Konsistensi Itu Beraaaaaat Sekali

Eh, saya udah pernah pakai judul itu ya? Oke. Saya pakai lagi saja.

Anto suami saya melontarkan kalimat iseng, “Aku kadang berpikir untuk kasih les gratis pada anak-anak di lingkungan….”

“JANGAN!” Saya buru-buru menukas. Jangan. Jangan. Jangan. Karena itu… BERAT sekali.

“Ya, seminggu sekali… satu dua jam saja….”

“JANGAN!” Karena itu susah sekali. Saya pernah menjalaninya, masih menjalaninya bahkan. Saya tidak tahu bagaimana ada orang bisa jadi guru gratis bertahun-tahun, mengajar anak jalanan, membimbing penderita narkoba atau ngopeni orang gila. Saya tidak mengerti kok ada orang yang betah melakukannya. Karena mengajar anak-anak normal satu jam seminggu saja susah bagi saya. SATU JAM saja lho!

Saya pernah jadi guru dan (saya pikir) saya suka mengajar.  Saya bahkan pernah berniat untuk jadi sukarelawan dan mengajar di panti usahan. Ada kakak kelas saya yang melakukan itu dan saya mengagumi tindakannya.Tapi yah, kok waktunya belum ada (atau memang tidak saya adakan tepatnya).

 Jadi waktu Bu RT di lingkungan rumah saya reko-reko bikin kelas bahasa Inggris untuk anak-anak sekitar kami satu minggu sekali—gratis tentu saja–, saya semangat sekali. “Yak bikin aja.”

Kelas itu terbentuk dengan cepat. Isinya sekitar sepuluh anak. Keren lah. Mereka semangat sekali. Saya juga semangat dan dengan tekad membara saya beriat menerapkan semua metode yang saya pakai waktu mengajar di kelas formal dulu, salah satunya ‘English only’ selama pelajaran, setidaknya gurunya harus begitu.

Itu… tentu saja tidak bisa diterapkan. Anak-anak belum siap untuk menerima metode seperti itu. Atmosfernya berbeda. Lingkungan tidak mendukung. Fasilitas juga kurang mendukung. Sejuta alasan.

Tapi semua tetap berjalan. Seminggu, dua minggu, tiga minggu. Saya sempat bangga karena kegiatan yang kami jalankan secara mandiri bahkan lebih langgeng dibanding paud kampung kembang kempis yang dijalankan secara formal dan rame-rame.

Lalu semangat saya redup perlahan-lahan. Setiap minggu saya pusing memikirkan apa yang akan saya ajarkan minggu itu. Mengajar paling simpel sekali pun butuh persiapan. Saat mengajar ‘good morning’, saya harus membuat gambar ‘pagi’. Saat mengajar ‘animals’ saya harus mencari poster gambar hewan. Saat harus mengajar ‘numbers’ saya harus mencari barang yang bisa dihitung, lego misalnya. Kalau anak-anak terlalu bosan belajar, saya harus mengajar menyanyi.

Ini berbeda dari waktu saya mengajar di kursus dulu. Iya, kami memang membuat rencana pengajaran, tapi setidaknya kurikulum sudah ada, semua alat bantu tersedia, mulai dari gambar, puzzles, hingga televisi. Kalau kami tidak bisa mengajar, ada yang menggantikan.

Kini saya ngos-ngosan sendiri. Oke, itu tidak sulit. Persiapan butuh waktu satu jam paling lama. Seringkali tidak sampai satu jam karena saya memang ogah mencari bahan-bahan yang sulit. Kalau sulit, mending tak saya lakukan. Tapi masalahnya satu jam itu sama dengan  satu dua halaman terjemahan –yang bisa jadi duit–.

Jadi menjelang bulan kedua kelas mulai bolong-bolong. Saya mulai sering menggeser jadwal. Dan saya lega bila hari hujan dan anak-anak tidak datang. Astaga, saya payah sekali.

Kadang saya menyelipkan kegiatan lain, melukis, mendongeng, membuat gelang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasa Inggris –meski dihubungkan juga bisa—dengan alasan agar tidak bosan. Agar SAYA tidak bosan.

Tapi kami terus berjalan, meski tidak saya pungkiri ketika hari mengajar tiba, kemalasan itu menyerang seperti awan tebal yang menggayuti pikiran. Anak-anak itu sendiri tak pernah bosan. Salah satunya bahkan berkata, “Mbok pelajaran Inggrisnya tiap hari, Miss.”

Dengkulmu, batin saya.

Apa yang Salah?

Saya lalu berpikir-pikir apa salah saya di sini. Awalnya tampaknya menyenangkan sekali. Awalnya tampak sesuai dengan idealisme saya.

Apakah saya sebenarnya tidak suka mengajar? Cita-cita pertama saya dulu adalah jadi GURU. Dan toh saya dulu betah mengajar meski well, saya dapat duit dan saya sangat butuh duit itu. Dan yah, mungkin saya dulu juga tidak begitu menikmati mengajar. Saya hanya terpaksa mungkin. Mungkin.

Apakah cara saya salah? Bisa jadi.

Apakah saya bosan karena ini bisa terjadi selamanya? Ah, mungkin itu jawabannya. Satu kesalahan yang tidak saya antisipasi sebelumnya adalah: saya tidak menentukan batas waktu. Ngeri saya membayangkan saya masih mengajar anak-anak ini sepuluh tahun lagi.

Seharusnya saya dulu menetapkan batas waktu misalnya tiga bulan. Kalau mau lanjut ya nggak masalah. Lanjut tiga bulan lagi dan seterusnya. Tapi harus ada garis finish di sana. Jadi waktu saya capek, saya bisa berhenti. Nah, kalau tidak ada garis finish-nya, apa alasan saya buat berhenti?

Untung aja April depan saya pindah rumah. Saya bisa memakai alasan itu buat berhenti. Banyak kegiatan mrotholi saya rasa karena memang tidak ada rencana dan batas waktu yang jelas, contohnya: kelas menyulam di kampung saya, program baca dongeng anak-anak komunitas goodreads Jogja (eh, itu jalan sih, tapi saya yang sering bolos), dan entah kegiatan lagi. Parahnya sering kegiatan itu layu bahkan sebelum dijalankan.

Amal yang dicintai Alloh itu yang kecil tapi rutin

Anto bilang begitu pada saya. Amal yang dicintai Alloh itu yang kecil tapi rutin. Saya baru sadar mengapa. Karena rutin itu berat, karena menjaga konsistensi itu berat sekali. Program-program yang berkesinambungan saya lihat selalu bermula dari satu orang –satu saja—yang nekad dan keras kepala, yang tidak menyerah dan mampu menghalau bosan yang menyerang, yang tak surut menyemangati kawan-kawannya meski dia sendiri sedang tidak bersemangat.

Saya jadi menyimpulka lebih gampang ngeculke dhuwit timbang ngeculke tenaga –dan waktu terutama–. Alias lebih mudah menyumbang uang dibanding menyumbang tenaga dan waktu. Tapi ya dasar saya, saya sering tidak puas dengan yang mudah-mudah. Gampang saja menggaji guru untuk mengajar mereka dan tidak perlu berurusan dengan segala macam ingus serta bau ledis anak-anak yang belum mandi. Tapi, saya ‘sok tulus’ pengin menyentuh mereka, pengin memotivasi mereka, membuat mereka mencintai belajar. Orang lain belum tentu mampu melakukannya. Pendeknya mungkin saya pengin jadi pahlawan.

Pahlawan yang akhirnya mengeluh dan menggerundel. Tapi ya nggak papa, tidak ada larangan bagi pahlawan untuk mengeluh bukan? Emha Ainan Nadjib bahkan berkata nggak ikhlas pun berpahala. Hah, setahu saya yang kalau nggak ikhlas itu nggak dapat pahala. Sia-sia saja, cuma dapat capek.

Kata Emha, “Kalau kita itu disuruh milih solat atau nggak solat, kita pasti milih nggak solat. Solat itu berat, nggak ikhlas rasanya, tapi kita tetap menjalaninya karena kecintaan kita pada Alloh. Berat pun kita jalani. Itulah cinta. Itulah yang bernilai.”

Baiklah, biarpun nggak ikhlas, saya akan tetap menjalaninya, semoga karena cinta.

2 thoughts on “Konsistensi Itu Beraaaaaat Sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s