Panic Attack di Toko Hijab

Warning: Ini bukan diskusi agama!

Tempo hari saya mengunjungi toko baju Islami, maksud saya toko busana muslim, maksud saya… yah… Anda tahulah toko yang jual mukena, baju gamis, baju koko plus oleh-oleh haji.

Zaman saya kecil dulu, toko-toko ini hanya terpusat di seputar kauman. Ada juga di daerah lain, tapi mereka punya kesamaan: kecil dan murah meriah.

Sekarang? Toko kayak gitu ada di mana-mana dan huah, takjub sekali saya: sama sekali tidak murah! Ada sih yang murah, tapi yang mahal juga banyak.

Maksud saya ke toko itu adalah beli mukena. Mukena traveling saya ilang entah ke mana.

Tapi begitu masuk toko buesar berlantai tiga itu, rahang saya langsung jatuh ternganga. Wuah, isinya lengkap sekali. Nggak cuma kopiah sama kerudung, tapi juga kebaya semrawang semriwing dan bustier (dalaman kebaya). Bustiernya pun bermacam-macam dan ada yang diklaim oleh pelayan bisa membentuk lekuk yang oke punya. Jadi ngiler saya.

Dasar emak-emak lemah iman akhirnya belanjaan saya ‘mremen’. Saya juga membeli dua lembar jilbab eh hijab –namanya sekarang udah ganti toh– dan daleman hijab. Kalau nggak keburu malam ,saya udah beli baju juga kali.

Masalahnya adalah daleman jil… eh hijab itu keren banget. Menggoda sekali. Saya belum pernah nemu yang kayak gitu. Mulur dan bolong di dua ujungnya gitu. Tinggal masukin ke muka terus tarik ke belakang. Neplek banget dan membingkai wajah dengan oke, meski yahhh… karena ketat jadinya dagu saya kayak keiket gitu. Dan daleman satunya karena nggak dicoba (diclip pakai clip anti maling itu lho mak nyak, sama tokonya) benar-benar kesempitan sampai saya nyaris tercekik waktu mencobanya di rumah. Bukan tercekik sih, tapi kayak masuk tas kresek sempit gitu. Kepala saya oleng ke sana ke mari karena nggak bisa ngeliat, persis kayak ayam masuk ‘conthong’ jebakan. Conthong jebakan itu… kerucut yang buat mempermainkan ayam. Caranya? Apa? Kalian nggak pernah menjebak ayam pakai conthong? Ya sudahlah, nggak papa, tapi intinya si ayam jadi oleng dan nabrak sana sini nggak bisa ngeliat.

Balik ke toko itu lagi. Di sana saya jadi panik mendadak. Kayak mendapat berondongan apem bertubi-tubi. Plok-plok-plok. Ya ampun, sudah berapa tahun sih saya nggak toko busana muslim? Kok sekarang semua jadi heboh kayak gini dan saya nggak tahu. Yang pertama: dulu tuh mukena ya putih semua. Kalau ada variasi ya biasanya karena bawahnya pakai sarung. Lalu ada perkembangan. Mulai ada mukena warna biru, kuning, cokelat lembut. Motifnya juga berkembang: ada bunga-bunga atau renda. Sekarang? Mukena tuh nggak ada yang putih! Adanya ijo nggenjreng, kuning clong, dan ungu menyala. Keren deh pokoknya. Motifnya? Mulai dari batik, abstrak, sampai setroberi nyepruk-nyepruk. Saya menjatuhkan pilihan saya pada merah hati dengan hiasan bunga-bunga putih. Cantik kaleee.

Mukena putih-putih didominasi oleh mukena high class. High class harganya. Mulai dari lima ratus sampai berjuta-juta. Wah, kalau sholat pakai mukena kayak gitu, dijamin khusuk!

Yang kedua: daleman jilbab! Nah dalemannya itu juga beragam banget. Mulai dari yang saya ceritakan tadi sampai yang punya ‘konde’. Taukan? Itu lho yang kalau dipakai Anda seakan punya rambut panjang yang digelung di dalam jilbab Anda. Konde imitasi itu bisa Anda pilih. Mau yang letaknya di belakang kepala atau yang dipucuk kepala. Pokoknya asyik deh. Ada yang berenda, ada yang polos, ada yang kayak topi pet, ada yang kayak potongan kertas karton.

Nah, mulailah ke bagian kerudung, eh jil… eh hijab –aduh nih, mak, lidah zaman dulu—modelnya wah kereeen banget! Waktu saya kecil dulu cuma ada hijab segitiga dan segi empat –yang harus dilipat jadi segitiga juga–. Sekarang?

“Kalau Anda mau yang Marshanda ada di sana,” kata si pelayan. Di bagian yang ditunjuk itu ada tulisan, “Hijab anti tembem.” Mak nyak, ada nggak hijab anti hidung pesek? I’m happy with my cheeks, but not with my nose.

“Oh, Marshanda itu apa?”

“HIjab yang dapat langsung pakai,” katanya. Oh, kesukaan saya tuh karena saya nggak suka ribet. Tapi berhubung saya lagi pengin keren dikit saya bergeser ke model pashmina. Itu lho yang persegi empat panjaaaanggg. Bisa dililit-lilit toh nanti.

Lupakan lilit-lilit tentu saja. Esoknya saya dapat undangan pengajian dan aih kesempatan nih pamer hijab baru. Saya pakai tuh pashmina, dan jangankan dililit saya bahkan tak bisa memakainya tanpa mencoblos kepala saya sendiri dengan peniti.

“Oh, bagaimana mereka bisa melakukannya tanpa mencoblos kepala mereka sendiri dengan jarum dan peniti?” saya mengeluh pada adik saya.

Adik saya bilang, “Errr… sebenarnya mereka kadang-kadang kecoblos juga.” Oh.

Saya akhirnya minta tolong sama adik saya.

Dan ternyata saya tahu trik bagaimana mereka bisa memakai hijab berlapis-lapis dengan berbagai kain, berbagai hiasan dan berbagai model.  Saya tahu mengapa ada berbagai buku dan CD hijab tutorial. Toko itu juga menyediakan hijab tutorial. Tapi curangnya, yang memakaikan orang lain. Lah, pantes nggak kecoblos. Seperti Anda nggak bisa menyasak rambut sendiri, untuk hijab-hijab mode tertentu memang nyaris nggak bisa dipakai sendiri. Itu kalau saya lho. Enggak tahu kalau yang lain. Itulah mengapa toko itu juga menyediakan layanan pasang hijab 25 ribu. Rasanya saya akan memilih itu saja.

One thought on “Panic Attack di Toko Hijab

  1. shabrinasiprincess

    hehe…iya nih, sekarang ada macam2 varian model jilbab (gamis) dan khimar (kerudung). Sayangnya, karena hanya dianggap sebagai produk fashion maka lama kelamaan keduanya kehilangan nilai sakralnya sebagai sebuah pakaian takwa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s