Tag Archives: internet

Para Pembenci

Suatu hari saya melihat video di youtube yang menampilkan Dylan Marron, seorang penulis, penampil, dan pembuat video terkenal. Saat itu saya tidak tahu dia terkenal. Sebetulnya saya bahkan belum pernah mendengar namanya. Tautan yang berada di wall facebook saya itu saya klik karena saya tertarik melihat judulnya, “Conversation with People Who Hate Me.” (https://www.youtube.com/watch?v=ls2mTKcBjrI) Jadi si Dylan ini sengaja bercakap-cakap dengan orang yang membencinya. Sebagai seleb Dylan tentu saja punya banyak pembenci. Percayalah, ketenaran dan kebencian itu berjalan seiring.

 

Anyway video itu memberikan jawaban keheranan plus mengkonfirmasi dugaan saya mengapa pada saat ini banyak sekali kebencian, terutama di medsos. Mengapa orang-orang rela menghabiskan energi dan waktu untuk membenci, bahkan pada seseorang tidak mereka kenal sama sekali? Orang-orang saling memaki di medsos seolah mereka benar-benar barusan senggolan motor di jalan. Seriously. Saya bertanya-tanya andai orang-orang yang bertengkar itu kebetulan ketemu di warung kopi, lalu ngobrol tanpa mengetahui identitas dunia maya masing-masing, apakah mereka juga akan saling membenci? Bisa jadi tidak. Bisa jadi mereka justru tertawa bareng dan saling menawari rokok.

 

Pembenci Seleb

Britney Spears punya ratusan hater. Di medsos tentu saja. Saya nggak tahu kalau di dunia nyata. Bisa jadi para hater ini malah jingkrak-jingkrak dan minta selfie kalau ketemu beneran dengan si seleb cantik ini. Kalau pun mereka tetap membencinya, saya sangsi mereka bakal meneriakkan kata-kata kasar di depannya seperti yang mereka lakukan di media sosial. Takut ditangkap satpamlah!

 

Memang, para hater ini nggak setengah-setengah –setidaknya di dunia maya–, mereka sampai bikin akun atau thread khusus untuk meluapkan kebencian mereka pada Britney. Luang banget ya. Saya jangankan bikin akun baru, wong akun yang ada aja jarang saya kasih posting. Yang mengikuti dan mengomentari akun kebencian itu  juga sama luangnya, saya rasa.  Sempat gitu lho ngomentari kelakuan artes. Apa pun bisa jadi bahan celaan; lagunya, kisah cintanya, sampai bajunya yang terlalu seksi, yang saya pikir tetap dicela bahkan andai ia pakai hijab.

 

Saya penasaran, kalau mereka benci kok ya sempet-sempetnya memperhatikan baju seleb yang mereka benci. Kalau saya tidak suka lagu dangdut (tidak suka lho, bukan benci), yang saya lakukan simpel saja: nggak ngapa-ngapain. Saya tidak menyetel acara dangdut di TV. Kalau pas nonton TV dan kebetulan acara dangdut ditayangkan, saya tinggal pindah saluran atau matikan TV. Jadi kalau ditanyain gimana acaranya, saya nggak bakal bisa jawab, wong saya nggak nonton. Jadi kalau kamu nggak suka sama mbak Britney misalnya, hal yang logis adalah: nggak usah nonton acaranya atau ndengerin musiknya. Gampang banget. Toh Britney bukan tetanggamu dan kamu nggak bakal ketemu dia di arisan ibu-ibu RT.

 

Sama seperti pembenci presiden, pembenci ulama, pembenci entah siapa di dunia maya, saya yakin sebagian besar para pembenci seleb itu belum pernah ketemu si seleb. Mereka tidak tahu si seleb, apalagi kenal. Saya yakin si seleb tidak pernah ngutang sama mereka, tidak pernah nyamber jemuran, apalagi gebetan mereka. Intinya si seleb tidak pernah berbuat sesuatu yang jahat pada mereka, tapi tetap aja mereka benci. Alasannya bisa sangat tidak masuk akal: habis dia lenjeh sih. Lah, tahu lenjeh dari mana? Kalau memang beneran lenjeh, terus ngapain? Tuh, teman lo lenjeh, kok elo nggak benci dia? “Ya bedalah. Dia kan teman. Tiap hari ketemu. Biar lenjeh, dia baik kok, suka nraktir gue.” Oh. Alasan bisa dicari, sampai-sampai para pembenci Jokowi punya alasan yang absurd sekali: dia Yahudi. Ya ampyun, spicles saya.

 

Antonim Cinta Bukanlah Benci

Saya ingat menyaksikan Rhenald Khasali di sebuah talkshow. Dia mengisahkan masa kecilnya yang unik, di antaranya saat ia menjawab pertanyaan guru SD-nya, “Apa lawan kata cinta?” Rhenald menjawab, “Tidak cinta,” bukan benci. Bisa jadi dia disalahkan atas jawaban tersebut, tapi sungguh lho menurut saya dia benar. Dia menjelaskan, kalau saya tidak cinta dia bukan berarti saya benci dia.

 

Saya merasakan hal seperti itu. Antara benci dan cinta ada spektrum yang sangat luas dan rumit. Saya tidak suka pada musik dangdut, bukan berarti saya membencinya. Bahkan kalau ada acara joget dangdut, saya kadang ikutan (ngaku deh). Saya tidak suka pada Bu A, bukan berarti sama membencinya. Begitu pula bila saya suka sama Jokowi, bukan berarti otomatis saya benci Prabowo dan SBY. Tidak. Saya tidak membenci mereka.

 

Entahlah, saya lumayan sibuk hingga tak sempat membenci apa-apa, siapa-siapa. Jangankan membenci Opick atau Caesar, membenci orang yang ngemplang, ndak bayar utang saja saya tak bisa. Serius. Saya kesal pada si pengutang. Kesal lho, bukan benci.  Kesal bukan karena utang saya nggak dibayar, tapi karena saya ditipu. Dulu ngakunya kepepet buat bayar ini itu… tapi ternyata, oh ternyata.

 

Toh seiring waktu kekesalan saya memudar. Kenapa? Karena di kebanyakan waktu saya terlalu bahagia untuk merasa kesal. Gimana bisa kesal saat saya melihat tingkah anak-anak saya yang lucu. Di lain waktu saya tenggelam dalam tulisan saya hingga tak sempat memikirkan hal lain. Di kesempatan lain, saya  ngobrol nggak mutu tapi seru bersama sahabat-sahabat saya. Lah kok kober mengingat-ingat kekesalan saya pada orang lain. Saya juga tak membenci si pengutang karena nyatanya, kalau ketemu saya bahkan tak sanggup mengata-ngatainya, menuding-nudingnya, atau melemparinya dengan telur busuk (ke mana pula mencari telur busuk, see, kan, membenci itu butuh energi banyak sekali). Ada banyak sisi lain dari si pengutang yang membuat saya tak bisa membencinya begitu saja, hanya karena satu masalah utang.

 

Mengapa Membenci

Lalu kan saya jadi mikir bagaimana seseorang bisa membenci sebegitu rupa? Dari video Dylan tadi saya mengerti bahwa orang bisa membenci karena banyak alasan yang bisa jadi nggak ada hubungannya dengan orang yang dia benci itu.

 

Ada seseorang yang mengaku dia mengirimkan hateful messages pada beberapa orang tenar sekaligus. Jadi, dia memilih target kebenciannya dengan acak saja. Ada pembenci yang bilang dia di-bully di sekolah (dan tentunya jadi penuh amarah dan kebencian, meski bukan pada Dylan). Beberapa orang membenci Dylan karena tidak suka pada apa yang dia katakana dan pemikiran-pemikirannya. Tapi yang paling menarik, deberapa di antaranya berkata mereka tak benci lagi pada Dylan setelah percakapan itu. Satu kali percakapan singkat dan blas, tak ada kebencian. Mereka bahkan tertawa-tawa dalam percakapan itu.

 

Ungkapan bilang, kalau kamu cuma punya cabai, kamu cuma bisa bikin sambel alias pedes melulu hidupmu. Kalau kamu tak punya kebahagiaan atau cinta kasih, mana mungkinlah kamu ngasih hal-hal manis itu.

 

Beberapa orang memang punya tragedi hidup yang baik. Mungkin mereka pernah dilecehkan dan tak sanggup mengungkapkannya. Seorang anak mungkin tumbuh dalam keluarga pemarah dan tiap kali dia kesal, dia memaki-maki karena tahunya cuma itulah cara menyalurkan amarah. Media sosial adalah media yang empuk ini karena kita bisa menyamar di sini, tampil tanpa identitas, dan bebas memaki-maki tanpa digamparin langsung. Seseorang mungkin hidup dengan beban yang berat dan mudah iri saat melihat orang lain seolah-olah hidup tanpa beban. Seolah-olah saja, wong kita nggak tahu apa yang ada di balik penampilan gemerlap mereka. Kalau berpikir begitu, jatuh iba saya pada mereka. Saya tahu betapa nggak enaknya memiliki amarah itu. Kadang saya marah –tentu saja, saya manusia—dan pada saat yang jarang itu pun saya sudah cukup tersiksa. Lah, bagaimana nasib mereka yang marah terus-menerus kayak para pembenci itu?
Saya berharap, entah bagaimana, kita semua berjalan menuju dunia yang lebih damai, dengan lebih sedikit kebencian. Bagaimana pun kecilnya, kebencian selalu berpotensi menjadi besar. Dan meski bermula di dunia maya, kadang kala kebencian bisa merembet ke dunia nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Penduduk Asli vs Imigran Dunia Digital

Saya mendapat dua istilah ini: digital native dan digital immigrant dari rubrik Opini di Kompas. Sayang saya lupa yang nulis siapa. Intinya, generasi terdahulu –kira-kira yang lahir sebelum tahun 1990an—adalah ditigal immigrant, sementara generasi sesudahnya adalah generasi digital native.

Saya termasuk generasi digital immigrant. Kenapa? Karena saya baru mengenal dunia digital setelah dewasa. Saya ingat saya baru punya e-mail saat kuliah. Saya ingat betul, waktu keluarga kami beli komputer ‘baru’ (baru di sini maksudnya benda baru di rumah, meski komputer itu sendiri adalah komputer bekas), saya grogi betul saat menggerakkan mouse.  Kalau tidak salah, saya juga sudah kuliah waktu itu.

Komputer dan internet merupakan penanda zaman saat saya remaja. Otomatis orang-orang yang tak pernah bersentuhan dengan internet atau komputer sebelumnya terpaksa tunak-tunuk mempelajari dunia ajaib itu. Nah, karena kami terpaksa ‘pindah’ dari dunia manual ke digital inilah kami disebut immigrant.

Digital Native

Tahun 1980an hingga 1990an banyak kursus komputer tumbuh. Jangan sangka itu kursus pemograman atau Desain Grafis. Tidak. Itu adalah kursus cara MENYALAKAN komputer. Sungguh. Waktu itu windows belum ada.  Sistem operasi yang dipakai adalah DOS. Dan program ‘ketik’ yang populer adalah ‘wordStar’. Tiap langkah adalah perjuangan. Kami harus menghapal control ini control itu untuk menjalankan suatu perintah. Tidak bisa main ‘tunyuk’ begitu saja. Harus pencet tombol ctrl plus tombol lain. Belajar komputer itu bener-bener kayak belajar bahasa asing plus grogi dan ketakutan. Takut layarnya yang segede gaban meledak, takut disk yang segede voltus macet dan seterusnya.

Ibu saya hingga ia meninggal tak pernah bersentuhan dengan komputer. Ya ampun, jangankan komputer, belajar ngetik SMS saja begitu susah baginya.

Bagaimana dengan anak sekarang? Ya ampyuuunnn, anak sekarang itu… mengoperasikan komputer sudah kayak bernapas aja. Mereka itu adalah ‘native’ alias penduduk asli. Angger misalnya baru dua tahun udah bisa menyalakan komputer (saya tidak bangga). Dia juga bisa memutar ulang video di hape (saya juga tidak bangga). Dijamin deh, begitu dia bisa membaca, dia bakal bisa mengirim SMS. Kalau cuma telepon dan buka facebook, itu sih kayak membalik tangan.  

Jadi sungguh saya heran mengapa anak SD sekarang perlu diajari komputer di sekolah. Wong, mereka lebih pintar dibanding gurunya. Serius lho. Suami saya kerja di bidang pendidikan. Institusi tempatnya bekerja bertugas mengembangkan kecakapan guru. Mereka sering mengadakan pelatihan komputer untuk guru. Bukan pelatihan komputer canggih, tapi pelatihan bagaimana MENYALAKAN komputer.

Untung atau Rugi?

Tidak seperti kecakapan dasar seperti bicara, menulis, berhitung, dan makan dengan benar, keterampilan menggunakan komputer tidak perlu diajarkan sejak dini. Menurut saya lho. Tak perlu juga diajarkan dengan formal-formal amat. Udah deh, kasih anak-anak laptop, dan seminggu kemudian, dia sudah bisa mengutak-atik foto.

Hanya sedikit manfaat yang didapat anak-anak dari mempelajari komputer sejak dini. Salah satu manfaat anak bisa mengoperasikan komputer sejak dini adalah enggg… coba saya pikir dulu… apa ya… oya, dia bisa menyalakan komputer dan nonton film atau main games tanpa harus minta tolong ibuunya. Oke, itu satu. Yang lain… oke saya gagal menemukannya.

Sekarang kerugiannya. Pertama jelas membuat anak malas bergerak. Layar komputer sama menariknya dengan layar televisi untuk anak-anak. Secara fisik jelas ini tidak sehat. Untuk mata pun tidak sehat. Saya pernah membaca di majalah, pandangan orang-orang masa kini semakin sempit, dalam arti sesungguhnya. Dibatasi oleh jendela mobil, apartemen yang berjejalan, belum lagi di rumah pun cuma nonton TV yang 30 inch. Eh, ini masih dipersempit lagi dengan layar laptop yang cuma 12 inch. Masih belum cukup? Ada layar hape yang cuma tiga atau empat inch.

Kerugian kedua adalah ‘memangkas’ keterampilan manusia. Anak tak lagi menggunakan jari-jarinya dengan maksimal. Saya dulu ingat, ada pelajaran menulis halus waktu kelas satu SD. Ini adalah jenis tulisan tegak bersambung yang harus ditulis tebal tipis. Tebal saat kita menarik garis ke bawah, tipis saat menarik garis ke atas. Ada juga aturan lain tentang proporsi huruf. Seberapa panjang kaki huruf ‘k’ misalnya, dan seberapa pendek perut huruf ‘b’. Kegiatan ini bisa jadi tampak sangat membosankan dan membuang waktu. Buat apa, sih? Tapi percaya atau tidak, sebagai anak-anak, saya sangat menikmatinya. Ini benar-benar melatih kepekaan jari, kepekaan rasa, dan  keindahan. Tangan pun jadi rajin. Percaya atau tidak setelah saya menggunakan komputer, tulisan tangan saya jadi jelek sekali. Dan saya juga malas banget menulis dengan tangan saya. Untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Menulis alamat teman yang akan saya kirimi paket misalnya. Daripada repot-repot menyalin, kan lebih  enak alamat itu langsung dicopy dan diprint, tempel. Beres deh. Nggak peduli kalau itu menghamburkan listrik dan kertas. Sumber daya yang wajib kita hemat demi melestarikan lingkungan.

 

Saya pernah membaca ‘memaksa’ jari jemari kita terus bekerja akan menjaga otak dan ingatan kita. Ada proses yang lebih rumit saat kita menulis dengan tangan dibanding saat kita hanya memencet keyboard semata. Proses menulis dengan tangan melibatkan lebih banyak syaraf dan lebih menstimulasi otak. Hasilnya, otak kita akan lebih sehat!

 

Budaya Instan

Satu lagi dampak samping komputer (dan internet) adalah menumbuhkan budaya instan. Budaya instan, seperti layaknya mi instan, tidak mempedulikan proses. Yang penting hasil. Tapi sebenarnya, seberapa penting proses itu? Penting sekali menurut saya.

Contoh saja nih, mungkin tak semua anak sekarang tahu dari mana santan berasal. Barangkali kalau ditanya, mereka akan menjawab, “Dari karton kotak bertuliskan KARA”. Mereka tidak tahu bagaimana bentuk asli kelapa si penghasil santan dan bahwa kelapa itu harus ‘dislumbat’ dulu. Setelah dislumbat mesti dipecah atau ‘dikupas’, lalu kadang mesti dikerok dulu (tergantung apa kebutuhannya dan seberapa tua kelapa itu), lalu diparut, setelah diparut baru diperas. Cara memarutnya pun berbeda bila keperluannya berbeda. Kelapa yang diambil santannya harus diparut dengan vertikal yang akan menghasilkan parutan lembut dan menghasilkan lebih banyak santan. Sementara kelapa yang akan digunakan untuk bumbu gudangan misalnya, harus diparut secara horisontal, disunggat istilah Jawanya, dan akan menghasilkan parutan kelapa yang berbentuk lebih kasar dan panjang, menimbulkan senasi renyah dan ‘kriuk’.

Apa akibatnya bila seorang anak tidak mengetahui proses panjang si santan ini? Mungkin tidak tampak secara nyata, tapi lambat laun kita tak akan lagi menghargai pohon kelapa, tidak lagi menghargai tanah, petani, nilai-nilai pangan sehat dan alami, dan seterusnya.

Secara umum, kita tak lagi menghargai ‘laku’. Istilah Jawa ini menggambarkan ketekunan menikmati proses. Teman saya Mas Cyprianus Lilik pernah bercerita, seorang Romo yang juga pendidik di STM mencari tahu apakah pelajaran mengasah kayu secara manual masih layak dipertahankan setelah ada berbagai mesin canggih penghalus kayu. Ia pun mengadakan studi banding dan menemukan bahwa di teknik sipil negara-negara maju sekali pun, mata kuliah ‘mengasah’ masih dipertahankan. Alasannya? Dalam mengasah itu ada ‘laku’. Ketekunan. Penghayatan kita atas pekerjaan yang kita jalani.

Kembali ngomongin komputer. Budaya instan komputer membuat anak lebih senang menyalin-tempel (copy paste). Tak ada lagi proses menyusun surat secara mendalam, penuh kasih, dan hati-hati. Setiap kata dipikirkan. Setiap gerak menulis dihayati.

Di komputer kata-kata yang salah bisa dengan mudah dihapus. Kita juga tidak perlu lagi berhati-hati membubuhkan tanda ‘titik’ di atas huruf ‘i’, menulis garis melintang pada huruf ‘t’. Mau huruf apa pun, prosesnya sama kok. TINGGAL MENCET! Jadi jangan heran kalau sekarang banyak tulisan alay, yang susah sekali dibaca. Kita juga tak perlu menggambar sendiri, menghitung sendiri, membuat catatan sendiri yang berwarna-warni dan digambari jantung hati. Semua sudah disediakan komputer dengan lugas, dingin, dan kaku.

Tak Ada Interaksi

Salah satu kelemahan mendasar komputer adalah tidak adanya interaksi bahkan saat kita sedang bermain. Anda boleh saya bilang, “Asyik lho belajar bahasa Inggris dengan komputer dan si komputer bisa berinteraksi kok. Dia bisa mengatakan, ‘great’ kalau kita mengklik gambar dengan benar, bisa tepuk tangan juga.”

Baiklah. Tapi bisakah komputer itu memberikan cap bintang di tangan anak kita bila ia sudah berusaha cukup keras meski jawaban di lembar kerjanya masih banyak yang salah? Bisakah si komputer mengecup dahi anak, memeluknya, dan mengatakan, “Tidak apa-apa kalau kamu belum paham, besok kita ulang lagi ya.”

Tidak ada interaksi emosi dengan si mesin dingin ini. Saat bermain pun demikian. Ketika anak-anak main gobak sodor di lapangan, mereka belajar bertenggang rasa, bermain dengan sportif dan adil, kadang harus belajar cara menangani konflik, menghadapi kawan yang curang, hingga mengobati lutut yang cedera. Nilai-nilai apa yang ditawarkan oleh game online?

Tak Ada Alternatif

Aduh listrik mati! Kita nggak bisa kerja. Itulah situasi kerja kantoran kita sekarang. No computers, no works. Inilah sikap mental yang juga terbentuk oleh budaya instan. Saya sekarang ogah banget menerjemahkan dengan kamus manual. Capek. Susah. Anak sekarang mungkin bahkan nggak tahu bahwa ADA kamus manual. Komputer telah membentuk sikap mental kita bahwa ia adalah solusi segalanya. Kita tidak terbiasa berpikir alternatif. Saya ingat waktu listrik di kantor mati, bos saya bilang, “Now, I can’t send that file to you.” Lalu tiba-tiba kami berdua sadar bahwa meja kerja kami hanya berjarak dua meter.

Entah bagaimana dulu orang-orang bisa terus berkomunikasi, bertemu rutin, berbagi cerita, dan tau apa yang terjadi pada tetangga dekat maupun saudara jauh meski tak ada telepon, e-mail, atau pesawat. Mereka menggunakan segala macam cara mulai dari membunyikan kentongan sampai mengirim surat dengan jasa ekspedisi berkuda. Sekarang? Tinggal pencet tombol Skype aja, belum tentu sebulan sekali saya chatting dengan ponakan saya si Anggit yang tinggal di Kobe. Eh, sekali chatting, saya dicuekin karena dia sibuk nonton Ipin-Upin. Lagi-lagi distraksi dunia digital.

Inginnya

So, ingin sekali saya menunda mengenalkan komputer dan internet pada Angger. Saya termangu-mangu bila membayangkan SD besok, dia sudah harus belajar komputer. Tapi eh, mau gimana lagi? SD-SD itu minder sekali kalau nggak punya komputer. Di semua brosur sekolah dasar (bahkan taman kanak-kanak) lab komputer seolah menjadi menu penarik wajib. Minggu lalu, saya bawa Angger ke Taman Pintar. Ada fasilitas PAUD di sana. Dan di dalam PAUD itu ada komputer! Dengan riang petugasnya bilang, “Yuk, Dek, mau main komputer?” Komputer di PAUD di taman pintar diklaim akan mempersiapkan anak-anak menghadapi teknologi modern. Yeah.  

Saya sih penginnya SD di Indonesia mengajarkan hal-hal penting aja: menghormati orang lain, menulis dengan baik, bicara dengan sopan, mencintai pohon. Seperti itulah. Tentu boleh saja memberi perkecualian pada anak yang punya bakat dan minat khusus seperti Nick D’Aloisio, remaja yang pada waktu ia berusia tujuh belas tahun sudah menjual aplikasi Summly pada Yahoo dengan nilai jutaan dollar. Ia sudah belajar ‘coding’ sejak usia 12 tahun. Saya nggak tahu usia berapa ia mulai utak-atik komputer, tapi it’s definitely worth it! Lain ceritanya, kalau anak diajar komputer sejak dini hanya untuk jadi konsumen… game facebook pula. Alamak.