Yuk, Ajak si Kecil Membaca (Tanpa Waswas)

Beberapa minggu yang lalu terjadi kehebohan terkait buku anak yang konon muatannya dianggap tak sesuai. Buku itu sudah ditarik dan yang bersangkutan juga sudah melakukan klarifikasi dan rasanya tak perlu diperpanjang lagi. Saya tak akan mengomentari buku tersebut karena saya bahkan tidak membacanya, tapi kasus ini menyadarkan saya betapa gampangnya kita kebakaran jenggot karena buku yang bisa jadi tak lebih lebih parah dampaknya daripada konten-konten media sosial  dan televisi (dan mungkin saja lho yang heboh soal buku itu santai-santai saja anaknya nonton sinetron atau main game yang jelas-jelas ditujukan untuk orang dewasa).

 

Anyway, buku anak yang kontennya nggak sesuai itu banyak, entah dari segi diksi, logika cerita, atau tema. Aha! Makin panik nggak tuh. Tapi santai saja lah, banyak hal yang berbahaya untuk anak kita, tapi kita punya saringan dan perlindungan, kan?

 

Ambil contoh cerita Sleeping Beauty. Apalah hikmah yang bisa diambil dari cerita putri yang jatuh tertidur bertahun-tahun dan terbangun setelah dicium pangeran (tampan tentunya), lalu mak jegagik jatuh cinta pada pangeran yang sudah kurang ajar menciumnya sewaktu ia tidur? (Eh, by the way, kenapa pula mantra-mantra penyihir yang mengikat putri-putri cantik ini nyaris selalu hanya bisa luruh bila ada pangeran tampan, yak?)

 

Ambil contoh lain; Buku cerita yang jelas-jelas mencantumkan label Seri Folklore untuk Anak (judul sengaja tak saya cantumkan) yang punya cerita begini: Si tokoh punya kebun limau yang dijaganya dengan cermat. Lalu suatu hari seekor musing mencuri SEBUTIR limau dari kebunnya. Si tokoh menangkap di musang dan mengancam akan MEMBUNUHNYA. Si musang minta dibebaskan dan berjanji akan menjadikan si tokoh seorang raja. Si tokoh setuju. Dengan kecerdikannya (kelicikan dan tipu daya menurut saya), si Musang berhasil menjadikan si tokoh raja. Begitu membaca itu yang terbayang dalam benak saya, gyaduh, ini orang kehilangan sebuah limau aja udah main ancam bunuh.

 

Sunting dan Sunting

Waktu saya kecil –mungkin sekitar enam tahun– ada serial cerita silat karya Kho Ping Ho yang terbit secara bersambung di harian Kedaulatan Rakyat. Judulnya Seruling Pusaka Kemala. Wow, itu cerita seru banget sampai-sampai masih terkenang hingga sekarang. Han Lin si tokoh utama memenuhi imajinasi romantis saya tentang laki-laki ideal: pangeran yang diculik, sengsara, terbuang, tapi tetap saja dong baik hati dan cerdas plus pinter silat! Shian Hwa Shian Li menjadi perempuan sempurna dalam benak saya, cantik, lembut, berambut panjang, pintar mengobati (dia seorang tabib) dan pinter silat juga! Dahsyat kan, sampai sekarang saya masih ingat tokoh utamanya. Nama penjahatnya saya juga masih ingat. Jalan ceritanya? Secara garis besar juga masih ingat.

 

Tiap malam Bapak menceritakan kisah Han Lin yang terbit pada hari itu (kami langganan koran itu) dan ia dengan tekun mengklipingnya. Saat remaja saya membaca kliping itu dan olala, terrnyata ada adegan perkosaannya! Tidak sih, itu tidak membuat saya gimana-gimana. Tapi saya bertanya-tanya, bagaimana dulu Bapak saya melewati bagian ini tanpa merusak alur cerita.

 

Jadi dear parents, tak perlu risau bila Anda menemui konten buku cerita anak yang menyimpang dari nilai-nilai Anda. Tinggal sunting saja. Atau bila Anda sudah kadung berpendapat seluruh isi buku itu tak layak, ya tinggal singkirkan saja. Tapi ini bisa Anda lakukan hanya bila Anda ikut membaca apa yang dibaca oleh anak Anda dan rajin mencari referensi-referensi buku bermutu.

 

(Catatan: ini tak berlaku untuk metode Read-Aloud di mana Anda harus membacakan semua kata sama persis dengan buku yang salah satu tujuannya adalah mengajar anak membaca. Untuk Read-Aloud silakan pilih buku yang sepenuhnya aman.)

 

Kalau pun Anda merasa ada konten buku yang benar-benar tak pantas untuk sebagian besar umat manusia, silakan lapor ke penerbit, penulis, atau dinas terkait tapi tak perlu heboh karena penulis bisa salah, kriteria penerbit bisa berbeda, dan pendapat orang atas sebuah buku juga bisa beragam.

 

Dampingi

Saat anak Anda belum bisa membaca tentunya Anda membacakan buku untuknya (eh, iya, kan?). Saat ia belajar membaca, Anda mendampinginya. Saat ia sudah bisa membaca dengan lancar Anda yang membelikan buku-buku untuknya dan Anda tahu buku apa yang dibacanya. Jadi sebenarnya kendali selalu berada di tangan orang tua. Dampingi anak saat membaca buku seperti halnya Anda mendampingi anak saat nonton TV dan Youtube (eh, Anda mendampingi anak Anda saat nonton youtube, kan?)

 

Tidak semua buku cocok untuk semua orang. Buku yang pantas dan oke-oke saja menurut keluarga A, belum tentu cocok untuk keluarga B. Mengapa? Karena keluarga A menganut nilai yang berbeda dari keluarga B. Tiap anak juga punya punya karakter yang berbeda. Anak C misalnya begitu mudah meniru apa yang dilihat dan didengarnya sehingga ortunya harus ekstra waspada bila dalam buku ada adegan menendang (bahkan bila untuk alasan yang bisa diterima). Sementara untuk anak D yang lebih kontemplatif dan tidak reaktif, buku yang sama tidak akan berpengaruh signifikan.

 

Buku serial Kumbang karya Enid Blyton saya nilai sebagai buku yang bagus untuk anak saya. Tapi apa saya bacakan mentah-mentah pada anak saya? Ya nggaklah. Kata-kata seperti “dasar kamu bodoh,” saya hilangkan atau saya ganti yang lain, misalnya, “Ah, itu tidak baik.” Suatu saat anak saya akan membaca buku itu sendiri, tapi saat itu saya yakin dia sudah cukup mengerti bahwa kata-kata semacam itu tidak pantas.

 

Kadang pula kalimat atau adegan yang ‘tidak baik’ tetap saya bacakan tapi saya iringi dengan pertanyaan, “Bagus tidak kata-kata semacam itu?” Anak saya tahu bahwa selain bertanya, ibunya tengah menyiratkan bahwa kata-kata tertentu tak baik diucapkan.

 

Sebenarnya saking otomatisnya saya menyunting, titik koma yang salah pun saya betulkan dalam pembacaan saya haha. Jadi jangan heran kalau ceritanya jadi lebih bagus saat saya bacakan (apaan sih, nih?)

 

So ibuk-ibuk, bapak-bapak yang budiman, tak perlu resah dengan segala macam buku yang beredar asal Anda juga proaktif MEMBACA. Dan kalau ini Anda lakukan saat anak Anda masih kecil, seharusnya saat anak Anda berusia sekitar 12 tahun, dia sudah tahu bacaan mana yang baik, mana yang tidak. Dan andai ia menemukan bacaan yang kurang baik, dia bisa menghadapinya dengan kritis.

 

Ayo membaca tanpa rasa takut.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s