Mengapa Homeschooling?

Homeschooling (HS) semakin ngetrend. Pelan-pelan metode pendidikan rumah ini makin popular. Setidaknya itu yang saya amati sepintas dari komunitas HS di kota saya. Peminat dan anggotanya makin banyak, meski banyak di sini juga sebetulnya amat sangat sedikit dibanding peminat sekolah reguler. Majalah Esquire (entah edisi berapa) menyebut HS sebagai makhluk seksi pendidikan.

Sebelum saya bercerita lebih banyak, saya tegaskan dulu bahwa yang dimaksud dengan HS di sini adalah pendidikan mandiri di RUMAH yang sebagian besar atau malah seluruh ‘pelajaran’-nya dijalankan oleh orang tua siswa dan bukannya institusi pendidikan formal yang menyebut diri mereka sendiri homeschooling seperti  Homeschooling Kak Seto atau Homeschooling Primagama.

Saya tertarik dengan HS, meski  belum memutuskan apakah akan mendidik Angger di rumah atau mengirimnya ke sekolah. Kalau ini hanya keputusan saya dan suami sih, rasanya sudah bulat, HS adalah pilihan terbaik setidaknya hingga saat ini. Tapi kami tetap akan mempertimbangkan pendapat Angger. Kalau ia ingin bersekolah di sekolah regular ya apa boleh buat.

Ada beberapa keluarga HS yang saklek ingin mendidik anak mereka secara mandiri karena menilai HS adalah yang terbaik bagi mereka. Saya bukan tipe yang berpikir seperti itu, tapi juga tak hendak menentang pendapat semacam itu karena di sinilah uniknya HS: setiap keluarga memiliki alasan tersendiri, berhak menentukan kurikulum sendiri, berhak memilih metode sendiri sesuai dengan minat anak dan nilai-nilai keluarga. Kenapa? Karena salah satu alasan orang tua memilih HS adalah menghindari kurikulum sekolah yang sama rata meski siswa-siswinya memeliki latar belakang yang beragam.

Alasan Memilih HS

Kenapa memilih HS? Saya awalnya belajar mengenai HS semata-mata untuk memperbanyak opsi. Makin banyak pilihan makin bagus kan? Kalau bisa sih, saya ingin mempelajari semua metode pendidikan. Tapi itu kan agak sulit. Jadi ya sudah, saya pelajari apa yang ada di sekitar saya. Saya tanya-tanya pada teman-teman, gimana sekolah A, gimana pesantren B, gimana les bahasa Inggris di tempat C, dan seterusnya.

Kalau kami menganggap HS adalah metode pendidikan terbaik bagi kami (sekali lagi sampai saat ini) itu dikarenakan kekecewaan kami pada sekolah dan sistem pendidikan pada umumnya.

Saya tidak menikmati pendidikan TK-SMA saya. Oke, ada kesenangan-kesenangan yang saya dapat, tapi banyak yang membuat saya kecewa. TK saya kenang sebagai masa si pemalu. Secara sosial saya belum siap bergaul dengan teman sebaya.Saya menghabiskan jam istirahat mengamati teman saya bermain. Ketrampilan fisik saya saya yang di bawah rata-rata membuat saya ogah berpartisipasi.

Masa SD saya sebut sebagai masa galau. Meski saya juara pertama terus dari kelas dua hingga kelas enam, saya banyak mindernya. Kok bisa? Bisalah, wong saya nggak bisa nyanyi, nggak bisa olahraga, sering semaput pula waktu upacara. Dan lagi-lagi saya nggak piawi bergaul. Kadang saya takut teman-teman membenci saya karena satu hal: saya pintar dan juara terus.

Masa SMP adalah masa minder. Kok bisa saya yang SD juara terus bisa goblok mendadak? Benar-benar misteri. Fisika membuat perut saya mulas habis (dalam arti sebenarnya). Saya mulai punya banyak teman, dan kehidupan sosial saya beranjak menyenangkan, tapi kehidupan akademis saya hacur lebur, membuat saya berpikir saya ini bodoh. Saya merasa jadi pecundang, tak punya keistimewaan. Saya tidak cantik –yang penting banget waktu SMP–, nggak keren, nggak kaya, dan seterusnya.

SMA adalah masa depresi. Parah. Meski secara fisik dan perilaku saya terlihat biasa-biasa saja. Aneh banget karena saya sekolah di SMA favorit (yang berarti sebenarnya saya nggak bodoh), tapi kok ya saya merasa superbodoh. Saya tertekan berat. Nggak cuma hal-hal akademis yang membuat saya depresi, tapi juga masalah hal-hal khas bullying antar-siswa. Apakah di SMA negeri favorit ada bullying? Ada, meskipun bentuknya bukan kekerasan fisik dan pemerasan yang bisa dikategorikan kriminal, tapi lebih pada sosial dan emosional bullying (nggak pakai jilbab, calon penghuni neraka. Memelihara kuku panjang, temannya setan. Main teater? Kafir.  Pakai seragam nggak pakem, pemberontak.  Perempuan nyanyi? Haram. Masuk IPS? Bego. Nggak ikut acara wajib? Ancaman nilai jeblok. OSPEK? Suruh lari-lari dalam cuaca panas dan bikin kartu nama yang bersudut sempurna –alih-alih yang nyeni– dan seterusnya).

Masa inilah yang membuat luka terbesar dalam diri saya menyangkut pendidikan. Saya berada di luar mainstream dan akibatnya saya MERASA dikucilkan serta ditolak.

Tidak semua orang kayak saya tentu saja. Banyak teman-teman SMA saya yang riang gembira dengan aturan dan sistem seperti itu. Banyak yang enjoy dan happy menghadapinya. Tapi, jujur bukan itu pendidikan yang ingin saya berikan pada anak saya.

Sekolahin ke swasta dong. Yang elit dan menjunjung tinggi kreativitas dan keunikan individu. Duite sopo? Kalau pun saya kuat mbayar, pedih saya membayangkan anak saya hanya bergaul dengan orang kaya. Pedih membayangkan anak saya akan study tour ke Singapura dan sebagainya.

Saya baru bisa menikmati pendidikan saat saya kuliah. Tapi mungkin giliran teman saya yang depresi.

Suami saya kerja dalam bidang pendidikan. Dan ini membuatnya mengerti benar tentang kondisi pendidikan di Indonesia, mulai dari gurunya yang ‘bodoh’, males, suka curang, sampai cuma mikir duit tanpa mikir kinerja.  Serius nih. Ingat tes uji kompetensi guru secara nasional tahun 2013?

Nilai rata-rata kompetensi guru (secara akademis) adalah 42,25 (skala 0-100), bahkan ada yang dapat nilai 1.0 (terendah).

Sekarang coba pikir, kok bisa anak-anak didiknya diminta mengerjakan UN dengan standar kelulusan 5.5 (skala 10)? Curanglah jawabannya!

Itu baru satu alasan. Saya belum membahas soal kurikulum yang tidak masuk akal dan tidak perlu (apa urgensi mengajarkan TIK pada anak kelas satu SD misalnya), bullying di sekolah, metode mengajar, soal pendidikan budi pekerti, komersialisasi pendidikan, dan seterusnya.

“Yang paling capek adalah membongkar dan memperbaiki ‘pengetahuan’ anak setiap saat dan aku nggak pengin melakukan itu,” kata Anto, suami saya. Maksud Anto adalah udah capek-capek kami ngajarin anak untuk membuang sampah di tempatnya –bahkan memilahnya–, eh di sekolah teman-temannya, bahkan gurunya, buang sampah sembarangan. Sudah capek-capek saya memilihkan makanan sehat untuk anak saya, eh waktu ada acara di sekolah, gurunya membagikan snack kemasan ber-MSG tinggi. Itu misalnya saja.

Alasan teman-teman lain

Saat berbagi bersama teman-teman yang tergabung dalam komunitas pendidikan mandiri (untuk mempermudah pendidikan anak-anak mereka, orangtua HS membutuhkan komunitas, dengan demikian mereka bisa membentuk klub olaharga, klub seni atau klub-klub lain untuk mewadahi minat anak-anak dengan lebih mudah dan murah), saya baru mengerti betapa beragamnya alasan orangtua memilih HS untuk mendidik anak mereka.

Seorang ibu, sebut saja Mbak A, menceritakan kisahnya yang mengharukan saat menjadi guru di Ambon. Kekerasan fisik sudah menjadi ‘budaya’ di sana dalam mendidik anak. Anak dipukul itu sudah biasa. Yang paling parah menurutnya anak-anak itu (SMA) tidak tahu apa yang mereka inginkan. Bagi Mbak A yang mengajar bahasa Inggris, bahasa Inggris itu nggak penting-penting amat buat mereka. Yang lebih penting adalah mereka mengetahui apa yang mereka inginkan untuk hidup mereka.

“Yang paling menyakitkan,” kata Mbak A, “suatu hari Senin anak-anak itu datang membawa piala sambil bersorak-sorai. Hari sebelumnya mereka bertanding sepakbola dan juara dua. Seorang guru merebut piala itu dan membuangnya ke tempat sampah dan berkata, ‘ngapain kalian juara dua? Seharusnya kalian bisa dapat juara satu.’” Mbak A sangat emosional dan para pendengarnya ikutan tercabik-cabik. Ini di sekolah lho!

Mbak A juga cerita anaknya di-bully di sekolah. Guru bahasa Inggrisnya bilang si anak sudah hopeless dalam pelajaran bahasa Inggris. Padahal si anak baru kelas satu SD! Teman-temannya juga suka mengganggunya karena dia lambat dalam menulis.

Puncaknya si guru bilang –meski sambil bercanda—“Wah, kamu ini kayak ubi ya,” sambil mengelus badannya (yang kebetulan memang lebih bongsor dibanding teman-temannya). Sampai rumah si anak tanya, “Bunda Bu Guru bilang aku kayak ubi, itu maksudnya apa ya?”

Bapak B yang mengisahkan perjalanannya sebagai relawan pendidikan dari Sabang sampai Merauke menegaskan hal ini. Di Indonesia bagian timur kekerasan fisik sudah menjadi bagian sehari-hari dalam pendidikan. “Untuk mengajak seorang siswa masuk kelas, seorang guru perempuan, perempuan lho, menarik tangan si anak ke belakang dan menendang pantatnya ke depan! Itu biasa.”

Sementara di Aceh, ia bercerita, anak-anak sama sekali tidak punya gagasan atau inisiatif. “Ditanyain hobinya nggak tahu, disuruh cerita nggak bisa, disuruh ngomong apa pun nggak mau.”

Mbak C mengisahkan anaknya yang dibully di TK. Gurunya menyeret tangan si anak bila anak dianggap terlalu lamban. Kalau anaknya lari-lari terus si guru berteriak, “Kamu tuh kok nggak bisa diam sih?”

Mbak D bilang semenjak masuk SD anaknya yang biasanya jadi ceria jadi murung terus.

Ideal

Saya tidak melebih-lebihkan kisah di atas. Itu semua cerita yang saya dengar sendiri. “Tapi kan tidak semua sekolah begitu. Sekolah anak saya bagus kok, dan anak saya menikmati sekolah.”

Alhamdulillah kalau begitu. Saya sendiri produk sekolah regular dan meski ada pengalaman buruk seperti yang saya tuturkan di atas, toh saya ‘sukses’ saat ini. Ya, sukses menurut ukuran standar lah. Saya berpendapat tak ada system yang sempurna untuk semua orang.

Ada anak-anak sekolah regular yang ‘sukses’, ada pula yang ‘gagal’. Anak HS juga begitu. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, dengan segala kemudahan dan kerepotan, yang penting bagi saya adalah menelaah kembali apa alasan ‘perjalanan’ kita. Setelah kita tahu alasannya, mari kita tetapkan tujuan kita. Setelah kita tahu tujuan kita, mari cari kendaraan yang paling cocok bagi kita dan mampu membawa kita ke sana. Dan nikmatilah perjalanan itu dengan terus waspada dan mawas diri.

 

2 thoughts on “Mengapa Homeschooling?

  1. myuniqueface

    secara keseluruhan, aku setuju sama tulisan mbak Ken. meskipun aku belum menikah dan belum punya anak, entah kenapa dari sekarang udah berpikiran untuk tidak menyekolahkan anaku kelak di sekolah reguler. melihat kenyataan pendidikan di negara kita, rasanya gak rela kalo anak yang udah kita kandung dan kita didik dengan sepenuh hati trus di sekolah diperlakukan jauh dari apa yang diinginkan orang tua. trus terkadang anak jadi gak paham apa sih yang sebenernya dicari di sekolah dan apa yang ingin mereka capai di kehidupannya. sedih banget sebenernya kalo mikirin yang kayak begini😦

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s