Tak Perlu Kau Tudingkan Jarimu

Beberapa bulan lalu mencuat kasus seorang ibu (23 tahun) menganiaya anaknya (4 tahun) hingga tewas. Saya tak tahu persis aspek ‘when and where’ kejadian itu, dan terlalu pilu untuk membaca beritanya. Sebelumnya seorang ibu tiri juga ‘tanpa sengaja’ menyikut anak tirinya yang ‘bodoh’ saat belajar membuat si anak roboh menghantam (tembok/lantai?) dan tewas. Bukan kasus yang asing. Kalau didaftar bisa berkilo-kilo byte habis.

 

Kasus semacam itu selalu membuat kita sedih dan terperanjat, lalu terlupakan tak lama kemudian. Dan saat cerita-cerita semacam itu beredar, tak pelak lagi, pasti terlontar komentar semacam, “Ibunya tega banget.” Selalu dan selalu saja, bila ada bayi lahir lalu ditelantarkan/dibunuh oleh ibunya, komentarnya tak jauh-jauh dari menyalahkan si ibu. Lha, iyalah, mau menyalahkan siapa lagi? Bagaimana dengan bapaknya? Yah, kan yang berbuat salah ibunya! Tapi pernahkan kita bertanya mengapa si ibu sampai berbuat begitu?

 

Konon, tak ada ibu yang tega membunuh anaknya. Binatang pun tak bakal berbuat sekejam itu (sebenarnya ada induk binatang yang membunuh anaknya, tapi… yah bukan itu yang saya bahas). Apa yang saya dengar dan saksikan membuktikan bahwa manusia adalah makhluk paling ganas dan kejam di muka bumi. Manusia menyakiti sesama atau makhluk lain, mengambil lebih dari yang ia butuhkan, dan membunuh? Ya, manusia tega membunuh, bahkan anaknya sendiri.

 

Ikut Sakit

Setelah menjadi ibu, barulah saya merasakan beratnya peran yang satu ini. Tantangan kondisi fisik selama hamil dan melahirkan kadang tak mudah bagi sementara perempuan. Ini masih ditambah perubahan psikologis yang naik turun. Tiap ibu merasakan kondisi yang berbeda, tapi takut dan cemas nyaris selalu ada.

 

Setelah melahirkan beragam tantangan baru muncul lagi. Bayi butuh pendampingan ’24 jam’ –dan berlangsung seperti ini: nyusu, eek, pipis, nangis, nyusu, eek, pipis, nangis, (ulang kembali).  Ritme si ibu berubah drastis (kadang si ibu mesti kehilangan pekerjaan, hobi, dan jam tidurnya), sementara tugas baru, berat, dan membosankan tak bisa diabaikan. Harus diakui proses melahirkan dan mengasuh anak tidak hanya melulu lagu merdu.

 

Jadi bayangkan saja bila itu masih ditambah kesulitan keuangan, suami yang tak peduli (suami yang tak membantu masih dianggap ‘mending’ karena ada suami yang sudah nggak membantu mengganggu pula) dan hingga masalah lain yang cukup kompleks (taruhlah kekerasan domestik). Tetapi tiap kali si ibu melakukan sesuatu yang tidak baik, komentar kita yang nggak menjalani adalah, ‘tega amet sih ibu, anaknya nangis dibiarin.’, ‘males banget sih ibu itu, cucian numpuk dionggokin’ atau ‘ih, kejam banget sih, anak sendiri dipukulin’, tanpa kita mau tahu apakah si ibu lahir batinnya sejahtera.

 

Pernah suatu pagi di pinggir jalan saya melihat seorang ibu duduk nglemprok di trotoar.  Motornya ia hentikan begitu saja di pinggir jalan. Ia membawa dua anak bersamanya, yang besar seorang bocah laki-laki berseragam SD, yang kecil perempuan mungkin tiga tahunan usianya. Yang membuat heboh orang-orang adalah si anak SD njempling-njlempling nangis sambil teriak-teriak, “Aku mau pulaaanggg, aku nggak mau sekollaaaahhh. Pulllaaaanggg!” Itu terus yang diulang-ulang. Si adik perempuan duduk di atas motor, cengok. Anak perempuan kecil itu dan ibunya bertampang sama: kusut masai. Bajunya kumal, tubuhnya jelas belum terbilas air mandi. Si kecil tambah kumal lagi karena celemongan ingus. Habis akal membujuk anak SD-nya (mungkin tak hanya membujuk), si ibu akhirnya duduk nggelesot saja. Air mata meleler di pipinya. Orang-orang merubunginya, tapi tak ada yang bisa membantu, meski mencoba.

 

Trenyuh benar saya memandangnya. Si ibu kelihatan sangat letih dan tertekan. Saya bayangkan paginya yang serba grudak-gruduk. Sarapan mungkin tak ada. Uang juga tiada. Anaknya rewel dan di mana suaminya? Apakah ia punya suami? Apakah suaminya sudah berangkat kerja? Apakah suaminya jadi TKI di luar negeri? Atau… mungkinkah dia masih bergelung tidur sementara istrinya berjibaku mengurus anak-anak dan pekerjaan lain? Apakah ia asyik merokok sambil minum kopi di warung sebelah (setelah minta uang pada istrinya dengan kasar?). Apa pun itu, inilah potret banyak perempuan yang mesti menanggung porsi besar pengasuhan anak-anak.

 

Unless We’ve Walked a Mile in Their Shoes

Kembali ke kasus yang saya kutip di awal. Anda tentu bisa membayangkan, bila si ibu berusia 23 sementara anaknya berusia 4 tahun, umur berapa ia melahirkan? 19! Yak 19 tahun! Bisa apa saya dan Anda pada usia segitu? Boro-boro mengasuh anak, mengelap ingus sendiri saja belum tentu bersih bukan? Dan mengapa ia punya anak (dan menikah) pada usia segitu? Silakan tebak sendiri. Tapi dapat saya bayangkan, betapa tidak siapnya si ibu muda ini. Mungkin ia banyak bertengkar dengan suaminya yang umurnya masih sama mentahnya. Mungkin dia korban ‘dating rape’ dan tak pernah menginginkan kehamilan. Mungkin suaminya manggrok di game center sementara ia kerepotan menangani urusan domestik dan kemungkinan besar ekonomi mereka nggak mapan.

 

Saya pikir sebagian besar kasus kekerasan pada anak tumbuh dari akar-akar semacam itu. Ini diperparah dengan stigma masyarakat yang memang  membebankan sebagian tanggung jawab ‘kesalehan sosial’ pada perempuan.

 

Sungguh tak mudah menghilangkan nyawa, bayi yang baru lahir sekali pun. Saya bayangkan perempuan-perempuan malang ini harus menyembunyikan kehamilannya dan saat tiba waktu melahirkan mereka harus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi pula. Itu saja sudah sulit sekali secara lahir maupun batin. Dan mengakhiri hidup sesosok makhluk mungil juga sungguh tak mudah. Kalau menyembelih ayam pun susah dan bikin miris, bagaimana pula dengan melakukannya pada manusia? Bagaimana pula bila itu darah daging sendiri? Apa yang dirasakan si ibu? Tersayat-sayat habis pasti. Sedih, takut, bingung, gemetar tak keruan, nyaris gila. Mereka amat sangat takut dan amat sangat tahu itu keliru tapi amat sangat terpaksa melakukannya. Dan mereka masih harus menyembunyikan bukti, menghilangkan jejak, lalu menghadapi hukum bila ketahuan. Dan andai tak ketahuan, rasa bersalah mereka kemungkinan bakal menghantui seumur hidup. Saya sangat yakin, andai mereka punya pilihan yang lebih baik, mereka akan memilihnya. Tapi kan dia bisa meninggalkan bayinya di panti asuhan? Atau serahkan pada keluarga adopsi Atau apalah! Saya yakin semua pertimbangan sudah ia pikirkan, sudah ia bolak-balik berkali-kali, tapi sekali lagi, kecuali kita memakai bajunya, makan dari piringnya, dan tidur di kasurnya, kita nggak bakal tahu apa yang ia alami.

 

Tahun lalu kalau tidak salah, seorang mahasiswi kehilangan nyawa setelah ia melahirkan bayinya –yang juga tak selamat– di kamar kos secara sembunyi-sembunyi. Rupanya ia mengalami perdarahan. Miris? Banget. Kok ya nggak ke bidan atau gimana? Oalah, kalau dia punya suaminya yang ngantar, ya jelas lah dia bakal ke bidan atau dokter kandungan. Kalau masyarakat tak menghakimi dia sebagai ‘perempuan murahan yang bahkan tak bisa menjaga pahanya agar tetap rapat’ bisa jadi dia minta pertolongan. Andai keluarganya bakal mendukung dan menerima ia apa adanya, ia mungkin bakal melahirkan bayi itu di rumah sakit. Andai ia bukan korban perkosaan, dan bila lapor harus mengulang tragedinya dengan rinci dan ujung-ujungnya dipaksa menikah dengan orang yang memperkosanya (sebarapa hororkah itu?), mungkin ceritanya tak kan begitu.

 

Teganya Kita

“Mother never fails herself,” kata bidan kondang Robin Lim, “It’s the society that fails her.” Tak ada ibu yang gagal. Masyaratkatlah yang bertanggung jawab untuk membantu perempuan agar ia bisa menjadi ibu yang baik. Kalau ingin istri kita menjadi ibu yang baik, ya jelaslah kita harus membantunya. Tak hanya suami yang punya tugas ini, tapi juga ibu si ibu, ibu mertua, adik si ibu, tetangga si ibu, bidan si ibu, dan seterusnya.

 

Tak adil kita bilang ‘tega banget sih ibu kejam itu’, kalau kita juga tidak membantu. Tak usah kometar kalau bisanya cuma menuding-nuding jari. Kita tak pernah tahu apa yang ia alami, apa yang ia rasakan, atau apa yang harus tanggung bila membesarkan anak. Pun, kita juga tak tahu apa yang ia derita saat ia terpaksa atau tanpa sengaja mengakhiri hidup anaknya. Apalagi ternyata itu adalah ‘dosa’ kita semua. Dosa kita yang mengecap bahwa perempuan hamil di luar nikah bukanlah perempuan baik-baik. Dosa pemuka agama yang bilang ‘jangan terima bila segel rusak’ menyangkut keperawanan. Dosa ibu mertua yang mengatakan ‘kok bisa-bisanya kamu nuduh anakku selingkuh. Kalau pun dia selingkuh itu pasti karena kamu nggak bisa nyenengin suami’. Dosa masyarakat yang mengajarkan ‘laki-laki gagah tidak pantes cuci baju’, bahwa istri harus nurut suami apa pun keadaannya, bahwa tugas perempuanlah mendidik anak (dan bila gagal itu salahnya). Kalau kita tak mampu meringankan, setidaknya tak perlu kita tambahi beban di pundaknya.

Advertisements

2 thoughts on “Tak Perlu Kau Tudingkan Jarimu

    1. kenterate Post author

      Ya betul ada kondisi luar biasa yang memaksa si ibu membunuh ibunya dan itu pasti kondisi yang sangat menekan. Membunuh bayi bukan perkara mudah dan pasti dilakukan dengan sangat terpaksa.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s