Konsistensi Itu… Berat Sekali

Suami saya, seperti ribuan orang Indonesia saat ini, juga kepingin jadi penulis. Minimal kepengen nulis di media lah. Harus diakui menulis itu seksi sekali akhir-akhir ini. Jadi penulis itu seperti jadi selebriti. Siapa yang nggak pengin jadi selebriti? Saya sih pengin.

Saya yang biasanya berpikir positif, kali ini nggak bisa menahan diri untuk bersikap skeptis. “Kamu tuh nggak bakat jadi penulis,” kata saya pada Anto, “Soalnya kamu tuh nggak bisa kerja mandiri, mendisiplinkan diri sendiri.”

Yup, Anto memang tipe manusia yang butuh dipecut agar bisa bekerja–masokis kaleee–. Studi S1 dijalani bertahun-tahun –nggak saya sebutin, takut dia langsung menyungsepkan wajah ke dalam tas kresek–. Dia akhirnya menyelesaikan skripsinya yang mangkrak setelah SPPnya dinaikkan berkali-kali lipat mengikuti mahasiswa yang baru masuk. S2-nya juga molor dan ia selesaikan setelah diberi surat peringatan DO. Ia butuh dikontrol faktor luar; orang lain, kebutuhan mendesak, atau hukuman. Saya rasa itulah mengapa akhirnya ia kerja kantoran.

Saya sebaliknya. Saya punya disiplin tingkat tinggi. Meski tak ada yang mengawasi tiap hari saya ‘ngantor’ jam delapan pagi, setelah urusan rumah kelar dan suami berangkat ke kantor. Jam sebelas saya istirahat dan jam satu mulai lagi, sampai jam empat atau lima sore saat suami sudah pulang. Kalau malam nggak ada kegiatan saya masih kerja lagi.

Kalau ada deadline terjemahan lain lagi ceritanya. Saya bisa bekerja sekeras kuda, mulai subuh hingga jam sebelas malam.

Karena itu saya berhasil menerbitkan sepuluh buku. Hanya satu sayangnya. Sayangnya itu CERITA LALU!

Rontok!

Kebanggaan saya rontok satu persatu saat saya sadar tahun ini saya belum menulis satu halaman novel pun. Dua cerpen yang saya tulis juga nggak ada kabarnya. Saat saya menatap blog baru yang lagi-lagi melompong, harga diri saya runtuh rata dengan tanah. Perasaan baru dua minggu lalu saya semangat banget nulis blog. Dalam hati saya berjanji saya bakal rajin mengisi blog ini. Apalagi kebetulan saya sedang nggak punya deadline. Tapi yah Anda liat sendiri, kan? Sudah berhari-hari blog ini nganggur.

Ah, jangankan nulis blog, nulis status facebook aja nggak pasti kok. Saya punya fans page, dan niatnya di situ saya nulis satu fragmen novel Jurnal Jo setiap hari. Satu fragmen pendek. Empat atau lima kalimat. Mungkin cuma butuh waktu lima menit buat menulis dan mempostingnya. Yah, siapa tahu nanti fragmen-fragmen ini bisa dikumpuli dan jadi buku.

Tapi akhirnya? Ya sama saja. Nasdem, panas-panas adem. Rajin dan semangat di awal, lalu melempem di akhir.

Saya kembali mempertanyakan diri saya. Ya, saya sudah punya anak dan itu mengubah banyak hal. Tapi bukankah banyak penulis punya anak dan tetap produktif? Ada lho penulis yang punya ENAM anak dan MASIH nulis. Dan bukankah yang penting di sini adalah konsisten serta disiplin?

Nyatanya kalau ada pekerjaan menerjemahkan dengan deadline, saya bisa mengerjakannya. Saya bisa bangun sebelum subuh, mencuri waktu di siang hari, dan mengurangi waktu tidur di malam hari. Kok bisa?

Sementara begitu deadline kelar, rasanya berat banget bangun pagi-pagi buat nulis novel atau nulis blog yang belum pasti ujungnya (maksudnya belum tentu menghasilkan duit). Saya ini penulis atau bukan sih?

Sampai titik ini saya mulai meragukan diri saya sendiri. Jangan-jangan saya seperti Anto, butuh dipecut juga. Minimal dipecut ‘butuh’ alias dikejar kebutuhan yang makin banyak sementara uang semakin sedikit.

Sebenarnya Bisa

Konsistensi. Kata itu menghantui saya. Sebenarnya saya cuma butuh konsisten. Ya, kondisi saya tak memungkinkan kerja delapan jam sehari. Ada Angger yang harus saya urusi. Solusinya, ya jangan kerja delapan jam. Dua jam saja cukup bukan. Satu jam sebelum Angger bangun dan satu jam setelah Angger tidur. Taruh dalam waktu dua jam saya bisa menulis lima halaman novel. Untuk membuat satu novel 150 halaman, saya cuma butuh tiga puluh hari bukan? Sebulan saja! Masalahnya bisa tidak saya konsisten?

Sungguh di titik ini saya ragu-ragu. Karena ya itu tadi, nulis sepenggal fragmen empat atau lima kalimat saja tidak bisa konsisten!

Soal tidak konsisten saya rajanya! Tidak bangga sih.

Sudah berapa kali saya bertekad olahraga? Saya pernah nge-gym tiga empat bulan, tapi lalu surut. Lanjut yoga tiga bulan, macet bertahun-tahun. Sepedaan beberapa minggu, lalu males berbulan-bulan. Awalnya sih semangat banget. Beli celana training, sepatu mahal, sampai sepeda kinclong. Terus? Ya sudah. Semangat belanjanya doang.

Alasannya macem-macem; hujanlah, deadlinelah, Angger rewel lah. Pokoknya nggak rugi deh saya jadi penulis kreatif. Bisa bikin alasan sebanyak mungkin.

Soal lain juga begitu. Soal rencana masak dan makan sehat misalnya. Soal ngaji tiap hari. Soal bikin acara sosial. Nafsu besar, tenaga kurang.

Jadi, sebentar… saya lihat saldo tabungan dulu. Siapa tahu setelah itu saya konsisten. Oh, tunggu, barusan ada royalti masuk. Naaaaahhh, leyeh-leyeh dulu ah. Saya berhak liburan, kan? Setelah… eh, capek nganggur sebulan.   

10 thoughts on “Konsistensi Itu… Berat Sekali

  1. Erika Kartika

    Tertampar bener. Dulu waktu saya masih nulis pakai buku, biasanya beli buku tebel-tebel banget, pulpennya jg yg bagus dan mahalan. Tp apa? Nulis cm selembar, sisa bukunya dipakai corat-coret. Nulis di laptop malah tambah susah karena gampang ngapus, jadi dihapus2 terus dan gak kelar2.
    Ampuuuun.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s