Author Archives: kenterate

About kenterate

Ibu rumah tangga, penulis, penerjemah, yang hobi ngobrol nggak penting.

Nggege Mangsa

Angger sudah hampir tiga tahun, tapi masih menyusu. Saya bertekad menyapihnya saat ultahnya yang ketiga bulan Mei nanti. Tapi tiap kali melihat Angger masih sangat menikmati menyusu, saya tiba-tiba gamang. Saya rasa dia belum siap. Tapi, kapan dia siap? Saya sudah mulai jenuh. Saya mulai jengkel bila dia merengek minta nenen. Tidak, tidak. Dia harus saya sapih, bagaimana pun caranya.

Beberapa minggu lalu saya membaca artikel Samuel Mulia di Kompas Minggu. Dia bercerita temannya yang baru lulus SD sudah dikirim ke luar negeri untuk sekolah di sana. Alasannya: biar cepat mandiri. Dan ini tidak hanya terjadi pada satu temannya saja.

Samuel mempertanyakan alasan ini: kenapa orangtua pengin anaknya cepat-cepat mandiri? Samuel sendiri pernah diusir ayahnya saat ia kecil karena tak mau pergi berenang bersama sang ayah.

Tentu saja diusir dan disekolahkan keluar negeri itu dua hal yang berbeda, tapi ujungnya bisa jadi sama: anak merasa tertolak. Samuel menekankan bukankah mandiri itu bukan jatah anak-anak? Kalau anak-anak sudah bisa mandiri, lah ngapain dia butuh orangtua? Dan bukankah orangtualah yang punya jatah untuk memandirikan anak alih-alih sekolah atau orangtua asuh di luar negeri?

Membandingkan

Saya ingin menghadiahi Angger sepeda saat ia berulang tahun ke tiga Mei nanti. Angger tidak minta sih. Tapi saya pikir keren aja lah. Dan dia pasti suka. Teman-temannya usia segitu sudah pada main sepeda. Belum juga bulan Mei sepupu Angger, si Anggit sudah minta beli sepeda. Anggit sudah empat tahun dan merengek minta sepeda. Saya deg-degan, aduh gimana nih, jangan-jangan Angger pengin, padahal kan dia belum ulang tahun.

Kejutan. Saat Anggit pulang bawa sepeda, Angger bahkan tidak tertarik. Dia hanya menonton dan diam saja. Saya berkata, “Itu sepeda Anggit. Kalau Angger pengin, tunggu ya, besok Ayah Ibu belikan.” Apa kata Angger? “Angger tidak pengin sepeda! Angger belum bisa naik sepeda!”

Ha. Saya jadi malu sendiri. Dulu saya sering membelikan Angger mainan tanpa ia minta. Akibatnya? Mainan itu menumpuk di gudang. Oke, mungkin saya membeli mainan yang salah. Tapi lain kali waktu kami te toko mainan, Angger tak minta apa-apa juga, kecuali bola! Bolanya sudah banyak. Jadi saya menggiringnya ke mainan lain. Mobil-mobilan atau alat musik. Hasilnya? Dia tidak tertarik. Ya sudahlah. Sudah setahun lebih saya stop beli mainan. Nggak ada gunanya. Nggak dipakai juga.

Dan kini saya hendak melakukan hal yang sama; pengin membelikannya sepeda meski ia tak menginginkannya. Ia bahkan sadar betul ia belum bisa menaikinya.

Resahkah saya dia belum bisa naik sepeda bahkan belum pengin naik sepeda? Ya! Resah. Ya ampun, si Ikin anak tetangga baru empat tahun sudah bisa naik sepeda tanpa congkok, ngebut lagi. Kalau dipikir-pikir si Ikin ini juga udah bisa baca Al-Qur’an  dan bisa baca tulis. Jenius memang dia. Tapi Angger bukan Ikin.  Dan Angger ternyata tak ingin sepeda!

Nggege Mangsa

Dalam bahasa Jawa ada istilah nggege mangsa. Memburu-buru musim. Mempercepat sesuatu yang belum saatnya.

Betapa banyak orang tua yang pengin nggege mangsa. Saya yakin itu. Kalau tidak tentu tak bakal ada les calistung usia dini, tidak ada sekolah bayi, juga tak bakal ada cerita anak remaja nyetir dan nabrak orang hingga meninggal.

Kenapa kita membiarkan bahkan mendorong anak untuk bisa menyetir mobil saat usianya belum lagi matang? Karena nyopir mobil itu keren, karena kalau anak sudah bisa nyetir mobil kita nggak perlu repot mengantarnya ke mana-mana. Tapi kita lupa, makin mudah anak ke mana-mana, makin mudah pula ia lepas dari pengawasan kita. Kalau kita mengantar anak, ya kita repot, tapi setidaknya kita tahu dia ke mana.

Jadi semua ini berbalik ke orangtua ternyata.  Sama seperti saya yang ingin menyapih Angger. Karena apa? Karena saya sudah bosan repot menyusui. Kalau bisa sih, saya juga ingin Agger supaya bisa mandi sendiri, bisa makan sendiri, dan tidur sendiri. Beres sudah.

Kebanggaan Orangtua atau Kebahagiaan Anak?

Angger naik perosotan. Dia naik, lalu berhenti di tangga teratas, tidak jadi meluncur. Ah, sial, cemen bener anak saya ini.

“Ayo Ngger, turun aja, ibu tungguin di bawah.”

“Tidak! Angger tidak mau turun.”

 

Saya bisa marah dan jengkel pada sifat penakut sama anak saya. Tapi saya memilih untuk tidak jengkel. Saya tahu Angger berani meluncur di perosotan yang  lebih rendah. Jadi sudah pasti dia tidak takut meluncur. Saya tahu saat Angger duduk di tangga paling atas dia mengamati bahwa perosotan itu terlalu tinggi baginya. Jujur saya juga ngeri membayangkan dia meluncur dari sana. Alih-alih marah, saya justru bersyukur Angger menggunakan insting dan nalarnya.

 

Ada orangtua yang bangga anaknya yang belum lagi berusia dua tahun sudah bisa naik tangga sendiri. Pertanyaannya adalah: kamu tega liat anakmu yang masih kecil naik turun tangga sendiri?

 

Ada orangtua yang bangga anaknya sudah bisa naik motor pada saat usianya dua belas. Pertanyaannya: yakin anak dua belas tahun bisa mengendalikan emosi di jalan raya? Yakin anak usia segitu sudah bisa menggunakan nalarnya di saat-saat genting?

 

Sama seperti pohon, anak akan berbuah saat sudah siap. Saat musimnya tepat. Kita bisa merekayasanya dengan segala macam pupuk dan cahaya buatan, tapi efek negatifnya? Pasti ada. Minimal si pohon cepat lelah.

 

Jadi saya akan mengingatkan diri saya sendiri untuk lebih sabar. Untuk menunggu. Saya akan bersabar bila saat ini dia nempel terus sama saya. Ke mana-mana minta ditemani ibunya. Toh, sebentar lagi ia akan terbang. Tangannya akan terlepas dari genggaman saya. Sementara itu belum terjadi, biarkan saya menikmati hangat pipinya dan suara manjanya. Dia bisa mandiri kapan-kapan. Tidak sekarang. Masih banyak waktu. Saya tak akan menolaknya saat ini.Karena saya juga ingin menahannya saat ia ingin terbang nanti.   

Kemping Penak

Sabtu Minggu lalu saya mengikuti kemah yang diselenggarakan oleh komunitas pegiat pendidikan mandiri (homeschooling) dan saya benar-benar terpana karena kemah sekarang itu… enak sekali. Maklum, sekian kali berkemah saya nggak pernah kemah dengan nyaman. Dan omong-omong, sekian kali kemah yang sama omongkan itu adalah kemah bertahun-tahun yang lalu. Lebih dari lima belas tahun yang lalu.

Saya terakhir kali kemah waktu SMA. Itu pun tidak bisa dibilang kemah karena kami menginap di rumah penduduk alih-alih di tenda gara-gara hujan yang sangat deras. Kemah di SMA itu saya jalani dengan sangat ogah-ogahan. Selain karena label-nya wajib –kemah kok dipaksa–  waktu SD saya ikut kemah dan rasanya nggak nyaman.  WC-nya super kotor (ada ‘itu’ bertumpuk-tumpuk di lubang WC yang kering-ring tanpa setetes air pun). Alhasil saya sebisa mungkin menahan pipis dan eek di bumi perkemahan. Belum lagi tenda yang kotor, lingkungan sekeliling yang juga sama kumuhnya dan konflik dengan teman-teman (siapa yang mesti tidur di tepi, siapa yang mesti jaga tenda –seolah-olah tenda mesti dijagain–).

Dan kegiatan kemah dulu itu juga nggak asyik. Wong kemah kok pakai acara pengajian. Yaelah.

Jadi,  waktu mahasiswa saya langsung mengernyit ketika ada yang usul kemah sebagai acara darmawisata. Kemah? Oh, tidak!

Kemah Seru

Kemah kali ini diperuntukkan untuk keluarga dan mengambil tempat di Ledok Sambi yang masih lumayan dusun dan asri. Tempatnya aja sudah asyik. Ada kali kecilnya yang jernih, ada sawahnya, ada gunungnya. Dan kamar mandinya lumayan bersih. Lumayan lah.

Begitu kami datang, tenda sudah berdiri. Wah. Ini berbeda dengan tenda waktu saya SD. Kami harus berjibaku mendirikan tenda yang akhirnya juga didirikan oleh kakak pembina. Sewaktu saya memasuki tenda kali ini, saya kaget karena tenda kami tidak penguk alias apak! Hah, perasaan dulu waktu SD, tenda kami selalu penguk. Begitu saya berbaring di bawahnya, yang saya lihat adalah kain parasut warna-warni yang tidak menyilaukan mata dan tidak berjamur! Hah, dulu perasaan waktu SD tenda kami itu selain penguk juga jamuran (ngendok kremak) plus ada gambar cap ‘segitiga’ nya. Maklum waktu itu tenda dibuat dari kain bekas kantong terigu.

Dan oh, tak ada tongkat dan tali temali. Tenda itu bisa berdiri dengan kokoh tanpa tali temali dan tongkat bambu. Ajaib banget deh. Dan oh, bisa dilipat juga setelahnya.

Terus waktu hujan, tenda itu ternyata tidak bocor! Wah. Dulu kalau hujan, kami semua harus ‘mengungsi’ dari tenda dan tidur di rumah penduduk (nggak seru amat ya). Tenda ini juga rapat sehingga nyamuk pun tak bisa masuk. Ada ritsleting-nya di pintu. Tenda zaman dulu sih diikat dengan tali aja, jadi kalau ganti baju masih keliatan dikit gitu. Satu lagi, tenda ini juga dilengkapi dengan matras hangat plus sleeping bag. Dan sleeping bag-nya wangi! Ha, super sekali.

Bukan Manusia ‘Alam’

Saya bukan manusia ‘alam’, saya bukan petualang. Saya tidak suka hiking, tracking, camping, apa pun itulah namanya. Tapi sekarang saya punya anak dan saya merasa berkewajiban untuk mendekatkan anak saya pada alam. Dan saya bersyukur menemukan komunitas yang bisa bikin camping saya seenak ini.

Selain soal ‘tenda ajaib’ tadi, saya juga suka kegiatannya yang seru dan mendidik. Ada nilai-nilai yang diusung dan tidak ada mi instan! Dan cuma sabtu minggu, tidak berpanjang-panjang, cukup buat inisiasi untuk orang semacam saya. Sungguh kemping kali ini membuat trauma saya pada kemping hilang, malah pengin kemping lagi.

Apakah saya tidak mengeluh sama sekali? Hm, tidak juga sih. Di malam hari saya tak bisa tidur. Tak ada bantal. Mau bantalan dengan sleeping bag ketinggian dan bikin pegel. Tidak pakai bantal, nggak bisa tidur. Punggung saya juga pegel karena hanya beralas matras tipis dan tanah yang keras. Saat mata tak bisa terpejam saya ngobrol dengan adik saya.

“Tendanya bagus ya,” kata saya, “tidak bocor.”

“Iya, tapi di sebelah ada resort. Dengan kasur yang empuk dan TV.”

“Dan mandi air panas.”

“Lain kali kita bawa kasur ya.”

“Iya.”

 

Untuk referensi kegiatan kemah seru ini buka: Casper

Kampanye Paling Efektif

Pemilu legislative tinggal seminggu lagi, tapi saya masih manyun bingung mau nyoblos siapa. Saya tidak pengin golput. Kalau ada yang baik, beneran saya pengin milih. Masalahnya saya tidak tahu mana yang baik, mana yang buruk (oke, kalau yang buruk saya sedikit tahu, missal: caleg A pernah nyelonong naik pesawat tanpa tiket yang benar, caleg B berasal dari keluarga besar koruptor, caleg C pengusaha rakus dan seterusnya). Tentu saja saya tidak akan memilih yang sudah jelas-jelas buruk. Nah tugas saya adalah menemukan caleg yang baik. Masalahnya adalah: jangankan tau kebaikannya, kenal saja tidak!

Bagaimana mungkin saya mengenal mereka? Apa bisa saya kenalan lewat poster pohon, spanduk, dan kalender? Saya dapat dua kalender, satu poster, satu selebaran, dua kartu nama dan TIDAK ADA satu pun yang membeberkan visi misi, biografi atau prestasi si caleg. Ya cuma nama dan nomor urut doang. Lah buat apa? Hm, saya curiga, mereka tidak menuliskan prestasi mereka karena memang tidak punya prestasi. Tsk.

Eh, saya kok nggak dapat kaos ya tahun ini? Pemilu yang lalu perasaan banyak deh (yang kemudian ditolak oleh bapak saya. Dia nggak mau disuap).

Kampanye Paling Efektif

Tapi saya punya calon yang kemungkinan besar akan saya coblos pas pemilu mendatang. Saya akan mencoblos dia dengan alasan: dia guru merajut di kampung kami. Sebenarnya saya tidak kenal beliau secara personal. Tapi dia sudah berbulan-bulan ini mengajar merajut di kampung saya GRATIS. Dan menurutnya, ia juga mengajarkan hal yang sama di kampung lain. Itu ia lakukan bertahun-tahun.

Saya lihat tutur katanya baik, dia juga peduli pendidikan anak, dandanannya sederhana –apa adanya lah—terus juga cuma naik motor. Pokoknya nggak pencitraan, baik pencitraan sok kaya maupun sok miskin. Saya juga belum mendengar hal-hal buruk tentang dia.

Saya bayangkan dia akan mendulang suara dari ibu-ibu di kampung-kampung itu. Dan ingat ‘jitu’ siji pitu, satu suara bisa menyeret tujuh suara. Bila caleg mendapat satu suara dari seorang ibu atau ayah, kemungkinan besar anaknya, orang tua/ mertua juga akan ikut.

Memang saya pesimistis dia akan menang. Urutannya saja ‘nomor blangkon’. Meski dia guru merajut yang oke dan aktivis pendididikan anak di Jogja, saya belum pernah tahu kapasitas dia dalam hal politik. Prestasi besarnya yang lain juga tidak terdengar. Tapi saya akan tetap nyoblos dia. Alasannya: yah, minimal dia tidak punya ‘dosa’. Bagi saya dia pilihan yang terbaik yang saya miliki di antara yang buruk-buruk atau tidak saya kenal saya sekali. Toh nggak ada manusia eh caleg yang benar-benar sempurna.

Menurut saya kampanye guru merajut saya itu sungguh efektif. Dia mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, pelan-pelan memperkenalkan diri, dan secara rutin ‘menyapa’ konstituennya. Saya jadi mengerti mengapa banyak caleg dan calon pejabat lainnya memanfaatkan metode blusukan ini. Dengan begitu minimal pemilihnya jadi kenal dan ‘kelingan’. Beda kan dengan poster pohon, boro-boro ingat angka dan namanya, dibaca saja mungkin tidak.

Tapi tunggu dulu, blusukan seperti apa? Kalau cuma blusukan buat jualan kecap ya maaf saja. Nggak laku!  Ada caleg lain yang kebetulan saya datangi kampanye blusukannya (maksudnya saya diundang gitu buat menyaksikan blusukan mereka). Saya memang ingat nama mereka, tapi ya… saya nggak bakal nyoblos mereka karena….  mereka cuma jualan kecap itu tadi.

Menurut saya sebagian besar pemilih sekarang itu sudah cerdas. Sudah cerdas atau sudah jenuh. Sudah jenuh dengan jargon-jargon penjual kecap tadi. Gimana nggak jenuh, semua jualan barang yang sama, dengan cara jualan yang sama pula. Uang pun tidak selalu mempan. Ingat, yang bagi-bagi uang tidak cuma satu padahal kita cuma bisa milih satu. Jadi simpan saja deh uang kalian yang pasti juga akan kalian ‘tagih’ balik lewat korupsi.

Alih-alih lakukan kampanye yang benar-benar personal. Tidak bisa instan tentu saja. Kalau Anda pengin nyaleg lima tahun mendatang, mulailah blusukan ‘tulus’ dari sekarang, cetak prestasi kecil satu per satu, ikut komunitas, jadi relawan bencana, jadi aktivis gender, jadi pemerhati pendidikan atau bidang apa pun yang jadi fokus perhatian Anda. Kalau tidak bisa: jadilah guru merajut. 

Selingkuh. Menarik, nih.

Beberapa saat yang lalu, teman saya memasang status facebook seperti ini: ‘Kesetiaan seorang wanita diuji saat pria-nya g punya apa2.. Kesetiaan seorang pria diuji saat pria itu punya segalanya.. ‪#‎eaaa..’

Wah ini pernyataan menarik; menarik karena ternyata perselingkuhan dikaitkan erat dengan materi. Makin menarik karena saya barusan dapat cerita bahwa tetangga saya (laki-laki) selingkuh. Tetangga saya ini sopir bus, rumah masih nyicil, kendaraan juga cuma motor. Intinya: bukan orang berduit. Konon justru si perempuan selingkuhan yang punya duit.

Dan seperti biasa yang disalahkan adalah si isteri, “Salahe wong lanang ra diladeni. Makan nggak diperhatikan. Sering diomelin.”

Wah ini menarik juga. Kalau suami selingkuh, pasti salah istrinya. Coba kita balik kalau yang selingkuh si istri, apa suaminya juga bakal otomatis disalahkan? Salahe duwe bojo ayu ditinggal lunga terus, misalnya. Saya kok ragu ya, yang ada biasanya sih si perempuan dituduh sebagai wanita ‘gatel’. Ya nggak? Atau saya salah di sini?

Anyway, apa ya kalau istri sering ngomel maka kita punya hak untuk selingkuh? Apa ya kalau si suami tidak memberi nafkah cukup, kita punya hak untuk selingkuh?

Ini jadi lebih menarik karena saya dan geng rumpi –kumpulan emak-emak yang suka ngumpul tanpa tujuan jelas kecuali ngerumpi—baru saja merumpikan topik menarik ini: SELINGKUH.

Salah satu anggota geng rumpi (rumpi, yaelah  80an banget nggak sih?) bilang ayahnya pernah berkata seperti ini, “Semua laki-laki itu b*j*ng*n. Aku yang nggak jadi b*j*ng*n itu karena aku nggak punya uang.”

Pernyataan ini disambung cerita bahwa teman saya ini didatangi kerabat laki-laki dan tiba-tiba si kerabat mengungkapkan pengakuan. Kataya selama puluhan tahun menikah, hanya dua tahun pertama dia setia. Sisanya mblayang sama cewek-cewek ke mana-mana. Lalu suatu hari dia seperti didatangi Yesus yang menegur kelakuannya. Ia jadi merasa sangat berdosa dan kemudian bertobat. Setelah bertobat, dia sakit kanker. Yang terbukti masih (terpaksa) setia mendampingi ya istrinya.

 “Kenapa dia selingkuh?” tanya salah satu anggota geng rumpi.

“Ya mencari kebahagiaan.”

“Memangnya dia sama istrinya nggak bahagia?”

“Bahagia.”

“Lah kok masih selingkuh?”

Hm, menarik ini.

 

Sebab selingkuh

Susah mencari penyebab definite selingkuh. Faktor uang bisa dicoret. Perempuan yang sudah dinafkahi total sama suaminya saja bisa selingkuh. Tunjuk kasus selebritis perempuan yang selingkuh. Kurang apa coba? Uang belanja 60 juta sebulan kok ya tetap selingkuh.

Sebaliknya laki-laki mlarat yang selingkuh juga ada. Tengok kanan kiri. Nah, sudah ketemu kan contoh laki-laki mlarat selingkuh? Ora tinemu nalar.  Wong jelas mlarat kok selingkuh. Istri anak keleleran kok masih cari ‘istri lain’. (Wow ternyata si ‘istri lain’ nya justru kaya).

Faktor kebahagiaan juga harus dicoret.

Faktor apa lagi? Sosial (terpengaruh tren misalnya), faktor psikologis (emang rada nggak beres), faktor seksual (pasangan impoten), faktor pikun (lupa punya istri), faktor jabatan (habis gimana dong, kalau kunjungan ke daerah udah disuguhi kayak begituan, masa nggak dipakai), faktor agama (mengikuti sunah). Apalagi? Ayo silakan sebutkan.

Saya yakin semua mentok. Akhirnya kesimpulannya bakal ke situ-situ juga: kembali pada orangnya, kembali pada akhlak, kembali pada kepribadian, kembali pada komitmen. Kalau orangnya memang punya intergritas dan komitmen pasti nggak bakal selingkuh.

Ini juga menarik karena teman saya lalu menyambung dengan cerita seperti ini:

Ada pasangan cowok-cewek pacaran empat tahun. Semua berjalan lancar. Restu orang tua dikantongi. Semua serba baik. Tahun pertama nikah, si suami selingkuh dengan satu cewek, tahun kedua dengan dua cewek, tahun ketiga tiga cewek, sampai tahun ke sepuluh, udah nggak keitung selingkuhannya.

Akhirnya mereka cerai. Tiga anak mereka jatuh ke tangan suami karena kebetulan si suami dekat dengan kekuasaan hukum dan parahnya lagi si istri tidak punya penghasilan. Dia tak pernah cari duit sama sekali. Lulus kuliah langsung nikah. Mau cari kerja nggak ada pengalaman dan umur juga sudah tinggi .

“Terus gimana dong kita bisa cari pasangan yang bener? Yang awalnya bagus-bagus saja aja langsung bisa belok gitu kok setelah nikah.”

Geng rumpi mulai putus asa, “Yah nikah itu kan kayak narik undian. Untung-untungan dah.” Yaelah, setelah capek menganalisis akhirnya mak plekenyik. Tapi semua setuju.

“Yang penting kita harus berdaya. Jadi kalau akhirnya suami selingkuh dan kita harus pisah dari pasangan kita tetap bisa mandiri, tetap bisa mempertahankan anak-anak kita.”

Semua setuju. Well, mungkin karena nggak tahu apa penyebab selingkuh, kita tidak bisa mencegah perselingkuhan, tapi kita bisa membuat diri kita berdaya. 

Seribu Teman… di Hape

Saya ganti hape beberapa saat yang lalu – dua tahun lalu maksud saya–. Alasannya –yang cukup dibuat-buat—adalah: baterainya sudah ngedrop dan entah apanya yang rusak, kadang nomor saya sulit dihubungi.

Sayangnya, setelah saya tidak ‘bekerja’ dan menjadi golongan menengah ke bawah, saya tidak bisa membeli hape yang kelasnya lebih tinggi dibanding hape saya yang dulu –Nokia E 71–. Jadi saya terpaksa tukar tambah dengan hape yang lebih murah, yang harga barunya cuma sepertujuh E71 kesayangan saya itu. Hiks.

Tapi saya menghibur diri: sudahlah, toh saya tidak bekerja lagi dan yang saya butuhkan cuma menelepon dan kirim SMS. Paling pol memotret Angger dan mengirim fotonya pada Anto. Sudah. Tidak cukup menghibur, sih. Downgrade gadget itu menyakitkan, jenderal. Dan harga ternyata nggak nipu. Gadget berharga murah itu tidak nyaman digunakan.

Saya sebenarnya tidak suka gonta-ganti hape. Kalau saya sudah ganti selama delapan kali dalam rentang waktu dua belas tahun, alasan saya selalu ‘agak valid’, misalnya performa si hape sudah tidak oke, contohnya: huruf keypadnya sudah pudar hehe.

Phone-book

Satu hal yang saya benci dari ganti hape adalah transfer phone-booknya. Biasanya sih, saya transfer sendiri dengan kartu-kartu perdana dengan sabar. Pernah saya menghabiskan tiga kartu perdana untuk mentransfer semua nama dan nomor itu.

Kali ini karena saya tidak sabar, dan karena hape harus ditukar tambah, plus karena saya yakin mestinya ada software komputer yang mampu melaksanakan tugas itu dengan mudah, saya tidak melakukannya sendiri. Saya meminta bantuan pada petugas konter hape tempat saya membeli hape baru. Dan ternyata…. dia menyerah!

Alasannya: kontak di phone-book saya mencapai 1040! Seribu empat puluh nomor tersimpan di hape itu. Hah! Saya juga kaget.

“Banyak banget Mbak. Ini sejak kapan? Saya saja paling pol nyimpan 200 kontak. Seribu empat puluh itu siapa saja?”

Astaga. Benar juga ya. Seribu empat puluh orang itu banyak banget lho. Dan siapa saja mereka?

Phone-book itu memang koleksi saya sejak punya hape pertama kali, yaitu zaman kuliah. Selanjutnya, tiap kali reuni, saya lantas menyimpan nomor-nomor teman SMP, SMA, bahkan teman SD. Teman SD mungkin 15 orang, SMP minimal 20 orang , SMA mungkin sekitar 40, teman kuliah juga mungkin 40an. Nah, baru itu saja sudah lebih dari 100 kan?

Belum lagi teman-teman kerja –saya ganti kantor empat kali–, dan relasi-relasi yang bertemu selama saya kerja. Lalu ditambah hape saudara dekat dan saudara jauuuh sekali. Lalu ada nomor delivery pizza hut –pizza hut Semarang, waktu saya tugas seminggu di sana– , apotek K 24, restoran ini itu, radio ini itu, dan agen tiket ini itu. Juga nomor rekening dan nomor telepon customer service bank. Wajar kan, kalau sampai seribu lebih?

Yang tidak wajar sebenarnya: sebagian dari nomor itu tidak pernah saya hubungi lagi. Bahkan beberapa di antaranya sudah tidak saya ingat lagi! Sewaktu melihat nama ‘Agus’, saya tidak yakin ini Agus yang mana. Saat melihat nama ‘Juwita’, saya tidak ingat Juwita itu siapa. Saya juga tidak yakin apakah nomor-nomor itu masih aktif setelah dua belas tahun berlalu.

Dan kalau mau jujur, berapa nomor sih yang aktif berhubungan lewat hape dengan kita? Tidak sampai dua puluh saya rasa. Teman-teman yang aktif berhubungan di dunia nyata –alias ketemu muka secara berkala—juga rata-rata segitu, antara dua puluh hingga tiga puluh. Harus saya akui, saya memang bukan cewek gaul.

Tapi ya begitulah, saya memang paling enggan membuang ‘sampah’. Saya selalu berpikir, siapa tahu kelak saya masih membutuhkan nomor-nomor itu.

Tapi akhirnya, saya menyerah. Saya memilih membuang semua nomor-nomor itu. Nomor itu saya ikhlaskan untuk hilang. Yang penting saya punya nomor keluarga dan beberapa teman dekat. Alasannya gampang: bila butuh kontak si Anu, saya bisa bertanya pada si Ani. Dan toh ada e-mail dan facebook, kan?

Benar saja, ternyata saya nggak kehilangan-kehilangan amat. Beberapa teman berkirim SMS, dan saya dengan sopan meminta maaf saya tidak tahu siapa dia karena phone-book saya barusan di-reset. Mereka mengerti. Saya juga meminta pada seorang teman beberapa nomor teman-teman lain yang saya butuhkan. Beberapa saya hubungi lewat face-book dan saya sampaikan nomor mereka hilang. Dan ah, ternyata, saya tidak membutuhkan seribu lebih ‘teman’ di phone-book saya!

 

Orangtua Tanpa Rasa Bersalah

Peringatan: Ini bukan artikel ilmiah dan jangan dijadikan rujukan.

Jadi anak zaman sekarang itu susah: banyak godaannya. Jadi orangtua zaman sekarang itu juga susah: banyak teorinya, banyak larangannya, banyak… rasa bersalahnya!

Serius. Contohnya saya. Saya lagi galau karena mendekati usia tiga tahun Angger belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti menyusu. Saya sebenarnya ingin membiarkan hingga dia berhenti sendiri. Tapi naga-naganya kalau saya biarkan, ia bakal menyusu hingga ia berkumis. Teori sounding dan segala macam itu nggak mempan. Mau tak mau saya harus menerapkan jurus sapih paksa.

Kalau dulu sih gampang aja solusinya: oleskan brotowali ke payudara atau plester payudara atau olesi payudara dengan obat merah, pokoknya sesuatu yang mengerikan atau… disuwuk oleh dukun. Suwuk itu semacam hypnosis, banyak yang bilang ini berhasil.

Tapi sialnya sekarang sudah teori weaning with love menyapih dengan cinta! Lah. Prinsipnya menyusui adalah proses yang penuh cinta, maka akhirilah proses itu dengan lembut dan penuh cinta pula. Pastikan anak, ayah, dan ibu sudah siap. Jangan sampai menimbulkan trauma pada si anak. Jangan sampai anak merasa tertolak. Jangan bohong dengan mengatakan payudara ibu sakit dan seterusnya. Dan tentu saja jangan pakai brotowali.

Kurangi frekuensinya sedikit demi sedikit, alihkan perhatiannnya, sounding ke si anak kalau dia sudah besar, anak besar minum dengan gelas dan seterusnya. Memangnya itu tidak saya lakukan? Sudah SETAHUN lebih saya melakukan itu woi!

Bersalah

Saya masih ingat postingan di salah satu grup pendukung gentle birth –nah, sekarang melahirkan aja ada macem-macem kan metodenya, meski keluarnya ya lewat situ-situ juga—yang mengungkapnya penyesalannya karena dia melahirkan dengan ceasar! Katanya, “Pantas anak saya jadi nakal-nakal.”

Esensi gentle birth adalah melahirkan dengan segala kasih dan kelembutan. Proses penuh kelembutan ini diharapkan menjadi pengaruh positif dalam tumbuh kembang anak, termasuk emosinya nanti. Gentle birth adalah konsep. Tapi entah gimana gentle birth jadi diartikan melahirkan dengan cara alami sambil nyemplung di kolam dan diiringi uyon-uyon.  Jadi perempuan yang melahirkan secara caesar (terlebih-lebih yang memang memilih cara ini karena nggak tahan sakit) adalah perempuan ‘terkutuk’, ini istilah yang terlalu dramatis sih, tapi ya pokoknya gitu deh.  Nggak bener juga untuk teriak-teriak saat melahirkan apalagi memaki-maki, menendang-nendang suami dan seterusnya. Nanti anaknya bisa jadi anak liar. Tentu saja ini pandangan yang nggak bener, tapi itulah, si ibu jadi sudah merasa bersalah atas sesuatu yang mungkin tidak salah.

Saya suka dengan konsep gentle birth. Itu konsep yang indah. Saya pengin juga menerapkan konsep itu bila punya anak lagi, tapi haloo… saya kenal banyak anak yang lahir lewat operasi caesar dan menjadi anak baik. Sebaliknya banyak pula bocah ndableg yang dulu lahir lewat jalan alami (Hm, mungkin dulunya ibunya nyumpah serapah pas melahirkan ya, entahlah).

Saya yakin ibu saya dulu seperti halnya ibu-ibu pada masa itu, nggak kenal dengan konsep gentle-gentle-an. Tapi kalau proses persalinan yang satu jam itu membekas pada saya, saya… saya tidak merasakannya.

Teman saya menyesal memarahi anaknya yang menggores layar i-padnya. Teorinya: memarahi anak saat ia merusak barang tanpa sengaja membuat si anak merasa tidak berharga. Setidaknya ia bakal merasa harga dirinya lebih rendah dibanding harga barang.

Nah, tuh, marah saat anak kita merusakkan gadget sekian juta saja tidak boleh! Susah, kan?

Sampai-sampai ada lho sekolah yang tidak pernah menganggap jawaban muridnya salah! Semua murid dapat nilai bagus, dapat komentar good, very good, excellent. Jawaban itu nggak penting, yang penting logikanya.

Kalau ada soal: Kita masuk rumah lewat…

a. pintu                 b. jendela            c. atap

jawaban apa pun yang dipilih si anak benar selama dia bisa menerangkan. Nggak masalah bila si anak menerangkan seperti ini: saya lewat atap biar nggak ketahuan si tuan rumah. Nggak papa, wong logis kok.  

Jadi anak zaman sekarang itu: nggak boleh trauma, nggak boleh dibohongi, nggak boleh disakiti, nggak boleh kecewa, harus selalu dipuji, tidak boleh dimarahi, harus selalu benar, tidak boleh salah.

Masalahnya adalah: dalam hidup memang ada yang benar dan ada yang salah. Dalam hidup, ada tindakan terpuji dan tercela. Dalam hidup, dalam satu titik kita akan kesakitan dan terluka.

Sakit dan luka bahkan merupakan cara agar anak dapat lebih kuat, lebih berani, lebih menghargai kebahagiaan.

Dalam artikel yang pernah saya baca (maaf, saya cari kok nggak ketemu) disebutkan orang Indonesia itu terlalu memanjakan anaknya. Sampai-sampai pas imunisasi saja si ibu bilang, “Maaf ya Nak, sakit sedikit.” Konon si ibu sampai ditegur bidannya (kebetulan dia imunisasi di luar negeri), “Ngapain minta maaf? Ini kan demi kebaikan si anak!”

Ngapain kita harus menyesal bila kita memarahi anak sekali-kali? Ngapain harus minta maaf saat kita harus meninggalkan anak untuk bekerja? Ngapain harus berlembut-lembut saat anak memang harus dikerasi agar mengerti?

Saya jadi maklum kenapa Amy Chua penulis Battle Hymn of Tiger Mother jadi sewot ketika sekolah mengeluh sekarang mereka (sekolah) kerepotan karena keras sedikit si anak, orangtua siswa pada protes semua. Amy Chua justru mendukung sekolah untuk mendisiplinkan anak. Perkara gurunya butuh teriak dikit-dikit ya nggak masalah.

Tanpa Kekerasan

Saya penganut ahimsa. Saya percaya kekerasan tidak akan menyelesaikan apa-apa, hanya meningalkan luka. Saya juga menyesal habis-habisan mengingat tangan saya pernah melayang sekali memukul pantat Angger saat ia menggigit waktu menyusu. Mungkin Angger sendiri sudah nggak ingat (dan toh dia nggak kapok menyusu), tapi penyesalan saya justru lebih panjang.

Jadi saya mengernyit ketika ada orangtua dengan sadar nylenthik alias menyentil anaknya demi mengajari si anak mana yang benar mana yang salah ala Pavlov. Misalnya, begitu si anak hendak merampas kacamata orangtuanya, sentil tangannya. Perlahan saja. Nanti si anak akan mundur. Begitu dia mau merampas kacamata lagi, sentil lagi. Dia akan mengulanginya dan kita harus konsisten menyentilnya. Dua hari saja. Dijamin si anak akan tahu dia tak boleh melakukannya.

Kernyitan saya mulai hilang.

Menurutnya setelah itu pekerjaannya jadi ringan. Dia tak pernah terpaksa berteriak-teriak mengatur anaknya. Anaknya jadi penurut dan manis (dan memang anaknya memang sangat penurut dan manis).

Bagaimana kalau Angger merebut kacamata saya? Saya ambil kacamata itu kembali. Kalau dia tidak mau melepas kacamata itu, saya akan membiarkannya sambil tetap mengawasinya sehingga saya bisa mencegahnya melakukan hal buruk pada kacamata itu. Lalu saya akan ambil kacamata itu diam-diam saat dia tidak menyadarinya.  Menurut saya, anak butuh mengeksplorasi benda di sekelilingnya. Angger tidak sedang menekuk-nekuk kacamata, dia sedang belajar sifat-sifat zat dan bentuk benda. Angger tidak sedang merebut kacamata, dia sedang mengembangkan rasa ingin tahunya. Akibatnya: satu kacamata saya patah. Padahal BARU!

Tapi saya tidak marah, dong karena… yah orangtua zaman sekarang tidak boleh marah. Hahaha, itu toh cuma kacamata. Meski baru. Dan yah… tidak murah. Tapi cuma barang, ya kan?

Tidak dan Jangan

Orangtua zaman sekarang tidak boleh mengatakan TIDAK dan JANGAN. Serius.

“Tidak” dan “Jangan” adalah kata negatif. Celakanya kata ini tidak memiliki simbol dalam otak anak. Celakanya lagi batita baru bisa menangkap ujung kalimat. Jadi kalau kita bilang ‘jangan lari’, maka si anak akan menangkap kata ‘lari’ nya saja dan malah justru terdorong untuk berlari. Dan kata ‘jangan’ itu begitu mengungkung. Anak jadi serba takut bila terlalu sering dilarang.

Jadi kalau tak ingin anak berlari, cukup bilang, “Dik, jalan saja.” Kalau tak ingin anaknya teriak-teriak, cukup bilang, “Dik, ngomongnya yang pelan ya.” Awalnya saya taat dengan teori ini, tapi kok lama-lama saya jadi repot sendiri ya?

Bagaimana bila saya ingin Angger berhenti menghambur-hampurkan terigu di dapur? Bagaimana bila saya ingin Angger berhenti menjambak rambut saya? Bagaimana bila rajutan yang saya kerjakan susah payah dibuatnya buyar dengan sekali tarikan? Bagaimana bila dia mendorong-dorong tubuh saya dari belakang saat saya sedang menggoreng ayam dalam minyak panas?

Saya putuskan Angger harus mengenal kata ‘tidak’ dan ‘jangan’ sedari dini.

Memang banyak hal yang saya rasa tidak perlu dilarang meski itu bikin saya pusing (lari-lari di dalam rumah, teriak-teriak atau memberantakkan mainan). Tapi ada yang secara tegas harus saya larang. JANGAN GANGGU IBU KALAU IBU LAGI KERJA! NGERTI?

Tak Ada yang Sempurna

Mau jungkir balik gimana pun, tak ada metode pengasuhan anak yang sempurna. Semua ada sisi bagus dan buruknya. Kadang baik bagi anak, tapi buruk bagi kita, misalnya membiarkan anak membantu kita mencuci (pernah coba?). Kadang baik bagi kita, tapi buruk bagi si anak, misalnya membiarkan si anak diasuh sponge-bob selama satu jam selama kita memasak makan malam.

Kalau ada yang paten sempurna, wah nggak susah kita ngasuh anak, bukan begitu? Kita hanya bisa mengambil yang terbaik dengan kondisi kita. Ada beberapa hal yang perlu kita kompromikan. Selama semuanya masih dalam koridor cinta kasih, saya pikir tak ada salahnya kita memarahi anak sesekali. Tak apa menyalahkan anak ketika ia bilang kita bisa masuk rumah lewat atap. Siapa tahu dia memang tak tahu mana yang atap mana yang pintu.

Kalau kita mengejar kesempurnaan, ya kita bakal stress sendiri karena memang nggak ada. Ibu saya dulu tentunya menyapih saya dengan metode ‘kebohongan’, tapi saya tidak ingat. Kalau pun ingat kok ya saya bakal memaafkannya karena kejujuran yang dia berikan setelah itu jauh lebih banyak.

Ibu saya dulu kadang memukul kakak saya (saya dan adik-adik tidak pernah dipukul, simply karena saya dan adik-adik tidak sendableg kakak saya), tapi saya yakin kakak saya memaafkan ibu karena cinta ibu jauh melebihi pukulannya yang kadang-kadang.

Sekali lagi, saya tetap tidak menyetujui kekerasan, tapi saya hendak menegaskan: kalau Anda pernah memukul anak Anda sekali dua kali, pernah berbohong sekali-kali, lepas kendali terkadang, maafkanlah diri Anda. Jadilah orangtua yang tidak tergayuti rasa bersalah setiap waktu. Anda orangtua, Anda manusia, bukan malaikat.

Dan tanyalah pada anak Anda apa pendapatnya tentang Anda. Percayalah Anda tetaplah paling hebat di matanya. Setidaknya saat ia masih balita.

Cerita Ayah: Tondo Pangarso

Tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Saya hanya ingin mendokumentasikannya saja.

Mbah Buyut dari pihak nenek saya bernama Mbah Tondo Pangarso, sedang dari kakek saya bernama Tondo Tikswara. Rumit ya dua kakek buyut bermana hampir sama: Tondo. Tapi ‘Tondo’ bukan nama. Tondo itu gelar, gelar bagi pegawai keraton dengan tingkat tertentu. Jadi nama pendahulu saya itu sudah berganti berkali-kali gara-gara soal gelar ini. Tapi nama ‘tondo’ itulah yang paling melekat.

Mbah Tondo Pangarso adalah lurah pasar Kranggan. Dan gajinya: 80 gulden pada saat itu! Per bulan. Delapan puluh gulden itu… saya nggak bisa mengkonversikan dengan rupiah sekarang, tapi pokoknya buanyak banget! Perumpaan ayah, “Kalau mau beli tanah tiap bulan bisa!”

Tapi Mbah Tondo Pangarso itu tidak kaya. Aneh banget kan? Gajinya hanya dibagi-bagikan setiap saat. Pintu rumahnya di kampung Kemetiran tidak pernah dikunci siang maupun malam selama hidupnya.

Kalau dia melihat orang memikul kayu untuk dijual, dia membeli kayu itu tanpa menawar harganya, “Antar saja ke rumah saya di Kemetiran.”

Pernah ia melihat bakul bandeng dan langsung memborong seluruh dagangannya, “Antar semua ke rumah saya di Kemetiran.” Dan bandeng itu hanya dibagi-bagikan.

Hobi dia di malam hari adalah menyalin babad-babad.

How I am proud to be one of his descendants! 

Membenci Itu Repot Sekali

Memendam kebencian itu, saya pernah tulis di salah satu novel saya, seperti membawa tomat busuk ke mana-mana. Sudah nggak ada gunanya, berat, baunya nggak enak, dan… cuma merepotkan diri sendiri. Jika Anda membenci seseorang, Andalah yang paling repot karena sungguh kadang orang yang Anda benci tidak tahu sama sekali, bahkan tidak peduli.

Di kampung saya ada seorang perempuan tua, sebut saja namanya Bu Pur. Di lingkungan sekitarnya saja ada beberapa tetangga yang ia benci. Itu yang saya ketahui. Entah berapa yang tidak saya ketahui. Agak mengejutkan sebenarnya karena di permukaan Bu Pur itu maniiisss sekali. Dia selalu bersikap ramah pada saya. Jadi agak mengherankan ketika beberapa tetangga bilang dia bahkan bisa mengumpat dengan kosa kata ‘kebun binatang’ pada seorang anak kecil gara-gara anak tersebut menaiki sepeda saat lewat samping rumahnya –yang memang gang sempit dan seyogyanya menjadi daerah bebas kendaraan–. Tapi kenapa harus mengumpat? Pada anak kecil pula.

Dengan tetangga sampingnya saja Bu Pur ini sudah tidak akur. Agak lucu karena tetangga sampingnya, sebut saja keluarga Gino, adalah sepasang suami istri tua yang sudah ‘tak berdaya’. Lebih lucu lagi kalau diingat keluarga Gino sering menolong Bu Pur. Bahkan cucu Bu Gino adalah bos anak Bu Pur.  

Singkat cerita suatu sore Bu Pur lewat gang belakang rumah saya. Ayah saya yang kebetulan ada di halaman menyapanya, “Wah, mau ke mana Bu?”

“Ini, ke apotek mau cari obat.”

“Wah, Bu Gino tadi juga barusan lewat sini, mau ke apotek juga,” kata Ayah, lupa sama sekali bahwa Bu Pur bermusuhan dengan Bu Gino. Dan apa yang terjadi? Bu Pur berganti arah, nggak jadi ke apotek.

Dan kebencian merembet

Suatu saat, kami semua hendak melayat. Seperti biasa, bila lokasi takziah agak jauh, kami rame-rame menyewa ‘colt’ –begitu kami menyebut angkot kecil di daerah kami–. Bu Pur tergopoh-gopoh mendatangi Bu Mi, “Bu Mi, aku ikut layat ya.”

Saya yang kebetulan mendengar berkata, “Bu Pur bisa mendaftar  ke bu Win. Yang mengurusi kendaraan Bu Win kok.”

Bu Pur mencibir, “Nggak mbak, saya nggak mau berurusan dengan Bu Win.”

Eh? Saya baru tahu kalau Bu Pur ini ternyata juga sengggiiit banget sama Bu Win.

Wah, wah, jadi berapa orang yang dibenci Bu Pur ini? Kalau Anda benci satu orang, saya bisa bilang mungkin orang yang Anda benci itulah sumber masalahnya. Tapi kalau Anda benci BANYAK orang, well, well… mungkin Andalah yang bermasalah.

Anyway, repot sekali kalau Bu Pur benci pada Bu Win. Soalnya Bu Win ini adalah pengurus kampung dan seksi ‘transportasi’ di kampung kami. Dialah yang menyewa colt, mendaftar peserta, mengumpulkan uang dan sebagainya.

Alhasil, dia ‘ketinggalan’ lagi saat ada acara silaturahim ke tempat lain. Kali ini kami akan menengok tetangga kami yang pindah ke rumah baru.

Bu Pur melihat saya jalan beriringan dengan Angger. “Mau ke mana?” tanyanya. Bingunglah saya menjawab. Bu Pur entah bagaimana jelas tidak tahu kami punya acara sore itu. Tapi kalau saya beritahu, bisa geger dunia.

Jadi saya menjawab diplomatis, “Mau jalan-jalan.” Aduh, saya jadi salah tingkah sendiri karena saya sadar betul Bu Pur bakal tahu juga. Benar saja, setelah itu ibu-ibu beriringan menuju colt yang sudah menunggu dan Bu Pur penasaran lalu menyusul kami.

“Ada apa ini?” tanyanya.

Kami bercerita kami akan silaturahim dan mengundang dia ikut. Tapi dia tahu persis Bu Win panitia di sini. “Nggak, nggak ah, saya nggak mau kalau sama dia,” kata Bu Pur.

Nah, kan?

Kepada peserta lain dia tanya, “Kenapa saya nggak dikasih tahu?”

“Eng, lupa kali,” jawab yang ditanya.

“Sama memang sudah nggak dianggap manusia!” Kata Bu Pur.

Nah, tuh, nggak diundang marah, diundang juga salah karena dia nggak mau berada dalam satu kendaraan dengan musuhnya. Repotnya kami hanya men-carter satu colt saja. Coba dia bawa mobil sendiri.

Repot

Jeng Yus –yang ternyata juga dimusuhi Bu Pur—bercerita pernah bu Pur membanting pintu saat ia lewat di depan rumah Bu Pur.

Oh saya bisa membayangkan adegan itu karena Bu Pur sering sekali duduk di dekat pintu rumahnya yang mepet gang. Pintunya dibuka sedikit, cukup untuk melihat orang yang lewat. Dan kalau yang lewat adalah orang yang tidak disukainya, maka pintu itu bakal dibanting.

Tapi terbayangkan nggak sih betapa capeknya duduk tanpa ngapa-ngapain selain menunggu ‘musuh’ lewat biar bisa membanting pintu?

Betapa repotnya membenci orang lain itu. Bu Pur misalnya, jarang sekali lewat depan rumah Bu Win yang cuma berjarak beberapa langkah dari rumahnya. Dia rela menempuh jalan yang lebih jauh demi menghindari ketemu Bu Win.

Bu Win sendiri ngakunya nggak tahu kenapa Bu Pur bisa seantipati itu padanya.

Begitulah, kalau kita benci seseorang, kita bisa gelisah sendiri, repot sendiri, sementara yang dibenci bisa tetap melenggang ke mana-mana. Memenjarakan diri sendiri, bukan begitu? 

Katakan Cinta

I love you bukan kata-kata yang susah diucapkan, demikian pula aku sayang kamu atau aku mencintaimu. Maksud saya dibanding kalimat ‘taplak gupak glepung’*. Tapi sebagian orang susah mengucapkannya. Kenapa? Banyak hal. Karena malu, karena budaya,  karena mencintai itu membuat kita jadi submisif –keliatan tak berdaya gitu—dan seterusnya.

Tapi salah satunya karena tidak terbiasa.

Saya dan Anto sama-sama berasal dari budaya Jawa yang tidak terbiasa berterus terang soal perasaan –sebenarnya dalam hal apa pun–, apalagi soal cinta-cintaan. Saru! Ra ilok. Akibatnya seumur-umur saya belum pernah bisa bilang cinta pada ibu atau ayah. Saya tak pernah bilang betapa berartinya mereka bagi saya.

Tapi saya bertekad mengubah hal ini dalam hubungan saya dengan Anto. Soalnya nyesek banget saat kita nggak bisa bilang ‘aku cinta kamu’ saat saya benar-benar butuh mengucapkannya. Jadilah, sejak pacaran kami sedikit demi sedikit mulai belajar mengucapkannya. Kini setelah hampir sepuluh tahun menikah kami masih mengucapkannya hampir setiap hari. Biasanya kami saling mengucapkan ‘I Love You’ saat Anto berangkat kerja.

“Aku berangkat ya.”

“Oke, ati-ati. I love you.”

“I love you, too.”

 

Kenapa pakai bahasa Inggris? Nggak tahu juga. Mungkin karena lebih enak di lidah. Lebih gampang diucapkan, dan k arena kalau kami pakai bahasa Jawa bakal terasa kayak ketoprak.

Nimas…”

“Ya kakang…”

“Aku tresna marang sliramu.”

Truthuk thuk thuk thuk.

 

Basikah mengucapkan I love you tiap hari? Anehnya kok tidak ya. Beberapa orang bilang kalau kata cinta diobral rasanya bakal hambar, bakal kehilangan makna, bakal jadi omong kosong. Itu tidak terjadi pada diri saya. Hm, mungkin karena saya memang merasakannya dalam hati (suit suit).  Meski begitu dialog seperti ini kadang terjadi.

“Aku berangkat ya.”

“Oke, ati-ati. I love you.”

“I love you, too.”

“Eh, aku sungguh-sungguh.”

“Ha?”

“Aku sungguh-sungguh saat bilang I love you.”

“Eh, aku juga selalu sungguh-sungguh kok.”

Kyaaaaa!!! Jangan bayangkan dialog ini terjadi di rumah nan sempurna, taman nan indah, atau pagi dengan kicau burung ya. Dialog ini sering terjadi saat saya masih pakai ‘piama’, rambut awut-awutan, dan terjadi di bawah genteng yang super-trocoh (bocor).

Yah, kadang saat semua itu jadi rutinitas yang otomatis, saya merasa perlu mengingatkan bahwa semua itu diucap dari lubuk hati yang terdalam. Halah.

Di siang hari, Anto sering SMS, singkat saja, ‘Angger lagi ngapain? Kangen kalian!’

Itu cukup. Cukup untuk mengingatkan saya bahwa di mana pun Anto berada, kami selalu ada di dalam hatinya. Cieh, saya kok jadi gombal banget begini.

Malam hari kadang saat berbaring tidur dan kami sudah mengantuk dan semua sudah sunyi Anto tiba-tiba berkata, “Makasih ya.”

“Untuk apa?”

“Menemaniku.”  

Sweet kan?

Cinta Perlu Diucapkan?

Cinta itu nggak butuh kata-kata. Nggak perlu diucapkan. Cinta itu adalah perbuatan. Cinta itu ditunjukkan.

Ya, ya, silakan saja. Ini perkara selera kok. Menurut beberapa orang pelukan, pandangan mata, pertolongan, kesiapsediaan sudah cukup menunjukkan kita sayang saya seseorang.

Tapi saya lebih suka bia cinta itu diucapkan dan ditunjukkan. Cinta juga perlu dirayakan, ditegaskan. Saya memasak untukmu karena saya cinta padamu. Saya mau ngantar kamu jauh sekali pun karena aku menyayangimu. Dan seterusnya.

Meski jujur saja ya, karena tidak terbiasa saya juga bakal kikuk habis mengucapkan cinta atau mendapat ucapan cinta dari orang selain Anto. Saya bayangkan pasti saya salah tingkah bila Bapak saya bilang ‘aku sayang kamu’. Dipeluk olehnya pun bakal terasa kikuk.

Anyway, itulah kenapa saya merayakan Valentine’s –kecuali Valentine’s tahun ini gara-gara abu Kelud–. Terserah orang bilang itu budaya barat lah, budayanya orang… lah (nggak tega saya nyebutnya), saya suka bila ada hari yang mengingatkan kita untuk duduk sejenak, mengenang hal-hal yang indah dari orang-orang dekat kita sekaligus mengingatkan mereka betapa berartinya kita bagi satu sama lain.

Kalau tidak suka Valentine’s toh masih banyak hari untuk mengungkapkan cinta; hari ibu, hari ulang tahun, hari pernikahan, dan kenapa tidak menciptakan hari sendiri? Tanggal 13 Januari misalnya? Tetapkan sebagai hari kasih sayang keluarga.

Tapi mencintai itu kan tiap hari? Tanpa hari kasih sayang kita harus saling mencintai dong. Lah, apa kalau ada hari Valentine’s itu berarti hari lain nggak saling mencintai? Kalau kita merdeka tanggal 17 Agustus itu apa ya kita hari yang lain tidak merdeka?

Saya sepakat kita semua perlu moment pengingat. Di antara semua jadwal, kesibukan, dan rutinitas yang menyita waktu, kadang kita lupa mengapa kita melakukan ini semua. Kadang kita juga butuh duduk menarik napas, minum cokelat hangat bersama orang yang kita cintai dan mengatakan betapa orang itu sangat berarti bagi kita. Kalau masih tak sempat, sebaris kalimat singkat ‘aku sayang kamu’ sudah cukup kok membuat kita meleleh dan tersenyum sejenak.

Kini saya juga melatih Angger untuk mengungkapkan rasa cintanya –sebenarnya semua emosinya–. Tagline yang saya buat untuk kami bertiga adalah: Aku cinta kamu dan cintaku GEDEEE banget.

Angger sudah tahu itu dan kadang—kadaaaang sekali kalau saya beruntung— dia akan bilang, “Angger sayang ibu. Sayangnya gedeeee banget.”

*Taplak gupak glepung adalah tongue twister versi Jawa. Coba ucapkan berulang-ulang.