UN Dihapus: Mungkinkah Kita Belajar Tanpa Nilai dan Ujian?

Wacana moratorium Ujian Nasional telah digulirkan oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy. Reaksinya beragam. Mayoritas siswa menyambut dengan bersorak gembira, meski baru wacana, sementara segelintir siswa yang mencandu ‘prestasi dan kompetisi’ mungkin jadi rada galau. Pro kontra klasik bermunculan tentu saja. Banyak guru yang menyambut positif, namun tak sedikit pula yang menolak, seperti yang terekam dalam potongan artikel Kompas Senin, 28 November 2017.

 

Guru SMA Negeri 1 Kota Ambon Maluku, Pio Ngaljaratan menyesalkan apabila UN Benar-benar dihapuskan. Wacana penghapusan UN sudah menjadi berita gembira di kalangan siswa beberapa hari terakhir. “Dikhawatirkan euphoria ini membuat mereka tidak tekun lagi belajar karena yakin pasti diluluskan oleh sekolah,” Ujar Pio.

Pio mengingatkan UN sudah menjadi standar untuk mengukur kualitas pendidikan di sekolah dan daerah. “Bagaimana guru bisa mengukur kemampuan siswa menyerap pelajaran sekaligus menilai kemampuan guru dalam mengajar. UN merupakan alat ukur yang tepat,” katanya.

 

Klasik kan? Kalau tidak ada UN, bagaimana siswa akan giat belajar? Kalau tidak ada UN bagaimana kita bisa mengukur kemampuan siswa atau kemampuan sekolah?

 

Sekolah tanpa nilai?

Dalam sebuah obrolan santai tentang sistem pendidikan yang ideal, seorang teman melontarkan pendapatnya, “Sekolah yang ideal itu adalah sekolah yang tidak menerapkan ‘nilai’. Andai tak ada nilai sebagian besar permasalahan pendidikan bakal lenyap.” Permasalahan yang dimaksud adalah praktek suap, menyontek, mengatrol nilai, les tambahan, hingga stress di kalangan siswa.

 

Tapi mungkinkah kita belajar bila tak diiming-imingi nilai atau ditakut-takuti ujian? Bisa. Sangat bisa. Dulu ‘sekolah’ itu tidak menerapkan nilai. Para filosof Yunani semacam Plato dan Aristoteles ‘bersekolah’ dengan cara berdialog, berdiskusi dengan gurunya. Ada nilainya? Nggaklah. Robert Boyle fisiwakan/kimiawan penemu hukum Boyle itu pernah mutung di sekolah karena tidak cocok dengan kepala sekolahnya. Ia belajar dari seorang tutor sambil keliling Eropa. Sepanjang perjalanan mereka berdialog dan dari situlah ia belajar. Ada nilainya? Saya yakin tidak. Sampai kini pun masih banyak padepokan, kursus, dan pesantren yang tidak memberi nilai dan sertifikat. Muridnya ada? Banyak.

 

Dulu saya dan teman-teman belajar ngaji (baca al-qur’an) di langgar kampung memakai ‘turutan’ (semacam buku panduan membaca tulisan Arab). Tradional sekali. Ada nilainya? Tidak. Ada tingkatannya? Tidak. Pokoknya bisa halaman satu, lanjut halaman dua. Begitu seterusnya. Rata-rata memang begitulah cara belajar ngaji anak-anak zaman dulu. Baru pada generasi adik saya, ada ngaji yang sistematis. Pakai ‘Iqro’ berjilid-jilid. Para rapor dan wisuda.

 

Secara instingtif manusia selalu ingin belajar. Pada detik pertama seorang bayi mengisap udara dunia, saat itulah ia mulai belajar. Ia belajar menangis, merangkak, berjalan, bicara, makan, dan seterusnya bahkan bila kita tidak menyuruhnya. Selanjutnya seorang anak mulai menentukan apa yang ingin ia pelajari; naik sepeda, bernyanyi, melukis dan lain hal yang menarik minatnya. Jangan bayangkan ini selalu di kelas formal. Mau kita sekolahkan atau tidak, mereka akan selalu belajar.

 

Anak saya Ang (5 tahun) bersama beberapa temannya belajar renang bersama-sama. Kami memanggil guru dan berenang seminggu sekali. Tak ada nilai, tak ada target, tak ada perlombaan. Tapi Ang dan teman-temannya semangat belajar. Ada kalanya mereka malas-malasan, tapi mereka terus melaju. Kedua anak saya, Ang dan adiknya Ung (1,5 tahun) belajar di rumah (homeschooling). Guru utamanya adalah ayah ibunya. Tidak ada nilai yang kami berikan untuk mereka. Toh Ang dan Ung tetap belajar. Ang kini belajar bahasa Inggris, matematika, menulis, agama, dan geografi dengan caranya sendiri. Misalnya sebelum tidur ia minta ‘belajar globe’. Inilah saatnya kami membacakan nama-nama negara, samudera, dan pulau yang tertera di globe untuknya.

 

Saya telah menyaksikan perempuan dan laki-laki belajar agama, merajut, memasak, hingga nyetir mobil tanpa ijazah. Ada pula anak-anak yang belajar main biola, sepak bola, menari, sampai  bahasa asing juga tanpa iming-iming nilai. Bisa? Ternyata bisa. Mereka bahkan belajar sepak bola sambil tertawa.

 

Kok bisa ya? Manusia belajar karena dua hal: karena butuh atau karena suka. Paulo Freire memberi ilustrasi menarik: beri gadis SMA pelajaran mengasuh bayi. Kemungkinan besar ia nggak bakal tertarik. Tapi andai setelah lulus SMA ia bekerja, lalu setahun kemudian menikah, dan hamil, tanpa disuruh-suruh pun dia akan tanya sana-sini soal merawat anak.

 

Saya dulu suka dengan bahasa Inggris. Jadi tanpa disuruh guru, I went extra miles. Saya menerjemahkan buku cerita berbahasa Inggris atas keinginan saya sendiri. Saya mendengarkan program bahasa Inggris di radio dan menulis surat ke sana. Saya menyaksikan hal serupa pada teman-teman saya di bidang yang mereka sukai. Ada yang belajar basket sampai sore –meski orang tua yang melihatnya mengatakan mereka main, bukan belajar–. Ada yang dengan sukahati ikut klub ilmiah, sementara yang lain mengerjakan soal-soal matematika untuk mengisi waktu luang kayak itu TTS saja.

 

Jadi kunci agar anak mau belajar adalah: sediakan pengetahuan sesuai kebutuhan mereka atau buatlah agar belajar menyenangkan.

 

Mengukur standar

Tapi kalau tak ada ujian bagaimana kita bisa mengukur pencapaian siswa? Atau pencapaian guru? Atau pencapaian sekolah? Bagaimana kita bisa menentukan standar kompetensi yang harus dikuasai siswa?

 

Lah, memangnya kita helm yang harus pakai standar SNI? Tak perlu lagi lah diulang bahwa manusia itu makhluk yang unik dan kompleks. Biar topi sampai sepatu (bahkan tali sepatunya) diseragamkan, isi otak nggak mungkin sama, kan? Jadi mau digembleng dengan cara yang sama, dengan waktu yang sama, dikasih hukuman dan hadiah yang sama, hasilnya nggak bakal sama! Lalu, mengapa harus repot menentukan standar?

 

Teman saya yang pernah tinggal di Inggris bercerita, saat anaknya sekolah di sana, satu tes terdiri dari beberapa soal dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Fungsinya? Agar guru tahu kemampuan siswa. Si guru dan siswa akan ‘mundur’ bila memang si siswa belum mencapai tahapan pengetahuan tertentu. Misalnya, soal-soal perkalian dibuat dari yang sederhana hingga rumit. Nah, kalau ketahuan si siswa belum bisa mengerjakan yang  rumit, si guru akan ‘mengundurkan’ si siswa ke tingkat perkalian tak begitu rumit hingga ia memahaminya. Di sini Indonesia saya lihat tidak begitu. Tes berfungsi untuk mendorong agar anak bisa mengerjakan tes! Kalau hasil tesnya buruk, boro-boro si guru mau mundur, yang ada si guru sibuk cari cara biar si siswa mampu mencapai ‘standar’ yang diterapkan sekolah. Entah dengan les tambahan atau…. dikasih sontekan.

 

Jadi ya, tes memang bisa dipakai mengukur pencapaian siswa, tapi ingat, tes bukan satu-satunya alat di sini. Saya ingat waktu saya jadi guru dulu. Dalam tiga atau empat kali pertemuan, tanpa tes pun saya sudah tahu kemampuan siswa saya. Si A belum hapal kosakata dalam daftar, tapi sudah paham aturan grammar. Minggu lalu si B belum bisa menulis, sekarang sudah. Si C sudah memahami konsep tenses dan sebagainya.

 

Sebagai guru bagi anak-anak saya, saya tentu  sangat hapal dengan ‘kelakuan’ dua siswa saya dan tahu betul pencapaian mereka; abjad apa saja yang sudah dihapal Ang (‘u’ dan ‘i’); suara hewan apa saja yang sudah bisa ditirukan oleh Ung (anjing, kucing, cicak, burung, ayam, sapi).

 

Lah, muridmu kan cuma dua! Gimana dengan guru SD yang muridnya sekelas 30? Tetap tahu, yakin saya. Wong mereka ngajar tiap hari. Tanya saja pada guru kelas anak Anda yang masih SD, siapa siswa yang paling jago lari, yang paling berani maju ke depan, yang suka matematika dan seterusnya. Mereka pasti tahu. Kalau nggak tahu, saya sarankan Anda minta ganti guru.

 

Okelah kalau Anda ngotot tes tetap perlu untuk mengukur pencapaian siswa. Pertanyaannya kalau sudah tahu pencapaiannya terus gimana? Apa siswa yang belum bisa boleh ‘mundur’ dan yang sudah bisa boleh ‘melaju?’ Apa kalau tahu diketahui di sekolah tertentu, siswanya ‘ketinggalan’ terus gurunya mengubah metode mengajar? Apa fasilitas sekolah akan diperbaiki? Semoga saja. Tapi bisa jadi justru siswanya disuruh ikut les atau jam sekolah diperpanjang.

 

Kalau Tak Ada UN

Kalau UN tak ada, terus gimana dong cara SMP menyeleksi calon siswanya –kalau yang daftar banyak banget misalnya-? Bisa berdasar umur, yang diterima yang lebih tua. Atau pakai domisili. Yang domisilinya lebih dekat, berpeluang lebih untuk diterima. Masih kurang adil? Diundi. Apa pun itulah. Intinya banyak cara.

 

Tapi kalau gitu caranya, kemampuan mereka bakal beragam dong. Ada yang ‘pinter’, dan ada yang ‘nggak pinter’. Lah, memang itu tujuannya. Selama ini sekolah beroperasi berdasarkan ‘kasta’. Sekolah-sekolah favorit sudah pasti mendapatkan murid-murid terbaik. SMP favorit menjadi tempat berkumpulnya para juara dari berbagai SD. SMA favorit menyaring juara-juara dari tiap SMP. Sekolah favorit nomor dua, menyaring juara-juara dua. Yang nggak favorit? Menyaring angin. Udah Alhamdulillah kalau dapat siswa.

 

Sekolah-sekolah favorit ini menepuk bangga setiap kali mereka menghasilkan nilai UN tertinggi. Yang kalau dipikir-pikir sama sekali bukan prestasi. Ya iyalah, wong yang masuk memang para ‘juara’. Gurunya merem pun, anak-anak ini sudah belajar sendiri. Siswanya nongkrong di sekolah sampai sore. Sambung dengan les. Kalau gurunya absen, mereka buka laptop dan mengerjakan soal online untuk mengisi waktu –macam ngisi TTS tadi–.

 

Sebagian besar siswa sekolah favorit berasal dari keluarga berekonomi mapan dan biasanya harmonis, serta peduli pada pendidikan. Tidak semua tentu saja, tapi rata-rata begitulah. Sebaliknya, siswa melarat yang memang sejak awal minim fasilitas belajar bakal krenggosan untuk mencapai standar masuk ke sekolah favorit. Dus, dia masuk sekolah ‘ecek-ecek’ yang sebagian besar memang berisi siswa serupa; menggembol rokok di saku, hobi nongkrong di warung sebelah dan merencanakan tawuran selanjutnya. Begitulah, anak-anak keluarga melarat bakal berkubang dalam ‘kebodohan’ dan ‘kemelaratan’ yang sama. Pendidikan gagal menjalankan fungsinya sebagai ‘tangga’ untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik.

 

Tapi susah kan mengajar anak-anak yang kemampuannya beragam. Jelas. Tapi, mosok sekolah penginnya gampang dan enak melulu.  Kadang saya pikir sekolah itu urik (curang), maunya ngajar anak-anak yang udah pinter. Yang pinter-pinter dijadikan satu biar pinter bersama. Yang ‘bodo-bodo’ juga dijadikan satu, biar… ‘bodo’ bersama. Tidak cuma pengelompokan intelektual, sekolah juga melakukan pengelompokan agama (dipertajam lagi hingga aliran agama), etnis, hingga ekonomi. Jadi nggak usah gumun kalau toleransi jadi barang mahal.

 

Tapi sungguh lho, susah ngajar kalau latar belakangnya macem-macem gitu. Mungkin. Tapi itulah fungsi sekolah. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua bangsa. Saya yakin, ada caranya kalau kita mau, misalnya yang bisa ngajarin yang belum bisa. Yang kelas tiga ngajarin yang kelas satu, dan seterusnya. Yang lebih penting kita hargai kelebihan tiap anak dan kita terima kekurangannya. Tak perlu memaksa. “Nduk, sudah nggak usah ngoyo kamu belajar matematikanya kalau memang nggak minat. Fokus saja latihan badminton, kamu kan jago main badminton.” Kalau si anak katakanlah ‘bodoh di segala bidang’ –yang saya yakin nggak mungkin— tetaplah rangkul ia, “Nggak usah sedih Le, kalau kamu nggak mudeng pelajaran ini. Yang penting kamu jadi anak baik.” Atau, “Terima kasih kamu sudah datang ke sekolah dan bukannya nongkrong-nongkrong sama geng motor.”

 

Saatnya Kembali

Sebetulnya apa sih arti angka 36 sebagai nilai UN SMP? Apa itu berarti si anak pinter banget karena nilai rata-ratanya 9 –dengan asumsi yang diujikan empat mata pelajaran–? Tapi bisa jadi lho anak pinter itu tidak keterima di SMA favorit. Apa pasal? Karena tahun itu yang nilainya 39 banyak banget. Yang 40 juga ada. UN-nya kegampangan katanya.

 

Apa artinya kalau nilai UN si Joko 36 dan nilai UN  si Johan 30? Apa berarti Joko lebih pandai? Belum tentu. Joko UN-nya tahun ini. Johan UN-nya tahun kemarin. Joko UN di Jakarta, Johan di NTT. Joko ke sekolah naik mobil, Joko harus jalan dua hari menuju tempat ujian. Joko sehat walafiat pas UN, Johan lagi sakit perut. Joko dapat bocoran, Johan tidak. Banyak sekali faktor yang terlibat. Apalagi pelaksanaan ujian kita harus diakui tidak sepenuhnya jujur.

 

Dan apa artinya nilai UN bahasa Indonesia 9? Bahwa kemampuan anak berbahasa Indonesia sangat mlithis dan dijamin bisa jadi editor kelak? Apakah berarti si anak hapal periodesasi sastra Indonesia? Atau si anak sudah baca banyak sekali karya sastra? Atau dia bisa ngarang cerpen? Atau apa? Sekali lagi, ternyata nilai bisa jadi hanya sekadar angka dalam sebuah sistem yang belum matang seperti.

 

Kita belum membicarakan biaya UN yang selangit (yang bisa nambahi gaji guru honorer). Kecurangan yang aduh duh… membuat menangis bila diceritakan (apa nggak nangis dengar guru yang nyuruh siswanya nyontek?), belum lagi stress masal tahunan yang melanda siswa dan orangtua siswa?

 

Jadi mari rehat sebentar. Saya pikir moratorium UN ini –kalau memang jadi dilaksanakan—adalah saat yang tepat untuk mengembalikan semangat belajar pada nilainya yang hakiki: memuliakan manusia, memuliakan kehidupan. Inilah saatnya sekolah melepaskan beban dan target, lalu kembali mendidik dengan empati, kesabaran dan penghormatan pada proses. Ini juga peluang untuk memperlakukan semua bidang keahlian dengan setara. Tak ada lagi mata pelajaran ‘unggulan’ karena mata pelajaran itu di-UN-kan. Olahraga bisa mendapat porsi yang sama dengan matematika. Bahasa Inggris bisa sama pentingnya dengan bahasa daerah. Utopis banget. Mungkin memang begitu kedengarannya. Apalagi sekian dasawara pikiran kita dibentuk bahwa kita belajar demi nilai, ujian, dan kelulusan. Tapi sungguh, saya pikir ini tidak mustahil. Dan inilah saatnya kita kembali belajar dengan gembira.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s