Tag Archives: anak

Tak Perlu Kau Tudingkan Jarimu

Beberapa bulan lalu mencuat kasus seorang ibu (23 tahun) menganiaya anaknya (4 tahun) hingga tewas. Saya tak tahu persis aspek ‘when and where’ kejadian itu, dan terlalu pilu untuk membaca beritanya. Sebelumnya seorang ibu tiri juga ‘tanpa sengaja’ menyikut anak tirinya yang ‘bodoh’ saat belajar membuat si anak roboh menghantam (tembok/lantai?) dan tewas. Bukan kasus yang asing. Kalau didaftar bisa berkilo-kilo byte habis.

 

Kasus semacam itu selalu membuat kita sedih dan terperanjat, lalu terlupakan tak lama kemudian. Dan saat cerita-cerita semacam itu beredar, tak pelak lagi, pasti terlontar komentar semacam, “Ibunya tega banget.” Selalu dan selalu saja, bila ada bayi lahir lalu ditelantarkan/dibunuh oleh ibunya, komentarnya tak jauh-jauh dari menyalahkan si ibu. Lha, iyalah, mau menyalahkan siapa lagi? Bagaimana dengan bapaknya? Yah, kan yang berbuat salah ibunya! Tapi pernahkan kita bertanya mengapa si ibu sampai berbuat begitu?

 

Konon, tak ada ibu yang tega membunuh anaknya. Binatang pun tak bakal berbuat sekejam itu (sebenarnya ada induk binatang yang membunuh anaknya, tapi… yah bukan itu yang saya bahas). Apa yang saya dengar dan saksikan membuktikan bahwa manusia adalah makhluk paling ganas dan kejam di muka bumi. Manusia menyakiti sesama atau makhluk lain, mengambil lebih dari yang ia butuhkan, dan membunuh? Ya, manusia tega membunuh, bahkan anaknya sendiri.

 

Ikut Sakit

Setelah menjadi ibu, barulah saya merasakan beratnya peran yang satu ini. Tantangan kondisi fisik selama hamil dan melahirkan kadang tak mudah bagi sementara perempuan. Ini masih ditambah perubahan psikologis yang naik turun. Tiap ibu merasakan kondisi yang berbeda, tapi takut dan cemas nyaris selalu ada.

 

Setelah melahirkan beragam tantangan baru muncul lagi. Bayi butuh pendampingan ’24 jam’ –dan berlangsung seperti ini: nyusu, eek, pipis, nangis, nyusu, eek, pipis, nangis, (ulang kembali).  Ritme si ibu berubah drastis (kadang si ibu mesti kehilangan pekerjaan, hobi, dan jam tidurnya), sementara tugas baru, berat, dan membosankan tak bisa diabaikan. Harus diakui proses melahirkan dan mengasuh anak tidak hanya melulu lagu merdu.

 

Jadi bayangkan saja bila itu masih ditambah kesulitan keuangan, suami yang tak peduli (suami yang tak membantu masih dianggap ‘mending’ karena ada suami yang sudah nggak membantu mengganggu pula) dan hingga masalah lain yang cukup kompleks (taruhlah kekerasan domestik). Tetapi tiap kali si ibu melakukan sesuatu yang tidak baik, komentar kita yang nggak menjalani adalah, ‘tega amet sih ibu, anaknya nangis dibiarin.’, ‘males banget sih ibu itu, cucian numpuk dionggokin’ atau ‘ih, kejam banget sih, anak sendiri dipukulin’, tanpa kita mau tahu apakah si ibu lahir batinnya sejahtera.

 

Pernah suatu pagi di pinggir jalan saya melihat seorang ibu duduk nglemprok di trotoar.  Motornya ia hentikan begitu saja di pinggir jalan. Ia membawa dua anak bersamanya, yang besar seorang bocah laki-laki berseragam SD, yang kecil perempuan mungkin tiga tahunan usianya. Yang membuat heboh orang-orang adalah si anak SD njempling-njlempling nangis sambil teriak-teriak, “Aku mau pulaaanggg, aku nggak mau sekollaaaahhh. Pulllaaaanggg!” Itu terus yang diulang-ulang. Si adik perempuan duduk di atas motor, cengok. Anak perempuan kecil itu dan ibunya bertampang sama: kusut masai. Bajunya kumal, tubuhnya jelas belum terbilas air mandi. Si kecil tambah kumal lagi karena celemongan ingus. Habis akal membujuk anak SD-nya (mungkin tak hanya membujuk), si ibu akhirnya duduk nggelesot saja. Air mata meleler di pipinya. Orang-orang merubunginya, tapi tak ada yang bisa membantu, meski mencoba.

 

Trenyuh benar saya memandangnya. Si ibu kelihatan sangat letih dan tertekan. Saya bayangkan paginya yang serba grudak-gruduk. Sarapan mungkin tak ada. Uang juga tiada. Anaknya rewel dan di mana suaminya? Apakah ia punya suami? Apakah suaminya sudah berangkat kerja? Apakah suaminya jadi TKI di luar negeri? Atau… mungkinkah dia masih bergelung tidur sementara istrinya berjibaku mengurus anak-anak dan pekerjaan lain? Apakah ia asyik merokok sambil minum kopi di warung sebelah (setelah minta uang pada istrinya dengan kasar?). Apa pun itu, inilah potret banyak perempuan yang mesti menanggung porsi besar pengasuhan anak-anak.

 

Unless We’ve Walked a Mile in Their Shoes

Kembali ke kasus yang saya kutip di awal. Anda tentu bisa membayangkan, bila si ibu berusia 23 sementara anaknya berusia 4 tahun, umur berapa ia melahirkan? 19! Yak 19 tahun! Bisa apa saya dan Anda pada usia segitu? Boro-boro mengasuh anak, mengelap ingus sendiri saja belum tentu bersih bukan? Dan mengapa ia punya anak (dan menikah) pada usia segitu? Silakan tebak sendiri. Tapi dapat saya bayangkan, betapa tidak siapnya si ibu muda ini. Mungkin ia banyak bertengkar dengan suaminya yang umurnya masih sama mentahnya. Mungkin dia korban ‘dating rape’ dan tak pernah menginginkan kehamilan. Mungkin suaminya manggrok di game center sementara ia kerepotan menangani urusan domestik dan kemungkinan besar ekonomi mereka nggak mapan.

 

Saya pikir sebagian besar kasus kekerasan pada anak tumbuh dari akar-akar semacam itu. Ini diperparah dengan stigma masyarakat yang memang  membebankan sebagian tanggung jawab ‘kesalehan sosial’ pada perempuan.

 

Sungguh tak mudah menghilangkan nyawa, bayi yang baru lahir sekali pun. Saya bayangkan perempuan-perempuan malang ini harus menyembunyikan kehamilannya dan saat tiba waktu melahirkan mereka harus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi pula. Itu saja sudah sulit sekali secara lahir maupun batin. Dan mengakhiri hidup sesosok makhluk mungil juga sungguh tak mudah. Kalau menyembelih ayam pun susah dan bikin miris, bagaimana pula dengan melakukannya pada manusia? Bagaimana pula bila itu darah daging sendiri? Apa yang dirasakan si ibu? Tersayat-sayat habis pasti. Sedih, takut, bingung, gemetar tak keruan, nyaris gila. Mereka amat sangat takut dan amat sangat tahu itu keliru tapi amat sangat terpaksa melakukannya. Dan mereka masih harus menyembunyikan bukti, menghilangkan jejak, lalu menghadapi hukum bila ketahuan. Dan andai tak ketahuan, rasa bersalah mereka kemungkinan bakal menghantui seumur hidup. Saya sangat yakin, andai mereka punya pilihan yang lebih baik, mereka akan memilihnya. Tapi kan dia bisa meninggalkan bayinya di panti asuhan? Atau serahkan pada keluarga adopsi Atau apalah! Saya yakin semua pertimbangan sudah ia pikirkan, sudah ia bolak-balik berkali-kali, tapi sekali lagi, kecuali kita memakai bajunya, makan dari piringnya, dan tidur di kasurnya, kita nggak bakal tahu apa yang ia alami.

 

Tahun lalu kalau tidak salah, seorang mahasiswi kehilangan nyawa setelah ia melahirkan bayinya –yang juga tak selamat– di kamar kos secara sembunyi-sembunyi. Rupanya ia mengalami perdarahan. Miris? Banget. Kok ya nggak ke bidan atau gimana? Oalah, kalau dia punya suaminya yang ngantar, ya jelas lah dia bakal ke bidan atau dokter kandungan. Kalau masyarakat tak menghakimi dia sebagai ‘perempuan murahan yang bahkan tak bisa menjaga pahanya agar tetap rapat’ bisa jadi dia minta pertolongan. Andai keluarganya bakal mendukung dan menerima ia apa adanya, ia mungkin bakal melahirkan bayi itu di rumah sakit. Andai ia bukan korban perkosaan, dan bila lapor harus mengulang tragedinya dengan rinci dan ujung-ujungnya dipaksa menikah dengan orang yang memperkosanya (sebarapa hororkah itu?), mungkin ceritanya tak kan begitu.

 

Teganya Kita

“Mother never fails herself,” kata bidan kondang Robin Lim, “It’s the society that fails her.” Tak ada ibu yang gagal. Masyaratkatlah yang bertanggung jawab untuk membantu perempuan agar ia bisa menjadi ibu yang baik. Kalau ingin istri kita menjadi ibu yang baik, ya jelaslah kita harus membantunya. Tak hanya suami yang punya tugas ini, tapi juga ibu si ibu, ibu mertua, adik si ibu, tetangga si ibu, bidan si ibu, dan seterusnya.

 

Tak adil kita bilang ‘tega banget sih ibu kejam itu’, kalau kita juga tidak membantu. Tak usah kometar kalau bisanya cuma menuding-nuding jari. Kita tak pernah tahu apa yang ia alami, apa yang ia rasakan, atau apa yang harus tanggung bila membesarkan anak. Pun, kita juga tak tahu apa yang ia derita saat ia terpaksa atau tanpa sengaja mengakhiri hidup anaknya. Apalagi ternyata itu adalah ‘dosa’ kita semua. Dosa kita yang mengecap bahwa perempuan hamil di luar nikah bukanlah perempuan baik-baik. Dosa pemuka agama yang bilang ‘jangan terima bila segel rusak’ menyangkut keperawanan. Dosa ibu mertua yang mengatakan ‘kok bisa-bisanya kamu nuduh anakku selingkuh. Kalau pun dia selingkuh itu pasti karena kamu nggak bisa nyenengin suami’. Dosa masyarakat yang mengajarkan ‘laki-laki gagah tidak pantes cuci baju’, bahwa istri harus nurut suami apa pun keadaannya, bahwa tugas perempuanlah mendidik anak (dan bila gagal itu salahnya). Kalau kita tak mampu meringankan, setidaknya tak perlu kita tambahi beban di pundaknya.

Advertisements

Sekolah = Mandiri?

Sebagai orangtua yang menjalankan pendidikan rumah (homeschooling), kadang kami mendapat pertanyaan seperti ini. “Kalau nggak sekolah, gimana anakmu bisa mandiri?” Ini bukan pertanyaan sih sebenarnya, tapi sematjam tuduhan tadjam.

 

Mak tratap rasanya.  Iya ya, gimana anak saya bisa mandiri, wong tiap hari saya dampingi. Tiap hari mereka nemplok ke simboknya.

 

Tetapi beberapa hal yang saya saksikan sendiri akhir-akhir ini membuat saya bertanya, apa iya (hanya) sekolah yang menentukan kemandirian seseorang?

 

“Begitu masuk PAUD, cucu saya langsung mandiri lho, Bu,” kata sesesimbah bangga.

“Mandiri gimana, Mbah?”

“Bisa pakai sepatu sendiri.”

“Oh.”

(Lega, anak saya juga bisa pakai sepatu sendiri).

 

Kemandirian jadi salah satu alasan terkuat bagi ortu untuk menyekolahkan anaknya. Begitu pentingnya sifat mandiri ini bagi orangtua hingga mereka melakukan segala cara agar anak mandiri. Makin cepat mandiri, makin baik. Tak heran, anak-anak sudah dikirim sekolah bahkan sebelum mereka bisa merangkak. Diharapkan pada usia tujuh tahun mereka sudah bisa mandiri seperti bisa… errr… pakai sepatu sendiri. (Ya iyalah, masak anak segitu diminta nyusun makalah sendiri).

 

Balik ke masalah tadi, apakah sekolah membuat anak-anak mandiri? Ya! Bila mandiri itu dimaknai bisa pakai sepatu sendiri plus bisa berpisah dari dan tidak mengganggu orang tuanya selama beberapa jam.

 

Sekolah yang Merampas Kemandirian

“Anak saya yang SMA terpaksa berangkat sekolah sendiri kemarin karena saya nggak bisa ngantar,” kata sesebapak, “Biarlah, biar dia belajar mandiri. Dan ternyata dia bisa. lho.”

“Oya? Naik apa, Pak?”

“Taksi.”

(Saya ternganga)

 

Pada lain waktu, seseibu mengeluh,“Duh, bentar-bentar harus ngecek anak-anak nih, udah makan apa belum, rumah udah dikunci belum.” Si ibu memang sedang menginap di luar kota selama beberapa hari.

“Memangnya anaknya umur berapa Bu?”

“Udah SMA, tapi tetap aja cerobohnya nggak ilang-ilang.”

(Ternganga lagi).

 

Di lain tempat, ada pula yang seseortu yang komentar gini, “Saya gitu, sih. Yang penting anak-anak belajar. Kerjaan rumah tangga biar saya yang kerjain selama tugas sekolah anak-anak beres.”

(Ternganga #3 karena gimana yah, anak saya yang 6 tahun aja sudah saya suruh ngerjain ini itu biar ibunya sempat….eh… ngikir kuku)

 

Jadi begitulah. Saya menyaksikan sendiri betapa sekolah, meski bisa mengajarkan anak-anak untuk pakai sepatu sendiri, ternyata tidak menjamin anak-anak untuk mandiri, bahkan dalam beberapa kasus merampas kemandirian mereka. Kok bisa? Ya karena sebagian besar waktu anak-anak itu habis di sekolah. Mereka mungkin bisa mengerjakan PR matematika yang rumit, tetapi begitu disuruh menanak nasi bingung mendadak.

 

Waktu yang sempit tak membiarkan anak-anak berusia enam tahun untuk mandi sendiri. Karena kalau mandi sendiri lama banget! Jadilah mereka tak cakap mengurus diri sendiri, apalagi untuk mengurus hal-hal di luar dirinya.

 

Miskin Inisiatif dan Motivasi

Dalam beberapa hal,  kegiatan sekolah justru yang membuat anak-anak tidak bisa mandiri. Jadwal dan kurikulum yang disediakan membuat mereka tak memiliki inisiatif sendiri. Kalau mereka belajar, itu karena disuruh guru. Begitu nggak ada yang nyuruh, ya nggak belajar.

 

Bagi anak-anak yang kurang cocok sekolah, orangtua pasti lebih repot lagi karena anak-anak ini bangun tidur mesti dibangunin, sarapan mesti dibuatin, PR harus diingetin. Waktu yang sempit memaksa ortu untuk melayani anaknya. Kalau nggak dikejar-kejar, disiapin, atau dibantuin anak-anak ini bakal terlambat sampai sekolah atau malah tidak masuk sama sekali. Tugas sekolah juga bakal keteteran.

 

Wajarlah bila ortu masih membantu anak-anak kelas 1 SD menyiapkan buku pelajarannya. Wajar juga (dan bahkan harus) ortu mendampingi mereka belajar. Gak pantes lah anaknya ngerjain PR, ibunya chatting di WA (eh). Makin nggak pantes lagi kalau anaknya ujian, Bapaknya nggak tahu sama sekali. (Eh, bapak-bapak, mbok yao kalau anaknya ujian, Anda nyediain cemilan buat teman belajar atau ikut sholat malam gitu lah, buat dukungan moral).

 

Tetapi sungguh deh, ada yang salah bila anak kelas 3 SD masih disuapin tiap pagi sementara si anak…. mengenakan sepatu.

 

Saya pernah berbasa-basi dengan seseanak kelas enam SD. Karena UN sudah di depan mata, maka saya tanya, “Tanggal berapa ujiannya?”

“Nggak tahu.”

“Belum diumumin?”

“Udah, tapi lupa.”

Hah!

“Hari pertama mata pelajaran apa yang diujikan?”

“Nggak tahu.”

Saya sudah capek ternganga. Ini lho, anak kelas enam, ujiannya sendiri aja nggak tahu kapan.

 

Ortu memang harus terlibat dalam pendidikan anak. Kini keterlibatan ini didorong lebih kuat dengan misalnya, gerakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. Suatu gerakan yang pantas diapresiasi. Tetapi kadang orangtua kebablasan melibatkan diri. Dengan kemajuan teknologi komunikasi yang canggih, kini ortu nyemplung sepenuhnya dalam kegiatan si anak. Grup WA ortu murid penuh dengan seliweran pertanyaan, “Tugas buat besok apa ya?” atau “PR yang mesti dikerjain halaman berapa ya?” sampai “Ujian, kapan ujian?” Lah, anaknya ngapain tadi di kelas? Jualan cilok?

 

Kemandirian Berpikir

Bagi saya yang lebih menakutkan daripada ‘nggak bisa menanak nasi pakai rice cooker’ adalah ketakmandirian berpikir. Pada waktunya, semanja-manjanya anak dia bakal bisa mandi sendiri. Cara menanak nasi dapat dipelajari dalam waktu singkat. Namun ketidakmampuan untuk berpikir mandiri ini berbahaya.

 

“Tamat SMA kamu pengin ngapain?”

“Nggak tahu.”

“Pengin kuliah jurusan apa?”

“Apa ya, bingung.”

“Lah kamu punya minat apa?”

“Eh, nggak punya.”

“Terus maunya apa?”

“Terserah Mama saja.”

Ealah wong yang mau menjalani kamu kok terserah ayah ibu. Ini fakta loh, banyak anak SMA yang bahkan tidak bisa memutuskan masa depannya sendiri. Punya bayangan saja tidak. Lulus SMA itu kan rata-rata usia 17 tahun. Rata-rata sudah 12 tahun sekolah. Eh, tetap saja ngambil keputusan buat diri sendiri galau berat.  Mereka terlalu banyak didikte oleh orangtua dan sekolah. Hidupnya sudah biasa diatur oleh orang lain sampai sampai ke menit-menitnya (misal, belajar bahasa Inggris 45 menit persis, mau kamu udah bosan banget atau malah belum puas, jatah belajarmu ya segitu, nggak boleh kurang, nggak boleh lebih). Caranya juga diatur begini begitu, pakai buku itu, nilainya harus minimal segini.

 

Ketidakmandirian berpikir ini berujung pada kegalauan anak tiap kali ia dihadapkan pada masalah yang harus ia hadapi. Di bangku kuliah aja, udah ketahuan kok. Begitu anak dikasih tugas mandiri, mereka bingung cara ngerjainnya. Padahal masalah hidup jauh lebih kompleks; nggak punya duit, diputusin pacar, ditawari narkoba, sampai di-PHK.  Oleng lah sudah karena ortu tak setiap saat bisa mendampingi. Percaya atau nggak, ada lulusan S2 yang masih aja dikasih uang saku sama ortunya. Pekerjaan? Dicariin ortunya juga. Silakan ternganga. Saya sudah lelah ternganga.

 

Tidak Hanya Sekolah Semata

Jelas banyak sekali anak sekolah yang berhasil mandiri. Jadi mengapa sebagian anak sekolah akhirnya bisa mandiri dan sebagian lagi tetap menggelantung di kaki orangtua bahkan sampai mereka punya anak dan jadi orangtua?

 

Saya pikir perkaranya bukan sekolah semata. Kemandirian anak terbangun di atas berbagai macam fondasi, tetapi yang pertama dan utama adalah keluarga. Keluarga perlu melatih anak ketrampilan-ketrampilan dasar sehari-hari. Ortu harus melibatkan anak dalam mengurus rumah tangga. Di luar sekolah, beri kebabasan anak untuk belajar sesuai minatnya, dengan caranya. Beri mereka hak untuk mengatur jadwal mereka sendiri. Biarkan mereka mengambil keputusan, melakukan kesalahan, dan menanggung risikonya. Sehubungan dengan sekolah, sebisa mungkin minta anak untuk menyelesaikan tugasnya sendiri. Andai anak butuh bantuan pastikan anak tahu cara mencari bantuan. Kalau Anda yang memberikan bantuan, bantu dia secukupnya.  Nggak perlulah, sampai kita yang ngerjain PR-nya atau menyimpulkan tali sepatunya. *eh, yang terakhir ini udah bisa ding.

Anak ‘Nakal’: Salah Siapa Sebenarnya

“Ibu dituntut (sekian milyar) oleh anak kandungnya sendiri.”

“Anak aniaya ibu kandung.”

“Manula terlantar di panti jompo, tak pernah dijenguk anak-anaknya.”

“Anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan umum.”

 

Setiap membaca berita-berita semacam itu, ngenes, prihatin, geregetan bercampur. Kok bisa sih, seorang anak kurang ajar banget pada orang tuanya sendiri? Bila kebetulan berita semacam itu beredar di medsos, komentarnya pasti gondrong dan nadanya mirip-mirip, “Kasihan banget si ibu.” Atau “Anak durhaka. Nggak ingat pengorbanan ibunya dulu?” Atau “Astaghfirullah. Nggak takut sama neraka?” Atau, “Anak-anak zaman sekarang memang keterlaluan.” Intinya sih, selalu menyalahkan si anak. (Lha, mau nyalahin siapa lagi, sih? Wong jelas anaknya yang  salah).

 

Benarkah Ini Salah Anak?

Saya pernah baca kisah seorang pegiat LSM anak yang punya masa kanak-kanak yang kelam. Sewaktu masih kecil ia sering dikasari oleh ayahnya yang kebetulan dosen di IAIN (IAIN mana saya tak begitu ingat). Ia menjadi korban kekerasan fisik, verbal, dan psikologis yang dilakukan sang ayah. Ia tak berani membantah karena si ayah dan guru agama mendengungkan dalil bahwa menaati orang tua wajib hukumnya.   Yang tak pernah didengungkan tentu saja, bahwa orang tua punya kewajiban mendidik dan mencintai anak-anak mereka. Syukurlah ia berhasil lepas dari lingkaran trauma dan akhirnya menjadi pembela anak-anak.

 

“Anak saya itu… duh, habis kesabaran dibuatnya. Nuakal banget.”

“Nggak tahu kenapa anak saya bisa jadi berandalan kayak gitu. Saya marahi juga nggak kapok.”

“Saya sudah nyerah soal anak saya. Nggak bisa diatur. Dikasih tahu juga nggak digubris.”

 

Keluhan-keluhan semacam itu tak asing, bukan? Orang tua memang sering mengeluhkan anaknya. Wajar. Tapi sungguh lho, kadang saya ingin membalikkan pertanyaan, “Lha kok bisa?”

 

“Anak saya baru lima tahun, tapi udah kecanduan gadget.” Lha kok bisa?

“Anak saya yang SD itu berani lho ngomong kasar sama saya.” Lha kok bisa?

“Anak saya ikut geng motor.” Lha kok bisa?

 

“Generasi sekarang itu memang payah. Manja. Malas. Tak punya sopan santun.” Entah bagaimana generasi terdahulu selalu merasa generasi setelahnya lebih buruk daripada generasi mereka. Ini tak selalu benar. Tapi benar atau salah, saya pikir generasi kita bertanggung jawab untuk mendidik generasi sesudahnya. Jadi kalau generasi anak-anak kita ‘payah’, mungkin kitalah yang payah sebagai orang tua. Kalau murid-murid ‘bodoh’, bisa jadi yang salah adalah gurunya yang tak piawai mengajar.

 

Terpengaruh Teman-Temannya

Seorang bapak mengeluhkan anaknya yang mogok sekolah dan malah berendang-berendeng sama geng motor modifikasi. Si anak bahkan menghabiskan sekian juta demi memodifikasi motornya. Tapi, si Bapak walau mengeluh-ngeluh ya tetap ngasih. Dan si bapak bilang, “Dia itu terpengaruh temannya.”

 

Terpengaruh teman. Terpengaruh TV. Terpengaruh internet. Apalah. Pengaruh luar ini sering banget dijadikan kambing hitam para orang tua bila anaknya bermasalah. Dalam bukunya Getting your Kids to Say No in the 90s when You Said Yes in the 60s, Victor Strasburger, si penulis, menyatakan, semua itu bukan alasan. Menurutnya, kalau anak kita katakanlah terpengaruh teman-temannya pakai narkoba, itu salah kita juga sebagai orangtua yang membuat si anak mudah terpengaruh. Mengapa anak kita tak berani menolak? Dan bahkan, mengapa anak kita bisa berteman dengan orang-orang yang salah? (anyway, saya sendiri pernah berteman dengan ‘orang yang salah’, tapi akal sehat kemudian menuntun pada fakta  bahwa ada sesuatu yang salah pada teman yang awalnya saya kagumi itu).

 

Jangan-jangan dari kecil kita memang selalu menuntut anak kita untuk manut dan manut. Bisa jadi kita tak pernah memberi kesempatan si anak untuk berani menolak dan berani berargumen dengan ortunya yang berakibat ia pun tak bisa bilang ‘tidak’ pada rekan sebayanya saat mereka menawarkan hal-hal yang tak ia suka.

 

Bagaimana pun Kita Punya Andil

 

Kalau anak kita hendak merampas harta kita gara-gara disuruh oleh suami atau istrinya, salah kita juga karena membuat si anak tak bisa memilih pasangan dengan benar atau ketika pasangannya mengajaknya berbuat tak benar, ia tak berani menolak.

 

Saat mendengar berita anak durhaka, terkadang simpati saya bercampur dengan rasa penasaran. Kok si anak bisa durhaka? Mengapa si anak ‘menelantarkan’ orang tuanya di panti jompo dan tak pernah menengoknya sama sekali meski mereka tinggal dekat dari situ? Tak ada kedekatan di antara mereka yang membuat si anak rindu?  Jangan-jangan memang tak ada kenangan manis tentang orangtuanya yang melekat di memori si anak?

 

Mengapa si anak memaki-maki ibunya yang sakit di depan orang banyak? Adakah si orang tua mengajarkan si anak untuk tidak memaki? Untuk sabar dan berwelas asih? Adakah si orang tua memaki si anak waktu kecil dan serba tak sabar padanya? Apakah si anak punya kebiasaan itu karena mencontoh orang tuanya?

 

Bagi saya interaksi antar individu pada dasarnya adalah aksi dan reaksi. Apa yang kita beri akan kita dapatkan balik, kok. Termasuk rasa hormat. Tidak, kita nggak bakal dapat rasa hormat dari anak dengan bersikap galak atau ancaman api neraka. Kita akan dapatkan rasa hormat dari anak, bila kita menghormati mereka. Kita dapatkan cinta kasih, bila kita mencintai dan mengasihi mereka.

 

“Ah, ada tuh teman yang udah aku baikin, eh tahunya nusuk dari belakang.” Yup, selalu ada. Tapi berapa jumlahnya? Saya kok yakin yang seperti itu cuma satu dua di antara yang banyak dan baik.

 

Walau Memang Tak Sesederhana Itu

Meski pengamatan saya membuktikan sebagian besar orang tua yang baik akan menghasilkan anak yang baik, saya sadar benar ada faktor X yang membuat hidup ini tidaklah hitam putih (dan itulah yang membuat hidup ini misterius sekaligus menarik).

 

Ada orang tua yang sudah mendidik anaknya dengan sangat baik, dengan penuh kasih sayang dan segala kesabaran, tapi eh, si anak tetap saja ‘membelok’. Sebaliknya, ada orang tua preman yang yah, sebenarnya nggak pantes jadi orang tua, tapi entah bagaimana, anaknya malah ‘ndalan’.

 

Ada ortu yang ‘sangat kanan’, eh anaknya jadi ‘sangat kiri’ dan sebaliknya. Ya sudah, yang begini ini memang tak bisa kita tolak. Mari kita usahakan apa yang mampu kita usahakan. Sayangi anak-anak kita dan kalau mereka ‘gimana-gimana’, mari kita berefleksi, jangan-jangan mereka begitu karena kita begini.

Ironi Pendidikan

Kompas hari ini (3 Mei 2017) memuat artikel pendidikan –dalam rangka hari pendidikan—yang mengabarkan bahwa sekolah-sekolah kita masih bergelut dengan masalah klasik, kemelaratan fasilitas –boleh lah kita sebut begitu–. Salah satu yang diangkat dalam artikel ini adalah fenomena satu ruangan yang dipakai untuk anak-anak dengan tingkat kelas yang berbeda.

Berikut kutipannya:

Hari itu, untuk kelas III berlangsung pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang dibawakan oleh Victoria Mili, salah seorang guru di sekolah tersebut. Pada saat yang sama, di kelas IV, berlangsung pengajaran IPA yang dibawakan Ayu Plesila, juga guru du sekolah itu.

 

Dengan kondisi ruang yang tak terpisah, perhatian para murid di kedua kelas tersebut terbelah.

Begitulah penggambaran situasi di sebuah sekolah dasar di Kalimantan Barat. Saya geregetan membacanya. Bukan minimnya sarana yang bikin saya geregetan (walau ya, itu bikin saya prihatin), tapi karena di sekolah internasyenel di kota besar lagi ngetren metode kelas multi-ages alias siswa dari tingkatan yang berbeda digabung jadi satu dan belajar bareng. Apa ndak ironis itu? Yang sini, penginnya belajar sendiri-sendiri, tapi terpaksa bergabung. Yang sana, bisa belajar sendiri-sendiri, tapi dengan sukarela bergabung agar anak bisa bekerja sama dan bergaul dengan anak-anak berbagai umur.

Ironi Pendidikan

Saya ingat salah satu lawakan komedian tunggal Arie Kriting yang kurang lebih seperti ini, “Katanya ada sekolah hebat di Jawa, yaitu sekolah alam. Kayak apa sekolah alam itu? Sekolahnya nggak ada gedungnya. Lha, di daerah saya (Indonesia Timur) banyak sekolah nggak ada gedungnya.”

Piye kalau begitu itu?

TK X getol banget memborbardir anak didiknya dengan calistung. Eh, ada SD elit yang bahkan  membiarkan anak kelas satu dan dua belum bisa baca.  Lalu yang bener yang mana sih?

SD Z bangga betul dengan lab komputernya. Sampai-sampai di balihonya, foto lab komputer dengan komputer jentrek-jentrek dipampang besar-besar. Eh, lha kok di SD di Silicon Valley sono, tempat sekolahnya anak-anak bos google dan konco-konconya, malah nggak ada komputer buat siswa. Siswa nggak diajari komputer. Sistem pendidikan ala Waldorf yang terkenal di Eropa juga bersikap tegas soal ini: no TV and gadget sebelum anak-anak berusia 11 tahun. Lah, di sini anak TK aja udah disedikan game lho. (Tenang, game-nya edukatif kok, bikin  anak pinter, seperti hmmm…. gamemengenalkan warna).

Ubah Mindset

Balik ke kasus awal tadi. Saya bisa bayangkan betapa beratnya beban jadi guru-guru di sekolah terpencil. Betapa minin sarana yang mereka miliki dan yah, tidak adil membandingkan dengan SD internasyenel yang memang kelebihan dalam segala-galanya, termasuk dalam sumber daya guru.

Toh, saya tidak bisa tidak merasa iba sekaligus prihatin mendengar dua guru mengajar PPKn dan IPA dalam waktu dan tempat bersamaan. Saya berandai-andai guru itu bisa menyatukan kelas dan berkata, “Mbok ya sudah, yuk sekarang belajar IPA dulu semuanya. Anak-anak kelas IV bisa mengajari anak-anak kelas III.” (Kelas tiga itu ada pelajaran IPA nggak sih?). Materi bisa diotak-atik. Dan dua guru bisa saling bantu. Di lain waktu mereka bisa belajar PPKn bareng. Atau, kenapa tidak, yang lagi belajar IPA diajak keluar, jalan-jalan sambil mengamati pohon dan jamur?

Ya nggak segampang itu kali. Kan tiap kelas targetnya beda. Mungkin. Tapi saya kok justru melihat ini kesempatan bagi anak-anak untuk  belajar bekerja sama dan tantangan bagi guru untuk menyelenggarakan kelas yang menggembirakan bagaimana pun situasinya. (Yak, beginilah omongan emak-emak makmur yang punya kuota internet, tapi nggak pernah harus nyebrang sungai buat ngajar).

Anyway, rasanya sudah sering banget saya mendegar keluhan guru. Sudah sering saya mendengar jeritan sekolah yang kurang ini kurang itu. Saya tak hendak menafikannya. Tapi sungguh, saya nggrantes melihat sistem pendidikan kita yang kayak ‘kacamata kuda’, pokoknya jalan lurus nggak usah tengok kanan kiri. Nggak usah belok, nggak perlu meliuk.

Saya sedih lihat anak-anak miskin yang kudu berenang atau meniti jembatan demi ke sekolah. Bukan masalah berenangnya yang bikin hati ciut, tapi kok ya mereka berenang dengan pakaian seragam. Sebelum berenang, bajunya dicopot dulu, masukin tas, sangga di kepala atau gimana, lalu dipakai lagi begitu sampai di seberang. Maksud saya, penting bangetkah seragam bagi mereka? Sedih, melihat anak-anak dipaksa pakai sepatu ke sekolah sementara jelas uang yang buat beli sepatu bisa dipakai buat beli makan (dan yup, sekolah-sekolah swasta modern bahkan tidak mewajibkan anak-anak pakai sepatu atau  seragam lagi, yang konon mengikat dan tidak menyenangkan).

Pentingkah bagi anak-anak ini belajar segala macam kurikulum tentang ASEAN, PBB, struktur MPR, DPR bila membaca saja masih terbata-bata. Bila yang mereka butuhkan saat ini adalah melestarikan lingkungan sekitarnya dari kekeringan? Atau dari pembabatan hutan?

Atau perlukah mereka gedung sekolah? Tak bisakah mereka sekolah di kampung mereka sendiri? Guru mendatangi kampung mereka? Membentuk lingkaran mendengarkan guru mendongeng? Tak bisakah mereka bersekolah setelah mereka mengolah ladang? Belajar IPA dan bahasa sekaligus tanpa dipisah-pisah kelas?

Oke, baiklah, sudah cukup saya meracau. Saya sudah bangun dari mimpi sekarang ini. Rasanya itu masih jauh sekali. Tapi masih ada harapan, mungkin suatu saat nanti semua anak-anak di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan mereka. Tapi yang pertama-tama mari kita berdoa semoga guru-guru kita lebih arif, lebih kreatif, dan pemerintah kita tak lagi memaksakan segala macam kurikulum yang membuat anak-anak terpaksa belajar dalam satu kelas dengan dua mata pelajaran yang berbeda.

Nggege Mangsa

Angger sudah hampir tiga tahun, tapi masih menyusu. Saya bertekad menyapihnya saat ultahnya yang ketiga bulan Mei nanti. Tapi tiap kali melihat Angger masih sangat menikmati menyusu, saya tiba-tiba gamang. Saya rasa dia belum siap. Tapi, kapan dia siap? Saya sudah mulai jenuh. Saya mulai jengkel bila dia merengek minta nenen. Tidak, tidak. Dia harus saya sapih, bagaimana pun caranya.

Beberapa minggu lalu saya membaca artikel Samuel Mulia di Kompas Minggu. Dia bercerita temannya yang baru lulus SD sudah dikirim ke luar negeri untuk sekolah di sana. Alasannya: biar cepat mandiri. Dan ini tidak hanya terjadi pada satu temannya saja.

Samuel mempertanyakan alasan ini: kenapa orangtua pengin anaknya cepat-cepat mandiri? Samuel sendiri pernah diusir ayahnya saat ia kecil karena tak mau pergi berenang bersama sang ayah.

Tentu saja diusir dan disekolahkan keluar negeri itu dua hal yang berbeda, tapi ujungnya bisa jadi sama: anak merasa tertolak. Samuel menekankan bukankah mandiri itu bukan jatah anak-anak? Kalau anak-anak sudah bisa mandiri, lah ngapain dia butuh orangtua? Dan bukankah orangtualah yang punya jatah untuk memandirikan anak alih-alih sekolah atau orangtua asuh di luar negeri?

Membandingkan

Saya ingin menghadiahi Angger sepeda saat ia berulang tahun ke tiga Mei nanti. Angger tidak minta sih. Tapi saya pikir keren aja lah. Dan dia pasti suka. Teman-temannya usia segitu sudah pada main sepeda. Belum juga bulan Mei sepupu Angger, si Anggit sudah minta beli sepeda. Anggit sudah empat tahun dan merengek minta sepeda. Saya deg-degan, aduh gimana nih, jangan-jangan Angger pengin, padahal kan dia belum ulang tahun.

Kejutan. Saat Anggit pulang bawa sepeda, Angger bahkan tidak tertarik. Dia hanya menonton dan diam saja. Saya berkata, “Itu sepeda Anggit. Kalau Angger pengin, tunggu ya, besok Ayah Ibu belikan.” Apa kata Angger? “Angger tidak pengin sepeda! Angger belum bisa naik sepeda!”

Ha. Saya jadi malu sendiri. Dulu saya sering membelikan Angger mainan tanpa ia minta. Akibatnya? Mainan itu menumpuk di gudang. Oke, mungkin saya membeli mainan yang salah. Tapi lain kali waktu kami te toko mainan, Angger tak minta apa-apa juga, kecuali bola! Bolanya sudah banyak. Jadi saya menggiringnya ke mainan lain. Mobil-mobilan atau alat musik. Hasilnya? Dia tidak tertarik. Ya sudahlah. Sudah setahun lebih saya stop beli mainan. Nggak ada gunanya. Nggak dipakai juga.

Dan kini saya hendak melakukan hal yang sama; pengin membelikannya sepeda meski ia tak menginginkannya. Ia bahkan sadar betul ia belum bisa menaikinya.

Resahkah saya dia belum bisa naik sepeda bahkan belum pengin naik sepeda? Ya! Resah. Ya ampun, si Ikin anak tetangga baru empat tahun sudah bisa naik sepeda tanpa congkok, ngebut lagi. Kalau dipikir-pikir si Ikin ini juga udah bisa baca Al-Qur’an  dan bisa baca tulis. Jenius memang dia. Tapi Angger bukan Ikin.  Dan Angger ternyata tak ingin sepeda!

Nggege Mangsa

Dalam bahasa Jawa ada istilah nggege mangsa. Memburu-buru musim. Mempercepat sesuatu yang belum saatnya.

Betapa banyak orang tua yang pengin nggege mangsa. Saya yakin itu. Kalau tidak tentu tak bakal ada les calistung usia dini, tidak ada sekolah bayi, juga tak bakal ada cerita anak remaja nyetir dan nabrak orang hingga meninggal.

Kenapa kita membiarkan bahkan mendorong anak untuk bisa menyetir mobil saat usianya belum lagi matang? Karena nyopir mobil itu keren, karena kalau anak sudah bisa nyetir mobil kita nggak perlu repot mengantarnya ke mana-mana. Tapi kita lupa, makin mudah anak ke mana-mana, makin mudah pula ia lepas dari pengawasan kita. Kalau kita mengantar anak, ya kita repot, tapi setidaknya kita tahu dia ke mana.

Jadi semua ini berbalik ke orangtua ternyata.  Sama seperti saya yang ingin menyapih Angger. Karena apa? Karena saya sudah bosan repot menyusui. Kalau bisa sih, saya juga ingin Agger supaya bisa mandi sendiri, bisa makan sendiri, dan tidur sendiri. Beres sudah.

Kebanggaan Orangtua atau Kebahagiaan Anak?

Angger naik perosotan. Dia naik, lalu berhenti di tangga teratas, tidak jadi meluncur. Ah, sial, cemen bener anak saya ini.

“Ayo Ngger, turun aja, ibu tungguin di bawah.”

“Tidak! Angger tidak mau turun.”

 

Saya bisa marah dan jengkel pada sifat penakut sama anak saya. Tapi saya memilih untuk tidak jengkel. Saya tahu Angger berani meluncur di perosotan yang  lebih rendah. Jadi sudah pasti dia tidak takut meluncur. Saya tahu saat Angger duduk di tangga paling atas dia mengamati bahwa perosotan itu terlalu tinggi baginya. Jujur saya juga ngeri membayangkan dia meluncur dari sana. Alih-alih marah, saya justru bersyukur Angger menggunakan insting dan nalarnya.

 

Ada orangtua yang bangga anaknya yang belum lagi berusia dua tahun sudah bisa naik tangga sendiri. Pertanyaannya adalah: kamu tega liat anakmu yang masih kecil naik turun tangga sendiri?

 

Ada orangtua yang bangga anaknya sudah bisa naik motor pada saat usianya dua belas. Pertanyaannya: yakin anak dua belas tahun bisa mengendalikan emosi di jalan raya? Yakin anak usia segitu sudah bisa menggunakan nalarnya di saat-saat genting?

 

Sama seperti pohon, anak akan berbuah saat sudah siap. Saat musimnya tepat. Kita bisa merekayasanya dengan segala macam pupuk dan cahaya buatan, tapi efek negatifnya? Pasti ada. Minimal si pohon cepat lelah.

 

Jadi saya akan mengingatkan diri saya sendiri untuk lebih sabar. Untuk menunggu. Saya akan bersabar bila saat ini dia nempel terus sama saya. Ke mana-mana minta ditemani ibunya. Toh, sebentar lagi ia akan terbang. Tangannya akan terlepas dari genggaman saya. Sementara itu belum terjadi, biarkan saya menikmati hangat pipinya dan suara manjanya. Dia bisa mandiri kapan-kapan. Tidak sekarang. Masih banyak waktu. Saya tak akan menolaknya saat ini.Karena saya juga ingin menahannya saat ia ingin terbang nanti.