Plot Hole; Lubang-Lubang Kisah yang Harus Kita Hindari

Sudah lama (pakai banget) saya nggak nulis soal penulisan. Nah, berhubung semalam saya barusan menonton pertunjukan drama remaja yang alurnya ‘euh’ banget, saya jadi tergelitik buat nulis lagi. Pertunjukan drama itu sendiri bagus, dan bukan itu fokus saya di sini, melainkan pengaluran ceritanya. Meski teknis penyajian drama beda dengan teknik penyajian novel, urusan plot pada dasarnya tetap sama. Oke, mari kita bahas plot drama tanpa judul yang sudah saya sebut-sebut itu.

 

Begini alur ceritanya:

Seorang cewek bernama Ica (sebut saja begitu karena saya lupa namanya) bertemu dengan seorang pengamen bernama Doni. Singkat cerita mereka saling jatuh cinta. Nyaris tiap hari mereka bertemu di perempatan tempat Doni mengamen. Doni menyanyi dan Ica menunjukkan buku yang selalu ditentengnya (buku harian? Tidak jelas di sini). Hari-hari mereka begitu indah.

 

Suatu hari Doni berkelahi dengan geng berandalan. Ica begitu kecewa melihat perkelahian itu dan menyangka Doni adalah pemuda begajulan. Ia pun pergi meninggalkan Doni. Ia sempat sekali berkencan dengan laki-laki lain. Tapi ia tak bahagia. Ia berkubang dalam nelangsa. Doni begitu juga, ia mencari Ica ke mana-mana. Tak berhasil menemukan kekasih hati, ia sengsara dan sering membuka-buka buku Ica yang kebetulan terbawa olehnya.

 

Tak kuat menanggung rindu, Ica akhirnya kembali ke tempat mereka biasa bertemu. Tak berapa lama waktu kemudian, Doni ke sana juga. Begitu bersua, mereka berpelukan bahagia lalu menari bersama. Di tengah-tengah tarian, Ica pingsan. Doni kalut, mencari bantuan, tapi tak didapatnya. Lalu ia membongkar tas Ica untuk mencari nomor kontak yang bisa dihubungi. Di luar dugaan, ia justru menemukan surat yang ditujukan untuknya. Doni pun membacanya di depan tubuh Ica yang terbaring kaku. Isinya seperti ini, “Dear Doni, bila kamu membaca surat ini, berarti aku telah pergi ke tempat yang jauh. “ Selanjutnya lewat surat itu Ica berterima kasih pada Doni atas hari-hari indah yang mereka lalui bersama. Ica tak punya kerabat satu pun hingga sangat senang mendapat teman seperti Doni. Ica juga menyatakan ia sudah tak kuat lagi menanggung sakit kanker yang ia derita selama ini. Tamat.

 

Lubang-lubang alur

Sudah tahu ya di mana lubang cerita di atas? Banyak lho, walau pun sepintas cerita ini runtut. Sebenarnya cerita ‘romantis kronis’ yang melibatkan penyakit mematikan adalah gejala normal di kalangan penulis remaja. Kesengsaraan (patah hati, musibah, penyakit) punya daya pikat sendiri bagi remaja. Tetapi hanya terbatas pada sisi romantismenya saja, tidak mempertimbangkan sisi praktis atau logisnya. Ngaku deh saya dulu juga begitu. Adegan cowok berlari menembus hujan demi mengejar cewek terasa begitu dramatis walau dalam kenyataannya tidak realistis. Begitu pula adegan kecelakaan di mana ada cowok sekarat yang membisikkan kalimat, “I love you,” pada cewek pujaannya yang memeluknya dengan tabah. Pada kecelakaan di dunia nyata, kebanyakan sih si korban pingsan atau sibuk mengaduh dan pasangannya gemetaran ngeri (atau ikut pingsan).

 

Dalam cerita di atas plot hole pertama adalah Ica begitu saja membenci Doni hanya karena Doni berkelahi dengan geng berandalan. Dia tidak bertanya mengapa Doni berkelahi. Plot hole kedua, kok bisa Ica menyangka Doni anak berandalan juga hanya karena dia berkelahi dengan anak berandalan? Alasan perkelahian itu sendiri tidak jelas.

 

Plot hole berikutnya adalah Doni yang tak tahu ke mana mencari Ica saat perempuan itu menghilang. Masak berteman lama tapi nggak tahu apa-apa soal temannya; di mana rumahnya atau  di mana tempat kerjanya. Memang tidak terlihat hape dalam cerita ini, jadi bisa saja cerita mengambil setting tahun 60an, jadi it’s okelah nggak berusaha mengontak lewat hape, but setidaknya dia tahulah di mana Ica tinggal. Di situ digambarkan Doni membaca-baca buku Ica, tapi apa isinya juga nggak punya peran dalam kisah itu selain benda kenangan.

 

Next, tentu saja kematian Ica yang mendadak padahal dia sakit kanker. Masih sempat menari pula sebelum mati. Halooo, sudah pernah melihat orang dengan kanker? Yang jelas bila sudah sampai tingkat parah, bangkit dari tempat tidur pun nyaris tak mungkin. Meskipun kanker ada yang menjalar dengan cepat, bila kita berteman dengan pengidap kanker mestinya kita tahu dong dari gejala fisik mereka. Lah, ini kagak.

 

Yang terakhir, kok bisa temannya sekarat Doni malah tenggelam membaca surat? Bukannya histeris atau minimal bawa dia ke rumah sakit. Cari ojek online kek bila nggak ada yang mau nolongin atau becak bila memang setting-nya zaman old. Percaya deh, di situasi krisis seperti itu, otak kita bakal mampet dan nggak mampu baca apa pun.

 

Tanyakan dan tanyakan lagi pada diri sendiri

Nggak usah muluk-muluk riset atau tanya ahli, dokter spesialis dalam kasus di atas, untuk membuat plot  yang masuk akal. Yang pertama dan utama adalah bertanya pada diri sendiri dan membayangkan situasi, “Kalau aku sakit, apa yang akan kulakukan?” atau “Kalau temanku sakit berat, apa yang akan terjadi padanya?”  Apa yang akan kurasakan kalau temanku menghilang? Apa akan kulakukan? Akankah aku mencarinya? Ke mana?

 

Bagus memang kalau disertai riset menyangkut kasus tersebut, tapi jika tidak kita seharusnya tetap bisa pakai logika paling sederhana.

 

Selamat menulis.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s