‘Ditampar’ Mbah Klapa

Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali saya memarut  atau mengukur kelapa. Mungkin saat saya masih remaja. Itu pun hanya beberapa kali saja. Mungkin seumur hidup, tak lebih dari dua puluh kali saya memarut kelapa. Itu pun dengan cara yang membuat ibu saya gemas. Menurut ibu lama sekali saya memarut kelapa, tak halus pula. Udah gitu cikalannya (sisa kelapa yang tak terparut) besar. Boros. Maklum saya takut jari saya terparut.

Eh, kenapa tiba-tiba saya membicarakan kelapa? Begini, beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan pedagang kelapa parut yang biasa berjualan di pasar dekat rumah. Karena saya tak tahu siapa namanya, kita sebut saja dia Mbah Klapa. Saya sebut Mbah karena dia sudah tua. Pantas jadi nenek saya.

Hari masih pagi saat saya bertemu dengannya. Pasar belum lagi buka. Tapi ada penjual bubur yang buka lebih pagi daripada pedagang lainnya. Di situlah saya berada, antri beli bubur untuk sarapan. Mbah Klapa datang dengan sepedanya, sepeda Jawa model lama dengan dua keronjot (keranjang bambu besar di kanan kiri), lalu berhenti untuk membeli bubur juga. Belum lagi jam enam, tapi dia sudah datang.

“Wah, simbah pun dugi, awi sarapan Mbah,” kata saya berbasa-basi. Lalu kami pun bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Kira-kira begini percakapan kami.

“Wah, simbah masih kuat naik sepeda, hebat,” kata saya.

Simbah tersenyum, lalu berkata, “Padahal 35 kilo lho jarak yang saya tempuh. Saya bersepeda dua jam.”

Alamak! Itu tiap hari. Itu baru berangkatnya doang. Bike to work sejati. Yang istimewa, dia pakai JARIK (kain).

“Lho rumah simbah di mana toh?” tanya saya.

“Di Mbrosot,” jawabnya. Mbrosot itu desa di kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Satu propinsi, tapi beda kabupaten dengan saya. Dan antara Kulonprogo ke Jogja, dia harus melewati Kabupaten Bantul. Jadi bayangkan aja, dia seperti tinggal di Jakarta Selatan lalu harus ke Jakarta Utara lewat Jakarta Pusat, hanya saja dengan jarak yang lebih pendek.

“Terus Mbah berangkat jam berapa dong?” tanya saya.

“Pagi ini jam setengah tiga pagi.” ALAMAK.

“Saya harus mampir di dua tempat tadi,” sambungnya, “untuk mengantar kelapa.”

“Biasanya saya bangun jam satu atau dua malam, lalu mengupas kelapa. Jam setengah empat berangkat. Lalu saya solat subuh di Bantul. Saya bawa mukena.”

And you know what di pasar dia MEMARUT kelapa. Berkilo-kilo kelapa dengan parut tradisional. Orang-orang malas seperti saya yang butuh santan tinggal membeli kelapa parut darinya. Biasanya satu orang hanya membeli satu atau dua ribu. Dapat satu plastik. Cukup untuk sekali masak. Andai ada lima puluh pembeli dia hari itu, omsetnya cuma lima puluh ribu! Omset lho itu, bukan laba.

Terus terang saya jadi malu. Saya lupa sejak kapan ada penjual jasa parut di pasar kami. Ia menggunakan parutan mesin. Kelapa tinggal dimasukkan ke mesin lalu rrrrr….rrrrr….rrrr…keluarlah parutan kelapa. Pembeli tinggal menyerahkan uang dan memerasnya menjadi santan.

Saya adalah pelanggan kelapa parut seperti ini. Mending nggak jadi masak kuah santan bila si tukang parut libur. Istimewanya meski ada pedagang kelapa parut dengan mesin, masih ada pedagang kelapa parut manual di pasar yang sama. Ada dua pemarut manual di pasar kami. Jadi total ada tiga pedagang kelapa parut, satu bermesin, dua manual. Dan tiga-tiganya bertahan! Beberapa orang memang berpendapat kelapa yang diparut dengan tangan rasanya lebih enak, santannya lebih banyak, dan sebagainya. Saya sih tidak tahu bedanya. Yang saya tahu kelapa parutan mesin lebih murah harganya. Jadi saya lebih sering beli yang itu.

Mbah Klapa membuat saya merasa malu. Jangankan bersepeda dua jam di pagi buta hanya demi agar bisa memarut kelapa, marut kelapanya doang aja saya ogah. Jangankan untuk memarut, tinggal memeras jadi santan pun saya sering malas. Menyobek kotak Kara –si santan instan—pasti lebih mudah. Untung saya masih ingat bahwa yang makanan instan itu nggak baik, jadi perjuangan memeras santan tetap saya lakoni (maksud saya dilakoni oleh pekerja rumah tangga saya alias Mbak Pri tercinta hihihi).

Aduh, Mbah, ternyata kebangetan betul saya ini malasnya. Terberkatilah engkau. Dan betapa beruntungnya pemalas seperti kami karena ada orang sepertimu.  

2 thoughts on “‘Ditampar’ Mbah Klapa

  1. r3r3n

    Aku ogah marut nanti tanganku yang mulus ini carut marut dan blarut2 wwkkwkwk… begitulah Simbah2 jaman dulu malah rajinnya minta amplop. Tahan banting meski bangun sebelum fajar merekah wkwkwk

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s