Tentang Semangat Kartini: Jangan Mundur Lagi

Hari Kartini sudah lewat, tapi semangatnya nggak pernah kedaluwarsa saya rasa. Jadi bolehkan saya tetap nulis tentang Kartini? (Sebenarnya ini sih karena angot-angotan nulis, jadi telat deh postingnya).

 

Anyway, mengapa sih Kartini jadi pahlawan dan hari lahirnya selalu diperingati? Mengapa pahlawan perempuannya lainnya tidak seistimewa itu? Padahal apa sih jasa Kartini? Cuma bukak sekolahan saja gitu lho.

 

Kalau Anda baca tulisan Kartini, mungkin Anda bakal paham bahwa pikiran-pikiran Kartinilah yang membuatnya pantas jadi pahlawan. Udah baca? Saya udah, meski belum semua dan itu pun sudah bikin saya terpesona padanya.

 

Ah, pikiran-pikiran kayak gitu aja lho, biasa aja lah. Well, untuk zamannya, ide-ide Kartini itu benar-benar luar biasa, beyond… beyond apa ya? Pokoknya melampaui zamannya lah. Bahkan melampaui zaman sekarang. Dan nggak cuma soal perempuan lho yang ia tulis, tapi juga soal budaya, agama, dan kebangsaan.

 

Coba wis bandingkan dengan era tahun 2000 sekarang ini. Udah abad segini, konsep kesetaraan gender aja masih banyak dapat tentangan. Masih dikritik dan masih dituduh macam-macam; melawan kodratlah, meningkatkan angka perceraianlah, membuat perempuan sok kuasa, dan sebagainya.

 

Lebih parah dari itu, di zaman yang udah maju, enak kepenak kayak gini, kok masih ada aja yang pengin menyeret kita mundur. Mundurnya nggak tanggung-tanggung! Berabad-abad. Coba bayangkan apa gak nangis tuh Kartini dan pejuang-pejuang perempuan lainnya kalau lihat gerakan absurd zaman sekarang. Setelah mereka berkeringat dan berdarah-darah memperjuangkan hak dan kesejahteraan perempuan, eh, kini ada gerakan ngajak perempuan kawin muda. Gabruk. *jedotin dahi ke tembok. Tak perlu saya jelaskan dampak negatif kawin muda (marai emosi). Gugel-en dhewe.

 

Apa Kita (Perempuan yang) Lebih Baik?

Saya sungguh bersyukur tinggal di Indonesia yang merdeka (dan terlebih di Jogja) yang relatif membebaskan perempuan. Tapi saya cemas membaca celotehan yang wira-wiri di internet. Soal perempuan yang harus ‘tunduk’ pada suami (alih-alih menjadi mitra sejajar), soal perempuan pekerja yang lagi-lagi dibenturkan dengan kemuliaan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, soal nikah muda yang konon dibuntel begitu indahnya padahal realitasnya nggak sesederhana itu, soal perempuan yang selalu disudutkan tiap ada perkosaan atau pelecehan atau kekerasan rumah tangga, soal perempuan yang kembali di dorong untuk ‘kembali’ ke rumah (tenang, Bunda, mau tetap dapat penghasilan meski ngendon di rumah? Ayo jadi downline saya! *eh)

 

Tiap hari saya ke pasar dan menemui Bu Painem penjual tahu tempe dan jelas-jelas membantu saya memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Ada pula Mbok Warti yang subuh-subuh sudah kulakan kelapa, ngangkut ke pasar, dan memarutnya agar ibu-ibu manja seperti saya bisa masak dengan mudah. Ada pula Bu Waginah, Bu Sarinem, dan ibu-ibu lain yang mengenakan kebaya serta kain (serius, masih ada penjual di pasar kampung saya yang pakai pakaian seperti itu, lengkap dengan sanggul dan stagennya), nyengklak bis atau nggenjot pit, sambil memanggul segambreng-gambreng barang dagangan. Sungguh, apa jadinya saya tanpa mereka, hiks. Dan sungguh saya siapa to saya ini dibanding mereka? (ah, elo, jangan banding-bandingin, lah).

 

Di balik setiap bungkus tempe, setiap bulir beras, setiap potong ayam, saya yakin ada tangan-tangan perempuan yang terlibat. Perempuan-perempuan kuat yang kemungkinan besar (besar sekali) nggak ngerti apa kuwi emansipasi, gak tahu ada mom-war di facebook, nggak mudeng kalau sekarang ada gerakan agar perempuan kembali ke rumah, manut manis sama suami, dan ikhlas dipoligami.

 

Ya ampun, apa iya perempuan yang di rumah (kayak saya) itu lebih baik daripada Bu Risma, si walikota Surabaya, yang turun tangan saat banjir melanda, lebih baik daripada Bu Veronica Tan yang bikin taman terbuka hijau, atau dari Dokter Mujazzanah, dokter kandungan yang menolong sekian ibu-ibu hamil dan melahirkan. Apa kita ini lebih hebat dari pada Bu Sri Mulyani dan Bu Susi Pudjiastuti yang duduk di kabinet dan jelas-jelas mengurusi negeri ini? Apa kita lebih mulia dari Mbah Supinah yang ngarit, nandur, matun serta memanen padi di sawah?Atau lebih unggul dari Mbak Sri yang jadi karyawan laundry? Lha kita ini kan bisa kepenak facebook-an syantik kan karena ada perempuan-perempuan kuat dan mau berjibaku kayak mereka.

 

Berkubang

Gimana saya ndak geleng-geleng to kalau kita masih mempermasalahkan perempuan yang ngangkang naik motor (atau bolehkah perempuan naik motor). Apa nggak judeg saya baca berita tentang peraturan yang melarang perempuan kerja malam (lah kerja jadi perawat shift sore je, apa yen sampeyan dirawat di rumah sakit, sebaiknya perawat dan dokter perempuannya pulang setelah jam lima sore?). Tambah ngenes lagi kalau baca poster yang nyinyirin perempuan bekerja (alamak!).  Sampai urusan paling kecil pun diriuhkan, misalnya apakah perempuan boleh ngrebonding rambut. Kok kober men. Sementara perempuan di belahan dunia lain itu udah ada yang jadi astronot! Ada yang jadi insinyur. Programmer komputer. Penemu. Peneliti. Ilmuwan teknologi nano (eh, ini di Indonesia juga ada lho ilmuwan perempuan teknologi nano, bangga betul saya). Dan omong-omong hasil karya mereka membuat kita jadi punya internet, jadi bisa pakai baju tanpa harus njahit dulu, jadi bisa belanja lewat ponsel (yang konon menyelamatkan perempuan karena nggak perlu keluar rumah karena rumah adalah sebaiknya-baiknya tempat bagi mereka *tsaaaah, kerasa nggak sih ironinya.)

 

Nggak usah ngotot semua bisa dilakukan oleh pria semata-mata. Ora isa. Ora cukup. Apa maneh yen wong lanange mung sibuk adu jago,  nggabur dara,udat-udut lan…. (isi sendiri).

 

Dan yang pasti kebanyakan keperluan perempuan itu hanya bisa dimengerti oleh perempuan.  Jadi perempuan harus terlibat. Titik. Dunia ini, termasuk pendidikan bagi anak-anak, akan lebih seimbang bila dipelihara oleh laki-laki dan perempuan sebagai mitra setara.

 

Toilet di ruang publik itu butuh cantolan buat nyantolin tas. Siapa yang mengerti itu? Perempuan. Lha kalau yang ngurusin toilet cuma laki-laki, cantolan itu mungkin nggak ada. Wong laki-laki nggak bawa tas. Kenapa perempuan bawa tas? Karena perempuan momong anak, jadi ia harus bawa bekal segambreng. Kenapa perempuan momong anak? Karena (semoga) ini adalah pembagian tugas dan kerja sama secara adil, setara, dan kerelaan di dua belah pihak. Lah siapa suruh momong anak di luar rumah sehingga kita butuh toilet perempuan yang ada cantolan tasnya? Ealah, apa kamu mau anakmu 24 jam di rumah sadja? Suwe-suwe kok absurd men eyel-eyelan ini.

 

Itu baru soal toilet ya. Mari kita pikirkan kepentingan yang lebih besar. Pendidikan. Transportasi. Kesehatan. Perdamaian dunia. Kalau perempuan nggak cawe-cawe yo amburadul donya iki. Percaya ta.

 

Yuk, kita sudah sampai sejauh ini. Alhamdulillah perempuan sudah bisa mengenyam pendidikan tinggi. Syukur perempuan sudah bisa memilih pemimpin dan bahkan jadi pemimpin. Syukur perempuan sudah (dan masih bebas) bertani di sawah serta membuka sekolah. Saya berharap ini kita tak berjalan mundur. Saya harap semangat Kartini membawa kita maju dan terus maju. Syukur-syukur perempuan Indonesia bisa menyumbang lebih banyak terhadap peradaban dunia.  Eh, ya sapa reti, sekretaris jenderal PBB perempuan pertama berasal dari Indonesia. Haibat ta?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s