Orangtua Tanpa Rasa Bersalah

Peringatan: Ini bukan artikel ilmiah dan jangan dijadikan rujukan.

Jadi anak zaman sekarang itu susah: banyak godaannya. Jadi orangtua zaman sekarang itu juga susah: banyak teorinya, banyak larangannya, banyak… rasa bersalahnya!

Serius. Contohnya saya. Saya lagi galau karena mendekati usia tiga tahun Angger belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti menyusu. Saya sebenarnya ingin membiarkan hingga dia berhenti sendiri. Tapi naga-naganya kalau saya biarkan, ia bakal menyusu hingga ia berkumis. Teori sounding dan segala macam itu nggak mempan. Mau tak mau saya harus menerapkan jurus sapih paksa.

Kalau dulu sih gampang aja solusinya: oleskan brotowali ke payudara atau plester payudara atau olesi payudara dengan obat merah, pokoknya sesuatu yang mengerikan atau… disuwuk oleh dukun. Suwuk itu semacam hypnosis, banyak yang bilang ini berhasil.

Tapi sialnya sekarang sudah teori weaning with love menyapih dengan cinta! Lah. Prinsipnya menyusui adalah proses yang penuh cinta, maka akhirilah proses itu dengan lembut dan penuh cinta pula. Pastikan anak, ayah, dan ibu sudah siap. Jangan sampai menimbulkan trauma pada si anak. Jangan sampai anak merasa tertolak. Jangan bohong dengan mengatakan payudara ibu sakit dan seterusnya. Dan tentu saja jangan pakai brotowali.

Kurangi frekuensinya sedikit demi sedikit, alihkan perhatiannnya, sounding ke si anak kalau dia sudah besar, anak besar minum dengan gelas dan seterusnya. Memangnya itu tidak saya lakukan? Sudah SETAHUN lebih saya melakukan itu woi!

Bersalah

Saya masih ingat postingan di salah satu grup pendukung gentle birth –nah, sekarang melahirkan aja ada macem-macem kan metodenya, meski keluarnya ya lewat situ-situ juga—yang mengungkapnya penyesalannya karena dia melahirkan dengan ceasar! Katanya, “Pantas anak saya jadi nakal-nakal.”

Esensi gentle birth adalah melahirkan dengan segala kasih dan kelembutan. Proses penuh kelembutan ini diharapkan menjadi pengaruh positif dalam tumbuh kembang anak, termasuk emosinya nanti. Gentle birth adalah konsep. Tapi entah gimana gentle birth jadi diartikan melahirkan dengan cara alami sambil nyemplung di kolam dan diiringi uyon-uyon.  Jadi perempuan yang melahirkan secara caesar (terlebih-lebih yang memang memilih cara ini karena nggak tahan sakit) adalah perempuan ‘terkutuk’, ini istilah yang terlalu dramatis sih, tapi ya pokoknya gitu deh.  Nggak bener juga untuk teriak-teriak saat melahirkan apalagi memaki-maki, menendang-nendang suami dan seterusnya. Nanti anaknya bisa jadi anak liar. Tentu saja ini pandangan yang nggak bener, tapi itulah, si ibu jadi sudah merasa bersalah atas sesuatu yang mungkin tidak salah.

Saya suka dengan konsep gentle birth. Itu konsep yang indah. Saya pengin juga menerapkan konsep itu bila punya anak lagi, tapi haloo… saya kenal banyak anak yang lahir lewat operasi caesar dan menjadi anak baik. Sebaliknya banyak pula bocah ndableg yang dulu lahir lewat jalan alami (Hm, mungkin dulunya ibunya nyumpah serapah pas melahirkan ya, entahlah).

Saya yakin ibu saya dulu seperti halnya ibu-ibu pada masa itu, nggak kenal dengan konsep gentle-gentle-an. Tapi kalau proses persalinan yang satu jam itu membekas pada saya, saya… saya tidak merasakannya.

Teman saya menyesal memarahi anaknya yang menggores layar i-padnya. Teorinya: memarahi anak saat ia merusak barang tanpa sengaja membuat si anak merasa tidak berharga. Setidaknya ia bakal merasa harga dirinya lebih rendah dibanding harga barang.

Nah, tuh, marah saat anak kita merusakkan gadget sekian juta saja tidak boleh! Susah, kan?

Sampai-sampai ada lho sekolah yang tidak pernah menganggap jawaban muridnya salah! Semua murid dapat nilai bagus, dapat komentar good, very good, excellent. Jawaban itu nggak penting, yang penting logikanya.

Kalau ada soal: Kita masuk rumah lewat…

a. pintu                 b. jendela            c. atap

jawaban apa pun yang dipilih si anak benar selama dia bisa menerangkan. Nggak masalah bila si anak menerangkan seperti ini: saya lewat atap biar nggak ketahuan si tuan rumah. Nggak papa, wong logis kok.  

Jadi anak zaman sekarang itu: nggak boleh trauma, nggak boleh dibohongi, nggak boleh disakiti, nggak boleh kecewa, harus selalu dipuji, tidak boleh dimarahi, harus selalu benar, tidak boleh salah.

Masalahnya adalah: dalam hidup memang ada yang benar dan ada yang salah. Dalam hidup, ada tindakan terpuji dan tercela. Dalam hidup, dalam satu titik kita akan kesakitan dan terluka.

Sakit dan luka bahkan merupakan cara agar anak dapat lebih kuat, lebih berani, lebih menghargai kebahagiaan.

Dalam artikel yang pernah saya baca (maaf, saya cari kok nggak ketemu) disebutkan orang Indonesia itu terlalu memanjakan anaknya. Sampai-sampai pas imunisasi saja si ibu bilang, “Maaf ya Nak, sakit sedikit.” Konon si ibu sampai ditegur bidannya (kebetulan dia imunisasi di luar negeri), “Ngapain minta maaf? Ini kan demi kebaikan si anak!”

Ngapain kita harus menyesal bila kita memarahi anak sekali-kali? Ngapain harus minta maaf saat kita harus meninggalkan anak untuk bekerja? Ngapain harus berlembut-lembut saat anak memang harus dikerasi agar mengerti?

Saya jadi maklum kenapa Amy Chua penulis Battle Hymn of Tiger Mother jadi sewot ketika sekolah mengeluh sekarang mereka (sekolah) kerepotan karena keras sedikit si anak, orangtua siswa pada protes semua. Amy Chua justru mendukung sekolah untuk mendisiplinkan anak. Perkara gurunya butuh teriak dikit-dikit ya nggak masalah.

Tanpa Kekerasan

Saya penganut ahimsa. Saya percaya kekerasan tidak akan menyelesaikan apa-apa, hanya meningalkan luka. Saya juga menyesal habis-habisan mengingat tangan saya pernah melayang sekali memukul pantat Angger saat ia menggigit waktu menyusu. Mungkin Angger sendiri sudah nggak ingat (dan toh dia nggak kapok menyusu), tapi penyesalan saya justru lebih panjang.

Jadi saya mengernyit ketika ada orangtua dengan sadar nylenthik alias menyentil anaknya demi mengajari si anak mana yang benar mana yang salah ala Pavlov. Misalnya, begitu si anak hendak merampas kacamata orangtuanya, sentil tangannya. Perlahan saja. Nanti si anak akan mundur. Begitu dia mau merampas kacamata lagi, sentil lagi. Dia akan mengulanginya dan kita harus konsisten menyentilnya. Dua hari saja. Dijamin si anak akan tahu dia tak boleh melakukannya.

Kernyitan saya mulai hilang.

Menurutnya setelah itu pekerjaannya jadi ringan. Dia tak pernah terpaksa berteriak-teriak mengatur anaknya. Anaknya jadi penurut dan manis (dan memang anaknya memang sangat penurut dan manis).

Bagaimana kalau Angger merebut kacamata saya? Saya ambil kacamata itu kembali. Kalau dia tidak mau melepas kacamata itu, saya akan membiarkannya sambil tetap mengawasinya sehingga saya bisa mencegahnya melakukan hal buruk pada kacamata itu. Lalu saya akan ambil kacamata itu diam-diam saat dia tidak menyadarinya.  Menurut saya, anak butuh mengeksplorasi benda di sekelilingnya. Angger tidak sedang menekuk-nekuk kacamata, dia sedang belajar sifat-sifat zat dan bentuk benda. Angger tidak sedang merebut kacamata, dia sedang mengembangkan rasa ingin tahunya. Akibatnya: satu kacamata saya patah. Padahal BARU!

Tapi saya tidak marah, dong karena… yah orangtua zaman sekarang tidak boleh marah. Hahaha, itu toh cuma kacamata. Meski baru. Dan yah… tidak murah. Tapi cuma barang, ya kan?

Tidak dan Jangan

Orangtua zaman sekarang tidak boleh mengatakan TIDAK dan JANGAN. Serius.

“Tidak” dan “Jangan” adalah kata negatif. Celakanya kata ini tidak memiliki simbol dalam otak anak. Celakanya lagi batita baru bisa menangkap ujung kalimat. Jadi kalau kita bilang ‘jangan lari’, maka si anak akan menangkap kata ‘lari’ nya saja dan malah justru terdorong untuk berlari. Dan kata ‘jangan’ itu begitu mengungkung. Anak jadi serba takut bila terlalu sering dilarang.

Jadi kalau tak ingin anak berlari, cukup bilang, “Dik, jalan saja.” Kalau tak ingin anaknya teriak-teriak, cukup bilang, “Dik, ngomongnya yang pelan ya.” Awalnya saya taat dengan teori ini, tapi kok lama-lama saya jadi repot sendiri ya?

Bagaimana bila saya ingin Angger berhenti menghambur-hampurkan terigu di dapur? Bagaimana bila saya ingin Angger berhenti menjambak rambut saya? Bagaimana bila rajutan yang saya kerjakan susah payah dibuatnya buyar dengan sekali tarikan? Bagaimana bila dia mendorong-dorong tubuh saya dari belakang saat saya sedang menggoreng ayam dalam minyak panas?

Saya putuskan Angger harus mengenal kata ‘tidak’ dan ‘jangan’ sedari dini.

Memang banyak hal yang saya rasa tidak perlu dilarang meski itu bikin saya pusing (lari-lari di dalam rumah, teriak-teriak atau memberantakkan mainan). Tapi ada yang secara tegas harus saya larang. JANGAN GANGGU IBU KALAU IBU LAGI KERJA! NGERTI?

Tak Ada yang Sempurna

Mau jungkir balik gimana pun, tak ada metode pengasuhan anak yang sempurna. Semua ada sisi bagus dan buruknya. Kadang baik bagi anak, tapi buruk bagi kita, misalnya membiarkan anak membantu kita mencuci (pernah coba?). Kadang baik bagi kita, tapi buruk bagi si anak, misalnya membiarkan si anak diasuh sponge-bob selama satu jam selama kita memasak makan malam.

Kalau ada yang paten sempurna, wah nggak susah kita ngasuh anak, bukan begitu? Kita hanya bisa mengambil yang terbaik dengan kondisi kita. Ada beberapa hal yang perlu kita kompromikan. Selama semuanya masih dalam koridor cinta kasih, saya pikir tak ada salahnya kita memarahi anak sesekali. Tak apa menyalahkan anak ketika ia bilang kita bisa masuk rumah lewat atap. Siapa tahu dia memang tak tahu mana yang atap mana yang pintu.

Kalau kita mengejar kesempurnaan, ya kita bakal stress sendiri karena memang nggak ada. Ibu saya dulu tentunya menyapih saya dengan metode ‘kebohongan’, tapi saya tidak ingat. Kalau pun ingat kok ya saya bakal memaafkannya karena kejujuran yang dia berikan setelah itu jauh lebih banyak.

Ibu saya dulu kadang memukul kakak saya (saya dan adik-adik tidak pernah dipukul, simply karena saya dan adik-adik tidak sendableg kakak saya), tapi saya yakin kakak saya memaafkan ibu karena cinta ibu jauh melebihi pukulannya yang kadang-kadang.

Sekali lagi, saya tetap tidak menyetujui kekerasan, tapi saya hendak menegaskan: kalau Anda pernah memukul anak Anda sekali dua kali, pernah berbohong sekali-kali, lepas kendali terkadang, maafkanlah diri Anda. Jadilah orangtua yang tidak tergayuti rasa bersalah setiap waktu. Anda orangtua, Anda manusia, bukan malaikat.

Dan tanyalah pada anak Anda apa pendapatnya tentang Anda. Percayalah Anda tetaplah paling hebat di matanya. Setidaknya saat ia masih balita.

2 thoughts on “Orangtua Tanpa Rasa Bersalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s