Lain Sakit Lain Diobat, Lain Luka Lain Dibebat

Deadline sudah selesai untuk sementara, jadi markiblog, mari kita ngeblog.

Maraknya pemberitaan tuduhan malapraktik yang berujung pada pemogokan dokter tempo hari membuat saya tergelitik menuliskan ini. Tidak, saya tidak bakal mengomentara aksi mogok itu. Saya hanya mau cerita ‘salah kaprah’penangangan kesehatan yang biasa kita jumpai sehari-hari. Saking biasanya kita bahkan tidak menganggapnya salah. Saya tak bisa menyebutnya malapraktik karena saya tak tahu mana yang bisa disebut malapraktik dan mana yang tidak.

Sebetulnya agak mrinding juga saya mau nulis ini karena saya bukan dokter dan bukan ahli kesehatan. Tapi Bunda Wati (dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpA (K) MMPed) dalam salah satu seminarnya mengatakan, “Mbok kalau punya ilmu itu dibagi. Kita kan nggak mungkin sehat sendiri.” Maksud beliau, meski kita udah capek-capek bersih-bersih rumah supaya terhindar dari nyamuk demam berdarah, kalau tetangga kita hidup jorok yah… sama juga bohong, kan?

Saya ini cuma orang awam biasa. Jadi maaf, kalau penjelasan saya di bawah nanti ada yang salah dan TOLONG, TOLONG, jangan dijadikan sebagai rujukan atau referensi, apalagi referensi ilmiah. Oya, saya sangat terbuka untuk dikoreksi.

Gemas

Saya gemas melihat beberapa praktik ‘tak beres’ yang dilakukan beberapa dokter dan pasien. Pasiennya juga terlibat dong karena kadang pasiennya yang minta pengobatan tidak benar. Mau contoh? Ada pasien yang ngotot minta rawat inap meski tak butuh rawat inap. Alasannya bisa macam-macam, mulai dari ‘quota’ asuransi rawat jalannya udah habis lah, biar lebih terjagalah, sampai biar diperhatikan. Ada nenek teman saya yang tiap tahun minta dirawat inap. Alasannya: biar dijenguk anak cucu!

Ada laporan di sebuah milis bahwa dokter anaknya sudah siap dengan setumpuk resep dengan daftar obat yang sama persis di tiap lembarnya. Jadi waktu si pasien datang, dia nggak melakukan pemeriksaan apa-apa (atau paling tanya-tanya dikit) lalu sreeetttt…. resepnya tinggal disobek dan diberikan pada si pasien tanpa ia harus menulis lagi. Kalau resep boleh difotokopi, sudah dia fotokopi kali.

Tetangga saya orang miskin. Anaknya sakit panas. Karena panik (si anak pernah kejang sebelumnya) ia ke dokter swasta alih-alih ke puskesmas –memang sudah malam waktu itu—. Si dokter menyarankan cek lab. Untuk biaya dokter, obat, dan cek lab ia harus membayar Rp 500.000. Ya Tuhan, itu setara dengan gajinya sebulan mungkin. Dan si anak ternyata cuma ‘sakit perut’.

Aduh, daftar cerita bisa panjang sekali saya rasa. Bapak saya pernah sakit clavus (semacam kutil di kakinya). Ketika dia dokter onkologi (ya bodohnya saya waktu itu, sakit kayak gitu kok ke spesialis kanker), dia disarankan operasi dan biayanya: dua juta lebih! Padahal astaga, itu operasi keciiilll sekali. Sebelum operasi dia disuruh minum antiobiotik . Saya tebus obatnya di klinik yang sama: harganya tiga ratus ribu lebih! Hanya untuk antiobik yang saya yakin generiknya tak sampai dua puluh ribu. Bodohnya saya: kok ya saya saya tebus di apotek itu. Kok saya nggak pulang dulu, cek internet dulu apa nama generiknya dan cari di apotek lain. Toh itu bukan keadaan gawat darurat, yak an?

Dan tau tidak, kali kedua bapak saya menderita penyakit yang sama, ternyata dokter kulit bisa menyembuhkannya dengan salep! Tanpa operesi. Harga konsultasi dan obatnya tak sampai dua ratus ribu.

Saya tak hendak menyalahkan dokternya. Saya justru menyalahkan pasiennya, menyalahkan saya, menyalahkan kita. Kita begitu sering mendewakan dokter. “Lah, dokter itu kan pinter. Dia pasti lebih paham dari kita. Sekolahnya saja susah sekali. Sementara, kita ini kan bodoh. Kalau tidak percaya sama dokter, mau percaya sama siapa lagi?”

Anda kaget tidak kalau saya bilang ternyata dokter itu MANUSIA juga? Kadang manusia itu malas belajar. Kadang (sering) manusia itu capek, kadang manusia itu nyogok agar diterima kuliah meski otaknya tak memenuhi syarat buat kuliah.

Bayangkan dokter puskesmas atau rumah sakit umum yang pasiennya mengular. Mana sempat dia memeriksa dengan saksama? Mana sempat dia wawancara dengan pasien dan seterusnya? Mana sempat ia mengedukasi. Misalnya, “Ibu pusing ya? Pusing seperti apa? Kapan mulainya? Seringkah ibu menderita pusing kayak gini?” Apalagi kalau si dokter udah capek banget, barusan di-bully oleh seniornya, lagi bertengkar dengan istrinya, dan lagi ditagih utang oleh tetangganya, wajar saja kalau dia meresepkan panadol untuk segala macam keluhan pusing. Lebih mudah kan? Apalagi kalau resepnya sudah ditulis lebih dulu. Percaya atau tidak, dokter yang tidak komunikatif itu banyak! Periksa pasien, diam. Nulis resep, diam. Sampai selesai pun masih diam, sampai-sampai si pasien tak tahu sebenarnya dia sakit apa, apa yang harus dia lakukan untuk mencegahnya, dan seterusnya.

 Lebih mudah menghilangkan gejala daripada mencari penyebab asalnya. Dan toh nyatanya si pasien seneng. Kadang makin panjang resepnya makin bangga. Pulang dari klinik si pasien cerita pada tetangganya, “Wah, saya barusan berobat ke dokter dan dokter nyuruh saya minum lima macam obat tiap hari!”

Kalau dokternya nulis resep sambil merem, makin percaya si pasien ini dokternya jempolan. Padahal hei, ada berapa ribu obat di dunia ini? Apa dokternya bisa hapal semua?

Makin rumit tulisannya juga makan yahud rasanya. Rasanya dokternya makin pinter gitu kalau tulisannya cakar ayam. “Nggak papa kita nggak bisa baca. Soalnya kita ini kan orang awan. Yang penting apotekernya bisa baca.” Harap diketahui sudah ada kejadian apoteker salah baca resep karena tulisan dokternya ‘canggih’ banget.

Pernah kejadian, saya memeriksakan ayah saya. Dokter menuliskan resep. Begitu kami keluar, saya coba membaca resepnya. Hm, ada huruf c terus… apalagi ya…  nggak familiar, saya nggak bisa baca resep itu. Ya sudahlah, saya beli saja. Saya tebus resep itu di rumah sakit (biar gratis,maklum ASKES). Saya tunggu antrian sekitar setengah jam, dalam kondisi letih dan latar. Begitu dapat obatnya, saya kaget obat itu ternyata: Asam Mefemanat! Astaga. Ini sih hampir setali tiga uang dengan panadol tadi. Kalau itu mah saya punya segepok di rumah akibat kebiasaan ibu saya memberikan ‘obat dewa’ ini. Dan kalau beli di luar, asam mefenamat itu hanya enam ribu satu strip! Ya ampunnn. Setengah jam capek antri hanya demi obat yang sudah saya miliki.

Nah, yang bodoh siapa? Saya tentu saja. Kok bisa-bisanya saya nggak nanya sama dokter apa yang ia resepkan?

Begitulah, sama seperti pasien pada umumnya, saya seratus persen percaya pada dokter. Pasrah bongkokan! Padahal sebagai pasien kita berhak bertanya, kita berhak mendapat resep dengan tulisan yang jelas, kita berhak mendapat informasi obat dengan tuntas.

Adik saya pernah mendapat antibiotic yang harganya gila-gilaan. Karena nggak ada duit, dia tanya sama opetekernya, “Mba, adakah obat generiknya?” Ternyata ada, dan harganya? Nggak sampai seperlimanya!

Bunda Wati bilang, “Kalau Anda mau beli biskuit di supermarket kan Anda bisa menghampiri rak biskuit di supermarket dan memilih yang Anda suka. Anda bisa memilih rasanya, kemasannya, harganya. Obat juga seharusnya begitu.”

Kenyataannya sih, kita manut sama apa pun yang diresepkan dokter seolah itu satu-satunya obat yang ada di dunia. Kalau diresepi parasetamol, Anda sebetulnya punya banyak pilihan, mulai dari bodrex sampai sanmol. Ada bisa pilih harganya, anda bisa pilih bentuknya (mau yang pil atau sirup).

Sama seperti bila kita mempraktikan resep masakan. Kalau resepnya bilang ‘keju’, maka Anda boleh pilih pakai Kraft atau Prociss. Anda bisa milih karena Anda tahu Anda punya pilihan. Jadi, ketahuilah, Anda juga punya pilihan untuk obat.

Dari program PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orang Tua) yang tiap tahun diadakan di berbagai kota oleh yayasan orang tua peduli, saya banyak mendapat ilmu dari Bunda Wati yang sangat membumi ini. Saya mengacungkan jempol pada dokter yang mengambil jalan yang jarang dilalui dokter-dokter lain ini. Hm, bisa jadi lho dia dimusuhi oleh dokter-dokter lainnya karena kalau semua pasien nurut padanya, niscaya pasien dokter (terutama dokter anak) bakal berkurang drastis.

Dari penuturan beliau saya baru sadar kalau selama ini saya jadi korban ‘malapraktik’. Hanya saja saya jadi korban karena kebodohan saya sendiri dan bukan karena kelalaian dokternya. Bunda Wati bilang, “Mbok ayo, kita lebih pintar dikit. Dikkiiitttt aja, nggak usah banyak-banyak.” Mari kita belajar. Ini sebagian yang saya pelajari dan ingin saya bagikan:

 

  1. Antibiotik mania

Ibu saya (alm) adalah seorang perawat. Tiap kali kami ‘sakit’ –mulai dari pusing sampai pilek—dia selalu menawarkan dua obat ampuh: antibiotik (biasanya amoxicicilin) dan asam mefenamat (atau ponstan). Dua obat it super sakti pokoknya. Dan benar saja, pusing saya langsung sembuh begitu saya menelan asam mefenamat. Pilek saya juga berangsur-angsur setelah minum anti biotik. Yang tidak saya ketahui adalah saya juga bakal sembuh tanpa obat-obatan itu.

Antibiotik adalah obat untuk membunuh kuman (bakteri). Masalahnya penyakit langganan yang sering menyerang kita sebagian besar disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Jadi bisa Anda bayangkan bukan, itu ibarat kita kena gigitan nyamuk, tapi kita olesin kulit kita pakai obat panu. Alias lain sakit lain diobat, lain luka lain dibebat. Nggak nyambung, itu intinya.

Celakanya lagi antibiotik tidak hanya mematikan bakteri yang jahat, bakteri yang baik ikut mati juga. Begini lho, tubuh kita itu penuh bakteri, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mulai dari lidah sampai usus. Tapi sama seperti manusia, lebih banyak manusia yang baik daripada yang jahat. Bakteri juga begitu, lebih banyak yang baik daripada yang jahat,lebih banyak bakteri yang menolong kita daripada mencelakai kita. Kata adik saya (yang juga dokter), kalau kita batuk dan minum antiobitik, itu ibarat kita mau membunuh ikan cethul pakai bom atom. Mau membunuh satu kuman, yang mati satu kota.

Antibiotik pernah dianggap sebagai obat ajaib. Sampai-sampai prajurit yang mau berperang pun dikasih antiobiotik meski mereka masih segar bugar. Obat itu dianggap bisa menangkal infeksi kalau mereka terjangkit penyakit di medan perang.

Intinya antiobiotik zaman dahulu (sampai jaman sekarang)  dipakai secara masif dan sembarangan. Akibatnya? Bakteri yang dulu ‘lemah’ kini semakin kuat. Sudah menjadi sifat makhluk hidup, kan, bila ia ditekan, ia akan berusaha melawan dan akibatnya ia jadi makin perkasa. Saat ini antiobiotik yang dulu manjur sudah tidak berdaya lagi. Akhirnya kita butuh antiobiotik yang lebih hebat lagi (artinya yang lebih mahal juga). Celakanya, untuk menemukan antibiotic baru yang lebih kuat kita butuh waktu sekitar 30 tahun, tapi kesaktiannya bisa lenyap dalam waktu dua atau tiga tahun saja gara-gara pemakaian yang masif dan bikin bakteri kebal tadi.

Prof. dr. Iwan Dwi Prahasto. M. Med. Sc. PhD (dosen farmakologi di Fakultas Kedokteran UGM sekaligus tokoh farmakologi terkemuka di Indonesia) mengatakan, “Ngapain kita makan antibiotik? Ayam, sapi kita itu udah dikasih makan antibiotic. Dan jumlahnya nggak tanggung-tanggung. Peternakan ayam tuh kalau beli antibiotik satu ember! Jadi kalau Anda makan ayam di gerai ayam cepat saji (nggak berani sebut nama), Anda sebenarnya sudah dapat bonus antibiotic.Gratis!”

Pemerintah Thailand, lanjut Bunda Wati, sudah menggalakkan kampanye, “Tak perlu antibiotic untuk tiga hal: diare, flu, dan luka minor.”

Jadi ye, sunat tak perlu antibiotik, cabut gigi juga tak perlu antibiotic, dahi sobek dijahit juga tak perlu antibiotik. Itu artinya Bapak saya dulu juga tidak perlu minum antiobiotik sebelum operasi kutilnya.

Jangan salah ya, kita tidak perlu anti antibiotik. Zat ini sangat berguna untuk melawan bakteri jahat yang kebetulan menyerang tubuh kita. Yang penting kita menggunakannya dengan cara yang tepat dan bijak.

Pemakaian antibiotik boleh dihentikan di tengah jalan bila terbukti kita sakit bukan karena bakteri. Jangan takut bakterinya bakal kebal wong tidak ada bakterinya, ya kan?

  1.  Pasukan bodrex

Iklan bodrex mengklaim ia sudah mendistrisbusikan delapan milyar (kalau nggak salah) pil demi menyembuhkan sakit kepala orang Indonesia. Hebat sekali ya. Saya percaya itu benar dan mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Bodrex punya banyak teman mulai dari Paramex, Oskadon, Biogesic, Panadol, Sanmol dan entah apa lagi. Jadi kalau digabungkan mungkin jumlahnya sudah beratus milyar.

 

Zat aktif dalam Bodrex dan konco-konconya itu adalah parasetamol (mungkin juga zat lain, silakan dicek ya). Zat ini bekerja dengan cara menghambat prostaglandin (mediator nyeri di otak) sehingga tubuh kita tidak merasakan nyeri (pusing dan teman-temannya). So, apakah itu mengobati penyakitnya? Tidak dong, hanya menghilangkan rasa sakitnya saja. Penyakitnya masih ada di tubuh kita, tapi kita nyaris tidak merasakan ketidaknyamanannya.

 

Menurut Bunda Wati itu sama saja dengan: ada kebakaran, alarm berbunyi keras sekali dan karena kita terganggu dengan bunyi alarm itu, alarm-nya kita matikan! Apa kebakarannya masih terjadi? Ya iyalah, cuma kita menyadarinya itu aja. Edan kan itu?

 

So,  saat kita pusing carilah penyebabnya. Ada yang pusing karena stress, ada yang pusing karena meeting di ruang ber-AC berjam-jam, ada yang pusing saat menstruasi, dan seterusnya. Kalau kita pusing karena stress, obat sakit kepala akan menghilangkan sakit kepala kita sejenak sehingga kita merasa nyaman, tapi ya pasti akan kumat lagi bila stressnya tidak kita tangani. Kalau Anda pusing karena berada di ruang ber-AC terus menerus, solusinya ya matikan AC buka jendela atau keluar dari ruangan itu. Jangan salah, lapar aja bisa menyebabkan pusing lho. Dan obatnya ya: makan.

 

Dalam kasus menstruasi apa nggak boleh kita minum penghilang rasa sakit seperti itu? Kan kita nggak mungkin menghindari menstruasinya toh? Boleh saja. Pada dasarnya kita boleh kok minum parasetamol, tapi ingat juga bahayanya. Silakan google efek samping parasetamol. Saya nggak mau bikin Anda ngeri, tapi ada lho ada anak yang harus diopname gara-gara kebanyakan makan obat pusing anak-anak rasa jeruk. Dia makan obat itu kayak permen aja, dimakan berbutir-butir sekaligus. Dan akibatnya: keracunan. Ini contoh ekstrim, tapi dalam jangka panjang, pemakaian parasetamol bisa menimbulkan efek sedemikian.

Ada teman saya yang sakit liver karena tiap kali pusing, tiap kali itu pula dia menelan obat anti pusing. Jadi yah… saya tak perlu menjelaskannya panjang lebar ya.

Hm, masih banyak yang ingin saya bagikan, tapi kok sudah panjang sekali saya menulis. So, saya sambung lain kali ya kalau saya sempat hehehe. Nggak janji sih.  

2 thoughts on “Lain Sakit Lain Diobat, Lain Luka Lain Dibebat

  1. Widhia

    baca postingan ini berasa lagi baca materi kuliah nih😀 saya yang calon apoteker aja ogah minum antibiotik & obat2 lainnya kalo kondisinya belom parah banget. pas awal saya belajar obat, hal yang pertama diajarin sama dosen saya itu obat = racun. dan dokter swasta kadang suka semena2 ngasih racunnya. oiya mba, paracetamol itu bahaya banget loh efeknya. bisa bikin hati bolong, luka di lambung. bahkan kalo sehari kita makan 4g pct (8 tablet) hati kita bisa rusak saat itu juga.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s