Salah Fokus

Betapa mudahnya kita kehilangan fokus. Betapa mudahnya kita berpaling dari pokok pembicaraan ke pembicaraan remeh temeh yang mengaburkan inti.

Ketika menteri pendidikan dimintai komentar soal surat terbuka mengenai (kritik) UN yang ditulis anak SMA, ia berkata ia tak yakin surat ini dibuat oleh anak SMA, “”Dari tulisannya, logika menulis, pilihan kata, sepertinya mustahil itu ditulis oleh pelajar SMA,” kata Pak Menteri seperti yang dikutip di laman ini.

Lha kok aneh, batin saya, menteri pendidikan kok nggak yakin dengan anak didiknya. Apa dia justru senang (dan yakin) anak didiknya nggak mampu menulis dengan baik? Lah, kalau memang begitu, sudah seharusnya dia mengubah metode pendidikan dong.

Si anak didik itu maju kena, mundur kena. Pinter nggak dipercaya, bego disalahin.

Okelah kalau memang surat itu TIDAK dibuat oleh anak SMA beneran, yang penting kan isinya. Isinya benar atau tidak. Saya jadi berpikir semua pejabat di negeri ini parno. Jadi kalau ada yang mengkritik dan menyerang, bukan kritikannya yang dicermati, tapi apa akibat kritik itu bagi karir mereka. Mereka sibuk menerka-nerka apa modus kritik itu? Mereka merasa semua kritik dibuat oleh lawan untuk menjegal kursi mereka.

Oke, saya sudah hilang fokus di sini. Intinya: mudah sekali bagi kita, bahkan seorang menteri, untuk meleset dari fokus. Memperhatikan hal yang remeh dan nggak penting dan di saat yang sama, justru melupakan inti, esensi.

Contoh-contoh kecil

Di Youtube saya menemukan video klip kelompok musik yang memainkan piano dan cello dengan indahnya. Aduh, indahnya kebangeten deh. Dan komentar yang tersua di bawahnya adalah: (Si pemain music) is gay.

Lah, terus ngapain kalau dia gay –dengan asumsi komentar itu benar–?

Ada pula video yang memperlihatkan seorang anak kecil main harpa. Bagus banget. Eh, komentarnya: make up-nya ketebelan. Ya ampun, ada anak kecil bisa main harpa, yang diperhatikan kok make-up-nya> Udah gitu ada juga yang nanggapin pula, “Lah, memangnya apa yang kamu harapkan? Dia makin harpa dengan jins belel kayak gembel?”

Saya jagonya salah fokus tentu saja. Ketika membaca artikel soal tidak perlunya anak belajar calistung di usia dini yang justru saya perhatikan adalah ejaannya, bukan isinya. Kalau ditanya mengapa anak tidak boleh belajar calistung di usia dini, saya tidak bisa menjelaskan ulang. Jelas karena yang saya pikirkan adalah, “Ya ampun ini orang, dia dulu belajar calistung di mana yak, ejaannya berantakan bener. Bikin pusing yang baca.”

Ada artikel lain tentang kisah seorang pemuda yang marah pada ibunya yang sudah jompo gara-gara si ibu mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali. Si ibu sedih dan menangis, “Kenapa kamu marah? Dulu waktu kecil kamu menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali  dan ibu tak pernah bosan menjawabnya.”

Lah, kuwi jenenge ngundat-undat. Mengungkit-ungkit! Saya tahu maksud artikel itu baik. Hormatilah orangtuamu karena dia sudah mengasuhmu dengan susah payah waktu kecil. Tapi kan sebagai orangtua kita harus ikhlas, ya kan? Kalau nggak ikhlas menjawab pertanyaan anak berkali-kali ya nggak usah punya anak. Beres to? Dan kok bisa ibu itu punya anak nggak sabaran kayak gitu? Gimana cara mendidiknya?

Itu komentar sinis saya. Iya, iya, saya tahu bukan intinya. Tapi kok ya….

Cerita lain: Ada orang bertanya-tanya, “Kenapa sih pohon beringin yang gede buahnya kecil, sementara pohon semangka yang kecil buahnya malah besar.”

Terus ‘ting’, si orang kejatuhan buah beringin. Dia lalu memuji Alloh yang Maha Pintar dalam menciptakan semua makhluknya. Coba kalau buah pohon beringin itu sebesar semangka. Repot kan?

Tunggu, dia belum pernah liat pohon duren ya? Itu komentar saya, yang lagi-lagi salah fokus.

Sakit

Padahal salah fokus bisa nyakitin banget lho. Contohnya, Anda udah masak semur dengan sempurna. Bumbunya pas, dagingnya empuk, dan penyajiannya juga cantik. Pas pasangan Anda pulang dan makan tuh semur, dia berkomentar, “Itu wadah semurnya kenapa retak dikit kayak gitu?”

Sakit banget nggak tuh?

Nyakitin banget kalau seorang anak pulang membawa nilai sepuluh untuk matematikanya dan si ibu berkata, “Kenapa kertasmu kotor kayak gini, pasti tanganmu berkeringat waktu ngerjain soalnya. Lain kali jangan lupa bawa tisu.”

Dan karena si ortu udah biasa salah fokus, udah biasa memperhatikan hal-hal yang nggak penting dan mengabaikan hal penting, si anak juga akan begitu. Dan kelak bila suatu saat dia jadi menteri atau presiden dia akan berkomentar, “Metode apa yang dipakai untuk menghitung angka kemiskinan itu? Kok bisa kemisikinan dikatakan naik, wong GDP-nya aja meningkat kok!” saat ditanya wartawan tentang kemiskinan. Atau lebih parah, dia akan berkomentar, “Angka itu beda dengan jumlah lho. Yang Anda tanyakan angka atau jumlah? Saya kok nggak yakin Anda wartawan. Bilang siapa yang menyuruh Anda ke mari?”

 

 

2 thoughts on “Salah Fokus

  1. chanyoun9

    Kak Ken, kelompok musik yang mainin piano sm cello itu namanya The Piano Guys bukan? Kalo iya, aku jg suka mrk lhoo ♥😀
    *salah fokus juga*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s