Ironi Pendidikan

Kompas hari ini (3 Mei 2017) memuat artikel pendidikan –dalam rangka hari pendidikan—yang mengabarkan bahwa sekolah-sekolah kita masih bergelut dengan masalah klasik, kemelaratan fasilitas –boleh lah kita sebut begitu–. Salah satu yang diangkat dalam artikel ini adalah fenomena satu ruangan yang dipakai untuk anak-anak dengan tingkat kelas yang berbeda.

Berikut kutipannya:

Hari itu, untuk kelas III berlangsung pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang dibawakan oleh Victoria Mili, salah seorang guru di sekolah tersebut. Pada saat yang sama, di kelas IV, berlangsung pengajaran IPA yang dibawakan Ayu Plesila, juga guru du sekolah itu.

 

Dengan kondisi ruang yang tak terpisah, perhatian para murid di kedua kelas tersebut terbelah.

Begitulah penggambaran situasi di sebuah sekolah dasar di Kalimantan Barat. Saya geregetan membacanya. Bukan minimnya sarana yang bikin saya geregetan (walau ya, itu bikin saya prihatin), tapi karena di sekolah internasyenel di kota besar lagi ngetren metode kelas multi-ages alias siswa dari tingkatan yang berbeda digabung jadi satu dan belajar bareng. Apa ndak ironis itu? Yang sini, penginnya belajar sendiri-sendiri, tapi terpaksa bergabung. Yang sana, bisa belajar sendiri-sendiri, tapi dengan sukarela bergabung agar anak bisa bekerja sama dan bergaul dengan anak-anak berbagai umur.

Ironi Pendidikan

Saya ingat salah satu lawakan komedian tunggal Arie Kriting yang kurang lebih seperti ini, “Katanya ada sekolah hebat di Jawa, yaitu sekolah alam. Kayak apa sekolah alam itu? Sekolahnya nggak ada gedungnya. Lha, di daerah saya (Indonesia Timur) banyak sekolah nggak ada gedungnya.”

Piye kalau begitu itu?

TK X getol banget memborbardir anak didiknya dengan calistung. Eh, ada SD elit yang bahkan  membiarkan anak kelas satu dan dua belum bisa baca.  Lalu yang bener yang mana sih?

SD Z bangga betul dengan lab komputernya. Sampai-sampai di balihonya, foto lab komputer dengan komputer jentrek-jentrek dipampang besar-besar. Eh, lha kok di SD di Silicon Valley sono, tempat sekolahnya anak-anak bos google dan konco-konconya, malah nggak ada komputer buat siswa. Siswa nggak diajari komputer. Sistem pendidikan ala Waldorf yang terkenal di Eropa juga bersikap tegas soal ini: no TV and gadget sebelum anak-anak berusia 11 tahun. Lah, di sini anak TK aja udah disedikan game lho. (Tenang, game-nya edukatif kok, bikin  anak pinter, seperti hmmm…. gamemengenalkan warna).

Ubah Mindset

Balik ke kasus awal tadi. Saya bisa bayangkan betapa beratnya beban jadi guru-guru di sekolah terpencil. Betapa minin sarana yang mereka miliki dan yah, tidak adil membandingkan dengan SD internasyenel yang memang kelebihan dalam segala-galanya, termasuk dalam sumber daya guru.

Toh, saya tidak bisa tidak merasa iba sekaligus prihatin mendengar dua guru mengajar PPKn dan IPA dalam waktu dan tempat bersamaan. Saya berandai-andai guru itu bisa menyatukan kelas dan berkata, “Mbok ya sudah, yuk sekarang belajar IPA dulu semuanya. Anak-anak kelas IV bisa mengajari anak-anak kelas III.” (Kelas tiga itu ada pelajaran IPA nggak sih?). Materi bisa diotak-atik. Dan dua guru bisa saling bantu. Di lain waktu mereka bisa belajar PPKn bareng. Atau, kenapa tidak, yang lagi belajar IPA diajak keluar, jalan-jalan sambil mengamati pohon dan jamur?

Ya nggak segampang itu kali. Kan tiap kelas targetnya beda. Mungkin. Tapi saya kok justru melihat ini kesempatan bagi anak-anak untuk  belajar bekerja sama dan tantangan bagi guru untuk menyelenggarakan kelas yang menggembirakan bagaimana pun situasinya. (Yak, beginilah omongan emak-emak makmur yang punya kuota internet, tapi nggak pernah harus nyebrang sungai buat ngajar).

Anyway, rasanya sudah sering banget saya mendegar keluhan guru. Sudah sering saya mendengar jeritan sekolah yang kurang ini kurang itu. Saya tak hendak menafikannya. Tapi sungguh, saya nggrantes melihat sistem pendidikan kita yang kayak ‘kacamata kuda’, pokoknya jalan lurus nggak usah tengok kanan kiri. Nggak usah belok, nggak perlu meliuk.

Saya sedih lihat anak-anak miskin yang kudu berenang atau meniti jembatan demi ke sekolah. Bukan masalah berenangnya yang bikin hati ciut, tapi kok ya mereka berenang dengan pakaian seragam. Sebelum berenang, bajunya dicopot dulu, masukin tas, sangga di kepala atau gimana, lalu dipakai lagi begitu sampai di seberang. Maksud saya, penting bangetkah seragam bagi mereka? Sedih, melihat anak-anak dipaksa pakai sepatu ke sekolah sementara jelas uang yang buat beli sepatu bisa dipakai buat beli makan (dan yup, sekolah-sekolah swasta modern bahkan tidak mewajibkan anak-anak pakai sepatu atau  seragam lagi, yang konon mengikat dan tidak menyenangkan).

Pentingkah bagi anak-anak ini belajar segala macam kurikulum tentang ASEAN, PBB, struktur MPR, DPR bila membaca saja masih terbata-bata. Bila yang mereka butuhkan saat ini adalah melestarikan lingkungan sekitarnya dari kekeringan? Atau dari pembabatan hutan?

Atau perlukah mereka gedung sekolah? Tak bisakah mereka sekolah di kampung mereka sendiri? Guru mendatangi kampung mereka? Membentuk lingkaran mendengarkan guru mendongeng? Tak bisakah mereka bersekolah setelah mereka mengolah ladang? Belajar IPA dan bahasa sekaligus tanpa dipisah-pisah kelas?

Oke, baiklah, sudah cukup saya meracau. Saya sudah bangun dari mimpi sekarang ini. Rasanya itu masih jauh sekali. Tapi masih ada harapan, mungkin suatu saat nanti semua anak-anak di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan mereka. Tapi yang pertama-tama mari kita berdoa semoga guru-guru kita lebih arif, lebih kreatif, dan pemerintah kita tak lagi memaksakan segala macam kurikulum yang membuat anak-anak terpaksa belajar dalam satu kelas dengan dua mata pelajaran yang berbeda.

Advertisements

4 thoughts on “Ironi Pendidikan

  1. lintang

    halo mbak ken terate, aku pembaca setia novel2mu, kayaknya aku sudah pernah baca semua 😁 aku nunggu banget nih novel barunya, semangat berkarya ya mba 😊

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s