Cerita Ayah: Sri

Namanya Sri. Dia misan ayah. Misan itu artinya nunggal Mbah Buyut. “Tapi Misan itu pun tak tepat,” kata Ayah, “Karena hanya nunggal mbah buyut kakung. Mbah buyutmu kakung itu itu punya empat istri. Nah mbah-nya Sri itu beda dari mbah Buyutku.”

                Orang tua Sri menyung semua. Ayahnya CPM (polisi militer) dan bertugas di Makassar. Tidak peduali pada anaknya. Ibunya juga tak peduli. Jadi Sri kecil tinggal bersama neneknya di daerah Jalan Mataram. Persisnya di timur hotel Garuda Natour.

                Baru berumur belasan Sri sudah ‘nakal’. Kebetulan dia dikarunia bodi semlehoi. Cantiknya sih biasa aja, kata Ayah, tapi badannya blongor-blongor. Kulitnya kuning. Pendeknya seksi. Pelanggannya nggak main-main, pejabat dan bahkan petinggi istana di Jogja.

                Sri punya kakak laki-laki dan dia marah-marah liat adiknya jadi pecun. Maka ditamparlah si adik ini. Karena neneknya khawatir Sri kenapa-kenapa, akhirnya Sri dititipkan kepada nenek saya, Mbah Omboek dan suaminya Mbah Kismo Warsito.

                Pada saat yang sama Mbah Omboek kedatangan seorang pemuda dari Kebumen. Dia bilang dia mau nunut di rumah kami karena sudah tak punya orang tua di Kebumen sana. Kalau zaman sekarang kayak kost gitu kali ya. Well, itu sudah biasa bagi Mbah Oemboek. Rumah dan tanah kami termasuk luas untuk zaman itu. Selalu aja ada yang nunut dari waktu ke waktu dan nggak cuma satu dua. Nggak cuma setahun dua tahun. Dan seringkali mereka susah disuruh pergi. Ada lho yang pergi minta disangoni. Tapi ini cerita lain kali saja ya.

                Pemuda itu bernama Parto Subarjo. Dia kerja di dinas sosial. Ia diterima dengan baik oleh Mbah Omboek. Adik-adiknya yang berjumlah empat orang datang dan ikut tinggal di situ. Adik Parto ini lima sebenarnya, tapi satunya yang bernama Sudarto tinggal di tempat lain. Bagaimana mereka bisa tinggal di situ saya juga nggak ngerti karena seluas-luasnya rumah kami toh yang mereka tempati hanya seukuran dua kamar kecil saja.

                Hari demi hari berlalu. Mbah Omboek tak pernah melihat mereka belanja atau memasak. Aneh juga. Jadi Mbah Omboek mendatangi mereka dan bertanya pada salah seorang adik Parto yang perempuan. Barulah dia tahu kalau mereka hanya masak daun-daunan yang ada di kebun. Salah satunya adalah daun belimbing wuluh! Itu saja. Sama nasi. Beras mereka dapat karena Parto mendapat jatah dari kantornya meski bukan beras berkualitas.

                Mbah Omboek segera mengambil keputusan, “Baiklah, Parto, dari gajimu, ambil berapa yang kaubutuhkan, kasih sisanya ke aku dan aku akan menghidupi kalian semua.”

                Jadi itulah yang terjadi. Selama kurang lebih tujuh tahun Mbah Omboek menghidupi mereka semua. Sudarto adik Parto yang tinggal di tempat lain pun akhirnya tinggal di situ. Gaji Parto tentu tak seberapa. Mbak Oemboek sendiri bukan orang kaya. Tapi dia memang berjiwa sosial. Dia menolong siapa saja yang bisa ia tolong.

Telikung

Mbah Omboek khawatir Sri akan menggoda anak laki-laki satu-satunya –ayah saya–. Anak yang lurus dan tidak pernah aneh-aneh. Ayah hanya sering melongong-longong melihat Sri dan teman-teman seprofesinya bila mereka berkunjung. Semua dengan dandanan menor dan sikap genit.

Akhirnya diputuskanlah Sri dinikahkan dengan Darto –adik Parto yang dulunya tinggal di tempat lain–. Darto saat itu adalah pegawai pegadaian. Lain dari Parto yang berkulit hitam, Darto berkulit terang. Dari enam anak itu hanya Parto dan satu adiknya yang berkulit legam. Lain-lainnya, termasuk Darto berkulit terang dan berwajah lumayan.

Pesta pernikahan Sri dan Darto dibiayai oleh Mbak Oemboek. Ayahnya yang bertugas di Makassar diundang dan datang. Bagaimana pun, kata Mbah Oemboek –mestinya melalui surat—kamulah walinya. Ayah Sri meski menyung, berperawakan gagah layaknya seorang prajurit. Singkat cerita, mereka syah sebagai suami istri. Mereka terus tinggal di situ, hanya mendirikan sekat untuk membuat kamar sendiri.

Tak sampai setahun setelah pernikahan itu, suatu hari Mbah Oemboek, suaminya, serta anaknya pergi bekerja. Mereka pulang tengah hari. Dan mereka heran melihat rumah begitu sepi. Biasanya terdengar celoteh dan orang-orang berkegiatan. Maka mereka pun membuka pintu dan …. rumah KOSONG MELOMPONG. Bersih. Semua barang-barang milik anak-anak itu –termasuk ranjang—sudah hilang semua.

Sore ditunggu, mereka tak pulang. Kesadaran pun sudah bulat: mereka semua minggat. Okelah, itu tak mengapa. Toh itu barang-barang mereka. Kalau ada barang Mbah Oemboek yang ‘terangkut’ paling itu sekadar panci dan soblok yang tak begitu mereka sesali.  

Yang membuat Mbah Omboek mak plenggong adalah…. kisah ayah terputus karena kami bertanya, “Tapi tak ada barang berharga Mbak Oemboek yang diangkut kan? Emas misalnya?”

“Tidak ada,” jawab Ayah, “Karena memang sudah tak ada barang yang berharga. Begini ceritanya…”

Darto bekerja di pegadaian. Suatu hari dia berkata pada Mbak Oemboek, “Bu, ada barang bur-buran (lelang) yang bagus-bagus sekali di pegadaian. Harganya murah banget. Sayang kalau tidak dibeli, Bu. Mbok dibeli saja.”

“Lah, buat apa semua barang-barang itu? Lagipula berapa mesti kubayar?” tanya Mbah Oemboek.

Darto menyebut harga. Dan meski Mbah Oemboek punya sedikit simpanan, simpanan itu masih jauh dari yang harga tadi.

“Tapi eman-eman kalau tidak dibeli Bu. Sudah begini saja, gadaikan saja perhiasan-perhiasan yang ibu punya. Nanti uang hasil gadaian itu bisa digabung dengan uang yang ibu punya sekarang dan bisa menebus semuanya. Setelah itu barang-barang tadi akan saya jual dan kita bagi hasil. Uang tadi pasti bisa juga dipakai menebus perhiasan ibu yang digadaikan.”

Okelah. Mbah Oemboek setuju.

Barang bur-buran itu ternyata memang sangat banyak. Sepedanya saja ada tujuh. Bolpennya ada sekotak. Benar-benar banyak dan bermacam-macam. Hanya satu sepeda yang dibawa pulang. Itu pun sudah berlebih buat Mbak Oemboek karena di rumah sudah ada tiga sepeda. Enam sepeda bur-buran lainnnya dibawa Darto untuk dijual pelan-pelan.

Setiap bulan Darto menyerahkan uang pada Mbah Oemboek hasil jualan barang bur-buran. Sebulan, dua bulan, tiga bulan uang terus mengalir. Tapi bulan keempat, uang setoran mulai seret. “Belum ada yang terjual, Bu.”

Hingga suatu siang mereka kabur begitu saja.

Cerita Belum Berakhir

Mbah Oemboek dan suaminya pergi ke pegadaian untuk menebus perhiasannya.

“Bisa ketemu dengan Darto?” tanya Mbah Oemboek.

“Oh, dia sudah dipecat. Ada keperluan apa, Bu?”

“Ini saya mau menebus barang saya. Ini surat gadai yang diberikan Darto dulu.”

Setelah surat itu diperiksa: “Wah, surat ini palsu.”

Blaik. Jadi perhiasan itu tidak digadaikan sama sekali. Itu yang membuat Mbah Oemboek mak plenggong.

Penutup

Bertahun-tahun kemudian Sri muncul lagi. Tidak bersama Darto kali ini. “Aku tuh sebenarnya nggak suka sama Darto, kok dikawinkan sama dia.”

“Lah kok mau?”

Selama ini menurut Sri dia transmigrasi ke Lampung bersama suami barunya. Tapi dia tidak betah di sana. Nggak bisa bertani. Dia dapat tanah dua hektar. Tanah itu dijual dan dia pulang ke Jawa –tanpa suaminya–. Herannya uang penjualan tanah itu juga tak tampak ke mana.

Sekarang Sri punya suami baru lagi. Prajurit kroco. Tapi juga sudah mau pisah lagi karena suaminya suka judi dan mabuk-mabukkan.

Sri nggak punya uang waktu dia berkunjung. Jadi dia minta duit sama ayah. Itu tahun 70-an.

Lalu dia muncul lagi. Dengan suami baru lagi. Kali ini pemain jathilan. Kata ayah, “Ajaib bener pilihannya soal laki-laki.” Muncul lagi, minta-minta lagi. “Pak, aku minta kasurnya ya. Kasurku udah tipis.” Jadi ya sudahlah kasur dan segala perabot punya ayah diangkutin.

Demikianlah Sri muncul dari waktu ke waktu dan SELALU minta sesuatu sekaligus menengok anaknya. Kebetulan ia punya anak dua yang ia titipkan pada buliknya, Bu Sum dan Bu Par yang  juga tinggal di rumah ayah alias rumah Mbah Oemboek! Begitulah, sama dengan kisahnya waktu kecil yang ditelantarkan orangtuanya, Sri juga menelantarkan anaknya.

Namun Darto tak pernah muncul lagi.

Akan halnya Parto, suatu hari ayah kaget melihat dia. Ayah sedang melayat waktu itu dan salah satu orang yang menyampaikan pidato pemberangkatan jenazah adalah Parto. Jadi ayah menunggu hingga upacara selesai. Parto jalan pelan-pelan sambil menunduk terus. Ayah mengikutinya.

Lalu ayah menyapanya. Dia mendongak, “Wah Mas Jun.”

“Waaahhh, Bung, gimana kabarnya, Bung?” tanya ayah.

Lalu ayah diajak mampir ke rumahnya di dekat situ. Wah rumahnya bagus. Ada pendopo kecilnya. Dan dia menyewa kolam-kolam ikan di pinggir kali yang berada di samping rumahnya. Intinya sukses. Ngakunya dia punya istri, tapi siang itu istrinya lagi pergi.

Mereka ngobrol-ngobrol tapi ayah tidak satu kali pun menyinggung-nyinggung masa lalu. Sudah puas ngobrol, ayah pulang.

Sebulan kemudian ayah datang lagi. Kali ini karena ayah memang tertarik dengan bisnis kolam ikannya. Pintu diketuk tak ada yang menyahut.

Akhirnya ayah bertanya pada tetangga di sekitar situ. “Oh, Pak Parto sudah pindah!”

Blaik, dagelan apa maneh kuwi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s