Tentang Guru

Rame-rame wacana pergantian kurikulum 2013 ikut membuat saya galau. Saya tak ingat berapa kali kurikulum berganti selama 12 tahun saya belajar di SD-SMA. Saya cuma ingat satu kurikulum: CBSA –Cara Belajar Siswa Aktif– yang sering dipelesetkan menjadi Cah Bodo Saya Akeh (Anak Bodoh Makin Banyak). Tapi yang saya rasakan: tak ada bedanya! Dari SD sampai SMA, ya gitu-gitu aja pelajaran yang saya terima. Cara mengajarnya juga sama menotonnya: mencatat, mengerjakan soal, mendengarkan.  

Beberapa tahun lalu ada kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi. Tapi yaaaa…. seperti Anda tahu, sekolah kita tetap gitu-gitu aja, kecuali mungkin sekolah swasta mahal yang mampu merevolusi diri sendiri. Belum sampai kurikulum tadi menampakkan hasil –ingat, perubahan seperti ini butuh proses panjang– eh sudah mau diganti lagi. Taruhan deh, andai kurikulum 2013 ini dipaksakan, hasilnya bakal sama: nggak ada hasilnya. Lah, mau gimana, kalau guru yang jadi ujung tombak pelaksanaan kurikulum masih gitu-gitu aja.

Sebelum tulisan ini menjadi terlalu serius (serius bukan bidang saya), saya akan menceritakan pengalaman saya dengan manusia berlabel ‘guru’.

Adakah guru favorit saya waktu sekolah dulu? Sebentar, saya ingat-ingat dulu. Ada Bu Yati, guru kelas satu SD yang sabar banget mengajar membaca dan menulis. Kadang beliau mendongeng juga. Bahkan di masa itu, guru yang mau mendongeng sudah langka sekali. Di SMA ada Pak Budi –guru bahasa Indonesia– yang unik dan perhatian sama muridnya, ada Pak Andar guru PPKN yang lucu dan asyik bila menerangkan, ada Bu Tati guru bahasa Inggris dan wali kelas saya yang peduli pada anak didiknya. Ada Pak Harno, guru ekonometri yang membuat pelajaran ekonomi  jelas, mudah dan menarik. Hm, paling itu saja sih. 

Tapi kalau ditanya, adakah guru yang menjengkelkan, yang membuat saya sedih, dan susah? Saya bisa langsung menjawab BANYAK!

Well, mungkin ini tidak adil, bagaimana pun semua yang baik atau biasa memang mudah terlupa, tapi yang  jelek dan menyakitkan, nempel terus seumur hidup, seperti bekas luka.

Inilah tipe-tipe guru yang saya temui sepanjang hidup saya:

  1. Guru yang oke, deh. Ini guru yang biasa-biasa saja. Saat belajar dengan guru semacam ini saya merasa …. biasa-biasa aja, tidak cemas, tidak takut, tapi juga tidak excited. Pokoknya datar. Guru semacam ini lumayan jelas dalam menerangkan, minimal bisa berkomunikasi dengan siswanya, tidak menerapkan hukuman yang mengerikan, dan lumayan sabar, tapi mereka juga tidak peduli apakah siswanya mudeng atau tidak. Ini jenis guru yang paling banyak saya temui.
  2. Guru yang baru ketemu aja udah bikin keder. Ini adalah guru-guru yang hobi mem-‘bully’ siswa, gemar menerapkan hukuman konyol (berdiri di depan kelas, memukul tangan dengan penggaris, menjewer atau menerapkan kekerasan fisik lainnya). Guru ini juga ‘ringan mulut’ dalam melemparkan komentar seperti, ‘gitu aja nggak bisa?’, ‘kamu ini punya kuping nggak sih?’, ‘dasar goblok’, dan sebagainya. Guru semacam ini biasanya mengajar seenaknya, kalau menerangkan sesuka dia, komunikasinya satu arah, dan hobi mengetes siswa. Guru jenis ini mau sedikit mau banyak, rasanya tetap dominan sekali. Saya masih ingat betul, waktu TK saya tidak bisa membuat origami sesuai petunjuk guru. Saya maju untuk bertanya, dan yang saya dapatkan? JEWERAN di telinga.
  3. Guru terserah elo, deh, Pak. Saya tak tahu berapa banyak jumlah guru kayak begini, soalnya nggak jelas. Ini tipe guru yang saking membosankannya terlalu sulit saya ingat. Guru-guru seperti ini sama sekali tidak meninggalkan kesan. Datang ke kelas, nulis di papan tulis sepanjang waktu, memunggungi siswanya terus sehingga kalau semua siswanya ngilang dia nggak bakal sadar. Guru seperti ini cuek bebek bila siswanya berisik atau perang pesawat kertas di kelas. Jika menerangkan, mereka seperti ‘kaset’ diputar, membicarakan hal yang sama dengan kalimat yang sama dari kelas ke kelas, dari tahun ke tahun. Saat bel tanda pelajaran habis, saya yakin dia sama lega dengan siswanya. Bagi dia, yang penting kerjaan beres, dapat gaji.
  4. Guru nyentrik. Ini adalah guru yang tidak termasuk kategori di atas, galak tapi lucu, agak nyleneh, tapi dicintai. Sebagai contoh saya punya guru musik waktu di SMP, seorang biarawati yang sudah tua sekali. Saya lupa namanya karena kami terlalu sering memanggilnya, ‘neli’—nenek lincah–. Dia galak dan kata-kata kotor kadang terhambur dari mulutnya, semacam, “Heh, kamu ngapain bengong, kayak monyet kesambet”. Guru semacam ini sedikit sekali jumlahnya karena yah, tau sendirilah, orang nyentrik selalu jadi minoritas.

Contoh Kasus

Di SD saya punya guru agama yang saya duga punya kelainan jiwa. Dia itu pendiaaaammmmm banget nget. Di kelas cuma nulis dikit lalu duduk diam. Siswa rame tak bisa ia tangani. Kalau pun bicara suaranya lemah sekali. Akibatnya dia sering dibully siswa, tapi untungnya (atau diatur demikian) dia hanya guru pengganti. Sebelum saya lulus sepertinya dia sudah tidak bertugas di SD saya. Tuh, kan saking pendiamnya guru ini, dia menghilang pun saya nggak begitu sadar. Mudah-mudahan dia mendapatkan terapi psikologi.

Di SMP, saya punya guru fisika yang begitu datang langsung nyatet tet. Sepanjang pelajaran juga cuma diisi dengan menyalin catatan darinya. Dua papan tulis penuh berisi tulisan sampai ke pojok-pojoknya. Itu masih nggak cukup. Dua papan itu tulis terpaksa dihapus dua tiga kali untuk memberi ruang bagi catatan berikutnya. Tapi tolong ya, mana bisa fisika dipahami lewat tulisan doang? Sepanjang karier saya sebagai siswa, saya selalu mules –dalam arti sebenarnya– bila menghadapi pelajaran matematika, fisika, dan kimia. Baru dengar bel masuk aja sudah berdenyut-denyut ini jantung, melintir ini perut. Bila pelajaran berlangsung, yang saya pikirkan adalah, “kapan siksaan ini akan berakhir.”

Di SMP pula saya punya olahraga killer. Saya maklum kalau guru matematika dan fisika killer. Sebenarnya, sih, nggak ada alasan buat jadi guru killer, apa pun bidang pelajarannya, tapi ya gitu deh, dari dulu ada pelabelan sains itu serius, jadi guru sains killer itu sah-sah aja. Tapi saya paling nggak ngerti bila ada guru seni, guru olahraga, dan guru bahasa killer. Tiga pelajaran itu harusnya menyenangkan dan bikin semangat, tapi nyatanya? Guru olahraga yang saya ceritakan ini sudah tua, nggak pernah senyum, mulutnya mengerucut terus, seperti nggak pernah bahagia sepanjang hidupnya dan GALAK.  Liat para murid malas berpanas-panas, dia langsung mencela, “Bayi aja dijemur, kok, kalian males kepanasan.” Yeee, kita bukan bayi kali, Bu dan ibu sendiri nggak kepanasan, nggak adil!

Dari sekian guru olahraga yang pernah saya dapatkan, jarang sekali ada guru olahraga yang ikut aktif olahraga. Kalau kami lari, mereka nggak ikut lari. Kalau kami basket, dia nggak ikut basket. Kadang mereka malah tidak pakai baju olahraga sama sekali. Ada guru olahraga kami yang sudah tua, tremor dan jalan saja kepayahan tapi nggak juga pensiun. Kasihan amat pendidikan Indonesia ini.

Guru seni suara juga ada yang begitu. Nyanyi harusnya bikin seneng, kan. Nah, dia ini bikin acara nyanyi jadi kayak sidang pengadilan. Tegang rasanya. Senyum juga nggak pernah dan kalau nggak kami nggak mudeng not balok, rasanya kami jadi orang paling idiot di dunia.

Ada satu guru olahraga yang menyenangkan yang saya dapat di SMP, namanya Pak Nindyo. Beliau ini gemuk kayak bobo chan. Sudah tua juga. Tapi semangatnya luar biasa. Lincah banget lagi. Kalau lihat kami cewek-cewek kikuk main bola, dia ketawa ngakak, “Hahaha, kalian ini nendang bola kayak nendang mentega.” Akhirnya kami jadi ikut ketawa. Nah, andai semua guru olahraga kayak gitu, saya yang nggak jago olahraga ini minimal jadi nggak takut olahraga.

Di SMA saya mendapatkan guru geografi yang juga sudah tua. Semangat mengajarnya sudah kendor. Seolah-olah dia datang hanya untuk melaksanakan kewajiban dan dapat gaji sambil nunggu masa pensiun. Pelajaran geografi yang seharusnya sangat menyenangkan jadi garing habis di tangannya. Saat dia menerangkan, anak-anak berkegiatan sendiri dan dia tampak tak keberatan. Kalau ujian, kami kompak nyontek. Habis, penjelasannya gak ada yang masuk di otak kami. Saya masih ingat, ada satu soal peta buta di ujian kami dan itu betul-betul buta, cuma garis kurva ‘olet-olet’ kayak amuba diperbesar. Itu bisa jadi danau, bisa jadi pulau, bisa jadi juga bekas iler entah siapa. Untung soalnya pilihan ganda, jadi kami bisa tebak-tebak buah manggis.

Saya juga ingat ada juga guru sejarah yang ngasih tugas nggak masuk akal: menerjemahkan teks sejarah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Saya tidak ingat dari mana sumbernya, tapi ini semacam ensiklopedia. Tolong ya, mana bisa anak SMA menerjemahkan? Apalagi naskahnnya berhalaman-halaman dan bukan teks yang specially simplified. Gurunya pun belum tentu bisa mengerjakan. Akibatnya, kami jadi ‘penipu’, menyerahkan tugas itu ke agen penerjemahan pinggir jalan. Saya lupa hasilnya kayak apa, tapi pasti kacau balau.

Ada juga guru bahasa Indonesia yang kaku banget. Meski beliau ini guru bahasa Indonesia, dia sama sekali nggak kreatif, kalau ada pelajaran membuat undangan dan tugas yang tertulis di buku adalah membuat undangan rapat OSIS, ya kami harus membuat undangan rapat OSIS. Tidak peduli bahwa tugas itu sebenarnya membosankan sekali. Bukankah menyenangkan kalau kami boleh menulis undangan ulang tahun, fashion show, atau pertunjukan teater. Udah begitu formatnya harus tepat sampai titik komanya. Kalau di buku disebutkan nama penerima ditulis di sudut kanan atas, ya harus begitu kami menulisnya. Saya yakin, guru begini nggak pernah baca novel terbaru. Dan saya curiga, inilah penyakit guru-guru bahasa Indonesia pada umumnya. Yang mereka tahu adalah novel Siti Nurbaya. Stephenie Meyer? Siapa tuh?

Guru yang merendahkan siswa juga saya dapatkan di SMA. Ada kejadian di kelas matematika yang saya ingat terus sampai sekarang. Saya disuruh maju mengerjakan soal. Saya maju dan hanya bengong di sana. Lamaaaa. Sampai akhirnya guru saya itu geleng-geleng dan berkata, “Gitu aja kok nggak bisa”. Harga diri saya rontok saat itu juga. Ya saya akui, saya bego banget dalam matematika. Saya akui, soal itu mungkin memang mudah dan saya kebangetan bego karena tinggal memasukkan angka ke rumus saja nggak bisa. Tapi andai saya yang jadi guru, hati sayalah yang bakal rontok dan berpikir, “Ya ampun, aku ini guru yang payah sekali, sampai-sampai mengajari soal sederhana saja nggak berhasil”. Andai saja, guru itu menuntun saya, mengatakan tidak apa-apa bila saya belum paham dan bersedia menerangkan atau membantu lagi, saya mungkin nggak bakal minder sepanjang hidup saya di SMA.

Yang juga masih saya ingat hingga kayak dendam kesumat adalah guru BK (bimbingan konseling) SMA yang mengatakan, “Kalau kalian malas ikut les di sekolah, nanti kalian saya masukkan ke IPS lho.” Saya yang memang pengin masuk IPS jadi kesel banget. Jadi anak IPS itu sekumpulan anak malas ya? Lucu banget, padahal dia kan guru BK yang notabene orang IPS juga. Dan guru BK juga seharusnya menyadari setiap anak punya bakat dan minatnya masing-masing. Masuk IPS atau IPA mah tergantung minat. Nah, malas atau rajin itu urusan lain lagi.

Macam-macam lagi guru ngeselin yang saya temui. Ada guru yang melakukan pelecehan seksual (katanya sih, saya Alhamdulillah nggak jadi korban). Ada guru yang melakukan menendang siswanya (untung juga bukan saya). Ada guru yang mengorupsi uang kegiatan siswa. Ada juga guru hobinya datang telat dan ngajar seenaknya. Padahal siswanya nggak boleh telat dan nggak boleh belajar seenaknya bukan?

Well, guru juga manusia, wajar kan kalau punya kelemahan? Tentu, tentu saja. Hanya saja bila kelemahan itu adalah ‘ringan tangan’, tolong jangan jadi guru, jadi satpam saja deh biar dapat penyaluran yang positif.

Cerita saya soal guru ini akan saya lanjutkan lain kali ya. Saya akan cerita pengalaman saya sebagai guru dan guru-guru yang akhirnya menginspirasi saya (yeiii, akhirnya saya menemukan guru yang hebat juga).

*PS: tulisan ini tidak saya maksudkan untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Saya yakin ini adalah gambaran umum pendidikan di Indonesia.

14 thoughts on “Tentang Guru

  1. kurniahartawinata

    Oooh, Bu Tati! Aku pernah mbolos jam pertama sama temenku di kantin. Temanku makan, aku cuma bengong. Eh, beliau datang. Tanya, “Jam pelajarannya siapa, ya?”

    “Pak Pandi, Bu.”

    “Pak Pandi memang baik, ya.”

    Lalu kami makan bersama.

    Reply
      1. kenterate Post author

        Oh, kuralat, maksudmu yang Bu Neli? Ya, ya, benar, nama aslinya Bu Harsi ya? Makasih udah mengingatkan. Udah pernah kena semprotannya belum?

  2. Willy

    Gara2 waktu SD (kelas 2) saya menghindari bola yang dilemparkan kepada saya, si guru bilang, “Sama bola aja takut!” Itulah yang bikin saya paling males ikut pelajaran olahraga. Di kelas 3, setahun penuh bolos pelajaran olahraga (ngumpet di kampung sebelah lapangan). untung gurunya udah tua. Saya baru nongol kalau ada penilaian. Nah, coba kalau guru saya waktu kelas dua itu bilang, “Refleks menghindar kamu bagus. Ikut beladiri saja.” Nah, pasti saat ini saya menekuni salah satu bidang olahraga.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s