Jangan Ada WA di Antara Kita

Baru-baru ini saya memasang status facebook mengenai keengganan saya untuk memiliki atau kengototan saya untuk TIDAK memiliki akun Whatsapp, Line, KakaoTalk, atau apa pun yang berbau chatting dan social media. Selain saya merasa facebook sudah cukup untuk memuaskan hasrat narsis dan KEPO saya, saya merasa itu semua tidak berguna… BAGI SAYA.

Beragam komentar hinggap dan kebanyakan ditulis oleh pengguna Whatsapp yang menyatakan WA sangat berguna bagi pekerjaan mereka. Komunikasi jadi lebih mudah dan murah. Teman kuliah saya Ella menyatakan WA sangat seru. Editor saya Donna bilang bahwa WA adalah bagian kelancaran pekerjaan dan hemat pulsa lagi, sementara teman saya. Ada juga komentar dari teman fb saya Nurcahyani Dewi yang mengatakan ia menggunakan WA untuk bisnis.

Betul juga ya. Menilik dari ‘gratis’nya plus bentuk percakapannya, WA sangat menolong bila kita perlu membicarakan hal yang agak mendetail (kayak ukuran, warna, dan harga sepatu. Belum lagi kalau salah satu pihak ngotot minta diskon, heleh).

Jika ada orang yang kerepotan gara-gara kebanyakan join group di WA, well itu semua kan kembali ke pilihan si pengguna dan toh tidak bakal semua diikuti. Yang tidak menarik akan ditinggalkan dengan sendirinya.

Hah, saya jadi tercenung membaca semua komentar itu. Waduh, kenapa sih saya kekeuh nggak mau pakai WA? Saya dulu pakai YM dan terbukti YM sangat menyenangkan bagi saya waktu itu sampai-sampai saya heran kok ada orang yang nggak punya akun YM! Wong pesan tiket pesawat ke agen lewat YM sangat gampang. Gratis pula! Mestinya begitu juga si WA ini. Apalagi bila diinstal di ponsel, jadi lebih gampang kan? Selalu tertenteng di tangan. Iya kan? Saya jadi limbung sendiri. Jangan-jangan saya sudah melewatkan penemuan terbesar abad ini.

Post-modern

Kami meminta sahabat kami, sebut saja Mas Cahyo, untuk mendesain interior calon rumah kami. Setelah beberapa kali ketemu, secara tersamar ia menyebut kami ‘salah pilih’ dalam menentukan gaya rumah kami.

Rumah kami yang sudah terlanjur berdiri meski belum jadi itu bergaya minimalis. Saya suka gaya itu, praktis, bersih, keren, dan lagi ngetrend (waktu itu, sih alias enam tahun yang lalu, dan sekarang keliatan agak ndeso).

Mas Cahyo bilang –meski tidak blak-blakan– gaya itu tidak sesuai dengan kepribadian kami. APA? Saya sudah yakin banget itu sesuai dengan karakter, selera, dan dan kebutuhan saya. Pokoknya gue banget deh.

Lalu berceritalah Mas Cahyo ini tentang gaya ‘minimalis’. Ceritanya tentu valid, wong dia dulu kuliah di jurusan desain interior alias dia mbayar hanya demi mengetahui bagus mana antara gypsum dan tripleks sebagai material plafon.

Begini cerita Mas Cahyo. Gaya minimalis lahir untuk merespon manusia ‘modern’ seiring dengan perkembangan industri. Orang-orang modern mendambakan kepraktisan dan kemudahan. Warna-warna yang dipakai cenderung bersih, subdued.

Nah, menurut Mas Cahyo saya dan suami itu bukan manusia ‘modern’. Sebelum saya bercerita lebih jauh dan menimbulkan salah paham, ‘modern’ di sini digunakan dalam arti sempit ya, hanya untuk mendefinisikan ‘gaya’ saja.

Perempuan modern tidak menyusui. Perempuan modern tidak menginginkan pot pouri beraroma pandan di dalam rumahnya (semprotan pewangi lebih praktis). Orang modern tidak mempertimbangkan makanan sehat. Orang modern tidak ingin mendidik anaknya di rumah. Orang modern tidak menolak soft drink dan makanan kemasan.

Lah, saya ini menyusui anak saya, pengin mendidik anak saya di rumah, pengin merajang pandan dan menaruhnya di cobek batu sebagai pewangi ruangan. Saya lebih suka ngobrol dan makan pisang goreng dibanding WA-an.

“Lah, kalau bukan orang modern, kami ini orang apa?”

“Post-modern,” jawab Mas Cahyo. Jadi saya sudah melampaui modern dan masuk post-modern. APA?

Jadi ceritanya, orang posmo sudah mulai jenuh dengan segala hal yang barbau mesin, berbau pabrik, hal-hal yang masal, instant, dan otomatis. Maka kembalilah mereka ke jamu, ke slow food, ke ASI, ke aroma therapy, dan seterusnya.

Oh, begitu. Hah, kita memang tidak pernah bisa melihat hidung kita sendiri.

 Saya jadi curiga, jangan-jangan saya menolak WA dan teman-temannya tadi karena ternyata saya ini manusia post-modern tadi! Saya menolak WA selayaknya ikan menolak sepeda. Bukan karena sepeda itu jelek, tapi memang nggak cocok saja. Aduh, perbandingannya agak wagu, tapi ya sudahlah…

Tsunami Informasi

Kalau Anda membuka facebook, jujur saya deh, dari sekian puluh atau sekian ratus status teman Anda itu, berapa yang menarik? Berapa yang bermanfaat? Dari sepuluh status, rata-rata hanya dua atau tiga saja yang bermanfaat dan menarik. Yang lainnya? ‘Makan mi instan lagi deh’ atau ‘Kangen k4mueh caiayank.’ atau ‘Dasar cewek gatel, lo’ atau foto bibir monyonk di depan cermin.

Sayang sekali facebook yang keren itu tidak bisa memilah informasi buat kita. Mau itu sampah, mau itu hujatan berbahaya, mau itu resep masakan inspiratif, semua tumplek blek dan mengubur kita, menghabiskan waktu yang mestinya bisa kita gunakan untuk membacakan cerita untuk anak kita atau menulis blog yang sudah kita niatkan entah sejak kapan.

Itulah yang kita hadapi sekarang. Untuk mendapatkan sekelumit informasi yang MUNGKIN menarik atau berguna, kita terpaksa memilah berton-ton informasi sampah lainnya.

Saya belum bicara tentang distraksi. Dan saya tak perlu membicarakannya saya rasa. Anda tahu betul  soal itu. Anda tahu betul bagaimana kerjaan nggak kelar-kelar karena dikit-dikit komputer ber-‘ding-ding’ mengabarkan komentar baru.

Kenapa tidak dimatikan saja kalau begitu? Ya nggak bisa dong, facebook kan lebih menyenangkan daripada kerjaan. Dan kalau facebook dimatikan jangan-jangan kita ketinggalan berita kalau ada sahabat kita yang lagi makan mi instan.

Generasi Menunduk

Suatu saat kerabat saya dari luar kota berkunjung. Dia menyempatkan mampir di antara waktunya yang sempit. Dia hanya punya waktu beberapa menit saja untuk bertukar kabar terbaru dan …. dia bahkan tidak mendengar apa  yang saya tanyakan karena dia sibuk menunduk membaca hape-nya, entah itu BBM entah itu whatsapp. Apa pun itu saya jadi berpikir mengapa kita mau mau repot mampir tapi tidak mau repot mendengarkan.

Entah bagaimana benda satu itu bisa sangat mengikat kita, menguras pikiran dan perasaan. Baru-baru ini adik saya plonga-plongo ketika saya ajak ngomong. Benar-benar nggak nyambung, padahal dia duduk di depan saya. Dia bilang, “Hah, apa? Kamu ngomongin apa? Maaf, aku baru aja buka WA, dan pikiranku nggak di sini.”

Astaga.

Pernah saya ikut sebuah kepanitiaan seminar. Kami sering kali rapat, tapi konyolnya pulang rapat, teman-teman panitia itu pada BBM-an, ‘rapat’ lagi. Akibatnya mereka ‘rapat’ 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Saat kami ketemuan lagi buat rapat beneran… semua sudah kacau lagi. Keputusan rapat yang lalu seolah sudah tak berarti tertutup ‘rapat’ ala blackberry yang tak punya tata cara. Bahkan ada beberapa hal yang kacau karena ada kesalahapahaman khas ‘komunikasi ketik’.

Batas

Saya tak bakal tahan menghadapai hal seperti itu. Maksud saya terhubung dengan gadget 24 jam. Saya kerja di rumah, jadi bisa dibayangkan saya tak bisa memisahkan antara ‘pekerjaan’ dan ‘keluarga’. Saya kerja sambil momong anak. Tapi saya bisa memberi batas antara ‘manusia di depan mata’ dan ‘manusia yang tidak berada di depan mata’.  Saat tidur siang, otomatis hape saya silent. Suami sudah paham bila saya tidak mengangkat telepon pada jam-jam krusial alias jam tidur siang tadi.

Begitu pula begitu sudah tiba jam tidur malam. Hape kembali sunyi. Saya mengecek e-mail dua atau tiga kali sehari, tapi TIDAK setiap saat.

Bagaimana kalau ada berita yang penting? Yang penting banget selalu berhubungan dengan keluarga. Dan mereka tahu bagaimana cara menghubungi saya lewat telepon rumah.

Ah, saya sudah melantur. Intinya, hingga saat ini saya masih mengatakan tidak pada WA dengan alasan:

  1. Saya bukan karyawan atau penjual online.
  2. Saya lebih suka ngobrol sambil minum teh daripada ngobrol sambil mencet keypad.
  3. Saya orang post-modern yang arti sebenarnya adalah: katrok atau gaptek.

Begitulah. Jadi maaf ya kalau sampai saat ini saya kekeuh nggak mau pakai WA.

PS:

  1.  Jangan ada WA di antara kita adalah kalimat yang saya comot dari status fb Teh Rini.
  2. Tsunami informasi dan generasi menunduk adalah istilah dari adik saya yang mungkin juga ia dengar dari orang lain.

27 thoughts on “Jangan Ada WA di Antara Kita

  1. Lidya Renny Chrisnawaty

    Aku dulu nggak punya WA, tapi ‘terpaksa punya’ karena diskusi Gramedia Writing Project dilakukan di WA. Hp masih jadul, nggak bisa dipasang WA. Jadilah install youwave android di netbook. Bisa WA-an. Awalnya untuk urusan menulis, lama2 jadi ngobrol ini itu sambil cekakak-cekikik, Wahaha. Tapi WA-nya di netbook so bukanya sesekali doank, nggak online all the time. Itulah internet atau aplikasi chat, seperti pedang bermata dua ( opo iki? :D). Intinya : “Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.” Wahaha…

    Reply
  2. Mamaknya renza

    Saya suka sekali baca cerita mbak, saya juga gak punya WA, buat apa juga. Sama seperti mbak, saya lebih suka ketemu teman langsung dan ngobrol sambil minum teh. Cukup facebookan, itu bener banget mbak. Terhibur saya baca tulisan mbak ken, haus membaca saya terpuaskan oleh tulisan mbak. Di tunggu lagi karya2 nya mbak🙂

    Reply
    1. Oyo Natawijaya

      cocok, perlu jadi bahan renungan
      teknologi bisa mendekatkan yang jauh tapi bisa juga menjauhkan yang dekat (amit-amit)

      Reply
  3. Oyo Natawijaya

    cocok, perlu jadi bahan renungan
    teknologi bisa mendekatkan yang jauh tapi bisa juga menjauhkan yang dekat (amit-amit)

    Reply
  4. indrijuwono

    mbak Ken, I feel you banget, hehe.
    dulu aku juga cuma pakai YM karena merasa cukup, nggak perlu beli blackberry karena merasa akan ganggu. sampai akhirnya aku punya smartphone dan install WA, dan di situlah mulai terampas-rampas waktuku. makin banyak orang pakai WA untuk grup dan lain-lain, ngobrol macam-macam dari yang penting sampai nggak penting.
    akhirnya alih-alih mikirin WA, setiap liburan semua koneksi data internet di ponsel aku matikan, selain hemat batere juga lebih asik liburannya. hari biasa, semua grup aku mute supaya tidak berdenting. hanya yang benar2 mau menghubungi pasti lewat jalur personal.

    Reply
    1. kenterate Post author

      Ah, testimoni dari yang mengalami. Bener mbak, apalagi kadang orang nggak bisa bedain mana jalur personal, mana jalur umum, jadi sampahnya sampai ke mana-mana.

      Reply
  5. Adiel Luckman

    Reblogged this on Human, Love, & Nature and commented:
    Bahkan saya tidak memiliki akun medsos jenis ini, terdengar ayik sih, kabar bahagia. saya rasa, kalo dipikir-pikir saya juga sedang menerapkan hidup tradisional yang sustainable dan mungkinkah saya termasuk pada generasi posmod? hehe

    Reply
  6. Positive Thinking

    lebih baik bertemu langsung, tapi jika terpaut jarak yang jauh, tak ada salahnya memanfaatkan teknologi murah

    Reply
  7. syifa @araleostrada

    suka dgn crita mbk, pengen ikutan jadi orang post-modern. hehehe saya jg nggak punya WA, line, kakaotalk n Bbm. sdh cukup fb, twitter, blogspot n tumblr.fb saja bingung kebanyakan grup :p
    harus bs mmbatasi penggunaannya. “yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh”

    Reply
  8. Bunga Reka

    Saya tidak punya akun sosmed. Dulu saja zaman SMA punya akun friendster😀. Kdg saya membuka sosmed utk belanja online atau sekedar iseng kepo status org yg dikenal, namun dgn meminjam akun teman saya.
    Setelah sya memakai android, sya memakai BBM dn WA dengan tujuan agar tetap bisa “keep in touch” dgn teman2 sejawat yg cukup dikenal dan sangat dikenal. Awalnya hanya BBM, namun karena tidak smua menggunakn BBM, mka sy jg menggunakan WA.
    Awal memakai android, teman sy sdh mewanti utk jg memakai path. Saya mnolak dgn alasan sy anak rumahan, jarang keluar, shg tdk ada yg perlu dipotret dn di-share. Baru2 ini dia meminta saya kembali utk mmakai path agar mudah di-tag. Jadi, apakah sy harus mmakai path hnya dgn alasan agar mudah di-tag?🙂
    *waduh jadi curcol

    Reply
  9. Pingback: Bagaimana Sosial Media telah Mengubah Dunia | singkongkejuyummy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s