Wisuda, oh Wisuda

Image

Sabtu lalu (1 Juni 2013) mitra hidup saya (cieh), Anto, diwisuda S2 dari studinya di UNY –Universitas Negeri Yogyakarta–. Antara semangat nggak semangat kami menghadapi upacara ‘besar’ ini. Semangat karena wisuda tentunya peristiwa langka yang berharga. Belum tentu seumur hidup tiga kali bukan? Malah yang ada tidak berkesempatan wisuda sama sekali –mungkin itulah mengapa TPA –taman pendidikan Al-Qur’an—saja mengadakan wisuda bila siswanya tamat Iqro.

Tapi ada rasa enggan juga sebenarnya mengingat acara ini pasti sedikit banyak membuat kami ribet. Belum lagi terbayang upacara yang panjang dan melelahkan. Menyaksikan ribuan orang satu persatu menerima map apa istimewanya sih? Apalagi, di antara ribuan itu cuma satu yang kita kenal. Sialnya yang kita kenal itu cuma maju lima detik.

Anto sudah punya pemecahan masalah keribetan ini. Solusinya, “Kamu nggak harus berangkat, kok. Santai saja. Aku nggak mau kamu repot.” Baiklah. Baik hati betul suami saya ini. Tapi saya juga baik hati, “Ha, masak begitu? Masak kamu sendirian di sana? Nggak ada yang mendampingi? Kasihan. Lagian biar Angger juga bangga menyaksikan ayahnya pakai toga.” Padahal sih, saya yang bangga. Angger mah bengong abis liat ayahnya pake jubah hitam besar. Untung aja nggak takut.

Keribetan pertama sudah muncul saat kami menerima undangan wisuda. Di situ tertulis anak di bawah lima tahun dilarang masuk lokasi wisuda. Yah. Gimana dong? Solusinya: kami menggeret si baby sitter aunt alias adik saya Sutimbul. Tugasnya khusus: momong Angger di luar sementara saya enak-enak makan snack kotak di stadion tempat pelaksanaan wisuda.

Keribetan kedua: cari salon subuh-subuh. Aih, ya nggak lah. Itu kan saya dulu waktu wisuda S1. Ya ampun, dandanan saya menor banget waktu itu. Terserah deh orang lain bilang saya cantik. Perasaan sih, saya menor, titik. Udah gitu konde saya segeda ban vespa. Topi toganya sampai perlu dijepet dan ditegakkan dengan bantuan koran. Repot banget. Jarik yang saya kenakan membuat saya nggak bisa membonceng motor dengan ngangkang –saya nggak punya cukup uang buat naik taksi saat itu. Mobil juga kagak punya. Dan sanggulnya membuat saya nggak bisa pake helm. Sepanjang jalan saya khawatir soal make up yang luntur. Loh, kok jadi ngomongin saya?

Saya ulang: keribetan kedua, saya harus cari baju untuk menghadapi event ini. Ini keribetan yang relatif mudah teratasi. Cari-cari di dua toko, ketemu, bayar, pulang. Kami juga membeli batik baru buat Angger. Sip, deh.

Keribetan ketiga, wisuda nggak wisuda, kami tetap punya kewajiban di pagi hari: jualan pepaya! Ya, sekarang kami punya bisnis sampingan: bertanam pepaya dan setiap beberapa hari sekali menyetorkan pepaya ke pasar. Hari itu, ya sama saja. Kami bangun subuh dan mengantar pepaya ke pasar. Ditambah tetek bengek yang lain, Anto sampai nyaris telat datang ke wisudanya sendiri.

Keribetan ke empat: entah bagaimana setelah wisuda bawaan kami bisa segambreng, sehingga kami harus membeli tas tambahan on the spot. Dua lima ribu cing, tas batik dari kain perca. Ya untung ada yang jual tas. Surprising sekali, GOR UNY tempat pelaksanaan wisuda jadi pasar dadakan. Perasaan waktu diwisuda saya dulu nggak segitunya deh. Paling yang ada orang jual bunga dan minuman. Di ‘pasar dadakan wisuda UNY ini’ semua tersedia: sandal, kaos, baju batik sampai mainan anak ada. Nah, kalau ada mainan anak itu artinya…. pulangnya saya harus bawa balon berbentuk pesawat gede banget di boncengan motor! Hedew, Angger, Angger. Hobi banget nyiksa emakmu. S2 kali ini sama aja, meski udah punya mobil, demi mengurangi keribetan kami milih naik motor! Hehehe, nggak tiap hari nih naik motor pakai toga dari GOR ke gedung rektorat. Ngapain ke gedung rektorat? Buat foto, dong!

Terharu

Saya sengaja datang mepet waktu, agak telat dikit malah. Eh, bener, begitu saya sampai, upacara dimulai. Rombongan anggota senat universitas masuk. Para anggota senat ini adalah rektor, dekan, pejabat rektorat dan dekanat, dosen-dosen mahaguru, pokoknya orang sakti di bidangnya. Mereka masuk diiringi gending Jawa dan cucuk lampah yang menari dan menggunakan busana Jawa. Ya ampun, para senat ini benar-benar seperti dewa. Rasanya mereka itu agung sekali. Toga mereka memang hitam, tapi hiasannya lebih menonjol dan ‘cetar membahana’. Kesannya… ya seperti dewa itu tadi.

Upacara dibuka dengan tarian Jawa. Cantik sekali. Setelah itu, rektor mewisuda para wisudawan secara simbolik dengan memindahkan tali toga dari kiri ke kanan yang dikenakan oleh wisudawan terbaik satu universitas, diikuti para wisudawan lainnya. Yah, yang bukan wisudawan terbaik terpaksa memindahkan tali sendiri —maap ya–. Saat nilai IPK wisudawan tersebut diumumkan, semua sontak bertepuk tangan: 3,95, man! Terkutuklah satu dosen yang memberi dia nilai B!

Lalu dimulailah penyerahan ijazah, dimulai dari mahasiswa terbaik dari tiap-tiap prodi (program studi). Dan sinilah mulai terasa bedanya upacara wisuda zaman saya dulu dan zaman sekarang. Seiring perkembangan teknologi, upacara wisuda zaman sekarang sudah dilengkapi dengan layar lebar. Nggak cuma satu, tapi enam! Dua digantung di dinding depan, empat digantung di bawah langit-langit. Semua tamu bisa melihat jalannya prosesi dengan lebih jelas.

Image

Enam layar lebar terbentang, seperti nonton konser deh🙂

Wisudawan terbaik dari tiap fakultas dipanggil. Saat mereka maju menerima ijazah dan penghargaan, profil mereka terpampang di layar, lengkap dengan nilai IPK mereka yang tentu mengagumkan. Dan yang hebat nama orang tua mereka disebut dan si orang tua juga dishoot live dan terpampang di layar. Orang tua yang bukan dari wisudawan terbaik? Sorry, nggak penting.

Saya langsung punya resolusi buat Angger: besok kamu harus bisa menjadikan nama orang tuamu didengar dan tampang orang tuamu dilihat manusia satu stadion! O yeah, mereka akan langsung lupa tentu saja, tapi kami nggak akan lupa!

Yeah, saya tahu ini dangkal. Memangnya kenapa kalau dia punya IPK tertinggi? Belum tentu akhlaknya juga ikut tinggi. Memangnya kenapa kalau dia menyelesaikan kuliah dengan cepat? Jangan-jangan dia kuliah cepat karena selama kuliah dia memang nggak ngapa-ngapain, nggak kerja sambilan, nggak ikut kegiatan mahasiswa, nggak pacaran, nggak cari teman yang juga penting untuk kekayaan hidupnya. Dan yeah, seluruh upacara wisuda itu sendiri dangkal bukan? Apakah sarjana itu otomatis akan menjadi orang yang ‘berguna’ bagi masyarakat? Belum tentu bukan. Coba ke instansi-instansi pemerintah, dan niscaya anda akan menemui banyak sarjana yang cuma main game dan ngerokok ngobrol nggak penting selama jam kerja. Apa sarjana otomatis jadi orang yang jujur dan berintegritas tinggi? Aih, banyak sarjana yang korupsi. Jadi sebenarnya, wisuda tak perlu dibesar-besarkan banget, kan?

Ya perlu lah! Buat apa? Buat narsis lah! Buat bikin ortu bangga. Serius, saya melihat aura kebanggaan di tiap wajah orang tua. Sebagian dari mereka  bahkan belum pernah masuk ke stadion ‘sebesar’ itu. Mereka belum pernah menginjak apa itu kampus. Bagi sebagian, anak yang mereka hadiri wisudanya adalah anak pertama dalam keluarga yang diharap bisa memutus rantai kemiskinan dan kebodohan. Mereka ini rela datang dari jauh, nyewa mobil, bawa orang satu desa. Meski yang bisa masuk cuma dua orang, yang lain rela nunggu di luar, dari pagi sampai siang. Dan mereka juga bawa NASI KOTAK yang dimakan rame-rame di lobi stadion. Kenapa nasi kotak ini penting? Karena saya menyaksikan hal ini dulu, sepuluh tahun yang lalu, saat saya diwisuda dan ternyata masih terjadi hingga saat ini. Nasi kotak ini simbol penghematan, kegigihan, dan kekeluargaan keluarga Indonesia. Dan saya senang itu masih bertahan.

Saya sendiri sempat menitikkan air mata di dalam stadion. Entahlah, pemandangan itu membuat saya haru. Saya juga bersyukur Anto bisa menyelesaikan perjuangannya. Bukan hal yang mudah, bagi orang yang bekerja plus seorang ayah sepertinya. Apalagi dia kadang angot-angotan dalam mengerjakan thesisnya. Hah, untung saja lagi wajib wisuda Gaudeamus Igitur tidak diperdengarkan. Kalau iya, bisa merinding seluruh bulu kuduk ini dan saya bisa mewek beneran!

Tapi nggak segitunya

Saya telah ‘mengagung-agungkan’ upacara wisuda di atas tadi, tapi apa saya menikmatinya sampai selesai? Ya nggaklah. Begitu Anto sudah menerima ijazah, kami langsung SMS-an, “Yuk, keluar.”

Terus ngapain? Tentu saja foto-fotoan! Untung kami keluar duluan, jadi spot-spot foto masih sepi. Anto sempat mengusulkan kami foto di studio. Ya ampun, buat apa, lageee? Udah mahal, hasilnya cuma disimpan doang. Dan pasti deh fotonya gitu-gitu aja, berdiri dengan tangan bertumpu di atas kamus di atas meja. Background-nya adalah LUKISAN perpustakaan. Makasih, deh.

Tak ada kemeriahan pasca wisuda seperti waktu wisuda S1 saya dulu. Saya berfoto berkali-kali dengan teman-teman, saling mengomentari make-up, bercanda sampai siang menjelang sore. Pokoknya heboh. Wisuda kali ini kami sadari hanya sebatas seremoni, jadi tak perlu dirayakan berlebihan.

Kami makan siang di Kopi Tiam setelah itu karena timbul punya kartu diskon. Berempat saja: Anto, saya, Timbul, dan Angger.

Image

Properti yang khusus dibeli buat foto. Kata Sutimbul, “Sewa aja boleh nggak?”

Ya, semua lebih ringkas, lebih sederhana, lebih apa adanya, namun tetap tak kehilangan maknanya.

3 thoughts on “Wisuda, oh Wisuda

  1. Fenty

    Aaah, jadi kangen wisuda lagi🙂

    anyway, bener juga, ken, jadinya sekarang itu wisuda bisa lebih dari 2-3 kali, bahkan dari tamatan PAUD aja wis-sudah :p

    Reply
  2. bruziati

    Kemarin waktu Eko wisuda, orangtuanya yang kecewa. Dulu waktu S1 di Jogja, dipanggil satu-satu ke depan, jadi keliatan. Pas di UI cuma perwakilan tiap fakultas aja yang maju, jadi anaknya nggak keliatan hehehe. Sementara Eko-nya sendiri pas aku tanya ngapain aja di dalam? Tidur, katanya :)))

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s