Selingkuh. Menarik, nih.

Beberapa saat yang lalu, teman saya memasang status facebook seperti ini: ‘Kesetiaan seorang wanita diuji saat pria-nya g punya apa2.. Kesetiaan seorang pria diuji saat pria itu punya segalanya.. ‪#‎eaaa..’

Wah ini pernyataan menarik; menarik karena ternyata perselingkuhan dikaitkan erat dengan materi. Makin menarik karena saya barusan dapat cerita bahwa tetangga saya (laki-laki) selingkuh. Tetangga saya ini sopir bus, rumah masih nyicil, kendaraan juga cuma motor. Intinya: bukan orang berduit. Konon justru si perempuan selingkuhan yang punya duit.

Dan seperti biasa yang disalahkan adalah si isteri, “Salahe wong lanang ra diladeni. Makan nggak diperhatikan. Sering diomelin.”

Wah ini menarik juga. Kalau suami selingkuh, pasti salah istrinya. Coba kita balik kalau yang selingkuh si istri, apa suaminya juga bakal otomatis disalahkan? Salahe duwe bojo ayu ditinggal lunga terus, misalnya. Saya kok ragu ya, yang ada biasanya sih si perempuan dituduh sebagai wanita ‘gatel’. Ya nggak? Atau saya salah di sini?

Anyway, apa ya kalau istri sering ngomel maka kita punya hak untuk selingkuh? Apa ya kalau si suami tidak memberi nafkah cukup, kita punya hak untuk selingkuh?

Ini jadi lebih menarik karena saya dan geng rumpi –kumpulan emak-emak yang suka ngumpul tanpa tujuan jelas kecuali ngerumpi—baru saja merumpikan topik menarik ini: SELINGKUH.

Salah satu anggota geng rumpi (rumpi, yaelah  80an banget nggak sih?) bilang ayahnya pernah berkata seperti ini, “Semua laki-laki itu b*j*ng*n. Aku yang nggak jadi b*j*ng*n itu karena aku nggak punya uang.”

Pernyataan ini disambung cerita bahwa teman saya ini didatangi kerabat laki-laki dan tiba-tiba si kerabat mengungkapkan pengakuan. Kataya selama puluhan tahun menikah, hanya dua tahun pertama dia setia. Sisanya mblayang sama cewek-cewek ke mana-mana. Lalu suatu hari dia seperti didatangi Yesus yang menegur kelakuannya. Ia jadi merasa sangat berdosa dan kemudian bertobat. Setelah bertobat, dia sakit kanker. Yang terbukti masih (terpaksa) setia mendampingi ya istrinya.

 “Kenapa dia selingkuh?” tanya salah satu anggota geng rumpi.

“Ya mencari kebahagiaan.”

“Memangnya dia sama istrinya nggak bahagia?”

“Bahagia.”

“Lah kok masih selingkuh?”

Hm, menarik ini.

 

Sebab selingkuh

Susah mencari penyebab definite selingkuh. Faktor uang bisa dicoret. Perempuan yang sudah dinafkahi total sama suaminya saja bisa selingkuh. Tunjuk kasus selebritis perempuan yang selingkuh. Kurang apa coba? Uang belanja 60 juta sebulan kok ya tetap selingkuh.

Sebaliknya laki-laki mlarat yang selingkuh juga ada. Tengok kanan kiri. Nah, sudah ketemu kan contoh laki-laki mlarat selingkuh? Ora tinemu nalar.  Wong jelas mlarat kok selingkuh. Istri anak keleleran kok masih cari ‘istri lain’. (Wow ternyata si ‘istri lain’ nya justru kaya).

Faktor kebahagiaan juga harus dicoret.

Faktor apa lagi? Sosial (terpengaruh tren misalnya), faktor psikologis (emang rada nggak beres), faktor seksual (pasangan impoten), faktor pikun (lupa punya istri), faktor jabatan (habis gimana dong, kalau kunjungan ke daerah udah disuguhi kayak begituan, masa nggak dipakai), faktor agama (mengikuti sunah). Apalagi? Ayo silakan sebutkan.

Saya yakin semua mentok. Akhirnya kesimpulannya bakal ke situ-situ juga: kembali pada orangnya, kembali pada akhlak, kembali pada kepribadian, kembali pada komitmen. Kalau orangnya memang punya intergritas dan komitmen pasti nggak bakal selingkuh.

Ini juga menarik karena teman saya lalu menyambung dengan cerita seperti ini:

Ada pasangan cowok-cewek pacaran empat tahun. Semua berjalan lancar. Restu orang tua dikantongi. Semua serba baik. Tahun pertama nikah, si suami selingkuh dengan satu cewek, tahun kedua dengan dua cewek, tahun ketiga tiga cewek, sampai tahun ke sepuluh, udah nggak keitung selingkuhannya.

Akhirnya mereka cerai. Tiga anak mereka jatuh ke tangan suami karena kebetulan si suami dekat dengan kekuasaan hukum dan parahnya lagi si istri tidak punya penghasilan. Dia tak pernah cari duit sama sekali. Lulus kuliah langsung nikah. Mau cari kerja nggak ada pengalaman dan umur juga sudah tinggi .

“Terus gimana dong kita bisa cari pasangan yang bener? Yang awalnya bagus-bagus saja aja langsung bisa belok gitu kok setelah nikah.”

Geng rumpi mulai putus asa, “Yah nikah itu kan kayak narik undian. Untung-untungan dah.” Yaelah, setelah capek menganalisis akhirnya mak plekenyik. Tapi semua setuju.

“Yang penting kita harus berdaya. Jadi kalau akhirnya suami selingkuh dan kita harus pisah dari pasangan kita tetap bisa mandiri, tetap bisa mempertahankan anak-anak kita.”

Semua setuju. Well, mungkin karena nggak tahu apa penyebab selingkuh, kita tidak bisa mencegah perselingkuhan, tapi kita bisa membuat diri kita berdaya. 

2 thoughts on “Selingkuh. Menarik, nih.

    1. kenterate Post author

      Aih, maaf, tentu bukan itu maksud saya. Maksud saya ada beberapa orang yang beristri lebih dari satu dengan alasan agama. Tapi terima kasih koreksinya. Saya hapus demi menghilangkan salah paham.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s