Menulis Lebih Jujur

Tahun ini saya ingin menulis lebih jujur. Dulu, sekitar satu dasawarsa lalu, mudah bagi saya untuk menulis apa yang saya pikirkan dan rasakan. Ketika menulis saya merasa bahagia. Saya tak begitu mempedulikan reaksi pembaca. Toh tulisan saya kebanyakan mengangkat tema-tema ‘hore-hore’, dan biasanya tanggapan yang saya terima juga ‘hore-hore’.

 

Satu dua kali saya membicarakan masalah yang agak serius dan sensitif. Tanggapannya? Pro dan kontra. Banyakan pro-nya karena lingkaran pembaca saya biasanya orang-orang yang punya pemikiran sama. Kalau pun mereka kontra, biasanya mereka menanggapi dengan elegan, yaitu…..tidak berkomentar hehe. Secara prinsip mereka paham betul dengan ujaran, “Aku nggak peduli kamu sosialis atau kapitalis. Selama kamu berlaku baik padaku, aku akan menghormatimu.”

 

Ada sih yang kontra dan mengungkapkan ketidaksetujuan mereka, tapi saya ya woles saja. Pertama karena saya sadar saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Kedua –dan ini yang lebih penting—saya tidak mengenal mereka secara pribadi.

 

Perisakan di Medsos

 

Tahun demi tahun berlalu. Terjadilah revolusi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Revolusi Fesbuk!

 

Kenapa fesbuk? Bukan medsos?

 

Sebelum fesbuk berkibar, sudah ada medsos-medsos lain semacam friendster dan aneka macam blog. Tetapi rasanya tidak ada yang sefenomenal fesbuk yang gelombangnya menyapu demikian dahsyat. Serius.

 

Blog-blog semacam wodpress dan multiply biasanya berisi orang yang gemar menulis dan membaca di samping  memiliki minat khusus lainnya. Yang suka masak biasanya posting resep, yang suka film biasanya posting resensi film dan sebagainya. Tetapi jarang banget ada postingan satu dua kalimat tanpa latar belakang tapi provokatif, semacam, “Anak 17 tahun aja berani nikah, masak kamu yang bangkotan kagak?”

 

Fesbuk seperti tong pembuangan raksasa yang menampung segala macam barang tanpa sortiran. Resep masakan sampai resep meracun mantan tersedia. Foto porno sampai foto kaki tanpa caption juga ada (pancen tujuane umuk sepatu Nike diskonan). Wejangan cinta sampai ancaman penuh kebencian bertebaran. Yang nggak bisa nulis pun bisa ‘nulis’ di facebook meski isinya frasa pendek semacam, “Dasar cabe kebanyakan ngemil terong.” Terjadilah tsunami informasi yang membingungkan.

 

Apabila gejolak fesbuk ini beririsan dengan gejolak sosial, politik dan agama, dijamin bikin puyeng. Satu kalimat bisa menjadi bibit perang dunia karena ditafsir oleh segala rupa orang dengan segala cara. Sak penake dewe pokoke. Yang lebih parah? Penyebarannya yang macam virus ganas. Cepet dan luas banget. Silap satu kalimat di Jogja, bisa heboh ribuan orang dari Aceh dan Papua.

 

Mulai saat itulah saya dilanda ketakutan untuk menulis sesuatu. Satu kalimat yang bikin penulisnya ngetop, pada saat bersamaan mengundang perisakan mengerikan.

 

Sudah saya ceritakan tadi bahwa ketika saya ngeblog dulu dikontra adalah hal biasa, tetapi tak bikin sakit hati atau depresi. Kenapa? Adu argumentasi dilakukan dalam koridor yang santun dan benar-benar tanding pendapat, bukan permusuhan pribadi. Ungkapan “Kau dan aku berbeda, tapi aku tetap menghormatimu,” masih berlaku. Persahabatan tak rusak karenanya. Tak ada caci maki, tak ada serangan terhadap pribadi. Beberapa perbedaan bahkan ditambahi dengan IMHO –in my humble opinion— atau dalam bahasa Jawa, “Yo, iki mung urun rembug seka aku wong biasa sing ora pinter kaya Enstein.”

 

Era sekarang? Wuih ngeri! Ciut nyali saya membayangkan yang terjadi pada Afi Nihaya misalnya. Oke, mungkin dia pernah salah, tetapi siapa sih yang nggak pernah salah? Perisakan yang ia terima? Waduh, kayak dia sudah membunuh orang. Satu dua nasihat yang sampai padanya saya pikir cukuplah jadi pelajaran, tetapi nggak tuh. Semua orang kayak HARUS memberinya nasihat (bonus cacian kadang-kadang). Semua tentangnya dikulik-kulik. Postingan lamanya dibongkar. Gumun saya, kok ya sempat orang-orang ini membuang waktu dan kuota hanya demi menguliti kesalahan orang lain lebih banyak dan lebih dalam.

 

Imbas di dunia nyata

 

Yang lebih men-jiper-kan adalah imbasnya di dunia nyata. Dulu saya tak pernah menakutkan hal ini. Apa pun yang saya tuliskan –selama bukan hate speech atau hoax yang direncanakan—takkan mempengaruhi persahabatan saya dengan teman-teman di dunia nyata. Yang merusak persahabatan adalah tingkah laku yang nyebelin, kayak utang kagak dibayar, embat-embatan pacar, atau minjem mobil kagak mbeliin bensin –berulang kali–. Semacam itulah. Jarang seseorang dibenci karena katakanlah, majang foto kecebong.

 

Tetapi masa sekarang? Dunia bisa terbelah jadi dua hanya karena yang sebagian orang ngucapin selamat hari raya pada umat agama lain DI FESBUK.

 

Beberapa teman mengaku, semenjak Pilpres 2014 lalu berlanjut ke Pilkada DKI 2017, keluarga, pertemanan, dan komuitas mereka terpecah. Bukan sekadar terpecah di medsos –yang memang jadi ajang peperangan- tapi juga di dunia nyata! Kalau ketemu mereka saling melengos. Apaan coba, para pejabat yang diributkan eling kita juga kagak.

 

Duh, ini bikin saya makin mengkeret. Pada dasarnya saya memang ogah berkonflik. Jadi saya lebih menekan perasaan dan menyembunyikan pendapat-pendapat saya. Tetapi ya gitu deh, seperti cinta terpendam yang konon bisa jadi jerawat batu, pendapat terpendam akhirnya juga bikin frutrasi. Apalagi bila itu terjadi pada manusia yang memang cerewet seperti saya.

 

Tak bisa menulis bila tak jujur

Dampak paling berat yang saya rasakan sebagai penulis adalah, saya tak bisa lagi menulis dengan jujur. Pengin ngucapin Selamat Hari Ibu aja maju mundur. Pengin ngeblog tentang terompet tahun baru dari kertas bekas seharga lima ribu perak yang dibeli oleh anak saya, takut dikhotbahi bahwa saya sudah autokafir . Mau nulis soal Ahok, jangan-jangan akun saya dilaporkan lalu saya dicyduk. Yang paling ngeri adalah esoknya saya ketemu bu X yang selama ini ramah pada saya namun tiba-tiba melengos! Duh, itu melengos karena saya lupa balikin rantang Tupperware dia atau dia baper gara-gara nggak saya tag di postingan “Sis mari disorder spreinya” di fb saya? Mumet kan?

 

Tetapi kalau saya tidak jujur saya tidak bisa menulis. Ini serius lho ya. Catet nih buat para penulis atau yang ngaku ingin nulis tapi nggak nulis-nulis :kalau kamu nggak bisa jujur pada dirimu sendiri, kamu nggak bakal bisa jadi penulis sejati. Itu kayak kamu pengin kentut tapi kamu tahan-tahan, kentutmu nggak bakal mulus (oke, ini metafora yang aneh, tapi saya nggak nemu yang lain). Kamu nggak bakal bisa total dalam menulis. Dan hasilnya? Kayak kue yang standar, karena kalau kamu bikin cantik takut harganya mahal dan nggak dapat order, tapi kalau kamu bikin dengan seadanya kamu bakal dicaci orang serepublik. Jadinya ya gitu deh, standar, nggak ada greget.

 

Demikianlah sodara-sodara, mulai hari ini saya coba untuk lebih jujur. Semoga tetap dihargai, kalau nggak dihargai, ya saya tempelin tag harga sendiri dah.

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Menulis Lebih Jujur

    1. kenterate Post author

      Hai Mbak Ukinkabra baiiik. Semoga mbak Uki jg baik. Haha saya sendiri jg kangen nulis kayak zaman old. Sayang nih susah cari waktu. Semoga ke depan bisa nulis lebih banyak.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s