Ketika Kenyamanan Korban Perkosaan (Masih) Dipertanyakan

Kapan itu saya dikirimi kliping berita yang membuat saya serta merta pengin mengasah golok. Begini potongan beritanya:

 

Mawar (siswi SMK) digerayangi oleh guru honorer bernama Bahtiar saat pelajaran di ruang laboratorium beberapa waktu lalu.

Menanggapi kasus tersebut, pengamat seksologi Universitas Gadjah Mada, Prof Anu PhD (nama samaran, pen) berpendapat, pihak kepolisian tidak boleh asal menjerat pelaku dengan undang-undang pidana. Tapi harus menelaah terlebih dahulu motif pelaku dan korbannya.

“Tidak bisa kemudian langsung menyalahkan pelaku hanya berdasarkan laporan korban. Bisa ditelusuri lebih mendalam. Apakah mereka berdusa sama-sama suka atau ada perasaan. Kalau memang ada perasaan cinta tindakan tersebut belum bisa dikatakan kriminal,” ujar Guru Besar Fakultas Psikologi UGM itu kemarin (5/9).

                Menurut Anu yang menjadi permasalahan hanyalah pada status sosia keduanya. Baik guru maupun siswi yang bersangkutan. Padahal tidak menutup kemungkinan keduanya memang menjalin kasih di sekolah.

                “Wajar saja kalau ada ketertarikan sang guru pada siswinya. Remaja di usia tersebut memang sudah dianggap matang untuk menjadlin hubungan orang dewasa,” katanya.

                “Pihak berwajib juga dapat menanyakan pada korban. Laporan yang disampaikan karena ada desakan norma atau tidak. Atau ada indikasi dia terdesak dengan status pelaku yang sudah beristri sehingga  memilih untuk melaporkan,” jelas Anu.

                Sebagaimana informasi pihak kepolisian, korban melaporkan tindakan tak senonoh yang dilakukan pelaku dua bulan sejak kejadian. Hal itu menguatkan analisis Anu kemungkinan adanya perasaan suka sama suka antara korban dan pelaku. Apabila si korban merasa tindakan pelaku merupakan perlakuan yang salah seharusnya melaporkan sejak awal dia mengalami pelecehan.

                “Simpel saja, kalau memang tidak suka perempuan harus berani menolak. Jangan mau tidak mau.

 

Gimana? Anda pengin ngunyah cangkul? Serius, begitu baca ini, perasaan saya bercampur aduk, antara sedih, jengkel, dan pengin nonjok.

 

Bila ada kasus perkosaan, kata beliau, jangan cuma tanyakan motif pelaku. Tanyakan pula motif korban. Astaghfirullah! Motif korban! Apabila Anda kemalingan, Prof, saya harap polisi juga menanyakan motif Anda sebagai korban. Apa motif Anda jadi korban pencurian? Jangan-jangan cuma pengin femes. Jangan-jangan Anda suka dimalingi.  Suka sama suka dengan malingnya gitu.

 

Ish, kan perkosaan beda sama pencurian. Jangan dibandingkan dong. Yup, memang betul. Kita tidak bisa menyamakan perkosaan dengan kejahatan biasa lainnya. Perkosaan (termasuk pelecehan dan pencabulan) adalah sebuat kejahatan yang kompleks dan tidak bisa dipisahkan dari stigma sosial yang juga sama rumitnya. Tetapi justru karena stigma sosial itu, tak banyak korban perkosaan yang melapor pada polisi.

 

Lebih parah lagi, korban dan pelaku sering ‘memilih’ jalan damai dengan MENIKAH. Itu dianggap sebagai tanggung jawab si pelaku. Istighfar dua kali. Dulu pernah ada berita yang menceritakan pelaku perkosaan bersedia bertanggung jawab dengan menikahi korbannya. Banyak komentar yang memuji si pelaku, membuat saya pengin ngruwes laptop.

 

Wedyan kik! Penak banget dong si pelaku. Kalau dia ingin menikahi si X, tapi si X nggak mau, perkosa saja, terus nikahi. Setelah itu dia bakal sah  ‘memperkosa’ si korban sepanjang hidupnya. Sudah jadi istrinya gitu lho. Ah, Mbak ini, nggak bisa lah disebut perkosaan kalau antar suami-istri. Ehm, sebenarnya bisa. Sangat bisa. Jadi bisa bayangin kan, betapa horornya hidup si korban yang ‘terpaksa’ menikahi seorang penjahat yang telah menyakitinya dan membuatnya trauma. Lagipula, apa jadinya pernikahan yang dibangun dengan landasan kejahatan semacam itu?

 

Stigma Sosial

Di Indonesia sungguh tak mudah bagi korban perkosaan untuk melapor. Mau ngaku nggak perawan aja susah setengah mati. Belum tentu lho korban tahu cara melapor. Di kantor polisi, dia juga harus berhadapan dengan prosedur yang belum tentu dia mengerti. Apalagi polisi tentu saja bukan orang yang dia kenal. Ketika seseorang barusan dilecehkan secara seksual, sungguh tidak mudah mengaku bahkan pada orang dekatnya. Apalagi mengaku pada orang asing, yang belum tentu simpatik pula.

 

Sudah susah-susah melapor, di persidangan, dia harus bersaksi, mengurai kembali kengerian perkosaan yang pasti ingin ia lupakan seumur hidup. Kadang kala ia harus bertemu dengan si pelaku lagi. Astaga, tak terbayangkan sakitnya.

 

Polisi dan hakim juga sering kali tak punya empati. Bukan rahasia lagi bila pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan tolol macam, “Mbak ikutan goyang nggak?” “Kok bisa diperkosa berkali-kali kalau nggak suka?” “Kamu menikmati nggak?”  “Kamu pakai baju apa?” “Kamu mabuk nggak?” Seolah baju itu berkorelasi dengan perkosaan. Seolah kalau kamu mabuk maka kamu boleh diperkosa. Terkadang pertanyaan itu dilemparkan sambil tertawa, dengan nada bercanda atau melecehkan. Gosh.

 

Lapor segera, emang bisa?

Lucky, novel memoir karya Alice Seabold menceritakan kisah penulisnya sebagai korban perkosaan. Ia diperkosa dan dihajar saat ia pulang dari kampus pada suatu senja. Yang paling saya ingat dari novel itu adalah bagaimana ia segera pergi ke klinik untuk memeriksakan diri dan melaporkan kejahatan yang menimpanya. Sudah jelas, peristiwa  itu tidak terjadi di Indonesia.

 

Di Indonesia, menjadi korban perkosaan seakan sama hinanya dan sama bersalahnya dengan pelaku kejahatan (dan kadang justru pelakunya dianggap tak bersalah karena alasan si korban memang memancing-mancing.) Apa yang bakal terjadi bila seluruh dunia tahu bahwa dia sudah ‘kotor’? Meski mbuhlah, di mana kotornya. Ada cerita korban perkosaan yang justru dibully oleh teman-temannya setelah mengaku.

 

Ancaman dan manipulasi juga bisa jadi alasan korban tidak melapor. “Kalau kamu lapor, akan kubunuh kamu.” Atau, “Kalau kamu lapor akan kucemarkan namamu,” sudah menjadi senjata yang efektif. Apalagi bila si korban tahu persis keluarganya pun akan malu berat—plus marah padanya– bila tahu ia sudah diperkosa.

 

Manipulasi juga membuat korban tidak tahu bahwa ia telah menjadi korban. “Kita begini kan karena saling sayang.” Itu bisa menjadi kalimat manis yang membuat korban lengah. Bisa juga kalimat ini, “Kalau kamu mau, nanti kubelikan hape, lho.”

 

Yang paling parah, seringkali korban nggak tahu kalau dia sudah dilecehkan atau malah diperkosa! Ini terutama terjadi pada anak-anak. Serius nih.

 

Waktu SD, saya pernah digrepe-grepe di angkot. Penumpang sebelah mengelus-ngelus paha saya (untung saya pakai celana jeans, jadi dia tidak menyentuh kulit saya). Saya bingung sekali, ini orang ngapain. Saya tidak merasa sakit atau malu atau marah, saya hanya BINGUNG! Serius. Saya sama sekali belum tahu soal nafsu seksual. Nah, bisa bayangkan bila ada anak-anak jadi korban perkosaan. Kadang mereka sadar setelah mereka remaja atau dewasa. Bertahun-tahun kemudian. Terus, disuruh lapor gitu?

 

Makin mbulet kalau pelakunya orang dekat. Paman sendiri atau lebih parah, bapaknya sendiri. (Ini benar-benar terjadi).

 

Seringkali pula pelakunya adalah orang yang berkuasa; guru, pejabat, pemuka agama, sutradara kondang (udah dengar kan skandal Harvey Weinstein?), atau dosen pembimbing skripsi. Masih ingat kasus perkosaan mahasiswa oleh seniman terkenal? Dan bagaimana ia tak berani buka suara bertahun-tahun lamanya? Saya memaklumi karena… lah gimana, masa depan si korban ada di tangan si pelaku yang membimbing tugas akhirnya. Senimannya masih bebas bergentayangan by the way, tanpa rasa malu.

 

Melapor, andai pun bisa, kadang juga tak menghasilkan apa-apa. Apalagi bila si korban tidak mengenal pelaku sama sekali. Ia diperkosa di jalanan misalnya. Njuk piye? Pun andai pelaku ketahuan, kadang juga tak ada hukuman. Seorang dosen universitas ternama dilaporkan atas perbuatan melecehkan mahasiswinya. Si pelaku terbukti bersalah… dan dia bebas-bebas saja. Masih berkeliaran di kampus. Tak ada penjara, tak ada pemecetan. Dan si korban masih berpeluang ketemu pelaku di kampus. Njuk piye?

 

Ini masih ditambah potensi masyarakat mencela si korban. “Salahnya sendiri gampangan.” Atau “Situ sih, mau-mau aja disuruh datang ke kantornya sendirian.” Dan kalau ada cowok mendekati  si korban, serta merta dia dikasih peringatan, “Cewek yang kamu dekatin itu sudah nggak ting-ting lho.”

 

Tinggal nolak, emang bisa?

Profesor yang saya kutip tadi menyatakan perempuan harus dengan tegas MENOLAK bila tidak mau jadi korban perkosaan. Grrrkkkhhhhhh. Kali ini saya nggak cuma bertanduk, tapi juga bertaring, bercakar, dan menyemburkan api.

 

Pak, kalau Anda jadi korban perampokan, harap dengan tegas katakan pada si perampok, “Jangan! Saya NGGAK MAU dirampok. Pokoknya NGGAK MAU.” Dengan begitu saya yakin si perampok bakal balik badan dan nggak jadi merampok Anda.

 

Perjalanan masih panjang

Belum selesai saya menulis ini, beredar wawancara Kapolri Tito Karnavian oleh BBC Indonesia tentang kejahatan seksual. Begini petikan beritanya:

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyatakan dalam kasus pemerkosaan, terkadang polisi harus bertanya kepada korban, apakah merasa baik-baik saja setelah diperkosa dan apakah selama pemerkosaan merasa nyaman.

“Pertanyaaan seperti itu yang biasanya ditanyakan oleh penyidik sewaktu dalam pemeriksaan, untuk memastikan, apakah benar korban diperkosa atau hanya mengaku diperkosa, untuk alasan tertentu,” jelas Tito.

Dalam percakapan dengan BBC Indonesia, Jenderal Tito mengatakan bahwa Indonesia saat ini ada di persimpangan jalan, sebagai negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan, membuat terkadang polisi dihadapkan pada dilema antara menegakkan hukum dengan menjaga ketertiban sosial.

Gubrak! Aduh, saya doakan anak/istri/saudara  orang-orang yang berpikir untuk bertanya, “Apakah kamu nyaman saat diperkosa?”  tidak pernah diperkosa. Moga-moga mereka juga nggak pernah diperkosa.

Ish, dia laki-laki, mana mungkin diperkosalah. Oh, jangan salah, laki-laki juga bisa diperkosa. Dan andai beneran mereka jadi korban mudah-mudahan nggak ada nanyain apakah mereka nyaman selama atau sesudah peristiwa itu.

Nek nyaman ki njuk ngapa? Segelintir korban dimanipulasi sedemikian rupa hingga mereka merasa nyaman (terutama anak-anak), tapi mereka tetap korban.

Yap, jalan masih panjang. Bila orang-orang yang berkedudukan tinggi saja masih mikir bahwa diperkosa bisa enak, duh, mungkin masih butuh berapa dekade lagi sebelum kita bisa memperlakukan korban dengan adil.

“Eh, gimana kalau si korban memang mancing-mancing, menjebak si pelaku?”

Saya ingat kutipan yang saya baca entah di mana. Perkosaan tidak pernah jadi kejahatan yang tidak disengaja.  Jadi, kalau ada perempuan atau laki-laki yang mancing-mancing Anda untuk jadi pelaku, Anda selalu bisa menolaknya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s