Balada Hoax

Suatu hari kira-kira lima belas tahun lalu saya membaca e-mail yang disertai gambar-gambar (yang dimaksudkan) sebagai lintah dalam perut manusia. Konon lintah itu berasal dari kangkung yang kemudian masuk ke dalam perut, lalu menggerogoti si korban dari dalam hingga si korban meninggal! Percaya deh, gambar-gambar kangkung, lintah, dan perut ini memang tampak sangat nyata dan bikin merinding. Meski nggak masuk akal, saya sempat jiper juga. Apakah saya stop makan kangkung? Ya nggak, lah. Saya gitu loh! Kalau ngadepin sayur enak, suka lupa ini itu.

 

Lama sesudahnya, saya mendengar istilah ‘hoax’.  Desas-desus kangkung yang tersebar lewat e-mail berantai tadi (zaman itu facebook belum populer) adalah salah satunya. Kabar lainnya adalah bulan yang bakal kelihatan guede banget pada  pada suatu hari di bulan Augustus. Tiap bulan Agustus e-mail yang sama persis beredar, cuma diganti tahunnya doang. Kabar lainnya adalah pembalut yang bikin kanker, pasta gigi yang merusak kesehatan, hingga coca cola yang konon bisa melenyapkan gigi dalam semalam, atau   bisa meledak bila dicampur dengan permen mentos . Sampai kalang kabut lho Public Relation-nya Coca Cola menepis berita  bohong itu.

 

Lalu, kira-kira sepuluh tahun kemudian, tetangga saya dengan sangat yakin berkata, “Hih, aku sekarang nggak mau makan kangkung. Aku lihat gambar di handphone si Anu. Lintahnya kluget-kluget dalam perut. Hih, pokoknya mengerikan sekali!”

 

Bengong saya seketika. Ingatan saya melayang pada gambar-gambar kangkung dan lintah, yang ternyata tidak seperti berita koran yang basi dalam sehari, bisa bertahan selama sepuluh tahun!

 

Saya bengong untuk kedua kalinya ketika beberapa tahun kemudian seorang ibu-ibu sepuh yang buka internet saja bilang begini, “Kalau makan kangkung dibersihkan yang benar, dimasak yang benar. Kata Bu itu, ada orang yang mati gara-gara makan kangkung, terus ada lintah di perutnya. Mungkin lintahnya sembunyi di batang kangkung  dan akhirnya si lintah beranak-pinak di perut. Ada gambarnya katanya.”

 

Terpana. Bengong. Terpana.

 

Hoax di Masa Kecil

Waktu TK, saya ingat, anak-anak tercekam ketakutan karena ada kabar, ada ‘mobil duyung’ penculik bocah. Mobil ini berwana merah dan bergambar gunting. Si bocah yang diculik matanya akan dicungkil dan dibuat cendol untuk sesaji! Uedyan bener fantasi orang-orang waktu itu. Cendol mata!

 

Bertahun-tahun kemudian ada pula isu dhemit kolor ijo. Ada pula isu pocong berkeliaran dan epek-epek (telapak tangan) minta duit. Heran juga saya, duitnya buat apa coba. Tapi, yeah orang dulu mah isunya gitu-gitu aja.

 

Menyangkut makanan, ada isu bakso dari daging celeng, mi ayam dicampur daging tikus, hingga bakso yang kuahnya direnangi cacing yang hanya bisa dilihat oleh mata yang ‘punya kelebihan’. Konon cacing itu sarana pesugihan.  Ada pula isu air limbah pabrik yang bisa menyembuhkan hingga orang-orang ramai nyemplung di sana (limbah! gosh!). Belum lagi isu dukun sakti dan masih banyak lagi. Jadi hoax jelas bukan hal yang baru.

 

Yang baru adalah: hoax kini justru berkembang lebih subur dalam masyarakat yang mestinya lebih pinter! Aneh, kan? Ada lho yang percaya bumi itu datar! Dan nggak cuma satu dua. Ada tuh komunitasnya. Ada juga yang percaya uang bisa digandakan tanpa melewati mesin cetak. Duh. Selain lebih masih masif, ragamnya juga luar biasa. Apa aja ada hoaxnya; capres yahudi (yahudi! Di Indonesia!), batu yang bisa melayang, foto-foto korban perang yang ternyata potongan adegan film, sampai percakapan WA palsu.  Yang nggak masuk akal adalah: yang percaya banyak. Yang share lebih banyak. Yang nge-like: banyak banget! Yang komen “Amiin” juga banyak. Lah kenapa nggak nge-like kalau diiming-imingi masuk surga. Siapa nggak mau masuk surga hanya dengan ngetik “Amin”. Kalau pun itu nggak benar, kan ya nggak rugi-rugi amat, cuma ngetik lima huruf ini.

 

Yang  mengerikan adalah betapa cepatnya hoax-hoax itu beredar. Dulu isu hantu kolor ijo paling-paling beredar di sekitar Jawa saja. Itu pun seporadis banget. Isu mobil duyung mungkin lebih sempit lagi. Isu beredar dari mulut ke mulut dan biasanya dari orang yang saling kenal. Lah, sekarang? Isu dari Turki pun bisa nyampai pelosok Ciamis dalam hitungan detik.

 

Beneran ada lho seorang warga desa yang nggak milih Jokowi dengan alasan dia Yahudi! Padahal ia nggak pernah buka internet. Yahudi itu apa dia juga nggak ngerti. Seumur-umur dia belum pernah melihat orang Yahudi. Dan Jokowi Yahudi? Sebentar, mungkin perlu KTP bapak satu ini diunggah di medsos. Atau gini deh, saya yakin kalau kita ngecek ke pemkot Solo atau Pemda DKI, banyak pegawai yang bisa bersaksi dia sering sholat di lingkungan kantornya. Well, sungguh lho, rasanya lebih mudah diterima andai alasan untuk tidak memilih Jokowi adalah dia terlalu kurus atau kurang ganteng.  Setidaknya itulah pendapat yang bisa jadi didapat dari melihat foto-fotonya.  Tapi kalau ada warga yang menentukan pilihannya berdasar berita bohong, duh… speechless lagi saya.

 

Hoax-hoax memang mirip sampah pembawa bencana, bikin dua sahabat akrab bisa gontok-gontokkan, dua orang tak kenal saling benci sampai ubun-ubun –padahal kenal saja tidak–, keluarga rukun bisa terpecah belah. Padahal klarifikasi dan pengecekan bisa dilakukan dengan mudah. Tapi ya gimana mau ngecek, wong dibaca saja tidak. Asal gambar menarik, share. Kalau ditanya, “Kok kamu nyebarin berita bohong kayak gini, sih?” Jawabannya: aku cuma nge-share kok. Lhadalah!

 

Saya sendiri tak bisa berbuat banyak untuk mencegah hoax, tapi setidaknya, saya nggak mau ikut nyebar. Saya berusaha cek dan ricek berita sebelum mempercayainya. Dan terakhir, tak perlu lah saya ikut gontok-gontokan karena beda pendapat, apalagi beda pendapatnya gara-gara hoax!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s