Tag Archives: keluarga

Anak ‘Nakal’: Salah Siapa Sebenarnya

“Ibu dituntut (sekian milyar) oleh anak kandungnya sendiri.”

“Anak aniaya ibu kandung.”

“Manula terlantar di panti jompo, tak pernah dijenguk anak-anaknya.”

“Anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan umum.”

 

Setiap membaca berita-berita semacam itu, ngenes, prihatin, geregetan bercampur. Kok bisa sih, seorang anak kurang ajar banget pada orang tuanya sendiri? Bila kebetulan berita semacam itu beredar di medsos, komentarnya pasti gondrong dan nadanya mirip-mirip, “Kasihan banget si ibu.” Atau “Anak durhaka. Nggak ingat pengorbanan ibunya dulu?” Atau “Astaghfirullah. Nggak takut sama neraka?” Atau, “Anak-anak zaman sekarang memang keterlaluan.” Intinya sih, selalu menyalahkan si anak. (Lha, mau nyalahin siapa lagi, sih? Wong jelas anaknya yang  salah).

 

Benarkah Ini Salah Anak?

Saya pernah baca kisah seorang pegiat LSM anak yang punya masa kanak-kanak yang kelam. Sewaktu masih kecil ia sering dikasari oleh ayahnya yang kebetulan dosen di IAIN (IAIN mana saya tak begitu ingat). Ia menjadi korban kekerasan fisik, verbal, dan psikologis yang dilakukan sang ayah. Ia tak berani membantah karena si ayah dan guru agama mendengungkan dalil bahwa menaati orang tua wajib hukumnya.   Yang tak pernah didengungkan tentu saja, bahwa orang tua punya kewajiban mendidik dan mencintai anak-anak mereka. Syukurlah ia berhasil lepas dari lingkaran trauma dan akhirnya menjadi pembela anak-anak.

 

“Anak saya itu… duh, habis kesabaran dibuatnya. Nuakal banget.”

“Nggak tahu kenapa anak saya bisa jadi berandalan kayak gitu. Saya marahi juga nggak kapok.”

“Saya sudah nyerah soal anak saya. Nggak bisa diatur. Dikasih tahu juga nggak digubris.”

 

Keluhan-keluhan semacam itu tak asing, bukan? Orang tua memang sering mengeluhkan anaknya. Wajar. Tapi sungguh lho, kadang saya ingin membalikkan pertanyaan, “Lha kok bisa?”

 

“Anak saya baru lima tahun, tapi udah kecanduan gadget.” Lha kok bisa?

“Anak saya yang SD itu berani lho ngomong kasar sama saya.” Lha kok bisa?

“Anak saya ikut geng motor.” Lha kok bisa?

 

“Generasi sekarang itu memang payah. Manja. Malas. Tak punya sopan santun.” Entah bagaimana generasi terdahulu selalu merasa generasi setelahnya lebih buruk daripada generasi mereka. Ini tak selalu benar. Tapi benar atau salah, saya pikir generasi kita bertanggung jawab untuk mendidik generasi sesudahnya. Jadi kalau generasi anak-anak kita ‘payah’, mungkin kitalah yang payah sebagai orang tua. Kalau murid-murid ‘bodoh’, bisa jadi yang salah adalah gurunya yang tak piawai mengajar.

 

Terpengaruh Teman-Temannya

Seorang bapak mengeluhkan anaknya yang mogok sekolah dan malah berendang-berendeng sama geng motor modifikasi. Si anak bahkan menghabiskan sekian juta demi memodifikasi motornya. Tapi, si Bapak walau mengeluh-ngeluh ya tetap ngasih. Dan si bapak bilang, “Dia itu terpengaruh temannya.”

 

Terpengaruh teman. Terpengaruh TV. Terpengaruh internet. Apalah. Pengaruh luar ini sering banget dijadikan kambing hitam para orang tua bila anaknya bermasalah. Dalam bukunya Getting your Kids to Say No in the 90s when You Said Yes in the 60s, Victor Strasburger, si penulis, menyatakan, semua itu bukan alasan. Menurutnya, kalau anak kita katakanlah terpengaruh teman-temannya pakai narkoba, itu salah kita juga sebagai orangtua yang membuat si anak mudah terpengaruh. Mengapa anak kita tak berani menolak? Dan bahkan, mengapa anak kita bisa berteman dengan orang-orang yang salah? (anyway, saya sendiri pernah berteman dengan ‘orang yang salah’, tapi akal sehat kemudian menuntun pada fakta  bahwa ada sesuatu yang salah pada teman yang awalnya saya kagumi itu).

 

Jangan-jangan dari kecil kita memang selalu menuntut anak kita untuk manut dan manut. Bisa jadi kita tak pernah memberi kesempatan si anak untuk berani menolak dan berani berargumen dengan ortunya yang berakibat ia pun tak bisa bilang ‘tidak’ pada rekan sebayanya saat mereka menawarkan hal-hal yang tak ia suka.

 

Bagaimana pun Kita Punya Andil

 

Kalau anak kita hendak merampas harta kita gara-gara disuruh oleh suami atau istrinya, salah kita juga karena membuat si anak tak bisa memilih pasangan dengan benar atau ketika pasangannya mengajaknya berbuat tak benar, ia tak berani menolak.

 

Saat mendengar berita anak durhaka, terkadang simpati saya bercampur dengan rasa penasaran. Kok si anak bisa durhaka? Mengapa si anak ‘menelantarkan’ orang tuanya di panti jompo dan tak pernah menengoknya sama sekali meski mereka tinggal dekat dari situ? Tak ada kedekatan di antara mereka yang membuat si anak rindu?  Jangan-jangan memang tak ada kenangan manis tentang orangtuanya yang melekat di memori si anak?

 

Mengapa si anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan orang banyak? Adakah si orang tua mengajarkan si anak untuk tidak memaki? Untuk sabar dan berwelas asih? Adakah si orang tua memaki si anak waktu kecil dan serba tak sabar padanya? Apakah si anak punya kebiasaan itu karena mencontoh orang tuanya?

 

Bagi saya interaksi antar individu pada dasarnya adalah aksi dan reaksi. Apa yang kita beri akan kita dapatkan balik, kok. Termasuk rasa hormat. Tidak, kita nggak bakal dapat rasa hormat dari anak dengan bersikap galak atau ancaman api neraka. Kita akan dapatkan rasa hormat dari anak, bila kita menghormati mereka. Kita dapatkan cinta kasih, bila kita mencintai dan mengasihi mereka.

 

“Ah, ada tuh teman yang udah aku baikin, eh tahunya nusuk dari belakang.” Yup, selalu ada. Tapi berapa jumlahnya? Saya kok yakin yang seperti itu cuma satu dua di antara yang banyak dan baik.

 

Walau Memang Tak Sesederhana Itu

Meski pengamatan saya membuktikan sebagian besar orang tua yang baik akan menghasilkan anak yang baik, saya sadar benar ada faktor X yang membuat hidup ini tidaklah hitam putih (dan itulah yang membuat hidup ini misterius sekaligus menarik).

 

Ada orang tua yang sudah mendidik anaknya dengan sangat baik, dengan penuh kasih sayang dan segala kesabaran, tapi eh, si anak tetap saja ‘membelok’. Sebaliknya, ada orang tua preman yang yah, sebenarnya nggak pantes jadi orang tua, tapi entah bagaimana, anaknya malah ‘ndalan’.

 

Ada ortu yang ‘sangat kanan’, eh anaknya jadi ‘sangat kiri’ dan sebaliknya. Ya sudah, yang begini ini memang tak bisa kita tolak. Mari kita usahakan apa yang mampu kita usahakan. Sayangi anak-anak kita dan kalau mereka ‘gimana-gimana’, mari kita berefleksi, jangan-jangan mereka begitu karena kita begini.

Advertisements

Pindahan (Semacam Racauan Nggak Penting)

Saya barusan pindah rumah. Akhirnya! Setelah sekian tahun mendamba. Rumah yang saya tempati kali ini adalah rumah baru tapi lama. Saya bilang baru karena ya baru saya tempati sekarang dan belum pernah ditempati siapa pun sebelumnya. Saya bilang lama karena sudah dibangun sejak tujuh tahun yang lalu.

Rasanya begitu nyaman dan damai. Ayem, meski rumah kami belum jadi sepenuhnya. Sebagian lantainya bahkan masih berupa semen kasar berselimut tanah. Tapi seperti kata Godbless ini adalah… rumah kitaaaa sendiri (yak ketahuan saya generasi 90an). Berdiam di rumah yang sama sejak kecil, saya tak menyadari betapa vitalnya hal satu ini bagi sebagian besar manusia. Sebagian saya bilang, karena sebagian yang lain merasa nyaman tanpa memiliki rumah berbentuk fisik. Nah kebetulan saya bukan tipe seperti itu.

Saya dididik untuk menjadi anak rumahan. Saya dididik untuk tinggal di rumah dan menemukan kebahagiaan di dalamnya. Bercengkerama, makan bersama, membuat kue, hingga berkumpul dengan teman dan tetangga di. Meski pernah tinggal di luar Jogja untuk waktu yang agak lama, saya tak pernah menyebut tempat-tempat itu sebagai rumah. Rumah saya ya… rumah yang itu.

Jadi ketika akhirnya saya punya rumah sendiri, wow, rasanya kayak menyelesaikan suatu PR yang sangat besar. Malah, rasanya seperti melewati satu tahapan hidup!  Apalagi rumah ini memiliki fitur yang lebih baik dari rumah lama (tentunya); lingkungan yang lebih baik, tenang, dan bersih, jalan yang lebih lebar (di kampung lama kami bahkan harus menuntun motor dan mobil nggak bisa masuk) dan atmosfir yang lebih kreatif.

Jatuh Bangun

Kami membangun rumah ini ‘sendiri’ alias tidak memakai jasa developer dan begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan, bahkan pelajaran dari kesalahan. Kesalahan yang juga banyak. Awalnya kami merasa kecewa, jengkel, atau menyesal saat kami sadari ada yang salah di sana sini. Kesal rasanya melihat floor-drain yang salah pasang. Tapi lama-lama kami menyadari kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kami beradaptasi dan bahkan bilang, “Oke, yang ini untuk pengingat, besok kita harus lebih berhati-hati.” Anto yang perfeksionis bahkan mulai semeleh. Dan saya sangat takjub dibuatnya. Dia tak lagi menuntut semuanya simetris, eksak, dan sempurna. Dia bahkan bisa bilang, “Ketidaksempurnaan itu indah.”

Kami juga belajar untuk tumbuh, untuk beradaptasi, untuk menggali ide-ide baru. Ada saja ide yang terbersit dan membuat kami menyimpang dari blue print. Kalau lebih bagus kenapa tidak?

Untuk hal ini kami berhutang pada desainer kami Mas Cahyo. Dia banyak membuka mata kami, bahkan mengubah pola pikir kami. Anto yang dulunya kaku menjadi lebih kompromis. Saya yang dulunya ngejar ‘modern’, kini lebih arif pada nilai-nilai tradisional. Kami yang dulunya saklek jadi lebih fleksibel. Saya pernah dengar,  “Kalau ingin menguji ketangguhan perkawinan, bangunlah rumah bersama-sama!” Oke, teori itu tentu masih perlu dibuktikan, tapi mari kita amini untuk saat ini.

Salah satu kalimat Mas Desainer yang saya ingat adalah, “Simetris itu alat bukan tujuan.” Sementara yang diingat Anto adalah, “Bukan pohon yang mengganggu rumah, tapi rumah yang menganggu pohon.” Dahsyat dah.

Tak terbilang tentunya berapa panjang diskusi kami. Beberapa di antaranya diiringi perdebatan dan tampang cemberut. Ada cemas dan capai menyelip, tapi kami sudah tak ingat lagi. Begitu pindah, yang kami rasakan hanya “Good job, yuk terus bekerja.”

Pindahan

Saya dulu selalu iri melihat teman-teman saya yang sering pindah rumah. Kalau pindahnya karena tugas (anak diplomat misalnya), masih wajar buat bikin iri. Tapi saya bahkan iri bila teman saya pindah karena kontrakannya sudah habis! Saya bayangkan pindah itu pasti seru. Tinggal dan melihat lingkungan baru! Wow!  Saya belum pernah mengalaminya.

Dari lahir jebrot sampai usia segini saya tinggal di rumah yang sama. Membosankan. Begitu pindah (meski hanya sekilo jauhnya), saya sangat excited, meski rasa iri kanak-kanak saya sudah pupus. Sudah lama saya menyadari teman-teman saya para ‘kontraktor’ itu pasti merasa tidak nyaman. Ortu mereka tak pernah tenang dan kadang mereka pindah ke lingkungan yang lebih buruk.

Itu tak terbayang di masa kanak-kanak saya. Sama halnya saya selalu iri pada teman yang punya rumah bertingkat atau punya loteng. Keren banget kan bisa lihat bumi dari tempat yang lebih tinggi. Rumah saya yang datar meleter itu terlihat sangat membosankan. Saya nggak pernah mikir mereka terpaksa buat rumah bertingkat kerena nggak punya lahan.

Ada rasa sakit saat kita harus meninggalkan apa-apa yang biasa kita punya. Tetangga yang sudah kompak dan bahkan dengan santainya bisa kita mintai bumbu dapur. Pasar yang sudah sangat saya kenal sampai bau-baunya dan rumah… ya rumah dengan segala kenangan. Anto sampai nangis waktu packing. “Ingat Ibuk,” katanya. Lah, padahal itu rumah saya, itu ibu saya, yang nangis malah Anto. Saya pilih nyingkir. Takut ikut nangis lebih keras.

Angger juga sempat menolak pindah meski sudah kami beri pengertian sejak lama dan perlahan-lahan hingga akhirnya dia yang ngejar-ngejar buat pindah.

Dan pindahan itu ternyata ribet masya ampun. Mulai dari packing, ngangkut, sampai… kehilangan barang. Capeknya seminggu baru hilang.

Tapi saat saya mengeluh tetangga saya bilang, “Mending Mbak ini pindah ke rumah sendiri, lah kalau pindah ke rumah kontrakan?”

Iya juga ya. Satu keuntungan lagi, rumah saya yang lama ditempati adik saya. Jadi barang ketinggalan bukan masalah. Saya masih wira-wiri rumah lama-rumah baru. Syukurlah, kini saya punya kenangan dua kenangan atas ‘rumah’. 

Mengapa Homeschooling?

Homeschooling (HS) semakin ngetrend. Pelan-pelan metode pendidikan rumah ini makin popular. Setidaknya itu yang saya amati sepintas dari komunitas HS di kota saya. Peminat dan anggotanya makin banyak, meski banyak di sini juga sebetulnya amat sangat sedikit dibanding peminat sekolah reguler. Majalah Esquire (entah edisi berapa) menyebut HS sebagai makhluk seksi pendidikan.

Sebelum saya bercerita lebih banyak, saya tegaskan dulu bahwa yang dimaksud dengan HS di sini adalah pendidikan mandiri di RUMAH yang sebagian besar atau malah seluruh ‘pelajaran’-nya dijalankan oleh orang tua siswa dan bukannya institusi pendidikan formal yang menyebut diri mereka sendiri homeschooling seperti  Homeschooling Kak Seto atau Homeschooling Primagama.

Saya tertarik dengan HS, meski  belum memutuskan apakah akan mendidik Angger di rumah atau mengirimnya ke sekolah. Kalau ini hanya keputusan saya dan suami sih, rasanya sudah bulat, HS adalah pilihan terbaik setidaknya hingga saat ini. Tapi kami tetap akan mempertimbangkan pendapat Angger. Kalau ia ingin bersekolah di sekolah regular ya apa boleh buat.

Ada beberapa keluarga HS yang saklek ingin mendidik anak mereka secara mandiri karena menilai HS adalah yang terbaik bagi mereka. Saya bukan tipe yang berpikir seperti itu, tapi juga tak hendak menentang pendapat semacam itu karena di sinilah uniknya HS: setiap keluarga memiliki alasan tersendiri, berhak menentukan kurikulum sendiri, berhak memilih metode sendiri sesuai dengan minat anak dan nilai-nilai keluarga. Kenapa? Karena salah satu alasan orang tua memilih HS adalah menghindari kurikulum sekolah yang sama rata meski siswa-siswinya memeliki latar belakang yang beragam.

Alasan Memilih HS

Kenapa memilih HS? Saya awalnya belajar mengenai HS semata-mata untuk memperbanyak opsi. Makin banyak pilihan makin bagus kan? Kalau bisa sih, saya ingin mempelajari semua metode pendidikan. Tapi itu kan agak sulit. Jadi ya sudah, saya pelajari apa yang ada di sekitar saya. Saya tanya-tanya pada teman-teman, gimana sekolah A, gimana pesantren B, gimana les bahasa Inggris di tempat C, dan seterusnya.

Kalau kami menganggap HS adalah metode pendidikan terbaik bagi kami (sekali lagi sampai saat ini) itu dikarenakan kekecewaan kami pada sekolah dan sistem pendidikan pada umumnya.

Saya tidak menikmati pendidikan TK-SMA saya. Oke, ada kesenangan-kesenangan yang saya dapat, tapi banyak yang membuat saya kecewa. TK saya kenang sebagai masa si pemalu. Secara sosial saya belum siap bergaul dengan teman sebaya.Saya menghabiskan jam istirahat mengamati teman saya bermain. Ketrampilan fisik saya saya yang di bawah rata-rata membuat saya ogah berpartisipasi.

Masa SD saya sebut sebagai masa galau. Meski saya juara pertama terus dari kelas dua hingga kelas enam, saya banyak mindernya. Kok bisa? Bisalah, wong saya nggak bisa nyanyi, nggak bisa olahraga, sering semaput pula waktu upacara. Dan lagi-lagi saya nggak piawi bergaul. Kadang saya takut teman-teman membenci saya karena satu hal: saya pintar dan juara terus.

Masa SMP adalah masa minder. Kok bisa saya yang SD juara terus bisa goblok mendadak? Benar-benar misteri. Fisika membuat perut saya mulas habis (dalam arti sebenarnya). Saya mulai punya banyak teman, dan kehidupan sosial saya beranjak menyenangkan, tapi kehidupan akademis saya hacur lebur, membuat saya berpikir saya ini bodoh. Saya merasa jadi pecundang, tak punya keistimewaan. Saya tidak cantik –yang penting banget waktu SMP–, nggak keren, nggak kaya, dan seterusnya.

SMA adalah masa depresi. Parah. Meski secara fisik dan perilaku saya terlihat biasa-biasa saja. Aneh banget karena saya sekolah di SMA favorit (yang berarti sebenarnya saya nggak bodoh), tapi kok ya saya merasa superbodoh. Saya tertekan berat. Nggak cuma hal-hal akademis yang membuat saya depresi, tapi juga masalah hal-hal khas bullying antar-siswa. Apakah di SMA negeri favorit ada bullying? Ada, meskipun bentuknya bukan kekerasan fisik dan pemerasan yang bisa dikategorikan kriminal, tapi lebih pada sosial dan emosional bullying (nggak pakai jilbab, calon penghuni neraka. Memelihara kuku panjang, temannya setan. Main teater? Kafir.  Pakai seragam nggak pakem, pemberontak.  Perempuan nyanyi? Haram. Masuk IPS? Bego. Nggak ikut acara wajib? Ancaman nilai jeblok. OSPEK? Suruh lari-lari dalam cuaca panas dan bikin kartu nama yang bersudut sempurna –alih-alih yang nyeni– dan seterusnya).

Masa inilah yang membuat luka terbesar dalam diri saya menyangkut pendidikan. Saya berada di luar mainstream dan akibatnya saya MERASA dikucilkan serta ditolak.

Tidak semua orang kayak saya tentu saja. Banyak teman-teman SMA saya yang riang gembira dengan aturan dan sistem seperti itu. Banyak yang enjoy dan happy menghadapinya. Tapi, jujur bukan itu pendidikan yang ingin saya berikan pada anak saya.

Sekolahin ke swasta dong. Yang elit dan menjunjung tinggi kreativitas dan keunikan individu. Duite sopo? Kalau pun saya kuat mbayar, pedih saya membayangkan anak saya hanya bergaul dengan orang kaya. Pedih membayangkan anak saya akan study tour ke Singapura dan sebagainya.

Saya baru bisa menikmati pendidikan saat saya kuliah. Tapi mungkin giliran teman saya yang depresi.

Suami saya kerja dalam bidang pendidikan. Dan ini membuatnya mengerti benar tentang kondisi pendidikan di Indonesia, mulai dari gurunya yang ‘bodoh’, males, suka curang, sampai cuma mikir duit tanpa mikir kinerja.  Serius nih. Ingat tes uji kompetensi guru secara nasional tahun 2013?

Nilai rata-rata kompetensi guru (secara akademis) adalah 42,25 (skala 0-100), bahkan ada yang dapat nilai 1.0 (terendah).

Sekarang coba pikir, kok bisa anak-anak didiknya diminta mengerjakan UN dengan standar kelulusan 5.5 (skala 10)? Curanglah jawabannya!

Itu baru satu alasan. Saya belum membahas soal kurikulum yang tidak masuk akal dan tidak perlu (apa urgensi mengajarkan TIK pada anak kelas satu SD misalnya), bullying di sekolah, metode mengajar, soal pendidikan budi pekerti, komersialisasi pendidikan, dan seterusnya.

“Yang paling capek adalah membongkar dan memperbaiki ‘pengetahuan’ anak setiap saat dan aku nggak pengin melakukan itu,” kata Anto, suami saya. Maksud Anto adalah udah capek-capek kami ngajarin anak untuk membuang sampah di tempatnya –bahkan memilahnya–, eh di sekolah teman-temannya, bahkan gurunya, buang sampah sembarangan. Sudah capek-capek saya memilihkan makanan sehat untuk anak saya, eh waktu ada acara di sekolah, gurunya membagikan snack kemasan ber-MSG tinggi. Itu misalnya saja.

Alasan teman-teman lain

Saat berbagi bersama teman-teman yang tergabung dalam komunitas pendidikan mandiri (untuk mempermudah pendidikan anak-anak mereka, orangtua HS membutuhkan komunitas, dengan demikian mereka bisa membentuk klub olaharga, klub seni atau klub-klub lain untuk mewadahi minat anak-anak dengan lebih mudah dan murah), saya baru mengerti betapa beragamnya alasan orangtua memilih HS untuk mendidik anak mereka.

Seorang ibu, sebut saja Mbak A, menceritakan kisahnya yang mengharukan saat menjadi guru di Ambon. Kekerasan fisik sudah menjadi ‘budaya’ di sana dalam mendidik anak. Anak dipukul itu sudah biasa. Yang paling parah menurutnya anak-anak itu (SMA) tidak tahu apa yang mereka inginkan. Bagi Mbak A yang mengajar bahasa Inggris, bahasa Inggris itu nggak penting-penting amat buat mereka. Yang lebih penting adalah mereka mengetahui apa yang mereka inginkan untuk hidup mereka.

“Yang paling menyakitkan,” kata Mbak A, “suatu hari Senin anak-anak itu datang membawa piala sambil bersorak-sorai. Hari sebelumnya mereka bertanding sepakbola dan juara dua. Seorang guru merebut piala itu dan membuangnya ke tempat sampah dan berkata, ‘ngapain kalian juara dua? Seharusnya kalian bisa dapat juara satu.’” Mbak A sangat emosional dan para pendengarnya ikutan tercabik-cabik. Ini di sekolah lho!

Mbak A juga cerita anaknya di-bully di sekolah. Guru bahasa Inggrisnya bilang si anak sudah hopeless dalam pelajaran bahasa Inggris. Padahal si anak baru kelas satu SD! Teman-temannya juga suka mengganggunya karena dia lambat dalam menulis.

Puncaknya si guru bilang –meski sambil bercanda—“Wah, kamu ini kayak ubi ya,” sambil mengelus badannya (yang kebetulan memang lebih bongsor dibanding teman-temannya). Sampai rumah si anak tanya, “Bunda Bu Guru bilang aku kayak ubi, itu maksudnya apa ya?”

Bapak B yang mengisahkan perjalanannya sebagai relawan pendidikan dari Sabang sampai Merauke menegaskan hal ini. Di Indonesia bagian timur kekerasan fisik sudah menjadi bagian sehari-hari dalam pendidikan. “Untuk mengajak seorang siswa masuk kelas, seorang guru perempuan, perempuan lho, menarik tangan si anak ke belakang dan menendang pantatnya ke depan! Itu biasa.”

Sementara di Aceh, ia bercerita, anak-anak sama sekali tidak punya gagasan atau inisiatif. “Ditanyain hobinya nggak tahu, disuruh cerita nggak bisa, disuruh ngomong apa pun nggak mau.”

Mbak C mengisahkan anaknya yang dibully di TK. Gurunya menyeret tangan si anak bila anak dianggap terlalu lamban. Kalau anaknya lari-lari terus si guru berteriak, “Kamu tuh kok nggak bisa diam sih?”

Mbak D bilang semenjak masuk SD anaknya yang biasanya jadi ceria jadi murung terus.

Ideal

Saya tidak melebih-lebihkan kisah di atas. Itu semua cerita yang saya dengar sendiri. “Tapi kan tidak semua sekolah begitu. Sekolah anak saya bagus kok, dan anak saya menikmati sekolah.”

Alhamdulillah kalau begitu. Saya sendiri produk sekolah regular dan meski ada pengalaman buruk seperti yang saya tuturkan di atas, toh saya ‘sukses’ saat ini. Ya, sukses menurut ukuran standar lah. Saya berpendapat tak ada system yang sempurna untuk semua orang.

Ada anak-anak sekolah regular yang ‘sukses’, ada pula yang ‘gagal’. Anak HS juga begitu. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, dengan segala kemudahan dan kerepotan, yang penting bagi saya adalah menelaah kembali apa alasan ‘perjalanan’ kita. Setelah kita tahu alasannya, mari kita tetapkan tujuan kita. Setelah kita tahu tujuan kita, mari cari kendaraan yang paling cocok bagi kita dan mampu membawa kita ke sana. Dan nikmatilah perjalanan itu dengan terus waspada dan mawas diri.

 

Kemping Penak

Sabtu Minggu lalu saya mengikuti kemah yang diselenggarakan oleh komunitas pegiat pendidikan mandiri (homeschooling) dan saya benar-benar terpana karena kemah sekarang itu… enak sekali. Maklum, sekian kali berkemah saya nggak pernah kemah dengan nyaman. Dan omong-omong, sekian kali kemah yang sama omongkan itu adalah kemah bertahun-tahun yang lalu. Lebih dari lima belas tahun yang lalu.

Saya terakhir kali kemah waktu SMA. Itu pun tidak bisa dibilang kemah karena kami menginap di rumah penduduk alih-alih di tenda gara-gara hujan yang sangat deras. Kemah di SMA itu saya jalani dengan sangat ogah-ogahan. Selain karena label-nya wajib –kemah kok dipaksa–  waktu SD saya ikut kemah dan rasanya nggak nyaman.  WC-nya super kotor (ada ‘itu’ bertumpuk-tumpuk di lubang WC yang kering-ring tanpa setetes air pun). Alhasil saya sebisa mungkin menahan pipis dan eek di bumi perkemahan. Belum lagi tenda yang kotor, lingkungan sekeliling yang juga sama kumuhnya dan konflik dengan teman-teman (siapa yang mesti tidur di tepi, siapa yang mesti jaga tenda –seolah-olah tenda mesti dijagain–).

Dan kegiatan kemah dulu itu juga nggak asyik. Wong kemah kok pakai acara pengajian. Yaelah.

Jadi,  waktu mahasiswa saya langsung mengernyit ketika ada yang usul kemah sebagai acara darmawisata. Kemah? Oh, tidak!

Kemah Seru

Kemah kali ini diperuntukkan untuk keluarga dan mengambil tempat di Ledok Sambi yang masih lumayan dusun dan asri. Tempatnya aja sudah asyik. Ada kali kecilnya yang jernih, ada sawahnya, ada gunungnya. Dan kamar mandinya lumayan bersih. Lumayan lah.

Begitu kami datang, tenda sudah berdiri. Wah. Ini berbeda dengan tenda waktu saya SD. Kami harus berjibaku mendirikan tenda yang akhirnya juga didirikan oleh kakak pembina. Sewaktu saya memasuki tenda kali ini, saya kaget karena tenda kami tidak penguk alias apak! Hah, perasaan dulu waktu SD, tenda kami selalu penguk. Begitu saya berbaring di bawahnya, yang saya lihat adalah kain parasut warna-warni yang tidak menyilaukan mata dan tidak berjamur! Hah, dulu perasaan waktu SD tenda kami itu selain penguk juga jamuran (ngendok kremak) plus ada gambar cap ‘segitiga’ nya. Maklum waktu itu tenda dibuat dari kain bekas kantong terigu.

Dan oh, tak ada tongkat dan tali temali. Tenda itu bisa berdiri dengan kokoh tanpa tali temali dan tongkat bambu. Ajaib banget deh. Dan oh, bisa dilipat juga setelahnya.

Terus waktu hujan, tenda itu ternyata tidak bocor! Wah. Dulu kalau hujan, kami semua harus ‘mengungsi’ dari tenda dan tidur di rumah penduduk (nggak seru amat ya). Tenda ini juga rapat sehingga nyamuk pun tak bisa masuk. Ada ritsleting-nya di pintu. Tenda zaman dulu sih diikat dengan tali aja, jadi kalau ganti baju masih keliatan dikit gitu. Satu lagi, tenda ini juga dilengkapi dengan matras hangat plus sleeping bag. Dan sleeping bag-nya wangi! Ha, super sekali.

Bukan Manusia ‘Alam’

Saya bukan manusia ‘alam’, saya bukan petualang. Saya tidak suka hiking, tracking, camping, apa pun itulah namanya. Tapi sekarang saya punya anak dan saya merasa berkewajiban untuk mendekatkan anak saya pada alam. Dan saya bersyukur menemukan komunitas yang bisa bikin camping saya seenak ini.

Selain soal ‘tenda ajaib’ tadi, saya juga suka kegiatannya yang seru dan mendidik. Ada nilai-nilai yang diusung dan tidak ada mi instan! Dan cuma sabtu minggu, tidak berpanjang-panjang, cukup buat inisiasi untuk orang semacam saya. Sungguh kemping kali ini membuat trauma saya pada kemping hilang, malah pengin kemping lagi.

Apakah saya tidak mengeluh sama sekali? Hm, tidak juga sih. Di malam hari saya tak bisa tidur. Tak ada bantal. Mau bantalan dengan sleeping bag ketinggian dan bikin pegel. Tidak pakai bantal, nggak bisa tidur. Punggung saya juga pegel karena hanya beralas matras tipis dan tanah yang keras. Saat mata tak bisa terpejam saya ngobrol dengan adik saya.

“Tendanya bagus ya,” kata saya, “tidak bocor.”

“Iya, tapi di sebelah ada resort. Dengan kasur yang empuk dan TV.”

“Dan mandi air panas.”

“Lain kali kita bawa kasur ya.”

“Iya.”

 

Untuk referensi kegiatan kemah seru ini buka: Casper

Orangtua Tanpa Rasa Bersalah

Peringatan: Ini bukan artikel ilmiah dan jangan dijadikan rujukan.

Jadi anak zaman sekarang itu susah: banyak godaannya. Jadi orangtua zaman sekarang itu juga susah: banyak teorinya, banyak larangannya, banyak… rasa bersalahnya!

Serius. Contohnya saya. Saya lagi galau karena mendekati usia tiga tahun Angger belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti menyusu. Saya sebenarnya ingin membiarkan hingga dia berhenti sendiri. Tapi naga-naganya kalau saya biarkan, ia bakal menyusu hingga ia berkumis. Teori sounding dan segala macam itu nggak mempan. Mau tak mau saya harus menerapkan jurus sapih paksa.

Kalau dulu sih gampang aja solusinya: oleskan brotowali ke payudara atau plester payudara atau olesi payudara dengan obat merah, pokoknya sesuatu yang mengerikan atau… disuwuk oleh dukun. Suwuk itu semacam hypnosis, banyak yang bilang ini berhasil.

Tapi sialnya sekarang sudah teori weaning with love menyapih dengan cinta! Lah. Prinsipnya menyusui adalah proses yang penuh cinta, maka akhirilah proses itu dengan lembut dan penuh cinta pula. Pastikan anak, ayah, dan ibu sudah siap. Jangan sampai menimbulkan trauma pada si anak. Jangan sampai anak merasa tertolak. Jangan bohong dengan mengatakan payudara ibu sakit dan seterusnya. Dan tentu saja jangan pakai brotowali.

Kurangi frekuensinya sedikit demi sedikit, alihkan perhatiannnya, sounding ke si anak kalau dia sudah besar, anak besar minum dengan gelas dan seterusnya. Memangnya itu tidak saya lakukan? Sudah SETAHUN lebih saya melakukan itu woi!

Bersalah

Saya masih ingat postingan di salah satu grup pendukung gentle birth –nah, sekarang melahirkan aja ada macem-macem kan metodenya, meski keluarnya ya lewat situ-situ juga—yang mengungkapnya penyesalannya karena dia melahirkan dengan ceasar! Katanya, “Pantas anak saya jadi nakal-nakal.”

Esensi gentle birth adalah melahirkan dengan segala kasih dan kelembutan. Proses penuh kelembutan ini diharapkan menjadi pengaruh positif dalam tumbuh kembang anak, termasuk emosinya nanti. Gentle birth adalah konsep. Tapi entah gimana gentle birth jadi diartikan melahirkan dengan cara alami sambil nyemplung di kolam dan diiringi uyon-uyon.  Jadi perempuan yang melahirkan secara caesar (terlebih-lebih yang memang memilih cara ini karena nggak tahan sakit) adalah perempuan ‘terkutuk’, ini istilah yang terlalu dramatis sih, tapi ya pokoknya gitu deh.  Nggak bener juga untuk teriak-teriak saat melahirkan apalagi memaki-maki, menendang-nendang suami dan seterusnya. Nanti anaknya bisa jadi anak liar. Tentu saja ini pandangan yang nggak bener, tapi itulah, si ibu jadi sudah merasa bersalah atas sesuatu yang mungkin tidak salah.

Saya suka dengan konsep gentle birth. Itu konsep yang indah. Saya pengin juga menerapkan konsep itu bila punya anak lagi, tapi haloo… saya kenal banyak anak yang lahir lewat operasi caesar dan menjadi anak baik. Sebaliknya banyak pula bocah ndableg yang dulu lahir lewat jalan alami (Hm, mungkin dulunya ibunya nyumpah serapah pas melahirkan ya, entahlah).

Saya yakin ibu saya dulu seperti halnya ibu-ibu pada masa itu, nggak kenal dengan konsep gentle-gentle-an. Tapi kalau proses persalinan yang satu jam itu membekas pada saya, saya… saya tidak merasakannya.

Teman saya menyesal memarahi anaknya yang menggores layar i-padnya. Teorinya: memarahi anak saat ia merusak barang tanpa sengaja membuat si anak merasa tidak berharga. Setidaknya ia bakal merasa harga dirinya lebih rendah dibanding harga barang.

Nah, tuh, marah saat anak kita merusakkan gadget sekian juta saja tidak boleh! Susah, kan?

Sampai-sampai ada lho sekolah yang tidak pernah menganggap jawaban muridnya salah! Semua murid dapat nilai bagus, dapat komentar good, very good, excellent. Jawaban itu nggak penting, yang penting logikanya.

Kalau ada soal: Kita masuk rumah lewat…

a. pintu                 b. jendela            c. atap

jawaban apa pun yang dipilih si anak benar selama dia bisa menerangkan. Nggak masalah bila si anak menerangkan seperti ini: saya lewat atap biar nggak ketahuan si tuan rumah. Nggak papa, wong logis kok.  

Jadi anak zaman sekarang itu: nggak boleh trauma, nggak boleh dibohongi, nggak boleh disakiti, nggak boleh kecewa, harus selalu dipuji, tidak boleh dimarahi, harus selalu benar, tidak boleh salah.

Masalahnya adalah: dalam hidup memang ada yang benar dan ada yang salah. Dalam hidup, ada tindakan terpuji dan tercela. Dalam hidup, dalam satu titik kita akan kesakitan dan terluka.

Sakit dan luka bahkan merupakan cara agar anak dapat lebih kuat, lebih berani, lebih menghargai kebahagiaan.

Dalam artikel yang pernah saya baca (maaf, saya cari kok nggak ketemu) disebutkan orang Indonesia itu terlalu memanjakan anaknya. Sampai-sampai pas imunisasi saja si ibu bilang, “Maaf ya Nak, sakit sedikit.” Konon si ibu sampai ditegur bidannya (kebetulan dia imunisasi di luar negeri), “Ngapain minta maaf? Ini kan demi kebaikan si anak!”

Ngapain kita harus menyesal bila kita memarahi anak sekali-kali? Ngapain harus minta maaf saat kita harus meninggalkan anak untuk bekerja? Ngapain harus berlembut-lembut saat anak memang harus dikerasi agar mengerti?

Saya jadi maklum kenapa Amy Chua penulis Battle Hymn of Tiger Mother jadi sewot ketika sekolah mengeluh sekarang mereka (sekolah) kerepotan karena keras sedikit si anak, orangtua siswa pada protes semua. Amy Chua justru mendukung sekolah untuk mendisiplinkan anak. Perkara gurunya butuh teriak dikit-dikit ya nggak masalah.

Tanpa Kekerasan

Saya penganut ahimsa. Saya percaya kekerasan tidak akan menyelesaikan apa-apa, hanya meningalkan luka. Saya juga menyesal habis-habisan mengingat tangan saya pernah melayang sekali memukul pantat Angger saat ia menggigit waktu menyusu. Mungkin Angger sendiri sudah nggak ingat (dan toh dia nggak kapok menyusu), tapi penyesalan saya justru lebih panjang.

Jadi saya mengernyit ketika ada orangtua dengan sadar nylenthik alias menyentil anaknya demi mengajari si anak mana yang benar mana yang salah ala Pavlov. Misalnya, begitu si anak hendak merampas kacamata orangtuanya, sentil tangannya. Perlahan saja. Nanti si anak akan mundur. Begitu dia mau merampas kacamata lagi, sentil lagi. Dia akan mengulanginya dan kita harus konsisten menyentilnya. Dua hari saja. Dijamin si anak akan tahu dia tak boleh melakukannya.

Kernyitan saya mulai hilang.

Menurutnya setelah itu pekerjaannya jadi ringan. Dia tak pernah terpaksa berteriak-teriak mengatur anaknya. Anaknya jadi penurut dan manis (dan memang anaknya memang sangat penurut dan manis).

Bagaimana kalau Angger merebut kacamata saya? Saya ambil kacamata itu kembali. Kalau dia tidak mau melepas kacamata itu, saya akan membiarkannya sambil tetap mengawasinya sehingga saya bisa mencegahnya melakukan hal buruk pada kacamata itu. Lalu saya akan ambil kacamata itu diam-diam saat dia tidak menyadarinya.  Menurut saya, anak butuh mengeksplorasi benda di sekelilingnya. Angger tidak sedang menekuk-nekuk kacamata, dia sedang belajar sifat-sifat zat dan bentuk benda. Angger tidak sedang merebut kacamata, dia sedang mengembangkan rasa ingin tahunya. Akibatnya: satu kacamata saya patah. Padahal BARU!

Tapi saya tidak marah, dong karena… yah orangtua zaman sekarang tidak boleh marah. Hahaha, itu toh cuma kacamata. Meski baru. Dan yah… tidak murah. Tapi cuma barang, ya kan?

Tidak dan Jangan

Orangtua zaman sekarang tidak boleh mengatakan TIDAK dan JANGAN. Serius.

“Tidak” dan “Jangan” adalah kata negatif. Celakanya kata ini tidak memiliki simbol dalam otak anak. Celakanya lagi batita baru bisa menangkap ujung kalimat. Jadi kalau kita bilang ‘jangan lari’, maka si anak akan menangkap kata ‘lari’ nya saja dan malah justru terdorong untuk berlari. Dan kata ‘jangan’ itu begitu mengungkung. Anak jadi serba takut bila terlalu sering dilarang.

Jadi kalau tak ingin anak berlari, cukup bilang, “Dik, jalan saja.” Kalau tak ingin anaknya teriak-teriak, cukup bilang, “Dik, ngomongnya yang pelan ya.” Awalnya saya taat dengan teori ini, tapi kok lama-lama saya jadi repot sendiri ya?

Bagaimana bila saya ingin Angger berhenti menghambur-hampurkan terigu di dapur? Bagaimana bila saya ingin Angger berhenti menjambak rambut saya? Bagaimana bila rajutan yang saya kerjakan susah payah dibuatnya buyar dengan sekali tarikan? Bagaimana bila dia mendorong-dorong tubuh saya dari belakang saat saya sedang menggoreng ayam dalam minyak panas?

Saya putuskan Angger harus mengenal kata ‘tidak’ dan ‘jangan’ sedari dini.

Memang banyak hal yang saya rasa tidak perlu dilarang meski itu bikin saya pusing (lari-lari di dalam rumah, teriak-teriak atau memberantakkan mainan). Tapi ada yang secara tegas harus saya larang. JANGAN GANGGU IBU KALAU IBU LAGI KERJA! NGERTI?

Tak Ada yang Sempurna

Mau jungkir balik gimana pun, tak ada metode pengasuhan anak yang sempurna. Semua ada sisi bagus dan buruknya. Kadang baik bagi anak, tapi buruk bagi kita, misalnya membiarkan anak membantu kita mencuci (pernah coba?). Kadang baik bagi kita, tapi buruk bagi si anak, misalnya membiarkan si anak diasuh sponge-bob selama satu jam selama kita memasak makan malam.

Kalau ada yang paten sempurna, wah nggak susah kita ngasuh anak, bukan begitu? Kita hanya bisa mengambil yang terbaik dengan kondisi kita. Ada beberapa hal yang perlu kita kompromikan. Selama semuanya masih dalam koridor cinta kasih, saya pikir tak ada salahnya kita memarahi anak sesekali. Tak apa menyalahkan anak ketika ia bilang kita bisa masuk rumah lewat atap. Siapa tahu dia memang tak tahu mana yang atap mana yang pintu.

Kalau kita mengejar kesempurnaan, ya kita bakal stress sendiri karena memang nggak ada. Ibu saya dulu tentunya menyapih saya dengan metode ‘kebohongan’, tapi saya tidak ingat. Kalau pun ingat kok ya saya bakal memaafkannya karena kejujuran yang dia berikan setelah itu jauh lebih banyak.

Ibu saya dulu kadang memukul kakak saya (saya dan adik-adik tidak pernah dipukul, simply karena saya dan adik-adik tidak sendableg kakak saya), tapi saya yakin kakak saya memaafkan ibu karena cinta ibu jauh melebihi pukulannya yang kadang-kadang.

Sekali lagi, saya tetap tidak menyetujui kekerasan, tapi saya hendak menegaskan: kalau Anda pernah memukul anak Anda sekali dua kali, pernah berbohong sekali-kali, lepas kendali terkadang, maafkanlah diri Anda. Jadilah orangtua yang tidak tergayuti rasa bersalah setiap waktu. Anda orangtua, Anda manusia, bukan malaikat.

Dan tanyalah pada anak Anda apa pendapatnya tentang Anda. Percayalah Anda tetaplah paling hebat di matanya. Setidaknya saat ia masih balita.

Katakan Cinta

I love you bukan kata-kata yang susah diucapkan, demikian pula aku sayang kamu atau aku mencintaimu. Maksud saya dibanding kalimat ‘taplak gupak glepung’*. Tapi sebagian orang susah mengucapkannya. Kenapa? Banyak hal. Karena malu, karena budaya,  karena mencintai itu membuat kita jadi submisif –keliatan tak berdaya gitu—dan seterusnya.

Tapi salah satunya karena tidak terbiasa.

Saya dan Anto sama-sama berasal dari budaya Jawa yang tidak terbiasa berterus terang soal perasaan –sebenarnya dalam hal apa pun–, apalagi soal cinta-cintaan. Saru! Ra ilok. Akibatnya seumur-umur saya belum pernah bisa bilang cinta pada ibu atau ayah. Saya tak pernah bilang betapa berartinya mereka bagi saya.

Tapi saya bertekad mengubah hal ini dalam hubungan saya dengan Anto. Soalnya nyesek banget saat kita nggak bisa bilang ‘aku cinta kamu’ saat saya benar-benar butuh mengucapkannya. Jadilah, sejak pacaran kami sedikit demi sedikit mulai belajar mengucapkannya. Kini setelah hampir sepuluh tahun menikah kami masih mengucapkannya hampir setiap hari. Biasanya kami saling mengucapkan ‘I Love You’ saat Anto berangkat kerja.

“Aku berangkat ya.”

“Oke, ati-ati. I love you.”

“I love you, too.”

 

Kenapa pakai bahasa Inggris? Nggak tahu juga. Mungkin karena lebih enak di lidah. Lebih gampang diucapkan, dan k arena kalau kami pakai bahasa Jawa bakal terasa kayak ketoprak.

Nimas…”

“Ya kakang…”

“Aku tresna marang sliramu.”

Truthuk thuk thuk thuk.

 

Basikah mengucapkan I love you tiap hari? Anehnya kok tidak ya. Beberapa orang bilang kalau kata cinta diobral rasanya bakal hambar, bakal kehilangan makna, bakal jadi omong kosong. Itu tidak terjadi pada diri saya. Hm, mungkin karena saya memang merasakannya dalam hati (suit suit).  Meski begitu dialog seperti ini kadang terjadi.

“Aku berangkat ya.”

“Oke, ati-ati. I love you.”

“I love you, too.”

“Eh, aku sungguh-sungguh.”

“Ha?”

“Aku sungguh-sungguh saat bilang I love you.”

“Eh, aku juga selalu sungguh-sungguh kok.”

Kyaaaaa!!! Jangan bayangkan dialog ini terjadi di rumah nan sempurna, taman nan indah, atau pagi dengan kicau burung ya. Dialog ini sering terjadi saat saya masih pakai ‘piama’, rambut awut-awutan, dan terjadi di bawah genteng yang super-trocoh (bocor).

Yah, kadang saat semua itu jadi rutinitas yang otomatis, saya merasa perlu mengingatkan bahwa semua itu diucap dari lubuk hati yang terdalam. Halah.

Di siang hari, Anto sering SMS, singkat saja, ‘Angger lagi ngapain? Kangen kalian!’

Itu cukup. Cukup untuk mengingatkan saya bahwa di mana pun Anto berada, kami selalu ada di dalam hatinya. Cieh, saya kok jadi gombal banget begini.

Malam hari kadang saat berbaring tidur dan kami sudah mengantuk dan semua sudah sunyi Anto tiba-tiba berkata, “Makasih ya.”

“Untuk apa?”

“Menemaniku.”  

Sweet kan?

Cinta Perlu Diucapkan?

Cinta itu nggak butuh kata-kata. Nggak perlu diucapkan. Cinta itu adalah perbuatan. Cinta itu ditunjukkan.

Ya, ya, silakan saja. Ini perkara selera kok. Menurut beberapa orang pelukan, pandangan mata, pertolongan, kesiapsediaan sudah cukup menunjukkan kita sayang saya seseorang.

Tapi saya lebih suka bia cinta itu diucapkan dan ditunjukkan. Cinta juga perlu dirayakan, ditegaskan. Saya memasak untukmu karena saya cinta padamu. Saya mau ngantar kamu jauh sekali pun karena aku menyayangimu. Dan seterusnya.

Meski jujur saja ya, karena tidak terbiasa saya juga bakal kikuk habis mengucapkan cinta atau mendapat ucapan cinta dari orang selain Anto. Saya bayangkan pasti saya salah tingkah bila Bapak saya bilang ‘aku sayang kamu’. Dipeluk olehnya pun bakal terasa kikuk.

Anyway, itulah kenapa saya merayakan Valentine’s –kecuali Valentine’s tahun ini gara-gara abu Kelud–. Terserah orang bilang itu budaya barat lah, budayanya orang… lah (nggak tega saya nyebutnya), saya suka bila ada hari yang mengingatkan kita untuk duduk sejenak, mengenang hal-hal yang indah dari orang-orang dekat kita sekaligus mengingatkan mereka betapa berartinya kita bagi satu sama lain.

Kalau tidak suka Valentine’s toh masih banyak hari untuk mengungkapkan cinta; hari ibu, hari ulang tahun, hari pernikahan, dan kenapa tidak menciptakan hari sendiri? Tanggal 13 Januari misalnya? Tetapkan sebagai hari kasih sayang keluarga.

Tapi mencintai itu kan tiap hari? Tanpa hari kasih sayang kita harus saling mencintai dong. Lah, apa kalau ada hari Valentine’s itu berarti hari lain nggak saling mencintai? Kalau kita merdeka tanggal 17 Agustus itu apa ya kita hari yang lain tidak merdeka?

Saya sepakat kita semua perlu moment pengingat. Di antara semua jadwal, kesibukan, dan rutinitas yang menyita waktu, kadang kita lupa mengapa kita melakukan ini semua. Kadang kita juga butuh duduk menarik napas, minum cokelat hangat bersama orang yang kita cintai dan mengatakan betapa orang itu sangat berarti bagi kita. Kalau masih tak sempat, sebaris kalimat singkat ‘aku sayang kamu’ sudah cukup kok membuat kita meleleh dan tersenyum sejenak.

Kini saya juga melatih Angger untuk mengungkapkan rasa cintanya –sebenarnya semua emosinya–. Tagline yang saya buat untuk kami bertiga adalah: Aku cinta kamu dan cintaku GEDEEE banget.

Angger sudah tahu itu dan kadang—kadaaaang sekali kalau saya beruntung— dia akan bilang, “Angger sayang ibu. Sayangnya gedeeee banget.”

*Taplak gupak glepung adalah tongue twister versi Jawa. Coba ucapkan berulang-ulang. 

Gilanya Jadi Orangtua

Sebelum menjadi orangtua saya sudah tahu bahwa menjadi orangtua itu repot, tapi saya tak menyangka menjadi orang  tua itu juga gila.

Saya ingat waktu saya kecil saya sering mengusili bibir ayah saya pas beliau tidur. Bibir itu saya buka, saya balik, saya tarik, saya ulur sampai panjang, sampai ayah saya terbangun. Bayangin saja betapa risihnya. Saya melakukannya karena penasaran! Penasaran dengan apa warna bibir bagian dalam. Saya penasaran dengan bentuk bibir. Kenapa bukan bibir saya sendiri yang saya tarik? Well, karena itu tidak menarik.

Sekarang itu terjadi pada saya. Angger suka menjambak rambut saya, memasukkan jarinya ke lubang hidung saya, sampai mencolok-colok mata saya—dengan jempol kakinya–. Haduh.

Jadi begitulah menjadi orangtua. Punggung dinaiki kayak kuda? Itu sudah biasa. Kakak saya (laki-laki) sering jadi korban putrinya yang suka main ‘make-up-make-up-an’. Sekujur tubuh kakak saya dibedakin kayak wong edan. Beneran sekujur tubuh. Berkali-kali pula!

Yang terjadi pada saya kadang terasa absurd sekali. Anak kecil suka dibacain buku cerita.Itu biasa. Angger? Dia minta saya baca katalog cat! Anak kecil suka mendengar cerita yang sama berulang-ulang. Angger? Dia juga suka mendengar daftar warna cat berulang-ulang! Jadilah saya berkali-kali merapal nama warna-warna itu kayak mantra: baby blue, ocean blue, deep blue, deep purple, hyacinth, ivory white, pink rose, mustard yellow dan seterusnya. Jutaan kali. Agar tidak bosan, kadang saya mengganti irama saya dengan gaya pembaca berita. Mungkin lain kali saya harus menggantinya dengan irama orator demo.

Bacaan favorit Angger lainnya: katalog durian! Serius. Dia sampai njempling-njempling di Gramedia gara-gara menginginkan Buku Durian tapi kami melarangnya (mahal, dan buat apa sih?). Pada kunjungan ketiga kami menyerah! Dan sebagai informasi: saat itu usianya belum ada dua tahun. Jadilah saya disuruh membaca daftar nama durian: durian merah merona, durian lai, durian monthong, dan seterusnya. Berulang-ulang juga.

Dulu Angger suka ikan. Kami sampai bela-belain beli kaus bergambar ikan. Kami masuk toko dan tanpa basa-basi bertanya pada pelayan, “Ada nggak kaus gambar ikan? Terserah ikan apa, yang penting gambar ikan.” Kami hanya menemukan empat dan dalam sehari empat baju itu habis dia pakai. Dia masih nagih, “Mau baju ikan!” Akhirnya: kami beli kaus polos, kami sablonkan dan yippie, dia punya sepuluh lembar kaos bergambar ikan. Dan karena dia suka juga bila ayahnya pakai kaos gambar ikan (ayahnya punya satu kaus bergambar ikan oleh-oleh dari Bangkok), maka kami sepakat supaya yang dewasa juga pakai kaus gambar ikan. Akhirnya: kami semua punya kaus gambar ikan! Sampai ke PRT saya pun punya kaos gambar ikan. Tanpa diniati, kami punya seragam keluarga.

Image

kaus ikan seragam keluarga

Image

 

Kaus ikan favorit. Bergambar ikan sampai ke kaki.

Image

 

Kaus ikan lagi. Punya sepuluh lembar kaus ikan kayak begini. 

Kesukaan Angger berikutnya bikin agak pusing. Dia suka PALANG pintu kereta api. Palang pintunya lho, bukan kereta apinya! Tiap hari dia minta ke stasiun tugu atau lempuyangan. Hanya demi melihat palang pintu naik turun. Tapi kan, nonton satu kali nggak puas, jadi kami harus cengok menunggu lewatnya kereta berikut demi melihat palang pintunya naik turun lagi. Anger sampai hapal dengan tahapannya: ting tong ting tong… perhatian-perhatian… lalu klonteng-klonteng… lalu tulit-tulit. Lagu tulit-tulit ini menjadi lagu wajib di rumah kami. Apa pun bisa jadi ‘tulit’ (begitulah Angger menyebut palang pintu).

Ada tongkat mainan, ia buat jadi tulit, ia naik turunkan sambil bibirnya nyepruk menyenandungkan ‘tulit-tulit’. Ada lego, ia susun panjang dan dijadikan tulit. Ada gayung bertangkai panjang, ia jadikan tulit juga. Ada kaki ibunya selonjor? Ia jadikan tulit juga.

Ia juga tahu bahwa beberapa perlintasan kereta api tidak menyerukan bunyi tulit-tulit. Perlintasan kereta api di Tegalrejo berbunyi tolalep, tolalep, tolalep –itu menurutnya–. Sementara bunyi kereta api adalah theng-theng-thoot, theng-theng-thoot.

Pernah kami sudah melintasi rel dan langsung berbalik saat mendengar bunyi tulit-tulit di belakang kami. Rasanya hanya kami orang tua yang senang ketika perjalanannya tercegat palang pintu yang menutup, apalagi bila kami menyaksikannya sejak awal karena dengan begitu kami bisa menonton ‘full show’, mulai dari pintu turun sampai terutup sempurna lalu membuka perlahan-lahan.

Kegilaan tak berhenti di situ. Di tempat parkir kami sampai harus meminta penjaganya untuk menaik-turunkan portal otomatis karena Angger heboh pengin liat ‘palang pintu’ parkir beroperasi. Masih kurang heboh, tiap kali ada alat gambar dia selalu minta, “Bu, gambar palang pintu.” Kalau dijumlah mungkin sudah ada seratus lebih gambar palang pintu di rumah kami.

Masih kurang gila lagi, kami mendownload video palang pintu dari youtube agar bisa ditonton di rumah. Edannya…  ternyata banyak juga penggemar palang pintu kereta api. Mereka bahkan berkeliling negara demi merekam palang pintu kereta api di setiap kota. Dan tujuannya: membandingkan bunyi tulit-tulit dulu dan sekarang! Oh, terima kasih saya pada mereka.

Anyway, kami jadi tahu video palang kereta api di Indonesia biasanya bertema lebih serius: budaya menyerobot palang pintu dan bukan hal remeh kayak…  mekanisme palang pintu otomatis.

Kegilaan ultimate yang terjadi berkaitan dengan palang pintu adalah… kami bikin palang pintu di kebun! Dan membuat tamu-tamu di rumah kami bertanya-tanya. Kenapa mendadak ada palang pintu di kebun?

Image

Palang pintu di tengah-tengah kebun.

Well, jadi orang tua memang harus… siap gila. Sekarang kegilaan palang pintu sudah mereka. Diganti dengan kegilaan terhadap lilin! Oke, mari kita tiup lilin… tiap hari. *Usap keringat di dahi.