Membenci Itu Repot Sekali

Memendam kebencian itu, saya pernah tulis di salah satu novel saya, seperti membawa tomat busuk ke mana-mana. Sudah nggak ada gunanya, berat, baunya nggak enak, dan… cuma merepotkan diri sendiri. Jika Anda membenci seseorang, Andalah yang paling repot karena sungguh kadang orang yang Anda benci tidak tahu sama sekali, bahkan tidak peduli.

Di kampung saya ada seorang perempuan tua, sebut saja namanya Bu Pur. Di lingkungan sekitarnya saja ada beberapa tetangga yang ia benci. Itu yang saya ketahui. Entah berapa yang tidak saya ketahui. Agak mengejutkan sebenarnya karena di permukaan Bu Pur itu maniiisss sekali. Dia selalu bersikap ramah pada saya. Jadi agak mengherankan ketika beberapa tetangga bilang dia bahkan bisa mengumpat dengan kosa kata ‘kebun binatang’ pada seorang anak kecil gara-gara anak tersebut menaiki sepeda saat lewat samping rumahnya –yang memang gang sempit dan seyogyanya menjadi daerah bebas kendaraan–. Tapi kenapa harus mengumpat? Pada anak kecil pula.

Dengan tetangga sampingnya saja Bu Pur ini sudah tidak akur. Agak lucu karena tetangga sampingnya, sebut saja keluarga Gino, adalah sepasang suami istri tua yang sudah ‘tak berdaya’. Lebih lucu lagi kalau diingat keluarga Gino sering menolong Bu Pur. Bahkan cucu Bu Gino adalah bos anak Bu Pur.  

Singkat cerita suatu sore Bu Pur lewat gang belakang rumah saya. Ayah saya yang kebetulan ada di halaman menyapanya, “Wah, mau ke mana Bu?”

“Ini, ke apotek mau cari obat.”

“Wah, Bu Gino tadi juga barusan lewat sini, mau ke apotek juga,” kata Ayah, lupa sama sekali bahwa Bu Pur bermusuhan dengan Bu Gino. Dan apa yang terjadi? Bu Pur berganti arah, nggak jadi ke apotek.

Dan kebencian merembet

Suatu saat, kami semua hendak melayat. Seperti biasa, bila lokasi takziah agak jauh, kami rame-rame menyewa ‘colt’ –begitu kami menyebut angkot kecil di daerah kami–. Bu Pur tergopoh-gopoh mendatangi Bu Mi, “Bu Mi, aku ikut layat ya.”

Saya yang kebetulan mendengar berkata, “Bu Pur bisa mendaftar  ke bu Win. Yang mengurusi kendaraan Bu Win kok.”

Bu Pur mencibir, “Nggak mbak, saya nggak mau berurusan dengan Bu Win.”

Eh? Saya baru tahu kalau Bu Pur ini ternyata juga sengggiiit banget sama Bu Win.

Wah, wah, jadi berapa orang yang dibenci Bu Pur ini? Kalau Anda benci satu orang, saya bisa bilang mungkin orang yang Anda benci itulah sumber masalahnya. Tapi kalau Anda benci BANYAK orang, well, well… mungkin Andalah yang bermasalah.

Anyway, repot sekali kalau Bu Pur benci pada Bu Win. Soalnya Bu Win ini adalah pengurus kampung dan seksi ‘transportasi’ di kampung kami. Dialah yang menyewa colt, mendaftar peserta, mengumpulkan uang dan sebagainya.

Alhasil, dia ‘ketinggalan’ lagi saat ada acara silaturahim ke tempat lain. Kali ini kami akan menengok tetangga kami yang pindah ke rumah baru.

Bu Pur melihat saya jalan beriringan dengan Angger. “Mau ke mana?” tanyanya. Bingunglah saya menjawab. Bu Pur entah bagaimana jelas tidak tahu kami punya acara sore itu. Tapi kalau saya beritahu, bisa geger dunia.

Jadi saya menjawab diplomatis, “Mau jalan-jalan.” Aduh, saya jadi salah tingkah sendiri karena saya sadar betul Bu Pur bakal tahu juga. Benar saja, setelah itu ibu-ibu beriringan menuju colt yang sudah menunggu dan Bu Pur penasaran lalu menyusul kami.

“Ada apa ini?” tanyanya.

Kami bercerita kami akan silaturahim dan mengundang dia ikut. Tapi dia tahu persis Bu Win panitia di sini. “Nggak, nggak ah, saya nggak mau kalau sama dia,” kata Bu Pur.

Nah, kan?

Kepada peserta lain dia tanya, “Kenapa saya nggak dikasih tahu?”

“Eng, lupa kali,” jawab yang ditanya.

“Sama memang sudah nggak dianggap manusia!” Kata Bu Pur.

Nah, tuh, nggak diundang marah, diundang juga salah karena dia nggak mau berada dalam satu kendaraan dengan musuhnya. Repotnya kami hanya men-carter satu colt saja. Coba dia bawa mobil sendiri.

Repot

Jeng Yus –yang ternyata juga dimusuhi Bu Pur—bercerita pernah bu Pur membanting pintu saat ia lewat di depan rumah Bu Pur.

Oh saya bisa membayangkan adegan itu karena Bu Pur sering sekali duduk di dekat pintu rumahnya yang mepet gang. Pintunya dibuka sedikit, cukup untuk melihat orang yang lewat. Dan kalau yang lewat adalah orang yang tidak disukainya, maka pintu itu bakal dibanting.

Tapi terbayangkan nggak sih betapa capeknya duduk tanpa ngapa-ngapain selain menunggu ‘musuh’ lewat biar bisa membanting pintu?

Betapa repotnya membenci orang lain itu. Bu Pur misalnya, jarang sekali lewat depan rumah Bu Win yang cuma berjarak beberapa langkah dari rumahnya. Dia rela menempuh jalan yang lebih jauh demi menghindari ketemu Bu Win.

Bu Win sendiri ngakunya nggak tahu kenapa Bu Pur bisa seantipati itu padanya.

Begitulah, kalau kita benci seseorang, kita bisa gelisah sendiri, repot sendiri, sementara yang dibenci bisa tetap melenggang ke mana-mana. Memenjarakan diri sendiri, bukan begitu? 

2 thoughts on “Membenci Itu Repot Sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s