Review: Diary Princesa

Image

Sudah bertahun-tahun saya tidak menulis review. Tapi kali ini si tengil ini berhasil membujuk saya. Tidak membujuk tepatnya, tapi mengirimi saya buku gratis disertai embel-embel ‘tulis review’ nya ya. Sialan betul dah, ada maunya ternyata. Tapi syukurlah, dia mengirimi saya buku ini sebelum saya terlanjur beli. Memang, begitu tahu dia sudah menerbitkan novel saya langsung niat beli bukunya sebagai apresiasi saya terhadap karya seorang sahabat dan rekan sejawat. Tapi kalau dipikir-pikir mending saya beli ya, daripada disuruh bikin review :p.

 Beruntunglah dikau, Nduk, ini review pertama dalam blog ini. Kehormatan bukan?

Oke langsung saja ke sinopsisnya: tersebutlah dua kakak beradik cewek; Jinan dan Princesa. Si Jinan punya emosi sangat labil, mudah marah, mudah sedih, tapi mudah senang juga. Kalau nangis bisa berhari-hari, tapi juga bisa langsung ceria.

Mulutnya tanpa rem, jujur dan blak-blakan, nggak pernah punya sahabat (meski dia luwes bergaul), dan baru pacaran sekali, sementara Princesa atau Cesa adalah si cantik, si pintar, si populer, dan si hobi kencan sama cowok. Dia nggak bisa hidup tanpa cowok tepatnya. Masalah terberatnya adalah dia harus bisa menjadi pelindung Jinan melawan mood-nya yang naik turun kayak roller coaster. Dia harus selalu mendampingi Jinan yang punya kecenderungan depresi dan bunuh diri tiap kali menghadapi hal buruk.

Ini masih ditambah masalah mamam dan papap mereka yang nggak akur. Mamam nggak pernah peduli sama anak-anaknya dan dia sepertinya punya masalah mental sendiri –hampir mirip kayak jinan. Dan papap tak pernah hadir sama sekali.

Lalu datanglah Nathan yang cinta sama Jinan. Dan… bisa ditebak, sebenarnya Cesa juga naksir Nathan yang perfect ampun-ampunan.

Endingnya: Silakan baca sendiri ya.

Membaca Diary Princesa, Membaca Titien

Jujur saja saya tidak bisa membaca buku dengan obyektif (memangnya bisa ya membaca dengan obyektif?). Saya mengenal si pengarang (Swistien Kustantyana alias Titien) secara pribadi sejak kuliah, kemudian terbawa sampai kami  sama-sama kerja di Jakarta (saya duluan, dia nyusul). Enggak tahu kenapa dia mengagumi saya. Beneran lho, serius. Kata-kata saya seolah dicatat oleh mesin dalam otaknya. Nggak tahu gimana, pokoknya dia ingat aja, padahal saya udah nggak ingat dan kadang saya mengucapkannya sambil lalu, tapi dia menganggapnya serius seolah itu sabda ratu. Geleng-geleng dah.

Saya tahu ups-and-downs-nya Titien setidaknya hingga titik dia kerja di Jakarta itu. Kami lumayan sering ‘minum kopi’ sambil saling curhat. Oke, sebenarnya dia yang curhat sampai berember-ember dan saya dengan senang hati mendengar curhatnya. Habis ceritanya ajaib semua! Saking ajaibanya, andai dijadikan novel pun nggak bakal ada yang percaya ada kisah begitu. Tapi saya tahu seperti halnya Jinan, Titien jujur dan blak-blakan. Mulutnya nggak punya rem –dalam arti yang baik–. Dan yah… dalam banyak hal dia memang Jinan.

Ya, Titien ini memang esmosi-nya kayak roller coaster. Dia sering nangis-nangis berember-ember, tapi kalau ketemu saya bawaannya cekikikan melulu sampai saya berpikir ini anak habis nelen narkoba jenis apa sih? Titien juga ‘haus kasih sayang’. Dia tuh sukanya dipeluk-peluk gitu. Dan dia tipe orang yang harus punya teman (yang ini lebih mirip Cesa), juga kadang minder dan merasa tak berarti sampai kadang saya pengin nampar dia dan teriak, “Hey, sadar dong, kamu ini pinter, cantik, pandai nulis, bisa bahasa Inggris, bla… bla… bla….

Nanti di akhir cerita ada keterangan tentang kelainan bipolar disorder. Itulah yang menerangkan semua tingkah Jinan. Kurasa Titien sangat mendalami emosi Jinan karena dia juga kayak gitu in some kind of way.  Waktu saya baca kisah ini saya mbatin walah Jinan nih Titien banget!

Tapi Titien dengan cerdas memilih Cesa sebagai ‘story teller’ karena dengan demikian ia membuat jarak dari dirinya. Dia menghindar untuk menjadi terlalu subyektif. Dia menghindar menceritakan sudut pandang Jinan yang pasti akan jadi sangat membosankan dan bakal sulit dimengerti. Cesa membuat semuanya cair, logis dan mudah dimengerti.

Melihat Titien tumbuh

Sudah saya bilang sebenarnya saya melihat ini sebagai ‘Diary Titien’ dibanding ‘diary Cesa’. Berkali-kali saya mengkorelasikan apa yang tertulis di novel dengan apa yang saya ketahuai tentang Titien. Ini beberapa di antaranya:

  1. Gileeee sekarang Titien sudah jadi mall-explorer. Nggak nanggung-nanggung, dia dolannya ke Grand Indonesia dan Senayan City. Eh, yang ngenalin lo sama Grandi siapa, Tien? Gue? Kalau gue, beneran gue khilaf, nyeselnya sekarang. Beneran, untuk ke kantor anak ini nyaris tiap hari lewat Matraman, tapi kalau suruh ke Matraman sendiri nggak ngerti. Dia bahkan sama sekali nggak tahu kalau yang dia lewati tiap hari itu Matraman. Parah bener dah. Dia nggak pernah ke mana-mana. Naik transjakarta harus ditemani. Lah, sekarang… kayaknya semua mall di Jakarta dia tahu. Plus restorannya dia hafal! Buset dah.
  2. Bacaannya! Bacaannya ajiiib. Jadi ceritanya Jinan suka baca. Yang dibaca beragam buku. Nah, saya yakin bacaan Jinan itu refleksi bacaan Titien. Padahal ya ampun, dulu itu dia cuma baca Candy-Candy :p. Sebagai lulusan sastra Inggris, tentu Titien banyak baca buku. Tapi setahu saya dia jarang baca sastra serius. Bacaannya paling teenlit, itu pun bukan teenlit yang bermutu. Dia sendiri sampai geleng-geleg, “Kalau cuma begini, aku juga bisa bikin.” Iya, cuma masalahnya waktu itu dia nggak nulis dan kalau nulis ya sama sampahnya. Serius. Saya sampai harus menyuplainya dengan bacaan bergizi. Coba deh baca ini itu ini itu. Dan finally… saya sekarang sampai ngiri dengan apa yag dibacanya: the Silver Lining Playbook –dalam basaha Inggris–? Salman Rusdi? Tontonannya juga makin bervariasi. Dulu setahu saya dia cuma lihat Meteor Garden dan pol-polnya Boys Before Flower. Sekarang… yah udah meningkat dikit ke… Gossip Girl haha. Apa kabar Serena Van Der Woodsen?
  3. Kemampuannya menulis melesat bak meteor. Dulu aduuuh, baca draft novelnya saya nggak kuat. Saya lupa apa kritik saya kepadanya. Tapi again, karena dia mengagumi saya, dia mantukmantuk aja. Saya bilang tulisanya jelek, dia juga manggut-manggut. Pada kenyataannya, tulisannya saat itu sangat dipengaruhi emosinya yang labil. Kini dia bisa menjaga jarak –seperti saya bilang tadi–.

 

Titien bener-bener berjuang untuk menggapai impiannya menjadi penulis –padahal dia sendiri juga lagi berjuang menghadapi masalah pribadi; keluarga, cowok, pekerjaan–. Ia belajar ke sana ke mari. Dia bahkan berani naik bus sampai Banten demi belajar pada Gola Gong. Ngebus sampai Banten booo. Prestasi yang oke banget kan mengingat dia bahkan awalnya takut naik  trans Jakarta sendiri. Dia berguru pada AS Laksana. Dia datang ke Jogja dan belajar dengan penerbit Gradien. Pokoknya kayak calon murid perguruan Saolin lah. Nggak mau berhenti berlutut sampai diterima jadi murid.

 

Satu per satu cerpennya masuk antologi dan majalah. Bukan majalah sembarang, tapi majalah Gadis, Story, lalu Kompas Anak. Lain dengan novelnya, saya selalu memuji cerpennya. Awalnya dia masih euphoria dengan ‘syah’ nya statusnya sebagai penulis. Dia borong majalah yang memuat cerpennya. Dia kirim ke mana-mana, sampai-sampai honornya pun nggak cukup buat beli semua majalah itu. Dia sempat terlena, tapi dia cepat menyadarinya. Dia dengan tegas menolak menulis untuk antologi ‘ecek-ecek’. Dia pengin naik level. Dia mau persaingan yang sehat.

 

Dia berteman dengan editor, penulis, sastrawan, dan masuk komunitas sastra. Wow, saya aja nggak segitunya. Ini benar-benar lompatan besar baginya yang kenalan dengan orang baru aja awalnya susah. Ke tempat baru sendiri awalnya grogi. Saya benar-benar salut pada perjuangannya. Ketika novel perdananya ini akhirnya terbit, saya ikut terharu.

 

Yang tampak jelas dari novelnya adalah cara penulisannya yang rapi, sangat enak diikuti. Benar, urutan jalan ceritanya bolak-balik, maju mundur, tapi tetap lancar dan tidak bikin bingung. Emosi dan Jinan dan Cesa terungkap dengan baik. Dan meski ceritanya agak berderai-derai, Titien berhasil menghindari penyampaian menye-menye. Novel ini justru terasa sangat logis. Emosi dan logika bisa tampil dengan pas.

Yang saya protes adalah judulnya. Kenapa Diary Princesa? Bagi saya ini misleading karena saya tidak menemukan gaya bertutur ala dairy atau jurnal. Tapi overall: kompor gas! *Eh. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s