Tag Archives: sosial

Para Pembenci

Suatu hari saya melihat video di youtube yang menampilkan Dylan Marron, seorang penulis, penampil, dan pembuat video terkenal. Saat itu saya tidak tahu dia terkenal. Sebetulnya saya bahkan belum pernah mendengar namanya. Tautan yang berada di wall facebook saya itu saya klik karena saya tertarik melihat judulnya, “Conversation with People Who Hate Me.” (https://www.youtube.com/watch?v=ls2mTKcBjrI) Jadi si Dylan ini sengaja bercakap-cakap dengan orang yang membencinya. Sebagai seleb Dylan tentu saja punya banyak pembenci. Percayalah, ketenaran dan kebencian itu berjalan seiring.

 

Anyway video itu memberikan jawaban keheranan plus mengkonfirmasi dugaan saya mengapa pada saat ini banyak sekali kebencian, terutama di medsos. Mengapa orang-orang rela menghabiskan energi dan waktu untuk membenci, bahkan pada seseorang tidak mereka kenal sama sekali? Orang-orang saling memaki di medsos seolah mereka benar-benar barusan senggolan motor di jalan. Seriously. Saya bertanya-tanya andai orang-orang yang bertengkar itu kebetulan ketemu di warung kopi, lalu ngobrol tanpa mengetahui identitas dunia maya masing-masing, apakah mereka juga akan saling membenci? Bisa jadi tidak. Bisa jadi mereka justru tertawa bareng dan saling menawari rokok.

 

Pembenci Seleb

Britney Spears punya ratusan hater. Di medsos tentu saja. Saya nggak tahu kalau di dunia nyata. Bisa jadi para hater ini malah jingkrak-jingkrak dan minta selfie kalau ketemu beneran dengan si seleb cantik ini. Kalau pun mereka tetap membencinya, saya sangsi mereka bakal meneriakkan kata-kata kasar di depannya seperti yang mereka lakukan di media sosial. Takut ditangkap satpamlah!

 

Memang, para hater ini nggak setengah-setengah –setidaknya di dunia maya–, mereka sampai bikin akun atau thread khusus untuk meluapkan kebencian mereka pada Britney. Luang banget ya. Saya jangankan bikin akun baru, wong akun yang ada aja jarang saya kasih posting. Yang mengikuti dan mengomentari akun kebencian itu  juga sama luangnya, saya rasa.  Sempat gitu lho ngomentari kelakuan artes. Apa pun bisa jadi bahan celaan; lagunya, kisah cintanya, sampai bajunya yang terlalu seksi, yang saya pikir tetap dicela bahkan andai ia pakai hijab.

 

Saya penasaran, kalau mereka benci kok ya sempet-sempetnya memperhatikan baju seleb yang mereka benci. Kalau saya tidak suka lagu dangdut (tidak suka lho, bukan benci), yang saya lakukan simpel saja: nggak ngapa-ngapain. Saya tidak menyetel acara dangdut di TV. Kalau pas nonton TV dan kebetulan acara dangdut ditayangkan, saya tinggal pindah saluran atau matikan TV. Jadi kalau ditanyain gimana acaranya, saya nggak bakal bisa jawab, wong saya nggak nonton. Jadi kalau kamu nggak suka sama mbak Britney misalnya, hal yang logis adalah: nggak usah nonton acaranya atau ndengerin musiknya. Gampang banget. Toh Britney bukan tetanggamu dan kamu nggak bakal ketemu dia di arisan ibu-ibu RT.

 

Sama seperti pembenci presiden, pembenci ulama, pembenci entah siapa di dunia maya, saya yakin sebagian besar para pembenci seleb itu belum pernah ketemu si seleb. Mereka tidak tahu si seleb, apalagi kenal. Saya yakin si seleb tidak pernah ngutang sama mereka, tidak pernah nyamber jemuran, apalagi gebetan mereka. Intinya si seleb tidak pernah berbuat sesuatu yang jahat pada mereka, tapi tetap aja mereka benci. Alasannya bisa sangat tidak masuk akal: habis dia lenjeh sih. Lah, tahu lenjeh dari mana? Kalau memang beneran lenjeh, terus ngapain? Tuh, teman lo lenjeh, kok elo nggak benci dia? “Ya bedalah. Dia kan teman. Tiap hari ketemu. Biar lenjeh, dia baik kok, suka nraktir gue.” Oh. Alasan bisa dicari, sampai-sampai para pembenci Jokowi punya alasan yang absurd sekali: dia Yahudi. Ya ampyun, spicles saya.

 

Antonim Cinta Bukanlah Benci

Saya ingat menyaksikan Rhenald Khasali di sebuah talkshow. Dia mengisahkan masa kecilnya yang unik, di antaranya saat ia menjawab pertanyaan guru SD-nya, “Apa lawan kata cinta?” Rhenald menjawab, “Tidak cinta,” bukan benci. Bisa jadi dia disalahkan atas jawaban tersebut, tapi sungguh lho menurut saya dia benar. Dia menjelaskan, kalau saya tidak cinta dia bukan berarti saya benci dia.

 

Saya merasakan hal seperti itu. Antara benci dan cinta ada spektrum yang sangat luas dan rumit. Saya tidak suka pada musik dangdut, bukan berarti saya membencinya. Bahkan kalau ada acara joget dangdut, saya kadang ikutan (ngaku deh). Saya tidak suka pada Bu A, bukan berarti sama membencinya. Begitu pula bila saya suka sama Jokowi, bukan berarti otomatis saya benci Prabowo dan SBY. Tidak. Saya tidak membenci mereka.

 

Entahlah, saya lumayan sibuk hingga tak sempat membenci apa-apa, siapa-siapa. Jangankan membenci Opick atau Caesar, membenci orang yang ngemplang, ndak bayar utang saja saya tak bisa. Serius. Saya kesal pada si pengutang. Kesal lho, bukan benci.  Kesal bukan karena utang saya nggak dibayar, tapi karena saya ditipu. Dulu ngakunya kepepet buat bayar ini itu… tapi ternyata, oh ternyata.

 

Toh seiring waktu kekesalan saya memudar. Kenapa? Karena di kebanyakan waktu saya terlalu bahagia untuk merasa kesal. Gimana bisa kesal saat saya melihat tingkah anak-anak saya yang lucu. Di lain waktu saya tenggelam dalam tulisan saya hingga tak sempat memikirkan hal lain. Di kesempatan lain, saya  ngobrol nggak mutu tapi seru bersama sahabat-sahabat saya. Lah kok kober mengingat-ingat kekesalan saya pada orang lain. Saya juga tak membenci si pengutang karena nyatanya, kalau ketemu saya bahkan tak sanggup mengata-ngatainya, menuding-nudingnya, atau melemparinya dengan telur busuk (ke mana pula mencari telur busuk, see, kan, membenci itu butuh energi banyak sekali). Ada banyak sisi lain dari si pengutang yang membuat saya tak bisa membencinya begitu saja, hanya karena satu masalah utang.

 

Mengapa Membenci

Lalu kan saya jadi mikir bagaimana seseorang bisa membenci sebegitu rupa? Dari video Dylan tadi saya mengerti bahwa orang bisa membenci karena banyak alasan yang bisa jadi nggak ada hubungannya dengan orang yang dia benci itu.

 

Ada seseorang yang mengaku dia mengirimkan hateful messages pada beberapa orang tenar sekaligus. Jadi, dia memilih target kebenciannya dengan acak saja. Ada pembenci yang bilang dia di-bully di sekolah (dan tentunya jadi penuh amarah dan kebencian, meski bukan pada Dylan). Beberapa orang membenci Dylan karena tidak suka pada apa yang dia katakana dan pemikiran-pemikirannya. Tapi yang paling menarik, deberapa di antaranya berkata mereka tak benci lagi pada Dylan setelah percakapan itu. Satu kali percakapan singkat dan blas, tak ada kebencian. Mereka bahkan tertawa-tawa dalam percakapan itu.

 

Ungkapan bilang, kalau kamu cuma punya cabai, kamu cuma bisa bikin sambel alias pedes melulu hidupmu. Kalau kamu tak punya kebahagiaan atau cinta kasih, mana mungkinlah kamu ngasih hal-hal manis itu.

 

Beberapa orang memang punya tragedi hidup yang baik. Mungkin mereka pernah dilecehkan dan tak sanggup mengungkapkannya. Seorang anak mungkin tumbuh dalam keluarga pemarah dan tiap kali dia kesal, dia memaki-maki karena tahunya cuma itulah cara menyalurkan amarah. Media sosial adalah media yang empuk ini karena kita bisa menyamar di sini, tampil tanpa identitas, dan bebas memaki-maki tanpa digamparin langsung. Seseorang mungkin hidup dengan beban yang berat dan mudah iri saat melihat orang lain seolah-olah hidup tanpa beban. Seolah-olah saja, wong kita nggak tahu apa yang ada di balik penampilan gemerlap mereka. Kalau berpikir begitu, jatuh iba saya pada mereka. Saya tahu betapa nggak enaknya memiliki amarah itu. Kadang saya marah –tentu saja, saya manusia—dan pada saat yang jarang itu pun saya sudah cukup tersiksa. Lah, bagaimana nasib mereka yang marah terus-menerus kayak para pembenci itu?
Saya berharap, entah bagaimana, kita semua berjalan menuju dunia yang lebih damai, dengan lebih sedikit kebencian. Bagaimana pun kecilnya, kebencian selalu berpotensi menjadi besar. Dan meski bermula di dunia maya, kadang kala kebencian bisa merembet ke dunia nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Seribu Teman… di Hape

Saya ganti hape beberapa saat yang lalu – dua tahun lalu maksud saya–. Alasannya –yang cukup dibuat-buat—adalah: baterainya sudah ngedrop dan entah apanya yang rusak, kadang nomor saya sulit dihubungi.

Sayangnya, setelah saya tidak ‘bekerja’ dan menjadi golongan menengah ke bawah, saya tidak bisa membeli hape yang kelasnya lebih tinggi dibanding hape saya yang dulu –Nokia E 71–. Jadi saya terpaksa tukar tambah dengan hape yang lebih murah, yang harga barunya cuma sepertujuh E71 kesayangan saya itu. Hiks.

Tapi saya menghibur diri: sudahlah, toh saya tidak bekerja lagi dan yang saya butuhkan cuma menelepon dan kirim SMS. Paling pol memotret Angger dan mengirim fotonya pada Anto. Sudah. Tidak cukup menghibur, sih. Downgrade gadget itu menyakitkan, jenderal. Dan harga ternyata nggak nipu. Gadget berharga murah itu tidak nyaman digunakan.

Saya sebenarnya tidak suka gonta-ganti hape. Kalau saya sudah ganti selama delapan kali dalam rentang waktu dua belas tahun, alasan saya selalu ‘agak valid’, misalnya performa si hape sudah tidak oke, contohnya: huruf keypadnya sudah pudar hehe.

Phone-book

Satu hal yang saya benci dari ganti hape adalah transfer phone-booknya. Biasanya sih, saya transfer sendiri dengan kartu-kartu perdana dengan sabar. Pernah saya menghabiskan tiga kartu perdana untuk mentransfer semua nama dan nomor itu.

Kali ini karena saya tidak sabar, dan karena hape harus ditukar tambah, plus karena saya yakin mestinya ada software komputer yang mampu melaksanakan tugas itu dengan mudah, saya tidak melakukannya sendiri. Saya meminta bantuan pada petugas konter hape tempat saya membeli hape baru. Dan ternyata…. dia menyerah!

Alasannya: kontak di phone-book saya mencapai 1040! Seribu empat puluh nomor tersimpan di hape itu. Hah! Saya juga kaget.

“Banyak banget Mbak. Ini sejak kapan? Saya saja paling pol nyimpan 200 kontak. Seribu empat puluh itu siapa saja?”

Astaga. Benar juga ya. Seribu empat puluh orang itu banyak banget lho. Dan siapa saja mereka?

Phone-book itu memang koleksi saya sejak punya hape pertama kali, yaitu zaman kuliah. Selanjutnya, tiap kali reuni, saya lantas menyimpan nomor-nomor teman SMP, SMA, bahkan teman SD. Teman SD mungkin 15 orang, SMP minimal 20 orang , SMA mungkin sekitar 40, teman kuliah juga mungkin 40an. Nah, baru itu saja sudah lebih dari 100 kan?

Belum lagi teman-teman kerja –saya ganti kantor empat kali–, dan relasi-relasi yang bertemu selama saya kerja. Lalu ditambah hape saudara dekat dan saudara jauuuh sekali. Lalu ada nomor delivery pizza hut –pizza hut Semarang, waktu saya tugas seminggu di sana– , apotek K 24, restoran ini itu, radio ini itu, dan agen tiket ini itu. Juga nomor rekening dan nomor telepon customer service bank. Wajar kan, kalau sampai seribu lebih?

Yang tidak wajar sebenarnya: sebagian dari nomor itu tidak pernah saya hubungi lagi. Bahkan beberapa di antaranya sudah tidak saya ingat lagi! Sewaktu melihat nama ‘Agus’, saya tidak yakin ini Agus yang mana. Saat melihat nama ‘Juwita’, saya tidak ingat Juwita itu siapa. Saya juga tidak yakin apakah nomor-nomor itu masih aktif setelah dua belas tahun berlalu.

Dan kalau mau jujur, berapa nomor sih yang aktif berhubungan lewat hape dengan kita? Tidak sampai dua puluh saya rasa. Teman-teman yang aktif berhubungan di dunia nyata –alias ketemu muka secara berkala—juga rata-rata segitu, antara dua puluh hingga tiga puluh. Harus saya akui, saya memang bukan cewek gaul.

Tapi ya begitulah, saya memang paling enggan membuang ‘sampah’. Saya selalu berpikir, siapa tahu kelak saya masih membutuhkan nomor-nomor itu.

Tapi akhirnya, saya menyerah. Saya memilih membuang semua nomor-nomor itu. Nomor itu saya ikhlaskan untuk hilang. Yang penting saya punya nomor keluarga dan beberapa teman dekat. Alasannya gampang: bila butuh kontak si Anu, saya bisa bertanya pada si Ani. Dan toh ada e-mail dan facebook, kan?

Benar saja, ternyata saya nggak kehilangan-kehilangan amat. Beberapa teman berkirim SMS, dan saya dengan sopan meminta maaf saya tidak tahu siapa dia karena phone-book saya barusan di-reset. Mereka mengerti. Saya juga meminta pada seorang teman beberapa nomor teman-teman lain yang saya butuhkan. Beberapa saya hubungi lewat face-book dan saya sampaikan nomor mereka hilang. Dan ah, ternyata, saya tidak membutuhkan seribu lebih ‘teman’ di phone-book saya!

 

Membenci Itu Repot Sekali

Memendam kebencian itu, saya pernah tulis di salah satu novel saya, seperti membawa tomat busuk ke mana-mana. Sudah nggak ada gunanya, berat, baunya nggak enak, dan… cuma merepotkan diri sendiri. Jika Anda membenci seseorang, Andalah yang paling repot karena sungguh kadang orang yang Anda benci tidak tahu sama sekali, bahkan tidak peduli.

Di kampung saya ada seorang perempuan tua, sebut saja namanya Bu Pur. Di lingkungan sekitarnya saja ada beberapa tetangga yang ia benci. Itu yang saya ketahui. Entah berapa yang tidak saya ketahui. Agak mengejutkan sebenarnya karena di permukaan Bu Pur itu maniiisss sekali. Dia selalu bersikap ramah pada saya. Jadi agak mengherankan ketika beberapa tetangga bilang dia bahkan bisa mengumpat dengan kosa kata ‘kebun binatang’ pada seorang anak kecil gara-gara anak tersebut menaiki sepeda saat lewat samping rumahnya –yang memang gang sempit dan seyogyanya menjadi daerah bebas kendaraan–. Tapi kenapa harus mengumpat? Pada anak kecil pula.

Dengan tetangga sampingnya saja Bu Pur ini sudah tidak akur. Agak lucu karena tetangga sampingnya, sebut saja keluarga Gino, adalah sepasang suami istri tua yang sudah ‘tak berdaya’. Lebih lucu lagi kalau diingat keluarga Gino sering menolong Bu Pur. Bahkan cucu Bu Gino adalah bos anak Bu Pur.  

Singkat cerita suatu sore Bu Pur lewat gang belakang rumah saya. Ayah saya yang kebetulan ada di halaman menyapanya, “Wah, mau ke mana Bu?”

“Ini, ke apotek mau cari obat.”

“Wah, Bu Gino tadi juga barusan lewat sini, mau ke apotek juga,” kata Ayah, lupa sama sekali bahwa Bu Pur bermusuhan dengan Bu Gino. Dan apa yang terjadi? Bu Pur berganti arah, nggak jadi ke apotek.

Dan kebencian merembet

Suatu saat, kami semua hendak melayat. Seperti biasa, bila lokasi takziah agak jauh, kami rame-rame menyewa ‘colt’ –begitu kami menyebut angkot kecil di daerah kami–. Bu Pur tergopoh-gopoh mendatangi Bu Mi, “Bu Mi, aku ikut layat ya.”

Saya yang kebetulan mendengar berkata, “Bu Pur bisa mendaftar  ke bu Win. Yang mengurusi kendaraan Bu Win kok.”

Bu Pur mencibir, “Nggak mbak, saya nggak mau berurusan dengan Bu Win.”

Eh? Saya baru tahu kalau Bu Pur ini ternyata juga sengggiiit banget sama Bu Win.

Wah, wah, jadi berapa orang yang dibenci Bu Pur ini? Kalau Anda benci satu orang, saya bisa bilang mungkin orang yang Anda benci itulah sumber masalahnya. Tapi kalau Anda benci BANYAK orang, well, well… mungkin Andalah yang bermasalah.

Anyway, repot sekali kalau Bu Pur benci pada Bu Win. Soalnya Bu Win ini adalah pengurus kampung dan seksi ‘transportasi’ di kampung kami. Dialah yang menyewa colt, mendaftar peserta, mengumpulkan uang dan sebagainya.

Alhasil, dia ‘ketinggalan’ lagi saat ada acara silaturahim ke tempat lain. Kali ini kami akan menengok tetangga kami yang pindah ke rumah baru.

Bu Pur melihat saya jalan beriringan dengan Angger. “Mau ke mana?” tanyanya. Bingunglah saya menjawab. Bu Pur entah bagaimana jelas tidak tahu kami punya acara sore itu. Tapi kalau saya beritahu, bisa geger dunia.

Jadi saya menjawab diplomatis, “Mau jalan-jalan.” Aduh, saya jadi salah tingkah sendiri karena saya sadar betul Bu Pur bakal tahu juga. Benar saja, setelah itu ibu-ibu beriringan menuju colt yang sudah menunggu dan Bu Pur penasaran lalu menyusul kami.

“Ada apa ini?” tanyanya.

Kami bercerita kami akan silaturahim dan mengundang dia ikut. Tapi dia tahu persis Bu Win panitia di sini. “Nggak, nggak ah, saya nggak mau kalau sama dia,” kata Bu Pur.

Nah, kan?

Kepada peserta lain dia tanya, “Kenapa saya nggak dikasih tahu?”

“Eng, lupa kali,” jawab yang ditanya.

“Sama memang sudah nggak dianggap manusia!” Kata Bu Pur.

Nah, tuh, nggak diundang marah, diundang juga salah karena dia nggak mau berada dalam satu kendaraan dengan musuhnya. Repotnya kami hanya men-carter satu colt saja. Coba dia bawa mobil sendiri.

Repot

Jeng Yus –yang ternyata juga dimusuhi Bu Pur—bercerita pernah bu Pur membanting pintu saat ia lewat di depan rumah Bu Pur.

Oh saya bisa membayangkan adegan itu karena Bu Pur sering sekali duduk di dekat pintu rumahnya yang mepet gang. Pintunya dibuka sedikit, cukup untuk melihat orang yang lewat. Dan kalau yang lewat adalah orang yang tidak disukainya, maka pintu itu bakal dibanting.

Tapi terbayangkan nggak sih betapa capeknya duduk tanpa ngapa-ngapain selain menunggu ‘musuh’ lewat biar bisa membanting pintu?

Betapa repotnya membenci orang lain itu. Bu Pur misalnya, jarang sekali lewat depan rumah Bu Win yang cuma berjarak beberapa langkah dari rumahnya. Dia rela menempuh jalan yang lebih jauh demi menghindari ketemu Bu Win.

Bu Win sendiri ngakunya nggak tahu kenapa Bu Pur bisa seantipati itu padanya.

Begitulah, kalau kita benci seseorang, kita bisa gelisah sendiri, repot sendiri, sementara yang dibenci bisa tetap melenggang ke mana-mana. Memenjarakan diri sendiri, bukan begitu? 

Ndermis

Ndermis itu kosakata bahasa Jawa yang susah saya cari padanannya dalam bahasa Indonesia. Tapi intinya manusia ndermis itu manusia yang gemar minta-minta. Ada aroma oportunis dan aroma peditnya.

Sejak kecil Ayah saya diajari tak boleh ndermis. Nenek saya marah-marah saat ayah saya pulang bawa beberapa butir duku yang diambil dari rontokan di kebun tetangga. Ini buah yang rontok lho dan cuma beberapa butir saja. Tetap: TIDAK BOLEH.

Tiap kali diberi sesuatu ayah diajari oleh nenek untuk menolak. Tentunya itu berat bagi seorang anak. Tapi ayah saya jadi terlatih untuk tidak menerima barang gratis dari orang lain. Meminta? HARAM tingkat tinggi.

Ayah saya menularkan ajaran itu pada anak-anaknya meski tidak terlalu ketat karena ibu saya sangat fleksibel dalam hal ini: memberi dan meminta itu keniscayaan dalam hidup. Jadi santai sajalah.

Tapi toh saya sering heran dengan orang-orang di sekitar saya yang hobinya meminta. Memintanya ajaib pula.

Setiap tahun saya panen rambutan dan mengundang anak-anak di sekitar rumah. Tahun ini kami mengumumkan di forum pengajian, “Khusus adik-adik, besok Sabtu panen bareng ya di rumah kami.”

Ada seorang ibu yang nyeletuk, “Lah Mbak saya nggak punya anak kecil.”

Saya tersenyum saja menganggap dia bercanda. Eh, beberapa hari kemudian saya ketemu lagi dan dia bilang, “Besok Sabtu mau panen rambutan sama anak-anak ya? Gimana dong, saya kan nggak punya anak kecil.”

Saya jadi jengkel dan pengin bilang, “Masalah buat lo?”

Ya ampun, satu anak hanya dapat dua puluh lima biji rambutan saudara-saudara karena rambutan di pohon kami tidak banyak. Itu pun saya masih harus nombok beli rambutan di pasar  karena takut kurang. Dua lima butir rambutan tuh nggak ada satu kilo. Kalau beli di pasar nggak nyampe lima ribu dan ibu yang ndermis itu bukan orang miskin juga. Tidak miskin, tapi karena ndermis jadi keliatan melarat betul. Melarat hatinya.  

Lain kali waktu pas metik buah rambutan, ada ibu-ibu lewat dari pasar lalu ngambil buah rambutan kami gitu aja. Nggak bilang apa pun. Padahal suami saya masih nongkrong di atas pohon. Tanpa dosa pokoknya.

Jadilah kami ribet kalau metik buah rambutan. Harus cari waktu sepi. Kadang kami udah cari waktu sepi, tapi pas kami metik dan menimbulkan suara kresek-kresek  anak-anak lalu muncul entah dari mana dan merubungi kami, bikin kami salah tingkah. Lah kalau pas metik banyak sih nggak masalah. Kalau cuma mau metik sepuluh biji dengan galah pendek kan jadi repot.

Kami bilang, “Tanam pohon sendiri, di tanah sendiri, mau metik aja kok repot.”

Di waktu lain saat kami tengah istirahat siang ada anak mencet bel pintu. Bikin tidur kami kacau dan ternyata dia bilang, “Boleh minta rambutannya nggak?” Sontoloyo.

Pohon srikaya kami yang buahnya tak seberapa juga jadi incaran tetangga. Ada tetangga yang lewat dan tanya, “Sudah ada yang matang belum? Cucu saya pengin.”

Lah kami juga pengin, Bu dan buat kami itu buah juga nggak cukup.

Lain waktu gantian mangga. Anak kecil lewat dan tanya, “Pak kalau udah matang simbah saya dikasih lho.”

Lah, simbahmu itu kan urusanmu!

Heran betul kami dibuatnya. Bukan apa-apa sih, perasaan kami selalu membagi apa pun panenan kami entah itu pisang, rambutan, mangga, pepaya, minimal pada tetangga yang beradu pagar. Bertahun-tahun.

Meski tak mengharap timbal balik, ayah saya heran juga kok panen tetangga nggak pernah sampai ke tangan kami. “Yah, kan ayah udah dianggap punya, udah dianggap kaya,” kata saya.

Tapi itulah, beri memberi kadang tidak ada hubungannya dengan kaya-miskin. Ini hubungan kasih sayang. Hubungan yang indah dan menyenangkan. Itulah kenapa saya cenderung meniru mami. Meminta boleh juga kok karena itu berarti memberi kesempatan pada orang lain untuk merasakan nikmatnya memberi. Asal tanpa ke-ndermis-an.

PS: Yang ndermis minta buku gratisan tiap kali buku saya terbit juga banyak. Padahal kenal juga nggak. Sedih.