Tag Archives: pendidikan

Sekolah = Mandiri?

Sebagai orangtua yang menjalankan pendidikan rumah (homeschooling), kadang kami mendapat pertanyaan seperti ini. “Kalau nggak sekolah, gimana anakmu bisa mandiri?” Ini bukan pertanyaan sih sebenarnya, tapi sematjam tuduhan tadjam.

 

Mak tratap rasanya.  Iya ya, gimana anak saya bisa mandiri, wong tiap hari saya dampingi. Tiap hari mereka nemplok ke simboknya.

 

Tetapi beberapa hal yang saya saksikan sendiri akhir-akhir ini membuat saya bertanya, apa iya (hanya) sekolah yang menentukan kemandirian seseorang?

 

“Begitu masuk PAUD, cucu saya langsung mandiri lho, Bu,” kata sesesimbah bangga.

“Mandiri gimana, Mbah?”

“Bisa pakai sepatu sendiri.”

“Oh.”

(Lega, anak saya juga bisa pakai sepatu sendiri).

 

Kemandirian jadi salah satu alasan terkuat bagi ortu untuk menyekolahkan anaknya. Begitu pentingnya sifat mandiri ini bagi orangtua hingga mereka melakukan segala cara agar anak mandiri. Makin cepat mandiri, makin baik. Tak heran, anak-anak sudah dikirim sekolah bahkan sebelum mereka bisa merangkak. Diharapkan pada usia tujuh tahun mereka sudah bisa mandiri seperti bisa… errr… pakai sepatu sendiri. (Ya iyalah, masak anak segitu diminta nyusun makalah sendiri).

 

Balik ke masalah tadi, apakah sekolah membuat anak-anak mandiri? Ya! Bila mandiri itu dimaknai bisa pakai sepatu sendiri plus bisa berpisah dari dan tidak mengganggu orang tuanya selama beberapa jam.

 

Sekolah yang Merampas Kemandirian

“Anak saya yang SMA terpaksa berangkat sekolah sendiri kemarin karena saya nggak bisa ngantar,” kata sesebapak, “Biarlah, biar dia belajar mandiri. Dan ternyata dia bisa. lho.”

“Oya? Naik apa, Pak?”

“Taksi.”

(Saya ternganga)

 

Pada lain waktu, seseibu mengeluh,“Duh, bentar-bentar harus ngecek anak-anak nih, udah makan apa belum, rumah udah dikunci belum.” Si ibu memang sedang menginap di luar kota selama beberapa hari.

“Memangnya anaknya umur berapa Bu?”

“Udah SMA, tapi tetap aja cerobohnya nggak ilang-ilang.”

(Ternganga lagi).

 

Di lain tempat, ada pula yang seseortu yang komentar gini, “Saya gitu, sih. Yang penting anak-anak belajar. Kerjaan rumah tangga biar saya yang kerjain selama tugas sekolah anak-anak beres.”

(Ternganga #3 karena gimana yah, anak saya yang 6 tahun aja sudah saya suruh ngerjain ini itu biar ibunya sempat….eh… ngikir kuku)

 

Jadi begitulah. Saya menyaksikan sendiri betapa sekolah, meski bisa mengajarkan anak-anak untuk pakai sepatu sendiri, ternyata tidak menjamin anak-anak untuk mandiri, bahkan dalam beberapa kasus merampas kemandirian mereka. Kok bisa? Ya karena sebagian besar waktu anak-anak itu habis di sekolah. Mereka mungkin bisa mengerjakan PR matematika yang rumit, tetapi begitu disuruh menanak nasi bingung mendadak.

 

Waktu yang sempit tak membiarkan anak-anak berusia enam tahun untuk mandi sendiri. Karena kalau mandi sendiri lama banget! Jadilah mereka tak cakap mengurus diri sendiri, apalagi untuk mengurus hal-hal di luar dirinya.

 

Miskin Inisiatif dan Motivasi

Dalam beberapa hal,  kegiatan sekolah justru yang membuat anak-anak tidak bisa mandiri. Jadwal dan kurikulum yang disediakan membuat mereka tak memiliki inisiatif sendiri. Kalau mereka belajar, itu karena disuruh guru. Begitu nggak ada yang nyuruh, ya nggak belajar.

 

Bagi anak-anak yang kurang cocok sekolah, orangtua pasti lebih repot lagi karena anak-anak ini bangun tidur mesti dibangunin, sarapan mesti dibuatin, PR harus diingetin. Waktu yang sempit memaksa ortu untuk melayani anaknya. Kalau nggak dikejar-kejar, disiapin, atau dibantuin anak-anak ini bakal terlambat sampai sekolah atau malah tidak masuk sama sekali. Tugas sekolah juga bakal keteteran.

 

Wajarlah bila ortu masih membantu anak-anak kelas 1 SD menyiapkan buku pelajarannya. Wajar juga (dan bahkan harus) ortu mendampingi mereka belajar. Gak pantes lah anaknya ngerjain PR, ibunya chatting di WA (eh). Makin nggak pantes lagi kalau anaknya ujian, Bapaknya nggak tahu sama sekali. (Eh, bapak-bapak, mbok yao kalau anaknya ujian, Anda nyediain cemilan buat teman belajar atau ikut sholat malam gitu lah, buat dukungan moral).

 

Tetapi sungguh deh, ada yang salah bila anak kelas 3 SD masih disuapin tiap pagi sementara si anak…. mengenakan sepatu.

 

Saya pernah berbasa-basi dengan seseanak kelas enam SD. Karena UN sudah di depan mata, maka saya tanya, “Tanggal berapa ujiannya?”

“Nggak tahu.”

“Belum diumumin?”

“Udah, tapi lupa.”

Hah!

“Hari pertama mata pelajaran apa yang diujikan?”

“Nggak tahu.”

Saya sudah capek ternganga. Ini lho, anak kelas enam, ujiannya sendiri aja nggak tahu kapan.

 

Ortu memang harus terlibat dalam pendidikan anak. Kini keterlibatan ini didorong lebih kuat dengan misalnya, gerakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. Suatu gerakan yang pantas diapresiasi. Tetapi kadang orangtua kebablasan melibatkan diri. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang canggih, kini ortu nyemplung sepenuhnya dalam kegiatan si anak. Grup WA ortu murid penuh dengan seliweran pertanyaan, “Tugas buat besok apa ya?” atau “PR yang mesti dikerjain halaman berapa ya?” sampai “Ujian, kapan ujian?” Lah, anaknya ngapain tadi di kelas? Jualan cilok?

 

Kemandirian Berpikir

Bagi saya yang lebih menakutkan daripada ‘nggak bisa menanak nasi pakai rice cooker’ adalah ketakmandirian berpikir. Pada waktunya, semanja-manjanya anak dia bakal bisa mandi sendiri. Cara menanak nasi dapat dipelajari dalam waktu singkat. Namun ketidakmampuan untuk berpikir mandiri ini berbahaya.

 

“Tamat SMA kamu pengin ngapain?”

“Nggak tahu.”

“Pengin kuliah jurusan apa?”

“Apa ya, bingung.”

“Lah kamu punya minat apa?”

“Eh, nggak punya.”

“Terus maunya apa?”

“Terserah Mama saja.”

Ealah wong yang mau menjalani kamu kok terserah ayah ibu. Ini fakta loh, banyak anak SMA yang bahkan tidak bisa memutuskan masa depannya sendiri. Punya bayangan saja tidak. Lulus SMA itu kan rata-rata usia 17 tahun. Rata-rata sudah 12 tahun sekolah. Eh, tetap saja ngambil keputusan buat diri sendiri galau berat.  Mereka terlalu banyak didikte oleh orangtua dan sekolah. Hidupnya sudah biasa diatur oleh orang lain sampai sampai ke menit-menitnya (misal, belajar bahasa Inggris 45 menit persis, mau kamu udah bosan banget atau malah belum puas, jatah belajarmu ya segitu, nggak boleh kurang, nggak boleh lebih). Caranya juga diatur begini begitu, pakai buku itu, nilainya harus minimal segini.

 

Ketidakmandirian berpikir ini berujung pada kegalauan anak tiap kali ia dihadapkan pada masalah yang harus ia hadapi. Di bangku kuliah aja, udah ketahuan kok. Begitu anak dikasih tugas mandiri, mereka bingung cara ngerjainnya. Padahal masalah hidup jauh lebih kompleks; nggak punya duit, diputusin pacar, ditawari narkoba, sampai di-PHK.  Oleng lah sudah karena ortu tak setiap saat bisa mendampingi. Percaya atau nggak, ada lulusan S2 yang masih aja dikasih uang saku sama ortunya. Pekerjaan? Dicariin ortunya juga. Silakan ternganga. Saya sudah lelah ternganga.

 

Tidak Hanya Sekolah Semata

Jelas banyak sekali anak sekolah yang berhasil mandiri. Jadi mengapa sebagian anak sekolah akhirnya bisa mandiri dan sebagian lagi tetap menggelantung di kaki orangtua bahkan sampai mereka punya anak dan jadi orangtua?

 

Saya pikir perkaranya bukan sekolah semata. Kemandirian anak terbangun di atas berbagai macam fondasi, tetapi yang pertama dan utama adalah keluarga. Keluarga perlu melatih anak ketrampilan-ketrampilan dasar sehari-hari. Ortu harus melibatkan anak dalam mengurus rumah tangga. Di luar sekolah, beri kebabasan anak untuk belajar sesuai minatnya, dengan caranya. Beri mereka hak untuk mengatur jadwal mereka sendiri. Biarkan mereka mengambil keputusan, melakukan kesalahan, dan menanggung risikonya. Sehubungan dengan sekolah, sebisa mungkin minta anak untuk menyelesaikan tugasnya sendiri. Andai anak butuh bantuan pastikan anak tahu cara mencari bantuan. Kalau Anda yang memberikan bantuan, bantu dia secukupnya.  Nggak perlulah, sampai kita yang ngerjain PR-nya atau menyimpulkan tali sepatunya. *eh, yang terakhir ini udah bisa ding.

Advertisements

Anak ‘Nakal’: Salah Siapa Sebenarnya

“Ibu dituntut (sekian milyar) oleh anak kandungnya sendiri.”

“Anak aniaya ibu kandung.”

“Manula terlantar di panti jompo, tak pernah dijenguk anak-anaknya.”

“Anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan umum.”

 

Setiap membaca berita-berita semacam itu, ngenes, prihatin, geregetan bercampur. Kok bisa sih, seorang anak kurang ajar banget pada orang tuanya sendiri? Bila kebetulan berita semacam itu beredar di medsos, komentarnya pasti gondrong dan nadanya mirip-mirip, “Kasihan banget si ibu.” Atau “Anak durhaka. Nggak ingat pengorbanan ibunya dulu?” Atau “Astaghfirullah. Nggak takut sama neraka?” Atau, “Anak-anak zaman sekarang memang keterlaluan.” Intinya sih, selalu menyalahkan si anak. (Lha, mau nyalahin siapa lagi, sih? Wong jelas anaknya yang  salah).

 

Benarkah Ini Salah Anak?

Saya pernah baca kisah seorang pegiat LSM anak yang punya masa kanak-kanak yang kelam. Sewaktu masih kecil ia sering dikasari oleh ayahnya yang kebetulan dosen di IAIN (IAIN mana saya tak begitu ingat). Ia menjadi korban kekerasan fisik, verbal, dan psikologis yang dilakukan sang ayah. Ia tak berani membantah karena si ayah dan guru agama mendengungkan dalil bahwa menaati orang tua wajib hukumnya.   Yang tak pernah didengungkan tentu saja, bahwa orang tua punya kewajiban mendidik dan mencintai anak-anak mereka. Syukurlah ia berhasil lepas dari lingkaran trauma dan akhirnya menjadi pembela anak-anak.

 

“Anak saya itu… duh, habis kesabaran dibuatnya. Nuakal banget.”

“Nggak tahu kenapa anak saya bisa jadi berandalan kayak gitu. Saya marahi juga nggak kapok.”

“Saya sudah nyerah soal anak saya. Nggak bisa diatur. Dikasih tahu juga nggak digubris.”

 

Keluhan-keluhan semacam itu tak asing, bukan? Orang tua memang sering mengeluhkan anaknya. Wajar. Tapi sungguh lho, kadang saya ingin membalikkan pertanyaan, “Lha kok bisa?”

 

“Anak saya baru lima tahun, tapi udah kecanduan gadget.” Lha kok bisa?

“Anak saya yang SD itu berani lho ngomong kasar sama saya.” Lha kok bisa?

“Anak saya ikut geng motor.” Lha kok bisa?

 

“Generasi sekarang itu memang payah. Manja. Malas. Tak punya sopan santun.” Entah bagaimana generasi terdahulu selalu merasa generasi setelahnya lebih buruk daripada generasi mereka. Ini tak selalu benar. Tapi benar atau salah, saya pikir generasi kita bertanggung jawab untuk mendidik generasi sesudahnya. Jadi kalau generasi anak-anak kita ‘payah’, mungkin kitalah yang payah sebagai orang tua. Kalau murid-murid ‘bodoh’, bisa jadi yang salah adalah gurunya yang tak piawai mengajar.

 

Terpengaruh Teman-Temannya

Seorang bapak mengeluhkan anaknya yang mogok sekolah dan malah berendang-berendeng sama geng motor modifikasi. Si anak bahkan menghabiskan sekian juta demi memodifikasi motornya. Tapi, si Bapak walau mengeluh-ngeluh ya tetap ngasih. Dan si bapak bilang, “Dia itu terpengaruh temannya.”

 

Terpengaruh teman. Terpengaruh TV. Terpengaruh internet. Apalah. Pengaruh luar ini sering banget dijadikan kambing hitam para orang tua bila anaknya bermasalah. Dalam bukunya Getting your Kids to Say No in the 90s when You Said Yes in the 60s, Victor Strasburger, si penulis, menyatakan, semua itu bukan alasan. Menurutnya, kalau anak kita katakanlah terpengaruh teman-temannya pakai narkoba, itu salah kita juga sebagai orangtua yang membuat si anak mudah terpengaruh. Mengapa anak kita tak berani menolak? Dan bahkan, mengapa anak kita bisa berteman dengan orang-orang yang salah? (anyway, saya sendiri pernah berteman dengan ‘orang yang salah’, tapi akal sehat kemudian menuntun pada fakta  bahwa ada sesuatu yang salah pada teman yang awalnya saya kagumi itu).

 

Jangan-jangan dari kecil kita memang selalu menuntut anak kita untuk manut dan manut. Bisa jadi kita tak pernah memberi kesempatan si anak untuk berani menolak dan berani berargumen dengan ortunya yang berakibat ia pun tak bisa bilang ‘tidak’ pada rekan sebayanya saat mereka menawarkan hal-hal yang tak ia suka.

 

Bagaimana pun Kita Punya Andil

 

Kalau anak kita hendak merampas harta kita gara-gara disuruh oleh suami atau istrinya, salah kita juga karena membuat si anak tak bisa memilih pasangan dengan benar atau ketika pasangannya mengajaknya berbuat tak benar, ia tak berani menolak.

 

Saat mendengar berita anak durhaka, terkadang simpati saya bercampur dengan rasa penasaran. Kok si anak bisa durhaka? Mengapa si anak ‘menelantarkan’ orang tuanya di panti jompo dan tak pernah menengoknya sama sekali meski mereka tinggal dekat dari situ? Tak ada kedekatan di antara mereka yang membuat si anak rindu?  Jangan-jangan memang tak ada kenangan manis tentang orangtuanya yang melekat di memori si anak?

 

Mengapa si anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan orang banyak? Adakah si orang tua mengajarkan si anak untuk tidak memaki? Untuk sabar dan berwelas asih? Adakah si orang tua memaki si anak waktu kecil dan serba tak sabar padanya? Apakah si anak punya kebiasaan itu karena mencontoh orang tuanya?

 

Bagi saya interaksi antar individu pada dasarnya adalah aksi dan reaksi. Apa yang kita beri akan kita dapatkan balik, kok. Termasuk rasa hormat. Tidak, kita nggak bakal dapat rasa hormat dari anak dengan bersikap galak atau ancaman api neraka. Kita akan dapatkan rasa hormat dari anak, bila kita menghormati mereka. Kita dapatkan cinta kasih, bila kita mencintai dan mengasihi mereka.

 

“Ah, ada tuh teman yang udah aku baikin, eh tahunya nusuk dari belakang.” Yup, selalu ada. Tapi berapa jumlahnya? Saya kok yakin yang seperti itu cuma satu dua di antara yang banyak dan baik.

 

Walau Memang Tak Sesederhana Itu

Meski pengamatan saya membuktikan sebagian besar orang tua yang baik akan menghasilkan anak yang baik, saya sadar benar ada faktor X yang membuat hidup ini tidaklah hitam putih (dan itulah yang membuat hidup ini misterius sekaligus menarik).

 

Ada orang tua yang sudah mendidik anaknya dengan sangat baik, dengan penuh kasih sayang dan segala kesabaran, tapi eh, si anak tetap saja ‘membelok’. Sebaliknya, ada orang tua preman yang yah, sebenarnya nggak pantes jadi orang tua, tapi entah bagaimana, anaknya malah ‘ndalan’.

 

Ada ortu yang ‘sangat kanan’, eh anaknya jadi ‘sangat kiri’ dan sebaliknya. Ya sudah, yang begini ini memang tak bisa kita tolak. Mari kita usahakan apa yang mampu kita usahakan. Sayangi anak-anak kita dan kalau mereka ‘gimana-gimana’, mari kita berefleksi, jangan-jangan mereka begitu karena kita begini.

Ironi Pendidikan

Kompas hari ini (3 Mei 2017) memuat artikel pendidikan –dalam rangka hari pendidikan—yang mengabarkan bahwa sekolah-sekolah kita masih bergelut dengan masalah klasik, kemelaratan fasilitas –boleh lah kita sebut begitu–. Salah satu yang diangkat dalam artikel ini adalah fenomena satu ruangan yang dipakai untuk anak-anak dengan tingkat kelas yang berbeda.

Berikut kutipannya:

Hari itu, untuk kelas III berlangsung pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang dibawakan oleh Victoria Mili, salah seorang guru di sekolah tersebut. Pada saat yang sama, di kelas IV, berlangsung pengajaran IPA yang dibawakan Ayu Plesila, juga guru du sekolah itu.

 

Dengan kondisi ruang yang tak terpisah, perhatian para murid di kedua kelas tersebut terbelah.

Begitulah penggambaran situasi di sebuah sekolah dasar di Kalimantan Barat. Saya geregetan membacanya. Bukan minimnya sarana yang bikin saya geregetan (walau ya, itu bikin saya prihatin), tapi karena di sekolah internasyenel di kota besar lagi ngetren metode kelas multi-ages alias siswa dari tingkatan yang berbeda digabung jadi satu dan belajar bareng. Apa ndak ironis itu? Yang sini, penginnya belajar sendiri-sendiri, tapi terpaksa bergabung. Yang sana, bisa belajar sendiri-sendiri, tapi dengan sukarela bergabung agar anak bisa bekerja sama dan bergaul dengan anak-anak berbagai umur.

Ironi Pendidikan

Saya ingat salah satu lawakan komedian tunggal Arie Kriting yang kurang lebih seperti ini, “Katanya ada sekolah hebat di Jawa, yaitu sekolah alam. Kayak apa sekolah alam itu? Sekolahnya nggak ada gedungnya. Lha, di daerah saya (Indonesia Timur) banyak sekolah nggak ada gedungnya.”

Piye kalau begitu itu?

TK X getol banget memborbardir anak didiknya dengan calistung. Eh, ada SD elit yang bahkan  membiarkan anak kelas satu dan dua belum bisa baca.  Lalu yang bener yang mana sih?

SD Z bangga betul dengan lab komputernya. Sampai-sampai di balihonya, foto lab komputer dengan komputer jentrek-jentrek dipampang besar-besar. Eh, lha kok di SD di Silicon Valley sono, tempat sekolahnya anak-anak bos google dan konco-konconya, malah nggak ada komputer buat siswa. Siswa nggak diajari komputer. Sistem pendidikan ala Waldorf yang terkenal di Eropa juga bersikap tegas soal ini: no TV and gadget sebelum anak-anak berusia 11 tahun. Lah, di sini anak TK aja udah disedikan game lho. (Tenang, game-nya edukatif kok, bikin  anak pinter, seperti hmmm…. gamemengenalkan warna).

Ubah Mindset

Balik ke kasus awal tadi. Saya bisa bayangkan betapa beratnya beban jadi guru-guru di sekolah terpencil. Betapa minin sarana yang mereka miliki dan yah, tidak adil membandingkan dengan SD internasyenel yang memang kelebihan dalam segala-galanya, termasuk dalam sumber daya guru.

Toh, saya tidak bisa tidak merasa iba sekaligus prihatin mendengar dua guru mengajar PPKn dan IPA dalam waktu dan tempat bersamaan. Saya berandai-andai guru itu bisa menyatukan kelas dan berkata, “Mbok ya sudah, yuk sekarang belajar IPA dulu semuanya. Anak-anak kelas IV bisa mengajari anak-anak kelas III.” (Kelas tiga itu ada pelajaran IPA nggak sih?). Materi bisa diotak-atik. Dan dua guru bisa saling bantu. Di lain waktu mereka bisa belajar PPKn bareng. Atau, kenapa tidak, yang lagi belajar IPA diajak keluar, jalan-jalan sambil mengamati pohon dan jamur?

Ya nggak segampang itu kali. Kan tiap kelas targetnya beda. Mungkin. Tapi saya kok justru melihat ini kesempatan bagi anak-anak untuk  belajar bekerja sama dan tantangan bagi guru untuk menyelenggarakan kelas yang menggembirakan bagaimana pun situasinya. (Yak, beginilah omongan emak-emak makmur yang punya kuota internet, tapi nggak pernah harus nyebrang sungai buat ngajar).

Anyway, rasanya sudah sering banget saya mendegar keluhan guru. Sudah sering saya mendengar jeritan sekolah yang kurang ini kurang itu. Saya tak hendak menafikannya. Tapi sungguh, saya nggrantes melihat sistem pendidikan kita yang kayak ‘kacamata kuda’, pokoknya jalan lurus nggak usah tengok kanan kiri. Nggak usah belok, nggak perlu meliuk.

Saya sedih lihat anak-anak miskin yang kudu berenang atau meniti jembatan demi ke sekolah. Bukan masalah berenangnya yang bikin hati ciut, tapi kok ya mereka berenang dengan pakaian seragam. Sebelum berenang, bajunya dicopot dulu, masukin tas, sangga di kepala atau gimana, lalu dipakai lagi begitu sampai di seberang. Maksud saya, penting bangetkah seragam bagi mereka? Sedih, melihat anak-anak dipaksa pakai sepatu ke sekolah sementara jelas uang yang buat beli sepatu bisa dipakai buat beli makan (dan yup, sekolah-sekolah swasta modern bahkan tidak mewajibkan anak-anak pakai sepatu atau  seragam lagi, yang konon mengikat dan tidak menyenangkan).

Pentingkah bagi anak-anak ini belajar segala macam kurikulum tentang ASEAN, PBB, struktur MPR, DPR bila membaca saja masih terbata-bata. Bila yang mereka butuhkan saat ini adalah melestarikan lingkungan sekitarnya dari kekeringan? Atau dari pembabatan hutan?

Atau perlukah mereka gedung sekolah? Tak bisakah mereka sekolah di kampung mereka sendiri? Guru mendatangi kampung mereka? Membentuk lingkaran mendengarkan guru mendongeng? Tak bisakah mereka bersekolah setelah mereka mengolah ladang? Belajar IPA dan bahasa sekaligus tanpa dipisah-pisah kelas?

Oke, baiklah, sudah cukup saya meracau. Saya sudah bangun dari mimpi sekarang ini. Rasanya itu masih jauh sekali. Tapi masih ada harapan, mungkin suatu saat nanti semua anak-anak di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan mereka. Tapi yang pertama-tama mari kita berdoa semoga guru-guru kita lebih arif, lebih kreatif, dan pemerintah kita tak lagi memaksakan segala macam kurikulum yang membuat anak-anak terpaksa belajar dalam satu kelas dengan dua mata pelajaran yang berbeda.

Tentang Semangat Kartini: Jangan Mundur Lagi

Hari Kartini sudah lewat, tapi semangatnya nggak pernah kedaluwarsa saya rasa. Jadi bolehkan saya tetap nulis tentang Kartini? (Sebenarnya ini sih karena angot-angotan nulis, jadi telat deh postingnya).

 

Anyway, mengapa sih Kartini jadi pahlawan dan hari lahirnya selalu diperingati? Mengapa pahlawan perempuannya lainnya tidak seistimewa itu? Padahal apa sih jasa Kartini? Cuma bukak sekolahan saja gitu lho.

 

Kalau Anda baca tulisan Kartini, mungkin Anda bakal paham bahwa pikiran-pikiran Kartinilah yang membuatnya pantas jadi pahlawan. Udah baca? Saya udah, meski belum semua dan itu pun sudah bikin saya terpesona padanya.

 

Ah, pikiran-pikiran kayak gitu aja lho, biasa aja lah. Well, untuk zamannya, ide-ide Kartini itu benar-benar luar biasa, beyond… beyond apa ya? Pokoknya melampaui zamannya lah. Bahkan melampaui zaman sekarang. Dan nggak cuma soal perempuan lho yang ia tulis, tapi juga soal budaya, agama, dan kebangsaan.

 

Coba wis bandingkan dengan era tahun 2000 sekarang ini. Udah abad segini, konsep kesetaraan gender aja masih banyak dapat tentangan. Masih dikritik dan masih dituduh macam-macam; melawan kodratlah, meningkatkan angka perceraianlah, membuat perempuan sok kuasa, dan sebagainya.

 

Lebih parah dari itu, di zaman yang udah maju, enak kepenak kayak gini, kok masih ada aja yang pengin menyeret kita mundur. Mundurnya nggak tanggung-tanggung! Berabad-abad. Coba bayangkan apa gak nangis tuh Kartini dan pejuang-pejuang perempuan lainnya kalau lihat gerakan absurd zaman sekarang. Setelah mereka berkeringat dan berdarah-darah memperjuangkan hak dan kesejahteraan perempuan, eh, kini ada gerakan ngajak perempuan kawin muda. Gabruk. *jedotin dahi ke tembok. Tak perlu saya jelaskan dampak negatif kawin muda (marai emosi). Gugel-en dhewe.

 

Apa Kita (Perempuan yang) Lebih Baik?

Saya sungguh bersyukur tinggal di Indonesia yang merdeka (dan terlebih di Jogja) yang relatif membebaskan perempuan. Tapi saya cemas membaca celotehan yang wira-wiri di internet. Soal perempuan yang harus ‘tunduk’ pada suami (alih-alih menjadi mitra sejajar), soal perempuan pekerja yang lagi-lagi dibenturkan dengan kemuliaan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, soal nikah muda yang konon dibuntel begitu indahnya padahal realitasnya nggak sesederhana itu, soal perempuan yang selalu disudutkan tiap ada perkosaan atau pelecehan atau kekerasan rumah tangga, soal perempuan yang kembali di dorong untuk ‘kembali’ ke rumah (tenang, Bunda, mau tetap dapat penghasilan meski ngendon di rumah? Ayo jadi downline saya! *eh)

 

Tiap hari saya ke pasar dan menemui Bu Painem penjual tahu tempe dan jelas-jelas membantu saya memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Ada pula Mbok Warti yang subuh-subuh sudah kulakan kelapa, ngangkut ke pasar, dan memarutnya agar ibu-ibu manja seperti saya bisa masak dengan mudah. Ada pula Bu Waginah, Bu Sarinem, dan ibu-ibu lain yang mengenakan kebaya serta kain (serius, masih ada penjual di pasar kampung saya yang pakai pakaian seperti itu, lengkap dengan sanggul dan stagennya), nyengklak bis atau nggenjot pit, sambil memanggul segambreng-gambreng barang dagangan. Sungguh, apa jadinya saya tanpa mereka, hiks. Dan sungguh saya siapa to saya ini dibanding mereka? (ah, elo, jangan banding-bandingin, lah).

 

Di balik setiap bungkus tempe, setiap bulir beras, setiap potong ayam, saya yakin ada tangan-tangan perempuan yang terlibat. Perempuan-perempuan kuat yang kemungkinan besar (besar sekali) nggak ngerti apa kuwi emansipasi, gak tahu ada mom-war di facebook, nggak mudeng kalau sekarang ada gerakan agar perempuan kembali ke rumah, manut manis sama suami, dan ikhlas dipoligami.

 

Ya ampun, apa iya perempuan yang di rumah (kayak saya) itu lebih baik daripada Bu Risma, si walikota Surabaya, yang turun tangan saat banjir melanda, lebih baik daripada Bu Veronica Tan yang bikin taman terbuka hijau, atau dari Dokter Mujazzanah, dokter kandungan yang menolong sekian ibu-ibu hamil dan melahirkan. Apa kita ini lebih hebat dari pada Bu Sri Mulyani dan Bu Susi Pudjiastuti yang duduk di kabinet dan jelas-jelas mengurusi negeri ini? Apa kita lebih mulia dari Mbah Supinah yang ngarit, nandur, matun serta memanen padi di sawah?Atau lebih unggul dari Mbak Sri yang jadi karyawan laundry? Lha kita ini kan bisa kepenak facebook-an syantik kan karena ada perempuan-perempuan kuat dan mau berjibaku kayak mereka.

 

Berkubang

Gimana saya ndak geleng-geleng to kalau kita masih mempermasalahkan perempuan yang ngangkang naik motor (atau bolehkah perempuan naik motor). Apa nggak judeg saya baca berita tentang peraturan yang melarang perempuan kerja malam (lah kerja jadi perawat shift sore je, apa yen sampeyan dirawat di rumah sakit, sebaiknya perawat dan dokter perempuannya pulang setelah jam lima sore?). Tambah ngenes lagi kalau baca poster yang nyinyirin perempuan bekerja (alamak!).  Sampai urusan paling kecil pun diriuhkan, misalnya apakah perempuan boleh ngrebonding rambut. Kok kober men. Sementara perempuan di belahan dunia lain itu udah ada yang jadi astronot! Ada yang jadi insinyur. Programmer komputer. Penemu. Peneliti. Ilmuwan teknologi nano (eh, ini di Indonesia juga ada lho ilmuwan perempuan teknologi nano, bangga betul saya). Dan omong-omong hasil karya mereka membuat kita jadi punya internet, jadi bisa pakai baju tanpa harus njahit dulu, jadi bisa belanja lewat ponsel (yang konon menyelamatkan perempuan karena nggak perlu keluar rumah karena rumah adalah sebaiknya-baiknya tempat bagi mereka *tsaaaah, kerasa nggak sih ironinya.)

 

Nggak usah ngotot semua bisa dilakukan oleh pria semata-mata. Ora isa. Ora cukup. Apa maneh yen wong lanange mung sibuk adu jago,  nggabur dara,udat-udut lan…. (isi sendiri).

 

Dan yang pasti kebanyakan keperluan perempuan itu hanya bisa dimengerti oleh perempuan.  Jadi perempuan harus terlibat. Titik. Dunia ini, termasuk pendidikan bagi anak-anak, akan lebih seimbang bila dipelihara oleh laki-laki dan perempuan sebagai mitra setara.

 

Toilet di ruang publik itu butuh cantolan buat nyantolin tas. Siapa yang mengerti itu? Perempuan. Lha kalau yang ngurusin toilet cuma laki-laki, cantolan itu mungkin nggak ada. Wong laki-laki nggak bawa tas. Kenapa perempuan bawa tas? Karena perempuan momong anak, jadi ia harus bawa bekal segambreng. Kenapa perempuan momong anak? Karena (semoga) ini adalah pembagian tugas dan kerja sama secara adil, setara, dan kerelaan di dua belah pihak. Lah siapa suruh momong anak di luar rumah sehingga kita butuh toilet perempuan yang ada cantolan tasnya? Ealah, apa kamu mau anakmu 24 jam di rumah sadja? Suwe-suwe kok absurd men eyel-eyelan ini.

 

Itu baru soal toilet ya. Mari kita pikirkan kepentingan yang lebih besar. Pendidikan. Transportasi. Kesehatan. Perdamaian dunia. Kalau perempuan nggak cawe-cawe yo amburadul donya iki. Percaya ta.

 

Yuk, kita sudah sampai sejauh ini. Alhamdulillah perempuan sudah bisa mengenyam pendidikan tinggi. Syukur perempuan sudah bisa memilih pemimpin dan bahkan jadi pemimpin. Syukur perempuan sudah (dan masih bebas) bertani di sawah serta membuka sekolah. Saya berharap ini kita tak berjalan mundur. Saya harap semangat Kartini membawa kita maju dan terus maju. Syukur-syukur perempuan Indonesia bisa menyumbang lebih banyak terhadap peradaban dunia.  Eh, ya sapa reti, sekretaris jenderal PBB perempuan pertama berasal dari Indonesia. Haibat ta?

Mengapa Homeschooling?

Homeschooling (HS) semakin ngetrend. Pelan-pelan metode pendidikan rumah ini makin popular. Setidaknya itu yang saya amati sepintas dari komunitas HS di kota saya. Peminat dan anggotanya makin banyak, meski banyak di sini juga sebetulnya amat sangat sedikit dibanding peminat sekolah reguler. Majalah Esquire (entah edisi berapa) menyebut HS sebagai makhluk seksi pendidikan.

Sebelum saya bercerita lebih banyak, saya tegaskan dulu bahwa yang dimaksud dengan HS di sini adalah pendidikan mandiri di RUMAH yang sebagian besar atau malah seluruh ‘pelajaran’-nya dijalankan oleh orang tua siswa dan bukannya institusi pendidikan formal yang menyebut diri mereka sendiri homeschooling seperti  Homeschooling Kak Seto atau Homeschooling Primagama.

Saya tertarik dengan HS, meski  belum memutuskan apakah akan mendidik Angger di rumah atau mengirimnya ke sekolah. Kalau ini hanya keputusan saya dan suami sih, rasanya sudah bulat, HS adalah pilihan terbaik setidaknya hingga saat ini. Tapi kami tetap akan mempertimbangkan pendapat Angger. Kalau ia ingin bersekolah di sekolah regular ya apa boleh buat.

Ada beberapa keluarga HS yang saklek ingin mendidik anak mereka secara mandiri karena menilai HS adalah yang terbaik bagi mereka. Saya bukan tipe yang berpikir seperti itu, tapi juga tak hendak menentang pendapat semacam itu karena di sinilah uniknya HS: setiap keluarga memiliki alasan tersendiri, berhak menentukan kurikulum sendiri, berhak memilih metode sendiri sesuai dengan minat anak dan nilai-nilai keluarga. Kenapa? Karena salah satu alasan orang tua memilih HS adalah menghindari kurikulum sekolah yang sama rata meski siswa-siswinya memeliki latar belakang yang beragam.

Alasan Memilih HS

Kenapa memilih HS? Saya awalnya belajar mengenai HS semata-mata untuk memperbanyak opsi. Makin banyak pilihan makin bagus kan? Kalau bisa sih, saya ingin mempelajari semua metode pendidikan. Tapi itu kan agak sulit. Jadi ya sudah, saya pelajari apa yang ada di sekitar saya. Saya tanya-tanya pada teman-teman, gimana sekolah A, gimana pesantren B, gimana les bahasa Inggris di tempat C, dan seterusnya.

Kalau kami menganggap HS adalah metode pendidikan terbaik bagi kami (sekali lagi sampai saat ini) itu dikarenakan kekecewaan kami pada sekolah dan sistem pendidikan pada umumnya.

Saya tidak menikmati pendidikan TK-SMA saya. Oke, ada kesenangan-kesenangan yang saya dapat, tapi banyak yang membuat saya kecewa. TK saya kenang sebagai masa si pemalu. Secara sosial saya belum siap bergaul dengan teman sebaya.Saya menghabiskan jam istirahat mengamati teman saya bermain. Ketrampilan fisik saya saya yang di bawah rata-rata membuat saya ogah berpartisipasi.

Masa SD saya sebut sebagai masa galau. Meski saya juara pertama terus dari kelas dua hingga kelas enam, saya banyak mindernya. Kok bisa? Bisalah, wong saya nggak bisa nyanyi, nggak bisa olahraga, sering semaput pula waktu upacara. Dan lagi-lagi saya nggak piawi bergaul. Kadang saya takut teman-teman membenci saya karena satu hal: saya pintar dan juara terus.

Masa SMP adalah masa minder. Kok bisa saya yang SD juara terus bisa goblok mendadak? Benar-benar misteri. Fisika membuat perut saya mulas habis (dalam arti sebenarnya). Saya mulai punya banyak teman, dan kehidupan sosial saya beranjak menyenangkan, tapi kehidupan akademis saya hacur lebur, membuat saya berpikir saya ini bodoh. Saya merasa jadi pecundang, tak punya keistimewaan. Saya tidak cantik –yang penting banget waktu SMP–, nggak keren, nggak kaya, dan seterusnya.

SMA adalah masa depresi. Parah. Meski secara fisik dan perilaku saya terlihat biasa-biasa saja. Aneh banget karena saya sekolah di SMA favorit (yang berarti sebenarnya saya nggak bodoh), tapi kok ya saya merasa superbodoh. Saya tertekan berat. Nggak cuma hal-hal akademis yang membuat saya depresi, tapi juga masalah hal-hal khas bullying antar-siswa. Apakah di SMA negeri favorit ada bullying? Ada, meskipun bentuknya bukan kekerasan fisik dan pemerasan yang bisa dikategorikan kriminal, tapi lebih pada sosial dan emosional bullying (nggak pakai jilbab, calon penghuni neraka. Memelihara kuku panjang, temannya setan. Main teater? Kafir.  Pakai seragam nggak pakem, pemberontak.  Perempuan nyanyi? Haram. Masuk IPS? Bego. Nggak ikut acara wajib? Ancaman nilai jeblok. OSPEK? Suruh lari-lari dalam cuaca panas dan bikin kartu nama yang bersudut sempurna –alih-alih yang nyeni– dan seterusnya).

Masa inilah yang membuat luka terbesar dalam diri saya menyangkut pendidikan. Saya berada di luar mainstream dan akibatnya saya MERASA dikucilkan serta ditolak.

Tidak semua orang kayak saya tentu saja. Banyak teman-teman SMA saya yang riang gembira dengan aturan dan sistem seperti itu. Banyak yang enjoy dan happy menghadapinya. Tapi, jujur bukan itu pendidikan yang ingin saya berikan pada anak saya.

Sekolahin ke swasta dong. Yang elit dan menjunjung tinggi kreativitas dan keunikan individu. Duite sopo? Kalau pun saya kuat mbayar, pedih saya membayangkan anak saya hanya bergaul dengan orang kaya. Pedih membayangkan anak saya akan study tour ke Singapura dan sebagainya.

Saya baru bisa menikmati pendidikan saat saya kuliah. Tapi mungkin giliran teman saya yang depresi.

Suami saya kerja dalam bidang pendidikan. Dan ini membuatnya mengerti benar tentang kondisi pendidikan di Indonesia, mulai dari gurunya yang ‘bodoh’, males, suka curang, sampai cuma mikir duit tanpa mikir kinerja.  Serius nih. Ingat tes uji kompetensi guru secara nasional tahun 2013?

Nilai rata-rata kompetensi guru (secara akademis) adalah 42,25 (skala 0-100), bahkan ada yang dapat nilai 1.0 (terendah).

Sekarang coba pikir, kok bisa anak-anak didiknya diminta mengerjakan UN dengan standar kelulusan 5.5 (skala 10)? Curanglah jawabannya!

Itu baru satu alasan. Saya belum membahas soal kurikulum yang tidak masuk akal dan tidak perlu (apa urgensi mengajarkan TIK pada anak kelas satu SD misalnya), bullying di sekolah, metode mengajar, soal pendidikan budi pekerti, komersialisasi pendidikan, dan seterusnya.

“Yang paling capek adalah membongkar dan memperbaiki ‘pengetahuan’ anak setiap saat dan aku nggak pengin melakukan itu,” kata Anto, suami saya. Maksud Anto adalah udah capek-capek kami ngajarin anak untuk membuang sampah di tempatnya –bahkan memilahnya–, eh di sekolah teman-temannya, bahkan gurunya, buang sampah sembarangan. Sudah capek-capek saya memilihkan makanan sehat untuk anak saya, eh waktu ada acara di sekolah, gurunya membagikan snack kemasan ber-MSG tinggi. Itu misalnya saja.

Alasan teman-teman lain

Saat berbagi bersama teman-teman yang tergabung dalam komunitas pendidikan mandiri (untuk mempermudah pendidikan anak-anak mereka, orangtua HS membutuhkan komunitas, dengan demikian mereka bisa membentuk klub olaharga, klub seni atau klub-klub lain untuk mewadahi minat anak-anak dengan lebih mudah dan murah), saya baru mengerti betapa beragamnya alasan orangtua memilih HS untuk mendidik anak mereka.

Seorang ibu, sebut saja Mbak A, menceritakan kisahnya yang mengharukan saat menjadi guru di Ambon. Kekerasan fisik sudah menjadi ‘budaya’ di sana dalam mendidik anak. Anak dipukul itu sudah biasa. Yang paling parah menurutnya anak-anak itu (SMA) tidak tahu apa yang mereka inginkan. Bagi Mbak A yang mengajar bahasa Inggris, bahasa Inggris itu nggak penting-penting amat buat mereka. Yang lebih penting adalah mereka mengetahui apa yang mereka inginkan untuk hidup mereka.

“Yang paling menyakitkan,” kata Mbak A, “suatu hari Senin anak-anak itu datang membawa piala sambil bersorak-sorai. Hari sebelumnya mereka bertanding sepakbola dan juara dua. Seorang guru merebut piala itu dan membuangnya ke tempat sampah dan berkata, ‘ngapain kalian juara dua? Seharusnya kalian bisa dapat juara satu.’” Mbak A sangat emosional dan para pendengarnya ikutan tercabik-cabik. Ini di sekolah lho!

Mbak A juga cerita anaknya di-bully di sekolah. Guru bahasa Inggrisnya bilang si anak sudah hopeless dalam pelajaran bahasa Inggris. Padahal si anak baru kelas satu SD! Teman-temannya juga suka mengganggunya karena dia lambat dalam menulis.

Puncaknya si guru bilang –meski sambil bercanda—“Wah, kamu ini kayak ubi ya,” sambil mengelus badannya (yang kebetulan memang lebih bongsor dibanding teman-temannya). Sampai rumah si anak tanya, “Bunda Bu Guru bilang aku kayak ubi, itu maksudnya apa ya?”

Bapak B yang mengisahkan perjalanannya sebagai relawan pendidikan dari Sabang sampai Merauke menegaskan hal ini. Di Indonesia bagian timur kekerasan fisik sudah menjadi bagian sehari-hari dalam pendidikan. “Untuk mengajak seorang siswa masuk kelas, seorang guru perempuan, perempuan lho, menarik tangan si anak ke belakang dan menendang pantatnya ke depan! Itu biasa.”

Sementara di Aceh, ia bercerita, anak-anak sama sekali tidak punya gagasan atau inisiatif. “Ditanyain hobinya nggak tahu, disuruh cerita nggak bisa, disuruh ngomong apa pun nggak mau.”

Mbak C mengisahkan anaknya yang dibully di TK. Gurunya menyeret tangan si anak bila anak dianggap terlalu lamban. Kalau anaknya lari-lari terus si guru berteriak, “Kamu tuh kok nggak bisa diam sih?”

Mbak D bilang semenjak masuk SD anaknya yang biasanya jadi ceria jadi murung terus.

Ideal

Saya tidak melebih-lebihkan kisah di atas. Itu semua cerita yang saya dengar sendiri. “Tapi kan tidak semua sekolah begitu. Sekolah anak saya bagus kok, dan anak saya menikmati sekolah.”

Alhamdulillah kalau begitu. Saya sendiri produk sekolah regular dan meski ada pengalaman buruk seperti yang saya tuturkan di atas, toh saya ‘sukses’ saat ini. Ya, sukses menurut ukuran standar lah. Saya berpendapat tak ada system yang sempurna untuk semua orang.

Ada anak-anak sekolah regular yang ‘sukses’, ada pula yang ‘gagal’. Anak HS juga begitu. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, dengan segala kemudahan dan kerepotan, yang penting bagi saya adalah menelaah kembali apa alasan ‘perjalanan’ kita. Setelah kita tahu alasannya, mari kita tetapkan tujuan kita. Setelah kita tahu tujuan kita, mari cari kendaraan yang paling cocok bagi kita dan mampu membawa kita ke sana. Dan nikmatilah perjalanan itu dengan terus waspada dan mawas diri.

 

Nggege Mangsa

Angger sudah hampir tiga tahun, tapi masih menyusu. Saya bertekad menyapihnya saat ultahnya yang ketiga bulan Mei nanti. Tapi tiap kali melihat Angger masih sangat menikmati menyusu, saya tiba-tiba gamang. Saya rasa dia belum siap. Tapi, kapan dia siap? Saya sudah mulai jenuh. Saya mulai jengkel bila dia merengek minta nenen. Tidak, tidak. Dia harus saya sapih, bagaimana pun caranya.

Beberapa minggu lalu saya membaca artikel Samuel Mulia di Kompas Minggu. Dia bercerita temannya yang baru lulus SD sudah dikirim ke luar negeri untuk sekolah di sana. Alasannya: biar cepat mandiri. Dan ini tidak hanya terjadi pada satu temannya saja.

Samuel mempertanyakan alasan ini: kenapa orangtua pengin anaknya cepat-cepat mandiri? Samuel sendiri pernah diusir ayahnya saat ia kecil karena tak mau pergi berenang bersama sang ayah.

Tentu saja diusir dan disekolahkan keluar negeri itu dua hal yang berbeda, tapi ujungnya bisa jadi sama: anak merasa tertolak. Samuel menekankan bukankah mandiri itu bukan jatah anak-anak? Kalau anak-anak sudah bisa mandiri, lah ngapain dia butuh orangtua? Dan bukankah orangtualah yang punya jatah untuk memandirikan anak alih-alih sekolah atau orangtua asuh di luar negeri?

Membandingkan

Saya ingin menghadiahi Angger sepeda saat ia berulang tahun ke tiga Mei nanti. Angger tidak minta sih. Tapi saya pikir keren aja lah. Dan dia pasti suka. Teman-temannya usia segitu sudah pada main sepeda. Belum juga bulan Mei sepupu Angger, si Anggit sudah minta beli sepeda. Anggit sudah empat tahun dan merengek minta sepeda. Saya deg-degan, aduh gimana nih, jangan-jangan Angger pengin, padahal kan dia belum ulang tahun.

Kejutan. Saat Anggit pulang bawa sepeda, Angger bahkan tidak tertarik. Dia hanya menonton dan diam saja. Saya berkata, “Itu sepeda Anggit. Kalau Angger pengin, tunggu ya, besok Ayah Ibu belikan.” Apa kata Angger? “Angger tidak pengin sepeda! Angger belum bisa naik sepeda!”

Ha. Saya jadi malu sendiri. Dulu saya sering membelikan Angger mainan tanpa ia minta. Akibatnya? Mainan itu menumpuk di gudang. Oke, mungkin saya membeli mainan yang salah. Tapi lain kali waktu kami te toko mainan, Angger tak minta apa-apa juga, kecuali bola! Bolanya sudah banyak. Jadi saya menggiringnya ke mainan lain. Mobil-mobilan atau alat musik. Hasilnya? Dia tidak tertarik. Ya sudahlah. Sudah setahun lebih saya stop beli mainan. Nggak ada gunanya. Nggak dipakai juga.

Dan kini saya hendak melakukan hal yang sama; pengin membelikannya sepeda meski ia tak menginginkannya. Ia bahkan sadar betul ia belum bisa menaikinya.

Resahkah saya dia belum bisa naik sepeda bahkan belum pengin naik sepeda? Ya! Resah. Ya ampun, si Ikin anak tetangga baru empat tahun sudah bisa naik sepeda tanpa congkok, ngebut lagi. Kalau dipikir-pikir si Ikin ini juga udah bisa baca Al-Qur’an  dan bisa baca tulis. Jenius memang dia. Tapi Angger bukan Ikin.  Dan Angger ternyata tak ingin sepeda!

Nggege Mangsa

Dalam bahasa Jawa ada istilah nggege mangsa. Memburu-buru musim. Mempercepat sesuatu yang belum saatnya.

Betapa banyak orang tua yang pengin nggege mangsa. Saya yakin itu. Kalau tidak tentu tak bakal ada les calistung usia dini, tidak ada sekolah bayi, juga tak bakal ada cerita anak remaja nyetir dan nabrak orang hingga meninggal.

Kenapa kita membiarkan bahkan mendorong anak untuk bisa menyetir mobil saat usianya belum lagi matang? Karena nyopir mobil itu keren, karena kalau anak sudah bisa nyetir mobil kita nggak perlu repot mengantarnya ke mana-mana. Tapi kita lupa, makin mudah anak ke mana-mana, makin mudah pula ia lepas dari pengawasan kita. Kalau kita mengantar anak, ya kita repot, tapi setidaknya kita tahu dia ke mana.

Jadi semua ini berbalik ke orangtua ternyata.  Sama seperti saya yang ingin menyapih Angger. Karena apa? Karena saya sudah bosan repot menyusui. Kalau bisa sih, saya juga ingin Agger supaya bisa mandi sendiri, bisa makan sendiri, dan tidur sendiri. Beres sudah.

Kebanggaan Orangtua atau Kebahagiaan Anak?

Angger naik perosotan. Dia naik, lalu berhenti di tangga teratas, tidak jadi meluncur. Ah, sial, cemen bener anak saya ini.

“Ayo Ngger, turun aja, ibu tungguin di bawah.”

“Tidak! Angger tidak mau turun.”

 

Saya bisa marah dan jengkel pada sifat penakut sama anak saya. Tapi saya memilih untuk tidak jengkel. Saya tahu Angger berani meluncur di perosotan yang  lebih rendah. Jadi sudah pasti dia tidak takut meluncur. Saya tahu saat Angger duduk di tangga paling atas dia mengamati bahwa perosotan itu terlalu tinggi baginya. Jujur saya juga ngeri membayangkan dia meluncur dari sana. Alih-alih marah, saya justru bersyukur Angger menggunakan insting dan nalarnya.

 

Ada orangtua yang bangga anaknya yang belum lagi berusia dua tahun sudah bisa naik tangga sendiri. Pertanyaannya adalah: kamu tega liat anakmu yang masih kecil naik turun tangga sendiri?

 

Ada orangtua yang bangga anaknya sudah bisa naik motor pada saat usianya dua belas. Pertanyaannya: yakin anak dua belas tahun bisa mengendalikan emosi di jalan raya? Yakin anak usia segitu sudah bisa menggunakan nalarnya di saat-saat genting?

 

Sama seperti pohon, anak akan berbuah saat sudah siap. Saat musimnya tepat. Kita bisa merekayasanya dengan segala macam pupuk dan cahaya buatan, tapi efek negatifnya? Pasti ada. Minimal si pohon cepat lelah.

 

Jadi saya akan mengingatkan diri saya sendiri untuk lebih sabar. Untuk menunggu. Saya akan bersabar bila saat ini dia nempel terus sama saya. Ke mana-mana minta ditemani ibunya. Toh, sebentar lagi ia akan terbang. Tangannya akan terlepas dari genggaman saya. Sementara itu belum terjadi, biarkan saya menikmati hangat pipinya dan suara manjanya. Dia bisa mandiri kapan-kapan. Tidak sekarang. Masih banyak waktu. Saya tak akan menolaknya saat ini.Karena saya juga ingin menahannya saat ia ingin terbang nanti.   

Kemping Penak

Sabtu Minggu lalu saya mengikuti kemah yang diselenggarakan oleh komunitas pegiat pendidikan mandiri (homeschooling) dan saya benar-benar terpana karena kemah sekarang itu… enak sekali. Maklum, sekian kali berkemah saya nggak pernah kemah dengan nyaman. Dan omong-omong, sekian kali kemah yang sama omongkan itu adalah kemah bertahun-tahun yang lalu. Lebih dari lima belas tahun yang lalu.

Saya terakhir kali kemah waktu SMA. Itu pun tidak bisa dibilang kemah karena kami menginap di rumah penduduk alih-alih di tenda gara-gara hujan yang sangat deras. Kemah di SMA itu saya jalani dengan sangat ogah-ogahan. Selain karena label-nya wajib –kemah kok dipaksa–  waktu SD saya ikut kemah dan rasanya nggak nyaman.  WC-nya super kotor (ada ‘itu’ bertumpuk-tumpuk di lubang WC yang kering-ring tanpa setetes air pun). Alhasil saya sebisa mungkin menahan pipis dan eek di bumi perkemahan. Belum lagi tenda yang kotor, lingkungan sekeliling yang juga sama kumuhnya dan konflik dengan teman-teman (siapa yang mesti tidur di tepi, siapa yang mesti jaga tenda –seolah-olah tenda mesti dijagain–).

Dan kegiatan kemah dulu itu juga nggak asyik. Wong kemah kok pakai acara pengajian. Yaelah.

Jadi,  waktu mahasiswa saya langsung mengernyit ketika ada yang usul kemah sebagai acara darmawisata. Kemah? Oh, tidak!

Kemah Seru

Kemah kali ini diperuntukkan untuk keluarga dan mengambil tempat di Ledok Sambi yang masih lumayan dusun dan asri. Tempatnya aja sudah asyik. Ada kali kecilnya yang jernih, ada sawahnya, ada gunungnya. Dan kamar mandinya lumayan bersih. Lumayan lah.

Begitu kami datang, tenda sudah berdiri. Wah. Ini berbeda dengan tenda waktu saya SD. Kami harus berjibaku mendirikan tenda yang akhirnya juga didirikan oleh kakak pembina. Sewaktu saya memasuki tenda kali ini, saya kaget karena tenda kami tidak penguk alias apak! Hah, perasaan dulu waktu SD, tenda kami selalu penguk. Begitu saya berbaring di bawahnya, yang saya lihat adalah kain parasut warna-warni yang tidak menyilaukan mata dan tidak berjamur! Hah, dulu perasaan waktu SD tenda kami itu selain penguk juga jamuran (ngendok kremak) plus ada gambar cap ‘segitiga’ nya. Maklum waktu itu tenda dibuat dari kain bekas kantong terigu.

Dan oh, tak ada tongkat dan tali temali. Tenda itu bisa berdiri dengan kokoh tanpa tali temali dan tongkat bambu. Ajaib banget deh. Dan oh, bisa dilipat juga setelahnya.

Terus waktu hujan, tenda itu ternyata tidak bocor! Wah. Dulu kalau hujan, kami semua harus ‘mengungsi’ dari tenda dan tidur di rumah penduduk (nggak seru amat ya). Tenda ini juga rapat sehingga nyamuk pun tak bisa masuk. Ada ritsleting-nya di pintu. Tenda zaman dulu sih diikat dengan tali aja, jadi kalau ganti baju masih keliatan dikit gitu. Satu lagi, tenda ini juga dilengkapi dengan matras hangat plus sleeping bag. Dan sleeping bag-nya wangi! Ha, super sekali.

Bukan Manusia ‘Alam’

Saya bukan manusia ‘alam’, saya bukan petualang. Saya tidak suka hiking, tracking, camping, apa pun itulah namanya. Tapi sekarang saya punya anak dan saya merasa berkewajiban untuk mendekatkan anak saya pada alam. Dan saya bersyukur menemukan komunitas yang bisa bikin camping saya seenak ini.

Selain soal ‘tenda ajaib’ tadi, saya juga suka kegiatannya yang seru dan mendidik. Ada nilai-nilai yang diusung dan tidak ada mi instan! Dan cuma sabtu minggu, tidak berpanjang-panjang, cukup buat inisiasi untuk orang semacam saya. Sungguh kemping kali ini membuat trauma saya pada kemping hilang, malah pengin kemping lagi.

Apakah saya tidak mengeluh sama sekali? Hm, tidak juga sih. Di malam hari saya tak bisa tidur. Tak ada bantal. Mau bantalan dengan sleeping bag ketinggian dan bikin pegel. Tidak pakai bantal, nggak bisa tidur. Punggung saya juga pegel karena hanya beralas matras tipis dan tanah yang keras. Saat mata tak bisa terpejam saya ngobrol dengan adik saya.

“Tendanya bagus ya,” kata saya, “tidak bocor.”

“Iya, tapi di sebelah ada resort. Dengan kasur yang empuk dan TV.”

“Dan mandi air panas.”

“Lain kali kita bawa kasur ya.”

“Iya.”

 

Untuk referensi kegiatan kemah seru ini buka: Casper