Arisan: Seni Membuang eh, Mengisi Waktu

Warga kampung saya hobi banget sama yang namanya acara sosial, terutama yang bersifat ‘duduk dan makan’, baik itu pesta pernikahan, arisan, yasinan, bahkan melayat. Acara-acara semacam itu dapat dipastikan selalu penuh peserta. Beda kalau acaranya kerja bakti atau ronda, yang datang biasanya satu dua saja.

Saya dulu heran dengan ibu-ibu kampung saya yang rajin banget arisan. Ada dua arisan utama di kampung saya; arisan RT dan arisan RW. Dua-duanya sebulan sekali. Arisan lainnya masih banyak lho, ada arisan pasar, arisan pengajian dan lain sebagainya. Dulu ada acara arisan senam. Setiap ibu-ibu senam bersama, mereka arisan. Awalnya saya nggak ngerti kenapa tiap acara disisipi arisan. Ternyata arisan dijadikan acara ‘pengikat’ agar warga selalu datang. Kan, kalau ada arisan ada yang ditunggu-tunggu; siapa tahu dapat dan minimal warga merasa terpaksa datang karena punya kewajiban bayar.

Arisan RT diadakan setiap tanggal 9 dan arisan RW tanggal 14 tiap bulan. Nah, siapa yang berani bilang orang Indonesia itu hobi ngaret? Ibu-ibu kampung saya nyaris tak pernah datang terlambat arisan. Yang ada, bila arisan dijadwalkan jam 4, maka jam 3 mereka sudah rapi jali, padahal tempat arisannya cuma tinggal jalan sepuluh langkah. Begitu juga kalau hendak melayat. Apalagi bila kebetulan tempatnya jauh dan harus naik kendaraan carteran rame-rame. Ini bisa saja terjadi. Misalnya salah seorang tetangga kehilangan orang tua dan si orang tua ini tinggal jauh dari kampung kami. Biasanya keluarga almarhum menyediakan transport bagi tetangga yang ingin melayat. Kalau kebetulan kendaraan tidak disediakan oleh ‘tuan rumah’, maka kami berinisiatif mencari kendaraan sendiri dan membayar dengan cara iuran. Kendaraan yang kami sewa biasanya kendaraan umum, baik colt maupun bus kota engkrek-engkrek. Iurannya cukup murah, antara lima hingga sepuluh ribu.

Nah, bila kami sepakat akan berangkat pukul satu, dapat dipastikan pukul setengah satu sudah pada berkerumun di dekat bus. Pukul satu kurang seperempat bus sudah nyaris penuh. Dan pukul satu kurang lima, bus berangkat. Yang terlambat? Tinggal saja. Pernah lho, pas bus mau berangkat ada yang lari-lari nyusul dan ibu-ibu pada ngomel. “Harusnya kan kalau disuruh ngumpul jam satu, jam setengah satu udah siap.”

Awalnya saya heran dengan semangat warga (terutama ibu-ibunya). Melayat jauh sampai ke pucuk Kulon Progo pun dilakoni. Acara pengajian membosankan seminggu dua kali juga dijabanin. Wow. Saya sih, maaf aja ya, mending di rumah browsing facebook. Kalau dihitung-itung, ada 11 kali pengajian rutin dalam sebulan! Itu belum terhitung belajar baca alquran ya. Itu yang rutin lho. Ada juga pengajian insidental, seperti syukuran. Itung aja deh, berapa kali event sosial dalam sebulan yang harus mereka ikuti.

Peran Sosial

Lalu tibalah giliran saya. Ibu saya meninggal dan saya tiba-tiba menjadi ‘anggota masyarakat’. Sayalah yang harus maju bila ada acara sosial; melayat, kondangan, menengok bayi. Kadang saya berbagi peran dengan adik saya Sutimbul, tapi sebagian besar tetap jadi bagian saya.

Aduuuh, males banget, Nek. Kalau mau melayat, saya sudah enggan membayangkan apa yang harus saya lakukan di sana nanti. Duduk- duduk saja? Duh, saya paling nggak betah nggak ngapa-ngapain. Kalau melayatnya jauh lebih malas lagi saya. Terbayang waktu yang terbuang, belum lagi di bus nanti saya harus ngobrolin apa dengan ‘tetangga’ sebelah. Terus terang, saya hanya pandai ngobrol dengan teman sebaya, tapi ngobrol dengan nenek-nenek yang ketemu aja jarang, saya benar-benar kagok.

Tapi yah, semua itu harus dijalani. Saya ingat banget, Anto sampai menemani saat saya harus ‘nyumbang’ bayi. Lah, gimana lagi, saya belum pernah melakukannya dan saya nggak punya teman ke sana.

Terbiasa dan Menikmati

Tapi lama-lama saya luwes juga. Apalagi setelah punya anak dan ‘tidak bekerja’. Tiba-tiba saya mengerti kenapa tetangga saya rajin sekali melayat. Bayangkan, bagaimana perasaan Anda bila di rumah nyaris 24 jam sehari, mengerjakan hal yang itu-itu aja, kalau pun keluar paling juga ke pasar, ke masjid, main ke tempat tetangga. Itu aja. Dan ingat, tak ada komputer atau ipad. Rata-rata perempuan di kampung saya memang ibu rumah tangga. Andaikan bekerja, mereka bukan pencari nafkah utama. Jadilah acara seperti kondangan dan arisan adalah acara ‘penyegaran’. Mereka bisa berdandan, bertemu dengan tetangga, nggosip nggak penting, dan menikmati makanan yang mungkin tidak setiap saat bisa mereka beli.

Saya merasakan kebosanan mereka. Padahal saya toh tidak terkungkung amat seperti mereka. Saya masih bisa jalan-jalan ke mal, makan di restoran, piknik ke tempat wisata kadang-kadang. Di rumah pun saya punya buku, DVD, dan internet untuk menghibur diri. Ibu-ibu di kampung saya boro-boro jalan-jalan di mal, baru nginjek lobinya saja sudah kikuk setengah mati. Tentu tidak semuanya, tapi masih banyak yang seperti itu. Mereka hanya bisa piknik bila ada piknik PKK.

Tapi intinya, saya jadi mengerti betapa menariknya acara-acara sosial yang selama ini saya pandang remeh. Kapan itu, kami sekampung berangkat melayat naik bus. Dan saya SENANG SEKALI. Saya punya kegiatan untuk menyenang-nyenangkan Angger. Angger jarang naik bus. Dan bus yang ini nyaman karena nggak perlu nunggu, nggak perlu berhenti-berhenti. Ngobrol dengan penumpang sebelah juga bukan masalah. Tanyakan saja apa kabar anaknya, cucunya, suaminya. Dijamin, bisa ngalor ngidul sesuka hati. Kalau pun habis bahan obrolan, diam pun tidak masalah.

Saya juga semangat setiap malam jumat kliwon. Itu saatnya pengajian rutin. Itu artinya saya bisa mendandani Angger dengan baju muslim dan membawanya bermain dengan teman-temannya, sementara saya bisa duduk-duduk bersama ibu-ibu lain. Meski, kadang kalau ada kerjaan, saya males berangkat juga sih.  Dan kalau Angger sudah tidur sebelum waktunya berangkat ngaji, dijamin saya nggak berangkat ngaji. Mending nulis blog di rumah, ya kan?

Arisan

Lalu tiba-tiba saja saya sudah nyemplung ikut arisan PKK yang selama ini saya hindari. Arisan PKK kami standar banget. Pertama dibuka dengan doa, lalu kami semua berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya, melafalkan Pancasila, dan menyanyikan lagu Mars PKK. Syairnya begini, “Marilah hai semua, rakyat Indonesia membangun segra. Membangun keluarga yang sejahtera dengan PKK…”

Kalau saya pas nggak repot dan bisa datang awal, saya ditunjuk untuk memimpin sesi menyanyi ini. Hebat banget, kan? Wong jadi dirijen saja saya nggak ngerti caranya. Tapi, yeah, asal tangan gerak-gerak sudah cukup.

Selain acara arisan, biasanya ada pengumuman-pengumuman yang berkaitan dengan posyandu dan lansia. Ada juga pengumuman dari kelurahan, misalnya soal pembagian beras atau cara mencari keringanan biaya sekolah. Ada juga undian berhadiah yang bisa dibeli. Uangnya hasil penjualan undian disimpan untuk kas sosial. Kalau beruntung, kami bisa dapat ember atau gantungan baju. Selain itu, tidak ada kegiatan yang bermakna.

Yang paling geli adalah bila ada ‘demo panci’. Bukan rahasia lagi, arisan sering disusupi penjual seperti ini, mulai dari penjual bedak sampai penjual panci.

Kapan itu saya datang arisan RW dan ada acara ‘demo panci’ semacam ini. Penjualnya membawa segambreng barang-barang ajaib, salah satunya ia klaim sebagai ‘alat kesehatan’. Ia peragakan cara menggunakan ‘alat kesehatan’ tersebut. Alatnya semacam tali agak besar yang diberi pegas. Nah, alat itu dipakai untuk meregangkan tubuh. Jejakkan kaki hingga pegasnya meregang. Tangan membantu dengan menarik tali. Penjualnya kelihatan kesulitan juga memperagakannya. Soalnya dia overweight. Lah, alatnya nggak pernah dipakai, Pak?

Selain alat kesehatan tadi, dia juga menjual semacam suplemen. Suplemen ini diklaim bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Saya cuma senyum-senyum mendengar dia menjelaskan. “Ibu-ibu, sebenarnya akar penyakit itu cuma dua: darah dalam tubuh tidak mengalir lancar dan ada racun dalam tubuh. Nah, obat yang satu ini bisa melancarkan darah, yang satunya lagi melenyapkan racun.”

Ha! Cuma dua itu aja yah. Tahu gitu, para dokter itu nggak usah susah-susah kuliah dong.

Next, dia mulai menerangkan harga barang-barang jualannya, mulai dari termos hingga kipas angin portabel berlampu. Unik banget.

“Nah, termos ini, Bu, murah banget. Cuma lima belas ribu…”

Ibu-ibu langsung menyahut, “Piiiiingggg.” Ping sama dengan ‘kali’ dalam bahasa Jawa.

Penjualnya ketawa, “Hahaha, iya, lima belas ribu kali enam bulan.”

Maksudnya harganya sembilan puluh ribu tapi bisa dicicil enam kali. Ini bukti bahwa ibu-ibu sudah terbiasa dengan sistem kredit, eh sudah terbiasa jadi penonton ‘demo panci’.

Tapi terus terang saja, hal-hal semacam itulah yang membuat saya betah ikut arisan RT. Selain gosip-gosip hangat yang ditiupkan di balik punggung. Bahkan bila punggung si korban gosip hanya berjarak tiga meter, “Ssssttt, gimana tuh kabar uang bantuan PAUD? Koordinatornya si itu, kan, yang duduk d situ.”

 

5 thoughts on “Arisan: Seni Membuang eh, Mengisi Waktu

  1. Amalia Damayanti

    Selalu sukaa tulisan mba ken🙂 di rumah ibu jg ada arisan warga… dari saya SD sampe sekarang saya udah punya anak masih awet lhooo sayang gak tinggal di rumah ibu jd gak bisa nerusin🙂

    Reply
    1. kenterate Post author

      Wah sama dong, arisan di RW-ku udah ada sejak aku bayi kali ya. Senang sih, ada forum ketemuan. Sayang kamu nggak bisa ikut ya🙂

      Reply
      1. Amalia Damayanti

        Iyaa gak bs ikut yg dirumah… di daearh tempat tinggalku yg sekarang jg ada arisan rw eeeh malah dpt kabar kalo arisannya malah jd ajang ngerumpi ama “ngerasanin” si empunya rumah yg buat arisan… mo ikutan jd pikir2 lg deh… beda banget sama yg di rumah..😦

  2. Langsing Sekarang

    waaaah, hebat arisan PKK pembukaannya lengkap banget. Kalo di tempat saya biasanya pembukaan sama bu RT, langsung dikocok, makan-makan, trus pulang😀

    Dan iyaaa, paling geli kalo udah ada demo-demo gitu. Bulan kemarin ada demo panci, tapi gak ada 1 orang pun yang beli. Padahal sales-nya udah bikinin kue pake pancinya. Daaan, kuenya enak banget :))))

    Tapi tetep, saya gak begitu menikmati arisan, mbak. Mending di rumah aja, baca buku, browsing, jualan OL, nonton TV, atau main sama si kecil ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s