Sadar Lingkungan. Sekadar Sadar.

Saya manusia sadar lingkungan. Ya sekadar sadar saja. Maksudnya, saya sadar dengan apa yang saya konsumsi. Saya sadar tingkah laku saya mengotori bumi. Saya sadar saya harus mengurangi sampah saya dan seterusnya. Sekadar sadar itu tadi.

Saya bukan aktivis lingkungan, saya tidak mendaur ulang sampah saya (apalagi membuatnya jadi dompet. Nggak sempet), saya juga masih mengkonsumsi daging yang konon menghabiskan ribuan liter air selama ‘daging’ tadi masih bernyawa. Tidak, saya belum sampai ke level ‘advanced’ kayak gitu.

Tapi setidaknya saya sadar. Saya memilah sampah organik dan anorganik. Cuma dua kategori itu sih, belum sampai tahap memisahkan baterai dan kaca atau kertas HVS dan kertas kardus. Tapi lumayan kan, minimal mengurangi pekerjaan pemulung dalam memilah sampah. Sampah organik kami buang di ‘jugangan’ di kebun dan kami harap jadi penyubur tanah kelak. Apa yang kami ambil dari bumi, kami kembalikan ke bumi. Cieh, serasa jadi pahlawan saya ini.

Saya kadang menampung air bekas cucian sayur (tanpa sabun) untuk menyiram tanaman. Oke, sebenarnya baru melakukannya sekali.

Saya memilih produk yang lebih ramah lingkungan, misalnya sabun cair refill. Ya tetap sabun sih, tetap ada kemasan plastiknya sih, tapi kan nggak separah botol plastik. Iya kan? Eh, atau tidak?

Saya beli botol air. Ya tetap plastik sih, tapi kan bisa diisi ulang, daripada beli air kemasan. Ya kan?

Saya mendesain rumah saya tanpa AC. Sebenarnya karena nggak kuat beli AC sih, tapi boleh kan bergaya sok cinta lingkungan.

Saya tahu itu belum cukup. Sangat jauh dari cukup. Saya membawa tas belanja bila ke pasar. Tapi itu tidak mengurangi banyak. Kapan itu saya dan adik saya Sutimbul mencoba menghitung sampah plastik yang kami hasilkan pagi itu. Pagi saja. Dan inilah sampah kami dari belanjaan kami:

Belanjaan

Sampah

Keterangan

Timun 2 buah

0

Langsung masuk tas belanja

Sandal 3 pasang

2 plastik bening dan 1 tas kresek. Sepasang sandal tidak dikemas plastik, tapi tetap harus masuk tas kresek.

 

Agar-agar

0

Angger beli agar-agar tusuk tanpa kemasan.

Es dawet 4 porsi

3 plastik bening. Satu porsi diminum dengan gelas

 

Kolang-kaling

1 plastik bening.

 

Nanas 3 potong

1 plastik bening.

 

Duku 1 kg

1 plastik kresek

 

Snack 2 macam

2 plastik bening dan 1 tas kresek

Tas kreseknya bisa dipakai lagi

Celengan tanah liat 15 buah

3 plastik kresek

Tas kreseknya bisa dipakai lagi

 

Jadi total kami menghasilkan sampah berupa 6 plastik kresek dan 10 plastik bening. Luar biasa bukan? Itu baru satu keluarga. Itu baru sepagian, sekitar empat jam. Itu baru dari belanjaan. Itu baru sampah plastik. Kami belum menghitung kemasan sabun, sampo, laundry, dan seterusnya.

Teori ≠ Praktek

Secara teori rasanya kami sudah ‘nglothok’ soal cara memelihara lingkungan. Tapi tahu tidak selalu berarti menerapkan. Alias bagus di teori tidak selalu bagus juga di praktek. Alasannya bisa macam-macam, mulai dari tidak praktis (masa ke pasar bawa wadah segambreng?), tidak higenis (misal pas beli minyak goreng, masak iya beli minyak goreng curah yang tidak dikemas? Jijik ah), tidak ini itu, dan ujungnya males.

Baiklah. Saya akan lebih banyak berbuat. Itu tekad saya. Minimal demi kasih contoh buat anak. Saya mulai beli penganan dengan membawa wadah sendiri. Demikian juga bila saya membeli merica atau kemiri, saya bawa toples kecil sendiri (saya cinta deh sama pasar tradisional, soalnya saya nggak mungkin melakukan ini di supermarket). Tidak banyak mengurangi sampah, tapi tetap mengurangi.

Repot? Iya. Terlebih kalau beli penganan. Aduh, kadang saya sampai harus bawa tiga wadah demi menghemat plastik. Pas wadah itu kosong sih nggak masalah, giliran sudah diisi, ampun mak, wadah-wadah ini memenuhi tas belanjaan saja.

Para penjual kadang juga tidak membantu. Bukannya bersyukur mereka dibantuin berhemat, eh malah bilang begini, “Nggak pa-pa mbak, pakai plastik. Saya punya plastik banyak kok.” Eeaa.

Penjual lain benar-benar higenis, hingga ia memisahkan penganan satu dari penganan lainnya, misalnya tahu goreng dipisah dari arem-arem. Soalnya kan arem-arem itu dibungkus daun. Daunnya mungkin kotor. Jadi tahunya harus dipisah dari daun. Tahu goreng juga harus dipisah dari kue mangkuk, soalnya tahu goreng berminyak dan gurih, sementara kue mangkok manis dan tidak berminyak. Jadi kue mangkok harus dilindungi dari tahu goreng. Ribet banget ya.

Kadang penganan-penganan tadi sudah dibungkus dengan kotak mika (sampah lagi) dan kadang saya cemplungin begitu saja ke tas belanjaannya yang dibuat dari bagor bekas kantung terigu. Eh, penjualnya juga protes, “Jangan Mbak, sini aku kasih tas kresek dulu. Biar nggak kotor kena sayur.” Yailah.

Tadi pagi saya beli gula jawa. Bawa tas kresek sendiri. Tas kresek bekas memang, tapi warnanya putih dan masih bersih. Penjualnya juga protes, “Nggak diplastik bening dulu?”

Jujur saja, membawa tas belanjaan tidak banyak membantu mengurangi sampah plastik.

Saya paling senang kalau dapat penjual yang membungkus cabai dengan daun pisang. Daun pisang bekas lagi. Maksudnya bekas bungkus tempe. Ada juga yang membungkus sayur dengan kertas bekas. Top dah. Nggak higenis? Tolong ya, itu sayur sudah disemprot dengan DDT. Ngapain juga mikir kuman yang bisa mati dengan direbus. Dalam hal seperti ini pasar tradisional lebih jago dari supermarket yang gembar-gembor ‘ramah lingkungan’ dengan MENJUAL tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali dengan harga yang muahal. Halah, males banget. Slogan ramah lingkungan-nya sendiri udah nggak tulus.

Terus Mencoba

Teori sabun bisa merusak lingkungan juga sudah kami dengar bertahun-tahun lalu. Tapi ya… Cuma kami dengar aja. Sampai kami ikut kemah komunitas homeschooling Casper. Ada salah satu peserta yang menyediakan lerak serta irisan jeruk nipis buat mencuci piring. Kami agak shocked awalnya. Hah, segitunya ya? Okelah kami tidak membuang sampah sembarangan. Kami bawa minum dengan botol-pakai-ulang. Tapi mencuci dengan lerak? Lebai banget nggak sih?

Adik saya lebih shocked lagi saat ia ke kamar mandi dan sabunnya ketinggalan. Ia melongok ke luar dan di luar berdirilah Mbak Ira, peserta kemah, yang lagi ngantri. “Mbak bawa sabun nggak?”

“Nggak, saya cuma bawa lerak. Mau?”

Mbak Ira memakai lerak untuk mencuci apa pun, termasuk mencuci badan. Aih, ini tidak lebai lagi. Ini mulai serius. So, kami bulatkan tekad buat mencoba. Mencoba saja dulu. Untuk awalnya kami menggunakan lerak dan jeruk nipis buat mencuci piring. Dan ternyata oke juga kok. Kesat. Sama kesatnya dengan sunlight. Agak repot dikit karena harus membelah lerak dan jeruk nipis. Tapi diiikkkitt banget kok repotnya. Dan sesungguhnya kalau nggak mau repot kita butuh tiga bumi.

Salah kaprah soal lingkungan

Setelah kemping itu saya berdiskusi dengan Sutimbul. Kebetulan dia ikut diskusi lingkungan dalam kegiatan itu, sementara saya menjaga anak saya yang maunya ngendon di tenda.

Saat ini banyak kegiatan yang kayaknya cinta lingkungan, tapi niat sebenarnya cari duit.

Saya memang suka berprasangka. Sungguh. Kalau toko ritel memberi tas kresek yang bertuliskan, “tas ini ramah lingkungan,” atau “tas ini bisa didaur ulang,” saya akan membatin, “Mosok?” Dia kan nulis gitu biar kita nggak merasa bersalah belanja di tokonya dan ujung-ujungnya kembali ke sana. Soalnya kalau benar dia cinta lingkungan kan mestinya dia pakai tas kertas daur ulang, plastik bekas (yang masih bersih tentunya) atau kardus bekas. Bener nggak? Ntar dikomplen dong sama konsumennya. Lah sudah saya bilang tadi kan, kalau nggak mau repot kita butuh tiga bumi.

Kalau penjual wadah plastik gembar-gembor dengan ecoproduct dan slogan menyayangi bumi, saya juga skeptis. Ealah, mbok sudah, jualan ya jualan sajalah. Nggak usah sok ramah lingkungan segala.

Ini cerita adik saya: sebuah perusahaan multiproduk (nggak tahu saya apa sebutan untuk perusahaan yang bikin segala sesuatu mulai dari kopi sampai sabun colek) mengetahui ada seorang ibu memakai ulang kemasan produk mereka dan menjadikannya barang kerajinan. Barang itu sangat bagus dan cocok dijadikan souvenir. Akhirnya si ibu dikasih order untuk bikin souvenir lebih banyak. Pakai apa? Pakai kemasan produk yang belum dipakai! Alias kemasan baru dan bukan bekas. Lah. Mana semangat mengurangi limbahnya nih?

Itu juga terjadi pada bank sampah. Awalnya adalah niat baik. Tapi setelah menggejala di mana-mana, kok yang menonjol motif ekonominya? Saya lagi-lagi curiga, jangan-jangan nasabah bank sampah ini kalau ke pasar sengaja minta tas kresek lebih supaya bisa dijual ke bank sampah. (Aduh, saya ini memang hobi bersuudzon ya. Sudah mending ada yang mau susah-susah mengelola sampah secara mandiri).

Di kalangan atas, perempuan high class sudah MERASA menyelamatkan lingkungan kalau pakai produk organik (dibaca Body Shop), beli Tupperware, atau bawa tumbler sendiri ke Starbucks! Sinis? Ember.

Tapi buru-buru Sutimbul mengingatkan saya untuk tidak sinis. Semua orang punya pendapat, punya pandangan, punya latar belakang, dan definisi yang berbeda. Dan itu adalah refleksi dari pengalaman hidup yang sangat pribadi. Tidak masalah. Selama kesadaran itu terus tumbuh, itu adalah hal yang baik. Tidak tumbuh pun tidak apa-apa. Saya kan tidak boleh marah kalau melihat ibu-ibu memakaikan popok sekali pakai pada anaknya. Bisa-bisa dia berkata, “Mau ngepelin kencing anak saya?” Pakai yang bisa dicuci ulang dong, Buk. “Kamu mau membelikan?”

Tidak. Saya tidak bisa begitu. Sama halnya saya juga tidak bisa selalu ingat untuk bawa termos saat beli es dawet hingga akhirnya saya… menghasilkan sampah plastik yang akhirnya… membuat pemanasan global… yang akhirnya…. bikin bumi gerah banget… dan akhirnya membuat saya marah-marah sendiri. “Dasar nih, siapa nih yang sok pake AC dan bikin ozon bolong hah? Siapa?”

 

2 thoughts on “Sadar Lingkungan. Sekadar Sadar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s