maki karena tahunya cuma itulah cara menyalurkan amarah. Media sosial adalah media yang empuk ini karena kita bisa menyamar di sini, tampil tanpa identitas, dan bebas memaki-maki tanpa digamparin langsung. Seseorang mungkin hidup dengan beban yang berat dan mudah iri saat melihat orang lain seolah-olah hidup tanpa beban. Seolah-olah saja, wong kita nggak tahu apa yang ada di balik penampilan gemerlap mereka. Kalau berpikir begitu, jatuh iba saya pada mereka. Saya tahu betapa nggak enaknya memiliki amarah itu. Kadang saya marah –tentu saja, saya manusia—dan pada saat yang jarang itu pun saya sudah cukup tersiksa. Lah, bagaimana nasib mereka yang marah terus-menerus kayak para pembenci itu?
Saya berharap, entah bagaimana, kita semua berjalan menuju dunia yang lebih damai, dengan lebih sedikit kebencian. Bagaimana pun kecilnya, kebencian selalu berpotensi menjadi besar. Dan meski bermula di dunia maya, kadang kala kebencian bisa merembet ke dunia nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak ‘Nakal’: Salah Siapa Sebenarnya

“Ibu dituntut (sekian milyar) oleh anak kandungnya sendiri.”

“Anak aniaya ibu kandung.”

“Manula terlantar di panti jompo, tak pernah dijenguk anak-anaknya.”

“Anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan umum.”

 

Setiap membaca berita-berita semacam itu, ngenes, prihatin, geregetan bercampur. Kok bisa sih, seorang anak kurang ajar banget pada orang tuanya sendiri? Bila kebetulan berita semacam itu beredar di medsos, komentarnya pasti gondrong dan nadanya mirip-mirip, “Kasihan banget si ibu.” Atau “Anak durhaka. Nggak ingat pengorbanan ibunya dulu?” Atau “Astaghfirullah. Nggak takut sama neraka?” Atau, “Anak-anak zaman sekarang memang keterlaluan.” Intinya sih, selalu menyalahkan si anak. (Lha, mau nyalahin siapa lagi, sih? Wong jelas anaknya yang  salah).

 

Benarkah Ini Salah Anak?

Saya pernah baca kisah seorang pegiat LSM anak yang punya masa kanak-kanak yang kelam. Sewaktu masih kecil ia sering dikasari oleh ayahnya yang kebetulan dosen di IAIN (IAIN mana saya tak begitu ingat). Ia menjadi korban kekerasan fisik, verbal, dan psikologis yang dilakukan sang ayah. Ia tak berani membantah karena si ayah dan guru agama mendengungkan dalil bahwa menaati orang tua wajib hukumnya.   Yang tak pernah didengungkan tentu saja, bahwa orang tua punya kewajiban mendidik dan mencintai anak-anak mereka. Syukurlah ia berhasil lepas dari lingkaran trauma dan akhirnya menjadi pembela anak-anak.

 

“Anak saya itu… duh, habis kesabaran dibuatnya. Nuakal banget.”

“Nggak tahu kenapa anak saya bisa jadi berandalan kayak gitu. Saya marahi juga nggak kapok.”

“Saya sudah nyerah soal anak saya. Nggak bisa diatur. Dikasih tahu juga nggak digubris.”

 

Keluhan-keluhan semacam itu tak asing, bukan? Orang tua memang sering mengeluhkan anaknya. Wajar. Tapi sungguh lho, kadang saya ingin membalikkan pertanyaan, “Lha kok bisa?”

 

“Anak saya baru lima tahun, tapi udah kecanduan gadget.” Lha kok bisa?

“Anak saya yang SD itu berani lho ngomong kasar sama saya.” Lha kok bisa?

“Anak saya ikut geng motor.” Lha kok bisa?

 

“Generasi sekarang itu memang payah. Manja. Malas. Tak punya sopan santun.” Entah bagaimana generasi terdahulu selalu merasa generasi setelahnya lebih buruk daripada generasi mereka. Ini tak selalu benar. Tapi benar atau salah, saya pikir generasi kita bertanggung jawab untuk mendidik generasi sesudahnya. Jadi kalau generasi anak-anak kita ‘payah’, mungkin kitalah yang payah sebagai orang tua. Kalau murid-murid ‘bodoh’, bisa jadi yang salah adalah gurunya yang tak piawai mengajar.

 

Terpengaruh Teman-Temannya

Seorang bapak mengeluhkan anaknya yang mogok sekolah dan malah berendang-berendeng sama geng motor modifikasi. Si anak bahkan menghabiskan sekian juta demi memodifikasi motornya. Tapi, si Bapak walau mengeluh-ngeluh ya tetap ngasih. Dan si bapak bilang, “Dia itu terpengaruh temannya.”

 

Terpengaruh teman. Terpengaruh TV. Terpengaruh internet. Apalah. Pengaruh luar ini sering banget dijadikan kambing hitam para orang tua bila anaknya bermasalah. Dalam bukunya Getting your Kids to Say No in the 90s when You Said Yes in the 60s, Victor Strasburger, si penulis, menyatakan, semua itu bukan alasan. Menurutnya, kalau anak kita katakanlah terpengaruh teman-temannya pakai narkoba, itu salah kita juga sebagai orangtua yang membuat si anak mudah terpengaruh. Mengapa anak kita tak berani menolak? Dan bahkan, mengapa anak kita bisa berteman dengan orang-orang yang salah? (anyway, saya sendiri pernah berteman dengan ‘orang yang salah’, tapi akal sehat kemudian menuntun pada fakta  bahwa ada sesuatu yang salah pada teman yang awalnya saya kagumi itu).

 

Jangan-jangan dari kecil kita memang selalu menuntut anak kita untuk manut dan manut. Bisa jadi kita tak pernah memberi kesempatan si anak untuk berani menolak dan berani berargumen dengan ortunya yang berakibat ia pun tak bisa bilang ‘tidak’ pada rekan sebayanya saat mereka menawarkan hal-hal yang tak ia suka.

 

Bagaimana pun Kita Punya Andil

 

Kalau anak kita hendak merampas harta kita gara-gara disuruh oleh suami atau istrinya, salah kita juga karena membuat si anak tak bisa memilih pasangan dengan benar atau ketika pasangannya mengajaknya berbuat tak benar, ia tak berani menolak.

 

Saat mendengar berita anak durhaka, terkadang simpati saya bercampur dengan rasa penasaran. Kok si anak bisa durhaka? Mengapa si anak ‘menelantarkan’ orang tuanya di panti jompo dan tak pernah menengoknya sama sekali meski mereka tinggal dekat dari situ? Tak ada kedekatan di antara mereka yang membuat si anak rindu?  Jangan-jangan memang tak ada kenangan manis tentang orangtuanya yang melekat di memori si anak?

 

Mengapa si anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan orang banyak? Adakah si orang tua mengajarkan si anak untuk tidak memaki? Untuk sabar dan berwelas asih? Adakah si orang tua memaki si anak waktu kecil dan serba tak sabar padanya? Apakah si anak punya kebiasaan itu karena mencontoh orang tuanya?

 

Bagi saya interaksi antar individu pada dasarnya adalah aksi dan reaksi. Apa yang kita beri akan kita dapatkan balik, kok. Termasuk rasa hormat. Tidak, kita nggak bakal dapat rasa hormat dari anak dengan bersikap galak atau ancaman api neraka. Kita akan dapatkan rasa hormat dari anak, bila kita menghormati mereka. Kita dapatkan cinta kasih, bila kita mencintai dan mengasihi mereka.

 

“Ah, ada tuh teman yang udah aku baikin, eh tahunya nusuk dari belakang.” Yup, selalu ada. Tapi berapa jumlahnya? Saya kok yakin yang seperti itu cuma satu dua di antara yang banyak dan baik.

 

Walau Memang Tak Sesederhana Itu

Meski pengamatan saya membuktikan sebagian besar orang tua yang baik akan menghasilkan anak yang baik, saya sadar benar ada faktor X yang membuat hidup ini tidaklah hitam putih (dan itulah yang membuat hidup ini misterius sekaligus menarik).

 

Ada orang tua yang sudah mendidik anaknya dengan sangat baik, dengan penuh kasih sayang dan segala kesabaran, tapi eh, si anak tetap saja ‘membelok’. Sebaliknya, ada orang tua preman yang yah, sebenarnya nggak pantes jadi orang tua, tapi entah bagaimana, anaknya malah ‘ndalan’.

 

Ada ortu yang ‘sangat kanan’, eh anaknya jadi ‘sangat kiri’ dan sebaliknya. Ya sudah, yang begini ini memang tak bisa kita tolak. Mari kita usahakan apa yang mampu kita usahakan. Sayangi anak-anak kita dan kalau mereka ‘gimana-gimana’, mari kita berefleksi, jangan-jangan mereka begitu karena kita begini.

Ironi Pendidikan

Kompas hari ini (3 Mei 2017) memuat artikel pendidikan –dalam rangka hari pendidikan—yang mengabarkan bahwa sekolah-sekolah kita masih bergelut dengan masalah klasik, kemelaratan fasilitas –boleh lah kita sebut begitu–. Salah satu yang diangkat dalam artikel ini adalah fenomena satu ruangan yang dipakai untuk anak-anak dengan tingkat kelas yang berbeda.

Berikut kutipannya:

Hari itu, untuk kelas III berlangsung pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang dibawakan oleh Victoria Mili, salah seorang guru di sekolah tersebut. Pada saat yang sama, di kelas IV, berlangsung pengajaran IPA yang dibawakan Ayu Plesila, juga guru du sekolah itu.

 

Dengan kondisi ruang yang tak terpisah, perhatian para murid di kedua kelas tersebut terbelah.

Begitulah penggambaran situasi di sebuah sekolah dasar di Kalimantan Barat. Saya geregetan membacanya. Bukan minimnya sarana yang bikin saya geregetan (walau ya, itu bikin saya prihatin), tapi karena di sekolah internasyenel di kota besar lagi ngetren metode kelas multi-ages alias siswa dari tingkatan yang berbeda digabung jadi satu dan belajar bareng. Apa ndak ironis itu? Yang sini, penginnya belajar sendiri-sendiri, tapi terpaksa bergabung. Yang sana, bisa belajar sendiri-sendiri, tapi dengan sukarela bergabung agar anak bisa bekerja sama dan bergaul dengan anak-anak berbagai umur.

Ironi Pendidikan

Saya ingat salah satu lawakan komedian tunggal Arie Kriting yang kurang lebih seperti ini, “Katanya ada sekolah hebat di Jawa, yaitu sekolah alam. Kayak apa sekolah alam itu? Sekolahnya nggak ada gedungnya. Lha, di daerah saya (Indonesia Timur) banyak sekolah nggak ada gedungnya.”

Piye kalau begitu itu?

TK X getol banget memborbardir anak didiknya dengan calistung. Eh, ada SD elit yang bahkan  membiarkan anak kelas satu dan dua belum bisa baca.  Lalu yang bener yang mana sih?

SD Z bangga betul dengan lab komputernya. Sampai-sampai di balihonya, foto lab komputer dengan komputer jentrek-jentrek dipampang besar-besar. Eh, lha kok di SD di Silicon Valley sono, tempat sekolahnya anak-anak bos google dan konco-konconya, malah nggak ada komputer buat siswa. Siswa nggak diajari komputer. Sistem pendidikan ala Waldorf yang terkenal di Eropa juga bersikap tegas soal ini: no TV and gadget sebelum anak-anak berusia 11 tahun. Lah, di sini anak TK aja udah disedikan game lho. (Tenang, game-nya edukatif kok, bikin  anak pinter, seperti hmmm…. gamemengenalkan warna).

Ubah Mindset

Balik ke kasus awal tadi. Saya bisa bayangkan betapa beratnya beban jadi guru-guru di sekolah terpencil. Betapa minin sarana yang mereka miliki dan yah, tidak adil membandingkan dengan SD internasyenel yang memang kelebihan dalam segala-galanya, termasuk dalam sumber daya guru.

Toh, saya tidak bisa tidak merasa iba sekaligus prihatin mendengar dua guru mengajar PPKn dan IPA dalam waktu dan tempat bersamaan. Saya berandai-andai guru itu bisa menyatukan kelas dan berkata, “Mbok ya sudah, yuk sekarang belajar IPA dulu semuanya. Anak-anak kelas IV bisa mengajari anak-anak kelas III.” (Kelas tiga itu ada pelajaran IPA nggak sih?). Materi bisa diotak-atik. Dan dua guru bisa saling bantu. Di lain waktu mereka bisa belajar PPKn bareng. Atau, kenapa tidak, yang lagi belajar IPA diajak keluar, jalan-jalan sambil mengamati pohon dan jamur?

Ya nggak segampang itu kali. Kan tiap kelas targetnya beda. Mungkin. Tapi saya kok justru melihat ini kesempatan bagi anak-anak untuk  belajar bekerja sama dan tantangan bagi guru untuk menyelenggarakan kelas yang menggembirakan bagaimana pun situasinya. (Yak, beginilah omongan emak-emak makmur yang punya kuota internet, tapi nggak pernah harus nyebrang sungai buat ngajar).

Anyway, rasanya sudah sering banget saya mendegar keluhan guru. Sudah sering saya mendengar jeritan sekolah yang kurang ini kurang itu. Saya tak hendak menafikannya. Tapi sungguh, saya nggrantes melihat sistem pendidikan kita yang kayak ‘kacamata kuda’, pokoknya jalan lurus nggak usah tengok kanan kiri. Nggak usah belok, nggak perlu meliuk.

Saya sedih lihat anak-anak miskin yang kudu berenang atau meniti jembatan demi ke sekolah. Bukan masalah berenangnya yang bikin hati ciut, tapi kok ya mereka berenang dengan pakaian seragam. Sebelum berenang, bajunya dicopot dulu, masukin tas, sangga di kepala atau gimana, lalu dipakai lagi begitu sampai di seberang. Maksud saya, penting bangetkah seragam bagi mereka? Sedih, melihat anak-anak dipaksa pakai sepatu ke sekolah sementara jelas uang yang buat beli sepatu bisa dipakai buat beli makan (dan yup, sekolah-sekolah swasta modern bahkan tidak mewajibkan anak-anak pakai sepatu atau  seragam lagi, yang konon mengikat dan tidak menyenangkan).

Pentingkah bagi anak-anak ini belajar segala macam kurikulum tentang ASEAN, PBB, struktur MPR, DPR bila membaca saja masih terbata-bata. Bila yang mereka butuhkan saat ini adalah melestarikan lingkungan sekitarnya dari kekeringan? Atau dari pembabatan hutan?

Atau perlukah mereka gedung sekolah? Tak bisakah mereka sekolah di kampung mereka sendiri? Guru mendatangi kampung mereka? Membentuk lingkaran mendengarkan guru mendongeng? Tak bisakah mereka bersekolah setelah mereka mengolah ladang? Belajar IPA dan bahasa sekaligus tanpa dipisah-pisah kelas?

Oke, baiklah, sudah cukup saya meracau. Saya sudah bangun dari mimpi sekarang ini. Rasanya itu masih jauh sekali. Tapi masih ada harapan, mungkin suatu saat nanti semua anak-anak di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan mereka. Tapi yang pertama-tama mari kita berdoa semoga guru-guru kita lebih arif, lebih kreatif, dan pemerintah kita tak lagi memaksakan segala macam kurikulum yang membuat anak-anak terpaksa belajar dalam satu kelas dengan dua mata pelajaran yang berbeda.

Tentang Semangat Kartini: Jangan Mundur Lagi

Hari Kartini sudah lewat, tapi semangatnya nggak pernah kedaluwarsa saya rasa. Jadi bolehkan saya tetap nulis tentang Kartini? (Sebenarnya ini sih karena angot-angotan nulis, jadi telat deh postingnya).

 

Anyway, mengapa sih Kartini jadi pahlawan dan hari lahirnya selalu diperingati? Mengapa pahlawan perempuannya lainnya tidak seistimewa itu? Padahal apa sih jasa Kartini? Cuma bukak sekolahan saja gitu lho.

 

Kalau Anda baca tulisan Kartini, mungkin Anda bakal paham bahwa pikiran-pikiran Kartinilah yang membuatnya pantas jadi pahlawan. Udah baca? Saya udah, meski belum semua dan itu pun sudah bikin saya terpesona padanya.

 

Ah, pikiran-pikiran kayak gitu aja lho, biasa aja lah. Well, untuk zamannya, ide-ide Kartini itu benar-benar luar biasa, beyond… beyond apa ya? Pokoknya melampaui zamannya lah. Bahkan melampaui zaman sekarang. Dan nggak cuma soal perempuan lho yang ia tulis, tapi juga soal budaya, agama, dan kebangsaan.

 

Coba wis bandingkan dengan era tahun 2000 sekarang ini. Udah abad segini, konsep kesetaraan gender aja masih banyak dapat tentangan. Masih dikritik dan masih dituduh macam-macam; melawan kodratlah, meningkatkan angka perceraianlah, membuat perempuan sok kuasa, dan sebagainya.

 

Lebih parah dari itu, di zaman yang udah maju, enak kepenak kayak gini, kok masih ada aja yang pengin menyeret kita mundur. Mundurnya nggak tanggung-tanggung! Berabad-abad. Coba bayangkan apa gak nangis tuh Kartini dan pejuang-pejuang perempuan lainnya kalau lihat gerakan absurd zaman sekarang. Setelah mereka berkeringat dan berdarah-darah memperjuangkan hak dan kesejahteraan perempuan, eh, kini ada gerakan ngajak perempuan kawin muda. Gabruk. *jedotin dahi ke tembok. Tak perlu saya jelaskan dampak negatif kawin muda (marai emosi). Gugel-en dhewe.

 

Apa Kita (Perempuan yang) Lebih Baik?

Saya sungguh bersyukur tinggal di Indonesia yang merdeka (dan terlebih di Jogja) yang relatif membebaskan perempuan. Tapi saya cemas membaca celotehan yang wira-wiri di internet. Soal perempuan yang harus ‘tunduk’ pada suami (alih-alih menjadi mitra sejajar), soal perempuan pekerja yang lagi-lagi dibenturkan dengan kemuliaan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, soal nikah muda yang konon dibuntel begitu indahnya padahal realitasnya nggak sesederhana itu, soal perempuan yang selalu disudutkan tiap ada perkosaan atau pelecehan atau kekerasan rumah tangga, soal perempuan yang kembali di dorong untuk ‘kembali’ ke rumah (tenang, Bunda, mau tetap dapat penghasilan meski ngendon di rumah? Ayo jadi downline saya! *eh)

 

Tiap hari saya ke pasar dan menemui Bu Painem penjual tahu tempe dan jelas-jelas membantu saya memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Ada pula Mbok Warti yang subuh-subuh sudah kulakan kelapa, ngangkut ke pasar, dan memarutnya agar ibu-ibu manja seperti saya bisa masak dengan mudah. Ada pula Bu Waginah, Bu Sarinem, dan ibu-ibu lain yang mengenakan kebaya serta kain (serius, masih ada penjual di pasar kampung saya yang pakai pakaian seperti itu, lengkap dengan sanggul dan stagennya), nyengklak bis atau nggenjot pit, sambil memanggul segambreng-gambreng barang dagangan. Sungguh, apa jadinya saya tanpa mereka, hiks. Dan sungguh saya siapa to saya ini dibanding mereka? (ah, elo, jangan banding-bandingin, lah).

 

Di balik setiap bungkus tempe, setiap bulir beras, setiap potong ayam, saya yakin ada tangan-tangan perempuan yang terlibat. Perempuan-perempuan kuat yang kemungkinan besar (besar sekali) nggak ngerti apa kuwi emansipasi, gak tahu ada mom-war di facebook, nggak mudeng kalau sekarang ada gerakan agar perempuan kembali ke rumah, manut manis sama suami, dan ikhlas dipoligami.

 

Ya ampun, apa iya perempuan yang di rumah (kayak saya) itu lebih baik daripada Bu Risma, si walikota Surabaya, yang turun tangan saat banjir melanda, lebih baik daripada Bu Veronica Tan yang bikin taman terbuka hijau, atau dari Dokter Mujazzanah, dokter kandungan yang menolong sekian ibu-ibu hamil dan melahirkan. Apa kita ini lebih hebat dari pada Bu Sri Mulyani dan Bu Susi Pudjiastuti yang duduk di kabinet dan jelas-jelas mengurusi negeri ini? Apa kita lebih mulia dari Mbah Supinah yang ngarit, nandur, matun serta memanen padi di sawah?Atau lebih unggul dari Mbak Sri yang jadi karyawan laundry? Lha kita ini kan bisa kepenak facebook-an syantik kan karena ada perempuan-perempuan kuat dan mau berjibaku kayak mereka.

 

Berkubang

Gimana saya ndak geleng-geleng to kalau kita masih mempermasalahkan perempuan yang ngangkang naik motor (atau bolehkah perempuan naik motor). Apa nggak judeg saya baca berita tentang peraturan yang melarang perempuan kerja malam (lah kerja jadi perawat shift sore je, apa yen sampeyan dirawat di rumah sakit, sebaiknya perawat dan dokter perempuannya pulang setelah jam lima sore?). Tambah ngenes lagi kalau baca poster yang nyinyirin perempuan bekerja (alamak!).  Sampai urusan paling kecil pun diriuhkan, misalnya apakah perempuan boleh ngrebonding rambut. Kok kober men. Sementara perempuan di belahan dunia lain itu udah ada yang jadi astronot! Ada yang jadi insinyur. Programmer komputer. Penemu. Peneliti. Ilmuwan teknologi nano (eh, ini di Indonesia juga ada lho ilmuwan perempuan teknologi nano, bangga betul saya). Dan omong-omong hasil karya mereka membuat kita jadi punya internet, jadi bisa pakai baju tanpa harus njahit dulu, jadi bisa belanja lewat ponsel (yang konon menyelamatkan perempuan karena nggak perlu keluar rumah karena rumah adalah sebaiknya-baiknya tempat bagi mereka *tsaaaah, kerasa nggak sih ironinya.)

 

Nggak usah ngotot semua bisa dilakukan oleh pria semata-mata. Ora isa. Ora cukup. Apa maneh yen wong lanange mung sibuk adu jago,  nggabur dara,udat-udut lan…. (isi sendiri).

 

Dan yang pasti kebanyakan keperluan perempuan itu hanya bisa dimengerti oleh perempuan.  Jadi perempuan harus terlibat. Titik. Dunia ini, termasuk pendidikan bagi anak-anak, akan lebih seimbang bila dipelihara oleh laki-laki dan perempuan sebagai mitra setara.

 

Toilet di ruang publik itu butuh cantolan buat nyantolin tas. Siapa yang mengerti itu? Perempuan. Lha kalau yang ngurusin toilet cuma laki-laki, cantolan itu mungkin nggak ada. Wong laki-laki nggak bawa tas. Kenapa perempuan bawa tas? Karena perempuan momong anak, jadi ia harus bawa bekal segambreng. Kenapa perempuan momong anak? Karena (semoga) ini adalah pembagian tugas dan kerja sama secara adil, setara, dan kerelaan di dua belah pihak. Lah siapa suruh momong anak di luar rumah sehingga kita butuh toilet perempuan yang ada cantolan tasnya? Ealah, apa kamu mau anakmu 24 jam di rumah sadja? Suwe-suwe kok absurd men eyel-eyelan ini.

 

Itu baru soal toilet ya. Mari kita pikirkan kepentingan yang lebih besar. Pendidikan. Transportasi. Kesehatan. Perdamaian dunia. Kalau perempuan nggak cawe-cawe yo amburadul donya iki. Percaya ta.

 

Yuk, kita sudah sampai sejauh ini. Alhamdulillah perempuan sudah bisa mengenyam pendidikan tinggi. Syukur perempuan sudah bisa memilih pemimpin dan bahkan jadi pemimpin. Syukur perempuan sudah (dan masih bebas) bertani di sawah serta membuka sekolah. Saya berharap ini kita tak berjalan mundur. Saya harap semangat Kartini membawa kita maju dan terus maju. Syukur-syukur perempuan Indonesia bisa menyumbang lebih banyak terhadap peradaban dunia.  Eh, ya sapa reti, sekretaris jenderal PBB perempuan pertama berasal dari Indonesia. Haibat ta?

Yuk, Ajak si Kecil Membaca (Tanpa Waswas)

Beberapa minggu yang lalu terjadi kehebohan terkait buku anak yang konon muatannya dianggap tak sesuai. Buku itu sudah ditarik dan yang bersangkutan juga sudah melakukan klarifikasi dan rasanya tak perlu diperpanjang lagi. Saya tak akan mengomentari buku tersebut karena saya bahkan tidak membacanya, tapi kasus ini menyadarkan saya betapa gampangnya kita kebakaran jenggot karena buku yang bisa jadi tak lebih lebih parah dampaknya daripada konten-konten media sosial  dan televisi (dan mungkin saja lho yang heboh soal buku itu santai-santai saja anaknya nonton sinetron atau main game yang jelas-jelas ditujukan untuk orang dewasa).

 

Anyway, buku anak yang kontennya nggak sesuai itu banyak, entah dari segi diksi, logika cerita, atau tema. Aha! Makin panik nggak tuh. Tapi santai saja lah, banyak hal yang berbahaya untuk anak kita, tapi kita punya saringan dan perlindungan, kan?

 

Ambil contoh cerita Sleeping Beauty. Apalah hikmah yang bisa diambil dari cerita putri yang jatuh tertidur bertahun-tahun dan terbangun setelah dicium pangeran (tampan tentunya), lalu mak jegagik jatuh cinta pada pangeran yang sudah kurang ajar menciumnya sewaktu ia tidur? (Eh, by the way, kenapa pula mantra-mantra penyihir yang mengikat putri-putri cantik ini nyaris selalu hanya bisa luruh bila ada pangeran tampan, yak?)

 

Ambil contoh lain; Buku cerita yang jelas-jelas mencantumkan label Seri Folklore untuk Anak (judul sengaja tak saya cantumkan) yang punya cerita begini: Si tokoh punya kebun limau yang dijaganya dengan cermat. Lalu suatu hari seekor musing mencuri SEBUTIR limau dari kebunnya. Si tokoh menangkap di musang dan mengancam akan MEMBUNUHNYA. Si musang minta dibebaskan dan berjanji akan menjadikan si tokoh seorang raja. Si tokoh setuju. Dengan kecerdikannya (kelicikan dan tipu daya menurut saya), si Musang berhasil menjadikan si tokoh raja. Begitu membaca itu yang terbayang dalam benak saya, gyaduh, ini orang kehilangan sebuah limau aja udah main ancam bunuh.

 

Sunting dan Sunting

Waktu saya kecil –mungkin sekitar enam tahun– ada serial cerita silat karya Kho Ping Ho yang terbit secara bersambung di harian Kedaulatan Rakyat. Judulnya Seruling Pusaka Kemala. Wow, itu cerita seru banget sampai-sampai masih terkenang hingga sekarang. Han Lin si tokoh utama memenuhi imajinasi romantis saya tentang laki-laki ideal: pangeran yang diculik, sengsara, terbuang, tapi tetap saja dong baik hati dan cerdas plus pinter silat! Shian Hwa Shian Li menjadi perempuan sempurna dalam benak saya, cantik, lembut, berambut panjang, pintar mengobati (dia seorang tabib) dan pinter silat juga! Dahsyat kan, sampai sekarang saya masih ingat tokoh utamanya. Nama penjahatnya saya juga masih ingat. Jalan ceritanya? Secara garis besar juga masih ingat.

 

Tiap malam Bapak menceritakan kisah Han Lin yang terbit pada hari itu (kami langganan koran itu) dan ia dengan tekun mengklipingnya. Saat remaja saya membaca kliping itu dan olala, terrnyata ada adegan perkosaannya! Tidak sih, itu tidak membuat saya gimana-gimana. Tapi saya bertanya-tanya, bagaimana dulu Bapak saya melewati bagian ini tanpa merusak alur cerita.

 

Jadi dear parents, tak perlu risau bila Anda menemui konten buku cerita anak yang menyimpang dari nilai-nilai Anda. Tinggal sunting saja. Atau bila Anda sudah kadung berpendapat seluruh isi buku itu tak layak, ya tinggal singkirkan saja. Tapi ini bisa Anda lakukan hanya bila Anda ikut membaca apa yang dibaca oleh anak Anda dan rajin mencari referensi-referensi buku bermutu.

 

(Catatan: ini tak berlaku untuk metode Read-Aloud di mana Anda harus membacakan semua kata sama persis dengan buku yang salah satu tujuannya adalah mengajar anak membaca. Untuk Read-Aloud silakan pilih buku yang sepenuhnya aman.)

 

Kalau pun Anda merasa ada konten buku yang benar-benar tak pantas untuk sebagian besar umat manusia, silakan lapor ke penerbit, penulis, atau dinas terkait tapi tak perlu heboh karena penulis bisa salah, kriteria penerbit bisa berbeda, dan pendapat orang atas sebuah buku juga bisa beragam.

 

Dampingi

Saat anak Anda belum bisa membaca tentunya Anda membacakan buku untuknya (eh, iya, kan?). Saat ia belajar membaca, Anda mendampinginya. Saat ia sudah bisa membaca dengan lancar Anda yang membelikan buku-buku untuknya dan Anda tahu buku apa yang dibacanya. Jadi sebenarnya kendali selalu berada di tangan orang tua. Dampingi anak saat membaca buku seperti halnya Anda mendampingi anak saat nonton TV dan Youtube (eh, Anda mendampingi anak Anda saat nonton youtube, kan?)

 

Tidak semua buku cocok untuk semua orang. Buku yang pantas dan oke-oke saja menurut keluarga A, belum tentu cocok untuk keluarga B. Mengapa? Karena keluarga A menganut nilai yang berbeda dari keluarga B. Tiap anak juga punya punya karakter yang berbeda. Anak C misalnya begitu mudah meniru apa yang dilihat dan didengarnya sehingga ortunya harus ekstra waspada bila dalam buku ada adegan menendang (bahkan bila untuk alasan yang bisa diterima). Sementara untuk anak D yang lebih kontemplatif dan tidak reaktif, buku yang sama tidak akan berpengaruh signifikan.

 

Buku serial Kumbang karya Enid Blyton saya nilai sebagai buku yang bagus untuk anak saya. Tapi apa saya bacakan mentah-mentah pada anak saya? Ya nggaklah. Kata-kata seperti “dasar kamu bodoh,” saya hilangkan atau saya ganti yang lain, misalnya, “Ah, itu tidak baik.” Suatu saat anak saya akan membaca buku itu sendiri, tapi saat itu saya yakin dia sudah cukup mengerti bahwa kata-kata semacam itu tidak pantas.

 

Kadang pula kalimat atau adegan yang ‘tidak baik’ tetap saya bacakan tapi saya iringi dengan pertanyaan, “Bagus tidak kata-kata semacam itu?” Anak saya tahu bahwa selain bertanya, ibunya tengah menyiratkan bahwa kata-kata tertentu tak baik diucapkan.

 

Sebenarnya saking otomatisnya saya menyunting, titik koma yang salah pun saya betulkan dalam pembacaan saya haha. Jadi jangan heran kalau ceritanya jadi lebih bagus saat saya bacakan (apaan sih, nih?)

 

So ibuk-ibuk, bapak-bapak yang budiman, tak perlu resah dengan segala macam buku yang beredar asal Anda juga proaktif MEMBACA. Dan kalau ini Anda lakukan saat anak Anda masih kecil, seharusnya saat anak Anda berusia sekitar 12 tahun, dia sudah tahu bacaan mana yang baik, mana yang tidak. Dan andai ia menemukan bacaan yang kurang baik, dia bisa menghadapinya dengan kritis.

 

Ayo membaca tanpa rasa takut.