Katakan Cinta

I love you bukan kata-kata yang susah diucapkan, demikian pula aku sayang kamu atau aku mencintaimu. Maksud saya dibanding kalimat ‘taplak gupak glepung’*. Tapi sebagian orang susah mengucapkannya. Kenapa? Banyak hal. Karena malu, karena budaya,  karena mencintai itu membuat kita jadi submisif –keliatan tak berdaya gitu—dan seterusnya.

Tapi salah satunya karena tidak terbiasa.

Saya dan Anto sama-sama berasal dari budaya Jawa yang tidak terbiasa berterus terang soal perasaan –sebenarnya dalam hal apa pun–, apalagi soal cinta-cintaan. Saru! Ra ilok. Akibatnya seumur-umur saya belum pernah bisa bilang cinta pada ibu atau ayah. Saya tak pernah bilang betapa berartinya mereka bagi saya.

Tapi saya bertekad mengubah hal ini dalam hubungan saya dengan Anto. Soalnya nyesek banget saat kita nggak bisa bilang ‘aku cinta kamu’ saat saya benar-benar butuh mengucapkannya. Jadilah, sejak pacaran kami sedikit demi sedikit mulai belajar mengucapkannya. Kini setelah hampir sepuluh tahun menikah kami masih mengucapkannya hampir setiap hari. Biasanya kami saling mengucapkan ‘I Love You’ saat Anto berangkat kerja.

“Aku berangkat ya.”

“Oke, ati-ati. I love you.”

“I love you, too.”

 

Kenapa pakai bahasa Inggris? Nggak tahu juga. Mungkin karena lebih enak di lidah. Lebih gampang diucapkan, dan k arena kalau kami pakai bahasa Jawa bakal terasa kayak ketoprak.

Nimas…”

“Ya kakang…”

“Aku tresna marang sliramu.”

Truthuk thuk thuk thuk.

 

Basikah mengucapkan I love you tiap hari? Anehnya kok tidak ya. Beberapa orang bilang kalau kata cinta diobral rasanya bakal hambar, bakal kehilangan makna, bakal jadi omong kosong. Itu tidak terjadi pada diri saya. Hm, mungkin karena saya memang merasakannya dalam hati (suit suit).  Meski begitu dialog seperti ini kadang terjadi.

“Aku berangkat ya.”

“Oke, ati-ati. I love you.”

“I love you, too.”

“Eh, aku sungguh-sungguh.”

“Ha?”

“Aku sungguh-sungguh saat bilang I love you.”

“Eh, aku juga selalu sungguh-sungguh kok.”

Kyaaaaa!!! Jangan bayangkan dialog ini terjadi di rumah nan sempurna, taman nan indah, atau pagi dengan kicau burung ya. Dialog ini sering terjadi saat saya masih pakai ‘piama’, rambut awut-awutan, dan terjadi di bawah genteng yang super-trocoh (bocor).

Yah, kadang saat semua itu jadi rutinitas yang otomatis, saya merasa perlu mengingatkan bahwa semua itu diucap dari lubuk hati yang terdalam. Halah.

Di siang hari, Anto sering SMS, singkat saja, ‘Angger lagi ngapain? Kangen kalian!’

Itu cukup. Cukup untuk mengingatkan saya bahwa di mana pun Anto berada, kami selalu ada di dalam hatinya. Cieh, saya kok jadi gombal banget begini.

Malam hari kadang saat berbaring tidur dan kami sudah mengantuk dan semua sudah sunyi Anto tiba-tiba berkata, “Makasih ya.”

“Untuk apa?”

“Menemaniku.”  

Sweet kan?

Cinta Perlu Diucapkan?

Cinta itu nggak butuh kata-kata. Nggak perlu diucapkan. Cinta itu adalah perbuatan. Cinta itu ditunjukkan.

Ya, ya, silakan saja. Ini perkara selera kok. Menurut beberapa orang pelukan, pandangan mata, pertolongan, kesiapsediaan sudah cukup menunjukkan kita sayang saya seseorang.

Tapi saya lebih suka bia cinta itu diucapkan dan ditunjukkan. Cinta juga perlu dirayakan, ditegaskan. Saya memasak untukmu karena saya cinta padamu. Saya mau ngantar kamu jauh sekali pun karena aku menyayangimu. Dan seterusnya.

Meski jujur saja ya, karena tidak terbiasa saya juga bakal kikuk habis mengucapkan cinta atau mendapat ucapan cinta dari orang selain Anto. Saya bayangkan pasti saya salah tingkah bila Bapak saya bilang ‘aku sayang kamu’. Dipeluk olehnya pun bakal terasa kikuk.

Anyway, itulah kenapa saya merayakan Valentine’s –kecuali Valentine’s tahun ini gara-gara abu Kelud–. Terserah orang bilang itu budaya barat lah, budayanya orang… lah (nggak tega saya nyebutnya), saya suka bila ada hari yang mengingatkan kita untuk duduk sejenak, mengenang hal-hal yang indah dari orang-orang dekat kita sekaligus mengingatkan mereka betapa berartinya kita bagi satu sama lain.

Kalau tidak suka Valentine’s toh masih banyak hari untuk mengungkapkan cinta; hari ibu, hari ulang tahun, hari pernikahan, dan kenapa tidak menciptakan hari sendiri? Tanggal 13 Januari misalnya? Tetapkan sebagai hari kasih sayang keluarga.

Tapi mencintai itu kan tiap hari? Tanpa hari kasih sayang kita harus saling mencintai dong. Lah, apa kalau ada hari Valentine’s itu berarti hari lain nggak saling mencintai? Kalau kita merdeka tanggal 17 Agustus itu apa ya kita hari yang lain tidak merdeka?

Saya sepakat kita semua perlu moment pengingat. Di antara semua jadwal, kesibukan, dan rutinitas yang menyita waktu, kadang kita lupa mengapa kita melakukan ini semua. Kadang kita juga butuh duduk menarik napas, minum cokelat hangat bersama orang yang kita cintai dan mengatakan betapa orang itu sangat berarti bagi kita. Kalau masih tak sempat, sebaris kalimat singkat ‘aku sayang kamu’ sudah cukup kok membuat kita meleleh dan tersenyum sejenak.

Kini saya juga melatih Angger untuk mengungkapkan rasa cintanya –sebenarnya semua emosinya–. Tagline yang saya buat untuk kami bertiga adalah: Aku cinta kamu dan cintaku GEDEEE banget.

Angger sudah tahu itu dan kadang—kadaaaang sekali kalau saya beruntung— dia akan bilang, “Angger sayang ibu. Sayangnya gedeeee banget.”

*Taplak gupak glepung adalah tongue twister versi Jawa. Coba ucapkan berulang-ulang. 

2 thoughts on “Katakan Cinta

  1. yeklin

    hihi… lucu banget kalo diucapin pake bahasa jawa, mbak.😀
    memang budaya kita suka malu kalo ngungkapin rasa cinta gitu. soalnya gak terbiasa sejak kecil.
    keluarga gw juga susah ungkapin cinta dalam kata2, mbak. hehehe…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s