Kampanye Paling Efektif

Pemilu legislative tinggal seminggu lagi, tapi saya masih manyun bingung mau nyoblos siapa. Saya tidak pengin golput. Kalau ada yang baik, beneran saya pengin milih. Masalahnya saya tidak tahu mana yang baik, mana yang buruk (oke, kalau yang buruk saya sedikit tahu, missal: caleg A pernah nyelonong naik pesawat tanpa tiket yang benar, caleg B berasal dari keluarga besar koruptor, caleg C pengusaha rakus dan seterusnya). Tentu saja saya tidak akan memilih yang sudah jelas-jelas buruk. Nah tugas saya adalah menemukan caleg yang baik. Masalahnya adalah: jangankan tau kebaikannya, kenal saja tidak!

Bagaimana mungkin saya mengenal mereka? Apa bisa saya kenalan lewat poster pohon, spanduk, dan kalender? Saya dapat dua kalender, satu poster, satu selebaran, dua kartu nama dan TIDAK ADA satu pun yang membeberkan visi misi, biografi atau prestasi si caleg. Ya cuma nama dan nomor urut doang. Lah buat apa? Hm, saya curiga, mereka tidak menuliskan prestasi mereka karena memang tidak punya prestasi. Tsk.

Eh, saya kok nggak dapat kaos ya tahun ini? Pemilu yang lalu perasaan banyak deh (yang kemudian ditolak oleh bapak saya. Dia nggak mau disuap).

Kampanye Paling Efektif

Tapi saya punya calon yang kemungkinan besar akan saya coblos pas pemilu mendatang. Saya akan mencoblos dia dengan alasan: dia guru merajut di kampung kami. Sebenarnya saya tidak kenal beliau secara personal. Tapi dia sudah berbulan-bulan ini mengajar merajut di kampung saya GRATIS. Dan menurutnya, ia juga mengajarkan hal yang sama di kampung lain. Itu ia lakukan bertahun-tahun.

Saya lihat tutur katanya baik, dia juga peduli pendidikan anak, dandanannya sederhana –apa adanya lah—terus juga cuma naik motor. Pokoknya nggak pencitraan, baik pencitraan sok kaya maupun sok miskin. Saya juga belum mendengar hal-hal buruk tentang dia.

Saya bayangkan dia akan mendulang suara dari ibu-ibu di kampung-kampung itu. Dan ingat ‘jitu’ siji pitu, satu suara bisa menyeret tujuh suara. Bila caleg mendapat satu suara dari seorang ibu atau ayah, kemungkinan besar anaknya, orang tua/ mertua juga akan ikut.

Memang saya pesimistis dia akan menang. Urutannya saja ‘nomor blangkon’. Meski dia guru merajut yang oke dan aktivis pendididikan anak di Jogja, saya belum pernah tahu kapasitas dia dalam hal politik. Prestasi besarnya yang lain juga tidak terdengar. Tapi saya akan tetap nyoblos dia. Alasannya: yah, minimal dia tidak punya ‘dosa’. Bagi saya dia pilihan yang terbaik yang saya miliki di antara yang buruk-buruk atau tidak saya kenal saya sekali. Toh nggak ada manusia eh caleg yang benar-benar sempurna.

Menurut saya kampanye guru merajut saya itu sungguh efektif. Dia mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, pelan-pelan memperkenalkan diri, dan secara rutin ‘menyapa’ konstituennya. Saya jadi mengerti mengapa banyak caleg dan calon pejabat lainnya memanfaatkan metode blusukan ini. Dengan begitu minimal pemilihnya jadi kenal dan ‘kelingan’. Beda kan dengan poster pohon, boro-boro ingat angka dan namanya, dibaca saja mungkin tidak.

Tapi tunggu dulu, blusukan seperti apa? Kalau cuma blusukan buat jualan kecap ya maaf saja. Nggak laku!  Ada caleg lain yang kebetulan saya datangi kampanye blusukannya (maksudnya saya diundang gitu buat menyaksikan blusukan mereka). Saya memang ingat nama mereka, tapi ya… saya nggak bakal nyoblos mereka karena….  mereka cuma jualan kecap itu tadi.

Menurut saya sebagian besar pemilih sekarang itu sudah cerdas. Sudah cerdas atau sudah jenuh. Sudah jenuh dengan jargon-jargon penjual kecap tadi. Gimana nggak jenuh, semua jualan barang yang sama, dengan cara jualan yang sama pula. Uang pun tidak selalu mempan. Ingat, yang bagi-bagi uang tidak cuma satu padahal kita cuma bisa milih satu. Jadi simpan saja deh uang kalian yang pasti juga akan kalian ‘tagih’ balik lewat korupsi.

Alih-alih lakukan kampanye yang benar-benar personal. Tidak bisa instan tentu saja. Kalau Anda pengin nyaleg lima tahun mendatang, mulailah blusukan ‘tulus’ dari sekarang, cetak prestasi kecil satu per satu, ikut komunitas, jadi relawan bencana, jadi aktivis gender, jadi pemerhati pendidikan atau bidang apa pun yang jadi fokus perhatian Anda. Kalau tidak bisa: jadilah guru merajut. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s