Hukuman atau Konsekuensi?

Waktu saya remaja, saya hobi banget nonton Nanny 911. Saya belum menikah waktu itu. Apalagi punya anak. Tapi saya bertekad, kalau kelak punya anak saya bakal terapkan semua ajaran nanny-nanny yang ‘galak tapi manis’ itu. Keren banget nggak sih ngasih bintang-bintang setiap kali anak menghabiskan makanannya? Lalu nanti bisa ditukar ‘hadiah’? Macam kita belanja di Carrefour. Setelah ngumpulin sekian stamp, kita bisa dapat panci.

Yang juga keren adalah ngasih ‘time out’ bila ada anak yang bandel. Dengan kombinasi bintang dan ‘time out’ itu,  keluarga yang kacau abis bisa jadi keluarga idaman dalam waktu satu jam!

Tentu saja setelah saya punya anak ceritanya tak semanis serial TV. Boro-boro ngasih bintang atau stempel sekali pun, mandi pun kadang tak sempat. Dan stempelnya, mana stempelnya, perasaan tadi kutaruh meja deh. Heiii, ya ampun, itu stempel, jangan dijilatin!

Time out? Hedew, saya jamin, para nanny itu juga bakal langsung resign bila disuruh ngasih time-out pada anak saya. Soalnya, anak saya nggak ngerti arti frasa ‘duduk di kursi itu semenit, oke?’ meski dia sudah hapal semua nama karakter film Cars.

 

Konsekuensi

Konsekuensi sebagai pengganti hukuman saya dengar pertama kali dalam sebuah seminar parenting. Keren nih, batin saya waktu itu. Konsekuensi itu beda dari hukuman. Konsekuensi itu logis dan demokratis. Logis karena konsekuensi harus berhubungan ‘sebab-akibat’ dengan ‘kesalahan’. Ini akan membuat anak belajar tanggung jawab. Kalau anak numpahin susu, konsekuensinya ya membersihkan tumpahan itu. Kalau anak memukul temannya, dia harus minta maaf dan mungkin nggak main dengan si teman dalam waktu tertentu. Kalau anak terlambat setengah jam masuk sekolah, dia harus tinggal setengah jam lebih lama.

Konsekuensi juga demokratis karena harus disepakati terlebih dulu serta melalui tahap-tahap sesuai perkembangan anak. Misalnya, untuk anak lima tahun: “Sepakat ya, kalau main harus diberesi. Kalau nggak diberesi, mainannya disimpen Mama selama dua hari.” Untuk anak SMP: “Sepakat ya, uang sakumu akan dipotong bila pulsamu habis karena kebanyakan nge-game.”

Keren banget, kan. Anak dilibatkan, dimanusiakan. Saya langsung terpesona pada teori parenting yang satu ini (yeah, saya memang gampang terpesona). Tapi tidak lama. Karena saya langsung menyadari ternyata ada banyak ‘kesalahan’ yang tak punya konsekuensi logis. Apa konsekuensi untuk meneriakkan kata kotor? Untuk memukul adik? Untuk merokok?

Mungkin ada saja konsekuensinya kalau kita cukup kreatif dan gigih mencarinya (ingat kaca kuncinya: kreatif dan gigih). Misalnya untuk si Kakak yang memukul adiknya, kita bisa menyuruh si kakak untuk tidak bermain dengan adiknya sementara waktu (dengan segala komplikasinya. Entah si kakak yang kegirangan atau si adik yang tetap saja ngintilin kakaknya meski barusan dipukul).  Serius, saya udah nyerah duluan. Di mata saya ‘konsekuensi’ sama ribetnya dengan ngumpulin stamp ala Carrefour untuk ditukar dengan panci. Pertama kita harus rajin ke Carrefour, lalu rajin nempelin stamp, lalu mengingat-ingat di mana menyimpannya. Dan bila itu semua sudah kita lakukan, marilah berdoa persediaan panci masih ada!

 

Sinonim

Saya membaca buku Alfie Kohn yang berjudul ‘Unconditional Parenting’. Buku ini menekankan pada penerimaan terhadap anak tanpa syarat –termasuk ‘kesalahan-kesalahan’ mereka (yang sebenarnya bukan kesalahan), tanpa hadiah dan hukuman. Bagaimana dengan konsekuensi? Kohn bilang ini hanya perkara semantik. Konsekuensi adalah sinonim dari hukuman. Kok bisa?

 

Saya sudah lupa-lupa ingat penjelasan buku ini, jadi maaf saja bila uraian di bawah ini tercampur baur dengan opini saya sendiri. Ingat, ini opini. (Disclaimer duluan deh).

 

Yang pertama, marilah kita ingat, bahwa sebagian besar ‘kesalahan’ anak bukanlah kesalahan. Suruh anak-anak balita berhenti melompat-lompat di kasur. Good luck. Itu sama saja dengan menyuruh ikan berhenti berenang. Anak-anak punya dorongan alamiah dalam tumbuh kembangnya. Yang kita sebut ‘nakal’ atau ‘salah’ atau ‘tidak baik’ atau ‘tidak sopan’ seringkali adalah tindakan yang sangat alamiah dan di luar kendali mereka. Mengapa anak-anak tidak bisa berjalan?  Mereka selalu dan selalu berlari, bahkan saat makanan yang mereka tuju tidak ke mana-mana. Mengapa mereka suka berebut? Mengapa mereka berisik? Mengapa mereka malas mandi? Mengapa mereka selalu mendebat? Ada insting-insting alami yang merupakan bagian tumbuh kembang mereka yang harus ada. Kita tentu tak mau anak kita ‘manis dan manut’ saat ditawari narkoba. Kita juga tak mau anak kita malas bergerak dan kegemukan. Kita ingin anak kita kuat dalam mempertahankan prinsip dan haknya segigih ia merebut mainan dari adiknya? (Bukan berarti ‘berebut itu baik, tapi hedew… masak saya harus nulis disclaimer lagi?).

 

Lanjut. Yang kedua, yang kita anggap demokratis sebenarnya nggak demokratis-demokratis amat. “Dik, kamu boleh main lego. Tapi nanti dibereskan. Kalau nggak dibereskan, nanti Mama simpan legonya selama dua hari. Oke?” Apa yang bisa dikatakan anak selain ‘oke, Ma.’ Mau gimana dia pengin banget main lego itu. Dia dalam posisi tak berdaya karena keinginan alamiahnya.

 

Ketiga, anak tetap merasa dihukum. Seorang murid yang terlambat tiga puluh menit dan diminta pulang lebih lambat tiga puluh menit bisa jadi tetap merasa minder dan terhina. Ini berbeda dengan karyawan yang bisa dengan lapang dan pulang lambat karena paginya datang terlambat. Anak-anak sekali lagi tidak berdaya. Keterlambatan anak SD katakanlah, sebagian besar di luar kuasanya. Bangun kesiangan –ortunya juga–. Atau karena dia sudah mules duluan membayangkan jam olahraga yang diampu oleh guru galak. Penalaran yang belum sempurna menjadikan tidak mudah bagi dia menghubungkan antara keterlambatan dan harus tinggal di sekolah lebih lama.

 

Yang keempat, sama dengan prinsip hadiah dan hukuman, konsekuensi menekankan pada prilaku, tak peduli pada motivasi di balik perbuatan itu. Kita ingin anak berperilaku manis. Titik. Anak mengerjakan PR karena tidak ingin dia diberi PR tambahan, bukan karena ia sadar PR itu adalah bagian belajar yang akan membuatnya lebih cerdas. Untuk sesaat ini memang efektif, tapi begitu ‘konsekuensi’ mengendur, perilaku manisnya akan mengendur juga.

 

Terakhir, dan ini yang paling utama bagi saya: ribet. Anak nggak mau beresin mainan, mainan disimpan. So, dia cari mainan lain. Nggak diberesin lagi. Simpan lagi. Lama-lama mainannya habis. Jadi dia main ke tetangga. Lalu emaknya dagdigdug karena tahu si tetangga yang suka ngomong kasar. Lalu tergopoh-gopohlah si emak jemput dia. Anaknya nggak mau pulang. Soalnya di rumah nggak ada mainan. Mumet kan?

 

Lebih ribet lagi karena konsekuensi harus ditegakkan dengan konsekuen. Kalau kita sudah sepakat bahwa sepeda akan disita bila anak tidak mengembalikan sepeda itu ke tempatnya, ya kita harus benar-benar melakukannya. Tak peduli bila anak merengek atau menangis. Tak peduli kalau hari ini ada ‘lomba peluit sepeda’.  Pokoknya tidak mengenal grasi, amnesti, dan obolisi. Kenapa? Soalnya sekali kita longgar, anak bakal merengek lagi esoknya. Lalu jadi kebiasaan deh. Tangisan, amarah anak, tawar menawar, penegakan aturan, dan seterusnya ini bisa jadi sangat melelahkan, menguras waktu, dan emosi.

 

 

Lawan kata hitam adalah Oranye

Terus gimana dong. Kalau tiap kali anak berbuat salah kita biarkan, nanti dia jadi liar, manja, dan nggak tahu aturan.

 

Ehm. Kadang kita sangat hitam-putih. Kalau nggak hitam ya berarti putih. Kalau anak bertingkah baik, kita harus memuji (hadiah), kalau anak bertingkah laku buruk kita harus memberi konsekuensi (hukuman).

 

Masak sih nggak ada alternatif lain? Tidak hitam, kan bisa berarti oranye.  Atau ungu. Kalau anak tidak mengerjakan PR, bisa jadi sebab kelalaiannya (sakit perut) sudah menjadi kesusahan tersendiri baginya. Mari dimaafkan, sebagaimana kita memaafkan pacar kita yang datang telat karena bannya bocor. Bisa jadi kesalahan itu sudah membuat perasaan tak enak yang menjadi ‘hukuman’ dari dalam dirinya. Atau bisa jadi sekolah/ortu yang keliru karena memberinya terlalu banyak tugas.

 

Tapi nanti dia enak-enak aja melanggar aturan!

 

Ehm. Ada banyak cara untuk mendidik anak agar bertanggung jawab. Kakak belum mengerjakan PR? (Yuk, kerjakan. Ibu temani). Kamu berlari-larian, menyenggol gelas, dan menumpahkan susu? Oh, tidak apa-apa. Ini bisa beres dengan lap. Akan ibu tunjukkan caranya. Kamu memukul temanmu? Mengapa? Oh, dia merebut temanmu? Temanmu salah. Tapi kamu bisa meminta kembali mainanmu baik-baik. Ya, ibu tahu kamu marah. Mari, ibu ajari mengambil napas panjang saat kamu marah. Kamu mengambil mainan ini? Tanpa izin? Wah, nak itu namanya mencuri. Oh, ibu punya dongeng tentang tikus si pencuri. Kamu mau dengar?

 

Welas Asih

Dalam mendidik anak, kita perlu selalu ingat bahwa mereka anak-anak. Mereka tak memiliki wawasan sebagaimana orang dewasa.  Mereka tak punya kesabaran dan pengendalian diri yang sama. Untuk mencapai ‘keadaban’, butuh proses yang panjang dan diulang-ulang. Dan terutama contoh yang baik. Bila Anda sudah seratus kali menyuruh anak untuk membuang sampah ke tempatnya, tapi si anak lagi-lagi ‘lupa’ melakukannya, mungkin Anda butuh mengulang perintah Anda untuk ke-seratus kali. Pun bila anak-anak melakukan ‘kesalahan’ yang memang benar-benar kesalahan, inilah waktunya untuk berwelas asih, berlapang dada, dan menerimanya dengan sepenuh hati. (Sekali lagi, bukan berarti Anda mendukung tindak kejahatan, dan bukan berarti Anda tidak melakukan apa-apa).

 

Kita juga harus menggali apa penyebab di balik tindakan anak. Seringkali anak berbuat salah karena memang tidak tahu atau tidak mampu. Bisa jadi karena aturannya terlalu berat atau karena orang dewasa tidak memberi contoh yang benar. Dalam kasus anak tidak mengerjakan PR, bisa jadi si anak sudah sangat bosan dan capek dengan pelajaran di sekolah.

 

“Aku tetap khawatir, kelak anakku tidak bisa menerima konsekuensi  dan tidak bertanggung jawab  bila ia sudah dewasa.” Percayalah, sepanjang waktu anak-anak belajar mengenai konsekuensi. Ia mengerti bahwa ia akan jatuh bila berjalan serampangan dan jatuh itu sakit –maka penting bagi orang tua untuk tidak menyalahkan batu atau tanah yang tidak rata–. Ia tahu, telur di penggorengan akan gosong bila tidak diangkat tepat pada waktunya. Ia tahu temannya akan marah bila ia merebut mainannya dan bisa-bisa si teman tidak mau bermain dengannya lagi dan seterusnya. Dengan semua pelajaran ini, kemungkinan besar ia bisa berlapang dada saat gajinya dipotong karena datang terlambat.

 

Bayangkan, begitu tiba di kantor, Anda menyadari dokumen penting yang harus Anda bawa ketinggalan! Padahal dokumen itu dibutuhkan dalam meeting satu jam lagi. Yang paling logis saat itu adalah menghubungi suami dan berkata, “Tolong, antarkan dokumenku ke kantor.” Bagaimana bila suami berkata, “Tanggung konsekuensinya, dong! Kan seharusnya sudah disiapkan sejak semalam.” Pasti kita pengin ‘nggiles’ suami, kan? Begitu pula bila anak telepon dari sekolah, sambil mimbik-mimbik karena PR-nya ketinggalan. Padahal sudah jutaan kali Anda mengingatkan, “Persiapkan semua yang dibutuhkan pada malam hari. Jangan lupa bikin daftar apa yang harus dibawa.” Rasanya tanpa perlu kita tambahi ‘konsekuensi menghadapi kemarahan guru’, si anak sudah belajar bahwa kecerobohannya merepotkan ibu.

 

“Tapi itu kan beda!” Bedanya di mana? Yang saya lihat di sini, bedanya adalah karena kita punya kuasa, kita jadi bia meliak-liukkan peraturan, sementara karena masih kecil, si anak tak berdaya.

 

“Tapi nanti jadi kebiasaan dia buat ceroboh, ketinggalan ini-itu.”

Yeah, seperti kita juga bakal ingin mengulang ketinggalan dompet, handphone, dan dokumen, bukan?

 

Poin terakhir di sini adalah, bila meminta anak konsekuen, orangtuanya harus konsekuen. Ini juga yang membuat saya tak bisa menerapkan pendidikan ala konsekuensi di rumah. Kalau konsekuen, seharusnya saya lari dua kilo meter sehabis makan sepotong donat. Tapi hadddduuhhhh…. donat itu enak sekali dan lari? Aduuuh, sayang sekali… saya punya kerjaan yang lebih penting.

 

*Artikel yang sama, saya unggah di Kompasiana.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s