Seribu Teman… di Hape

Saya ganti hape beberapa saat yang lalu – dua tahun lalu maksud saya–. Alasannya –yang cukup dibuat-buat—adalah: baterainya sudah ngedrop dan entah apanya yang rusak, kadang nomor saya sulit dihubungi.

Sayangnya, setelah saya tidak ‘bekerja’ dan menjadi golongan menengah ke bawah, saya tidak bisa membeli hape yang kelasnya lebih tinggi dibanding hape saya yang dulu –Nokia E 71–. Jadi saya terpaksa tukar tambah dengan hape yang lebih murah, yang harga barunya cuma sepertujuh E71 kesayangan saya itu. Hiks.

Tapi saya menghibur diri: sudahlah, toh saya tidak bekerja lagi dan yang saya butuhkan cuma menelepon dan kirim SMS. Paling pol memotret Angger dan mengirim fotonya pada Anto. Sudah. Tidak cukup menghibur, sih. Downgrade gadget itu menyakitkan, jenderal. Dan harga ternyata nggak nipu. Gadget berharga murah itu tidak nyaman digunakan.

Saya sebenarnya tidak suka gonta-ganti hape. Kalau saya sudah ganti selama delapan kali dalam rentang waktu dua belas tahun, alasan saya selalu ‘agak valid’, misalnya performa si hape sudah tidak oke, contohnya: huruf keypadnya sudah pudar hehe.

Phone-book

Satu hal yang saya benci dari ganti hape adalah transfer phone-booknya. Biasanya sih, saya transfer sendiri dengan kartu-kartu perdana dengan sabar. Pernah saya menghabiskan tiga kartu perdana untuk mentransfer semua nama dan nomor itu.

Kali ini karena saya tidak sabar, dan karena hape harus ditukar tambah, plus karena saya yakin mestinya ada software komputer yang mampu melaksanakan tugas itu dengan mudah, saya tidak melakukannya sendiri. Saya meminta bantuan pada petugas konter hape tempat saya membeli hape baru. Dan ternyata…. dia menyerah!

Alasannya: kontak di phone-book saya mencapai 1040! Seribu empat puluh nomor tersimpan di hape itu. Hah! Saya juga kaget.

“Banyak banget Mbak. Ini sejak kapan? Saya saja paling pol nyimpan 200 kontak. Seribu empat puluh itu siapa saja?”

Astaga. Benar juga ya. Seribu empat puluh orang itu banyak banget lho. Dan siapa saja mereka?

Phone-book itu memang koleksi saya sejak punya hape pertama kali, yaitu zaman kuliah. Selanjutnya, tiap kali reuni, saya lantas menyimpan nomor-nomor teman SMP, SMA, bahkan teman SD. Teman SD mungkin 15 orang, SMP minimal 20 orang , SMA mungkin sekitar 40, teman kuliah juga mungkin 40an. Nah, baru itu saja sudah lebih dari 100 kan?

Belum lagi teman-teman kerja –saya ganti kantor empat kali–, dan relasi-relasi yang bertemu selama saya kerja. Lalu ditambah hape saudara dekat dan saudara jauuuh sekali. Lalu ada nomor delivery pizza hut –pizza hut Semarang, waktu saya tugas seminggu di sana– , apotek K 24, restoran ini itu, radio ini itu, dan agen tiket ini itu. Juga nomor rekening dan nomor telepon customer service bank. Wajar kan, kalau sampai seribu lebih?

Yang tidak wajar sebenarnya: sebagian dari nomor itu tidak pernah saya hubungi lagi. Bahkan beberapa di antaranya sudah tidak saya ingat lagi! Sewaktu melihat nama ‘Agus’, saya tidak yakin ini Agus yang mana. Saat melihat nama ‘Juwita’, saya tidak ingat Juwita itu siapa. Saya juga tidak yakin apakah nomor-nomor itu masih aktif setelah dua belas tahun berlalu.

Dan kalau mau jujur, berapa nomor sih yang aktif berhubungan lewat hape dengan kita? Tidak sampai dua puluh saya rasa. Teman-teman yang aktif berhubungan di dunia nyata –alias ketemu muka secara berkala—juga rata-rata segitu, antara dua puluh hingga tiga puluh. Harus saya akui, saya memang bukan cewek gaul.

Tapi ya begitulah, saya memang paling enggan membuang ‘sampah’. Saya selalu berpikir, siapa tahu kelak saya masih membutuhkan nomor-nomor itu.

Tapi akhirnya, saya menyerah. Saya memilih membuang semua nomor-nomor itu. Nomor itu saya ikhlaskan untuk hilang. Yang penting saya punya nomor keluarga dan beberapa teman dekat. Alasannya gampang: bila butuh kontak si Anu, saya bisa bertanya pada si Ani. Dan toh ada e-mail dan facebook, kan?

Benar saja, ternyata saya nggak kehilangan-kehilangan amat. Beberapa teman berkirim SMS, dan saya dengan sopan meminta maaf saya tidak tahu siapa dia karena phone-book saya barusan di-reset. Mereka mengerti. Saya juga meminta pada seorang teman beberapa nomor teman-teman lain yang saya butuhkan. Beberapa saya hubungi lewat face-book dan saya sampaikan nomor mereka hilang. Dan ah, ternyata, saya tidak membutuhkan seribu lebih ‘teman’ di phone-book saya!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s