Nggege Mangsa

Angger sudah hampir tiga tahun, tapi masih menyusu. Saya bertekad menyapihnya saat ultahnya yang ketiga bulan Mei nanti. Tapi tiap kali melihat Angger masih sangat menikmati menyusu, saya tiba-tiba gamang. Saya rasa dia belum siap. Tapi, kapan dia siap? Saya sudah mulai jenuh. Saya mulai jengkel bila dia merengek minta nenen. Tidak, tidak. Dia harus saya sapih, bagaimana pun caranya.

Beberapa minggu lalu saya membaca artikel Samuel Mulia di Kompas Minggu. Dia bercerita temannya yang baru lulus SD sudah dikirim ke luar negeri untuk sekolah di sana. Alasannya: biar cepat mandiri. Dan ini tidak hanya terjadi pada satu temannya saja.

Samuel mempertanyakan alasan ini: kenapa orangtua pengin anaknya cepat-cepat mandiri? Samuel sendiri pernah diusir ayahnya saat ia kecil karena tak mau pergi berenang bersama sang ayah.

Tentu saja diusir dan disekolahkan keluar negeri itu dua hal yang berbeda, tapi ujungnya bisa jadi sama: anak merasa tertolak. Samuel menekankan bukankah mandiri itu bukan jatah anak-anak? Kalau anak-anak sudah bisa mandiri, lah ngapain dia butuh orangtua? Dan bukankah orangtualah yang punya jatah untuk memandirikan anak alih-alih sekolah atau orangtua asuh di luar negeri?

Membandingkan

Saya ingin menghadiahi Angger sepeda saat ia berulang tahun ke tiga Mei nanti. Angger tidak minta sih. Tapi saya pikir keren aja lah. Dan dia pasti suka. Teman-temannya usia segitu sudah pada main sepeda. Belum juga bulan Mei sepupu Angger, si Anggit sudah minta beli sepeda. Anggit sudah empat tahun dan merengek minta sepeda. Saya deg-degan, aduh gimana nih, jangan-jangan Angger pengin, padahal kan dia belum ulang tahun.

Kejutan. Saat Anggit pulang bawa sepeda, Angger bahkan tidak tertarik. Dia hanya menonton dan diam saja. Saya berkata, “Itu sepeda Anggit. Kalau Angger pengin, tunggu ya, besok Ayah Ibu belikan.” Apa kata Angger? “Angger tidak pengin sepeda! Angger belum bisa naik sepeda!”

Ha. Saya jadi malu sendiri. Dulu saya sering membelikan Angger mainan tanpa ia minta. Akibatnya? Mainan itu menumpuk di gudang. Oke, mungkin saya membeli mainan yang salah. Tapi lain kali waktu kami te toko mainan, Angger tak minta apa-apa juga, kecuali bola! Bolanya sudah banyak. Jadi saya menggiringnya ke mainan lain. Mobil-mobilan atau alat musik. Hasilnya? Dia tidak tertarik. Ya sudahlah. Sudah setahun lebih saya stop beli mainan. Nggak ada gunanya. Nggak dipakai juga.

Dan kini saya hendak melakukan hal yang sama; pengin membelikannya sepeda meski ia tak menginginkannya. Ia bahkan sadar betul ia belum bisa menaikinya.

Resahkah saya dia belum bisa naik sepeda bahkan belum pengin naik sepeda? Ya! Resah. Ya ampun, si Ikin anak tetangga baru empat tahun sudah bisa naik sepeda tanpa congkok, ngebut lagi. Kalau dipikir-pikir si Ikin ini juga udah bisa baca Al-Qur’an  dan bisa baca tulis. Jenius memang dia. Tapi Angger bukan Ikin.  Dan Angger ternyata tak ingin sepeda!

Nggege Mangsa

Dalam bahasa Jawa ada istilah nggege mangsa. Memburu-buru musim. Mempercepat sesuatu yang belum saatnya.

Betapa banyak orang tua yang pengin nggege mangsa. Saya yakin itu. Kalau tidak tentu tak bakal ada les calistung usia dini, tidak ada sekolah bayi, juga tak bakal ada cerita anak remaja nyetir dan nabrak orang hingga meninggal.

Kenapa kita membiarkan bahkan mendorong anak untuk bisa menyetir mobil saat usianya belum lagi matang? Karena nyopir mobil itu keren, karena kalau anak sudah bisa nyetir mobil kita nggak perlu repot mengantarnya ke mana-mana. Tapi kita lupa, makin mudah anak ke mana-mana, makin mudah pula ia lepas dari pengawasan kita. Kalau kita mengantar anak, ya kita repot, tapi setidaknya kita tahu dia ke mana.

Jadi semua ini berbalik ke orangtua ternyata.  Sama seperti saya yang ingin menyapih Angger. Karena apa? Karena saya sudah bosan repot menyusui. Kalau bisa sih, saya juga ingin Agger supaya bisa mandi sendiri, bisa makan sendiri, dan tidur sendiri. Beres sudah.

Kebanggaan Orangtua atau Kebahagiaan Anak?

Angger naik perosotan. Dia naik, lalu berhenti di tangga teratas, tidak jadi meluncur. Ah, sial, cemen bener anak saya ini.

“Ayo Ngger, turun aja, ibu tungguin di bawah.”

“Tidak! Angger tidak mau turun.”

 

Saya bisa marah dan jengkel pada sifat penakut sama anak saya. Tapi saya memilih untuk tidak jengkel. Saya tahu Angger berani meluncur di perosotan yang  lebih rendah. Jadi sudah pasti dia tidak takut meluncur. Saya tahu saat Angger duduk di tangga paling atas dia mengamati bahwa perosotan itu terlalu tinggi baginya. Jujur saya juga ngeri membayangkan dia meluncur dari sana. Alih-alih marah, saya justru bersyukur Angger menggunakan insting dan nalarnya.

 

Ada orangtua yang bangga anaknya yang belum lagi berusia dua tahun sudah bisa naik tangga sendiri. Pertanyaannya adalah: kamu tega liat anakmu yang masih kecil naik turun tangga sendiri?

 

Ada orangtua yang bangga anaknya sudah bisa naik motor pada saat usianya dua belas. Pertanyaannya: yakin anak dua belas tahun bisa mengendalikan emosi di jalan raya? Yakin anak usia segitu sudah bisa menggunakan nalarnya di saat-saat genting?

 

Sama seperti pohon, anak akan berbuah saat sudah siap. Saat musimnya tepat. Kita bisa merekayasanya dengan segala macam pupuk dan cahaya buatan, tapi efek negatifnya? Pasti ada. Minimal si pohon cepat lelah.

 

Jadi saya akan mengingatkan diri saya sendiri untuk lebih sabar. Untuk menunggu. Saya akan bersabar bila saat ini dia nempel terus sama saya. Ke mana-mana minta ditemani ibunya. Toh, sebentar lagi ia akan terbang. Tangannya akan terlepas dari genggaman saya. Sementara itu belum terjadi, biarkan saya menikmati hangat pipinya dan suara manjanya. Dia bisa mandiri kapan-kapan. Tidak sekarang. Masih banyak waktu. Saya tak akan menolaknya saat ini.Karena saya juga ingin menahannya saat ia ingin terbang nanti.   

2 thoughts on “Nggege Mangsa

    1. kenterate Post author

      Hewan tahu kapan anaknya sudah siap, kan yo nggak mungkin piyek netes terus diusir. Dalam kasus manusia, anak-anak sudah punya insting mandiri sebenarnya. Belajar merangkak dan berjalan tanpa disuruh itu bukti manusia pada dasarnya suka mandiri.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s