Ibu yang Sempurna

“Jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya,” kata almarhum ibu saya. Mungkin kalimat ibu saya itu tidak tepat sepenuhnya. Sudah ‘banyak’ sekolah untuk menjadi orang tua, mulai dari seminar, buku, dialog, konseling sampai komunitas. Masalahnya, ternyata teori yang diajarkan di ‘sekolah’ tadi ternyata tidak sama dengan praktek di lapangan. Semua teori yang didapat terdengar indah dan mudah. Faktanya?

A Perfect Mother

“There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one,” kata Mbah Winston Churchill.

Saya tahu tak ada manusia yang sempurna. Dan karenanya tentu tak bakal ada orang tua yang sempurna. Tapi saya nekat. Sebelum punya anak pun, saya sudah membayangkan akan menjadi ibu yang sempurna bila kelak punya anak.

Bukan apa-apa; saya (kayaknya) penyabar, ramah, dan lembut. Saya pernah mengisi semacam tes kepribadian untuk menentukan kepribadian saya sebagai orang tua. Hasilnya saya adalah orang yang sangat peduli pada orang lain, sangat sosial, gemar arisan, dan hahahihi. Menurut psikolognya, orang-orang berkepribadian seperti itu adalah orang tua idaman anak. Selain sabar, mereka juga ceria, gemar memuji, menyenangkan. Pokoknya kalau anak bisa memilih, mereka bakal memilih orang tua seperti saya. *Ehm.

Masih kurang? Saya pernah jadi guru anak-anak. Saya tahu cara ‘mendidik’ anak. Saya punya banyak segudang permainan yang ‘mendidik’, mulai dari tebak-tebakan pakai flashcard sampai menyusun kata dengan keping huruf. Saya bisa mendongeng. Meski tidak ahli-ahli amat, saya bisa menyanyi dan hapal banyak lagu anak-anak, baik yang berbahasa Indonesia, bahasa Jawa, atau Inggris.

Masih kurang lagi? Saya membaca buku psikologi, pendidikan, dan kesehatan anak. Saya juga ikut seminar dan pelatihan.

Seharusnya saya sudah sangat siap jadi orang tua bukan?

Jreng Jreng

Dan saat itu pun tiba. Angger lahir. Ujian di depan mata. Namun, baru enam atau tujuh bulan saya mengasuhnya, saya sudah gagal ujian. Apa yang terjadi? Saya memukul pantat Angger saat ia menggigit puting saya. Bagi yang belum pernah menyusui, sakitnya puting digigit itu… lebih baik tak usah saya ceritakan. Horor pokoknya. Angger tentu saja langsung menjerit.

Saya penganut ‘ahimsa’ alias pembenci kekerasan. Saya percaya kekerasan hanya menimbulkan kekerasan lain. Saya tahu betul Angger tak bermaksud menyakiti saya. Ia menggigit hanya karena gusinya gatal. Tapi nyatanya saya memukulnya. Belum apa-apa, saya sudah gagal menjadi orang tua.

Beberapa hari yang lalu Angger ngompol di celana. Hari itu saya kewalahan. Pembantu libur, suami sedang pergi, adik juga tidak di rumah. Ngompolnya Angger terasa seperti bencana besar. Soalnya dia tidak cuma ngompol, tapi juga meratakan kencingnya ke seluruh lantai. Tangannya ia gunakan sebagai ‘pel’ untuk membuat air kencingnya berkecipak. Itu masih belum seberapa. Ia ingin semua mainannya ‘nyemplung’ di cairan pesing itu. Beberapa kartu mainan mahal sudah terlanjur basah. Lalu ia dengan susah payah menyeret kereta mainan (sewaan)nya agar ikut basah saja. Saat ia tidak bisa menyeret kereta itu, ia menjerit-jerit, minta agar saya menolongnya. Akibatnya kemarahan dan kelelahan saya memuncak, mengumpul di ubun-ubun.

Saya cengkeram lengannya. Saya paksa ia menatap mata saya. Jeritannya menjadi tangisan. “Angger, dengar ibu. De-ngar-i-bu. Kalau. Pipis. Di. Kamar. Mandi. NGERTI?”

“Huahuaa… huaa…hua….”

“Dengar! Kalau. Pipis. Di. Kamar. Mandi. DI MANA?”

“HUa…hua….huaaa….”

“DI MANA? HA?”

“Huaaa…huaa…huaaa….”

 

Entah berapa menit berlalu, sampai akhirnya Angger hanya menangis dan menangis. Ia menyusu setelah itu, kelelahan lalu tertidur.

Saya tahu saya salah. Saya tahu saya sudah jadi ibu galak saat itu. Tapi saya tak tahu bagaimana bisa mengatasi situasi seperti itu tanpa membuat diri saya sinting.

Kegagalan Lain

Soal makanan? Saya gagal juga. Saya dengan tertib menyusui Angger secara eksklusif selama enam bulan, lalu meneruskannya dengan makanan buatan rumah tanpa gula garam. Alami. Ketika bertamu ke mana-mana, saya minta si tuan rumah untuk ‘menyembunyikan’ suguhan yang mengandung gula garam (dalam beberapa kasus itu berarti SEMUA suguhan). Atau mencegah Angger untuk memakannya dengan segala cara.

Bayangan saya tentu saja, kebiasaan baik ini akan menetap terus di dalam diri Angger. Tapi belum-belum, saya sudah kalah. Tiba-tiba saja Angger sudah jadi pecandu kerupuk. Tiada hari tanpa makan kerupuk. Lalu pada suatu titik dia bosan. Tidak berhenti sepenuhnya, tapi jauh berkurang.

Selanjutnya, ia mulai kecanduan es krim. Setiap hari minta es krim. Salah satu cara agar ia berhenti makan es krim adalah: jejali sampai dia bosan. Yup, berhasil. Tapi kecanduannya pindah pada agar-agar. Sekarang dia sudah bosan dengan agar-agar. Tapi tidak sepenuhnya berhenti.

Resolusi saya untuk mengajarkan makan sehat, murni, tanpa pengawet, pemanis buatan dan pewarna sudah kandas jauh-jauh hari. Tapi yah, mau gimana lagi? Saya akui saya juga tidak tertib-tertib soal makanan. Gimana mau melarang Angger makan kerupuk bila saya tetap makan kerupuk. Bagaimana mendidik Angger agar tidak suka makan roti kalau saya saja suka makan roti.

Bikin snack sendiri dong, snack yang sehat. Mungkin itu usul Anda. Yeah, kayak saya punya waktu saja. Kalau pun ada waktu, baru juga mengupas bawang, Angger sudah nemplok di pangkuan ingin ikut mengupas, atau yang lebih parah, menebarkan bawang ke seluruh lantai.

Soal nonton TV

Saya sudah bercerita bagaimana Angger kecanduan segala macam layar. Begitulah. Saya memang tak kuat iman. Tapi, perbolehkan saya membela diri. Apa yang harus saya lakukan di siang hari yang terik sementara Angger sudah bosan dengan semua mainannya dan saya sendiri ngantuk luar biasa? Setel TV, beres sudah.

Kegagalan lain? Saya hobi mengobral kata, ‘jangan’ dan ‘tidak’. Menurut teori, kata-kata tersebut harus kita singkirkan jauh-jauh. Selain membuat anak ciut nyali, kata-kata tadi sebenarnya tidak efektif. Kalau anak akan mendekati api misalnya, tarik saja si anak dan katakan, “Yuk, main tempat lain.” Kalau anak mau menumpahkan supnya, orang tua seharusnya berkata, “Nak, supnya dimakan saja, ya.”

Teorinya gampang, kan? Tapi coba saja bila Anda masak sambil momong anak. Anaknya ‘pecicilan’ di dapur pula. Baru berpaling sebentar, tiba-tiba si anak sudah manjat meja. Diturunkan dari meja, tiba-tiba ia sudah meraih wadah garam, siap menumpahkannya.

Kalimat apa yang spontan saya ucapkan, “ANGGER. STOP. YA AMPUN! TURUN! JANGAN MANJAT MEJA. ADUH. WOI. GARAM ITU BUKAN MAINAN!”

Bermain kreatif?

Seharusnya tak sulit menciptakan mainan yang kreatif. Seharusnya gampang saja membuat anak senang. Main cilukba saja sudah membuat anak dua tahun terkekeh-kekeh, ya kan? Tapi coba saja deh main cilukba selama satu jam. Coba main sembunyi-sembunyian dengan anak dua tahun yang menganggap cara bersembunyi paling aman adalah menutupi wajahnya dengan bantal. Setengah jam saja. Kalau Anda nggak keburu bosan, ya pasti keburu sinting.

Jadi Tuhan, ampuni saya bila saya sering momong Angger sambil membaca, menyusuinya sambil mengecek facebook di hape. Mengabaikannya saat ia meminta perhatian gara-gara saya asyik lebih nggosip dengan tetangga. Tapi saya butuh melakukan itu semua sebelum saya meledak karena tak menemukan lawan nggosip yang sepadan.

Saya pernah membaca kisah seorang ibu di buku Chicken Soup. Ia ibu baru, tidak bekerja, dan hanya tinggal bersama bayinya. Suaminya kerja di luar kota. Suatu hari, tukang catat meteran listrik datang dan tanpa sadar si ibu sudah membanjiri tukang listrik itu dengan cerita sakitnya persalinan dan repotnya mengurus bayi sampai si tukang listrik ketakutan. Mungkin terdengar agak absurd, tapi saya sangat memahaminya.

Permainan

Balik lagi ke Angger. Balik lagi ke saya. Seharusnya tak sulit bagi saya untuk menciptakan permainan bagi Angger. Syaratnya toh cuma simpel.

  1. Bisa dimainkan anak dua tahun.
  2. Hemat atau Murah.
  3. Mendidik.
  4. Sehat.
  5. Tidak merepotkan.

Itu saja, kan? Angger kebetulan suka main air. Hobinya adalah membuka kran. Jadi sebenarnya yang perlu saya lakukan adalah membiarkannya main di sumur. Hanya saja, bila ia main di sana, ia membuka SEMUA kran yang ada. Semuanya ada tiga dan semuanya dibuka pol. Ya ampun, saya membayangkan betapa marahnya penduduk Gunung Kidul atau NTT atau Jakarta yang air saja harus beli, sementara Angger dengan entengnya membuang bergalon-galon air bersih layak minum. Oke, jadi permainan ini dicoret karena selain tidak hemat, juga menyakiti perasaan orang lain.

Oke, bagaimana dengan main masak-masakan? Dia suka bereksperimen dengan gula, garam, merica, dan bumbu lainnya. Hanya saja setelah itu Mbak Pri bakal sibuk mengepel lantai. Oke, yang ini juga coret.

Hm, kenapa tidak membawanya ke mal saja? Ada game center di sana. Angger pasti suka. Ugh, mahal dan bikin anak konsumtif.

Jalan-jalan di taman? Kapan itu saya mengajaknya ke taman pintar. Dia justru lebih tertarik main di jalan raya dan saya kerepotan mengawasinya agar tidak tertabrak motor. Coret. Lagipula, di situ ia juga minta es krim. Coret dua kali.

Menyanyi! Menyanyi itu gampang. Ya, tapi masalahnya belum tentu anaknya mau.

Puzzle. Puzzle. Ini gampang dan mendidik. Masalahnya, Anggernya belum bisa!

A Good One

Lalu saya menyadari, memang tak ada yang sempurna. Bahkan bermain pun tidak ada yang seratus persen bebas ‘bahaya’. Kadang membahayakan keselamatan anaknya, kadang membahayakan mental ibunya, kadang membahayakan dompet ayahnya.

Dan ya, tentu saja tak ada manusia yang sempurna. Tak ada ibu yang sempurna. Yang bisa saya lakukan hanyalah menuruti nasihat Mbah Churchil tadi: to be a good mother. Dan rasanya saya bisa melakukannya.

 

2 thoughts on “Ibu yang Sempurna

  1. r3r3n

    Akuu suka banget sama anak2, aku juga sayang sama anak2 temen2ku. Aku pikir aku juga bisa jadi Ibu yang baik dan sayang anak suatu hari nanti. Eh tapi… harus bersihin ompolnya? Eh kudu gantiin popoknya ehh ehh…. jadi berkurang yak waktu baca blog sama pesbukan? wkwkwkw…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s