Ndermis

Ndermis itu kosakata bahasa Jawa yang susah saya cari padanannya dalam bahasa Indonesia. Tapi intinya manusia ndermis itu manusia yang gemar minta-minta. Ada aroma oportunis dan aroma peditnya.

Sejak kecil Ayah saya diajari tak boleh ndermis. Nenek saya marah-marah saat ayah saya pulang bawa beberapa butir duku yang diambil dari rontokan di kebun tetangga. Ini buah yang rontok lho dan cuma beberapa butir saja. Tetap: TIDAK BOLEH.

Tiap kali diberi sesuatu ayah diajari oleh nenek untuk menolak. Tentunya itu berat bagi seorang anak. Tapi ayah saya jadi terlatih untuk tidak menerima barang gratis dari orang lain. Meminta? HARAM tingkat tinggi.

Ayah saya menularkan ajaran itu pada anak-anaknya meski tidak terlalu ketat karena ibu saya sangat fleksibel dalam hal ini: memberi dan meminta itu keniscayaan dalam hidup. Jadi santai sajalah.

Tapi toh saya sering heran dengan orang-orang di sekitar saya yang hobinya meminta. Memintanya ajaib pula.

Setiap tahun saya panen rambutan dan mengundang anak-anak di sekitar rumah. Tahun ini kami mengumumkan di forum pengajian, “Khusus adik-adik, besok Sabtu panen bareng ya di rumah kami.”

Ada seorang ibu yang nyeletuk, “Lah Mbak saya nggak punya anak kecil.”

Saya tersenyum saja menganggap dia bercanda. Eh, beberapa hari kemudian saya ketemu lagi dan dia bilang, “Besok Sabtu mau panen rambutan sama anak-anak ya? Gimana dong, saya kan nggak punya anak kecil.”

Saya jadi jengkel dan pengin bilang, “Masalah buat lo?”

Ya ampun, satu anak hanya dapat dua puluh lima biji rambutan saudara-saudara karena rambutan di pohon kami tidak banyak. Itu pun saya masih harus nombok beli rambutan di pasar  karena takut kurang. Dua lima butir rambutan tuh nggak ada satu kilo. Kalau beli di pasar nggak nyampe lima ribu dan ibu yang ndermis itu bukan orang miskin juga. Tidak miskin, tapi karena ndermis jadi keliatan melarat betul. Melarat hatinya.  

Lain kali waktu pas metik buah rambutan, ada ibu-ibu lewat dari pasar lalu ngambil buah rambutan kami gitu aja. Nggak bilang apa pun. Padahal suami saya masih nongkrong di atas pohon. Tanpa dosa pokoknya.

Jadilah kami ribet kalau metik buah rambutan. Harus cari waktu sepi. Kadang kami udah cari waktu sepi, tapi pas kami metik dan menimbulkan suara kresek-kresek  anak-anak lalu muncul entah dari mana dan merubungi kami, bikin kami salah tingkah. Lah kalau pas metik banyak sih nggak masalah. Kalau cuma mau metik sepuluh biji dengan galah pendek kan jadi repot.

Kami bilang, “Tanam pohon sendiri, di tanah sendiri, mau metik aja kok repot.”

Di waktu lain saat kami tengah istirahat siang ada anak mencet bel pintu. Bikin tidur kami kacau dan ternyata dia bilang, “Boleh minta rambutannya nggak?” Sontoloyo.

Pohon srikaya kami yang buahnya tak seberapa juga jadi incaran tetangga. Ada tetangga yang lewat dan tanya, “Sudah ada yang matang belum? Cucu saya pengin.”

Lah kami juga pengin, Bu dan buat kami itu buah juga nggak cukup.

Lain waktu gantian mangga. Anak kecil lewat dan tanya, “Pak kalau udah matang simbah saya dikasih lho.”

Lah, simbahmu itu kan urusanmu!

Heran betul kami dibuatnya. Bukan apa-apa sih, perasaan kami selalu membagi apa pun panenan kami entah itu pisang, rambutan, mangga, pepaya, minimal pada tetangga yang beradu pagar. Bertahun-tahun.

Meski tak mengharap timbal balik, ayah saya heran juga kok panen tetangga nggak pernah sampai ke tangan kami. “Yah, kan ayah udah dianggap punya, udah dianggap kaya,” kata saya.

Tapi itulah, beri memberi kadang tidak ada hubungannya dengan kaya-miskin. Ini hubungan kasih sayang. Hubungan yang indah dan menyenangkan. Itulah kenapa saya cenderung meniru mami. Meminta boleh juga kok karena itu berarti memberi kesempatan pada orang lain untuk merasakan nikmatnya memberi. Asal tanpa ke-ndermis-an.

PS: Yang ndermis minta buku gratisan tiap kali buku saya terbit juga banyak. Padahal kenal juga nggak. Sedih. 

4 thoughts on “Ndermis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s