Cinta deh, Sama Pasar Tradisional

Mana yang lebih Anda sukai? Pasar tradisional atau pasar modern (baca Hypermart, Carrefour, Giant, dan konco-konconya). Saya tidak pernah mempertanyakan cinta saya pada dua macam pasar itu. Kalau perlu ke supermarket ya saya ke supermarket, dan ini biasanya saya lakukan satu atau dua kali dalam sebulan. Untuk belanja harian, saya pilih yang praktis saja: belanja di pasar tradisional dan ini saya lakukan dua atau tiga kali dalam SEHARI!

Kenapa harus dua tiga kali? Karena:

  1. Perjalanan ke pasar pertama adalah untuk menjual pepaya. Suami saya menanam pepaya dan saya menitipkannya pada penjual buah di sana. Pulangnya saya belanja bahan-bahan yang harus saya masak hari ini.
  2. Perjalanan ke pasar kedua adalah untuk mengangkut pepaya yang tadi belum terangkut. Saya tak kuat mengangkut dua puluh kilo pepaya sekali jalan. Sepulang perjalanan ke dua ini saya membeli sayur yang tadi belum sempat terbeli karena tergesa-gesa.
  3. Yang ketiga untuk membeli bumbu yang kelupaan atau untuk bermain-main dengan Angger.

Saya bisa melakukan ini karena pasarnya sangat dekat. Hanya kira-kira 50 meter dari rumah. Pasar tradisional dekat rumah kami bernama Pasar Tamansari. Bentuknya seperti pasar darurat karena tidak permanen. Warung-warungnya bisa dilipat setelah tutup. Luasnya juga tak seberapa. Pedagangnya tak banyak. Mungkin hanya tiga puluhan. Tapi untuk keperluan sehari-hari sudah lebih dari cukup. Yah, Anda tak akan menemukan paprika atau selada di sana. Tapi ikan, udang, lencak, sampai kacang hijau tersedia.

Cinta

Anyway, pasar itu tak pernah sebegitu istimewa di hati saya. Saya tak pernah membandingkan kecintaan saya pada tradisional dan pasar modern. Lalu suatu malam terjadilah peristiwa yang menyadarkan saya bahwa ternyata saya LEBIH mencintai pasar tradisional.

Peristiwanya simpel banget. Saya tengah belanja di Superindo malam itu. Nilai total belanjaan saya sangat nanggung. Saya lupa berapa persisnya, tapi semacam Rp 50.100. Saya sodorkan uang lima puluh ribu. Lalu saya merogoh-rogoh dompet dan tas demi mencari koin seratus rupiah. Dan kasir itu MENUNGGU! Menunggu saya membayar seratus rupiah.

Ya ampun, batin saya. Di Pasar tradisional belanja Rp 21.000 saja kadang pedagangnya bilang, “Udah deh, dua puluh aja, yang seribu nggak usah.”

Oke, saya tahu supermarket punya sistem yang besar dan karenanya harus ketat; karyawan harus diatur, uang harus dihitung sampai sen-sennya, mesin kasir nggak bisa bohong dan seterusnya. Tapi intinya bukan itu. Intinya, saya menemukan ‘jiwa manusia’ yang lebih besar di dalam pasar tradisional.

Keakraban

Saya makin merasakan jiwa manusia ini saat saya sudah punya anak. Saya mengajak Angger belanja mungkin sejak ia berusia tiga bulan. Awalnya dalam gendongan, lalu memakai troli, lalu sepeda dorong, lalu jalan kaki.

Pasar kami itu kecil. Yang belanja juga cuma penduduk kampung sekitar. Penjualnya itu-itu aja, pelanggannya juga itu aja-aja. Otomatis kami saling mengenal. Saya tahu sebagian nama mereka. Mereka juga tahu nama saya. Mereka tahu saat saya hamil (dan mereka juga tahu saya menunggu kehamilan itu cukup lama), mereka jadi saksi saat Angger masih suka menggeliat-geliat di gendongan, dan mereka juga menyaksikan Angger belajar berjalan.

Begitulah, ada kedekatan emosi antara penjual dan pembeli di pasar. Akibatnya? Kalau Angger merengek minta tomat, otomatis penjual terdekat tergopoh-gopoh memberinya tomat. Kalau ia tak punya, ia akan berteriak meminta pedagang sebelah, “Nem, Painem, iki Angger keono tomat.”

Tiba-tiba saya sering mendapat sayur atau makanan gratis gara-gara Angger. Kalau Angger nunjuk jeruk, pedagang buah itu spontan memberi Angger sebutir. Kalau saya mau membayarnya, ia bilang, “Alah, udahlah, cuma sebutir ini.”

“Aduh, Bu, kok saya jadi merepotkan,” kata saya tidak enak hati.

“Biasa aja Mbak, namanya juga anak-anak.”

 

Begitu pula kalau Angger nunjuk sepotong jadah. Sebelum saya larang, penjualnya keburu bilang, “Ambil, dek.”

Hal seperti itu jelas tidak akan saya dapatkan di supermarket. Jangankan dapat sebutir jeruk gratis. Di rak duku saja ada tulisan, “Dilarang mencicipi!” Hah, padahal saya bisa mencicip duku berbutir-butir di pasar tradisional.

Fleksibel

Dalam hal fleksibilitas pasar tradisional benar-benar unggul. Begitu Anda sudah mendapat predikat pelanggan yang baik, tanpa uang di tangan pun Anda bisa belanja. Itu sering terjadi pada saya. Misalnya, saya ingin beli ikan, tapi uang di dompet ternyata kurang, si penjual ikan dengan enteng akan berkata, “Udah bawa aja. Besok bayarnya.”

Awalnya saya merasa kikuk dengan sistem ini, tapi lama-lama justru saya yang kadang memulai, “Bu, saya mau beli ayam setengah kilo, tapi bayarnya besok ya.”

Fleksibilitas lain adalah sistem ‘delivery’. Kalau belanjaan saya lumayan banyak, mereka dengan senang hati mengantarnya sampai ke rumah. Ada juga sistem ‘order’. Kalau Anda butuh barang yang agak berbeda dari komoditi yang biasa, lontong, ayam jawa, atau pisang raja misalnya, Anda bisa memesan dan esoknya si pedagang akan membawanya.

Fleksibilitas lainnya adalah soal jumlah. Anda boleh membeli apel sebutir saja, bakwan sepotong saja, bawang seribu saja. Suka-suka.

Menawar

Satu hal yang jelas-jelas membuat saya lebih mencintai pasar tradisional adalah harganya yang sangat murah dan itu pun bisa ditawar! Saya jarang menawar sih. Kasihan. Saya merasa keterlaluan banget menawar barang yang sudah murah itu, sementara saya tak pernah protes saat harus membayar mahal di supermarket.

Pernah saya mau membeli sapu lidi. Harganya dua ribu per ikat. Dua ribu perak saudara-saudara. “Kalau beli tiga, lima ribu ya Mbah?” tawar saya. Ini praktek yang sangat wajar. Simbah penjual sapu itu pasti juga sudah mempertimbangkan hal ini. Dia pasti memang berencana  menjualnya lima ribu per tiga ikat. Jadi meski ia terlihat agak ragu, ia tetap bilang, “Yaa…ya…mangga saja.”

Tapi apa yang terjadi? Saya nggak tega membayarnya lima ribu saja. Jadi saya tetap membayar enam ribu untuk tiga sapu. Ya ampun, seberapa sih uang seribu perak? Kok saya tega banget nawar. Simbah itu tampak kaget saya malah membayar lebih mahal setelah repot-repot menawar. Tapi saya merasa bahagia. Jujur saja, saya bahkan tak mau dibayar dua ribu untuk membuat sapu semacam itu. Lagipula, tawar menawar kadang bukan soal harga, tapi soal komunikasi, soal berhubungan dengan sesama manusia.

Anyway, di pasar tradisional, nggak tahu gimana, harga itu bisa gila murahnya. Di pasar itu masih banyak komoditi yang bisa dibeli dengan uang lima ratus perak. Serius! Tahu goreng, bakwan ketela, bumbu dapur, balon tiup! Saya sampai nggak habis pikir membayangkan bagaimana rakyat kecil menggerakkan ekonomi. Cabai bisa diketeng seribuan, demikian pula dengan bawang merah dan kacang panjang. Kangkung seikat dihargai tujuh ratus lima puluh rupiah, rambutan sekilo cuma empat ribu. Ya ampun, murah gila!

Harga murah belum tentu kualitasnya jelek lho. Yang kerasa banget bedanya adalah buah-buahan. Buah di supermarket itu mahalnya pasti, enaknya belum pasti. Buah di pasar, hmmm, lebih sering terasa enak.

“Nggak berani Mbak saya jual yang enggak enak,” kata si pedagang buah, “soalnya bener-bener dikembalikan kalau nggak enak.” Alamak.

Seru

Yang juga mengasyikkan di pasar tradisional adalah serunya komunikasi yang berlangsung. Saling bercanda dan menggoda antar pedagang-penjual adalah hal biasa. Unek-unek, gosip, sampai caci maki juga sering terdengar di sini. Pokoknya nggak ada habisnya.

“Aduh tomatnya cantik-cantik, kayak yang jual.”

“Ah, kayak yang beli dong, yang jual sudah kempot.”

 

“Ya ampun, bawangnya mahal banget, nggak jadi turun?”

“Jadi Mbak, turun dari truk tadi pagi.”

 

“Yah, telurnya mahal banget.”

“Tapi mau gimana lagi, mau bertelur sendiri nggak bisa.”

 

Celetukan-celetukan seperti itu tak pernah basi biar sudah kami dengar berulang kali. Rasanya melegakan masih bisa tertawa bahkan di saat-saat yang paling sulit. Tak heran, almarhum ibu saya dulu suka banget nongkrong di pasar.

“Ibu Mbak dulu senang nih duduk di sini,” kata salah seorang pedagang pasar. “Duduk di sini lama banget sambil melahap cemilan. Ngobrol. Ngomongin anak-anaknya.”

Ah, so sweet. Saya sekarang juga kadang nongkrong di pasar. Duduk di dekat cakruk sambil minum dawet bersama Angger. Ah, so sweet.

12 thoughts on “Cinta deh, Sama Pasar Tradisional

  1. omnduut

    Hahaha😉 *ngebayangin bertelur*
    Seperti biasa, aku suka sekali dengan tulisan mbak Niken🙂 Eh ya, kalo di pasar pedagangnya lebih jago ngitung. Beli banyak kagak perlu kalkulator. Sedangkan kalo di supermarket, lha wong tinggal scan barcode aja kadang suka selisih. *pengalaman pribadi*

    Reply
    1. kenterate Post author

      Benar! Ngitung itu obat anti pikun, jadi juga senang karena bila belanja di pasar tradisional, otak saya otomatis ikut ngitung.

      Reply
  2. antondewantoro

    Tempe dan tahu di Supermakpret itu rasanya seolah sudah berbulan-bulan di rak, hampir selalu tengik (minimal berbau aneh) kalau dimasak. Sementara di pasar tradisional, atau pasar modern yang berkonsep tradisional seperti di BSD, tempenya masih anget karena fermentasi kapang masih bekerja dan tahunya lebih gurih. Untuk daging kerasa banget kalau beli (maaf) daging babi, di carefo– atau g–nt amat terasa pengawetnya, di pasar tradisional saya yakin baru disembelih paginya, fresh. Untuk ayam, kebetulan dekat rumah ada yang jual ayam potong hidup, jadi tidak pernah beli di supermarket. Beras, pernah beli yang karungan dari g–nt dan kutuan sementara beras gelaran di pasar malah wangi (semoga bukan karena pewangi) dan bebas kutu. Hanya saja untuk barang-barang bikinan pabrik istri saya masih fanatik beli di caref–r, kata dia lebih murah dibanding harga mana pun, yo wis manut.

    Reply
    1. kenterate Post author

      Saya jarang sekali beli produk ‘segar’ di supermarket, soale meski labelnya segar, belum tentu segar. Aku sama dengan adinda-mu, kalau ke supermarket lebih sering beli barang pabrikan semacam sabun dan odol. Ya, buat cuci mata juga (dan mencuci dompet suami). Oya, kamu tidak perlu minta maaf untuk menyebut ‘babi’, biasa wae😀

      Reply
  3. keroamalia

    Memang benar, mbak, pasar tradisional lebih nyaman. Aku besar di pasar *sering main*, karena ibuku jualan juga. Dan hal kayak komunikasi dan silaturahmi terjalin dengan erat🙂

    Reply
      1. keroamalia

        Itu sih udah gak aneh, mbak, hehe. Di sini malah ada semacam arisan parcel dan/atau barang gitu tiap bulan Ramadhan. Jadi nanti kita bayar per hari sesuai harga yang ditentukan selama bulan Ramadhan itu, nanti beberapa hari menjelang Idul Fitri, baru deh dibagikan.

  4. lulu

    Dulu, salah satu keasyikan belanja di pasar tradisional itu pas tawar-menawarnya. Entah kenapa beberapa tahun belakangan ini, klo belanja ke pasar pedagangnya sering ngomong, “Harga pas, Bu.” Tapi untuk beli buah dan sayuran emang lebih oke di pasar, di supermarket kadang terasa banget disimpen di freezernya.

    Reply
    1. kenterate Post author

      Wah, sayang banget ya. Tapi minimal masih ada komunikasi, minimal masih bisa ‘nyoba’ nawar. Di pasar saya sih, nawar masih lazim.

      Reply
  5. r3r3n

    Aku suka keduanyaaa, pasar tradisional bisa nawar dan ngacak2 dagangan. Belinya juga santaiii.. 1 tok boleh, berapa aja boleh. But kalo di pasar modern ya senang juga lihat barang2 bagus wkwkkw…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s