Sekolah = Mandiri?

Sebagai orangtua yang menjalankan pendidikan rumah (homeschooling), kadang kami mendapat pertanyaan seperti ini. “Kalau nggak sekolah, gimana anakmu bisa mandiri?” Ini bukan pertanyaan sih sebenarnya, tapi sematjam tuduhan tadjam.

 

Mak tratap rasanya.  Iya ya, gimana anak saya bisa mandiri, wong tiap hari saya dampingi. Tiap hari mereka nemplok ke simboknya.

 

Tetapi beberapa hal yang saya saksikan sendiri akhir-akhir ini membuat saya bertanya, apa iya (hanya) sekolah yang menentukan kemandirian seseorang?

 

“Begitu masuk PAUD, cucu saya langsung mandiri lho, Bu,” kata sesesimbah bangga.

“Mandiri gimana, Mbah?”

“Bisa pakai sepatu sendiri.”

“Oh.”

(Lega, anak saya juga bisa pakai sepatu sendiri).

 

Kemandirian jadi salah satu alasan terkuat bagi ortu untuk menyekolahkan anaknya. Begitu pentingnya sifat mandiri ini bagi orangtua hingga mereka melakukan segala cara agar anak mandiri. Makin cepat mandiri, makin baik. Tak heran, anak-anak sudah dikirim sekolah bahkan sebelum mereka bisa merangkak. Diharapkan pada usia tujuh tahun mereka sudah bisa mandiri seperti bisa… errr… pakai sepatu sendiri. (Ya iyalah, masak anak segitu diminta nyusun makalah sendiri).

 

Balik ke masalah tadi, apakah sekolah membuat anak-anak mandiri? Ya! Bila mandiri itu dimaknai bisa pakai sepatu sendiri plus bisa berpisah dari dan tidak mengganggu orang tuanya selama beberapa jam.

 

Sekolah yang Merampas Kemandirian

“Anak saya yang SMA terpaksa berangkat sekolah sendiri kemarin karena saya nggak bisa ngantar,” kata sesebapak, “Biarlah, biar dia belajar mandiri. Dan ternyata dia bisa. lho.”

“Oya? Naik apa, Pak?”

“Taksi.”

(Saya ternganga)

 

Pada lain waktu, seseibu mengeluh,“Duh, bentar-bentar harus ngecek anak-anak nih, udah makan apa belum, rumah udah dikunci belum.” Si ibu memang sedang menginap di luar kota selama beberapa hari.

“Memangnya anaknya umur berapa Bu?”

“Udah SMA, tapi tetap aja cerobohnya nggak ilang-ilang.”

(Ternganga lagi).

 

Di lain tempat, ada pula yang seseortu yang komentar gini, “Saya gitu, sih. Yang penting anak-anak belajar. Kerjaan rumah tangga biar saya yang kerjain selama tugas sekolah anak-anak beres.”

(Ternganga #3 karena gimana yah, anak saya yang 6 tahun aja sudah saya suruh ngerjain ini itu biar ibunya sempat….eh… ngikir kuku)

 

Jadi begitulah. Saya menyaksikan sendiri betapa sekolah, meski bisa mengajarkan anak-anak untuk pakai sepatu sendiri, ternyata tidak menjamin anak-anak untuk mandiri, bahkan dalam beberapa kasus merampas kemandirian mereka. Kok bisa? Ya karena sebagian besar waktu anak-anak itu habis di sekolah. Mereka mungkin bisa mengerjakan PR matematika yang rumit, tetapi begitu disuruh menanak nasi bingung mendadak.

 

Waktu yang sempit tak membiarkan anak-anak berusia enam tahun untuk mandi sendiri. Karena kalau mandi sendiri lama banget! Jadilah mereka tak cakap mengurus diri sendiri, apalagi untuk mengurus hal-hal di luar dirinya.

 

Miskin Inisiatif dan Motivasi

Dalam beberapa hal,  kegiatan sekolah justru yang membuat anak-anak tidak bisa mandiri. Jadwal dan kurikulum yang disediakan membuat mereka tak memiliki inisiatif sendiri. Kalau mereka belajar, itu karena disuruh guru. Begitu nggak ada yang nyuruh, ya nggak belajar.

 

Bagi anak-anak yang kurang cocok sekolah, orangtua pasti lebih repot lagi karena anak-anak ini bangun tidur mesti dibangunin, sarapan mesti dibuatin, PR harus diingetin. Waktu yang sempit memaksa ortu untuk melayani anaknya. Kalau nggak dikejar-kejar, disiapin, atau dibantuin anak-anak ini bakal terlambat sampai sekolah atau malah tidak masuk sama sekali. Tugas sekolah juga bakal keteteran.

 

Wajarlah bila ortu masih membantu anak-anak kelas 1 SD menyiapkan buku pelajarannya. Wajar juga (dan bahkan harus) ortu mendampingi mereka belajar. Gak pantes lah anaknya ngerjain PR, ibunya chatting di WA (eh). Makin nggak pantes lagi kalau anaknya ujian, Bapaknya nggak tahu sama sekali. (Eh, bapak-bapak, mbok yao kalau anaknya ujian, Anda nyediain cemilan buat teman belajar atau ikut sholat malam gitu lah, buat dukungan moral).

 

Tetapi sungguh deh, ada yang salah bila anak kelas 3 SD masih disuapin tiap pagi sementara si anak…. mengenakan sepatu.

 

Saya pernah berbasa-basi dengan seseanak kelas enam SD. Karena UN sudah di depan mata, maka saya tanya, “Tanggal berapa ujiannya?”

“Nggak tahu.”

“Belum diumumin?”

“Udah, tapi lupa.”

Hah!

“Hari pertama mata pelajaran apa yang diujikan?”

“Nggak tahu.”

Saya sudah capek ternganga. Ini lho, anak kelas enam, ujiannya sendiri aja nggak tahu kapan.

 

Ortu memang harus terlibat dalam pendidikan anak. Kini keterlibatan ini didorong lebih kuat dengan misalnya, gerakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. Suatu gerakan yang pantas diapresiasi. Tetapi kadang orangtua kebablasan melibatkan diri. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang canggih, kini ortu nyemplung sepenuhnya dalam kegiatan si anak. Grup WA ortu murid penuh dengan seliweran pertanyaan, “Tugas buat besok apa ya?” atau “PR yang mesti dikerjain halaman berapa ya?” sampai “Ujian, kapan ujian?” Lah, anaknya ngapain tadi di kelas? Jualan cilok?

 

Kemandirian Berpikir

Bagi saya yang lebih menakutkan daripada ‘nggak bisa menanak nasi pakai rice cooker’ adalah ketakmandirian berpikir. Pada waktunya, semanja-manjanya anak dia bakal bisa mandi sendiri. Cara menanak nasi dapat dipelajari dalam waktu singkat. Namun ketidakmampuan untuk berpikir mandiri ini berbahaya.

 

“Tamat SMA kamu pengin ngapain?”

“Nggak tahu.”

“Pengin kuliah jurusan apa?”

“Apa ya, bingung.”

“Lah kamu punya minat apa?”

“Eh, nggak punya.”

“Terus maunya apa?”

“Terserah Mama saja.”

Ealah wong yang mau menjalani kamu kok terserah ayah ibu. Ini fakta loh, banyak anak SMA yang bahkan tidak bisa memutuskan masa depannya sendiri. Punya bayangan saja tidak. Lulus SMA itu kan rata-rata usia 17 tahun. Rata-rata sudah 12 tahun sekolah. Eh, tetap saja ngambil keputusan buat diri sendiri galau berat.  Mereka terlalu banyak didikte oleh orangtua dan sekolah. Hidupnya sudah biasa diatur oleh orang lain sampai sampai ke menit-menitnya (misal, belajar bahasa Inggris 45 menit persis, mau kamu udah bosan banget atau malah belum puas, jatah belajarmu ya segitu, nggak boleh kurang, nggak boleh lebih). Caranya juga diatur begini begitu, pakai buku itu, nilainya harus minimal segini.

 

Ketidakmandirian berpikir ini berujung pada kegalauan anak tiap kali ia dihadapkan pada masalah yang harus ia hadapi. Di bangku kuliah aja, udah ketahuan kok. Begitu anak dikasih tugas mandiri, mereka bingung cara ngerjainnya. Padahal masalah hidup jauh lebih kompleks; nggak punya duit, diputusin pacar, ditawari narkoba, sampai di-PHK.  Oleng lah sudah karena ortu tak setiap saat bisa mendampingi. Percaya atau nggak, ada lulusan S2 yang masih aja dikasih uang saku sama ortunya. Pekerjaan? Dicariin ortunya juga. Silakan ternganga. Saya sudah lelah ternganga.

 

Tidak Hanya Sekolah Semata

Jelas banyak sekali anak sekolah yang berhasil mandiri. Jadi mengapa sebagian anak sekolah akhirnya bisa mandiri dan sebagian lagi tetap menggelantung di kaki orangtua bahkan sampai mereka punya anak dan jadi orangtua?

 

Saya pikir perkaranya bukan sekolah semata. Kemandirian anak terbangun di atas berbagai macam fondasi, tetapi yang pertama dan utama adalah keluarga. Keluarga perlu melatih anak ketrampilan-ketrampilan dasar sehari-hari. Ortu harus melibatkan anak dalam mengurus rumah tangga. Di luar sekolah, beri kebabasan anak untuk belajar sesuai minatnya, dengan caranya. Beri mereka hak untuk mengatur jadwal mereka sendiri. Biarkan mereka mengambil keputusan, melakukan kesalahan, dan menanggung risikonya. Sehubungan dengan sekolah, sebisa mungkin minta anak untuk menyelesaikan tugasnya sendiri. Andai anak butuh bantuan pastikan anak tahu cara mencari bantuan. Kalau Anda yang memberikan bantuan, bantu dia secukupnya.  Nggak perlulah, sampai kita yang ngerjain PR-nya atau menyimpulkan tali sepatunya. *eh, yang terakhir ini udah bisa ding.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s