Lain Sakit Lain Diobat, Lain Luka Lain Dibebat (2)

Yak, melanjutkan tulisan saya dulu soal salah kaprah kesehatan yang marak akhir-akhir ini. Sumber utama tulisan ini adalah ucapan Purnamawati S Pujiarto, Dr SpAK, MMPed (Bunda Wati) dan Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc.,Ph.D (Prof Iwan) dalam acara PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orangtua). Ini BUKAN rujukan ilmiah. Saya MUNGKIN salah kutip. Jadi jangan ditelan bulat-bulat ya. Kunyah dulu.

  1. Hobi ke mal dan rumah sakit

Rumah sakit Indonesia itu selalu penuh. Maka selalu ada rumah sakit baru dan saya baru sadar rumah sakit adalah bisnis yang menggiurkan. Gila aja kalau nggak. Orang sakit itu duit seberapa juga dikeluarin. Pasien nggak bisa nawar pula wong nggak ngerti. Di pasar kita bisa nawar karena kita tahu harga. Kalau pun nggak tahu, kita bisa geser dikit ke lapak sebelah buat membandingkan harga. Lah, di rumah sakit? Kalau dibilangin biaya check-lab-nya Rp 500,000 kita bisa apa? Bisa manut. Hanya itu. Paling kita bisa bandingkan dengan lab lain, tapiii… kebayang nggak sih repotnya? Yang ada dalam pikiran kita si sakit harus cepat sembuh, apa pun caranya. Dan yang seringkali terjadi saat ada anggota keluarga kita yang sakit, otak kita jadi buntu, perasaan jadi burem, nggak bisa mikir apa-apa lagi. Bunda Wati bilang salah satu laba terbesar rumah sakit adalah: cek lab.

Bunda Wati bercerita, pernah ada dokter Eropa mengunjungi bangsal anak (atau poli anak ya) di RSCM dan di sana ada pasien anak yang masih bisa berlari-lari. Dokter Eropa itu menggeleng ‘takjub’. Dia bilang ini adalah masalah serius di Indonesia. Logikanya kalau anak masih bisa lari-lari, ya nggak perlu dibawa ke rumah sakit.

Bukan apa-apa, rumah sakit itu sumber penyakit. Di sana sumber penyakitnya jauh lebih kuat daripada di luar. Karena apa? Karena selalu dibasmi dengan obat-obatkan. Akibatnya mereka bermutasi jadi lebih kuat, lebih kuat, lebih kuat.

Itulah mengapa anak-anak dilarang menjenguk pasien di rumah sakit. Tapi yo masih ada yang ngeyel. Aduh ya ampun, bunda, mengapa kau mau menyakiti anakmu sendiri? Mana yang dijenguk ‘cuma’ tetangganya pula. Itulah mengapa kita sebaiknya tidak ke rumah sakit atau klinik dan layanan kesehatan lainnya bila cuma sakit flu.

Saya sendiri nyesel dulu pernah ngajak Angger pijat bayi di klinik anak. Ya, saya pikir biar Angger nyaman. Tapi begitu sampai sana saya dag dig dug karena anak-anak lain yang dipijat rata-rata lagi pilek dan batuk. Akibatnya: Angger yang datang dengan sehat pulang dengan sakit. Beneran, besoknya dia langsung batuk, pilek. Sejak itu saya selalu memijat Angger sendiri.

Ada yang namanya infeksi nosokimial. Infeksi ini adalah infeksi yang diperoleh seseorang dari rumah sakit. Sederhananya, ada orang sakit flu, ke rumah sakit umum, dan pulangnya sakit cacar air.

Sekarang saat layanan kesehatan digratiskan makin banyak lagi orang ke rumah sakit. Ya, layanan kesehatan gratis itu harus. Tapi bayangkan, di puskesmas saya ada manula yang TIAP HARI datang ke puskesmas. Serius. Dia berobat tiap hari! Petugasnya sudah hapal sama kelakuan pasien-pasien kayak gini. Ibu saya dulu perawat dan dia cerita ada pasien yang sering datang hanya sekadar cari teman ngobrol. Lah, kenapa nggak pergi ke angkringan aja sih, Pak?

Lepas dari itu, fanatisme kita terhadap rumah sakit dan dokter memang luar biasa. Tiap kali Angger flu, pertanyaan paling sering saya dapat adalah: udah dibawa ke dokter?

Mertua juga menanyakan hal yang sama. Jadi buat ayem-ayem ya saya terpaksa bohong, ‘sudah’.

PRT saya juga gitu. Kalau Angger panas dia tanya, “Nggak dibawa ke dokter, Mbak?”

Saya jawab, “Nggak lah, saya udah tahu kok nanti dikasih obat apa. Penurun panas, antibiotik, dan vitamin.” Kalau dokternya hobi ngasih resep panjang masih ditambah lagi: kompres demam dan penambah nafsu makan.

Yailah, nafsu makan? Orang sakit mana yang doyan makan

2. Infus itu welcome drink?

Prof Iwan bilang di rumah sakit Indonesia infus itu kayak welcome drink. Kalau kita nginap di hotel, otomatis begitu tiba kita dapat welcome drink toh? Di rumah sakit juga kayak gitu, kalau nginep otomatis dapat infus. Prof Iwan bercanda bahwa rumah sakit memberi infus pada pasiennya agar si pasien nggak bisa lari sebelum bayar! Haha. Jadi lain kali kalau Anda hendak diinfus, kata Prof. Iwan, bilang saja kalau Anda pasti bayar. “Saya bayar deh, Pak, janji, nggak usah diikat pakai infuse segala.” Gitu kali ya.

Teman saya mau melahirkan. Karena sudah mulas hebat, dia masuk UGD. Di UGD petugas langsung mau menginfus dia. Teman saya ini marah-marah! Kenapa saya mau diinfus? Saya masih bisa minum kok! Saya juga masih sehat! Saya cuma mau melahirkan.

Tentu infus harus dipasang bila memang dibutuhkan. Tapi kalau Anda cuma sakit tifus, masih bisa makan minum lewat mulut, bahkan masih bisa update status, jangan mau diinfus. Bagaimana pun infus memperberat kerja jantung. Sebenarnya kalau Anda masih bisa update status mungkin Anda tak perlu rawat inap.

3. Puyer bikin puyeng.

Masihkan Anda menerima obat puyer? Itu lho berbagai macam obat yang digerus jadi satu. Bentuk akhirnya bisa berupa bubuk dibungkus kertas, dalam kapsul, atau dimasukkan dalam sirup.

Konon praktik itu dulunya dilakukan saat obat-obatan masih langka dan sulit. Nah sekarang? Obat sudah sangat banyak.

Setiap obat sudah dibuat dengan prosedur yang ketat. Takarannya pas dan kebersihan terjaga.

Saat obat-obat itu digerus dan dicampur-campur apa yang terjadi?

Kata Prof Iwan, “Memangnya itu cowek penggerus itu dicuci tiap hari? Jangan-jangan kayak keris tuh, cuma setahun sekali pas Suro. Kayak jamasan pusaka. Kalau pagi sih mungkin petugas apoteknya masih fresh, nakar obat masih hati-hati, bersih-bersih juga masih semangat, masih pakai masker. Kalau udah malam? Jangan-jangan kalau dia bersin, kotoran hidungnya masuk ke situ… dan… yah sekalian digerus saja deh.”

Bunda Wati pernah diprotes himpunan apoteker saat mengungkap fakta ini. Katanya para apoteker sudah punya prosedur khusus untuk mencampur obat. Tapi logika saya saja sudah sulit menerima bisakah seluruh apoteker di Indonesia bisa diawasi. Dan andai pun demikian, manusia toh bisa sangat mungkin keliru, mulai dari keliru ambil obat, keliru menakar, hingga keliru baca resep.

Sekarang penggunaan puyer sudah dilarang. Alasan utamanya obat jenis ini rawan menimbulkan polifarmasi. Apa itu polifarmasi? Silakan google ya, malas saya menjelaskan di sini.

4. Tak ada obat batuk, tak ada obat pilek, tak ada obat penambah nafsu makan.

Seperti sudah saya jelaskan di blog saya sebelumnya, batuk dan ingus itu bukan penyakit. Dia justru reflek tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu di tubuh kita. Artinya batuk dan ingus adalah ‘pembantu’ kita dan ‘senjata’ tubuh kita agar tetap sehat. Ngeri sekali kalau kita tak bisa batuk. Tersedak dan tak bisa batuk? Bayangkan saja apa yang terjadi. Ada orang tertentu yang tidak bisa batuk –karena stroke, misalnya–. Apa yang dilakukan dokter? Dokter memberinya obat yang bisa membuatnya batuk –yang harganya muahal sekali–. Nah, lo, bersyukur kan masih bisa batuk?

Jadi, ya karena bukan penyakit, batuk itu tak ada obatnya. Lah, obat batuk itu apa dong isinya? Silakan digoogle juga, tapi biasanya lebih pada penenang.

Tak ada juga obat penambah nafsu makan. Kalau kita sakit nafsu makan memang berkurang, tapi tak masalah selama kita masih doyan banyak minum. Mana yang lebih menggiurkan saat Anda flu? Obat penambah nafsu makan atau semangkuk sup ayam hangat?

Saat sehat, nafsu makan hanya bisa diobati dengan dua hal: rasa lapar dan makan enak. Jadi, kalau anak Anda malas makan, coba resep ini: jangan dikasih snack, jangan dikasih susu, dan suruh dia bermain. Tanggung deh, dalam waktu dua jam dia sudah minta makan. Tapi konsekuensinya: sediakan makanan yang enak. Lapar-lapar juga kalau makannya nggak enak, hilang deh nafsu makan kita.

5. Suplemen bikin sehat?

Kalau nggak doyan makan, ganti deh dengan susu. Biar pilek cepat sembuh: minum vitamin C dosis tinggi. Kalau diare minum poca****. Kalau nggak mau kolesterol tinggi minumlah bene***. Biar anak cepat tinggi kasih ini itu dan seterusnya.

Sebentar! Andai hidup semudah mengkonsumsi suplemen, pasti menyenangkan sekali ya, pasti nggak ada orang yang sakit jantung karena kebanyakan kolesterol, pasti semua anak tumbuh tinggi hingga menyamai pohon bambu, pasti kita nggak perlu susah payah belajar karena ada suplemen yang bikin cerdas.

Bunda Wati bilang industri obat lagi demen banget memproduksi suplemen ‘gaya hidup’ semacam viagra –yang sudah dilarang saya dengar–. Kenapa? Karena itu lebih mudah dan laku.

Untuk menghasilkan satu obat antibiotik dibutuhkan waktu hingga tiga puluh tahun riset. Sialnya, obat-obatan yang melalui riset tinggi itu pun langsung kehilangan daya ampuhnya begitu dikonsumsi masal.

Lebih gampangnya: ya bikin suplemen yang bikin kurus, bikin gendut, bikin pintar, sampai bikin kulit cantik. Kalau bisa bikin suplemen anti miskin, mungkin mereka bikin juga tuh.

Hati-hati mengkonsumsi suplemen.  Konsumsi suplemen sembarangan bisa memperberat kerja ginjal, hati, dan jantung. Itu cuma menyebut beberapa. Silakan baca dengan cermat apa kandungannya, apa efek sampingnya, dan kemungkinan besar…. Anda akan batal minum suplemen.

Anyway, kalau Anda ingin vitamin C, satu buah jeruk dalam sehari sudah cukup untuk memenuhinya. Selain lebih enak, buah ini juga mengandung serat yang dibutuhkan pencernaan. Asyik, kan.

7. Alami = herbal?

Okelah, kalau obat begini, suplemen begitu, bagaimana kalau kita mengkonsumsi ‘herbal’? Tak dipungkiri bahan-bahan alami di sekitar kita mempunya manfaat yang sangat bagus untuk kesehatan. Cuma masalahnya… balik lagi ke manusia yang ogah repot. Herbal yang harusnya alami itu dikonsumsi dalam bentuk yang tidak alami lagi. Sudah begitu, kita latah, nggak tahu apa-apa tentang itu, main telan saja.

Adik saya pernah beli ‘jamu watukan’. Ini adalah jamu jawa yang seharusnya bisa menyembuhkan batuk. Begitu dia minum, kok dia merasakan ada sensasi semriwing khas obat batuk? Sisa jamu itu dimasukin ke kulkas dan esoknya… tara… ada gumpalan Kristal putih di dalamnya. Astaga, jamu itu dicampuri menthol! Saya nggak bakal kaget kalau ternyata jamu itu dicampuri OBH.

Sekarang banyak klinik-klinik kesehatan ‘alternatif’ yang beriklan sewenang-wenang. Mereka menyombongkan diri mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Hebatnya: obatnya diklaim alami!

Ada teman saya nggak takut minum obat pabrik karena tahu ada efek samping yang harus ia tanggung. Lucunya, meski takut minum obat pabrik, dia pede-pede aja minum obat cina tanpa label. Lah, itu obat isinya apa?

Kalau tidak salah Prof Iwan pernah mengataan ‘status’ herbal itu lebih rendah dari obat, lebih rendah dari suplemen.

Kenapa? Karena obat herbal tidak harus menjalani uji klinis yang rumit. So, sebenarnya khasiatnya tidak belum teruji secara ilmiah. Untuk mendaftarkan produk sebagai obat, obat itu harus diuji ini itu. Rumit pokoknya. Kalau tidak lulus sebagai obat, biasanya produsen obat mendaftarkannya sebagai suplemen. Kalau nggak lulus sebagai suplemen baru deh mereka mendaftarkan produk itu sebagai jamu atau herbal. Walah.

So, gimana dong, apa kita nggak boleh mengkonsumsi produk herbal? Hidup kok rumit amat ya. Anda perlu herbal apa toh? Kunyit? Tiru ayah saya: beli kunyit, parut sendiri, peres sendiri. Daun ungu? Tanam sendiri, rebus sendiri.

Kalau terpaksa beli, konsultasikan dengan yang ahli, sesuaikan dengan kebutuhan, baca kemasannya, hati-hati.

One thought on “Lain Sakit Lain Diobat, Lain Luka Lain Dibebat (2)

  1. anisaituazis

    Ayah saya dokter, parahnya malah pasiennya sendiri yg mnta ini itu. Misalnya mereka malah yg mnta dirujuk. Pdhl seharusnya dokterlah yg memberi rujukan bukan dimintai rujukan.. Ckck..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s