Author Archives: kenterate

About kenterate

Ibu rumah tangga, penulis, penerjemah, yang hobi ngobrol nggak penting.

Pindahan (Semacam Racauan Nggak Penting)

Saya barusan pindah rumah. Akhirnya! Setelah sekian tahun mendamba. Rumah yang saya tempati kali ini adalah rumah baru tapi lama. Saya bilang baru karena ya baru saya tempati sekarang dan belum pernah ditempati siapa pun sebelumnya. Saya bilang lama karena sudah dibangun sejak tujuh tahun yang lalu.

Rasanya begitu nyaman dan damai. Ayem, meski rumah kami belum jadi sepenuhnya. Sebagian lantainya bahkan masih berupa semen kasar berselimut tanah. Tapi seperti kata Godbless ini adalah… rumah kitaaaa sendiri (yak ketahuan saya generasi 90an). Berdiam di rumah yang sama sejak kecil, saya tak menyadari betapa vitalnya hal satu ini bagi sebagian besar manusia. Sebagian saya bilang, karena sebagian yang lain merasa nyaman tanpa memiliki rumah berbentuk fisik. Nah kebetulan saya bukan tipe seperti itu.

Saya dididik untuk menjadi anak rumahan. Saya dididik untuk tinggal di rumah dan menemukan kebahagiaan di dalamnya. Bercengkerama, makan bersama, membuat kue, hingga berkumpul dengan teman dan tetangga di. Meski pernah tinggal di luar Jogja untuk waktu yang agak lama, saya tak pernah menyebut tempat-tempat itu sebagai rumah. Rumah saya ya… rumah yang itu.

Jadi ketika akhirnya saya punya rumah sendiri, wow, rasanya kayak menyelesaikan suatu PR yang sangat besar. Malah, rasanya seperti melewati satu tahapan hidup!  Apalagi rumah ini memiliki fitur yang lebih baik dari rumah lama (tentunya); lingkungan yang lebih baik, tenang, dan bersih, jalan yang lebih lebar (di kampung lama kami bahkan harus menuntun motor dan mobil nggak bisa masuk) dan atmosfir yang lebih kreatif.

Jatuh Bangun

Kami membangun rumah ini ‘sendiri’ alias tidak memakai jasa developer dan begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan, bahkan pelajaran dari kesalahan. Kesalahan yang juga banyak. Awalnya kami merasa kecewa, jengkel, atau menyesal saat kami sadari ada yang salah di sana sini. Kesal rasanya melihat floor-drain yang salah pasang. Tapi lama-lama kami menyadari kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kami beradaptasi dan bahkan bilang, “Oke, yang ini untuk pengingat, besok kita harus lebih berhati-hati.” Anto yang perfeksionis bahkan mulai semeleh. Dan saya sangat takjub dibuatnya. Dia tak lagi menuntut semuanya simetris, eksak, dan sempurna. Dia bahkan bisa bilang, “Ketidaksempurnaan itu indah.”

Kami juga belajar untuk tumbuh, untuk beradaptasi, untuk menggali ide-ide baru. Ada saja ide yang terbersit dan membuat kami menyimpang dari blue print. Kalau lebih bagus kenapa tidak?

Untuk hal ini kami berhutang pada desainer kami Mas Cahyo. Dia banyak membuka mata kami, bahkan mengubah pola pikir kami. Anto yang dulunya kaku menjadi lebih kompromis. Saya yang dulunya ngejar ‘modern’, kini lebih arif pada nilai-nilai tradisional. Kami yang dulunya saklek jadi lebih fleksibel. Saya pernah dengar,  “Kalau ingin menguji ketangguhan perkawinan, bangunlah rumah bersama-sama!” Oke, teori itu tentu masih perlu dibuktikan, tapi mari kita amini untuk saat ini.

Salah satu kalimat Mas Desainer yang saya ingat adalah, “Simetris itu alat bukan tujuan.” Sementara yang diingat Anto adalah, “Bukan pohon yang mengganggu rumah, tapi rumah yang menganggu pohon.” Dahsyat dah.

Tak terbilang tentunya berapa panjang diskusi kami. Beberapa di antaranya diiringi perdebatan dan tampang cemberut. Ada cemas dan capai menyelip, tapi kami sudah tak ingat lagi. Begitu pindah, yang kami rasakan hanya “Good job, yuk terus bekerja.”

Pindahan

Saya dulu selalu iri melihat teman-teman saya yang sering pindah rumah. Kalau pindahnya karena tugas (anak diplomat misalnya), masih wajar buat bikin iri. Tapi saya bahkan iri bila teman saya pindah karena kontrakannya sudah habis! Saya bayangkan pindah itu pasti seru. Tinggal dan melihat lingkungan baru! Wow!  Saya belum pernah mengalaminya.

Dari lahir jebrot sampai usia segini saya tinggal di rumah yang sama. Membosankan. Begitu pindah (meski hanya sekilo jauhnya), saya sangat excited, meski rasa iri kanak-kanak saya sudah pupus. Sudah lama saya menyadari teman-teman saya para ‘kontraktor’ itu pasti merasa tidak nyaman. Ortu mereka tak pernah tenang dan kadang mereka pindah ke lingkungan yang lebih buruk.

Itu tak terbayang di masa kanak-kanak saya. Sama halnya saya selalu iri pada teman yang punya rumah bertingkat atau punya loteng. Keren banget kan bisa lihat bumi dari tempat yang lebih tinggi. Rumah saya yang datar meleter itu terlihat sangat membosankan. Saya nggak pernah mikir mereka terpaksa buat rumah bertingkat kerena nggak punya lahan.

Ada rasa sakit saat kita harus meninggalkan apa-apa yang biasa kita punya. Tetangga yang sudah kompak dan bahkan dengan santainya bisa kita mintai bumbu dapur. Pasar yang sudah sangat saya kenal sampai bau-baunya dan rumah… ya rumah dengan segala kenangan. Anto sampai nangis waktu packing. “Ingat Ibuk,” katanya. Lah, padahal itu rumah saya, itu ibu saya, yang nangis malah Anto. Saya pilih nyingkir. Takut ikut nangis lebih keras.

Angger juga sempat menolak pindah meski sudah kami beri pengertian sejak lama dan perlahan-lahan hingga akhirnya dia yang ngejar-ngejar buat pindah.

Dan pindahan itu ternyata ribet masya ampun. Mulai dari packing, ngangkut, sampai… kehilangan barang. Capeknya seminggu baru hilang.

Tapi saat saya mengeluh tetangga saya bilang, “Mending Mbak ini pindah ke rumah sendiri, lah kalau pindah ke rumah kontrakan?”

Iya juga ya. Satu keuntungan lagi, rumah saya yang lama ditempati adik saya. Jadi barang ketinggalan bukan masalah. Saya masih wira-wiri rumah lama-rumah baru. Syukurlah, kini saya punya kenangan dua kenangan atas ‘rumah’. 

Mengapa Homescholing (2)

Ketika saya berniat mendidik Angger secara mandiri di rumah (homeschooling), ada kegalauan terbersit, “Bagaimana kalau anak saya tidak belajar sebanyak anak yang lain?”

Tapi beberapa hari terakhir kegalauan ini sirna saat melihat Angger dengan asyik mengamati kecebong di kebun. Bukankah dia sedang belajar?

Ternyata kuncinya adalah mindset kita atas definisi belajar. Belajar tidak harus duduk di dalam kelas, mencatat, dan mendengarkan guru. Belajar bisa di mana saja, kapan saja, bersama siapa saja.

Rugi banget bila Angger tidak sempat melihat metamorfosis katak sementara ada katak bermetamorfosis di belakang rumah. Bisa saja momen langka ini terlewat karena waktunya habis untuk sekolah. Ibunya belanja di pagi hari saat pasar sedang full dagangan dan sayuran masih segar. Ayahnya memperbaiki pagar di pagi hari sebelum berangkat kerja. Apakah mungkin dia ikut belanja dan memperbaiki pagar bila dia dihebohkan dengan persiapan sekolah?

Rugi sekali bila Angger tidak sempat belajar menanam papaya dari ayahnya yang petani papaya. Rugi banget bila Angger tidak belajar menulis dari ibunya yang penulis.

Ayah, ibu, keluarga dekat beserta masing-masing keahliannya adalah sumber utama(first hand resource) yang sayang bila dilewatkan.

Itulah mengapa saya mengajari Angger berbahasa Jawa –proses yang masih berjalan dan kacau balau banget–. Saya pikir rugi banget jika Angger tidak belajar bahasa Jawa sementara kebisaan itu begitu dekat dengannya. Saya adalah sumber belajar ‘nyaris sempurna’ untuk percakapan bahasa Jawa karena saya penutur asli. Itu artinya dia bisa belajar kosa kata sampai logat-logatnya.

Saya tidak bilang Angger tidak bisa belajar bahasa Inggris dari saya. Bukan. Dia tetap bisa belajar dari saya, cuma karena saya bukan native speaker tentu masih banyak belang blentongnya. Grammar mungkin salah, logat apalagi, pasti lewat. Jadi saya pikir akan lebih menguntungkan bagi Angger untuk belajar bahasa Jawa. Mumpung ada guru penutur asli, gratis pula.

Semoga selalu diberkahi, semoga diberi jalan lancar. Amin. 

Cukup Itu Cukup

Saya baru saja beli hape baru. Alasannya (yang dibuat-buat) hape lama saya entah kenapa mati melulu kalau dipakai motret padahal fitur kamera itu penting bagi saya. Buat dokumentasi. Saya kan penulis, jadi butuh dong merekam hal-hal menarik yang saya temui di jalan. Siapa tahu bisa jadi bahan tulisan.Meski yah saya akui galeri saya lebih banyak berisi foto-foto selfie saya bareng Angger.

Di saat yang sama baterai kamera saya juga bermasalah. Jadi ya sudahlah, daripada saya servis kamera plus servis hape, saya beli hape baru.

“Mending beli hape baru yang kameranya bagus, Mbak, jadi kalau ke mana-mana kamu hanya perlu nyangking satu gadget. Tak perlu bawa hape plus kamera.” kata adik saya Sutimbul. Sungguh, seumur-umur itulah kalimat paling bijaksana yang terucap darinya.

Yang Dibutuhkan

Saya langsung mencari hape dengan kategori seperti ini:

  1. Bisa buat SMS
  2. Bisa buat telepon
  3. Kameranya lumayan bagus

Di mal hape, tentu lain lagi kategori yang disodorkan oleh penjualnya. “Mending ini Mbak, sudah bisa buat BBM, wichat, line, macem-macem, game-nya juga banyak. Musik-nya oke.”

Saya terpana, “Oh, betapa kerennya!” Tapi hanya sedetik. Saya panggil kesadaran saya kembali.

“Tidak saya tidak butuh semua itu, saya hanya butuh hape yang kameranya lumayan.”

Ganti penjualnya yang bengong. Mungkin dia mbatin, “Yailah mbak, kalau nggak butuh chatting dan nge-game itu hape buat apa? Ngulek sambel?”

Adik saya Fitri yang mengantar saya malam itu bilang, “Ini bisa buat line Mbak, kan lumayan bisa hemat pulsa.”

“Kamu kan tahu aku tidak pernah pakai line-line-an kayak begitu.”

“Ya buat konek dengan keluarga kita aja, biar ngirit SMS. Kan lumayan kalau aku pas belanja, lihat barang bagus, aku bisa potret terus kirim ke kamu dan nanya ‘kamu mau ini nggak Mbak’.”

Ha! Jenius sekali kan? Aduuuuuh, manisnya. Kalau tidak punya line mungkin saya akan kehilangan kesempatan punya sepatu bagus.

Saya menimbang-nimbang sejenak. Iya ya, bukankah itu akan praktis sekali? Saya mendadak galau. Iman goyah. Mendadak saya jadi merasa butuh. Kenapa yang dulu cukup-cukup saja kini terasa kurang? Dulu saya tidak punya telepon sama sekali. Dan saya baik-baik saja. Lalu saya punya hape, tapi tidak punya kamera. Dan saya baik-baik saja. Kini saya punya hape dan punya kamera dan TIDAK baik-baik saja. Saya pengin punya hape yang bisa buat apa saja itu.

Enough is enough

Kapan cukup itu cukup? Orang Jawa bilang wong ki cukup yen wis mlebu cungkup alias cukup bila sudah masuk liang lahat. Selama manusia masih hidup ya nggak bakal cukup.

Masalahnya capek banget nggak sih ngejar cukup yang ternyata nggak pernah cukup itu?

Semua agama mengajarkan puasa karena itu salah satu sarana kita belajar untuk menahan diri dari segala serbuan keinginan yang kita terjemahkan sebagai kebutuhan. Ternyata kita cukup kok makan sehari dua kali alih-alih tiga kali. Ternyata cukup juga hidup kita tanpa rokok. Ternyata cukup hidup kita tanpa berhubungan seksual dan seterusnya.

Yang ada dan tersedia pun kita tolak. Alasannya: cukup.

Saya ingin belajar dari itu semua. Saya ingin bisa mengatakan cukup meski batin saya menjerit ‘kurang-kurang-kurang’.

Masalahnya bahaya sekali kalau kita tidak bisa bilang ‘cukup. Dan cukup itu berarti cukup.’

Soal perut saja. Pernah Anda makan sampai kekenyangan? Saya yakin pernah. Ini jadi sumber penyakit, kita semua tahu. Tapi entah bagaimana susah bagi kita untuk bilang cukup meski perut kita sudah menjerit-jerit, “Cukup, woe, cukup. Ya ampun kami sudah nggak muat, sudah nggak kuat buat menggiling, kenapa masih terus dimasukin?”

Sudah punya rumah, sudah punya mobil, sudah punya istri, eh yak ok masih kurang. Iyalah, rumah yang ini kurang bagus. Iyalah mobilnya cuma satu, kan ribet kalau ibu butuh ke sana, ayah butuh ke sini, anak butuh ke situ. Ya sudah, akhirnya nambah mobil dan nambah rumah, lalu nambah istri. Lah kalau duitnya kurang… ya korupsi. Gampang.

Kalau dilihat dari segi ini sebenarnya kita nggak jauh beda ya dari para koruptor. Sama-sama tak bisa mengekang rasa kurang. Hape kurang keren, beli yang baru –seperti saya–. Eh, yang baru kurang lebar, beli hape yang gedenya  saingan sama telapak tangan dah. (Saya hampir ketawa lihat hape yang lebarnya ya ampun, Mak, dikantongin aja susah! Padahal dulu produsen hape berlomba-lomba bikin hape mini. Juaranya Sony yang bisa bikin hape sekecil korek api kalau dilipet. Sekarang hape berlomba gede-gedean ngalahin tivi).

Di mal hape itu si penjual juga bilang, “Baterainya hemat kok, cuma butuh di-charge sehari dua kali.”

Gubrak! Dulu hape hemat itu dicharge sehari dalam tiga hari! Tapi memang nggak konek sama internet. Nggak ada facebook. Sekarang kalau nggak konek sama facebook ya KURANG dong. Karena hapenya smart, orangnya juga harus smart. Jadilah kita bikin powerbank.

Kata adik saya, “Mbak, kalau kamu mulai bawa powerbank, besok kamu bakal bawa genset.”

Oh. Sungguh itu kata paling bijak kedua dari adik saya. Adik saya itu… saking anti powerbank hapenya nggak bisa dihubungi karena baterainya sering nge-drop. Tapi kok ya…. nggak apa-apa. Paling-paling dia terbebas dari ‘perintah’ saya untuk beli ini itu dalam perjalanan pulang dari kantornya.

Begitulah sekali kita bilang ‘iya’ pada nafsu, nafsu ini makin kurangajar, makin menjadi-jadi. Sekali beli hape, ya teruuuuusss aja selalu butuh hape yang baru. Kayak candu.

Sekali nurutin nafsu makan sampai kekenyangan, kok ya ndilalah usus kayak makin lebar, lambung makin besar dan lidah makin manja. Kalau nggak enak, muntir sudah itu lidah.

Masih Kurang

Nafsu itu memang nggak ada batasnya. Saya sudah punya semua hal yang saya anggap elementer dalam hidup saya: makan, pakaian, rumah, kendaraan, laptop, hape. Seharusnya mudah bagi saya untuk beranjak ke hal lain dalam hidup ini: bikin perusahaan yang bisa menyerap tenaga kerja, beramal, atau kuliah lagi biar pinter.

Tapi kok ya sudah sekali. Karena ternyata yang seharusnya ‘cukup’ itu masih kurang. Rumah masih setengah jadi, kendaraan udah lawas banget, dan oh, saya kan belum pernah piknik sekeluarga ke Bali. Masih kuraaaang banget deh pokoknya dan entah kapan cukupnya.

Sudahlah, tiba-tiba kok saya jadi ngenes sendiri.

Salah Fokus

Betapa mudahnya kita kehilangan fokus. Betapa mudahnya kita berpaling dari pokok pembicaraan ke pembicaraan remeh temeh yang mengaburkan inti.

Ketika menteri pendidikan dimintai komentar soal surat terbuka mengenai (kritik) UN yang ditulis anak SMA, ia berkata ia tak yakin surat ini dibuat oleh anak SMA, “”Dari tulisannya, logika menulis, pilihan kata, sepertinya mustahil itu ditulis oleh pelajar SMA,” kata Pak Menteri seperti yang dikutip di laman ini.

Lha kok aneh, batin saya, menteri pendidikan kok nggak yakin dengan anak didiknya. Apa dia justru senang (dan yakin) anak didiknya nggak mampu menulis dengan baik? Lah, kalau memang begitu, sudah seharusnya dia mengubah metode pendidikan dong.

Si anak didik itu maju kena, mundur kena. Pinter nggak dipercaya, bego disalahin.

Okelah kalau memang surat itu TIDAK dibuat oleh anak SMA beneran, yang penting kan isinya. Isinya benar atau tidak. Saya jadi berpikir semua pejabat di negeri ini parno. Jadi kalau ada yang mengkritik dan menyerang, bukan kritikannya yang dicermati, tapi apa akibat kritik itu bagi karir mereka. Mereka sibuk menerka-nerka apa modus kritik itu? Mereka merasa semua kritik dibuat oleh lawan untuk menjegal kursi mereka.

Oke, saya sudah hilang fokus di sini. Intinya: mudah sekali bagi kita, bahkan seorang menteri, untuk meleset dari fokus. Memperhatikan hal yang remeh dan nggak penting dan di saat yang sama, justru melupakan inti, esensi.

Contoh-contoh kecil

Di Youtube saya menemukan video klip kelompok musik yang memainkan piano dan cello dengan indahnya. Aduh, indahnya kebangeten deh. Dan komentar yang tersua di bawahnya adalah: (Si pemain music) is gay.

Lah, terus ngapain kalau dia gay –dengan asumsi komentar itu benar–?

Ada pula video yang memperlihatkan seorang anak kecil main harpa. Bagus banget. Eh, komentarnya: make up-nya ketebelan. Ya ampun, ada anak kecil bisa main harpa, yang diperhatikan kok make-up-nya> Udah gitu ada juga yang nanggapin pula, “Lah, memangnya apa yang kamu harapkan? Dia makin harpa dengan jins belel kayak gembel?”

Saya jagonya salah fokus tentu saja. Ketika membaca artikel soal tidak perlunya anak belajar calistung di usia dini yang justru saya perhatikan adalah ejaannya, bukan isinya. Kalau ditanya mengapa anak tidak boleh belajar calistung di usia dini, saya tidak bisa menjelaskan ulang. Jelas karena yang saya pikirkan adalah, “Ya ampun ini orang, dia dulu belajar calistung di mana yak, ejaannya berantakan bener. Bikin pusing yang baca.”

Ada artikel lain tentang kisah seorang pemuda yang marah pada ibunya yang sudah jompo gara-gara si ibu mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali. Si ibu sedih dan menangis, “Kenapa kamu marah? Dulu waktu kecil kamu menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali  dan ibu tak pernah bosan menjawabnya.”

Lah, kuwi jenenge ngundat-undat. Mengungkit-ungkit! Saya tahu maksud artikel itu baik. Hormatilah orangtuamu karena dia sudah mengasuhmu dengan susah payah waktu kecil. Tapi kan sebagai orangtua kita harus ikhlas, ya kan? Kalau nggak ikhlas menjawab pertanyaan anak berkali-kali ya nggak usah punya anak. Beres to? Dan kok bisa ibu itu punya anak nggak sabaran kayak gitu? Gimana cara mendidiknya?

Itu komentar sinis saya. Iya, iya, saya tahu bukan intinya. Tapi kok ya….

Cerita lain: Ada orang bertanya-tanya, “Kenapa sih pohon beringin yang gede buahnya kecil, sementara pohon semangka yang kecil buahnya malah besar.”

Terus ‘ting’, si orang kejatuhan buah beringin. Dia lalu memuji Alloh yang Maha Pintar dalam menciptakan semua makhluknya. Coba kalau buah pohon beringin itu sebesar semangka. Repot kan?

Tunggu, dia belum pernah liat pohon duren ya? Itu komentar saya, yang lagi-lagi salah fokus.

Sakit

Padahal salah fokus bisa nyakitin banget lho. Contohnya, Anda udah masak semur dengan sempurna. Bumbunya pas, dagingnya empuk, dan penyajiannya juga cantik. Pas pasangan Anda pulang dan makan tuh semur, dia berkomentar, “Itu wadah semurnya kenapa retak dikit kayak gitu?”

Sakit banget nggak tuh?

Nyakitin banget kalau seorang anak pulang membawa nilai sepuluh untuk matematikanya dan si ibu berkata, “Kenapa kertasmu kotor kayak gini, pasti tanganmu berkeringat waktu ngerjain soalnya. Lain kali jangan lupa bawa tisu.”

Dan karena si ortu udah biasa salah fokus, udah biasa memperhatikan hal-hal yang nggak penting dan mengabaikan hal penting, si anak juga akan begitu. Dan kelak bila suatu saat dia jadi menteri atau presiden dia akan berkomentar, “Metode apa yang dipakai untuk menghitung angka kemiskinan itu? Kok bisa kemisikinan dikatakan naik, wong GDP-nya aja meningkat kok!” saat ditanya wartawan tentang kemiskinan. Atau lebih parah, dia akan berkomentar, “Angka itu beda dengan jumlah lho. Yang Anda tanyakan angka atau jumlah? Saya kok nggak yakin Anda wartawan. Bilang siapa yang menyuruh Anda ke mari?”

 

 

Mengapa Homeschooling?

Homeschooling (HS) semakin ngetrend. Pelan-pelan metode pendidikan rumah ini makin popular. Setidaknya itu yang saya amati sepintas dari komunitas HS di kota saya. Peminat dan anggotanya makin banyak, meski banyak di sini juga sebetulnya amat sangat sedikit dibanding peminat sekolah reguler. Majalah Esquire (entah edisi berapa) menyebut HS sebagai makhluk seksi pendidikan.

Sebelum saya bercerita lebih banyak, saya tegaskan dulu bahwa yang dimaksud dengan HS di sini adalah pendidikan mandiri di RUMAH yang sebagian besar atau malah seluruh ‘pelajaran’-nya dijalankan oleh orang tua siswa dan bukannya institusi pendidikan formal yang menyebut diri mereka sendiri homeschooling seperti  Homeschooling Kak Seto atau Homeschooling Primagama.

Saya tertarik dengan HS, meski  belum memutuskan apakah akan mendidik Angger di rumah atau mengirimnya ke sekolah. Kalau ini hanya keputusan saya dan suami sih, rasanya sudah bulat, HS adalah pilihan terbaik setidaknya hingga saat ini. Tapi kami tetap akan mempertimbangkan pendapat Angger. Kalau ia ingin bersekolah di sekolah regular ya apa boleh buat.

Ada beberapa keluarga HS yang saklek ingin mendidik anak mereka secara mandiri karena menilai HS adalah yang terbaik bagi mereka. Saya bukan tipe yang berpikir seperti itu, tapi juga tak hendak menentang pendapat semacam itu karena di sinilah uniknya HS: setiap keluarga memiliki alasan tersendiri, berhak menentukan kurikulum sendiri, berhak memilih metode sendiri sesuai dengan minat anak dan nilai-nilai keluarga. Kenapa? Karena salah satu alasan orang tua memilih HS adalah menghindari kurikulum sekolah yang sama rata meski siswa-siswinya memeliki latar belakang yang beragam.

Alasan Memilih HS

Kenapa memilih HS? Saya awalnya belajar mengenai HS semata-mata untuk memperbanyak opsi. Makin banyak pilihan makin bagus kan? Kalau bisa sih, saya ingin mempelajari semua metode pendidikan. Tapi itu kan agak sulit. Jadi ya sudah, saya pelajari apa yang ada di sekitar saya. Saya tanya-tanya pada teman-teman, gimana sekolah A, gimana pesantren B, gimana les bahasa Inggris di tempat C, dan seterusnya.

Kalau kami menganggap HS adalah metode pendidikan terbaik bagi kami (sekali lagi sampai saat ini) itu dikarenakan kekecewaan kami pada sekolah dan sistem pendidikan pada umumnya.

Saya tidak menikmati pendidikan TK-SMA saya. Oke, ada kesenangan-kesenangan yang saya dapat, tapi banyak yang membuat saya kecewa. TK saya kenang sebagai masa si pemalu. Secara sosial saya belum siap bergaul dengan teman sebaya.Saya menghabiskan jam istirahat mengamati teman saya bermain. Ketrampilan fisik saya saya yang di bawah rata-rata membuat saya ogah berpartisipasi.

Masa SD saya sebut sebagai masa galau. Meski saya juara pertama terus dari kelas dua hingga kelas enam, saya banyak mindernya. Kok bisa? Bisalah, wong saya nggak bisa nyanyi, nggak bisa olahraga, sering semaput pula waktu upacara. Dan lagi-lagi saya nggak piawi bergaul. Kadang saya takut teman-teman membenci saya karena satu hal: saya pintar dan juara terus.

Masa SMP adalah masa minder. Kok bisa saya yang SD juara terus bisa goblok mendadak? Benar-benar misteri. Fisika membuat perut saya mulas habis (dalam arti sebenarnya). Saya mulai punya banyak teman, dan kehidupan sosial saya beranjak menyenangkan, tapi kehidupan akademis saya hacur lebur, membuat saya berpikir saya ini bodoh. Saya merasa jadi pecundang, tak punya keistimewaan. Saya tidak cantik –yang penting banget waktu SMP–, nggak keren, nggak kaya, dan seterusnya.

SMA adalah masa depresi. Parah. Meski secara fisik dan perilaku saya terlihat biasa-biasa saja. Aneh banget karena saya sekolah di SMA favorit (yang berarti sebenarnya saya nggak bodoh), tapi kok ya saya merasa superbodoh. Saya tertekan berat. Nggak cuma hal-hal akademis yang membuat saya depresi, tapi juga masalah hal-hal khas bullying antar-siswa. Apakah di SMA negeri favorit ada bullying? Ada, meskipun bentuknya bukan kekerasan fisik dan pemerasan yang bisa dikategorikan kriminal, tapi lebih pada sosial dan emosional bullying (nggak pakai jilbab, calon penghuni neraka. Memelihara kuku panjang, temannya setan. Main teater? Kafir.  Pakai seragam nggak pakem, pemberontak.  Perempuan nyanyi? Haram. Masuk IPS? Bego. Nggak ikut acara wajib? Ancaman nilai jeblok. OSPEK? Suruh lari-lari dalam cuaca panas dan bikin kartu nama yang bersudut sempurna –alih-alih yang nyeni– dan seterusnya).

Masa inilah yang membuat luka terbesar dalam diri saya menyangkut pendidikan. Saya berada di luar mainstream dan akibatnya saya MERASA dikucilkan serta ditolak.

Tidak semua orang kayak saya tentu saja. Banyak teman-teman SMA saya yang riang gembira dengan aturan dan sistem seperti itu. Banyak yang enjoy dan happy menghadapinya. Tapi, jujur bukan itu pendidikan yang ingin saya berikan pada anak saya.

Sekolahin ke swasta dong. Yang elit dan menjunjung tinggi kreativitas dan keunikan individu. Duite sopo? Kalau pun saya kuat mbayar, pedih saya membayangkan anak saya hanya bergaul dengan orang kaya. Pedih membayangkan anak saya akan study tour ke Singapura dan sebagainya.

Saya baru bisa menikmati pendidikan saat saya kuliah. Tapi mungkin giliran teman saya yang depresi.

Suami saya kerja dalam bidang pendidikan. Dan ini membuatnya mengerti benar tentang kondisi pendidikan di Indonesia, mulai dari gurunya yang ‘bodoh’, males, suka curang, sampai cuma mikir duit tanpa mikir kinerja.  Serius nih. Ingat tes uji kompetensi guru secara nasional tahun 2013?

Nilai rata-rata kompetensi guru (secara akademis) adalah 42,25 (skala 0-100), bahkan ada yang dapat nilai 1.0 (terendah).

Sekarang coba pikir, kok bisa anak-anak didiknya diminta mengerjakan UN dengan standar kelulusan 5.5 (skala 10)? Curanglah jawabannya!

Itu baru satu alasan. Saya belum membahas soal kurikulum yang tidak masuk akal dan tidak perlu (apa urgensi mengajarkan TIK pada anak kelas satu SD misalnya), bullying di sekolah, metode mengajar, soal pendidikan budi pekerti, komersialisasi pendidikan, dan seterusnya.

“Yang paling capek adalah membongkar dan memperbaiki ‘pengetahuan’ anak setiap saat dan aku nggak pengin melakukan itu,” kata Anto, suami saya. Maksud Anto adalah udah capek-capek kami ngajarin anak untuk membuang sampah di tempatnya –bahkan memilahnya–, eh di sekolah teman-temannya, bahkan gurunya, buang sampah sembarangan. Sudah capek-capek saya memilihkan makanan sehat untuk anak saya, eh waktu ada acara di sekolah, gurunya membagikan snack kemasan ber-MSG tinggi. Itu misalnya saja.

Alasan teman-teman lain

Saat berbagi bersama teman-teman yang tergabung dalam komunitas pendidikan mandiri (untuk mempermudah pendidikan anak-anak mereka, orangtua HS membutuhkan komunitas, dengan demikian mereka bisa membentuk klub olaharga, klub seni atau klub-klub lain untuk mewadahi minat anak-anak dengan lebih mudah dan murah), saya baru mengerti betapa beragamnya alasan orangtua memilih HS untuk mendidik anak mereka.

Seorang ibu, sebut saja Mbak A, menceritakan kisahnya yang mengharukan saat menjadi guru di Ambon. Kekerasan fisik sudah menjadi ‘budaya’ di sana dalam mendidik anak. Anak dipukul itu sudah biasa. Yang paling parah menurutnya anak-anak itu (SMA) tidak tahu apa yang mereka inginkan. Bagi Mbak A yang mengajar bahasa Inggris, bahasa Inggris itu nggak penting-penting amat buat mereka. Yang lebih penting adalah mereka mengetahui apa yang mereka inginkan untuk hidup mereka.

“Yang paling menyakitkan,” kata Mbak A, “suatu hari Senin anak-anak itu datang membawa piala sambil bersorak-sorai. Hari sebelumnya mereka bertanding sepakbola dan juara dua. Seorang guru merebut piala itu dan membuangnya ke tempat sampah dan berkata, ‘ngapain kalian juara dua? Seharusnya kalian bisa dapat juara satu.’” Mbak A sangat emosional dan para pendengarnya ikutan tercabik-cabik. Ini di sekolah lho!

Mbak A juga cerita anaknya di-bully di sekolah. Guru bahasa Inggrisnya bilang si anak sudah hopeless dalam pelajaran bahasa Inggris. Padahal si anak baru kelas satu SD! Teman-temannya juga suka mengganggunya karena dia lambat dalam menulis.

Puncaknya si guru bilang –meski sambil bercanda—“Wah, kamu ini kayak ubi ya,” sambil mengelus badannya (yang kebetulan memang lebih bongsor dibanding teman-temannya). Sampai rumah si anak tanya, “Bunda Bu Guru bilang aku kayak ubi, itu maksudnya apa ya?”

Bapak B yang mengisahkan perjalanannya sebagai relawan pendidikan dari Sabang sampai Merauke menegaskan hal ini. Di Indonesia bagian timur kekerasan fisik sudah menjadi bagian sehari-hari dalam pendidikan. “Untuk mengajak seorang siswa masuk kelas, seorang guru perempuan, perempuan lho, menarik tangan si anak ke belakang dan menendang pantatnya ke depan! Itu biasa.”

Sementara di Aceh, ia bercerita, anak-anak sama sekali tidak punya gagasan atau inisiatif. “Ditanyain hobinya nggak tahu, disuruh cerita nggak bisa, disuruh ngomong apa pun nggak mau.”

Mbak C mengisahkan anaknya yang dibully di TK. Gurunya menyeret tangan si anak bila anak dianggap terlalu lamban. Kalau anaknya lari-lari terus si guru berteriak, “Kamu tuh kok nggak bisa diam sih?”

Mbak D bilang semenjak masuk SD anaknya yang biasanya jadi ceria jadi murung terus.

Ideal

Saya tidak melebih-lebihkan kisah di atas. Itu semua cerita yang saya dengar sendiri. “Tapi kan tidak semua sekolah begitu. Sekolah anak saya bagus kok, dan anak saya menikmati sekolah.”

Alhamdulillah kalau begitu. Saya sendiri produk sekolah regular dan meski ada pengalaman buruk seperti yang saya tuturkan di atas, toh saya ‘sukses’ saat ini. Ya, sukses menurut ukuran standar lah. Saya berpendapat tak ada system yang sempurna untuk semua orang.

Ada anak-anak sekolah regular yang ‘sukses’, ada pula yang ‘gagal’. Anak HS juga begitu. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, dengan segala kemudahan dan kerepotan, yang penting bagi saya adalah menelaah kembali apa alasan ‘perjalanan’ kita. Setelah kita tahu alasannya, mari kita tetapkan tujuan kita. Setelah kita tahu tujuan kita, mari cari kendaraan yang paling cocok bagi kita dan mampu membawa kita ke sana. Dan nikmatilah perjalanan itu dengan terus waspada dan mawas diri.

 

Review: Diary Princesa

Image

Sudah bertahun-tahun saya tidak menulis review. Tapi kali ini si tengil ini berhasil membujuk saya. Tidak membujuk tepatnya, tapi mengirimi saya buku gratis disertai embel-embel ‘tulis review’ nya ya. Sialan betul dah, ada maunya ternyata. Tapi syukurlah, dia mengirimi saya buku ini sebelum saya terlanjur beli. Memang, begitu tahu dia sudah menerbitkan novel saya langsung niat beli bukunya sebagai apresiasi saya terhadap karya seorang sahabat dan rekan sejawat. Tapi kalau dipikir-pikir mending saya beli ya, daripada disuruh bikin review :p.

 Beruntunglah dikau, Nduk, ini review pertama dalam blog ini. Kehormatan bukan?

Oke langsung saja ke sinopsisnya: tersebutlah dua kakak beradik cewek; Jinan dan Princesa. Si Jinan punya emosi sangat labil, mudah marah, mudah sedih, tapi mudah senang juga. Kalau nangis bisa berhari-hari, tapi juga bisa langsung ceria.

Mulutnya tanpa rem, jujur dan blak-blakan, nggak pernah punya sahabat (meski dia luwes bergaul), dan baru pacaran sekali, sementara Princesa atau Cesa adalah si cantik, si pintar, si populer, dan si hobi kencan sama cowok. Dia nggak bisa hidup tanpa cowok tepatnya. Masalah terberatnya adalah dia harus bisa menjadi pelindung Jinan melawan mood-nya yang naik turun kayak roller coaster. Dia harus selalu mendampingi Jinan yang punya kecenderungan depresi dan bunuh diri tiap kali menghadapi hal buruk.

Ini masih ditambah masalah mamam dan papap mereka yang nggak akur. Mamam nggak pernah peduli sama anak-anaknya dan dia sepertinya punya masalah mental sendiri –hampir mirip kayak jinan. Dan papap tak pernah hadir sama sekali.

Lalu datanglah Nathan yang cinta sama Jinan. Dan… bisa ditebak, sebenarnya Cesa juga naksir Nathan yang perfect ampun-ampunan.

Endingnya: Silakan baca sendiri ya.

Membaca Diary Princesa, Membaca Titien

Jujur saja saya tidak bisa membaca buku dengan obyektif (memangnya bisa ya membaca dengan obyektif?). Saya mengenal si pengarang (Swistien Kustantyana alias Titien) secara pribadi sejak kuliah, kemudian terbawa sampai kami  sama-sama kerja di Jakarta (saya duluan, dia nyusul). Enggak tahu kenapa dia mengagumi saya. Beneran lho, serius. Kata-kata saya seolah dicatat oleh mesin dalam otaknya. Nggak tahu gimana, pokoknya dia ingat aja, padahal saya udah nggak ingat dan kadang saya mengucapkannya sambil lalu, tapi dia menganggapnya serius seolah itu sabda ratu. Geleng-geleng dah.

Saya tahu ups-and-downs-nya Titien setidaknya hingga titik dia kerja di Jakarta itu. Kami lumayan sering ‘minum kopi’ sambil saling curhat. Oke, sebenarnya dia yang curhat sampai berember-ember dan saya dengan senang hati mendengar curhatnya. Habis ceritanya ajaib semua! Saking ajaibanya, andai dijadikan novel pun nggak bakal ada yang percaya ada kisah begitu. Tapi saya tahu seperti halnya Jinan, Titien jujur dan blak-blakan. Mulutnya nggak punya rem –dalam arti yang baik–. Dan yah… dalam banyak hal dia memang Jinan.

Ya, Titien ini memang esmosi-nya kayak roller coaster. Dia sering nangis-nangis berember-ember, tapi kalau ketemu saya bawaannya cekikikan melulu sampai saya berpikir ini anak habis nelen narkoba jenis apa sih? Titien juga ‘haus kasih sayang’. Dia tuh sukanya dipeluk-peluk gitu. Dan dia tipe orang yang harus punya teman (yang ini lebih mirip Cesa), juga kadang minder dan merasa tak berarti sampai kadang saya pengin nampar dia dan teriak, “Hey, sadar dong, kamu ini pinter, cantik, pandai nulis, bisa bahasa Inggris, bla… bla… bla….

Nanti di akhir cerita ada keterangan tentang kelainan bipolar disorder. Itulah yang menerangkan semua tingkah Jinan. Kurasa Titien sangat mendalami emosi Jinan karena dia juga kayak gitu in some kind of way.  Waktu saya baca kisah ini saya mbatin walah Jinan nih Titien banget!

Tapi Titien dengan cerdas memilih Cesa sebagai ‘story teller’ karena dengan demikian ia membuat jarak dari dirinya. Dia menghindar untuk menjadi terlalu subyektif. Dia menghindar menceritakan sudut pandang Jinan yang pasti akan jadi sangat membosankan dan bakal sulit dimengerti. Cesa membuat semuanya cair, logis dan mudah dimengerti.

Melihat Titien tumbuh

Sudah saya bilang sebenarnya saya melihat ini sebagai ‘Diary Titien’ dibanding ‘diary Cesa’. Berkali-kali saya mengkorelasikan apa yang tertulis di novel dengan apa yang saya ketahuai tentang Titien. Ini beberapa di antaranya:

  1. Gileeee sekarang Titien sudah jadi mall-explorer. Nggak nanggung-nanggung, dia dolannya ke Grand Indonesia dan Senayan City. Eh, yang ngenalin lo sama Grandi siapa, Tien? Gue? Kalau gue, beneran gue khilaf, nyeselnya sekarang. Beneran, untuk ke kantor anak ini nyaris tiap hari lewat Matraman, tapi kalau suruh ke Matraman sendiri nggak ngerti. Dia bahkan sama sekali nggak tahu kalau yang dia lewati tiap hari itu Matraman. Parah bener dah. Dia nggak pernah ke mana-mana. Naik transjakarta harus ditemani. Lah, sekarang… kayaknya semua mall di Jakarta dia tahu. Plus restorannya dia hafal! Buset dah.
  2. Bacaannya! Bacaannya ajiiib. Jadi ceritanya Jinan suka baca. Yang dibaca beragam buku. Nah, saya yakin bacaan Jinan itu refleksi bacaan Titien. Padahal ya ampun, dulu itu dia cuma baca Candy-Candy :p. Sebagai lulusan sastra Inggris, tentu Titien banyak baca buku. Tapi setahu saya dia jarang baca sastra serius. Bacaannya paling teenlit, itu pun bukan teenlit yang bermutu. Dia sendiri sampai geleng-geleg, “Kalau cuma begini, aku juga bisa bikin.” Iya, cuma masalahnya waktu itu dia nggak nulis dan kalau nulis ya sama sampahnya. Serius. Saya sampai harus menyuplainya dengan bacaan bergizi. Coba deh baca ini itu ini itu. Dan finally… saya sekarang sampai ngiri dengan apa yag dibacanya: the Silver Lining Playbook –dalam basaha Inggris–? Salman Rusdi? Tontonannya juga makin bervariasi. Dulu setahu saya dia cuma lihat Meteor Garden dan pol-polnya Boys Before Flower. Sekarang… yah udah meningkat dikit ke… Gossip Girl haha. Apa kabar Serena Van Der Woodsen?
  3. Kemampuannya menulis melesat bak meteor. Dulu aduuuh, baca draft novelnya saya nggak kuat. Saya lupa apa kritik saya kepadanya. Tapi again, karena dia mengagumi saya, dia mantuk-mantuk aja. Saya bilang tulisanya jelek, dia juga manggut-manggut. Pada kenyataannya, tulisannya saat itu sangat dipengaruhi emosinya yang labil. Kini dia bisa menjaga jarak –seperti saya bilang tadi–.

 

Titien bener-bener berjuang untuk menggapai impiannya menjadi penulis –padahal dia sendiri juga lagi berjuang menghadapi masalah pribadi; keluarga, cowok, pekerjaan–. Ia belajar ke sana ke mari. Dia bahkan berani naik bus sampai Banten demi belajar pada Gola Gong. Ngebus sampai Banten booo. Prestasi yang oke banget kan mengingat dia bahkan awalnya takut naik  trans Jakarta sendiri. Dia berguru pada AS Laksana. Dia datang ke Jogja dan belajar dengan penerbit Gradien. Pokoknya kayak calon murid perguruan Saolin lah. Nggak mau berhenti berlutut sampai diterima jadi murid.

 

Satu per satu cerpennya masuk antologi dan majalah. Bukan majalah sembarang, tapi majalah Gadis, Story, lalu Kompas Anak. Lain dengan novelnya, saya selalu memuji cerpennya. Awalnya dia masih euphoria dengan ‘syah’ nya statusnya sebagai penulis. Dia borong majalah yang memuat cerpennya. Dia kirim ke mana-mana, sampai-sampai honornya pun nggak cukup buat beli semua majalah itu. Dia sempat terlena, tapi dia cepat menyadarinya. Dia dengan tegas menolak menulis untuk antologi ‘ecek-ecek’. Dia pengin naik level. Dia mau persaingan yang sehat.

 

Dia berteman dengan editor, penulis, sastrawan, dan masuk komunitas sastra. Wow, saya aja nggak segitunya. Ini benar-benar lompatan besar baginya yang kenalan dengan orang baru aja awalnya susah. Ke tempat baru sendiri awalnya grogi. Saya benar-benar salut pada perjuangannya. Ketika novel perdananya ini akhirnya terbit, saya ikut terharu.

 

Yang tampak jelas dari novelnya adalah cara penulisannya yang rapi, sangat enak diikuti. Benar, urutan jalan ceritanya bolak-balik, maju mundur, tapi tetap lancar dan tidak bikin bingung. Emosi dan Jinan dan Cesa terungkap dengan baik. Dan meski ceritanya agak berderai-derai, Titien berhasil menghindari penyampaian menye-menye. Novel ini justru terasa sangat logis. Emosi dan logika bisa tampil dengan pas.

Yang saya protes adalah judulnya. Kenapa Diary Princesa? Bagi saya ini misleading karena saya tidak menemukan gaya bertutur ala dairy atau jurnal. Tapi overall: kompor gas! *Eh. 

Sadar Lingkungan. Sekadar Sadar.

Saya manusia sadar lingkungan. Ya sekadar sadar saja. Maksudnya, saya sadar dengan apa yang saya konsumsi. Saya sadar tingkah laku saya mengotori bumi. Saya sadar saya harus mengurangi sampah saya dan seterusnya. Sekadar sadar itu tadi.

Saya bukan aktivis lingkungan, saya tidak mendaur ulang sampah saya (apalagi membuatnya jadi dompet. Nggak sempet), saya juga masih mengkonsumsi daging yang konon menghabiskan ribuan liter air selama ‘daging’ tadi masih bernyawa. Tidak, saya belum sampai ke level ‘advanced’ kayak gitu.

Tapi setidaknya saya sadar. Saya memilah sampah organik dan anorganik. Cuma dua kategori itu sih, belum sampai tahap memisahkan baterai dan kaca atau kertas HVS dan kertas kardus. Tapi lumayan kan, minimal mengurangi pekerjaan pemulung dalam memilah sampah. Sampah organik kami buang di ‘jugangan’ di kebun dan kami harap jadi penyubur tanah kelak. Apa yang kami ambil dari bumi, kami kembalikan ke bumi. Cieh, serasa jadi pahlawan saya ini.

Saya kadang menampung air bekas cucian sayur (tanpa sabun) untuk menyiram tanaman. Oke, sebenarnya baru melakukannya sekali.

Saya memilih produk yang lebih ramah lingkungan, misalnya sabun cair refill. Ya tetap sabun sih, tetap ada kemasan plastiknya sih, tapi kan nggak separah botol plastik. Iya kan? Eh, atau tidak?

Saya beli botol air. Ya tetap plastik sih, tapi kan bisa diisi ulang, daripada beli air kemasan. Ya kan?

Saya mendesain rumah saya tanpa AC. Sebenarnya karena nggak kuat beli AC sih, tapi boleh kan bergaya sok cinta lingkungan.

Saya tahu itu belum cukup. Sangat jauh dari cukup. Saya membawa tas belanja bila ke pasar. Tapi itu tidak mengurangi banyak. Kapan itu saya dan adik saya Sutimbul mencoba menghitung sampah plastik yang kami hasilkan pagi itu. Pagi saja. Dan inilah sampah kami dari belanjaan kami:

Belanjaan

Sampah

Keterangan

Timun 2 buah

0

Langsung masuk tas belanja

Sandal 3 pasang

2 plastik bening dan 1 tas kresek. Sepasang sandal tidak dikemas plastik, tapi tetap harus masuk tas kresek.

 

Agar-agar

0

Angger beli agar-agar tusuk tanpa kemasan.

Es dawet 4 porsi

3 plastik bening. Satu porsi diminum dengan gelas

 

Kolang-kaling

1 plastik bening.

 

Nanas 3 potong

1 plastik bening.

 

Duku 1 kg

1 plastik kresek

 

Snack 2 macam

2 plastik bening dan 1 tas kresek

Tas kreseknya bisa dipakai lagi

Celengan tanah liat 15 buah

3 plastik kresek

Tas kreseknya bisa dipakai lagi

 

Jadi total kami menghasilkan sampah berupa 6 plastik kresek dan 10 plastik bening. Luar biasa bukan? Itu baru satu keluarga. Itu baru sepagian, sekitar empat jam. Itu baru dari belanjaan. Itu baru sampah plastik. Kami belum menghitung kemasan sabun, sampo, laundry, dan seterusnya.

Teori ≠ Praktek

Secara teori rasanya kami sudah ‘nglothok’ soal cara memelihara lingkungan. Tapi tahu tidak selalu berarti menerapkan. Alias bagus di teori tidak selalu bagus juga di praktek. Alasannya bisa macam-macam, mulai dari tidak praktis (masa ke pasar bawa wadah segambreng?), tidak higenis (misal pas beli minyak goreng, masak iya beli minyak goreng curah yang tidak dikemas? Jijik ah), tidak ini itu, dan ujungnya males.

Baiklah. Saya akan lebih banyak berbuat. Itu tekad saya. Minimal demi kasih contoh buat anak. Saya mulai beli penganan dengan membawa wadah sendiri. Demikian juga bila saya membeli merica atau kemiri, saya bawa toples kecil sendiri (saya cinta deh sama pasar tradisional, soalnya saya nggak mungkin melakukan ini di supermarket). Tidak banyak mengurangi sampah, tapi tetap mengurangi.

Repot? Iya. Terlebih kalau beli penganan. Aduh, kadang saya sampai harus bawa tiga wadah demi menghemat plastik. Pas wadah itu kosong sih nggak masalah, giliran sudah diisi, ampun mak, wadah-wadah ini memenuhi tas belanjaan saja.

Para penjual kadang juga tidak membantu. Bukannya bersyukur mereka dibantuin berhemat, eh malah bilang begini, “Nggak pa-pa mbak, pakai plastik. Saya punya plastik banyak kok.” Eeaa.

Penjual lain benar-benar higenis, hingga ia memisahkan penganan satu dari penganan lainnya, misalnya tahu goreng dipisah dari arem-arem. Soalnya kan arem-arem itu dibungkus daun. Daunnya mungkin kotor. Jadi tahunya harus dipisah dari daun. Tahu goreng juga harus dipisah dari kue mangkuk, soalnya tahu goreng berminyak dan gurih, sementara kue mangkok manis dan tidak berminyak. Jadi kue mangkok harus dilindungi dari tahu goreng. Ribet banget ya.

Kadang penganan-penganan tadi sudah dibungkus dengan kotak mika (sampah lagi) dan kadang saya cemplungin begitu saja ke tas belanjaannya yang dibuat dari bagor bekas kantung terigu. Eh, penjualnya juga protes, “Jangan Mbak, sini aku kasih tas kresek dulu. Biar nggak kotor kena sayur.” Yailah.

Tadi pagi saya beli gula jawa. Bawa tas kresek sendiri. Tas kresek bekas memang, tapi warnanya putih dan masih bersih. Penjualnya juga protes, “Nggak diplastik bening dulu?”

Jujur saja, membawa tas belanjaan tidak banyak membantu mengurangi sampah plastik.

Saya paling senang kalau dapat penjual yang membungkus cabai dengan daun pisang. Daun pisang bekas lagi. Maksudnya bekas bungkus tempe. Ada juga yang membungkus sayur dengan kertas bekas. Top dah. Nggak higenis? Tolong ya, itu sayur sudah disemprot dengan DDT. Ngapain juga mikir kuman yang bisa mati dengan direbus. Dalam hal seperti ini pasar tradisional lebih jago dari supermarket yang gembar-gembor ‘ramah lingkungan’ dengan MENJUAL tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali dengan harga yang muahal. Halah, males banget. Slogan ramah lingkungan-nya sendiri udah nggak tulus.

Terus Mencoba

Teori sabun bisa merusak lingkungan juga sudah kami dengar bertahun-tahun lalu. Tapi ya… Cuma kami dengar aja. Sampai kami ikut kemah komunitas homeschooling Casper. Ada salah satu peserta yang menyediakan lerak serta irisan jeruk nipis buat mencuci piring. Kami agak shocked awalnya. Hah, segitunya ya? Okelah kami tidak membuang sampah sembarangan. Kami bawa minum dengan botol-pakai-ulang. Tapi mencuci dengan lerak? Lebai banget nggak sih?

Adik saya lebih shocked lagi saat ia ke kamar mandi dan sabunnya ketinggalan. Ia melongok ke luar dan di luar berdirilah Mbak Ira, peserta kemah, yang lagi ngantri. “Mbak bawa sabun nggak?”

“Nggak, saya cuma bawa lerak. Mau?”

Mbak Ira memakai lerak untuk mencuci apa pun, termasuk mencuci badan. Aih, ini tidak lebai lagi. Ini mulai serius. So, kami bulatkan tekad buat mencoba. Mencoba saja dulu. Untuk awalnya kami menggunakan lerak dan jeruk nipis buat mencuci piring. Dan ternyata oke juga kok. Kesat. Sama kesatnya dengan sunlight. Agak repot dikit karena harus membelah lerak dan jeruk nipis. Tapi diiikkkitt banget kok repotnya. Dan sesungguhnya kalau nggak mau repot kita butuh tiga bumi.

Salah kaprah soal lingkungan

Setelah kemping itu saya berdiskusi dengan Sutimbul. Kebetulan dia ikut diskusi lingkungan dalam kegiatan itu, sementara saya menjaga anak saya yang maunya ngendon di tenda.

Saat ini banyak kegiatan yang kayaknya cinta lingkungan, tapi niat sebenarnya cari duit.

Saya memang suka berprasangka. Sungguh. Kalau toko ritel memberi tas kresek yang bertuliskan, “tas ini ramah lingkungan,” atau “tas ini bisa didaur ulang,” saya akan membatin, “Mosok?” Dia kan nulis gitu biar kita nggak merasa bersalah belanja di tokonya dan ujung-ujungnya kembali ke sana. Soalnya kalau benar dia cinta lingkungan kan mestinya dia pakai tas kertas daur ulang, plastik bekas (yang masih bersih tentunya) atau kardus bekas. Bener nggak? Ntar dikomplen dong sama konsumennya. Lah sudah saya bilang tadi kan, kalau nggak mau repot kita butuh tiga bumi.

Kalau penjual wadah plastik gembar-gembor dengan ecoproduct dan slogan menyayangi bumi, saya juga skeptis. Ealah, mbok sudah, jualan ya jualan sajalah. Nggak usah sok ramah lingkungan segala.

Ini cerita adik saya: sebuah perusahaan multiproduk (nggak tahu saya apa sebutan untuk perusahaan yang bikin segala sesuatu mulai dari kopi sampai sabun colek) mengetahui ada seorang ibu memakai ulang kemasan produk mereka dan menjadikannya barang kerajinan. Barang itu sangat bagus dan cocok dijadikan souvenir. Akhirnya si ibu dikasih order untuk bikin souvenir lebih banyak. Pakai apa? Pakai kemasan produk yang belum dipakai! Alias kemasan baru dan bukan bekas. Lah. Mana semangat mengurangi limbahnya nih?

Itu juga terjadi pada bank sampah. Awalnya adalah niat baik. Tapi setelah menggejala di mana-mana, kok yang menonjol motif ekonominya? Saya lagi-lagi curiga, jangan-jangan nasabah bank sampah ini kalau ke pasar sengaja minta tas kresek lebih supaya bisa dijual ke bank sampah. (Aduh, saya ini memang hobi bersuudzon ya. Sudah mending ada yang mau susah-susah mengelola sampah secara mandiri).

Di kalangan atas, perempuan high class sudah MERASA menyelamatkan lingkungan kalau pakai produk organik (dibaca Body Shop), beli Tupperware, atau bawa tumbler sendiri ke Starbucks! Sinis? Ember.

Tapi buru-buru Sutimbul mengingatkan saya untuk tidak sinis. Semua orang punya pendapat, punya pandangan, punya latar belakang, dan definisi yang berbeda. Dan itu adalah refleksi dari pengalaman hidup yang sangat pribadi. Tidak masalah. Selama kesadaran itu terus tumbuh, itu adalah hal yang baik. Tidak tumbuh pun tidak apa-apa. Saya kan tidak boleh marah kalau melihat ibu-ibu memakaikan popok sekali pakai pada anaknya. Bisa-bisa dia berkata, “Mau ngepelin kencing anak saya?” Pakai yang bisa dicuci ulang dong, Buk. “Kamu mau membelikan?”

Tidak. Saya tidak bisa begitu. Sama halnya saya juga tidak bisa selalu ingat untuk bawa termos saat beli es dawet hingga akhirnya saya… menghasilkan sampah plastik yang akhirnya… membuat pemanasan global… yang akhirnya…. bikin bumi gerah banget… dan akhirnya membuat saya marah-marah sendiri. “Dasar nih, siapa nih yang sok pake AC dan bikin ozon bolong hah? Siapa?”

 

Nggege Mangsa

Angger sudah hampir tiga tahun, tapi masih menyusu. Saya bertekad menyapihnya saat ultahnya yang ketiga bulan Mei nanti. Tapi tiap kali melihat Angger masih sangat menikmati menyusu, saya tiba-tiba gamang. Saya rasa dia belum siap. Tapi, kapan dia siap? Saya sudah mulai jenuh. Saya mulai jengkel bila dia merengek minta nenen. Tidak, tidak. Dia harus saya sapih, bagaimana pun caranya.

Beberapa minggu lalu saya membaca artikel Samuel Mulia di Kompas Minggu. Dia bercerita temannya yang baru lulus SD sudah dikirim ke luar negeri untuk sekolah di sana. Alasannya: biar cepat mandiri. Dan ini tidak hanya terjadi pada satu temannya saja.

Samuel mempertanyakan alasan ini: kenapa orangtua pengin anaknya cepat-cepat mandiri? Samuel sendiri pernah diusir ayahnya saat ia kecil karena tak mau pergi berenang bersama sang ayah.

Tentu saja diusir dan disekolahkan keluar negeri itu dua hal yang berbeda, tapi ujungnya bisa jadi sama: anak merasa tertolak. Samuel menekankan bukankah mandiri itu bukan jatah anak-anak? Kalau anak-anak sudah bisa mandiri, lah ngapain dia butuh orangtua? Dan bukankah orangtualah yang punya jatah untuk memandirikan anak alih-alih sekolah atau orangtua asuh di luar negeri?

Membandingkan

Saya ingin menghadiahi Angger sepeda saat ia berulang tahun ke tiga Mei nanti. Angger tidak minta sih. Tapi saya pikir keren aja lah. Dan dia pasti suka. Teman-temannya usia segitu sudah pada main sepeda. Belum juga bulan Mei sepupu Angger, si Anggit sudah minta beli sepeda. Anggit sudah empat tahun dan merengek minta sepeda. Saya deg-degan, aduh gimana nih, jangan-jangan Angger pengin, padahal kan dia belum ulang tahun.

Kejutan. Saat Anggit pulang bawa sepeda, Angger bahkan tidak tertarik. Dia hanya menonton dan diam saja. Saya berkata, “Itu sepeda Anggit. Kalau Angger pengin, tunggu ya, besok Ayah Ibu belikan.” Apa kata Angger? “Angger tidak pengin sepeda! Angger belum bisa naik sepeda!”

Ha. Saya jadi malu sendiri. Dulu saya sering membelikan Angger mainan tanpa ia minta. Akibatnya? Mainan itu menumpuk di gudang. Oke, mungkin saya membeli mainan yang salah. Tapi lain kali waktu kami te toko mainan, Angger tak minta apa-apa juga, kecuali bola! Bolanya sudah banyak. Jadi saya menggiringnya ke mainan lain. Mobil-mobilan atau alat musik. Hasilnya? Dia tidak tertarik. Ya sudahlah. Sudah setahun lebih saya stop beli mainan. Nggak ada gunanya. Nggak dipakai juga.

Dan kini saya hendak melakukan hal yang sama; pengin membelikannya sepeda meski ia tak menginginkannya. Ia bahkan sadar betul ia belum bisa menaikinya.

Resahkah saya dia belum bisa naik sepeda bahkan belum pengin naik sepeda? Ya! Resah. Ya ampun, si Ikin anak tetangga baru empat tahun sudah bisa naik sepeda tanpa congkok, ngebut lagi. Kalau dipikir-pikir si Ikin ini juga udah bisa baca Al-Qur’an  dan bisa baca tulis. Jenius memang dia. Tapi Angger bukan Ikin.  Dan Angger ternyata tak ingin sepeda!

Nggege Mangsa

Dalam bahasa Jawa ada istilah nggege mangsa. Memburu-buru musim. Mempercepat sesuatu yang belum saatnya.

Betapa banyak orang tua yang pengin nggege mangsa. Saya yakin itu. Kalau tidak tentu tak bakal ada les calistung usia dini, tidak ada sekolah bayi, juga tak bakal ada cerita anak remaja nyetir dan nabrak orang hingga meninggal.

Kenapa kita membiarkan bahkan mendorong anak untuk bisa menyetir mobil saat usianya belum lagi matang? Karena nyopir mobil itu keren, karena kalau anak sudah bisa nyetir mobil kita nggak perlu repot mengantarnya ke mana-mana. Tapi kita lupa, makin mudah anak ke mana-mana, makin mudah pula ia lepas dari pengawasan kita. Kalau kita mengantar anak, ya kita repot, tapi setidaknya kita tahu dia ke mana.

Jadi semua ini berbalik ke orangtua ternyata.  Sama seperti saya yang ingin menyapih Angger. Karena apa? Karena saya sudah bosan repot menyusui. Kalau bisa sih, saya juga ingin Agger supaya bisa mandi sendiri, bisa makan sendiri, dan tidur sendiri. Beres sudah.

Kebanggaan Orangtua atau Kebahagiaan Anak?

Angger naik perosotan. Dia naik, lalu berhenti di tangga teratas, tidak jadi meluncur. Ah, sial, cemen bener anak saya ini.

“Ayo Ngger, turun aja, ibu tungguin di bawah.”

“Tidak! Angger tidak mau turun.”

 

Saya bisa marah dan jengkel pada sifat penakut sama anak saya. Tapi saya memilih untuk tidak jengkel. Saya tahu Angger berani meluncur di perosotan yang  lebih rendah. Jadi sudah pasti dia tidak takut meluncur. Saya tahu saat Angger duduk di tangga paling atas dia mengamati bahwa perosotan itu terlalu tinggi baginya. Jujur saya juga ngeri membayangkan dia meluncur dari sana. Alih-alih marah, saya justru bersyukur Angger menggunakan insting dan nalarnya.

 

Ada orangtua yang bangga anaknya yang belum lagi berusia dua tahun sudah bisa naik tangga sendiri. Pertanyaannya adalah: kamu tega liat anakmu yang masih kecil naik turun tangga sendiri?

 

Ada orangtua yang bangga anaknya sudah bisa naik motor pada saat usianya dua belas. Pertanyaannya: yakin anak dua belas tahun bisa mengendalikan emosi di jalan raya? Yakin anak usia segitu sudah bisa menggunakan nalarnya di saat-saat genting?

 

Sama seperti pohon, anak akan berbuah saat sudah siap. Saat musimnya tepat. Kita bisa merekayasanya dengan segala macam pupuk dan cahaya buatan, tapi efek negatifnya? Pasti ada. Minimal si pohon cepat lelah.

 

Jadi saya akan mengingatkan diri saya sendiri untuk lebih sabar. Untuk menunggu. Saya akan bersabar bila saat ini dia nempel terus sama saya. Ke mana-mana minta ditemani ibunya. Toh, sebentar lagi ia akan terbang. Tangannya akan terlepas dari genggaman saya. Sementara itu belum terjadi, biarkan saya menikmati hangat pipinya dan suara manjanya. Dia bisa mandiri kapan-kapan. Tidak sekarang. Masih banyak waktu. Saya tak akan menolaknya saat ini.Karena saya juga ingin menahannya saat ia ingin terbang nanti.   

Kemping Penak

Sabtu Minggu lalu saya mengikuti kemah yang diselenggarakan oleh komunitas pegiat pendidikan mandiri (homeschooling) dan saya benar-benar terpana karena kemah sekarang itu… enak sekali. Maklum, sekian kali berkemah saya nggak pernah kemah dengan nyaman. Dan omong-omong, sekian kali kemah yang sama omongkan itu adalah kemah bertahun-tahun yang lalu. Lebih dari lima belas tahun yang lalu.

Saya terakhir kali kemah waktu SMA. Itu pun tidak bisa dibilang kemah karena kami menginap di rumah penduduk alih-alih di tenda gara-gara hujan yang sangat deras. Kemah di SMA itu saya jalani dengan sangat ogah-ogahan. Selain karena label-nya wajib –kemah kok dipaksa–  waktu SD saya ikut kemah dan rasanya nggak nyaman.  WC-nya super kotor (ada ‘itu’ bertumpuk-tumpuk di lubang WC yang kering-ring tanpa setetes air pun). Alhasil saya sebisa mungkin menahan pipis dan eek di bumi perkemahan. Belum lagi tenda yang kotor, lingkungan sekeliling yang juga sama kumuhnya dan konflik dengan teman-teman (siapa yang mesti tidur di tepi, siapa yang mesti jaga tenda –seolah-olah tenda mesti dijagain–).

Dan kegiatan kemah dulu itu juga nggak asyik. Wong kemah kok pakai acara pengajian. Yaelah.

Jadi,  waktu mahasiswa saya langsung mengernyit ketika ada yang usul kemah sebagai acara darmawisata. Kemah? Oh, tidak!

Kemah Seru

Kemah kali ini diperuntukkan untuk keluarga dan mengambil tempat di Ledok Sambi yang masih lumayan dusun dan asri. Tempatnya aja sudah asyik. Ada kali kecilnya yang jernih, ada sawahnya, ada gunungnya. Dan kamar mandinya lumayan bersih. Lumayan lah.

Begitu kami datang, tenda sudah berdiri. Wah. Ini berbeda dengan tenda waktu saya SD. Kami harus berjibaku mendirikan tenda yang akhirnya juga didirikan oleh kakak pembina. Sewaktu saya memasuki tenda kali ini, saya kaget karena tenda kami tidak penguk alias apak! Hah, perasaan dulu waktu SD, tenda kami selalu penguk. Begitu saya berbaring di bawahnya, yang saya lihat adalah kain parasut warna-warni yang tidak menyilaukan mata dan tidak berjamur! Hah, dulu perasaan waktu SD tenda kami itu selain penguk juga jamuran (ngendok kremak) plus ada gambar cap ‘segitiga’ nya. Maklum waktu itu tenda dibuat dari kain bekas kantong terigu.

Dan oh, tak ada tongkat dan tali temali. Tenda itu bisa berdiri dengan kokoh tanpa tali temali dan tongkat bambu. Ajaib banget deh. Dan oh, bisa dilipat juga setelahnya.

Terus waktu hujan, tenda itu ternyata tidak bocor! Wah. Dulu kalau hujan, kami semua harus ‘mengungsi’ dari tenda dan tidur di rumah penduduk (nggak seru amat ya). Tenda ini juga rapat sehingga nyamuk pun tak bisa masuk. Ada ritsleting-nya di pintu. Tenda zaman dulu sih diikat dengan tali aja, jadi kalau ganti baju masih keliatan dikit gitu. Satu lagi, tenda ini juga dilengkapi dengan matras hangat plus sleeping bag. Dan sleeping bag-nya wangi! Ha, super sekali.

Bukan Manusia ‘Alam’

Saya bukan manusia ‘alam’, saya bukan petualang. Saya tidak suka hiking, tracking, camping, apa pun itulah namanya. Tapi sekarang saya punya anak dan saya merasa berkewajiban untuk mendekatkan anak saya pada alam. Dan saya bersyukur menemukan komunitas yang bisa bikin camping saya seenak ini.

Selain soal ‘tenda ajaib’ tadi, saya juga suka kegiatannya yang seru dan mendidik. Ada nilai-nilai yang diusung dan tidak ada mi instan! Dan cuma sabtu minggu, tidak berpanjang-panjang, cukup buat inisiasi untuk orang semacam saya. Sungguh kemping kali ini membuat trauma saya pada kemping hilang, malah pengin kemping lagi.

Apakah saya tidak mengeluh sama sekali? Hm, tidak juga sih. Di malam hari saya tak bisa tidur. Tak ada bantal. Mau bantalan dengan sleeping bag ketinggian dan bikin pegel. Tidak pakai bantal, nggak bisa tidur. Punggung saya juga pegel karena hanya beralas matras tipis dan tanah yang keras. Saat mata tak bisa terpejam saya ngobrol dengan adik saya.

“Tendanya bagus ya,” kata saya, “tidak bocor.”

“Iya, tapi di sebelah ada resort. Dengan kasur yang empuk dan TV.”

“Dan mandi air panas.”

“Lain kali kita bawa kasur ya.”

“Iya.”

 

Untuk referensi kegiatan kemah seru ini buka: Casper

Kampanye Paling Efektif

Pemilu legislative tinggal seminggu lagi, tapi saya masih manyun bingung mau nyoblos siapa. Saya tidak pengin golput. Kalau ada yang baik, beneran saya pengin milih. Masalahnya saya tidak tahu mana yang baik, mana yang buruk (oke, kalau yang buruk saya sedikit tahu, missal: caleg A pernah nyelonong naik pesawat tanpa tiket yang benar, caleg B berasal dari keluarga besar koruptor, caleg C pengusaha rakus dan seterusnya). Tentu saja saya tidak akan memilih yang sudah jelas-jelas buruk. Nah tugas saya adalah menemukan caleg yang baik. Masalahnya adalah: jangankan tau kebaikannya, kenal saja tidak!

Bagaimana mungkin saya mengenal mereka? Apa bisa saya kenalan lewat poster pohon, spanduk, dan kalender? Saya dapat dua kalender, satu poster, satu selebaran, dua kartu nama dan TIDAK ADA satu pun yang membeberkan visi misi, biografi atau prestasi si caleg. Ya cuma nama dan nomor urut doang. Lah buat apa? Hm, saya curiga, mereka tidak menuliskan prestasi mereka karena memang tidak punya prestasi. Tsk.

Eh, saya kok nggak dapat kaos ya tahun ini? Pemilu yang lalu perasaan banyak deh (yang kemudian ditolak oleh bapak saya. Dia nggak mau disuap).

Kampanye Paling Efektif

Tapi saya punya calon yang kemungkinan besar akan saya coblos pas pemilu mendatang. Saya akan mencoblos dia dengan alasan: dia guru merajut di kampung kami. Sebenarnya saya tidak kenal beliau secara personal. Tapi dia sudah berbulan-bulan ini mengajar merajut di kampung saya GRATIS. Dan menurutnya, ia juga mengajarkan hal yang sama di kampung lain. Itu ia lakukan bertahun-tahun.

Saya lihat tutur katanya baik, dia juga peduli pendidikan anak, dandanannya sederhana –apa adanya lah—terus juga cuma naik motor. Pokoknya nggak pencitraan, baik pencitraan sok kaya maupun sok miskin. Saya juga belum mendengar hal-hal buruk tentang dia.

Saya bayangkan dia akan mendulang suara dari ibu-ibu di kampung-kampung itu. Dan ingat ‘jitu’ siji pitu, satu suara bisa menyeret tujuh suara. Bila caleg mendapat satu suara dari seorang ibu atau ayah, kemungkinan besar anaknya, orang tua/ mertua juga akan ikut.

Memang saya pesimistis dia akan menang. Urutannya saja ‘nomor blangkon’. Meski dia guru merajut yang oke dan aktivis pendididikan anak di Jogja, saya belum pernah tahu kapasitas dia dalam hal politik. Prestasi besarnya yang lain juga tidak terdengar. Tapi saya akan tetap nyoblos dia. Alasannya: yah, minimal dia tidak punya ‘dosa’. Bagi saya dia pilihan yang terbaik yang saya miliki di antara yang buruk-buruk atau tidak saya kenal saya sekali. Toh nggak ada manusia eh caleg yang benar-benar sempurna.

Menurut saya kampanye guru merajut saya itu sungguh efektif. Dia mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, pelan-pelan memperkenalkan diri, dan secara rutin ‘menyapa’ konstituennya. Saya jadi mengerti mengapa banyak caleg dan calon pejabat lainnya memanfaatkan metode blusukan ini. Dengan begitu minimal pemilihnya jadi kenal dan ‘kelingan’. Beda kan dengan poster pohon, boro-boro ingat angka dan namanya, dibaca saja mungkin tidak.

Tapi tunggu dulu, blusukan seperti apa? Kalau cuma blusukan buat jualan kecap ya maaf saja. Nggak laku!  Ada caleg lain yang kebetulan saya datangi kampanye blusukannya (maksudnya saya diundang gitu buat menyaksikan blusukan mereka). Saya memang ingat nama mereka, tapi ya… saya nggak bakal nyoblos mereka karena….  mereka cuma jualan kecap itu tadi.

Menurut saya sebagian besar pemilih sekarang itu sudah cerdas. Sudah cerdas atau sudah jenuh. Sudah jenuh dengan jargon-jargon penjual kecap tadi. Gimana nggak jenuh, semua jualan barang yang sama, dengan cara jualan yang sama pula. Uang pun tidak selalu mempan. Ingat, yang bagi-bagi uang tidak cuma satu padahal kita cuma bisa milih satu. Jadi simpan saja deh uang kalian yang pasti juga akan kalian ‘tagih’ balik lewat korupsi.

Alih-alih lakukan kampanye yang benar-benar personal. Tidak bisa instan tentu saja. Kalau Anda pengin nyaleg lima tahun mendatang, mulailah blusukan ‘tulus’ dari sekarang, cetak prestasi kecil satu per satu, ikut komunitas, jadi relawan bencana, jadi aktivis gender, jadi pemerhati pendidikan atau bidang apa pun yang jadi fokus perhatian Anda. Kalau tidak bisa: jadilah guru merajut.