Gilanya Jadi Orangtua

Sebelum menjadi orangtua saya sudah tahu bahwa menjadi orangtua itu repot, tapi saya tak menyangka menjadi orang  tua itu juga gila.

Saya ingat waktu saya kecil saya sering mengusili bibir ayah saya pas beliau tidur. Bibir itu saya buka, saya balik, saya tarik, saya ulur sampai panjang, sampai ayah saya terbangun. Bayangin saja betapa risihnya. Saya melakukannya karena penasaran! Penasaran dengan apa warna bibir bagian dalam. Saya penasaran dengan bentuk bibir. Kenapa bukan bibir saya sendiri yang saya tarik? Well, karena itu tidak menarik.

Sekarang itu terjadi pada saya. Angger suka menjambak rambut saya, memasukkan jarinya ke lubang hidung saya, sampai mencolok-colok mata saya—dengan jempol kakinya–. Haduh.

Jadi begitulah menjadi orangtua. Punggung dinaiki kayak kuda? Itu sudah biasa. Kakak saya (laki-laki) sering jadi korban putrinya yang suka main ‘make-up-make-up-an’. Sekujur tubuh kakak saya dibedakin kayak wong edan. Beneran sekujur tubuh. Berkali-kali pula!

Yang terjadi pada saya kadang terasa absurd sekali. Anak kecil suka dibacain buku cerita.Itu biasa. Angger? Dia minta saya baca katalog cat! Anak kecil suka mendengar cerita yang sama berulang-ulang. Angger? Dia juga suka mendengar daftar warna cat berulang-ulang! Jadilah saya berkali-kali merapal nama warna-warna itu kayak mantra: baby blue, ocean blue, deep blue, deep purple, hyacinth, ivory white, pink rose, mustard yellow dan seterusnya. Jutaan kali. Agar tidak bosan, kadang saya mengganti irama saya dengan gaya pembaca berita. Mungkin lain kali saya harus menggantinya dengan irama orator demo.

Bacaan favorit Angger lainnya: katalog durian! Serius. Dia sampai njempling-njempling di Gramedia gara-gara menginginkan Buku Durian tapi kami melarangnya (mahal, dan buat apa sih?). Pada kunjungan ketiga kami menyerah! Dan sebagai informasi: saat itu usianya belum ada dua tahun. Jadilah saya disuruh membaca daftar nama durian: durian merah merona, durian lai, durian monthong, dan seterusnya. Berulang-ulang juga.

Dulu Angger suka ikan. Kami sampai bela-belain beli kaus bergambar ikan. Kami masuk toko dan tanpa basa-basi bertanya pada pelayan, “Ada nggak kaus gambar ikan? Terserah ikan apa, yang penting gambar ikan.” Kami hanya menemukan empat dan dalam sehari empat baju itu habis dia pakai. Dia masih nagih, “Mau baju ikan!” Akhirnya: kami beli kaus polos, kami sablonkan dan yippie, dia punya sepuluh lembar kaos bergambar ikan. Dan karena dia suka juga bila ayahnya pakai kaos gambar ikan (ayahnya punya satu kaus bergambar ikan oleh-oleh dari Bangkok), maka kami sepakat supaya yang dewasa juga pakai kaus gambar ikan. Akhirnya: kami semua punya kaus gambar ikan! Sampai ke PRT saya pun punya kaos gambar ikan. Tanpa diniati, kami punya seragam keluarga.

Image

kaus ikan seragam keluarga

Image

 

Kaus ikan favorit. Bergambar ikan sampai ke kaki.

Image

 

Kaus ikan lagi. Punya sepuluh lembar kaus ikan kayak begini. 

Kesukaan Angger berikutnya bikin agak pusing. Dia suka PALANG pintu kereta api. Palang pintunya lho, bukan kereta apinya! Tiap hari dia minta ke stasiun tugu atau lempuyangan. Hanya demi melihat palang pintu naik turun. Tapi kan, nonton satu kali nggak puas, jadi kami harus cengok menunggu lewatnya kereta berikut demi melihat palang pintunya naik turun lagi. Anger sampai hapal dengan tahapannya: ting tong ting tong… perhatian-perhatian… lalu klonteng-klonteng… lalu tulit-tulit. Lagu tulit-tulit ini menjadi lagu wajib di rumah kami. Apa pun bisa jadi ‘tulit’ (begitulah Angger menyebut palang pintu).

Ada tongkat mainan, ia buat jadi tulit, ia naik turunkan sambil bibirnya nyepruk menyenandungkan ‘tulit-tulit’. Ada lego, ia susun panjang dan dijadikan tulit. Ada gayung bertangkai panjang, ia jadikan tulit juga. Ada kaki ibunya selonjor? Ia jadikan tulit juga.

Ia juga tahu bahwa beberapa perlintasan kereta api tidak menyerukan bunyi tulit-tulit. Perlintasan kereta api di Tegalrejo berbunyi tolalep, tolalep, tolalep –itu menurutnya–. Sementara bunyi kereta api adalah theng-theng-thoot, theng-theng-thoot.

Pernah kami sudah melintasi rel dan langsung berbalik saat mendengar bunyi tulit-tulit di belakang kami. Rasanya hanya kami orang tua yang senang ketika perjalanannya tercegat palang pintu yang menutup, apalagi bila kami menyaksikannya sejak awal karena dengan begitu kami bisa menonton ‘full show’, mulai dari pintu turun sampai terutup sempurna lalu membuka perlahan-lahan.

Kegilaan tak berhenti di situ. Di tempat parkir kami sampai harus meminta penjaganya untuk menaik-turunkan portal otomatis karena Angger heboh pengin liat ‘palang pintu’ parkir beroperasi. Masih kurang heboh, tiap kali ada alat gambar dia selalu minta, “Bu, gambar palang pintu.” Kalau dijumlah mungkin sudah ada seratus lebih gambar palang pintu di rumah kami.

Masih kurang gila lagi, kami mendownload video palang pintu dari youtube agar bisa ditonton di rumah. Edannya…  ternyata banyak juga penggemar palang pintu kereta api. Mereka bahkan berkeliling negara demi merekam palang pintu kereta api di setiap kota. Dan tujuannya: membandingkan bunyi tulit-tulit dulu dan sekarang! Oh, terima kasih saya pada mereka.

Anyway, kami jadi tahu video palang kereta api di Indonesia biasanya bertema lebih serius: budaya menyerobot palang pintu dan bukan hal remeh kayak…  mekanisme palang pintu otomatis.

Kegilaan ultimate yang terjadi berkaitan dengan palang pintu adalah… kami bikin palang pintu di kebun! Dan membuat tamu-tamu di rumah kami bertanya-tanya. Kenapa mendadak ada palang pintu di kebun?

Image

Palang pintu di tengah-tengah kebun.

Well, jadi orang tua memang harus… siap gila. Sekarang kegilaan palang pintu sudah mereka. Diganti dengan kegilaan terhadap lilin! Oke, mari kita tiup lilin… tiap hari. *Usap keringat di dahi. 

13 thoughts on “Gilanya Jadi Orangtua

      1. antondewantoro

        200% aseli, doa saya agar angger tetap lucu dan orisinil sampai tua nanti. indonesia butuh ketawa yang banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s