Mengapa Homescholing (2)

Ketika saya berniat mendidik Angger secara mandiri di rumah (homeschooling), ada kegalauan terbersit, “Bagaimana kalau anak saya tidak belajar sebanyak anak yang lain?”

Tapi beberapa hari terakhir kegalauan ini sirna saat melihat Angger dengan asyik mengamati kecebong di kebun. Bukankah dia sedang belajar?

Ternyata kuncinya adalah mindset kita atas definisi belajar. Belajar tidak harus duduk di dalam kelas, mencatat, dan mendengarkan guru. Belajar bisa di mana saja, kapan saja, bersama siapa saja.

Rugi banget bila Angger tidak sempat melihat metamorfosis katak sementara ada katak bermetamorfosis di belakang rumah. Bisa saja momen langka ini terlewat karena waktunya habis untuk sekolah. Ibunya belanja di pagi hari saat pasar sedang full dagangan dan sayuran masih segar. Ayahnya memperbaiki pagar di pagi hari sebelum berangkat kerja. Apakah mungkin dia ikut belanja dan memperbaiki pagar bila dia dihebohkan dengan persiapan sekolah?

Rugi sekali bila Angger tidak sempat belajar menanam papaya dari ayahnya yang petani papaya. Rugi banget bila Angger tidak belajar menulis dari ibunya yang penulis.

Ayah, ibu, keluarga dekat beserta masing-masing keahliannya adalah sumber utama(first hand resource) yang sayang bila dilewatkan.

Itulah mengapa saya mengajari Angger berbahasa Jawa –proses yang masih berjalan dan kacau balau banget–. Saya pikir rugi banget jika Angger tidak belajar bahasa Jawa sementara kebisaan itu begitu dekat dengannya. Saya adalah sumber belajar ‘nyaris sempurna’ untuk percakapan bahasa Jawa karena saya penutur asli. Itu artinya dia bisa belajar kosa kata sampai logat-logatnya.

Saya tidak bilang Angger tidak bisa belajar bahasa Inggris dari saya. Bukan. Dia tetap bisa belajar dari saya, cuma karena saya bukan native speaker tentu masih banyak belang blentongnya. Grammar mungkin salah, logat apalagi, pasti lewat. Jadi saya pikir akan lebih menguntungkan bagi Angger untuk belajar bahasa Jawa. Mumpung ada guru penutur asli, gratis pula.

Semoga selalu diberkahi, semoga diberi jalan lancar. Amin. 

2 thoughts on “Mengapa Homescholing (2)

  1. Rosi

    Welcome to the club, Angger. Ayah Ibu dan dunia ini cukup luas dan menyita waktu untuk diambil pelajarannya. Bukan begitu?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s