Pindahan (Semacam Racauan Nggak Penting)

Saya barusan pindah rumah. Akhirnya! Setelah sekian tahun mendamba. Rumah yang saya tempati kali ini adalah rumah baru tapi lama. Saya bilang baru karena ya baru saya tempati sekarang dan belum pernah ditempati siapa pun sebelumnya. Saya bilang lama karena sudah dibangun sejak tujuh tahun yang lalu.

Rasanya begitu nyaman dan damai. Ayem, meski rumah kami belum jadi sepenuhnya. Sebagian lantainya bahkan masih berupa semen kasar berselimut tanah. Tapi seperti kata Godbless ini adalah… rumah kitaaaa sendiri (yak ketahuan saya generasi 90an). Berdiam di rumah yang sama sejak kecil, saya tak menyadari betapa vitalnya hal satu ini bagi sebagian besar manusia. Sebagian saya bilang, karena sebagian yang lain merasa nyaman tanpa memiliki rumah berbentuk fisik. Nah kebetulan saya bukan tipe seperti itu.

Saya dididik untuk menjadi anak rumahan. Saya dididik untuk tinggal di rumah dan menemukan kebahagiaan di dalamnya. Bercengkerama, makan bersama, membuat kue, hingga berkumpul dengan teman dan tetangga di. Meski pernah tinggal di luar Jogja untuk waktu yang agak lama, saya tak pernah menyebut tempat-tempat itu sebagai rumah. Rumah saya ya… rumah yang itu.

Jadi ketika akhirnya saya punya rumah sendiri, wow, rasanya kayak menyelesaikan suatu PR yang sangat besar. Malah, rasanya seperti melewati satu tahapan hidup!  Apalagi rumah ini memiliki fitur yang lebih baik dari rumah lama (tentunya); lingkungan yang lebih baik, tenang, dan bersih, jalan yang lebih lebar (di kampung lama kami bahkan harus menuntun motor dan mobil nggak bisa masuk) dan atmosfir yang lebih kreatif.

Jatuh Bangun

Kami membangun rumah ini ‘sendiri’ alias tidak memakai jasa developer dan begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan, bahkan pelajaran dari kesalahan. Kesalahan yang juga banyak. Awalnya kami merasa kecewa, jengkel, atau menyesal saat kami sadari ada yang salah di sana sini. Kesal rasanya melihat floor-drain yang salah pasang. Tapi lama-lama kami menyadari kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kami beradaptasi dan bahkan bilang, “Oke, yang ini untuk pengingat, besok kita harus lebih berhati-hati.” Anto yang perfeksionis bahkan mulai semeleh. Dan saya sangat takjub dibuatnya. Dia tak lagi menuntut semuanya simetris, eksak, dan sempurna. Dia bahkan bisa bilang, “Ketidaksempurnaan itu indah.”

Kami juga belajar untuk tumbuh, untuk beradaptasi, untuk menggali ide-ide baru. Ada saja ide yang terbersit dan membuat kami menyimpang dari blue print. Kalau lebih bagus kenapa tidak?

Untuk hal ini kami berhutang pada desainer kami Mas Cahyo. Dia banyak membuka mata kami, bahkan mengubah pola pikir kami. Anto yang dulunya kaku menjadi lebih kompromis. Saya yang dulunya ngejar ‘modern’, kini lebih arif pada nilai-nilai tradisional. Kami yang dulunya saklek jadi lebih fleksibel. Saya pernah dengar,  “Kalau ingin menguji ketangguhan perkawinan, bangunlah rumah bersama-sama!” Oke, teori itu tentu masih perlu dibuktikan, tapi mari kita amini untuk saat ini.

Salah satu kalimat Mas Desainer yang saya ingat adalah, “Simetris itu alat bukan tujuan.” Sementara yang diingat Anto adalah, “Bukan pohon yang mengganggu rumah, tapi rumah yang menganggu pohon.” Dahsyat dah.

Tak terbilang tentunya berapa panjang diskusi kami. Beberapa di antaranya diiringi perdebatan dan tampang cemberut. Ada cemas dan capai menyelip, tapi kami sudah tak ingat lagi. Begitu pindah, yang kami rasakan hanya “Good job, yuk terus bekerja.”

Pindahan

Saya dulu selalu iri melihat teman-teman saya yang sering pindah rumah. Kalau pindahnya karena tugas (anak diplomat misalnya), masih wajar buat bikin iri. Tapi saya bahkan iri bila teman saya pindah karena kontrakannya sudah habis! Saya bayangkan pindah itu pasti seru. Tinggal dan melihat lingkungan baru! Wow!  Saya belum pernah mengalaminya.

Dari lahir jebrot sampai usia segini saya tinggal di rumah yang sama. Membosankan. Begitu pindah (meski hanya sekilo jauhnya), saya sangat excited, meski rasa iri kanak-kanak saya sudah pupus. Sudah lama saya menyadari teman-teman saya para ‘kontraktor’ itu pasti merasa tidak nyaman. Ortu mereka tak pernah tenang dan kadang mereka pindah ke lingkungan yang lebih buruk.

Itu tak terbayang di masa kanak-kanak saya. Sama halnya saya selalu iri pada teman yang punya rumah bertingkat atau punya loteng. Keren banget kan bisa lihat bumi dari tempat yang lebih tinggi. Rumah saya yang datar meleter itu terlihat sangat membosankan. Saya nggak pernah mikir mereka terpaksa buat rumah bertingkat kerena nggak punya lahan.

Ada rasa sakit saat kita harus meninggalkan apa-apa yang biasa kita punya. Tetangga yang sudah kompak dan bahkan dengan santainya bisa kita mintai bumbu dapur. Pasar yang sudah sangat saya kenal sampai bau-baunya dan rumah… ya rumah dengan segala kenangan. Anto sampai nangis waktu packing. “Ingat Ibuk,” katanya. Lah, padahal itu rumah saya, itu ibu saya, yang nangis malah Anto. Saya pilih nyingkir. Takut ikut nangis lebih keras.

Angger juga sempat menolak pindah meski sudah kami beri pengertian sejak lama dan perlahan-lahan hingga akhirnya dia yang ngejar-ngejar buat pindah.

Dan pindahan itu ternyata ribet masya ampun. Mulai dari packing, ngangkut, sampai… kehilangan barang. Capeknya seminggu baru hilang.

Tapi saat saya mengeluh tetangga saya bilang, “Mending Mbak ini pindah ke rumah sendiri, lah kalau pindah ke rumah kontrakan?”

Iya juga ya. Satu keuntungan lagi, rumah saya yang lama ditempati adik saya. Jadi barang ketinggalan bukan masalah. Saya masih wira-wiri rumah lama-rumah baru. Syukurlah, kini saya punya kenangan dua kenangan atas ‘rumah’. 

2 thoughts on “Pindahan (Semacam Racauan Nggak Penting)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s