Dan Ia pun Hadir dengan Lembut

Anak ke dua! Wow. Rasanya seperti mimpi. Saya dan Anto sepakat untuk menambah momongan lagi setelah Angger, anak pertama kami, berusia dua tahun. Harapan saya diiringi dengan kepasrahan. Pasrah dan ikhlas karena Angger sendiri pun sudah merupakan keajaiban dan anugerah tak terkira. Angger lahir setelah usia pernikahan kami menginjak enam tahun. Sesi terapi selama setahun (medis, meditasi, kecambah, air kelapa muda, sebutkan saja) membuat emosi saya naik turun. Jadi betapa bersyukurnya saya ketika usaha dan doa kami berbuah manis.
Soal adiknya Angger, saya menjalaninya dengan santai. Suami juga ikhlas, menyadari bahwa ini adalah hak prerogatif-Nya. Namun, rezeki datang dengan mudah. Begitu Angger tiga tahun dan saya sapih sebulan, saya mengandung.

Kahamilan berjalan mulus tanpa kesulitan berarti. Oke, saya sempat menderita flek yang mengharuskan saya bed rest dua hari. Saya juga sempat batuk selama sebulan saat kandungan berusia 28 minggu. Aduhai sekali rasanya. Kombinasi antara batuk dan hamil tua itu sama sekali tidak direkomendasikan, deh–, tapi horeee, saya berhasil melaluinya tanpa obat-obatan. Punggung pegal datang dan pergi. Kadang menetap lumayan lama. Pernah suatu ketika saya benar-benar kesulitan turun dari motor karena begitu kaki bergerak, punggung menjerit. Lalu suatu saat, gangguan itu hilang sendiri.

Ah, berarti kehamilannya nggak lancar dong? Mungkin. Tapi saya merasa lancar-lancar saja. Saya tidak mengalami kenaikan berat badan berlebih –tetap naik, tapi tidak berlebih–, tidak mengalami kaki bengkak, tidak ngidam aneh-aneh, tidak sesak napas, tetap doyan makan, nggak muntah-muntah, dan seterusnya.
Setiap rasa tidak nyaman datang, entah itu dalam bentuk punggung pegal atau kaki kram, saya menganggapnya sebagai proses alamiah. Semua itu adalah keniscayaan untuk mendapatkan hadiah yang indah. Iyalah, untuk mendapatkan sesuatu yang kita dambakan, kadang kita mesti ‘berkorban’ kan?

Jadi, alih-alih mengeluh, saya mengubah mindset. Tiap kali punggung pegal, saya berusaha tersenyum, mengingat bahwa saya merasakan ini karena ada makhluk indah dalam tubuh saya, melakukan senam ringan, atau meminta suami memijit. Punggung saya masih sakit, tapi perasaan saya tidak sakit.

Gentle Birth

Saya berkenalan dengan gentle birth –persalinan yang lembut– saat mengandung Angger. Saya menyukai konsep itu, namun belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsipnya. Ngiler banget nggak sih mendengar kisah melahirkan normal tanpa rasa sakit, tanpa dijahit, diiringi musik, di dalam kolam air yang hangat, didampingi orang-orang terkasih, di tempat yang nyaman, tanpa bentakan dokter, tanpa jeritan ibu, dan tanpa paniknya ayah? Tapi, perlu digarisbawahi bahwa gentle birth ini bukan soal normal atau ceasar, melahirkan di air atau di ‘darat’, dengan bantuan bidan atau dokter atau malah tidak dibantu sama sekali. Ini soal konsep melahirkan dengan memberdayakan diri sendiri, dengan kelembutan dan welas asih, dengan seluruh kesadaran dan pengetahuan. Pun harus disertai keikhlasan, misalnya si ibu sangat ingin melahirkan normal, namun akhirnya harus dioperasi, ya sudah, harus ikhlas.

Singkatnya saya belajar soal gentle birth ini. Memang syarat untuk bisa melahirkan dengan nyaman adalah belajar!
Saya lalu tahu bahwa kita perlu mempersiapkan dan memberdayakan diri. Bagaimana mau melahirkan dengan nyaman kalau otot-otot yang akan kita gunakan untuk melahirkan kaku? Bagaimana mau melahirkan dengan nyaman kalau kita sudah takut dengan proses situ sendiri? Kalau kita punya trauma? Dan sebagainya.
So, yang pertama adalah menata pikiran. Berpikir positif, misalnya ‘saya mampu, tubuh saya kuat, bayi saya mengerti’.

Yang kedua adalah menata fisik. Di kehamilan ini saya mengikuti kelas prenatal yoga. Di Jogja, prenatal yoga ini ada di Balance Yoga, Demangan, diasuh oleh Bidan Yesie Aprillia dari Bidan Kita. Tidak seperti senam hamil di klinik-klinik, prenatal yoga ini beneran bikin ngos-ngosan dan keringetan. Jangankan yang hamil, yang nggak hamil pun bisa ngos-ngoskan kok kalau ikut yoga ini. Bayangin deh, menyeimbangkan diri dengan satu kaki dan perut rata aja kadang susah ya, apalagi dengan perut gendut. Tapi dampaknya bagus sekali, tubuh terasa lentur dan bugar.

Saya cuma ikut empat atau lima kali. Memang disarankan ikut beberapa kali saja sampai lancar dan praktik sendiri di rumah, minimal seminggu tiga kali (kalau mau bebas dari jahitan). Yang justru penting ya praktik sendiri itu. Tapi berhubung saya malas bin banyak alasan, saya nyaris nggak pernah praktik di rumah.

Untuk kegiatan sehari-hari saya sengaja mendorong diri untuk aktif secara fisik. Kegiatan jalan-jalan pagi yang dulu bisa saya lakukan rutin saat hamil anak pertama, kini sangat susah dilakukan di kehamilan kedua. Waktu pagi yang merupakan satu-satunya waktu bebas saya sebelum Angger bangun, terpaksa saya gunakan untuk bekerja, nulis novel atau menerjemahkan (ya, iyalah, saya butuh tabungan bila anak saya lahir nanti dan tak bisa kerja sama sekali). Solusinya saya mendorong diri saya untuk banyak bergerak saat melakukan kegiatan sehari-hari, misalnya sering-sering jongkok-berdiri, misalnya saat ambil mainan atau saat memetik bayam di kebun.

Di kehamilan ini saya juga tetap ‘ndil-ndilan’. Saya ikut kemping dua kali (kemping keluarga yang nyantai memang bareng komunitas homeschooling), juga jadi pembicara tiga tiga event. Rejeki saya deh, saya jarang jadi pembicara, tapi pas perutnya maju, kok ya dapat undangan melulu.
Persiapan Kelahiran

Hingga usia kehamilan delapan bulan, saya dan suami masih belum yakin hendak melahirkan di mana. Salah satu alternatif kuat kami adalah di Bidan Kita, Klaten bersama bidan Yesie. Tapi belum-belum saya sudah njiper karena jauh. Klaten itu kira-kira 90 menit dari rumah saya. Pun ada si kakak yang tidak bisa saya tinggal lama-lama. Dia belum pernah saya tinggal agak lama. Andai kami ke Klaten, si kakak juga harus kami ajak. Itu artinya mungkin kami harus mengajak bala bantuan lain. Homebirth juga bukan pilihan karena untuk homebirth ini perlu persiapan yang matang –tidak sekadar menyiapkan tempat dan tetek bengeknya, tapi juga membangun chemistry dengan penolong persalinan–

Untuk melahirkan dengan nyaman di Bidan Kita, kami disarankan untuk ikut diklat selama tiga kali. Hehe, melahirkan aja ada diklatnya ya. Sayang disayang kesempatan buat diklat itu tak pernah datang. Pernah kami sudah janjian dan sudah dalam perjalanan –sudah mencapai setengah perjalanan—eh tiba-tiba Bu Yesie-nya ada keperluan mendadak. Ya sudah, kami putar balik. Yang melegakan adalah asisten bidan yang menelepon saya untuk membatalkan janji berkata, “Tenang saja Ibu, bila jodohnya lahir di sini, pasti lahir di sini kok.”
Yup. Benar sekali. Saya bawa santai saja. Bayi sudah punya takdirnya sendiri-sendiri. Ada bayi yang sudah direncanakan lahir di rumah sakit, eh ternyata lahir dalam mobil. Ada bayi yang katanya harus dilahirkan dengan operasi, eh lahir normal di rumah.

Alternatif kedua adalah rumah sakit. Nah, jadi lain perkara nih karena sekarang kami jadi peserta BPJS. Dulu pas melairkan si kakak sistemnya masih Askes, jadi melahirkan di rumah sakit pemerintah mana pun gratis. Sekarang lain. Untuk kelahiran normal, kami harus melahirkan di fasilitas kesehatan (faskes) pertama kalau ingin bebas biaya. Dalam kasus kami itu berarti bidan atau puskesmas. Puskesmas kecamatan kami kebetulan tidak punya fasilitas melahirkan. Suami sih oke-oke saja saya mau melahirkan di mana. “Yang penting kamu nyaman,” katanya. Itu sungguh suatu dukungan yang menyenangkan. Tapi dasar saya emak-emak, ya saya pilih yang murah dong. Rugi amat sudah iuran tiap bulan, eh tetap harus bayar. Sakitnya juga tetap sama kok. Memangnya kalau bayar mahal terus kontraksinya nggak terasa gitu? Lagian lumayan toh, uangnya bisa beli kambing aqiqah (nah, emak-emak lagi nih).

Sekadar catatan kriteria nyaman ini beda-beda lho buat tiap pasangan. Ada yang nyaman itu berarti rumah sakit besar karena alatnya lebih komplet, dokternya banyak. Ada yang nyaman itu berarti klinik bidan yang kecil karena punya trauma terhadap rumah sakit atau karena menganggap klinik yang kecil itu lebih sehat –nggak campur dengan pasien dengan segala macam penyakit–. Ada yang berpendapat nyaman itu mewah, kalau bisa sih, rumah sakit langganan selebritis. Silakan saja.

Demikianlah, takdir sudah digariskan. Di dekat rumah kami –dekat sekali—ada bidan yang menerima BPJS. Dia bidan yang kondang betul di kampung kami hingga ke kampung tetangga. Lucunya adalah, saat saya membangun rumah dan bahkan belum punya anak, saya membayangkan akan melahirkan di sana, lalu pulang jalan kaki sambil menggendong bayi. Saya bakal tersenyum lebar, mengenakan gaun desainer yang indah, lalu melambaikan pada wartawan (oke, itu keinginanan saya setelah melihat Kate Middleton keluar dari Lindo Wing). Tapi serius, dalam benak saya, pernah tergambar saya pulang jalan kaki sambil menggendong bayi dari klinik bidan itu.
Kami menemui bidan itu (yang ternyata tetap cantik dan modis meski usianya sudah lewat lima puluh, dan entah bagaimana ini membuat saya percaya padanya. Bidan cantik itu… gimana ya… tampak lebih kompeten gitu). Saya kagum karena dia ternyata memahami prinsip gentle birth. Tiga permintaan saya yang utama ia kabulkan. Satu, saya ingin bayi saya menjalani IMD dan ASI ekslusif. Dua, saya ingin rawat gabung. Tiga, saya menginginkan Lotus Birth (tali pusat tidak diklem atau dipotong). Semua dikabulkan. Plok-plok-plok.
So, tugas suami tinggal mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk administrasi BJPS. Tolong ya ibu-ibu yang ingin melahirkan dengan BPJS, cermati betul prosedurnya. Tanya-tanya dulu bila perlu.

The D-Day

HPL 28 Februari sudah lewat. Padahal saya pengin bener anak saya lahir Februari. Soalnya Anto ultah bulan Februari. Nah, nah, saya sudah mengatur-ngatur bayi saya. Lewat seminggu pun, yang terasa hanya kontraksi-kontraksi semu saja. Saya berusaha menyabar-nyabarkan diri. Angger pun dulu juga ‘telat’ lahirnya (telat dari HPL maksudnya, mana ada sih bayi lahir telat?). Haduh, kedua anak saya ini kok betah berlama-lama di dalam perut.

Pernah suatu saat rasa tak sabar menyerang, saya membuka-buka google, mencari tahu mengapa ada bayi yang betah betul dalam kandungan. Ada sebuah kalimat yang menenangkan, “Bayi itu pasti lahir kok, tak ada kemungkinan lain. Pasti.” Kalimatnya tak sama persis, tapi intinya gitu. Saya langsung ‘nyes’ dan tenang. Benar juga, kehamilan yang terasa panjang ini pasti akan berakhir juga.
Saya berpikir positif semua makhluk punya ‘timing’nya sendiri. Saya ajak bayi saya bicara, “Sayang, lahirlah bila sudah siap. Ibu tunggu. Kita bekerja sama ya. Lahirlah dengan selembut mungkin dengan santai, mudah, dan lancar.” Saya ulang-ulang kalimat itu. Saya juga berdoa. Bersujud lebih sering dan lebih lama. Memohon kelahiran yang mudah.

Pagi Selasa 10 Maret tiba. Sepuluh hari pasca HPL. Pagi yang biasa. Saya memanen bayam di kebun, membawanya ke pasar dan menjualnya ke pedagang pasar (ini memang kegiatan rutin saya waktu itu). Saya belanja, mengasuh Angger, dan sebagainya. Seperti biasa. Bedanya adalah kontraksi terasa makin kuat dan sering. Saya sampai tak bisa tidur siang. Saya sampai minum teh panas di siang hari demi menenangkan diri. Tiap kali kontraksi menyerang saya menarik dan mengembuskan napas panjang seperti yang sudah saya pelajari dalam teknik gentle birth. Toh saya tetap tak yakin apakah si bayi mau lahir. Maklum saking seringnya kontraksi semu, saya jadi sering berpikir, “Ah, paling nanti juga ilang lagi”.

Saya duduk dan bergoyang-goyang di atas gym ball (birthing ball) yang sudah kami beli beberapa minggu sebelumnya. Lumayan, rasa nyeri mereda tanpa kehebohan yang berarti. Karena rileks sangat penting dalam proses persalinan yang lembut, relaksasi sangat dianjurkan. Bagi sebagian orang relaksasi bisa berarti meditasi, menyanyi, menari, atau pergi ke spa. Serius nih, ada yang sebelum melahirkan justru menari bareng suami –memang pasangan penari, sih–.

Bagi saya relaksasi berarti… yak, baca novel (gimana lagi, memang kerjaannya nulis novel). Kontraksi menyerang, tarik napas dalam-dalam, duduk dan goyang di atas gym ball, sambil baca Sophie Kinsella! Beneran nih. Di dalam tas melahirkan saya ada novel juga. Nggak ada di panduan kehamilan mana pun buat bawa novel saat melahirkan. Biasanya sih yang harus dibawa itu ya popok, daster, dan sebagainya. Paling pol music player. Tapi saya bawa novel. Memang terpakai kok. Beberapa jam setelah melahirkan saya sudah kembali… membaca novel. Tamat pula dalam sehari. Waktu melahirkan Angger saya membawa bukunya Agustinus Wibowo. Kali ini saya membawa bukunya Okky Madasari.

Jam tiga sore, kontraksi makin rapat. Saya ingat pesan bidan Yesie untuk tersenyum pada saat-saat demikian. Kalau yang atas tersenyum, yang bawah juga tersenyum, katanya. Susah memang tersenyum di saat perut terasa nyeri, tapi bisa. Ini memberi energi positif dan membuat saya ingat hal-hal menyenangkan, ‘Aku akan segera bertemu kekasih yang saya rindukan. Kehamilan ini akan segera berakhir. Bye-bye perut besar. Bye-bye punggung pegal. Aku akan kembali gesit lagi.’ Dan sebagainya.

Saya SMS Anto, minta dia pulang awal. Padahal niatnya saya akan tunggu dia pulang sesuai jam kantornya. Sambil nunggu dia pulang, saya mandi dan sholat ashar. Mandi sebelum melahirkan juga disarankan. Biar kita segar, bersih, dan cantik saat ketemu pujaan hati yang sudah dinanti-nanti.
Jam empat Anto sampai rumah. Siap-siap sebentar, langsung deh kami cabut. Tas melahirkan yang sudah saya siapkan tidak kami bawa karena saya pikir ah, andai ini sudah saatnya, paling juga belum bukaan penuh. Siapa tahu masih disuruh pulang lagi. Jujur saja, meski ya, ada rasa nyeri, nyerinya tidak begitu hebat dan masih bisa saya tahan.

Tak lupa kami mengajak Angger. Ia selalu kami libatkan dalam setiap pemeriksaan dan tentu saja kami tak ingin ia melewatkan momen yang paling penting.

Kami naik motor boncengan menuju bidan yang hanya makan waktu tak lebih dari semenit. Sampai sana langsung disuruh masuk dan periksa. Ternyata sudah bukaan enam. Tak sampai setengah jam kemudian, kekasih yang saya tunggu-tunggu itu hadir ke bumi hanya dengan dua kali dorongan. Bu bidan dan asistennya sampai belum kelar melakukan persiapannya.

Salah tahu teknik gentle birth yang saya pelajari adalah mengenali isyarat tubuh. Jangan memaksa. Saat ingin mengejan, ya mengejan saja. Saat dorongan untuk mengejan hilang, jangan dipaksa. Di sinilah bidan, dokter, atau pembantu persalinan seharusnya memang hanya bersifat mendampingi, bukan mengatur-atur. Ibulah yang harus memandu dirinya sendiri, menentukan posisi tubuhnya serta menentukan kapan mendorong. Kenapa? Karena hanya ibu yang bisa merasakan isyarat dari dalam tubuhnya.
Untuk posisi, kebetulan saya nyaman-nyaman saja berbaring. Tapi tidak harus selalu begitu. Bisa saja sambil jongkok, berdiri, duduk, atau nungging. Ini bukan tuntutan logika, tapi insting tubuh tadi.
Selamat Datang, Sayang

Namanya takdir. Akhirnya kelahiran Unggul (ya, namanya Unggul dan itu nama pemberian kakaknya) tidak didampingi bidan yang sejak awal kami ajak rembugan. Ia sedang pergi. Unggul dibantu oleh bidan pengganti. Ya, tidak apa-apa. Bagi saya setiap bayi punya waktu, jalan, dan cerita sendiri-sendiri. Akhirnya tali pusatnya diklem juga karena si bidan tak yakin dengan metode lotus birth. Tapi syukurlah, kami bisa meminta penundaan. Tali pusatnya diklem kira-kira satu jam pasca kelahiran. Kami pastikan tali itu sudah tak berdenyut lagi. Saya menyentuhnya untuk memastikan si tali sudah tak berdenyut lagi. Oh, my, baru kali ini saya menyentuh tali pusat! Tali yang sudah sangat berjasa bagi kami berdua. Yang jadi penghubung kami selama ini, membuat kami tak terpisahkan selama sembilan bulan lebih.
Saya langsung menerapkan IMD (inisiasi menyusu dini). Unggul diadzani oleh Ayahnya, lalu selama satu jam dibiarkan kontak skin-to-skin di dada saya. Sentuhan pertama. Syukurlah, ia tak buru-buru ditimbang atau dimandikan, jadi saya bisa berlama-lama mendekapnya.

Kalau diingat-ingat, sebenarnya banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kami dalam kelahiran ini. Saya tetap memerlukan jahitan –yak ‘memanen’ kemalasan saya. Kamar persalinannya yah…. lebih mirip dapur dengan dua bed yang usianya mungkin sudah melebihi usia saya. Dua bed itu hanya dipisahkan oleh tirai tipis. Kami bilang mirip dapur karena ada ‘bak cuci’ dilapisi keramik kotak-kotak kecil yang mirip dengan dapur-dapur orang awam era 90-an. Instalasi pipa airnya ‘pating crantel’ di tembok. Tirainya entah sudah berapa lama tak dicuci. Untung itu mempengaruhi mood saya sekali. Bayi saya lahir sehat, selamat. Saya juga sehat selamat. Itu sudah cukup. Yang lain tak jadi soal.

Sialnya, empat kamar perawatan yang tersedia penuh semua. Jadi kami terpaksa menginap di ruang bersalin. Jadilah kami uyel-uyelan berempat semalam. Angger tak mau pulang. Bed yang keterlaluan kecilnya itu kami gunakan buat berdua. Sementara Anto terpaksa menyeret dua kursi dari luar untuk disambung jadi tempat tidur. Kadang, ia juga berusaha tidur di musholla. Unggul tdur di boks bayi di samping saya.

Sebenarnya saya tak tidur malam itu. Terlalu girang bayi saya sudah lahir. Anto tidur-bangun-tidur-bangun karena kursinya nggak nyaman. Angger tidur larut sekali karena terlalu asyik mainan tiang infus. Kayaknya dia sama sekali tak keberatan menginap di ‘dapur’. Ah, itu semua bisa jadi cerita.

Sebelumnya, Angger sempat ikut saya ke ruang persalinan sebelum adiknya lahir. Namun, kemudian saya memintanya keluar. “Tunggu ibu di luar ya.” Ajaib, Angger yang biasanya tidak mau lepas dari ibunya dan butuh waktu agak lama untuk menyesuaikan diri dengan orang asing, sore itu nyaman-nyaman saja duduk nonton TV di ruang tunggu ditemani salah seorang siswa kebidanan magang. Sampai tertidur pula! Inilah alasan saya juga mengapa memilih melahirkan di klinik bidan. Saya ingin mengajak Angger. Kalau saya melahirkan di rumah sakit besar, wah, mana mungkin dia bisa ikut masuk?

Anyway, saya meminta pulang malam itu juga sebenarnya. Namun karena prosedurnya mengharuskan pasien diobervasi selama minimal 24 jam, mereka tidak mengizinkan. “Takut ada apa-apa, Bu,” katanya. “Rumah saya dekat, Mbak, kalau ada apa-apa saya balik ke sini, deh.” Eh, tetap nggak boleh. Ya sudah. Tapi saya membatin, kalau bed sebelah nanti dipakai buat melahirkan, saya bakal langsung pulang. Untung nggak ada pasien.
Siangnya sudah ada kamar kosong yang saya tempati. Saya pun pindah ke sana. Kesibukan saya selain mengurus bayi, tentu saja baca novel dan… update facebook-lah. Emak-emak zaman sekarang gitu lho. Makan di warung aja update facebook kok, melahirkan nggak.

Sore itu, rintik gerimis menemani kami mendekap si kecil dalam buntalan pulang ke rumah. Romantis sekali. Saya merasa hidup saya begitu diberkahi, begitu lengkap dan sempurna.

Doa dan Harapan

Sesuai tradisi Jawa kami membagikan brokohan kepada para tetangga. Wadah takir berisi dawet, telur, secuil gula jawa,secuil kelapa, dan bunga-bungaan. Mestinya itu menyimbolkan sesuatu, tapi saya tak tahu apa. Yang jelas itu pengumuman bahwa sudah ada jiwa baru dalam keluarga kami.
Masyarakat Jawa (Asia pada umumnya) sudah sejak lama menempatkan plasenta ini di tempat yang tinggi. Ini karena plasenta begitu berjasa pada bayi dan ibu. Dialah yang menyaring segala sari makanan serta memisahkan racunnya. Dalam doa orang Jawa untuk bayi yang baru lahir, ari-ari ini selalu disebut bersama air ketuban; kakang kawah (kakak ketuban) dan adik ari-ari (adik plasenta). Semata karena merekalah teman dan pelindung bayi selama dalam kandungan. Sudah tahu kan betapa bahayanya bila plasenta dan ketuban ini bermasalah? Misal plasenta menutup jalan lahir, tali plasenta lepas, atau ketuban rembes.

Untuk itulah saat berkomunikasi dengan janin, kita juga disarankan berkomunikasi dengan plasenta dan ketuban. “Bayiku, mari bekerja sama. Tumbuhlah dengan tenang dan sehat. Ari-ari, tolong bantu kakakmu. Melekatlah dengan baik. Air ketuban tolong jaga adikmu.” Terserah kalimat apa yang Anda gunakan. Yang penting kita menyadari bahwa semua hal di alam ini, termasuk semua organ dalam tubuh kita sangat berjasa.
Sesuai budaya Jawa, ari-ari dimasukkan dalam kendil kecil dari tanah liat. Kendil konon menyerupai rahim ibu. Kemudian, kendil dan ari-ari tadi ditanam di sisi kiri pintu depan (karena anak kami laki-laki, maka tempatnya adalah sisi kiri pintu). Bersama ari-ari tadi, dikuburkan pula segala macam uba rampe sebagai simbol doa dan harapan bagi si kecil. Contohnya, benang dan jarum agar si kecil cukup sandang pangannya. Biji-bijian (beras, jagung, kacang) agar si kecil sejahtera. Alat tulis agar si kecil kelak cendekia.
Setiap senja, dian dinyalakan di atas tanah tempat ari-ari dipendam. Saat menyalakan dian itu, orang tua diharapkan untuk berdoa dan berterima kasih kepada ari-ari. Doa untuk ari-ari Unggul spesial dibuatkan oleh ayah saya (alias kakeknya).

Setiap subuh dian dipadamkan lalu dinyalakan lagi saat maghrib tiba selama empat puluh hari. Bagi saya ini pengingat untuk senantiasa sadar atas kuasa-Nya dan bersyukur atas nikmat-Nya. Kesadaran kita tidak hidup sendiri. Ada semesta yang membantu kita dengan sangat luar biasa, termasuk keajaiban-Nya dalam kehamilan, kelahiran, dan kehidupan.

Zaman dulu bisa jadi dian ini dinyalakan agar ari-ari tak diganggu binatang. Tapi bisa jadi punya fungsi lain, simbol lain. Siapa tahu? Yang saya tahu, nenek moyang kita selalu punya kebijaksanaan nan luhur, Kini dian ini bisa diganti lampu. Lebih praktis, tapi bagi kami kurang romantis.
Seperti dian itu, lahir satu lagi jiwa yang akan menerangi hidup kami dan aduhai betapa berlipat-lipatnya cinta yang ia tambahkan, kebahagiaan yang kami rasakan. Tak ada kata lain selain, Matur Nuwun. Terima kasih.
Catatan: Dua blog saya http://www.kompasiana.com/kenterate dan https://kenterate.wordpress.com/ bisa memuat artikel yang sama.

One thought on “Dan Ia pun Hadir dengan Lembut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s